Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Kitab Tapak Geni Bag. 6


__ADS_3

Seorang laki-laki berpakaian compang-camping muncul dari balik rimbunan semak. Di pinggangnya tergantung sebuah guci arak. Juga tangannya yang tak lepas mencekik leher sebuah guci lagi. Sebentar-sebentar dituangnya cairan arak ke mulutnya.


"Huh! Habis!" dengusnya sambil menggoyang-goyang guci arak yang telah kosong.


"Setan Arak," gumam Sanggamayit. 'Tanpa diundang kau pun muncul juga di sini."


"Hik hik hik...," Setan Arak tertawa mengikik seraya menoleh ke arah Sanggamayit.


Setan Jerangkong dan Iblis Mata Satu melompat bersamaan, lalu berdiri di samping kanan dan kiri Sanggamayit. Di tangan mereka masih tergenggam senjata. Sementara Rangga menatap tajam pada Setan Arak. Dia teringat laki-laki tua yang sekarat di rumah Kepala Desa Ganggang yang mengatakan kalau Setan Arak lah yang menculik Ratih. Tapi di mana Ratih sekarang berada? Dan kini, Setan Arak hanya sendirian saja.


"Kau punya urusan dengan mereka, anak muda?" tanya Setan Arak seraya menoleh pada Rangga. "Aku juga punya urusan denganmu, Setan Arak," sahut Rangga dingjn.


"He he he..., kita baru kali ini bertemu. Tidakkah kau salah ucap?"


"Di mana Ratih kau sembunyikan?" tanya Rangga spontan.


"Gadis cantik itu? Ada! Dia baik-baik saja. Kau kekasihnya?"


Merah padam wajah Rangga melihat tingkah Setan Arak yang seperti tak berdosa saja.


"Kalau iya, kau mau apa? Tunjukkan, di mana Ratih kau sembunyikan?!"


"Sabar, anak muda. Aku justru ke sini ingin mencarimu. Gadismu itu tidak kurang suatu apapun. Hanya dia perlu sedikit istirahat untuk memulihkan...."


"Setan! Kau apakan dia?!" geram Rangga memutus kalimat Setan Arak.


"He he he...," Setan Arak hanya tertawa saja.


"Bedebah! Kau harus bayar mahal atas perbuatanmu!" geram Rangga makin memuncak kemarahannya.


Seketika itu juga Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil mengirimkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' ke arah Setan Arak. Namun belum sempat Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan tangan, tiba-tiba terdengar teriakan keras mencegah.


"Kakang, jangan...!" Rangga langsung menoleh. Tampak Ratih berlari keluar dari semak-semak tempat Setan Arak tadi muncul. Ratih segera menghampiri Rangga. Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti ini menjadi bingung melihat keadaan Ratih yang seperti tidak terjadi apa-apa atas dirinya.


"Ratih, kau tidak apa-apa?" tanya Rangga.


"Tidak, Kakang. Kakek Setan Arak telah menolongku," sahut Ratih.


Rangga menatap Setan Arak yang masih terkekeh. Kakinya terayun mendekati dua anak muda itu. Bola mata Rangga memandang Ratih dan Setan Arak bergantian. Dia masih kurang percaya kalau laki-laki berpakaian compang-camping ini telah menyelamatkan Ratih. Terngiang kembali kata-kata lemah dari laki-laki tua yang sekarat di pojok rumah Ki Jagabaya. Apakah telinganya yang kurang beres pada saat itu? Atau laki-laki tua itu yang salah lihat? Pikiran Rangga terus berputar.


"Seharusnya aku memang tidak pergi," pelan suara Rangga seperti menyesal.


"Mereka datang ketika Kakang belum lama pergi," sahut Ratih.


"Mereka? Mereka siapa?" desak Rangga.


Ratih menatap Tiga Setan Neraka. Rangga cepat mengerti bahwa tiga orang itulah yang membantai keluarga gadis cantik ini. Geraham Pendekar Rajawali Sakti bergemelutuk seketika. Benar-benar keji, membantai habis satu keluarga. Bahkan kini mereka menyebar fitnah!


"Maafkan kekhilafanku," ujar Rangga menatap Setan Arak


"He he he...," Setan Arak hanya terkekeh saja.


Rangga melangkah menghampiri Tiga Setan Neraka yang masih diam di tempat. Namun baru saja melangkah dua tindak, tangan Setan Arak merentang menghalangi.


