
Jenggala. Wajah yang tampan itu tenang saja berdiri sekitar lima tombak di depan mereka. Sungguh tidak sesuai sekali dengan namanya. Wulan dibuat tak berkedip menatap laki-laki muda itu. Pikir Wulan, nama Jenggala adalah seorang laki-laki tua renta dengan wajah yang buruk. Ternyata dugaannya meleset Yang berdiri didepannya adalah seorang pemuda dengan pandangan mata mempesona serta senyum memikat setiap gadis yang meliriknya.
"Oh!" Wulan tersentak ketika Jaka menyenggol sikunya dengan keras.
"Jangan terpesona dengan ketampanannya," Bisik Jaka sambil menekan suaranya.
Seketika wajah Wulan memerah. Malu. Ternyata sejak tadi Jaka memperhatikannya Wulan jadi salah tingkah setelah kepergok tengah mengagumi ketampanan seorang pria. Apalagi suara Jaka tadi seperti ditekan dengan maksud mengingatkan Wulan agar jangan terlalu terbawa perasaannya sendiri.
"Jenggala, apa maksudmu datang ke sini?" tanya Atmaya setelah lama saling berdiam diri.
"Huh! Kau sendiri, ada apa muncul di sini?" Jenggala balas bertanya tanpa menjawab.
"Urusanku di sini tidak ada sangkut pautnya denganmu!" dengus Atmaya.
"Kalau begitu, menyingkirlah! Aku ada perlu sedikit dengan Sepasang Walet Merah!"
"Kutu busuk! Pongah sekali lagakmu!" rungut Atmaya sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.
"Mungkin aku pongah, tapi tidak bejat sepertimu!" sinis suara Jenggala.
Sambil menggeram berat, si Gila Jubah Hitam langsung menggerakkan tangan kanannya. Dengan seketika dari telapak tangannya yang terbuka, meluncur seberkas sinar merah ke arah Jenggala. Si Gila Jubah Hitam rupanya tidak sungkan-sungkan lagi mengerahkan kesaktiannya.
"Uts!" Jenggala melompat ke atas menghindari sinar merah yang meluncur deras mengancam nyawanya.
Sinar merah itu terus meluncur, lalu menghantam pohon di belakang Jenggala. Akibatnya memang tidak langsung. Perlahan-lahan daun-daun pohon itu berguguran. Pengaruh sinar merah itu terus bekerja, sedikit demi sedikit mulai kelihatan hasilnya. Batang pohon mulai hangus seluruhnya, kemudian luruh hancur jadi debu. Sungguh hebat ilmu 'Arang Geni' yang dilepaskan si Gila Jubah Hitam.
Tanpa memberi kesempatan, si Gila Jubah Hitam segera menyerang kembali lawannya yang masih berada di udara. Mau tidak mau Jenggala bersalto di udara menghindari sinar-sinar merah itu. Baru saja kakinya sampai di tanah, kembali dia harus melesat ke udara sambil jungkir balik beberapa kali. Sinar-sinar merah itu terus mengancam jiwanya.
"Setan!" umpat Jenggala geram.
Seketika itu juga dilontarkan paku-paku emas andalannya ke arah si Gila Jubah Hitam atau Atmaya. Kini gantian si Gila Jubah Hitam yang harus jumpalitan menghindari paku-paku emas, sambil melancarkan ajian 'Arang Geni'. Sinar-sinar merah dan kuning saling berkelebat di tengah kegelapan malam yang pekat oleh selimut kabut tebal.
Sepasang Walet Merah hanya terpaku saja melihat pemandangan yang indah namun mengancam nyawa itu. Sinar-sinar merah dan kuning yang berseliweran itu kadang-kadang berbenturan hingga menimbulkan percikkan bunga-bunga api berwarna kebiru-biruan.
Sedikit demi sedikit jarak mereka makin dekat saja. Namun sinar-sinar yang indah tapi mengandung maut itu semakin jarang terlihat. Selanjutnya yang terlihat hanya kelebatan-kelebatan dua tubuh yang saling balas menyerang mempergunakan jurus-jurus silat yang cukup tinggi.
"Tampaknya pertarungan ini akan berjalan lama," gumam Jaka seperti bicara sendiri.
"Kau menyangka begitu, Kakang?" tanya Wulan tanpa mengalihkan pandangannya pada pertarungan itu.
