Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Jago Jago Bayaran Eps. 11 Bag. 1


__ADS_3

AKHIR-AKHIR ini,orang-orang dari rimba persilatan berduyun-duyun mengunjungi Desa Kali Anget. Seperti menyimpan sebuah tempat wisata, desa itu begitu ramai dipenuhi pendatang dari segala penjuru. Hingga keadaannya berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.


Kedai-kedai makan dan minum tak pernah sepi dari pengunjung, tamunya silih berganti. Sementara rumah-rumah penginapan yang ada tak mampu lagi menampungnya, hingga rumah-rumah penduduk pun dijadikan tempat menginap. Untunglah, sejauh ini belum ada keributan atau pertumpahan darah, meskipun diantara mereka tidak menampakkan sikap bersahabat.


Apa sebenarnya yang menyebabkan orang-orang rimba persilatan berdatangan kesana?


Sementara itu Kepala Desa Kali Anget makin bingung dibuatnya. Dia tidak mengerti, apa sebenarnya maksud kedatangan mereka yang begitu mendadak. Saking bingungnya, maka dikumpulkannya para tetua dan sesepuh desa untuk membicarakan hal tersebut. Ada delapan orang yang hadir dalam pertemuan itu.


"Semakin hari desa kita semakin banyak kedatangan orang-orang rimba persilatan. Sementara kita sendiri tidak tahu, apa maksud kedatangan mereka? Hal itulah yang membuat saya mengundang saudara-saudara sekalian untuk membicarakannya," kata kepala desa, Ki Jatirekso.


Delapan orang undangan itu hanya mengangguk-anggukkan kepala. Mereka juga tidak habis pikir dengan bermunculannya tokoh-tokoh rimba persilatan didesa ini.


"Kita harus mengetahui apa tujuan mereka kesini, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," lanjut Ki Jatirekso.


"Apa yang harus kita lakukan?Rasanya tidak mudah mengusir mereka dari sini.Mereka adalah tokoh-tokoh golongan hitam dan rata-rata memiliki tingkat ilmu yang tinggi!" ujar Ki Karang seda yang bertubuh kurus dan rambutnya sudah putih semua.


"Benar, Ki. Kita tidak bisa berbuat apa-apa sebelum mengetahui maksud kedatangan mereka," sambung seorang laki-laki yang bertubuh tegap meskipun usianya sudah berkepala lima. Dia bernama Suryadenta, seorang jawara Desa Kali Anget yang menjaga keamanan desa ini.


"Justru itulah maksudku, mengapa aku mengundang kalian kesini," tegas Ki Jatirekso.


Mereka saling berpandangan.


"Aku akan menyelidiki ,Ki," kata Suryadenta memecah kesunyian.


"Mereka bukan orang sembarangan, Suryadenta. Kau harus hati-hati," kata Ki Jatirekso.


"Aku tahu apa yang harus dilakukan, Ki," sahut Suryadenta mantap.


Setelah berkata demikian, Suryadenta bangkit dan diikuti oleh tiga orang yang duduk mengapitnya. Ketiga orang itu adalah adik-adik Suryadenta yang juga bertugas mengamankan desa. Setelah berpamitan, mereka meninggalkan rumah kepala desa. Kini tinggal empat orang yang duduk dihadapan kepala desa.


Beberapa saat setelah kepergian Suryadenta dan adik-adiknya, tidak ada yang membuka suara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Tampak Ki Jatirekso begitu berkerut wajahnya. Desa Kali Anget memang sering kedatangan tokoh rimba persilatan, tapi yang sekarang ini benar-benar mengherankan. Begitu banyak tokoh-tokoh rimba persilatan yang datang!


Dan yang paling membuat risau Ki Jatirekso, mereka adalah tokoh-tokoh dari golongan hitam. Tak seorangpun yang beraliran putih. Kecemasannya memang cukup beralasan, karena tidak mustahil orang-orang itu akan membuat kekacauan disini. Mereka adalah penganut hukum rimba. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Tidak ada istilah baik atau buruk, semua yang dilakukan dianggap baik oleh mereka.


