
Lima belas tahun sudah Rangga tinggal di dasar Iembah Bangkai. Selama itu pula tanpa sadar Rangga telah digembleng dengan jurus-jurus Rajawali Sakti. Di usianya yang kini menginjak dua puluh itulah Rangga mulai sadar kalau gerakan burung rajawali raksasa itu merupakan gerakan-gerakan silat tingkat tinggi.
"Tak kuduga, kau bukan rajawali biasa," gumam Rangga setelah menyelesaikan jurus ketiga dari rangkaian jurus andalan Rajawali Sakti.
Burung raksasa itu mengangguk-anggukkan kepala sambil merentangkan kedua sayapnya. Rangga paham kalau burung itu tengah menyatakan kegembiraannya. Diraihnya leher rajawali itu seraya dipeluknya dengan penuh kasih sayang.
Dalam usia dua puluh tahun itu, Rangga telah menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Tubuhnya tegap berisi. Otot-otot menonjol di seluruh tubuhnya yang terbalut kulit putih bersih.
Selama lima belas tahun itu, Rangga telah menguasai tiga jurus andalan dari rangkaian jurus Rajawali Sakti. Jurus yang pertama adalah 'Cakar Rajawali'. Jurus ini mengandalkan kekuatan jari-jari tangan yang dapat berubah menjadi keras dan tajam, setajam mata pedang. Jurus yang kedua adalah 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Dengan jurus ini Rangga dapat bertarung di udara tanpa sedikit pun menyentuh bumi. Jurus ini mengandalkan kecepatan gerak kedua tangan yang dibarengi kekuatan tenaga dalam yang baik.
Jurus yang ketiga yakni, 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Dan kini Rangga tengah mempelajari jurus keempat, 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Jurus ini sangat berbahaya karena penuh tipuan. Sasarannya adalah jalan darah lawan. Sebenarnya jurus Keempat ini hanya bisa didapat oleh orang yang memiliki tenaga dalam yang sempurna. Tetapi berkat selama lima belas tahun Rangga telah menyantap jamur ajaib, maka dia tak perlu lagi melatih tenaga dalamnya. Jamur-jamur yang telah menyebar di seluruh jaringan syaraf-syarafnya dapat membangkitkan hawa murni yang secara alami ada dalam tubuh manusia.
"Hey! Mau kemana?" Teriak Rangga ketika rajawali putih itu mengepakkan sayapnya, terbang.
Rangga segera mengerahkan ilmu 'Sayap Rajawali Membelah Mega' dan dengan seketika tubuhnya menjadi ringan, lalu mengangkasa. Sedemikian cepatnya, hingga dalam sekejap saja dia telah berada di atas punggung rajawali.
"Khraagh...!" rajawali putih terus mengepakkan sayapnya. Kecepatan terbangnya melebihi lesatan anak panah. Sebentar saja mereka telah sampai di suatu tempat yang masih di sekitar Lembah Bangkai. Rangga belum pernah ke tempat ini.
"Tempat apa ini?" Tanya Rangga setelah melompat dari punggung burung raksasa itu.
"Kraghk!" rajawali menjulurkan kepalanya ke depan.
Pandangan Rangga mengikuti juluran kepala rajawali. Matanya agak menyipit mendapatkan sebuah goa di depannya. Tidak jauh di sisi malut goa sebelah kanan, terdapat semacam gubuk terbuat dari ranting-ranting kayu. Goa itu sangat kecil, sehingga rajawali tak mungkin dapat masuk kecuali kepalanya saja. Tapi, gubuk siapakah itu?
Rajawali putih mendorong punggung Rangga dengan sayapnya. Agak ragu-ragu Rangga melangkah menghampiri gubuk rusak itu. Dia tersentak ketika melihat di bawah atap rumbia gubuk terdapat makam. Sungguh aneh, keadaan makam itu terawat rapi meski gubuk yang menaunginya telah reyot.
Walaupun Rangga tidak tahu itu makam siapa, namun tetap berlutut hormat. Seketika dia teringat kedua orang tuanya yang terbunuh lima belas tahun silam. Rangga sendiri tak tahu di mana makam kedua orang tuanya sendiri. Agak lama dia berlutut dan terpekur di samping makam.