"Ya. Mereka tokoh-tokoh sakti yang sudah cukup punya nama dalam rimba persilatan. Aku yakin tingkat kepandaian mereka seimbang," sahut Jaka sambil menjatuhkan diri, duduk di rerumputan.
Wulan menoleh sebentar, lalu ikut duduk di samping Jaka. Kembali pandangan terarah pada pertarungan itu. Bagi Wulan dan Jaka ini adalah kesempatan buat mereka menyaksikan pertarungan dua tokoh sakti yang sudah cukup punya nama dengan jurus-jurus silat cukup tinggi. Tiba-tiba Wulan tersentak ketika Atmaya merubah jurusnya.
"Kakang, bukankah itu jurus Kelelawar Sakti," tanya Wulan disela-sela keterkejutannya.
"Benar. Rupanya Kakek Atmaya dan Eyang Suralaga memiliki ilmu yang sama," sahut Jaka yang juga mengenali jurus itu.
"Sungguh dahsyat jurus Kelelawar Sakti, sayang eyang resi tidak mengajarkannya padaku," gumam Wulan.
"Kau sudah memiliki padanannya, Wulan," kata Jaka menangkap nada kekecewaan pada Wulan.
"Tapi, apakah jurus Pukulan Batara Karang sehebat dan sedahsyat jurus Kelelawar Sakti?"
"Dua jurus itu memiliki kehebatan dan kelemahan sendiri-sendiri. Tapi jika keduanya dipadukan dengan satu kerjasama yang serasi, sangat sulit dicari tandingannya," Jaka menjelaskan.
"Kalau begitu, Eyang Resi pasti menurunkan jurus Kelelawar Sakti padamu?" tanya Wulan.
"Benar," sahut Jaka.
"Kenapa kita tidak berlatih kerja samanya, Kakang?"
"Tanpa berlatih pun, jika kita gunakan secara bersama-sama sudah merupakan satu kesatuan jurus yang ampuh."
Wulan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam hati masih belum mengerti dengan sikap eyang resi yang tidak pernah bercerita tentang kedahsyatan jurus-jurus yang dipelajarinya bila dipadukan dengan jurus-jurus yang dimiliki Jaka. Memang dalam beberapa jurus, mereka dapat bekerja sama secara kompak. Tapi sepertinya masih banyak yang belum diketahui Wulan. Sedangkan Jaka seperti tahu banyak tentang jurus-jurus yang diberikan Eyang Resi Suralaga.
Apakah Eyang Resi hanya memilih Jaka untuk mengetahui banyak tentang jurus-jurus itu? Kalau memang demikian, berarti Eyang Resi Suralaga bersikap pilih kasih! Memberikan teka-teki padanya, tapi kuncinya diberikan kepada Jaka. Sungguh tidak adil! Benak Wulan terus berkecamuk.
Sementara itu pertarungan antara Atmaya dan Jenggala terus berlangsung semakin seru. Dua puluh jurus telah berlalu dengan cepat, tapi belum ada tanda-tanda yang terdesak. Kelihatannya mereka masih seimbang, entah sampai berapa jurus lagi. Sepasang Walet Merah tidak berkedip mengamati setiap gerakan juris yang mereka keluarkan.
Walaupun mata Wulan tertuju pada pertarungan itu, tapi benaknya teras bertanya-tanya tentang sikap Eyang Resi Suralaga yang dirasanya tidak adil.
********************
Ketika lewat lima puluh jurus, mendadak Jenggala melompat mundur sejauh lima lompatan katak. Keringat telah membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya yang tampan kelihatan memerah. Dengus napasnya memburu.
Sedangkan keadaan Atmaya tidak jauh berbeda dengan, lawannya. Baju kumal yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Garis-garis wajahnya terlihat menegang. Selama malang melintang di rimba persilatan, baru kali ini Atmaya mendapat lawan yang tangguh. Kali ini dia benar-benar serius menghadapi lawannya hingga menghabiskan lima puluh jurus.
"Aku akui kau hebat Atmaya Tapi belum cukup untuk memiliki Cupu Manik Tunjung Biru," kata Jenggala dengan tenang.
__ADS_1
"He he he..., cupu itu memang bukan hakku, dan bukan pula hakmu," sahut Atmaya terkekeh.
"Cupu itu milik semua orang, maka aku berhak pula memilikinya!" dengus Jenggala.
"Aku yakin, kau tidak bisa menggunakannya," sinis penuh ejekan suara Atmaya.
