
Secercah sinar hijau meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Pada saat yang sama, pendekar muda itu menghentakkan tangannya. Seberkas cahaya merah meluruk membendung serangan aji 'Kala Seribu' yang dilepaskan Rara Inten. Cahaya merah itu mengandung hawa panas luar biasa disertai hembusan angin deras menderu bagai terjadi badai topan seketika.
Dua sinar berbeda saling berbenturan di udara. Kekuatan itu saling mendorong dan saling mengungguli. Hawa panas menyebar menusuk kulit, membuat orang-orang di sekitar tempat itu mengerahkan tenaga dalam untuk menghindari hawa panas yang menyengat Ditambah lagi dengan hembusan angin keras bagai topan.
"Kalian berdua, cari Dewi Purmita," kata Ki Gandara pada Sawung Bulu dan Sangkala.
Ki Gandara melihat kesempatan baik untuk membebaskan Dewi Purmita. Tanpa mengucapkan satu kata pun, dua murid tangguh Padepokan Pasir Batang itu pun segera bergerak menyelinap cepat. Gerakan yang disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh itu tidak diketahui sama sekali oleh orang-orang Raja Dewa Angkara. Mereka terlalu terpaku pada pertarungan adu ilmu tingkat tinggi itu.
Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti mulai menggeser kakinya sedikit demi sedikit maju ke depan. Rara Inten juga melangkah maju sambil terus melepaskan aji 'Kala Seribu'. Wajah wajah mereka telah kelihatan merah menegang. Hingga tiba waktunya, secara bersamaan kedua tokoh itu berteriak nyaring sambil melompat cepat ke depan.
Ledakan keras menggelegar memekakkan telinga terjadi ketika dua pasang telapak tangan beradu di udara. Rara Inten terdorong keras ke belakang, hingga punggungnya membentur baru karang. Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti terjengkang deras membentur pepohonan hingga tumbang.
"Uhk, hoek..."
Hampir bersamaan kedua tokoh sakti itu memuntahkan darah kental kehitaman. Hampir bersamaan pula mereka segera bangkit kembali. Rangga menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Matanya merah tajam menatap lurus Rara Inten. Rara Inten tak mau kalah. Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dengan mata menyala penuh kebencian.
"Keluarkan senjatamu, bangau!" dengus Rara Inten, geram.
Selesai berkata demikian, Rara Inten mencabut senjatanya berupa tongkat pendek berwarna hitam dari batik bajunya. Tongkat itu memiliki ujung yang bermata merah membara. Pamornya sungguh dahsyat memancarkan sinar merah menyala.
Sret!
Rangga tidak segan-segan lagi mencabut Pedang pusakanya. Seketika kegelapan malam yang menyelimuti puncak Gunung Balakambang menjadi terang benderang oleh sinar biru kemilau yang memancar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menyilangkan pedangnya di depan dada. Matanya tetap tajam menatap lurus kedepan.
Dengan satu teriakan, Rara lnten menerjang sambil mengibaskan tongkat pendeknya. Rangga hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri. Pedangnya berkelebat cepat menghalau ujung mata tongkat pendek yang mengancam iga.
Trang! Dua senjata beradu keras menimbulkan pijaran api dahsyat. Rangga yang mengira senjata lawan akan patah, tersentak kaget. Dengan gerakan yang cepat tidak terduga, Rara lnten memutar tongkat pendeknya.
Rangga menarik tubuhnya ke belakang, maka ujung tongkat itu berkelebat di depan lehernya. Pada saat yang bersamaan, pedang Pendekar Rajawali Sakti terayun membabat ke arah perut lawan. Rara lnten yang tengah memusatkan pada serangannya, terkejut karena tidak menyangka Pendekar Rajawali Sakti bisa berkelit sambil melancarkan serangan balasan.
Dengan cepat dilentingkan tubuhnya menghindari sabetan pedang pada perutnya. Dua kali berputar di udara, kemudian kembali meluruk dengan ujung tombak terhunus. Melihat begitu cepatnya serangan datang, Rangga melompat sambil membabatkan pedang ke bawah.
Trang!
Lagi-lagi dua senjata beradu keras. Rangga berputar melewati kepala Rara lnten, dan menjejak manis di tanah. Baru saja akan berbalik, sekonyong-konyong Rara lnten sudah berputar seraya mengelebatkan tongkat pendeknya.
Cras!
