Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Asmara Maut Bag. 3


__ADS_3

Siang ini matahari bersinar sangat terik. Rerumputan kering kerontang, dan pepohonan menggugurkan daunnya. Mata air pun mengering. Kemarau mulai datang menyiksa seluruh penghuni jagat raya ini. Namun kesengsaraan alam tidak membuat empat orang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan wajah yang kasar menghentikan ulahnya.


Empat orang laki-laki itu tertawa-tawa kesenangan mempermainkan seorang wanita muda berkulit kuning langsat. Pakaian wanita itu cabik-cabik memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang mengundang liur bagi para lelaki yang melihatnya. Paras wajahnya yang cantik, memucat ketakutan. Seluruh tubuhnya menggigil. Air bening tidak pernah berhenti mengalir membasahi pipinya yang ranum.


"He he he..., mau lari ke mana kau manis?" kata salah seorang menyeringai liar.


"Oh, jangan..., tolong. Kasihani aku...," rintih wanita itu memelas.


"Hanya sebentar..., tidak lama."


"Tidak! Oh, tolooong...!" jerit wanita itu ketakutan.


"He he he...!" Empat orang itu berlompatan menyergap wanita yang ketakutan setengah mati itu. Salah seorang langsung meringkus tangannya ke belakang. Tiga orang lainnya dengan liar menggerayangi tubuh wanita itu Jerit dan rintihan yang memelas tidak dihiraukan lagi. Mereka bagaikan binatang-binatang buas yang kelaparan mendapatkan segumpal daging segar.


"Akh!" wanita itu memekik keras ketika salah seorang merenggut bajunya dengan paksa.


"He he he...." Bola mata mereka semakin liar dengan bibir menyeringai buas melihat sebentuk tubuh indah tanpa penutup lagi. Air mata semakin deras membasahi pipi wanita itu. Dia merintih memohon belas kasihan. Ke dua tangannya berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka lebar.


"Auh! Tidak...! Jangan...!" teriak wanita itu ketika orang yang membelenggu tangannya mendorong ke depan.


Salah seorang menyongsong, langsung memeluknya dengan erat. Wanita itu meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Tubuh mereka jatuh bergulingan ke tanah. Tiga orang lainnya tertawa-tawa seperti melihat pertunjukan yang menyenangkan.


Wanita itu semakin tidak berdaya ketika yang lainnya ikut menggumuli. Sia-sia saja dia meronta dan menjerit-jerit minta tolong sampai suaranya serak. Empat orang itu malah semakin liar. Perih dan sakit seluruh tubuhnya direjam tangan-tangan kasar. "Biadab! Binatang...!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar. Empat orang itu terkejut, dan ketika mereka menoleh, tahu-tahu sebuah bayangan putih berkelebat cepat menghajar mereka. Tak ampun lagi, tubuh mereka berpelantingan tanpa bias melakukan gerakan apa-apa. Mereka cepat-cepat bangkit.


Sret! Hampir bersamaan mereka mencabut golok yang terselip di pinggang. Kini di depan mereka sudah berdiri seorang pemuda tampan berkulit putih bersih mengenakan baju rompi putih dengan gagang pedang berkepala burung di punggung. Tidak salah lagi, pemuda tampan itu adalah Rangga si Pendekar Rajawali Sakti.


Rupanya Rangga telah ke luar dari dasar jurang setelah beberapa lama dia tinggal di istana Satria Naga Emas di dasar jurang Hutan Ganda Mayit. Hanya sekilas Rangga melirik wanita yang tengah merapikan dirinya mengenakan pakaian kembali. Namun beberapa bagian tubuhnya masih kelihatan, karena pakaiannya sudah koyak dicabik-cabik empat orang itu.


"Siapa kau? Berani benar mencampuri urusan kami!" bentak salah seorang.


"Aku Pendekar Rajawali Sakti!" sahut Rangga dingin.


Seketika itu juga wajah mereka pucat pasi mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti disebut. Empat orang itu melangkah mundur beberapa tindak. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Nama Pendekar Rajawali Sakti sungguh menggetarkan hati mereka. Betapa tidak? Nama Pendekar Rajawali Sakti sudah melambung tinggi sebagai pendekar pilih tanding yang sulit dicari bandingannya.


"Enyahlah kalian, sebelum pikiranku berubah!" dengus Rangga.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, keempat orang itu langsung berlari kencang meninggalkan tempat itu. Rangga berbalik menghadap wanita yang kini sudah berdiri dengan wajah masih pucat ketakutan. Kepalanya tertunduk, dan bibinya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu.