"Kau tidak bisa melawan mereka dengan tangan kosong," kata Setan Arak.


Rangga menurunkan tangan Setan Arak dengan lembut sambil tersenyum tipis. Sama sekali dia tidak bermaksud meremehkan peringatan laki-laki kumal itu. Ucapannya memang benar, tanpa senjata rasanya sulit mengalahkan mereka bertiga. Tapi Rangga masih yakin dan ingin mencoba lagi dengan jurus-jurus andalannya.


Langkah kakinya terayun kembali menghampiri Tiga Setan Neraka yang telah bersiaga penuh. Semua percakapan tadi telah mereka dengar dengan jelas. Tidak dapat dipungkiri kalau Tiga Setan Nerakalah yang membantai hampir seluruh keluarga Ki Jagabaya dan pekerja-pekerja di rumah itu. Hanya Ratih yang selamat karena ditolong oleh Setan Arak.


Sanggamayit memanfaatkan kemunculan Setan Arak dengan meletakkan guci arak di lantai. Hal ini dimaksudkan untuk mengelabui agar semua orang menyangka kalau perbuatan itu dilakukan oleh Setan Arak. Ternyata rencana jahatnya itu tidak berumur panjang. Maka kini Tiga Setan Neraka harus menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Kini saatnya kalian harus mati!" dengus Rangga sambil bersiap-siap membuka jurus terakhir dari rangkaian lima jurus Rajawali Sakti.


Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak, sehingga seperti bertambah banyak saja. Inilah jurus 'Seribu Rajawali'. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti seperti berjumlah seribu.


Untuk beberapa saat, Tiga Setan Neraka menjadi tertegun melihat kenyataan itu. Seperti mereka telah terkepung oleh sekian banyak Pendekar Rajawali Sakti. Serentak mereka saling membelakangi dengan sikap berjaga-jaga. Teriakan-teriakan keras tiba-tiba saja terdengar membahana. Belum lagi senyap suara-suara itu, mendadak Pendekar Rajawali Sakti yang kini seperti berjumlah seribu, menyerang dari segala penjuru.


Tiga Setan Neraka menghalau setiap serangan yang datang bertubi-tubi itu. Sanggamayit mengkelebatkan senjatanya untuk membalas serangan lawan. Dia yakin betul kalau bandul besi baja berduri dari senjatanya itu telah mengenai tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Ternyata meleset sama sekali. Bandul itu hanya menghantam bayangan kosong saja. Sanggamayit menjadi terkesiap.


"Lihat kakinya!" seru Sanggamayit setelah mampu konsentrasi kembali.


Sanggamayit kini mulai dapat menerka kelebihan dan kelemahan jurus milik Pendekar Rajawali Sakti. Mendengar peringatan itu, Setan Jerangkong langsung mengarahkan pedang kembarnya ke arah kaki lawan. Demikian pula dengan Iblis Mata Satu yang melakukan hal yang sama.


Sedangkan Sanggamayit yang lebih cerdik, hanya sesekali saja menyerang. Dia baru mau menyerang jika melihat sepasang kaki telah menjejak tanah. Sedangkan kaki-kaki lain tampak seperri ngambang di atas tanah. Kini dapat dibedakan, mana Pendekar Rajawali Sakti yang asli, dan mana yang palsu.


Tepat ketika sepasang kaki yang menjejak tanah berada di depannya, dengan cepat dilontarkan bandul besinya yang berduri tajam. Serangan-serangannya beruntun bagai kilat menyambar ke arah kaki yang bergerak ke mana saja. Sanggamayit terus mencecar.


"Jangan pedulikan yang lain, bantu aku!" seru Sanggamayit.


Rangga tentu saja terkejut mendengar seruan itu. Berarti Sanggamayit telah mengetahui wujudnya yang asli. Dan benar saja, ketika Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong membantu serangan Sanggamayit, mendadak ribuan Pendekar Rajawali Sakti menjadi lenyap. Kini yang ada hanya wujud aslinya saja yang tengah kewalahan menghindari serangan lawan yang datang dari tiga penjuru.


"Setan!" dengus Rangga sambil mencelat ke belakang sejauh satu batang tombak.


Sret!

__ADS_1


Tepat saat kakinya menjejak tanah, Pendekar Rajawali Sakti telah mencabut pedang pusaka dari sarungnya yang bertengger di punggung. Seketika cahaya biru berkilau menerangi sekitarnya. Pamor pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti benar-benar membuat Tiga Setan Neraka terkesima. Begitu banyak senjata pusaka yang mereka telah lihat, tapi rasanya baru kali ini mereka menyaksikan pedang pusaka yang memiliki pamor seperti itu.