"Akh!" Rangga berseru tertahan.
Ujung tongkat berwarna merah menyala itu langsung menggores pangkal lengan kiri Pendekar Rajawali Sakti. Darah segar mengalir deras dari luka goresan yang cukup panjang dan dalam. Rangga melompat mundur dua langkah ke belakang.
Sesaat dilihat luka pada pangkal lengannya. Gerahamnya bergemeletuk menahan geram Segera ditotok beberapa jalan darah di sekitar lukanya. Seketika itu juga darah berhenti mengalir. Kembali matanya menatap tajam pada Rara lnten yang berdiri angkuh penuh ejekan.
Rara lnten mengangkat tangan kirinya, lalu dibukanya kedok kain hitam tipis yang menutupi seluruh kepalanya. Kini terlihat seraut wajah cantik tersenyum mengejek. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai lepas.
"Rara lnten...," desis Ki Brajananta terkejut begitu mengenali wajah wanita yang selama ini menjadi momok.
"Hmmm...," Rangga bergumam tidak jelas. Sama sekali tidak disangka kalau lawan yang dihadapinya seorang wanita cantik.
"Rara Inten, tidak kusangka kau yang jadi biang keladi kerusuhan ini!" dengus Ki Brajananta.
Rara Inten hanya mendengus melirik laki-laki tua yang masih kelihatan gagah ini. Laki-laki yang dulunya dicintainya setengah mati. Kini laki-laki itu sudah tua, tidak berguna lagi bagi dirinya. Mendadak Rara Inten mengibaskan tangannya ke arah Ki Brajananta. Selarik sinar hijau meluncur deras. Sinar hijau yang berbentuk seekor kala berbisa itu meluruk deras ke arah Ki Brajananta.
"Awas...!" teriak Rangga. Terlambat!
__ADS_1
"Aaaakh...!" Ki Brajananta menjerit panjang Sinar hijau itu menghujam dalam di dada Ki Brajananta. Dia terjengkang ke belakang sejauh satu tombak. Tampak bagian dadanya berlubang, tembus sampai ke punggung. Ki Brajananta hanya menggeliat sebentar, kemudian tak bergerak-gerak lagi.
"Iblis, kejam!" desis Rangga menggeram murka.
Rara Inten hanya tertawa mengikik.
"Kubunuh kau, iblis!" geram Ki Gandara.
Baru saja Ki Gandara hendak melompat, tiba-tiba berkelebat tiga sosok berpakaian serba hitam menghadang Mereka segera membuka kedok hitam dari kain sutra tipis yang melekat pada wajah. Ki Gandara tersentak kaget saat mengenali wajah tiga orang yang kini berdiri menghadang di depannya.
"Kalian..., ternyata kalian manusia-manusia buduk!" geram Ki Gandara.
"Tidak lebih buduk daripadamu, Ki Gandara. Penghasut! Mencari muka dengan memperalat Ki Brajananta untuk membunuh ayahku!" sahut Rawusangkan dingin.
"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Ki Gandara diiringi rasa geram.
"Aku putra pertama Ardareja!"
"Kau...?!" Ki Gandara seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
Belum lagi hilang rasa terkejut dan rasa bdak percayanya, tiba-tiba Ki Gandara memekik tertahan. Dia kaget setengah mati karena secara tiba-tiba Rawusangkan sudah melompat menyerang. Buru-buru laki-laki tua itu menggeser tubuhnya ke samping. Tangan kanannya mengibas mematahkan serangan Rawusangkan. Dengan cepat Rawusangkan menarik tangannya menghindari benturan dengan tangan Ki Gandara.
"Tunggu!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam. Secepat itu pula Rawusangkan melompat mundur. Matanya mendelik melihat Sangkala dan Sawung Bulu membawa Dewi Purmita. Rawusangkan memandang pada Paralaya yang ditugaskan untuk menyembunyikan Dewi Purmita. Belum juga Paralaya membuka mulut, Sangkala telah lebih dulu berkata.
"Rawusangkan, jiwamu sudah terpengaruh oleh Rara lnten. Dia itu istri ketiga ayahmu, yang juga membunuh ayahmu pula! Lihat ini, senjata yang digunakannya untuk membunuh Ki Ardareja!"
Sangkala melempar sebatang tongkat sepanjang lengan berwarna hitam kelam dengan ujung merah. Senjata itu sama persis dengan yang dipegang Rara lnten. Rawusangkan memandang senjata yang tergeletak di tanah. Kemudian ditatapnya Sangkala.