Jenggala hanya mendengus saja. Memang secara jujur, dia belum tahu kegunaan cupu itu. Tapi dari kabar yang tersiar, di dalam cupu itu terukir tulisan tentang jurus-jurus sakti. Di dalam cupu itu pun terdapat jantung Walet Merah yang berkhasiat untuk menolak berbagai racun yang terganas sekali pun. Secara alamiah, tubuh orang yang memakan jantung itu akan timbul hawa murni secara terus menerus dan teratur. Tidak mustahil kekuatan tenaga dalam akan berlipat ganda.
Goresan tulisan yang terdapat dalam Cupu Manik Tunjung Biru adalah jurus-jurus sakti Walet Merah. Semua yang terdapat pada Cupu Manik Tunjung Biru sebenarnya yang berhak memilikinya hanya Sepasang Walet Merah. Jadi secara langsung mereka adalah ahli waris dari ilmu Walet Merah. Eyang Resi Suralaga sendiri, dulu telah mempersiapkan jurus-jurus dasar Walet Merah untuk Wulan dan Jaka Untuk lebih menguasai dan menyempurnakan jurus-jurus itu, mereka harus menemukannya pada Cupu Manik Tunjang Biru. Jika kelak terlaksana, tidak mustahil mereka menjadi sepasang pendekar yang tangguh dan sulit dicari tandingannya.
Sementara itu Jenggala telah bersiap-siap dengan jurus andalannya. Kedua kakinya terpentang lebar ke samping Tangan kirinya terkepal ke atas, dan tangan kanan terbuka di depan dada. Atmaya paham betul kalau Jenggala hendak mengeluarkan jurus Tapak Karang Waja.
"Aku tidak boleh main-main," Bisik Atmaya dalam hati.
Segera saja digeser sebelah kaki kanannya ke depan agak menyamping. Kemudian kaki kirinya ditekuk sehingga lututnya hampir menyentuh tanah. Sedangkan kedua tangannya terbuka menyilang dada.
"Jurus Naga Wisa!" sentak Wulan mengenali jurus yang diperagakan Atmaya.
Memang yang diperagakan Atmaya adalah jurus andalan yang sangat ampuh dan berbahaya. Jari-jari tangannya membiru, mengandung racun yang me璵atikan. Lebih dahsyat lagi kalau seluruh tubuh Atmaya telah timbul sisik-sisik seperti seekor naga. Ini berarti dia telah sampai pada tingkat terakhir jurus Naga Wisa.
Apa yang dibayangkan Wulan memang kenyataan. Seluruh tubuh Atmaya perlahan-lahan muncul sisik-sisik yang berkilauan. Jari-jari tangan seluruhnya sudah membiru. Lebih menakutkan lagi, kedua bola mata Atmaya merah menyala bagai bola api yang siap membakar apa saja. Bahkan dari mulutnya menjulur lidah yang bercabang.
"Gawat!" Jenggala pasti mati!" desis Wulan.
Wulan tahu betul kehebatan jurus Naga Wisa karena jurus itu pernah dipelajarinya dari Eyang Resi Suralaga meski belum sampai tingkat terakhir. Gadis ini baru menguasai tingkat kelima. Sedangkan jurus Naga Wisa ada sepuluh tingkatan. Gambaran mengenai jurus-jurus selanjutnya itu, sudah diketahuinya karena Eyang Resi Suralaga sudah memperlihatkan semuanya
"Kau cemas?" Jaka berbisik melihat Wulan seperti gelisah,
"Ah, tidak!" sahut Wulan gugup. Cepat-cepat dia bersikap wajar.
Jaka semakin yakin kalau Wulan sudah terpikat dengan ketampanan Jenggala. Memang tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Jaka cemburu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hubungannya dengan Wulan hanya sebatas seperti kakak beradik saja, meskipun satu sama lain telah sama-sama tahu kalau mereka bukanlah saudara.
Kembali Sepasang Walet Merah memusatkan perhatian pada kedua tokoh yang sudah siap dengan jurus andalan masing-masing. Atmaya kini berdiri tegak dengan bola mata merah menyala mengarah pada Jenggala yang telah siap dengan jurus Tapak Karang Waja
"Aku tidak peduli setan apa yang merasuk dalam tubuhmu, Atmaya," desis Jenggala. "Malam ini kau harus ****** oleh Tapak Karang Waja!"