Setan Jerangkong dan Iblis Mata Satu langsung menggeser kakinya melebar ke samping. Rangga yang kini berada di tengah-tengah berkonsentrasi penuh terhadap setiap gerakan tiga orang yang mengepungnya dari tiga jurusan. Kakinya bergerak memutar perlahan-lahan, matanya tajam menatap setiap orang yang mengepungnya sambil mempermainkan senjata.


Set, set, set!


Tiba-tiba Sanggamayit melepaskan senjata-senjata rahasia dengan cepat, dan meluncur deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Dengan tangkas pendekar muda ini mengibaskan pedangnya, sehingga sinar biru berkelebatan seperti melindungi dirinya.


Cring, cring, cring!


Senjata rahasia yang berupa ruyung perak segera rontok berjatuhan di tengah jalan. Padahal tadi dilontarkan dengan kekuatan tenaga dalam yang kuat. Tak satu pun senjata rahasia Sanggamayit berhasil menemui sasaran. Tapi rupanya serangan itu hanya sebuah pancingan. Ketika Rangga sibuk memutar pedangnya untuk menghalau senjata rahasia beracun itu, secepat kilat Sanggamayit melompat seraya mengayunkan senjata andalannya


Rangga menarik kepalanya ke belakang menghindari sabetan bola-bola berduri. Dan belum sempat membenahi posisinya, mendadak berkelebat sebuah golok dari arah samping kanan. Golok Iblis Mata Satu itu mengarah ke kaki. Cepat-cepat Rangga menaikkan kaki kanannya, maka golok itu hanya lewat di bawah telapak kakinya saja.


"******...!" dengus Setan Jerangkong sambil menghujam pedang tipisnya ke arah dada Pendekar Rajawali Sakti.


Masih dalam keadaan kaki kanan terangkat, Pendekar Rajawali Sakti memiringkan badannya ke kanan. Dan tusukan pedang itu hanya lewat sedikit di depan dada. Namun serangan yang gagal itu ternyata dibarengi oleh satu tendangan menggeledek ke arah punggung.


Posisi Rangga memang tidak menguntungkan. Dia terlambat untuk menghindar. Dengan telak tendangan Setan Jerangkong menghantam punggungnya. Rangga terdorong ke depan beberapa langkah, tapi dengan cepat diputar tubuhnya sambil mengibaskan pedang. Sinar biru berkelebat cepat bersamaan dengan berputarnya tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu.


Trang! Setan Jerangkong yang berada paling dekat, menangkis senjata bersinar biru itu. Pijaran bunga-bunga api meletik ketika dua senjata beradu keras. Rangga tersentak, karena tangannya seketika bergetar setelah senjatanya ditangkis Setan Jerangkong. Segera dia mundur dua langkah. Yang dialami Setan Jerangkong lebih hebat lagi. Ujung mata pedang tipisnya gompal, dan hampir terlepas dari genggaman. Setan Jerangkong menyumpah-nyumpah karena seluruh jari tangannya menjadi terasa kaku.


"Kakang, awas...!" tiba-tiba Ratih menjerit keras.


Bersamaan dengan itu, dari arah samping kanan berkelebat tiga buah bola berduri dengan cepat Rangga tidak sempat menoleh lagi, segera diangkat pedangnya sambil menarik tubuhnya ke kiri.


Cring!


Rantai yang menghubungkan bola-bola berduri dengan tongkat melilit mata pedang Rajawali Sakti. Rangga membetot senjatanya dengan pengerahan tenaga dalam, namun lilitan rantai bola baja itu kian kuat. Maka terjadilah tarik menarik dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Otot-otot tangan Pendekar Rajawali Sakti bersembulan, terlapis kulit yang basah oleh keringat sehingga berkilatan. Wajahnya tegang memerah, pertanda tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.


Demikian juga yang dialami Sanggamayit Wajahnya yang pucat bagai mayat, semakin pucat pasi saja. Kedua bola matanya kelihatan memutih. Yang ada hanya titik hitam kecil saja yang kelihatan berada di tengah-tengah dua bola matanya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Adu tenaga dalam lewat dua jenis senjata yang menempel, terus berlangsung lama. Kelihatan sekali kalau kekuatan tenaga dalam kedua tokoh ini hampir seimbang. Mereka berdiri tegak dengan kedua kaki tertanam kokoh di atas tanah.


