
Suasana kota Kadipaten Karang Asem tampak begitu tenang dan lengang. Udara malam yang terasa sejuk oleh hembusan angin lembut, seperti ikut menyiratkan kedamaian. Rangga atau si Pendekar Rajawali Sakti pun benar-benar menikmati suasana di keheningan malam bersama Pandan Wangi. Sudah dua hari ini mereka tinggal di sebuah penginapan yang cukup besar.
"Seharusnya kau memesan dua kamar, Kakang," kata Pandan Wangi agak ketus.
Rangga hanya diam saja membisu sambil matanya menatap ke luar dari jendela yang terbuka lebar. Sudah dua hari ini Pandan Wangi selalu menggerutu kesal lantaran Rangga hanya memesan satu kamar untuk mereka berdua. Rangga bisa memaklumi kalau gadis itu merasa risih berada dalam satu kamar bersama pemuda yang hanya sahabat saja. Tapi Rangga punya alasan tersendiri memesan satu kamar untuk mereka berdua.
"Tidak mungkin, Pandan," kata Rangga begitu telinganya mendengar gerutuan Pandan Wangi yang tidak berhenti. Tapi tatapan Pendekar Rajawali Sakti itu tetap tidak berpaling dari jendela yang terbuka lebar.
"Kenapa tidak mungkin? Bukankah bekal kita cukup untuk memesan dua kamar?" sergah Pandan Wangi bernada kesal.
"Memang...," desah Rangga agak acuh. Dia tetap tidak memalingkan mukanya. Matanya tetap menatap keramaian yang mulai nampak di luar sana. Keramaian yang jarang dia nikmati di malam hari, kalau tidak kebetulan berada pada suatu kota.
"Lalu, kenapa kau hanya menyewa satu kamar?"
"Karena aku sudah mengatakan kalau kau istriku pada pemilik penginapan ini," sahut Rangga kalem sambil mengulum senyum di bibirnya.
"Edan!" dengus Pandan Wangi.
"Ingat, Pandan. Kita datang ke sini dengan satu tujuan. Dan aku belum mau menarik perhatian orang," Rangga berusaha menjelaskan.
"Aku tidak mengerti maksudmu?"
"Kita datang berdua. Kalau menyewa dua kamar, tentu bisa menarik perhatian orang. Aku tidak mau kita menemui kesulitan sebelum tahu maksud Panglima Lohgender mencariku. Kau harus mengerti, Pandan. Toh, kita tidak melakukan apa-apa di sini, kan?"
"Tapi, kau kan bisa mengaku aku ini adikmu, atau apa saja yang lain asal jangan itu!" sergah Pandan Wangi tetap tidak setuju dengan alasan Rangga.
"Mungkin itu bisa kulakukan kalau keadaannya lain."
"Lain bagaimana?"
"Aku bisa mengaku kau sebagai adik kalau sudah tahu alasan Panglima Lohgender mencariku. Sedangkan sampai saat ini, kita belum tahu apa-apa. Apakah dia itu lawan atau kawan? Aku hanya bermaksud untuk menjaga segala kemungkinan saja."
"Kalau cuma itu alasanmu, aku bisa menjaga diri!"
"Aku percaya, apalagi kau sekarang sudah menguasai Pedang Naga Geni dan Ilmu Naga Sewu yang dahsyat. Kau bukan lagi gadis lemah yang selalu minta dilindungi."
"Ah, sudahlah!" tukas Pandan Wangi. Dia sadar kalau tidak akan bisa menang berdebat dengan pemuda itu. "Sekarang, apa rencanamu selanjutnya?" suara Pandan Wangi mulai melembut.
"Menyelidiki kadipaten." sahut Rangga.
"Bukankah Kakang sudah lakukan itu semalam?"
"Semalam aku hanya melihat-lihat dari luarnya saja. Penjagaan di sana kelihatannya sangat ketat. Prajurit-prajurit Kerajaan Limbangan tampaknya sudah mulai berdatangan ke Kadipaten Karang Asem ini," kata Rangga memberitahu.
"Mungkin...."
"Ssst...'" Rangga memotong ucapan Pandan Wangi cepat-cepat sambil menyilangkan jarinya di sudut bibir gadis itu.
Pandan Wangi langsung terdiam. Matanya mendelik merasakan ujung jari telunjuk Rangga menyentuh bibirnya. Segera dia menarik kepalanya ke belakang. Mendadak saja jantungnya jadi berdebar keras. Entah apa yang tengah dirasakannya saat ini.