Selesai berkata, Jenggala langsung menarik turun tangan kirinya. Dengan satu teriakan keras, kakinya terangkat lalu dijejakkan ke tanah dengan kuat Dalam sekejap saja, tubuh Jenggala sudah meluncur deras ke arah Atmaya.
"****** kau, Atmanya!" teriak Jenggala lantang.
"Aaaargh...!" Atmaya menggeram dahsyat
Blarr!!!
"Aaaargh...!"
"Aaaakh...!"
Suara ledakan dahsyat saling susul bersama jerit melengking dan geraman keras ketika kedua telapak tangan Jenggala membentur dada Atmaya. Seketika dua tubuh terpental keras ke belakang.
Badan Jenggala membentur pohon besar hingga hancur. Tidak berhenti di situ, beberapa pohon tumbang terhantam tubuh yang terus meluncur itu Luncuran tubuh Jenggala baru berhenti ketika jatuh bergulingan di tanah, lalu menghantam batu sebesar kerbau hingga hancur berantakan. Jenggala menggeletak dengan darah kental keluar dari mulutnya.
"Kakek...!" jerit Wulan histeris.
Memang, nasib yang dialami si Gila Jubah Hitam tidak jauh berbeda. Tubuhnya terpental jauh ke belakang membentur dinding bukit cadas yang keras. Dinding batu cadas itu hancur dan menimbulkan getaran yang amat kuat bagai terjadi gempa. Atmaya, atau si Gila Jubah Hitam menggelatak di antara reruntuhan batu-batu cadas. Dari mulut dan hidungnya mengalir darah segar.
"Kakek...," rintih Wulan menghambur ke arah si Gila Jubah Hitam. Gadis Ini semakin yakin kalau laki-laki itu memang kakeknya. Jurus-jurus yang dimiliki sangat mirip dengan Eyang Resi Suralaga.
Ketika Wulan akan menubruk, tangan Atmaya bergerak lemah mencegah. Wulan berhenti. Matanya menatap cemas terhadap keadaan kakeknya. Seluruh tubuh laki-laki itu penuh sisik keperakan. Dadanya bergerak pelan dan tersengal. Di dadanya juga terlihat ada tanda dua tapak tangan berwarna merah kehitaman.
"Jangan dekat, Wulan. Kau belum sempurna menguasai jurus Naga Wisa. Sangat berbahaya bagimu," lemah suara Atmaya.
"Kek...," suara Wulan tersekat di tenggorokkan.
"Cupu Manik Tunjung Biru milikmu dan Jaka. Di dalamnya banyak tersimpan jurus-jurus maut yang harus kalian kuasai penuh sebagai Sepasang Walet Merah. Dua jantung yang ada di dalamnya harus kalian makan. Aku yakin, ketak kalian akan menjadi sepasang pendekar yang sulit dicari tandingannya," semakin lemah suara Atmaya. Sinar matanya pun semakin redup.
Wulan tak kuasa lagi membendung air matanya. Sementara Jaka hanya berdiri saja di samping gadis itu yang berlutut di sisi tubuh Atmaya
"Hanya satu pesanku, jadilah kalian sepasang pendekar yang berada di jalan lurus. Kalian tidak boleh berpisah satu sama lain. Aku senang jika kalian menurunkan ilmu pada anak cucu kalian, juga cucu-cucu buyutku. Wulan... kau bersedia meluluskan permintaanku, juga permintaan Suralaga?"
Mulut Wulan seperti terkunci. Dia hanya memandang pada Jaka yang telah berlutut juga. Memang sulit untuk meluluskan permintaan terakhir itu. Di antara mereka berdua sudah terjalin tali persaudaraan yang erat. Hal ini sulit bagi Wulan yang telah menganggap Jaka sebagai kakaknya. Entah bagi Jaka.
"Aku akan mati tersenyum jika kalian mau berjanji," kata-kata Atmaya makin melemah. Beberapa kali dia terbatuk-batuk dan diiringi dengan darah yang muncrat dari mulutnya.
Tidak ada pilihan lain bagi Wulan kecuali mengangguk Jaka pun ikut menganggukkan kepalan ketika Atmaya memandang lemah kepadanya. Laki-laki kumal itu tersenyum bahagia.
"Jika aku mati, timbuni saja dengan batu-batu. Jangan kalian sentuh tubuhku. Sangat berbahaya. Racun yang berada di seluruh tubuhku akan mematikan kalian seketika! Se... lamat..., ting..., gal!"
"Kek...!"