"Krhaghk!"
Rangga mendeh ke belakang. Rajawali yang masih di belakangnya tertunduk mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya ikut sedih melihat makam ini. Rangga menghampiri dan memeluk leher burung raksasa itu. Seakan ingin berbagi perasaan dengan rajawali itu.
"Makam siapa itu?" Rangga berbisik.
Rajawali putih menggoyang-goyangkan kepala lalu menjulurkan ke arah goa. Rangga paham kalau dia dimohon masuk dalam goa itu.
Tanpa ragu-ragu kaki Rangga melangkah ke dalam goa. Dia tertegun sejenak saat berada dalam goa. Keadaan ruangan tak begitu besar namun banyak menyimpan barang-barang keperluan seperti layaknya tempat tinggal. Pada salah satu dinding, terdapat rak yang penuh dengan buku-buku. Di samping kirinya, terdapat bermacam-macam senjata. Ada pedang, golok, tombak, hingga senjata yang aneh-aneh bentuknya.
Goa ini ternyata juga sebagai tempat penyimpanan jamur-jamur yang biasa dimakan Rangga. Anehnya, jamur berwarna putih sebesar kepalan tangan itu hanya tumbuh pada satu dinding dekat tempayan air. Tepatnya dinding sebelah kanan menuju lobang ke luar goa.
"Kau juga ingin melihat?"
Rangga menggeser tubuhnya memberi kesempatan pada kepala rajawali untuk menyelinap masuk.
"Khraghk!"
"Ada apa dengan buku-buku itu?" Tanya Rangga.
Rajawali putih itu mematuk-matuk paruhnya ke lantai goa yang berpasir. Rangga cerdik. Dia dapat menangkap maksud burung rajawali ini. Bergegas didekatinya rak buku, dan diambilnya salah satu buku yang berada paling ujung sebelah kiri.
"Khraghk!"
Rangga menoleh. Dilihatnya kepala, burung rajawali itu menggeleng-geleng beberapa kali. Diletakkan kembali buku itu di tempatnya. Dia berpindah mengambil buku paling ujung sebelah kanan. Kepala burung itu mengangguk-angguk, dan mematuk-matuk lantai goa lagi.
Rangga tahu kalau dia harus membaca buku itu. Dan memang benar, buku itu ternyata berisi gambar-gambar jurus silat. Beberapa di antaranya telah dikuasai. Namun kecerdikannya menangkap kalau dia harus memperdalam lagi melalui buku itu.
"Punya siapa buku-buku ini?" Tanya Rangga.
Kepala rajawali putih menengok ke belakang.
"Jadi pemilik buku dan semua yang ada di sini, telah meninggal? Siapa dia sebenarnya?"
Paruh rajawali putih mematuk-matuk dinding goa.
"Sebelah mana?"
Dengan paruhnya rajawali itu menunjuk ke arah kanan. Rangga mengikuti arah yang ditunjukkan. Dia hanya mendapatkan sebuah dinding batu tebal dan berlumut.
"Khraghk!" rajawali putih memutar-mutar kepalanya beberapa kali.
Rangga menoleh. Dia melihat rajawali masih terus memutar-mutar kepalanya. Rangga berpikir sejenak dengan dahi sedikit berkerut serta mata agak menyipit, lalu mengangguk. Dengan langkah mantap didekatinya dinding itu. Tangan kanannya mendorong, tapi dinding batu itu tak bergeser sedikit pun.
"Krhaghk!"
"Baiklah, aku sekarang mengerti," sahut Rangga.
Rangga mundur dua tindak. Dipusatkan perhatiannya pada dinding batu itu. Dengan cepat kedua telapak tangannya yang terbuka mendorong ke depan. Seketika itu juga terdengar suara ledakan yang dahsyat, disusul getaran seluruh dinding goa.
Dengan mata terbelalak, Rangga menyaksikan dinding batu di depannya itu bergeser ke samping. Suara geseran batu itu menimbulkan gemuruh, seakan-akan seluruh dinding goa akan runtuh. Matanya makin terbelalak setelah dinding batu itu terbuka lebar.