"Sebaiknya kau cepat pulang," kata Rangga.


"Terima kasih, Gusti...," lirih sekali suara wanita itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Rangga.


Wanita itu menggeleng lemah.


"Di mana rumahmu?" tanya Rangga lagi "Tidak jauh dari Hutan Ganda Mayit ini, di Desa Watu Ampar," sahut wanita itu.


"Hm...," Rangga bergumam pelan. Kemudian dia berbalik dan melangkah pergi.


"Gusti...."


Rangga menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun. Wanita itu bergegas menghampiri dan berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti itu.


"Bisakah Tuan mengantarkan saya pulang? Aku takut, mereka akan kembali lagi," wanita itu memohon.


Rangga tidak menjawab. Dia kembali melanjutkan langkahnya. Desa Watu Ampar memang tidak jauh dari Hutan Ganda Mayit ini, dan letaknya juga masih di Kaki Bukit Lawu. Melihat arah yang ditempuh Rangga menuju ke Desa Watu Ampar, wanita itu bergegas mengikutinya. Dia mensejajarkan langkahnya di samping Rangga.


********************


Tidak lama Rangga singgah di rumah wanita yang ditolongnya. Orang tua wanita yang bernama Seruni itu sangat berterima kasih dengan pertolongan Rangga, tapi di balik sinar matanya, Pendekar Rajawali Sakti itu bisa mendapatkan sesuatu kejanggalan. Sinar mata itu tampak menyimpan kegelisahan dan perasaan takut yang amat sangat ketika Seruni mengatakan empat orang yang hampir memperkosanya di bebaskan pergi.


Dalam perjalanan meninggalkan rumah Seruni, Rangga masih memikirkan sikap kedua orang tua gadis itu, juga sikap Seruni yang kelihatan aneh. Bahkan sepanjang jalan desa ini, Rangga tidak melihat adanya kecerahan pada wajah para penduduknya.


"Hhh..., setiap kali masuk ke sebuah desa, ada saja yang tidak enak dilihat," desah Rangga.


Rangga masuk ke dalam sebuah kedai kecil yang pertama ditemuinya di Desa Watu Ampar ini. Dia hanya memesan seguci arak. Tadi di Hutan Ganda Mayit dia telah makan banyak dari daging kelinci panggang, sekarang tinggal hausnya saja. Lagi pula, sudah lama dia tidak lagi mencicipi manisnya arak.


Baru saja Rangga menghabiskan secangkir arak, ketika beberapa orang datang dengan suara ribut menggotong seorang laki-laki muda dengan tubuh penuh luka. Laki-laki yang digotong itu kelihatannya sudah mati, tapi dadanya yang bergerak menandakan dia masih hidup. Orang-orang yang membawanya meletakkan pemuda itu di bangku panjang. Tampak pemilik kedai ini sibuk memeriksa luka di tubuh pemuda itu.


"Panggil Nek Ringgih, dia bisa mati kalau tidak segera diobati!" kata pemilik kedai ini.


"Tapi, Ki.... Tempat Nek Ringgih sangat jauh, harus masuk ke tengah Hutan Ganda Mayit," celetuk salah seorang.


"Kalau begitu, biar aku saja yang ke sana! Huh, dasar pengecut!" dengus laki-laki tua pemilik kedai itu.


"Ayah...! Biar aku saja yang ke sana," salah seorang lagi mencegah pemilik kedai itu.


"Cepatlah, Sarman. Pakai saja kudaku!" kata pemilik kedai yang bernama Ki Dandung itu.


Tanpa banyak bicara lagi, pemuda yang bernama Sarman itu langsung berlari ke luar. Tampak sekali kalau dia memiliki kepandaian ketika dengan manis melompat ke punggung kuda coklat yang tertambat di bawah pohon. Kuda coklat itu langsung melesat kencang begitu digebah.


Kedai yang semula hanya didatangi empat orang itu, kini jadi ramai. Sepertinya hampir seluruh penduduk. Desa Watu Ampar tumpah ke kedai ini. Di sudut kedai, tampak Rangga tidak lepas memperhatikan wajah-wajah yang memadati kedai ini, terutama wajah Ki Dandung yang sibuk membersihkan luka-luka di tubuh pemuda itu dengan air dingin yang bersih.

__ADS_1


"Kasihan...," terdengar suara desahan pelan di belakang Rangga.


Pendekar Rajawali Sakti itu memiringkan kepalanya sedikit. Dari sudut ekor matanya, dia melihat beberapa wanita menyembulkan kepalanya di jendela.