"Kau di sini saja, tutup jendela setelah aku ke luar," kata Rangga berbisik pelan.
Pandan Wangi belum sempat lagi membuka mulut, tiba-tiba saja tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu sudah mencelat ke luar meloncati jendela. Dengan masih diliputi tanda tanya, gadis itu segera menutup jendela setelah mengamati keadaan di luar sebentar. Dia mencoba mengerahkan pendengarannya dengan tajam, tapi tidak terdengar apa-apa, selain suara percakapan orang-orang yang ramai di luar penginapan ini.
Sementara itu, Rangga yang tadi sempat mendengar sekilas suara mencurigakan di atas atap, langsung melompat naik ke atas kamar penginapannya. Matanya yang setajam mata rajawali, menangkap sesosok bayangan hitam berkelebat cepat dari satu atap ke atap rumah lainnya. Rangga segera mengikutinya dari jarak yang cukup jauh.
Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak ringan bagai kapas tertiup angin. Melenting indah mengikuti jejak si bayangan hitam itu. Sesaat kening Rangga berkerut, begitu melihat bayangan hitam itu arahnya menuju ke rumah kediaman Adipati Karang Asem. Rangga langsung melentingkan tubuhnya ke sebuah pohon yang besar dan rimbun ketika bayangan hitam itu berhenti di sebuah pohon dekat tembok kadipaten. Orang yang mengenakan baju serba hitam itu sepertinya tengah mengamati keadaan.
"Hm..., siapa orang itu? Apa maksudnya dia berada di dekat benteng kadipaten?" gumam Rangga dalam hati. Matanya tajam memperhatikan bayangan hitam yang tengah diincarnya.
Orang berbaju hitam itu melenting lagi melewati tembok benteng kadipaten yang tinggi dan kokoh. Rangga segera melompat mengikuti dengan gerakan yang ringan tak bersuara. Sesosok tubuh yang dikuntit itu lalu menyelinap ke tembok rumah, kemudian mengendap-endap mendekati sebuah jendela. Tampaknya cahaya pelita membias ke luar begitu jendela dibuka. Dengan satu gerakan ringan, sosok tubuh berbaju hitam itu meloncat masuk ke dalam. Rangga segera mendekat.
"Kamar tidur...," bisik Rangga dalam hati.
Dari sebuah celah kecil, dia bisa melihat keadaan kamar. Tampak orang yang berpakaian hitam itu menghadap ke arahnya. Tapi tubuhnya membelakangi pelita, sehingga agak sulit dikenali wajahnya. Rangga mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang duduk membelakangi.
"Hm..., aku harus menggunakan ilmu pembeda gerak dan suara," gumam Rangga dalam hati.
********************
Di dalam kamar besar dan indah itu, orang berpakaian serba hitam menghenyakkan tubuhnya di kursi meng-hadapi sebuah meja bundar dari batu pualam putih ber-lapiskan perak. Di seberangnya duduk seorang laki-laki berpakaian mewah bertubuh gemuk dan kekar. Laki-laki itu adalah Adipati Prahasta.
"Ada apa kau datang kemari?" tanya Adipati Prahasta. Nada suaranya jelas kurang senang.
"Aku ingin meminta tanggung jawabmu, Prahasta," sahut orang berpakaian serba hitam itu. Suaranya kecil dan halus, namun menyiratkan ancaman dan kekejaman.
"Tanggung jawab apa?" Adipati Prahasta mendelik.
"Memperkuat kadipaten dengan mendatangkan prajurit dari kerajaan."
"Aku tidak melakukan itu. Panglima Lohgender yang mengirim utusan untuk mendatangkan prajurit-prajurit dari Kerajaan Limbangan. Aku tidak tahu menahu masalah itu!" suara Adipati Prahasata jelas tertahan nadanya.
"Kau seorang adipati, kau yang berkuasa di sini, bukan Panglima Lohgender!"
"Seorang Panglima Kerajaan lebih berkuasa daripada seorang adipati. Dia bisa bertindak menurut caranya sendiri di sini, kalau memang menurutnya keadaan tidak tentram."
"Jangan banyak bicara, Prahasta! Aku datang ke sini hanya untuk memintamu menarik kembali pulang prajurit Kerajaan Limbangan!"