Sebuah ruangan yang agak lebar nampak, bersamaan dengan berhentinya suara gemuruh itu. Seberkas cahaya terang memancar dari api yang berasal dari tengah lubang sebuah batu. Tidak ada apa-apa di ruangan itu kecuali sebuah batu yang menyerupai altar. Benda itu terletak di tengah-tengah ruangan. Sebuah buku kumal tergeletak di atasnya.
__ADS_1
Rangga melangkah masuk. Didekatinya batu altar yang hitam pekat Tangannya meraih buku kumal dan membuka halaman pertama buku itu. Berkerut kening Rangga ketika membaca halaman pertamanya.
Rangga kini tahu siapa yang sebenarnya menempati goa ini sebelumnya. Dia adalah seorang tokoh yang tak tertandingi selama kurun waktu seratus tahun lalu. Seorang tokoh yang bergelar Rajawali Sakti yang bertahun-tahun malang melintang di rimba persilatan. Sampai akhirnya tokoh itu mengasingkan diri di dasar Lembah Bangkai.
Buku kumal yang diambil Rangga dari atas altar itu memang dapat bercerita banyak. Hingga pada akhirnya dia tahu bahwa goa besar yang telah jadi tempat tinggalnya selama lima belas tahun adalah tempat tinggal burung rajawali raksasa tunggangan Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan buku itu juga menceritakan tentang sepak terjang pendekar itu selama berkelana di dunia persilatan.
Selama dalam pengasingan diri itu, ternyata Pendekar Rajawali Sakti telah menuliskan seluruh ilmunya ke dalam buku. Hal inilah yang membuat Rangga kian gembira karena juga ditemuinya buku yang berisi jurus-jurus silat Pendekar Rajawali Sakti.
Belum lagi puas rasa kagumnya, Rangga kembali terkagum dengan sebuah peninggalan Pendekar Rajawali Sakti. Sebuah pedang pusaka yang sangat ampuh.
Pedang itu memancarkan sinar biru kemilauan, dengan gagang berbentuk kepala rajawali yang terbuat dari emas murni. Pengaruh pedang itu memang dahyat. Seluruh aliran darah Rangga terasa bergetar ketika mencabut pedang itu dari sarungnya. Kekaguman Rangga tak terhenti sampai di situ. Dicobanya pedang telanjang itu pada sebuah batu sebesar kerbau. Dan hanya sekali tebas saja, batu hancur berkeping-keping!
"Khraaaghk...!"
Rangga menoleh ke arah Rajawali yang sejak tadi mengawasi dari mulut goa. Dia segera memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya. Kepala burung raksasa terangguk-angguk sambil mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Rangga tersenyum. Dia tahu kalau burung itu menyatakan kegembiraannya.
Rajawali putih gembira karena Rangga tidak mendapat pengaruh yang berarti sewaktu memegang dan menebaskan pedang pusaka itu. Sebab tak sembarang orang dapat melakukannya. Kalau bukan jodohnya dapat ambruk muntah darah meski belum mencabut dari sarungnya.
"Ya, ya...! Mudah-mudahan aku bisa mengikuti jejak Pendekar Rajawali Sakti," kata Rangga menyahuti gerak-gerak kepala burung itu.
"Khraaaghk...!" burung rajawali seakan-akan menyambut gembira ucapan Rangga itu.
Dilampiaskan kegembiraannya itu dengan mengepak-ngepakkan sayap dan terbang berputar-putar. Suaranya memekakkan telinga.
"Rajawali, sudah! Aku juga gembira!" teriak Rangga yang sudah berada di luar goa.
Burung itu segera menukik turun didepan Rangga. Kepalanya mendesak-desak wajah Rangga. Rangga memeluk penuh kasih sayang. Dia berjanji dalam hati akan menuntaskan seluruh ilmu-ilmu Pendekar Rajawali Sakti sekaligus menyempurnakannya.