__ADS_1
Wulan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Atmaya atau si Gila Jubah Hitam telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Bibirnya menyungging senyum. Sesaat keadaan menjadi sunyi lengang. Bahu Wulan terguncang-guncang, menangis terisak. Sedangkan Jaka hanya tertunduk dengan hati terbalut duka dan berbagai perasaan lainnya. Pesan terakhir Atmaya sangat persis dengan pesan Eyang Resi Suralaga sebelum meninggal.
"Jenggala, kubunuh kau!" geram Wulan tiba-tiba!
"Wulan...!"
Jaka tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah gadis itu yang tiba-tiba kalap. Wulan telah melompat cepat sambil menghunus tombak pendek bermata dua. Ketika sampai di tubuh Jenggala, langsung senjata andalannya berkelebat cepat.
Tetapi apa yang terjadi? Wulan langsung mundur ketika ujung senjatanya menyentuh jasad Jenggala. Hanya terkena ujungnya saja, jasad itu segera hancur jadi debu. Benar-benar dahsyat jurus Naga Wisa. Jasad Jenggala kini menjadi tepung dalam seketika. Baru kali ini Wulan menyaksikan keampuhan jurus Naga Wisa yang sesungguhnya.
"Wulan...."
Wulan menoleh. Matanya basah oleh air bening yang merembang di kelopak matanya yang bulat indah. Jaka mengambil senjata di tangan Wulan, dan diselipkan di pinggang gadis itu. Pandangan matanya lembut lurus ke arah bola mata Wulan. Sesaat mereka hanya terdiam saling pandang.
"Sebaiknya kita kubur dulu jenazah Kakek Atmaya," bisik Jaka lembut.
Wulan menoleh ke arah jasad Atmaya. Hatinya sedih melihat satu-satunya keluarga terakhir telah meninggal dunia. Sepertinya baru sedetik mereka bertemu. Dan kini harus berpisah untuk selama-lamanya. Maut kembali memisahkan Wulan dari orang-orang yang dicintainya.
********************
Pagi baru saja menjelang. Matahari mengukir dirinya dengan sinar kemerahan menyapu lembut mengusir kabut. Burung-burung membangunkan teman-temannya untuk mencari makan entah di mana. Di samping tumpukkan batu, Wulan masih berdiri mematung membayangkan kenangan-kenangan manis yang telah dialaminya. Sedangkan Jaka masih setia menunggu di samping gadis itu. Sudah cukup lama mereka saling berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.
"Wulan...," bisik Jaka tiba-tiba sambil menepuk pundak Wulan lembut.
Wulan mengangkat kepalanya dan tersentak kaget. Tiba-tiba saja di depan mereka telah duduk bersila seorang pemuda berambut panjang. Laki-laki muda itu hanya mengenakan rompi dengan pedang bergagang kepala burung tersampir di punggungnya. Dialah Pendekar Rajawali Sakti.
Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti juga mengangkat kepalanya pelan-pelan. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua tombak lebih. Secara serentak, Sepasang Walet Merah telah menggenggam tombaknya masing-masing yang masih terselip di pinggang. Kehadiran Rangga yang tidak diketahui sama sekali, membuat Sepasang Walet Merah cepat waspada.
"Maaf, mungkin kehadiranku membuat kalian terkejut," kata Rangga lembut disertai senyum terkembang.
"Kau datang ke sini tentunya ingin mencari Cupu Manik Tunjung Biru, bukan?" Wulan langsung menuduh.
"Benda atau makanan itu?" tanya Rangga sambil berdiri.
"Jangan berlagak bodoh!" sentak Wulan sengit
"Kehadiranmu tanpa kami ketahui sudah menandakan kalau kau bukan orang sembarangan. Tentunya maksud dan tujuanmu sama seperti yang lain," ucap Jaka masih dapat bersikap sabar dan lunak.
"Maaf," ucap Rangga sedikit hormat "Aku di sini memang telah sejak malam tadi"
"Nah, jelas sekarang! Kau mengintai kami dan mengira kami menyimpan cupu itu!" ucap Wulan ketus. "Ayo, Kakang. Orang ini jelas-jelas menginginkan Cupu Manik Tunjung Biru!"
"Tunggu, Wulan!" Jaka cepat-cepat mencegah tangan Wulan yang akan menarik senjatanya.
"Apakah kehadiranku di sini mengganggu?" tanya Rangga.