"Benar-benar kejam dia," terdengar lagi sebuah gumaman.


"Mau jadi apa desa kita ini, ya...?"


"Neraka, barangkali."


Celoteh-celotehan bergumam terus terdengar. Diam-diam Rangga memperhatikan setiap celotehan yang ke luar dari mulut para penduduk yng memadati kedai Ki Dandung. Semakin banyak yang didengar, semakin pusing rasanya kepala Rangga. Dia tidak tahu, apa yang sedang terjadi di Desa Watu Ampar ini? Dan siapa pula laki-laki muda yang terluka itu? Tapi melihat dari luka-lukanya, Rangga sudah dapat memastikan kalau pemuda itu habis dianiaya. Luka-luka di tubuhnya, jelas dari goresan senjata tajam dan cambukan. Memar pada wajah dan tubuhnya menandakan bekas pukulan.


"Kalian sebaiknya bubar! Jangan membuat perhatian mereka!" seru Ki Dandung seraya memandangi orang-orang yang memadati kedainya.


"Ayo..., ayo bubar! Bubar semua!" seru beberapa orang.


Para penduduk yang memadati kedai segera angkat kaki, kembali ke rumahnya masing-masing. Sebentar saja tinggal empat orang yang membantu Ki Dandung merawat luka-luka pemuda itu. Rangga sempat memperhatikan kalau tiga tamu kedai juga angkat kaki bersama perginya para penduduk Desa Watu Ampar ini. Mereka rupanya mengambil kesempatan tidak bayar di saat pemilik kedai sedang lengah.


"Kenapa bisa sampai begini?" tanya Ki Dandung.


"Dia berusaha melawan ketika mereka mau membawa adiknya," sahut salah seorang.


"Lalu, orang tuanya?"


"Tewas terbunuh."


"Terlalu!" desah Ki Dandung menggeram.


"Mereka memang sudah keterlaluan, Ki. Kita tidak bisa diam terus melihat kekejaman yang semakin merajalela di sini," celetuk seorang lagi.


"Kalian mau memberontak?"


Empat orang laki-laki yang masih muda itu hanya diam dengan kepala tertunduk. Dari gagang golok yang tersembul di pinggang, menandakan kalau empat orang pemuda itu memiliki kepandaian. Dan melihat dari cara bicara serta sikap Ki Dandung, tampaknya laki-laki itu bukan hanya sekedar pemilik kedai minuman, tapi juga punya pengaruh pada penduduk Desa Watu Ampar.


Sorot mata yang tajam dan suara tegas berwibawa membuat Rangga menilai kalau Ki Dandung bukan orang sembarangan. Tentulah dia memiliki simpanan jurus-jurus silat yang tidak bisa dianggap enteng. Sekilas saja Rangga sudah melihat jari-jari buku tangan Ki Dandung. Sungguh sangat berbeda antara orang biasa dengan orang yang memiliki kepandaian silat.


"Sebaiknya kalian tetap menahan diri dulu. Belum waktunya untuk melakukan sesuatu," kata Ki Dandung setelah lama terdiam.


"Baik, Ki," sahut keempat pemuda itu serentak. Hampir bersamaan mereka berbalik dan melangkah ke luar kedai setelah Ki Dandung memerintahnya pergi. Laki-laki tua itu kembali sibuk membereskan kedainya yang sedikit berantakan. Dia sempat melirik Rangga yang masih tetap duduk tenang di sudut. Rangga pura-pura tidak memperharikan sama sekali. Padahal dari sudut ekor matanya dia memperhatikan Ki Dandung yang juga sedang memperhatikan dirinya pula. Ada kilatan kecurigaan pada sorot mata Ki Dandung.


Rangga bangkit berdiri setelah meneguk habis araknya. Dia meletakkan beberapa keping uang di atas meja, lalu melangkah ke luar tanpa berkata sedikit pun. Tapi langkah Pendekar Rajawali Sakti itu terhenti ketika Ki Dandung memanggilnya.


"Tuan..."


"Harga satu guci arak tidak seberapa, terlalu banyak pembayarannya, Tuan," kata Ki Dandung.


"Tidak mengapa, Ki. Anggap saja itu sebagai pengganti gucimu yang retak," kata Rangga kembali melangkah pergi.


Ki Dandung tidak mencegah lagi. Dia bergegas menghampiri meja di mana Rangga tadi menempatinya. Beberapa kali matanya memandang ke arah guci dan Rangga bergantian. Guci arak itu memang retak, bahkan bisa dikatakan sudah pecah. Tapi masih tetap utuh seperti semula. Ki Dandung menyentuh guci arak itu, dan guci itu langsung berantakan di meja.