"Mustahil!" dengus Adipati Prahasta.
"Kau harus melakukannya, Prahasta. Atau...
Hih!"
Tiba-tiba saja orang berbaju hitam itu mengibaskan tangannya. Secercah sinar kehijauan meluncur deras ke arah jendela, lalu secepat kilat tubuhnya melompat menerobos jendela. Adipati Prahasta segera bangkit dan mendekati jendela.
__ADS_1
Rangga yang berhasil menghindari serangan mendadak itu melentingkan tubuhnya ke udara, dan bersamaan dengan kakinya menjejak tanah, sesosok tubuh serba hitam itu langsung menyerangnya dengan cepat. Pendekar Rajawali Sakti itu kembali melentingkan tubuhnya ke udara, sehingga serangan orang berbaju hitam itu lolos begitu saja.
Orang berbaju serba hitam itu menyadari kalau lawannya bukanlah orang sembarangan. Tanpa banyak membuang waktu lagi, dia langsung melompat kabur melewati pagar tembok yang tinggi. Gerakannya sangat cepat, dan tidak menimbulkan suara sedikitpun, pertanda kalau dia memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi.
"Hup!"
Rangga segera melentingkan tubuhnya mengejar orang berbaju serba hitam itu. Seketika saja dua sosok tubuh langsung lenyap di balik tembok tinggi tebal dan kokoh. Sementara Adipati Prahasta jadi bengong tak dapat berbuat apa-apa. Dua bayangan bergerak sangat cepat seperti menghilang begitu saja tanpa diketahui ujudnya lebih dahulu.
********************
Orang berpakaian serba hitam itu lenyap tak berbekas begitu sampai di Hutan Tarik. Rangga terus mengejar sampai jauh masuk ke dalam hutan yang gelap dan lebat ini. Ilmu pembeda gerak dan suara yang dia kerahkan pun tak mampu menemukan jejak orang berpakaian serba hitam itu. Rangga menghentikan pengejarannya. Dia berdiri mematung sambil matanya tetap mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Suasana hutan yang hanya disinari oleh bulan yang tidak begitu terang cahayanya, membuat pandangan Rangga agak terhalang. Sesaat kemudian kepalanya tertunduk meneliti tanah di sekitarnya, berusaha mencari jejak-jejak tapak kaki buruannya.
Mendadak saja Rangga terkejut ketika tiba-tiba dia menyadari kalau dirinya sudah terkepung dari segala penjuru. Dia memutar tubuhnya memandangi sepuluh orang berpakaian serba hitam yang berkelebatan cepat ke luar dari balik semak dan pepohonan. Masing-masing sudah menghunus senjata di tangannya.
"Serang...!"
"Yeaaah...!"
Teriakan-teriakan keras begitu nyaring terdengar disertai berlompatannya tubuh-tubuh terbalut baju hitam menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Pertarungan seru di tengah hutan itu pun tidak terelakkan lagi. Cahaya keperakan berkelebatan dari segala panjuru mengurung tubuh Rangga. Rangga yang belum tahu persis kekuatan lawan-lawannya, masih terus berlompatan, berkelit menghindari serangan-serangan yang datang secara beruntun. Satu kali pun dia belum balas menyerang, tapi tiba-tiba saja terdengar jeritan-jeritan melengking disusul jatuhnya dua tubuh hitam berlumuran darah.
Mata Pendekar Rajawali Sakti yang tajam dan terlatih, langsung dapat melihat jelas meskipun dalam kegelapan malam. Dua tubuh lawannya itu ambruk oleh sabetan golok dan pedang yang cepat tanpa diduga dari arah belakang. Tampak tiga orang dengan senjata terhunus muncul secara mendadak. Dua di antara mereka, senjatanya telah basah oleh darah. Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam ajang pertarungan. Rangga segera melentingkan tubuhnya ke udara menjauhi pertarungan. Nampak jelas kalau ketiga orang itu adalah para prajurit.
Satu orang dengan sabuk bergambar bunga melati, adalah jelas dari Kerajaan Limbangan. Dan dua orang lagi dapat dipastikan prajurit dari Kadipaten Karang Asem. Tidak berapa lama kemudian, tampak ketiga orang itu berada di atas angin. Satu per satu tubuh-tubuh berbaju serba hitam itu bertumbangan bersimbah darah.
"Mundur...!" terdengar suara teriakan keras melengking kecil.