"Bohong! Itu dusta!" pekik Rara lnten kalap.
"Rara lnten, semua akal busukmu sudah terbongkar. Tidak ada gunanya lagi kau mengelak," dengus Sawung Bulu.
Rawusangkan memandang Rara lnten, kemudian matanya menatap orang-orang di sekelilingnya. Dari sinar matanya, terlihat kebimbangan yang membias di wajahnya.
"Ayah...," desis Dewi Purmita ketika matanya menangkap tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa lagi. Semua perhatian sekejap tertumpah pada gadis itu. Namun semuanya hanya sekejap saja, karena tiba-tiba Rara lnten mencelat ke arah Dewi Purmita dengan senjata terhunus.
"Purmita, awas!" teriak Sawung Bulu.
Seketika Sawung Bulu melompat mencoba menyelamatkan kekasihnya. Dia tidak peduli lagi dengan ujung tongkat yang bergerak cepat menghujam.
"Aaakh...!" Sawung Bulu menjerit kesakitan ketika merasakan iganya sobek mengucurkan darah.
Kejadian itu sangat cepat sekali, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya terpana. Tubuh Sawung Bulu jatuh meluruk.
"Iblis," desis Rangga geram.
Dengan satu teriakan menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melompat cepat seraya mengibaskan pedangnya pada Rara lnten. Secepat kilat Rara lnten berputar menangkis serangan mendadak dari Rangga.
Trang!
Kembali dua senjata sakti berbenturan keras. Namun kali ini Rara lnten tersentak. Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang. Tangannya terasa kesemutan saat senjatanya membentur pedang Pendekar Rajawali Sakti.
Dalam keadaan marah yang meluap, Rangga mengerahkan seluruh tenaga dalam sambil mengeluarkan jurus andalan yang terakhir dari lima rangkaian jurus 'Rajawab Sakti.' Jurus 'Rajawali Seribu' yang jarang digunakannya jika tidak dalam keadaan terpaksa sekali.
__ADS_1
Pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat ditimpali dengan gerak kaki dan tubuh yang tidak kalah cepat pula. Dalam sekejap saja tubuh Pendekar Rajawali Sakti bagaikan terpecah-pecah menjadi seribu banyaknya. Semua orang yang menyaksikan menjadi tercengang melihat pendekar muda itu menjadi sedemikian banyak mengurung rapat Rara Inten.
"Setan! Ilmu apa yang dikeluarkannya?" dengus Rara Inten. Dia jadi kelabakan menangkis setiap serangan yang datang sangat cepat dari segala penjuru.
Gerakan-gerakan tubuh Pendekar Rajawali Sakti kian lama kian tidak beraturan. Hal ini membuat bingung Rara Inten. Wanita ini sudah tidak bisa lagi membaca setiap gerakan dan arah tujuan jurus itu. Dia jadi senewen. Setiap akan menangkis pedang Pendekar Rajawali Sakti, sekejap saja pedang itu sudah berbelok arah.
"Akh!" tiba-tiba Rara Inten memekik tertahan Betapa kagetnya Rara Inten ketika dengan cepat pedang Pendekar Rajawali Sakti menyodok iganya. Cepat-cepat Rara Inten mengibaskan tongkat pendeknya untuk menangkis. Namun kali ini pun tertipu. Ternyata sodokan pedang itu malah menyabet turun ke bawah. Dan dengan kecepatan tinggi, pedang itu berputar arah menyamping.
"Aaakh...!" Rara Inten menjerit keras. Tanpa bisa dicegah lagi, mata pedang Pendekar Rajawali Sakti merobek dadanya. Darah menyembur dari dada yang terbelah panjang dan dalam. Tubuh Rara Inten sempoyongan. Tetapi sebelum disadari apa yang terjadi, tiba-tiba pedang itu kembali berkelebat.
Cras!
Rara Inten tidak mampu lagi bersuara. Sebentar tubuhnya berdiri tegak, lalu rubuh dengan kepala terpisah dari badan. Pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti membabat bagaikan menebang batang pisang saja. Rangga memasukkan pedangnya kembali. Sebentar pendekar muda itu berdiri tegak memandang tubuh Rara Inten yang menggeletak tanpa kepala. Rangga mendesah panjang lalu menoleh ke arah Dewi Purmita yang menangis memeluk tubuh Sawung Bulu. Pendekar Rajawali Sakti segera menghampiri mereka, lalu jongkok di samping Sawung Bulu.
