Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Lembah Tengkorak bag 8


__ADS_3

"Pemimpinnya seorang tokoh sakti yang sulit dicari tandingannya," Barada menambahkan. "Pemimpinnya bernama Geti Ireng yang lebih dikenal dengan julukan Iblis Lembah Tengkorak."


"Iblis Lembah Tengkorak..." gumam Rangga pelan


Seketika itu pula terlintas dalam benaknya peristiwa dua puluh tahun lalu. Peristiwa yang menyakitkan hati. Rangga juga masih ingat ketika ayahnya menyebut orang itu Iblis Lembah Tengkorak. Orang itukah yang membunuh kedua orang tuanya?


"Geti Ireng tinggal di Lembah Tengkorak bersama gerombolannya," Pragola menambahkan.


"Apakah orang itu bersenjata tongkat berkepala tengkorak?" Tanya Rangga memastikan.


"Benar, Tuan Pendekar," Sahut Barada cepat.


Rangga tersenyum. Matanya berbinar-binar. Dia telah digojlok selama dua puluh tahun di Lembah Bangkai, ditambah bersemedi dan berpuasa selama tujuh hari tujuh malam di Gunung Kapur. Dengan demikian seluruh jiwanya sudah bersih dari rasa dendam dan angkara murka.


Telah nyata bahwa Iblis Lembah Tengkorak adalah Geti Ireng yang membunuh orang tuanya, tetapi hati Rangga sedikit pun tidak terbakar api dendam. Jiwanya sudah bersih dari nafsu duniawi. Ingin disantroninya Lembah Tengkorak, tetapi tidak untuk balas dendam. Niatnya semata-mata hanya untuk membasmi segala bentuk kejahatan.


"Tuan Pendekar...," Pragola mencegah langkah Rangga.


Rangga menghentikan langkahnya yang telah sampai pada pintu keluar kedai. Dia menoleh seraya tersenyum melihat Pragola menghampirinya.


"Kami merasa mendapat kehormatan bila Tuan Pendekar berkenan singgah di Perguruan Teratai putih." Ajak Pragola ramah.


Rangga berpikir sebentar.


"Eyang Guru Begawan Pasopati pasti gembira jika Tuan Pendekar berkenan mengunjunginya. Dari beliau nanti, Tuan Pendekar dapat mengetahui lebih ba-nyak tentang Iblis Lembah Tengkorak," kata Pragola tengah membujuk.


"Benarkah?" Tanya Rangga dengan polos tanpa pernah curiga terhadap siapa pun. Dalam hati sebenarnya Rangga senang memenuhi undangan itu yang tentu segalanya terjamin.


"Eyang Begawan Pasopati seorang yang bijak. Beliau pasti senang jika penolong kami berkenan singgah barang sebentar."


"Baiklah, aku pun senang mendapat sahabat."


Betapa gembiranya Pragola karena pendekar yang dikaguminya berkenan menerima undangannya. Segera diperintahkan adik-adik seperguruannya me-nyiapkan kuda. Sebentar kemudian tujuh ekor kuda sudah dipacu meninggalkan kedai, menembus kegelapan malam. Rangga yang tidak pemah menunggang kuda, sedikit grogi. Namun ketika agak jauh meninggalkan kedai, dia sudah mulai terbiasa.

__ADS_1


Bibir Rangga tersenyum-senyum. Pragola selalu memacu kudanya di samping kiri Rangga, dan Barada di samping kanannya. Rangga bagai pembesar saja diapit kiri kanan. Empat kuda lain mengiringi dari belakang. Rangga cerdas. Sebentar saja dia telah mampu menunggang kuda dengan baik. Pada akhirnya dirasakannya bahwa menunggang kuda hampir tidak ada bedanya dengan menunggang burung rajawali putih.


"Masih jauh?" Tanya Rangga.


"Menjelang pagi baru sampai," sahut Pragola.


Rangga mengeluh dalam hati. Sebabnya dia harus menunggang kuda semalaman. Namun keluhan itu tidak ditampakkannya. Dia tetap saja tersenyum sambil bertanya macam-macam. Banyak yang ditanyakannya terutama tentang seluk beluk dunia persilatan yang masih asing baginya. Pragola dengan senang hati menjawab. Dijelaskannya setiap pertanyaan Rangga dengan lemah lembut Sesekali Barada menambahkan jika penjelasan kakak seperguruannya dirasakan belum lengkap. Semakin banyak Rangga bertanya, semakin banyak yang diketahui tentang gambaran rimba persilatan sekarang ini.


Rangga bagaikan seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Dia masih perlu belajar banyak mengenai dunia yang digelutinya sekarang ini. Untuk itu dia harus berpetualang sambil bertanya pada siapa saja yang berbaik hati memberi keterangan kepadanya, seperti, layaknya murid-murid Perguruan Teratai Putih ini.


Dalam pengembaraannya mencari sarang gerombolan Panji Tengkorak, Rangga beberapa kali harus bentrok dengan tokoh-tokoh berilmu tinggi anggota gerombolan itu. Nama Pendekar Rajawali Sakti makin dikenal. Di samping itu dia juga jadi momok yang menakutkan bagi orang-orang rimba persilatan beraliran hitam. Kini Pendekar Rajawali Sakti bagaikan sebuah pelita yang menerangi tokoh-tokoh aliran putih.