"Aku menduga ,kedatangan mereka ada yang mengundang," gumam Ki Karangseda.


Semua memandang kearah laki-laki tua itu dengan tatapan tidak mengerti. Sementara laki-laki tua itu mengelus-elus janggutnya yang putih. Sedang bibirnya yang hampir tertutup kumis, menyunggingkan senyum tipis.


"Tidak mungkin mereka datang kesini tanpa tujuan!" lanjut Ki Karangseda tetap tenang.


"Hm..., mungkin juga," gumam Ki Pungkur mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan mengerti jalan pikiran Ki Karangseda.


"Aku tidak mengerti maksudmu?" Ki Jatirekso kebingungan.


"Kau bekas seorang pendekar, Ki Jatirekso. Masa kau tidak ngerti apa yang kukatakan?!" ada nada sinis dalam suara Ki Karangseda.


Ki Jatirekso menatap tajam pada lelaki tua di hadapannya. Dia mulai mengerti arah pembicaraan Ki Karangseda. Dirinya sendirilah yang dicurigai mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan itu.


"Sebaiknya, kita hilangkan saja rasa saling curiga," kata Ki Jatirekso menunjukkan kewibawaannya sebagai pemimpin.


"Aku melihat Perempuan Iblis Pulau Karang ada di sini. Kau tentu masih ingat dia, Ki," kata Ki Pungkur yang duduk di samping Ki Karangseda.


"Itu masa lalu yang suram! Aku tidak peduli apakah dia ada di sini atau tidak! Yang akan kita bicarakan bukan masa laluku, tapi tujuan mereka ke sini!" Ki Jatirekso sedikit emosi.


"Justru itu ada hubungannya dengan...."


"Cukup!" sentak Ki Jatirekso geram, memutus kata-kata Ki Karangseda.


Kepala desa itu menatap tajam pada Ki Karangseda. Kemudian beralih pada Ki Pungkur, Sangga bawung dan adiknya, Sangga Kelana.


"Sebaiknya kita akhiri saja pertemuan ini!" kata Ki Jatirekso dingin.


"Aku akan menyelidiki kemungkinan ini, Ki Jatirekso," kata Ki Karangseda sinis.


Setelah berkat a demikian, Ki Karangseda segera beranjak pergi dan diikuti Ki Pungkur. Sementara dua bersaudara, Sanggabawung dan Sangga Kelana masih tetap duduk di tempatnya. Ki Jatirekso menatap tajam ke arah mereka.


"Mengapa kalian belum pergi juga?" dingin suara Ki Jatirekso.


"Tidak, sebelum kemarahan Anda reda," sahut Sanggabawung tenang.


Ki Jatirekso menghela napas panjang. Kepalanya terdongak ke atas. Memang tidak sepantasnya dia marah-marah kepada kedua bersaudara ini. Karena yang telah menyinggung perasaannya adalah Ki Karangseda. Sedangkan Sanggabawung dan Sangga Kelana, tidak mengetahui apa-apa tentang masa lalunya.


"Maaf, aku telah kasar pada kalian," kata Ki Jatirekso tenang.

__ADS_1


"Ya sudah, kami permisi dulu, Ki," pamit Sangga bawung seraya bangkit berdiri.


"Ya."


********************


Sementara itu Desa Kali Anget, makin hari makir ramai oleh pendatang. Hingga suasananya juga makin bertambah panas. Keributan-keributan kecil mulai terjadi di beberapa tempat. Mereka memang orang-orang yang keras dan mengandalkan kesaktian dalam menyelesaikan suatu persoalan. Maka tidak heran bila ada perselisihan kecil yang berakhir dengan pertumpahan darah.


Keadaan yang demikian, membuat penduduk makin resah. Demikian pula penjaga keamanan desa Suryadenta dan adik-adiknya, juga makin sibuk menghadapi laporan-laporan penduduk. Seriap hari, ada saja keributan yang menewaskan tiga atau empat orang.


"Aku yakin, ada maksud tertentu atas kedatangan mereka ke sini," kata Suryadenta setengah bergumam.