Seketika itu juga empat orang berpakaian hitam yang tersisa langsung berlompatan kabur. Tubuh-tubuh mereka lenyap di balik kelebatan Hutan Tarik ini. Tiga orang yang ternyata Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih itu langsung menyarungkan kembali senjatanya. Mereka mengambil napas sesaat, lalu bergegas menghampiri Rangga yang berdiri saja di bawah sebatang pohon besar.
"Kau tidak apa-apa, Kisanak?" tanya Arya Duta setelah berada di depan Rangga.
"Tidak," sahut Rangga tersenyum. Tanpa bantuan mereka pun dia dapat menghabisi sepuluh orang berpakaian serba hitam itu. Tapi Rangga tidak mau mengecewakan ketiga orang yang telah bersusah payah membantunya.
"Siapa Kisanak, dan kenapa bisa bentrok dengan gerombolan pengacau itu?" tanya Arya Duta lagi, dia tidak mengenali siapa Rangga.
"Namaku Rangga, aku tidak tahu kenapa orang-orang itu menyerangku." sahut Rangga.
"Kisanak tinggal di mana?" tanya Balungpati.
"Aku pengembara, aku tidak punya tempat tinggal yang tetap." sahut Rangga terdengar tenang suaranya.
"Hm, kalau begitu, sebaiknya cepat tinggalkan Hutan Tarik ini. Terlalu bahaya bagi orang yang berjalan sendirian, apalagi malam hari begini." Welut Putih menyarankan.
"Terima kasih," ucap Rangga seraya tersenyum. "Boleh aku tahu, siapa Paman bertiga ini?"
"Aku Arya Duta, dan ini Paman Balungpati dan Paman Welut Putih. Kami di sini sedang menjalankan tugas dari Panglima Lohgender," Arya Duta menjelaskan.
"Apa tugas itu untuk mencari Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Rangga sambil menyembunyikan rasa kagetnya.
"Kebetulan aku kemarin bertemu dua orang utusan dari Panglima Lohgender yang ditugaskan mencari Paman bertiga. Kedua utusan itu dari Kerajaan Limbangan," sahut Rangga.
"Oh, siapa mereka?" desak Arya Duta.
"Mereka mengaku punggawa kerajaan. Kalau tidak salah, namanya Punggawa Garulungan dan Punggawa Paringgan."
"Ah, mereka itu punggawa pilihan Panglima Lohgender," desah Arya Duta.
"Pasti keadaan di Kadipaten Karang Asem semakin gawat, Gusti. Sampai-sampai Gusti Panglima mengutus dua punggawa pilihan ke sini," sergah Balungpati hormat.
"Ya, rupanya Ayahanda Lohgender sudah mengirim pasukan ke kadipaten," desah Arya Duta.
"Maaf, Kalau boleh aku tahu, kenapa Panglima Lohgender mencari Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Rangga memancing.
Arya Duta menceritakan keadaan dan persoalan persoalan yang tengah dihadapi Kadipaten Karang Asem. Dugaannya tentang keterlibatan tokoh-tokoh persilatan yang sama dengan dugaan Panglima Lohgender, membuat Panglima Kerajaan Limbangan itu menugaskan mereka untuk mencari Pendekar Rajawali Sakti. Hingga Arya Duta selesai bercerita, dia sama sekali belum tahu kalau sesungguhnya orang yang dicari ada di hadapannya.
Rangga hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sesaat. Dia kini mengerti sepenuhnya, mengapa Panglima Lohgender mencari dirinya. Rupanya ada persoalan serius yang sedang dihadapi Kadipaten Karang Asem. Kadipaten itu memang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Limbangan.
"Sudah sepuluh hari ini kami berada di Hutan Tarik," Arya Duta melanjutkan. "Tapi kami justru sempat bentrok dengan gerombolan pengacau, termasuk yang Kisanak lawan tadi..., aku yakin, orang-orang itu ada hubungannya dengan keadaan di Kadipaten Karang Asem sekarang, dan sarang mereka pasti ada di tengah hutan ini."
"Maaf, Paman. Kalau boleh aku memberi saran. Paman bertiga sebaiknya tidak usah dulu mencari sarang gerombolan pengacau itu. Sebaiknya Paman bertiga kembali saja ke Kadipaten Karang Asem," kata Rangga.
"Kisanak...!" bentak Balungpati. "Kau tahu, dengan siapa kau berhadapan, heh?"