"Hm, ini kesempatan untukku," gumam Setan Jerangkong.


Secepat kilat, laki-laki kurus kering itu melompat. Pedang tipis di tangan kanannya berkelebat membabat leher Pendekar Rajawali Sakti. Dalam keadaan seluruh tenaga dan perhatiannya terpusat pada Sanggamayit, pendekar satu ini tidak bisa lagi mengelak dari bokongan itu.


Buk!


"Aaaakh...!" tiba-tiba saja Setan Jerangkong menjerit keras.


Begitu pedangnya tepat membabat leher Pendekar Rajawali Sakti, ternyata dirasakannya seperti menghantam segumpal karet keras saja. Pedang tipisnya terlontar, sedangkan seluruh tangannya bagai dirubung berjuta-juta kala berbisa.


Setan Jerangkong terdorong sejauh satu tombak ke belakang. Bibirnya meringis, sambil tangan kirinya mengurut-urut tangan kanannya. Pedangnya yang terlontar jauh kini menancap pada sebatang pohon. Setan Jerangkong segera duduk bersila ketika dirasakan tubuhnya menjadi panas. Cepat-cepat disalurkan hawa murni ke seluruh jalan darahnya. Wajahnya kelihatan semakin memerah dengan keringat bercucuran deras. Setan Jerangkong terus bertarung melawan hawa panas yang kian menggila di dalam tubuhnya.


Apa sebenarnya yang terjadi pada Setan Jerangkong?


********************


Tidak mengherankan jika Setan Jerangkong yang terkena jurus gabungan itu menjadi terhenyak. Tubuh Rangga yang menjadi kebal terhadap segala senjata tajam itu, ternyata juga punya daya tolak yang amat besar disertai penyemburan hawa panas ke seluruh tubuh penyerangnya.


Sementara itu Sanggamayit mulai kelihatan terdesak kekuatannya. Semakin dikerahkan seluruh kekuatannya, semakin panas seluruh tubuhnya. Bahkan dari ubun-ubun kepalanya asap tipis mulai kelihatan mengepul. Wajah Sanggamayit kini malah berubah merah. Ini pertanda kalau dia telah mengerahkan seluruh tenaganya sampai pada tahap yang paling tinggi.


Bres...!


Tiba-tiba saja kedua kaki Sanggamayit melesak ke dalam tanah. Tubuhnya mulai bergetar. Titik hitam kecil pada bola matanya berputar-putar bersamaan dengan tergeleng-gelengnya kepala Sanggamayit.


"Yeaaah...!" mendadak Rangga berteriak melengking sambil membetot pedang pusakanya yang terlilit senjata Sanggamayit.


"Aaaakh...!" Sanggamayit menjerit keras.


Bersamaan dengan terdengarnya jeritan keras itu, tangan kanan Sanggamayit tercabut dari pangkalnya. Darah pun segera menyembur dengan derasnya. Rangga menyentak pedangnya ke atas sehingga tangan yang masih menggenggam senjata tongkat pendek dengan rantai yang menghubungkan bola-bola baja berduri itu terlempar ke udara. Darah menciprat ke mana-mana.


"Hih!" Sanggamayit menghentak tubuhnya.


Seketika kaki yang telah terbenam hingga ke lutut terangkat ke atas. Tubuh yang kini lengan kanannya buntung, melenting dan bersalto di udara. Sanggamayit limbung sebentar begitu kakinya menjejak tanah. Segera ditotok beberapa jalan darah di sekitar pangkal lengannya yang buntung. Darah berhenti mengalir pada saat itu juga.


Setan Jerangkong yang telah pulih kembali, terkejut melihat tangan kanan Sanggamayit buntung dari pangkalnya. Begitu pula dengan Iblis Mata Satu yang tercengang beberapa saat.


"Bocah edan! Kau harus bayar mahal sebelah tanganku!" dengus Sanggamayit geram.


Setelah berkata demikian, secepat kilat Sanggamayit melompat tinggi dan menghilang di balik kegelapan malam. Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong segera mengikutinya sambil mengerahkan ilmu peringan tubuh. Rangga terkejut melihat tiga lawannya kabur dengan cepat sekali.


"Hey...!" teriak Rangga akan mengejar. Tapi...