Ketiga adiknya hanya diam sambil menikmati hidangan dimeja. Mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sementara keadaan makin bertambah sukar dikendalikan. Bagi mereka, lebih baik bertarung dengan kelompok perampok, daripada harus berhadapan dengan tokoh-tokoh rimba persilatan dari golongan hitam.


"Apakah kalian sudah memperoleh keterangan?" tanya Suryadenta sambil memandang wajah adik-adiknya satu per satu. "Bayudenta?"


"Belum," sahut Bayudenta menggeleng.


"Tirtadenta, bagaimana denganmu?"


"Sama," sahut Tirtadenta sambil menggeleng juga.


Suryadenta memandang adiknya yang bungsu. Satu-satunya yang wanita dari empat bersaudara. Mayadenta hanya menggeleng tanpa mengangkat kepalanya.


"Tidak seorang pun yang membicarakan tentang maksud kedatangan mereka," kata Tirtadenta.


"Aku punya pikiran lain, Kakang," kata Mayadenta seraya mengangkat kepalanya.


"Apa pikiranmu?" tanya Suryadenta beralih menatap adik perempuannya yang cantik.


"Aku ingat kata-kata Ki Karangseda," kata Mayadenta pelan suaranya.


"Maksudmu?" tanya Bayudenta tidak mengerti.


"Ki Karangseda bilang, bahwa Perempuan Iblis Pulau Karang ada di sini. Aku yakin, kalian semua tahu hubungan perempuan itu dengan Ki Jatirekso," kata Mayadenta lagi.


"Kau jangan memperburuk keadaan, Maya!" dengus Tirtadenta.


"Aku tidak memperburuk keadaan. Aku hanya berpikir, bahwa kecurigaan Ki Karangseda mungkin ada benarnya. Rasanya memang mustahil, kalau mereka datang ke sini tanpa ada yang dicari. Kalian masih ingat, kan? Sehari sebelum mereka bermunculan, Ki Jatirekso mengadakan pesta pertunangan anaknya dengan putri Kepala Desa Margasuko. Nah! Apa yang dikatakannya waktu itu?"


"Aku ingat, Ki Jatirekso juga mengatakan pada calon mantunya, bahwa dia menginginkan seorang cucu yang bisa diharapkan jadi pendekar kelas satu," kata Tirtadenta mencoba meraba maksud adiknya.


"Bukan itu, Kakang Tirta," bantah Mayadenta.


"Lalu, yang mana?" dongkol juga Tirtadenta.


"Ki Jatirekso juga menyebut-nyebut sebuah nama dan menyuruh mencarinya. Ingat?"


Ketiga kakaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu saja mereka kembali mengingat kata-kata yang terlontar beberapa hari yang lalu.


"Tapi Ki Jatirekso waktu itu dalam keadaan mabuk," kata Bayudenta.


"Pengaruh arak bisa membuat orang lupa diri, Kakang Bayu," kata Tirtadenta bisa memahami maksud adiknya. Dalam hati dia memuji kecerdikan Mayadenta.


"Kau ingat nama yang disebutkan Ki Jatirekso?" tanya Suryadenta yang saat itu tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan Ki Jatirekso.


"Pendekar Rajawali Sakti," sahut Mayadenta mantap.


Ketiga orang kakaknya serentak menggumamkan nama itu. Semua orang juga pasti pernah mendengarnya sebagai pendekar yang pilih tanding.


"Lalu, apa hubungannya dengan keadaan di sini?" Suryadenta masih penasaran.


"Itulah yang harus kita ketahui lebih dulu. Waktu itu, Ki Jatirekso memang tidak menjelaskan pada Jaka Wulung. Sebab dia keburu meninggalkan tempat sebelum ucapannya selesai," sahut Mayadenta yang waktu itu duduk satu meja dengan Jaka Wulung dan tunangannya.


"Lantas, dengan Perempuan Iblis Pulau Karang?" sambung Bayudenta belum jelas.


"Kalian masih ingat, kan? Apa yang terjadi sebelum Ki Jatirekso dinobatkan jadi kepala desa di sini? Perempuan itu datang dengan sembunyi-sembunyi menemui Ki Jatirekso. Aku yakin, mereka punya rahasia yang ada sangkut pautnya dengan Pendekar Rajawali Sakti," Mayadenta menerangkan.