"Maaf, Paman. Aku hanya memberi saran. Karena kemarin sore, kalau tidak salah lihat, Pendekar Rajawali Sakti yang sedang Paman cari itu ada di Kadipaten Karang Asem."
"Apa...?!" Arya Duta, Balungpati dan Welut Putih melongo tak percaya.
"Aku seorang pengembara, aku kenal tokoh-tokoh rimba persilatan. Pendekar Rajawali Sakti menginap bersama saudara perempuannya di Penginapan Cagar Ayu," kata Rangga sambil mengulum senyum di dalam hati, lalu lanjutnya. "Aku kenal betul Pendekar Rajawali Sakti. Dia pasti mau membantu menumpas gerombolan pengacau itu."
"Kau tidak main-main, Kisanak?" Balungpati masih tidak percaya.
"Percayalah padaku, saudara perempuan Pendekar Rajawali Sakti itu berjuluk si Kipas Maut. Aku rasa mereka tidak akan tinggal lama di sana. Kalau Paman bertiga tidak segera menemui, mungkin tidak akan bertemu lagi untuk selamanya."
"Apa jaminanmu?" selak Welut Putih.
"Leher! Aku tidak akan keluar dari Hutan Tarik. Aku akan menggantikan tugas Paman bertiga untuk mencari sarang gerombolan pengacau itu," kata Rangga tegas.
Arya Duta menatap Balungpati dan Welut Putih bergantian.
"Paman bertiga telah menolongku, dan kini aku akan membalas budi dengan mencari sarang gerombolan itu," lanjut Rangga.
"Baiklah, Kisanak. Kalau kau coba-coba mempermainkan aku, jangan katakan aku kejam kalau lehermu kupenggal!" kata Arya Duta tidak main-main.
Rangga hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Tanpa banyak bicara lagi, Arya Duta segera mengajak Balungpati dan Welut Putih meninggalkan tempat itu. Sesaat Rangga memperhatikan kepergian ketiga orang yang tengah mencari dirinya. Dia kini paham benar akan apa yang tengah terjadi di Kadipaten Karang Asem.
__ADS_1
"Kau percaya kata-kata Rangga barusan tadi, Paman Balungpati?" tanya Arya Duta selepas mereka dari Hutan Tarik.
"Tampaknya dia bisa dipercaya, Gusti. Seorang pengembara tahu banyak tentang dunia persilatan dari pada kita," sahut Balungpati.
"Sebaiknya kita langsung ke Penginapan Pagar Ayu, Gusti," tambah Welut Putih.
"Baiklah, kalau ternyata dia membohongi kita, segera kembali ke Hutan Tarik."
********************
Pandan Wangi yang sendirian di kamar, jadi gelisah tak menentu. Benaknya dipenuhi oleh perasaan cemas yang berkepanjangan. Meskipun dia yakin akan kemampuan Rangga, tapi ketidakpastian keadaan Kadipaten Karang Asem ini selalu membuat pikirannya tak pernah tenang kalau Rangga ke luar.
Suara ketukan di pintu mengagetkan Pandan Wangi. Matanya menatap tajam pintu yang diketuk berulang-ulang. Tangannya segera meraba kipas baja putih yang terselip di pinggang. Lalu perlahan-lahan dia melangkah mendekati pintu.
"Siapa...?" tanya Pandan Wangi keras.
"Kami, dari Kadipaten Karang Asem hendak bertemu dengan si Kipas Maut!" terdengar suara sahutan dari luar.
Pandan Wangi tersentak kaget. Buru-buru dia membuka pintu. Tiga orang berdiri di depan pintu kamar penginapannya. Yang berdiri di tengah seorang pemuda dengan sabuk bergambar bunga melati. Dan dua orang lagi berpakaian prajurit kadipaten.
"Apakah Nona yang berjuluk si Kipas Maut?" tanya Arya Duta.
"Benar," sahut Pandan Wangi agak tertahan suaranya.
"Boleh kami bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti?"
"Sayang, dia pergi."
"Ke mana perginya?"
"Aku tidak tahu, dia hanya mengatakan kalau hendak ke luar melihat-lihat suasana kadipaten ini," sahut Pandan Wangi menjelaskan tidak terinci.
"Kalau begitu, baiklah kami akan menunggu di depan," kata Arya Duta seraya berbalik.
"Eh, tunggu dulu!" sergah Pandan Wangi.