"Kakang...!" Ratih berteriak keras. Rangga mengurungkan niatnya. Matanya langsung tertuju pada Ratih yang berlari-lari menghampiri. Sementara Setan Arak berjalan sempoyongan di belakang gadis itu. Tampaknya seperti jalan biasa, padahal Setan Arak ini juga mengerahkan ilmu peringan tubuh, sehingga ketika Ratih tiba di depan Rangga, dia pun telah tiba pula. Pendekar Rajawali Sakti memasukkan pedang pusaka ke dalam sarungnya di punggung. Seketika kegelapan kembali menyelimuti puncak Bukit Baru Tiga ini.


"Kau tidak apa-apa, Kakang?" tanya Ratih. Suaranya terdengar bernada kecemasan. Rangga hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Aku tahu ke mana mereka pergi," kata Setan Arak pelan.


Rangga mengalihkan pandangannya pada laki-laki kumal di samping Ratih.


"Apakah mereka kembali ke istana Parakan, Kek?" tanya Ratih.


"Tidak," jawab Setan Arak.

__ADS_1


"Lantas...?"


Setan Arak tidak segera menjawab malah melangkah pelan-pelan. Kepatanya lalu berpaling setelah langkahnya terayun sekitar sepuluh tindak.


"Ikuti aku!" katanya.


"Ayo, Kakang," ajak Ratih.


Rangga mengayunkan langkahnya di samping gadis cantik itu. Pikirannya masih bercabang antara percaya dengan tidak terhadap Setan Arak. Laki-laki kumal itu memang tidak jelas golongannya. Dilihat dari julukannya, sepertinya dia dari golongan hitam. Namun dilihat dari tindak-tanduknya, sepertinya dari golongan putih. Memang aneh tokoh Setan Arak ini.


Sesekali Rangga menatap Ratih yang terus menerus memandangi wajah pendekar muda yang tampan dan sakti ini. Rangga paham betul sorot mata gadis ini. Hatinya mendadak gelisah. Dia tidak ingin ada seorang gadis jatuh cinta kepadanya. Ratih memang cantik dan mempunyai kepandaian yang tidak rendah. Tapi Rangga bertekad untuk tidak mencintai dan dicintai seorang gadis pada saat pengembaraannya.


"Kelihatannya kau kenal betul dengannya," kata Rangga dengan nada bertanya. Matanya melirik Setan Arak yang berjalan di depan.


"lya," sahut Ratih.


Agak kaget juga Pendekar Rajawali Sakti mendengar jawaban yang singkat tapi tegas itu. Tidak disangka sama sekali kalau Ratih telah mengenal baik dengan Setan Arak.


"Kakek Setan Arak bukan orang lain bagiku. Sejak aku berusia lima tahun telah kenal baik dengannya," ungkap Ratih.


"Hm, berarti sejak kau masuk padepokan di Gunung Lawu," gumam Rangga.


"Benar," sahut Ratih. "Dari mana kau tahu?"


"Ayahmu yang menceritakan." Ratih tersenyum tipis. Ada rona mendung terbias di wajahnya. Hanya sebentar, tapi Rangga telah menangkap kemendungan itu.


"Maaf, aku telah mengingatkan pada ayahmu," ucap Rangga setengah berbisik.


"Tidak. Tidak apa-apa," sahut Ratih lirih. Beberapa saat mereka membisu. Tanpa disadari ketiga orang itu telah turun dari Bukit Batu Tiga. Kini mereka menyusuri tepian sungai yang mengalir cukup deras, memperdengarkan alunan suara gemercik air membentur bebatuan. Sungguh indah, tapi ketiga orang itu seperti tidak peduli. Pikiran mereka terus berkecamuk bermacam-macam kemungkinan yang akan terjadi.


"Kau mau bercerita tentang Setan Arak, Ratih?" pinta Rangga setelah cukup lama terdiam.


Ratih tersenyum manis, lalu mengangguk perlahan.


"Saat aku baru menginjak usia lima tahun...," Ratih memulai ceritanya.


"Aku diserahkan Ayah ke Padepokan Gunung Lawu. Di sana, selain pamanku sendiri yang menjadi guru besar, juga ada beberapa tokoh sakti yang mengajarkan berbagai ilmu kepada murid-murid padepokan. Di sinilah untuk pertama kalinya aku mengenal ilmu olah kanuragan dari Kakek Setan Arak. Sampai aku berumur sepuluh tahun Kakek Setan Arak menjadi guruku. Dan sejak itulah dia tidak pernah terlihat lagi," Ratih sebentar menghentikan ceritanya.