"Hm... aku ingat. Malam itu mereka bicara di kamar, tapi cuma sebentar. Dan perempuan itu langsung keluar dan pergi entah ke mana," kata Suryadenta agak bergumam.


"Kalau begitu, kita mulai punya gambaran!" seru Bayudenta cerah wajahnya.


"Ya, dan dapat kita mulai dari Jaka Wulung!" sambung Mayadenta bersemangat.

__ADS_1


"Tapi aku minta keterangan Ki Jatirekso sendiri," kata Suryadenta.


"Aku tidak menyangka, punya adik cantik yang berotak cerdas!" puji Tirtadenta tersenyum manis pada adiknya.


"Siapa dulu dong... aku, kok!" ujar Mayadenta sambil menepuk dadanya.


Dan empat bersaudara itu pun tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak menyadari kalau ada yang memperhatikan sejak tadi. Sepasang mata itu sebagian besar wajahnya tertutup tudung besar dari anyaman bambu. Tubuhnya ramping dan terbungkus baju yang berwama biru langit, dadanya yang membusung menandakan bahwa dia adalah wanita.


Tapi bukan dia saja yang mengawasi empat orang bersaudara itu, karena seorang kakek-kakek yang duduk paling pojok juga mengawasi mereka sejak tadi. Meskipun kepalanya menunduk menekuri hidangannya, tapi sudut matanya tidak pernah lepas dari empat bersaudara itu. Siapa sebenarnya kedua orang yang mengawasi empat bersaudara di kedai makan itu?


Penyelidikan yang dilakukan empat bersaudara itu, bukanlah pekerjaan yang ringan. Terlalu sulit bagi mereka untuk memperoleh keterangan dari Ki Jatirekso maupun Jaka Wulung. Sedangkan Ki Karangseda sendiri tidak mengetahui tentang hubungan Ki Jatirekso dengan Pendekar Rajawali Sakti. Yang dia ketahui adalah hubungan antara kepala desa itu dengan Perempuan Iblis Pulau Karang, hanya itu saja.


Sementara itu keadaan Desa Kali Anget makin panas saja. Perlakuan yang tidak manusiawi mulai menimpa para penduduk. Hingga beberapa orang penduduk yang tidak tahan, mulai meninggalkan desa. Sedangkan penyelidikan yang dilakukan Suryadenta dan adik-adiknya belum menemukan titik terang.


Di lain tempat, Ki Jatirekso sedang duduk-duduk dihalaman belakang rumahnya yang ditata indah bagai sebuah taman kerajaan. Di sampingnya ada Jaka Wulung. Sudah cukup lama mereka di situ, tapi tidak ada yang bicara.


"Ada apa sebenarnya Ayah memanggilku ke sini?" tanya Jaka Wulung yang tidak tahan dalam keheningan, sambil menatap ayahnya.


"Hhh...," Ki Jatirekso menarik nafas panjang dan dalam. Perlahan-lahan kepalanya menoleh, membalas tatapan mata putranya. Jaka Wulung melihat ada keresahan di bola mata itu. Memang sejak berdatangannya tokoh-tokoh rimba persilatan ke desa ini, Ki Jatirekso berubah jadi pemurung. Lebih banyak berada di kamar.


"Apakah kau masih ingat kata-kataku tempo hari, pada waktu pesta pertunanganmu dengan Rara Angken?" Ki Jatirekso balik bertanya.


"Ya, aku masih ingat," sahut Jaka Wulung. "Tapi Ayah belum menjelaskan secara terperinci."


Lagi-lagi Ki Jatirekso menarik nafas panjang.


"Apakah ada hubungannya dengan kedatangan tokoh-tokoh rimba persilatan ke sini, Ayah?" tanya Jaka Wulung.


"Ya," desah Ki Jatirekso. "Tapi sudah terlambat. Sebentar lagi desa ini akan hancur dan tinggal kenangan.