Tiba-tiba Rangga teringat akan ayah ibunya yang telah terbunuh. Hatinya mendadak panas terbakar dendam. Dia bertekad akan mencari pembunuh orang tuanya setelah menguasai seluruh ilmu Pendekar Rajawali Sakti. Kemurungan yang tergambar di wajah Rangga terlihat oleh burung rajawali. Mata bulat merah menatap lurus ke wajah Rangga. Sepertinya ikut merasakan kepedihan yang melanda hati anak muda ini.
"Maaf, seharusnya aku tidak boleh sedih," ucap Rangga pelan.
Kepala burung rajawali menggeleng-geleng pelan. Sinar matanya redup. Seolah ingin mengatakan agar Rangga mengeluarkan seluruh isi hati kepadanya.
"Aku harus membalas kematian ayah dan ibu," ucap Rangga sedikit geram.
"Khraghk!" burung rajawali putih mengangguk-angguk seperti menyetujui ucapan Rangga.
"Ya..., ya. Aku juga harus membasmi segala bentuk kejahatan di atas bumi ini.
Rajawali berseru nyaring. Kata-kata Rangga membuat hatinya senang. Dulu majikannya juga seorang pendekar yang selalu membasmi kejahatan dan membantu yang lemah. Kini Rangga yang diasuhnya sejak kecil juga memiliki jiwa luhur dan berhati bersih. Rajawali gembira karena telah mendapatkan pengganti Pendekar Rajawali Sakti yang telah lama meninggal dunia.
Satu persatu jurus-jurus sakti yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti disempurnakannya. Waktu terus berjalan hingga tak terasa lima tahun telah berlalu. Rangga kini telah mencapai tingkat terakhir jurus Rajawali Sakti.
Bahkan kini Rangga berhasil menggabungkan empat jurus andalannya yang memang sebelumnya sangat dahsyat Gabungan empat jurus andalan itu dinamakan lurus 'Seribu Rajawali'. Kedahsyatan ilmu itu, Rangga bagaikan menjelma menjadi burung rajawali. Kecepatan geraknya sangat luar biasa. Gerakan itu membuat Rangga seperti menjadi seribu jumlahnya. Dengan jurus ini dia dapat bertarung di darat dan di udara tanpa kesulitan apa-apa.
"Khraaaghk...!" rajawali raksasa berseru nyaring ketika Rangga menyelesaikan jurus terakhirnya.
Rangga menoleh dan tersenyum. Tubuhnya yang tegap dan kekar tampak bercahaya. Keringat membasahi seluruh tubuhnya bagai burir-butir permata tertimpa sinar matahari. Rangga tersenyum puas melihat kehebatan jurus terakhirnya.
"Bagaimana, rajawali?" Tanya Rangga.
"Khraaaghk!" Rajawali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ada yang kurang?"
Rajawali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku merasa sudah waktunya meninggalkan lembah ini," agak pelan suara Rangga menyampaikan maksud itu.
Rajawali raksasa menatap lurus ke bola mata Rang-ga. Seperti berat untuk berpisah dengan anak muda ini. Dua puluh tahun mereka bersama dan kini saatnya berpisah. Rangga harus mencari pembunuh orang tuanya.
"Setiap saat kita bisa bertemu," kata Rangga seperti mengerti perasaan rajawali itu. Sebenarnya dia juga berat untuk meninggalkan lembah ini. Tapi dia harus membalas kematian orang tuanya.
Mata rajawali masih menatap ke bola mata Rangga.
"Aku sudah menguasai ilmu 'Siulan Sakti' jadi kau dapat kupanggil dalam jarak jauh sekalipun," kata Rangga lagi.
Burung rajawali mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya dia telah merasa lega mendengar Rangga berhasil menguasai ilmu 'Siulan Sakti'. Dengan ilmu itu mereka bisa bertemu setiap saat Dengan demikian ikatan batjn makin terjalin erat.
"Kau tidak keberatan kalau aku memakai nama Pendekar Rajawali Sakti?" Rangga meminta persetujuan.
"Khraghk!" rajawali raksasa itu mengangguk-angguk tanda setuju.