"Maaf atas kekasaran sikap adikku," ucap Jaka sudah dapat menuai kalau Rangga tidak bermaksud buruk. "Kalau boleh tahu, siapa namamu dan bermaksud apa datang ke Bukit Batok ini?"
"Namaku Rangga. Aku datang ke sini secara kebetulan saja. Sebenarnya aku hanya ingin lewat saja. Tetapi ketika aku melihat begitu banyak orang dan mayat bergelimpangan, lalu aku singgah sebentar," Rangga menjelaskan secara jujur. "Apa kedatanganku mengganggu?"
"Jangan percaya kata-katanya, Kakang!" kembali ketus suara Wulan.
Rangga hanya tersenyum saja mendengar suara tanpa persahabatan itu. Bisa dimakluminya sikap gadis cantik ini. Semalam dia telah tahu permasalahannya yang sedang terjadi. Itulah sebabnya, mengapa tidak dilanjutkan perjalanannya. Hati nuraninya merasa tergerak ingin membantu sepasang anak muda yang tengah dilanda bahaya ini.
Rangga sama sekali tidak menyalahkan sikap Wulan yang terlalu emosi itu. Tapi Rangga kagum dengan sikap Jaka yang lebih sabar dan tenang dalam menghadapi persoalan. Benar-benar sikap seorang ksatria sejati
Baru saja Rangga ingin membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik, yang disusul dengan kelebatan bayangan Dan detik itu juga muncul seorang perempuan tua berambut putih. Pada bibir bagian atasnya terdapat luka panjang sehingga giginya yang hitam terlihat mencuat
"Nenek Sumbing," desis Jaka mengenali perempuan tua itu.
Wulan sedikit terkejut dengan kedatangan perempuan tua itu yang secara tiba-tiba di Bukit Batok ini. Memang telah diduga sebelumnya, tapi tak disangka harus begini cepat berhadapan dengan tokoh tua yang sulit diukur tingkat kepandaiannya.
Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki tua berpakaian serba hijau. Dari warna pakaiannya, jelas kalau dia adalah Klabang Hijau. Kemunculannya didasari oleh rasa penasaran melihat Nenek Sumbing yang telah berhasil menggagalkan aji 'Kala Wisa' ketika Klabang Hijau berhadapan dengan Sarmapala di depan penginapan.
Klabang Hijau yang gemar mencari lawan untuk mengadu kesaktian, seperti merasa ditantang dengan kata-kata Nenek Sumbing waktu itu. Makanya setelah dilampiaskan dendamnya pada Sarmapala, dia tidak segera pergi. Ditunggu saat yang tepat untuk bertemu nenek jelek ini. Dan inilah saat yang tepat ketika dia melihat Nenek Sumbing muncul di Bukit Batok.
"He he he..., kita bertemu lagi, nenek usil," Klabang Hijau terkekeh.
"Huh! Aku tidak ada urusan denganmu!" dengus Nenek Sumbing.
"Siapa bilang? Kau telah berani mencampuri urusanku, berarti kau sudah berani menantangku!" jawab Klabang Hijau.
Nenek Sumbing segera teringat kejadian di depan rumah penginapan. Baru disadari kalau sikapnya telah membuat persoalan baru bagi Klabang Hijau. Dia tahu tabiat tokoh tua yang aneh ini. Kegemarannya adalah berkelana hanya untuk mengukur tingkat kepandaiannya saja. Memang diakui, sampai detik ini belum ada seorang pun yang mampu mengalahkannya.
Klabang Hijau sendiri tidak peduli dengan kemelut yang terjadi dalam rimba persilatan. Baginya seorang lawan lebih menarik perhatian daripada segala macam ***** bengek persoalan dunia. Dia tidak peduli dengan cupu yang tengah diperebutkan. Dia ke sini hanya ingin bertarung dengan Nenek Sumbing. Itu saja. Wataknya memang hampir sama dengan si Gila Jubah Hitam. Dia tidak bisa dimasukkan dalam salah satu golongan.
"Sekarang aku menagih tantanganmu, Nenek Sumbing!" tegas nada suara Klabang Hijau.
"Hh...!" Nenek Sumbing mendesah panjang Sebenarnya, tidak ada setitik pun niatan di hatinya untuk mencari perkara dengan Klabang Hijau. Tapi sekarang dihadapkan pada salah satu pilihan yang amat sulit Terpaksa harus dihadapinya Kelabang Hijau lebih dulu dan menangguhkan mencari Cupu Manik Tunjung Biru.
__ADS_1
********************