"Hm, hanya luka biasa," gumam Rangga setelah memeriksa luka di iga Sawung Bulu.
Rangga tersentak ketika mendengar suara teriakan marah yang datang dari arah belakang Ketika ia menoleh, terlihatlah Sangkala tengah menerjang Rawusangkan dan dua orang lainnya dengan trisula kembar di tangan.
"Sangkala, jangan...!" teriak Rangga.
Terlambat! Serangan Sangkala yang dipenuhi amarah meluap dalam dada tidak bisa dibendung lagi. Trisula kembar menyambar cepat menusuk dada Rawusangkan. Sebuah lagi dilemparkan ke arah Paralaya.
"Aaakh...!" Rawusangkan yang tidak menyadari akan menerima serangan mendadak, tidak dapat mengelak lagi. Tiga ujung trisula, senjata kebanggan Sangkala menancap telak di dada Rawusangkan. Sedangkan trisula lainnya tepat menembus kepala Paralaya yang juga terkejut tidak mampu lagi menghindar.
Melihat dua orang temannya rubuh, Bagaspati langsung mengambil langkah seribu. Tak ada lagi yang dapat dijadikan pelindung kekuatannya. Semuanya kini roboh tanpa nyawa. Tetapi baru saja Bagaspati berlari sejauh lima tombak, orang-orang berpakaian serba hitam sudah mengepungnya. Mereka serentak mencopot topeng hitam yang menutupi kepala masing-masing.
Bagaspati yang sudah kehilangan nyali, jadi gemetaran Gadis-gadis yang selama ini diperbudak dan dipengaruhi jiwanya, semakin rapat mengepung. Mereka semua sadar seketika setelah Rara lnten tewas. Pengaruh kekuatan bathin Rara lnten lenyap saat itu juga.
"Aaa...!" jeritan menyayat terdengar dari mulut Bagaspati.
Gadis-gadis yang selama bertahun-tahun terjajah jiwanya, bagaikan kesetanan mencincang tubuh Bagaspati. Sebagian lagi memburu Paralaya dan Rawusangkan. Maka tiga tubuh itu pun tiada ampun lagi tercincang bagai dendeng.
Sangkala, Ki Gandara, dan Pendekar Rajawali Sakti tidak dapat mencegahnya lagi. Mereka hanya menyaksikan dengan kengerian yang amat sangat. Belum puas gadis-gadis itu mencincang tubuh tiga laki-laki itu, mereka menghampiri mayat Rara lnten, lalu mencincangnya. Beberapa gadis malah telah membakar rumah-rumah di Puncak Gunung Balakambang ini.
''Tamat sudah riwayat Raja Dewa Angkara," gumam Ki Gandara.
Laki-Iaki tua Guru Besar Padepokan Pasir Batang itu menoleh ke arah Rangga berdiri. Betapa tercengangnya dia ketika Pendekar Rajawali Sakti sudah tak tertihat lagi. Matanya beredar mencari-cari, namun sia-sia. Ki Gandara menghampiri Sawung Bulu yang sudah berdiri dipapah Dewi Purmita.
"Kau lihat di mana Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Ki Gandara.
"Tidak, Ki. Tadi..., tadi ada di sini," sahut Sawung Bulu.
"Ah, sungguh luhur jiwanya. Memberantas kejahatan tanpa mengharapkan pamrih," gumam Ki Gandara.
"Dia sudah pergi, Ki," kata Sangkala sambil mendekat.
"Kau lihat?" tanya Ki Gandara.
"Ya, dia pergi ke arah Selatan," sahut Sangkala.
Ki Gandara mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya kemudian menatap gadis-gadis yang sudah ber-kerumun di depannya. Jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang. Semuanya masih muda dan cantik. Tetapi sinar mata mereka mengharapkan perlindungan dari Ki Gandara.
Matahari mulai menampakkan diri ketika mereka menuruni Gunung Balakambang. Ki Gandara berjalan di depan didampingi Sangkala. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, namun tampak jelas kecerahan membias diwajah mereka. Kecerahan dan harapan baru semua warga Desa Pasir Batang.
TAMAT
__ADS_1
EPISODE BERIKUTNYA PERTARUNGAN DI BUKIT SETAN