"Mudah-mudahan mendiang Pendekar Rajawali sakti juga menyetujui," gumam Rangga pelan.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba kilat menyambar beberapa kali disertai suara gemuruh. Padahal langit saat itu cerah sekali. Bahkan kabut tebal yang biasanya menyelimuti lembah tak nampak sejak tadi pagi.
Rangga mendongakkan kepalanya. Gumamnya seolah terdengar oleh Yang Maha Kuasa. Kilat yang menyambar disertai suara gemuruh seperti pertanda Pendekar Rajawali Sakti telah menitis ke dalam tubuh Rangga. Ini berarti pemuda tampan dan gagah itu berhak memakai julukan Pendekar Rajawali Sakti.
Rasa terkejut dan gembira belum lagi hilang, tiba-tiba dasar Lembah Bangkai bergetar hebat bagai gempa. Bersamaan dengan itu burung rajawali raksasa mengeluarkan suara nyaring sambil mengepak-ngepakkan sayapnya, namun tak terbang. Rangga tidak mengerti dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Dia heran kenapa burung itu juga mendadak seperti gila.
__ADS_1
Belum terjawab apa yang jadi tanda tanya di dalam benaknya itu, mendadak tanah kuburan yang berada di depan Rangga terbongkar disertai suara ledakan dahsyat. Rangga melompat mundur satu tombak. Dia tercenung melihat rajawali putih menekuk kedua kakinya. Kepalanya tertunduk dalam. Kedua sayapnya terbentang lebar menutupi rerumputan di sekitarnya.
Tiba-tiba Rangga terkejut Dari dalam kuburan yang terbongkar, keluar asap biru bergulung-gulung. Semakin lama semakin tinggi ke angkasa, kemudian lenyap bersamaan dengan munculnya seorang laki- laki berwajah tampan dan gagah berdiri di atas tanah kuburan yang berlubang besar.
Rajawali putih menoleh kepada Rangga lalu memberi isyarat agar Rangga berlutut. Walaupun benaknya masih bertanya-tanya, Rangga berlutut Dia tidak mengenal laki-laki tampan itu.
"Maaf, siapakah Kisanak sebenarnya?" sopan dan lembut suara Rangga.
"Aku Pendekar Rajawali Sakti," sahut laki-laki tampan itu.
"Oh!" Rangga tersentak kaget. Segera dia memberi hormat.
"Bangunlah, anak muda," kata Pendekar Rajawali Sakti pelan berwibawa.
Rangga berdiri agak ragu-ragu. Sekali lagi dia meng-hormat.
"Bertahun-tahun aku menginginkan seorang murid yang bisa mewarisi seluruh ilmu-ilmuku. Akhirnya, harapanku terkabul. Meskipun tak langsung kau peroleh dariku, namun aku bangga kau dapat menguasai seluruh ilmu 'Rajawali Sakti'. Bahkan kau mungkin Iebih sempurna daripada diriku," ujar Pendekar Rajawali Sakti.
"Mohon ampun jika hamba yang hina ini berlaku Iancang," ucap Rangga dengan tutur bahasa indah.
Semua kata-kata itu didapatkannya dari salah satu buku yang terdapat dalam goa.
"Tidak ada yang salah pada dirimu, Rangga. Aku merasa bangga. Kau memang pantas menyandang gelar Pendekar Rajawali Sakti. Tutur kata dan budi pekertimu tak kusangsikan lagi. Hanya satu yang masih mengganjal hatiku."
"Hamba mohon petunjuk guru."
"Kau belum bisa menghilangkan rasa dendam dalam hatimu!"
Rangga tertunduk saja. Dia memang ingin balas dendam atas kematian orang tuanya. Batinnya belum tenang kalau dia tidak melaksanakan niat itu. Rangga ingat betul saat kedua orang tuanya dibunuh didepan matanya sendiri.
"Aku dapat merasakan kegundahanmu, Rangga," kata Pendekar Rajawali Sakti lembut.
"Hamba mohon ampun, Guru," ucap Rangga pelan.
"Kau tak bersalah, Rangga. Memang sudah menjadi kewajiban seorang anak membela martabat orang tuanya. Kau boleh saja membalas kematian orang tuamu. Hanya, ada satu permintaanku."