"Lalu, siapa yang menggantikan kedudukannya?" tanya Rangga.


"Pamanku sendiri," sahut Ratih.


"Kau tahu, mengapa Setan Arak meninggalkan padepokan?"


"Tidak."


Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Ratih sekarang berusia sekitar dua puluh tahun. Jadi tidak mustahil ketika Setan Arak difitnah, dia telah berada di padepokan ini. Yang jelas, tuduhan mencuri kitab pusaka Tapak Geni milik Dewi Agni yang juga guru tunggal Dewi Selaksa Mawar, cuma fitnah belaka yang dilancarkan Tiga Setan Neraka.


Dari rangkaian cerita yang didapat, Pendekar Rajawali Sakti telah dapat mengambil beberapa kesimpulan. Dan semuanya bersumber dari tingkah polah Tiga Setan Neraka.


Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkahnya. Ditariknya tangan Ratih ke belakang. Sementara itu Setan Arak yang berjalan di depan juga menghentikan langkahnya. Dia menatap Rangga yang memegangi pergelangan tangan Ratih. Setan Arak mengegoskan kepalanya sedikit Rangga paham maksudnya, kemudian dituntunnya Ratih mendekati Setan Arak.


"Hanya satu...," bisik Rangga pelan "Ya. Tampaknya memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi," sahut Setan Arak berbisik pelan.


"Bagaimana? Dibereskan?" tanya Rangga.


"Kalau tidak mengganggu, biarkan saja."


"Baiklah. Ayo jalan lagi."


"Kalian jangan terlalu jauh di belakang."


"Sialan!" umpat Rangga dalam hati.


Peringatan itu memang sarat dengan sindiran halus, tapi cukup nyelekit juga. Ratih pun segera melepaskan pegangan tangan pendekar tampan itu. Kepalanya tertunduk menyembunyikan rona merah pada wajahnya.


Ketiga orang itu kembali mengayunkan langkahnya. Kali ini mereka berjalan sejajar. Ratih berada di tengah. Rangga melangkah sambil mengerahkan ilmu 'Pembilah Suara' untuk menangkap setiap suara yang terdengar mencurigakan. Keningnya agak berkerut manakala mengetahui kalau orang yang mengikutinya itu memiliki ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi. Suara orang itu hampir tidak tertangkap meskipun Rangga telah mengerahkan ilmu Pembilah Suara.


"Apa maksudnya dia mengikuti?" tanya Rangga dalam hati. Ketika Rangga mengerahkan ilmu 'Pembilah Suara' tingkat akhir, barulah dapat terdengar jelas suara-suara langkah kaki ringan yang berada tepat di belakang. Rangga bergumam menghitung jarak. Hanya dua puluh tombak, bisiknya dalam hati. Jarak yang tidak terlalu jauh, tapi tidak dapat terdengar oleh ilmu 'Pembilah Suara' tingkat awal.


Orang yang membuntuti sepertinya memang memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Mungkin seringkat dengan ilmu yang dimiliki Tiga Setan Neraka. Siapa dia sebenarnya? Apa maksudnya mengikuti?


"Teruslah berjalan bersama Ratih, Paman," kata Rangga pelan.


"Akan ke mana, kau?" tanya Setan Arak.


Rangga tidak menjawab malah mencelat cepat, dan tiba-tiba saja telah hilang dari pandangan mata. Tubuh Rangga bagaikan hilang tertelan bumi. Ratih sampai bengong celingukan. Dia baru melangkah lagi setelah tangannya ditarik oleh Setan Arak.


Laki-laki tua kumal itu lalu merenggut dua batang bambu yang banyak berserakan di tepian sungai ini.


"Untuk apa bambu itu, Kek?" tanya Ratih.


"Diamlah, kita jalan terus," ujar Setan Arak.


Ratih langsung diam. Keningnya berkerut melihat Setan Arak berjalan sambil mengetuk-ngetukkan dua bambu mengikuti irama langkahnya, namun sedikit dibedakan. Ratih tersenyum ketika dapat memahami maksud laki-laki kumal ini. Rupanya dia ingin menipu orang yang menguntit dengan tetap mendengarkan langkah tiga pasang kaki. Boleh juga akalnya, pikir Ratih.

__ADS_1


********************


__ADS_2