"Lalu, apa maksud Ayah menyuruhku mencari Pendekar Rajawali Sakti?"


"Sekarang tidak ada gunanya lagi, Jaka Wulung. Perempuan Iblis Pulau Karang sudah ada di sini. Tidak mungkin lagi kita bisa mengatasinya," pelan sekali suara Ki Jatirekso.


Jaka Wulung semakin tidak mengerti. Tatapan matanya tajam, penuh selidik. Di benaknya penuh dengan berbagai macam pertanyaan dan dugaan. Apa sebenarnya yang tengah terjadi di desa ini?


"Ayah bisa...."


Belum lagi Jaka Wulung melanjutkan kata-kata nya, tiba-tiba...


"Awas!"teriak Ki Jatirekso sambil mendorong tubuh anaknya dengan cepat. Ki Jatirekso segera menjatuhkan diri dan berguligan bersama tubuh Jaka Wulung. Sekelebat Ki Jatirekso melihat seberkas cahaya menuju ke arah anaknya. Tapi cahaya itu dapat dihindari dan mengenai indaran bangku kayu, tempat mereka duduk tadi. Ki Jatirekso menoleh, tampak ada sebatang ruyung perak menancap di papan sandaran bangku panjang.


Perlahan-lahan dia bangkit sambil mengawasi sekitarnya, namun tak seorang pun terlihat, kecuali dia sendiri dan anaknya. Jaka Wulung pun ikut bangkit, tangannya langsung meraba gagang pedang yang tergantung di pinggang. Sejenak diliriknya ruyung perak yang menancap itu.


"Ada suratnya, Ayah," bisik Jaka Wulung.


"Hm..." Ki Jatirekso hanya bergumam saja. Dengan sikap hati-hati dan penuh waspada, laki-laki tua itu menghampiri bangku panjang. Tangannya terulur mengambil ruyung perak itu. Dan hanya dengan sekali hentakan, dia berhasil mencabutnya. Sambil mengawasi keadaan sekitarnya, Ki Jatirekso melepaskan pita yang mengikat sehelai daun lontar di ruyung perak itu.


Tiba-tiba paras wajah Ki Jatirekso berubah, begitu membaca sebaris kalimat yang tertera dengan warna merah pada selembar daun lontar. Gerahamnya bergemeletuk menahan amarah. Jaka Wulung mendekati dan membaca setengah bergumam.


"Tunjukkan di mana dia, maka desamu akan selamat!"


Jaka Wulung menatap ayahnya dengan kening berkerut. Kembali dibacanya sebaris kalimat yang tertera itu.


"Apa maksudnya ini, Ayah?" tanya Jaka Wulung.


"Dia menginginkan Pendekar Rajawali Sakti," sahut Ki Jatirekso pelan dan datar, sambil meremas surat itu.


"Dia...? Dia siapa?" desak Jaka Wulung.


Belum lagi Ki Jatirekso menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan yang panjang. Suara itu menggema seperti datang dari segala penjuru. Belum hilang rasa kaget mereka, tiba-tiba suara itu hilang begitu saja. Ki Jatirekso menggeser kakinya dua langkah ke samping, menjauh dari Jaka Wulung.


"Panggil penjaga, cepat!" perintah Ki Jatirekso.


Tanpa diperintah dua kali, Jaka Wulung langsung berlari. Sedangkan Ki Jatirekso meraba ke balik bajunya, dan tampaklah gagang golok berwarna merah menyembul dari balik bajunya. Kedua mata lelaki tua itu terus mengamati keadaan sekitarnya dengan tatapan tajam.


Tidak lama kemudian, Jaka Wulung kembali sambil berlari kencang. Nafasnya tersengal-sengal begitu sampai didekat ayahnya. Sejenak Jaka Wulung mengatur jalan nafasnya, supaya lebih tenang.


"Celaka, Ayah. Celaka...!" masih dengan tersengal Jaka Wulung berkata.


"Apa yang terjadi?" tanya Ki Jatirekso sedikit keras dengan kening berkerut.


"Celaka! Semua penjaga tewas.

__ADS_1


"Apa?!"


********************


__ADS_2