"Apa itu, Guru?"
"Sebelum kau tinggalkan tempat ini, sebaiknya bersemedilah selama tujuh hari. Bersihkan dulu jiwa dan ragamu dari nafsu duniawi yang dapat menjeratmu ke lembah nista."
"Baik, Guru. Akan hamba laksanakan semua titah Guru."
"Bagus! Rajawali putih akan menemanimu semedi. Dia juga akan menunjukkan tempat yang baik untuk bersemedi."
"Terima kasih, Guru."
"Nah! Mulai sekarang kau berhak menyandang gelar Pendekar Rajawali Sakti yang kau inginkan itu!
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba jelmaan Pendekar Rajawali Sakti menghilang. Seketika itu pula kuburan yang berlubang tertutup kembali, disusul oleh suara guruh disertai kilat yang menyambar-nyambar dengan sekejap, langit kembali cerah seperti semula.
Rangga menghormat sekali lagi, lalu berpaling menatap rajawali yang berdiri kokoh. Sesaat mereka saling pandang. Kepala burung itu menggeleng lalu menoleh ke belakang. Rangga mengerti maksudnya Dengan tangkas dan ringan dia melompat, hinggap di punggung rajawali putih.
"Khraagk...!" Bagai anak panah lepas dari busurnya, rajawali putih melesat mengangkasa. Dalam sekejap saja mereka telah berada di udara meninggalkan Lembah Bangkai di kaki bukit Cubung. Rangga menoleh ke bawah. Lembah Bangkai bagaikan sebuah garis hitam di antara permadani hijau yang luas.
"Kau bawa ke mana aku?" Tanya Rangga.
"Khraaaghk!" sahut rajawali terus terbang menuju utara.
"Di sanakah aku harus bersemedi?" Tanya Rangga lagi.
"Khraghk!" Kepala rajawali terangguk-angguk.
********************
Rangga mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tempat inilah yang pertama diinjaknya setelah keluar lari Lembah Bangkai. Sebuah daerah berbukit batu cadas. Gersang dan tanpa sebatang pohon pun tumbuh di situ. Di sekelilingnya hanya batu-batuan yang membukit.
Dengan ujung paruhnya, rajawali putih mematuk-matuk sebuah batu besar yang pipih. Rangga meman-dang batu itu, lalu kembali mengedarkan pandangan-nya. Matanya menatap ke bola mata rajawali.
"Di sini tempatnya?" Tanya Rangga belum yakin.
Bagaimana mungkin bersemadi di daerah gersang seperti ini. Tempatnya di sebuah batu di tengah-tengah bukit, yang panas menyengat pada siang hari, dan dingin menusuk pada malam hari. Rangga men-jadi yakin. Di mana pun tempatnya, harus dilaksanakan titah Pendekar Rajawali Sakti.
Tepat purnama Rangga harus memulai semadinya. Rangga mendongakkan kepalanya. Matahari sudah condong ke Barat. Sebentar lagi malam tiba, dan purnama tepat jatuh pada malam ini. Rangga harus menyiapkan diri dari sekarang untuk bersemadi. Prosesi terakhir yang sangat berat dalam latihan kesempurnaan seorang pendekar.
Apapun beratnya, Rangga tak perduli. Hatinya mantap. Tak ada artinya gemblengan berat di Lembah Bangkai jika harus ciut hatinya menjalani tahap akhir dari rangkaian ilmu Rajawali Sakti. Satu tahapan yang paling berat. Bersemadi dan berpuasa selama tujuh hari tujuh malam.
Matahari telah tenggelam. Rangga telah bersila dan kedua telapak tangannya merapat di depan dada. Kepalanya tertunduk, perhatiannya terpusat pada mata hatinya. Pikirannya kosong. Seluruh indranya tertutup.
Sementara itu rajawali putih mendekam tidak jauh dari Rangga. Malam terus merambat. Dingin mulai menusuk. Namun Rangga telah menutup indra yang berhubungan dengan dunia luar. Dia merasa seperti hidup di alam lain.
********************
__ADS_1