Dalam waktu singkat, Nama Pendekar Rajawali Sakti sudah terpatri erat di hati semua orang. Bahkan Saka Lintang sendiri tidak pernah melupakan pendekar tampan itu. Dalam pandangan pertamanya, dia merasa sedikit kasmaran. Makanya setiap kali Pendekar Rajawali Sakti bentrok dengan orang-orang Panji Tengkorak, dia tidak ingin melibatkan diri. Dia seperti menghindar dari kemungkinan bentrok.


Rangga menarik tali kekang kudanya ketika melewati pinggir hutan Dadakan. Telinganya yang tajam tiba-tiba mendengar denting senjata beradu. Nyata bahwa suara itu berasal dari suatu pertarungan. Rangga segera melompat dari kudanya. Dengan menggunakan ilmu 'Sayap Rajawali Membelah Mega' tingkat pertama, tubuhnya telah melayang di udara menuju arah datangnya suara pertempuran.


Bagai rajawali mengintai mangsa, Rangga dari atas telah melihat seorang wanita dikeroyok tiga laki-laki bersenjata tongkat Rangga bergegas turun dan berdiri di pinggir arena pertarungan. Segera dikenalinya wanita itu yang ternyata adalah Saka Lintang. Tapi siapakah tiga laki-laki yang mengeroyoknya?


Melihat kedatangan Rangga, Sdka Lintang cepat melompat ke luar arena pertandingan. Dihampirinya Rangga, dan berlindung di belakang tubuh pemuda itu.


Mendengar ketiga orang itu dari Panji Tengkorak Rangga segera menerjang ketiga orang itu yang masih bingung tidak mengerti. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sekejap saja ketiga orang itu telah bergelimpangan akibat jurus 'Cakar Rajawali'.


"Terima kasih, kau telah menolongku," kata Saka Lintang langsung menghampiri.


"Kenapa kau bisa bentrok dengan mereka?" Tanya Rangga.


"Aku merasa tertipu masuk gerombolan Panji Tengkorak! Aku ingin keluar, tapi mereka malah ingin membunuhku!" cerita Saka Lintang bersandiwara. Dalam hatinya tersenyum karena rencananya berjalan mulus.


Terpaksa dikorbankannya tiga anggota Panji Tengkorak demi mencapai keinginan merebut hati pendekar tampan ini. Setiap hari dia selalu terbayang wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti ini. Hati Saka Lintang makin hari makin tersiksa bila Kala Srenggi selalu mencari muka di depan ayahnya untuk mendapatkan dirinya.


"Siapakah ketiga orang itu?" Tanya Rangga.


"Mereka Tiga Pendekar Toya dari Utara. Tadi mereka mencoba memperkosaku," Saka Lintang makin menjejali Rangga dengan cerita kosong.

__ADS_1


"Binatang!" Geram Rangga.


"Untung kau cepat datang, kalau tidak.... Mungkin aku sudah mati."


"Hm, kau akan ke mana sekarang?"


"Aku tidak tahu. Sejak kecil aku hidup sendirian."


Rangga menarik napas panjang. Dirasakan ada persamaan nasib dengan gadis ini. Namun Rangga tidak menyadari kalau dia tengah masuk dalam perangkap yang dibuat Saka Lintang. Bukan perangkap nyawa, tapi perangkap asmara. Rangga memang polos. Dia memang belum banyak mengalami liku-liku kehidupan yang mungkin dapat menjeratnya. Apa lagi Saka Lintang memang cantik.


"Aku ikut kamu, ya?" Saka Lintang memohon sambil menggayut-gayutkan tangannya dengan manja ke lengan Rangga.


"Eh, jangan!" Rangga gugup. Matanya jelalatan. Seumur hidupnya, baru kali ini dia disentuh wanita. Seketika jantungnya berdetak keras.


"Kenapa?" Tanya Saka Lintang semakin manja. Dia bahkan sudah melingkarkan tangannya ke leher Rangga.


"Aku...,aku...," Rangga benar-benar gugup.


Saka Lintang yang berpengalaman menghadapi laki-laki, segera memanfaatkan kegugupan Rangga. Dengan cepat dipagutnya bibir Rangga. Tentu saja pemuda ini gelagapan. Keringat dingin mengucur deras. Inilah rasa takutnya yang pertama. Cepat-cepat dilepaskan pelukan Saka Lintang, dan lompat dua tindak ke belakang. Saka Lintang memandang dengan senyum menggoda.


"Kau pendekar gagah dan tampan. Aku tertarik saat pertama kali melihatmu," Saka Lintang tidak malu-malu lagi.


"Kau memang cantik. Aku juga suka, tapi...," Rangga tidak meneruskan kata-katanya.


"Kenapa kita tidak bercinta?"


"Bercinta...?!" Rangga meneguk ludahnya sendiri. Mendadak tenggorokannya terasa kering.


Saka Lintang tersenyum melihat kegugupan Rangga. Diletakkannya pedang yang bertengger di punggungnya. Dengan gerakan yang indah, tangannya melolosi pakaian satu persatu. Rangga kian tidak menentu perasaannya.


"Celaka!" Sentak Rangga tiba-tiba.


Tercecer sudah seluruh pakaian Saka Lintang rerumputan. Kaki terayun mendekati Rangga. Namun mendadak pemuda itu mencelat ke belakang, lalu berlari sekencang-kencangnya menggunakan ilmu peringan tubuh.

__ADS_1


"Hey, tunggu!" Teriak Saka Lintang terkejut.


Rangga telah lebih cepat menghilang di balik rimbunan pohon. Saka Lintang menghentakkan kakinya dengan kesal. Bergegas dikenakan kembali pakaiannya, lalu berlari cepat ke arah Rangga pergi.


__ADS_2