Arya Duta mengurungkan langkahnya.
"Ada maksud apa Paman bertiga mencari Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Pandan Wangi.
"Bagaimana, Paman?" Arya Duta meminta pendapat pada dua orang pendampingnya.
"Sebaiknya jelaskan saja maksud kita yang sebenarnya, Gusti." sahut Balungpati.
Arya Duta segera menjelaskan maksudnya setelah mendapat anggukan dari Welut Putih. Juga dia jelaskan pertemuannya dengan seorang pengembara yang memberitahukan kalau si Kipas Maut dan Pendekar Rajawali Sakti ada di penginapan ini. Kemudian setelah berbasa-basi sebentar, mereka bertiga meninggalkan Pandan Wangi yang masih diam terpaku di ambang pintu.
"Oh!" Pandan Wangi terkejut begitu dia membalikkan tubuhnya.
Tanpa diketahuinya Rangga tengah berbaring di tempat tidur. Bibirnya tersenyum memandangi Pandan Wangi yang tengah menghampirinya. Gadis itu melirik jendela yang masih tertutup. Dia sempat menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.
"Dari mana kau masuk, Kakang?" tanya Pandan Wangi seraya duduk di tepi pembaringan.
"Itu..!" Rangga menunjuk langit langit kamar yang terbuka
"Edan!" dengus Pandan Wangi "Bagaimana kalau hujan nanti?"
Rangga tak menyahuti sama sekali, seketika itu juga tubuhnya melesat ke atas. Hanya sekejap kemudian, dia sudah kembali berbaring di tempat tidur. Pandan Wangi mendongak sebentar. Atap kamar ini sudah tertutup rapi kembali.
"Baru saja ada tiga orang mencarimu, Kakang." kata Pandan Wangi
"Aku tahu, dan aku yang menyuruh mereka ke sini," kata Rangga kalem. Bibirnya tetap mengulum senyum.
"Kenapa kau tidak berterus terang saja?" tanya Pandan Wangi tidak kaget lagi. Dia memang sudah menduga sebelumnya.
"Belum saatnya," sahut Rangga kalem.
"Sekarang mereka menunggu di depan."
"Biar sajalah, aku mau tidur dulu.”
Pandan Wangi mendelik melihat Rangga memunggunginya. Gadis itu jadi kelabakan sendiri. Kamar ini cuma ada satu tempat tidur. Kalau Rangga sudah tidur di situ, lalu dia mau tidur di mana...?
"Ada apa?" tanya Rangga merasakan tangan Pandan Wangi menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Kau tidur di bawah!" sentak Pandan Wangi mem-berengut.
"Dingin, ah! Tidur saja di sini." Rangga menepuk sebelahnya.
"Kakang!" seru Pandan Wangi gemas. Matanya mendelik lebar.
Rangga tak mempedulikan. Dia sudah mendengkur lagi. Pandan Wangi hanya bisa menggerutu kesal. Gadis itu merasa kebingungan karena selama ini belum pernah sekalipun dia tidur dengan laki-laki. Sebentar dia menarik napas panjang. Rasa kantuk semakin kuat menyerang dirinya.
"Uh! Masa bodohlah." dengusnya kesal.
Gadis itu langsung saja membaringkan tubuhnya di samping Rangga yang memunggunginya. Dia pun memekik kaget ketika Rangga berbalik, dan tangannya merentang di atas dada. Pandan Wangi menyentakkan tangan Rangga. Mukanya jadi bersemu merah dadu. Dadanya mendadak saja berdegup kencang.
Pandan Wangj memandangi Rangga yang tertidur pulas. Sementara angin dingin menyusup masuk dari celah-celah dinding bambu. Pandan Wangi bergidik kedinginan, dan tanpa disadarinya tubuhnya semakin merapat dengan pemuda di sampingnya. Dengus napas pemuda itu hangat menerpa wajah yang bersemu merah.
"Kakang...," panggil Pandan Wangi lirih.
"Hmmm...," Rangga cuma bergumam tak jelas.
Pandan Wangi mendesah panjang, lalu perlahan-lahan matanya mulai terpejam. Dia tidak peduli lagi pada tangan Rangga yang mulai nakal memeluk tubuhnya. Gadis itu merasakan kehangatan yang mulai menjalari tubuhnya. Dalam tidurnya bibirnya mengembangkan senyum kedamaian.
********************
__ADS_1