"Hhh..., siapa dia...?" desah Ki Dandung bergumam sendiri.


Ki Dandung kembali mengarahkan pandangannya ke jalan. Tampak Rangga masih terlihat punggungnya yang semakin jauh melangkah pergi ke arah Utara. Ki Dandung mengambil lima keping uang perunggu yang ditinggalkan Rangga. Lima keping uang perunggu bisa membeli sepuluh guci arak manis, tapi ini hanya untuk membayar satu guci arak saja.


"Tingkat kepandaiannya tentu sangat tinggi sekali, bisa memecahkan guci tanpa harus terlihat pecah. Ah, siapa dia, ya...?" lagi-lagi Ki Dandung bergumam.


********************


Rangga memang sengaja memecahkan guci arak dengan menggunakan ilmu 'Jari Malaikat' yang dipelajarinya dari Satria Naga Emas. Remasan jari-jari tangannya seperti tidak memiliki tenaga, dan tidak akan tampak kehebatannya. Jika saja itu dilakukan pada tubuh seseorang, tulang-tulangnya bisa remuk, atau orang itu bisa lumpuh seketika.


Ilmu 'Jari Malaikat' memang sangat kejam. Dan Rangga memutuskan untuk tidak menggunakannya kalau tidak perlu sekali. Rangga duduk mencangkung di atas batu memandang ke arah Desa Watu Ampar. Dia berharap Ki Dandung akan mencarinya setelah dia memperlihatkan kehebatan ilmunya. Lama juga Rangga menunggu, tapi laki-laki tua pemilik kedai itu tidak juga muncul.


"Kau menungguku, Kisanak?"


"Heh!" Rangga tersentak kaget ketika mendengar suara dari belakang.


Bibirnya langsung tersenyum ketika dia melihat Ki Dandung sudah berdiri di belakangnya. Rangga sudah menduga kalau laki-laki tua pemilik kedai itu memiliki kepandaian yang tidak rendah. Ki Dandung bisa berada di belakangnya tanpa bisa diketahui sama sekali kedatangannya. Ini membuktikan betapa tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya.


"Maaf, aku mengundangmu dengan cara yang tidak lazim," kata Rangga seraya menjura memberi hormat.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ki Dandung langsung.


"Entahlah," desah Rangga.


Ki Dandung mengernyitkan keningnya. Rangga sendiri tidak tahu, kenapa dia melakukan itu. Mengundang laki-laki tua ini dengan cara memecahkan gucinya. Cara seperti itu memang sudah sering digunakan oleh orang-orang kalangan rimba persilatan. Dan Ki Dandung mengerti maksudnya. Tapi dia jadi heran juga mendengar jawaban Rangga yang dirasakan aneh.


"Aku tahu, kau bukan dari Desa Watu Ampar. Aku juga tahu kau seorang pemuda yang memiliki tingkat kepandaian tinggi. Apa maksudmu mengundangku dengan cara begitu?" kata Ki Dandung.


"Mungkin aku ingin menguji penilaian mataku," sahut Rangga asal jadi saja.


"Bukan karena peristiwa tadi?"


"Mungkin juga."

__ADS_1


"Hm, rupanya kau tertarik dengan persoalan di Desa Watu Ampar juga. Kisanak, sebaiknya kauurungkan saja niatmu...," kata Ki Dandung langsung bisa menangkap maksud Rangga yang sebenarnya.


"Kenapa?" tanya Rangga keheranan. "Lupakan saja," sahut Ki Dandung. "Kalau kau hanya sekedar lewat, sebaiknya lanjutkan saja perjalananmu."


"Tunggu!" cegah Rangga ketika melihat Ki Dandung hendak pergi.


"Tidak ada yang menarik di desa ini," kata Ki Dandung.


"Peristiwa di kedaimu tadi sangat menarik hatiku," Rangga mengakui.


"Buang jauh-jauh rasa tertarikmu, Kisanak. Kau akan mengorbankan dirimu sendiri. Mereka bukan orang-orang sembarangan yang dapat dijadikan percobaan menguji ilmu. Maaf, bukannya aku hendak merendahkan atau meremehkan kemampuanmu," kata Ki Dandung.


"Baiklah," Rangga menyerah. "Tapi, ada apa sebenarnya di Desa Watu Ampar ini?"


"Hanya persoalan biasa dari orang-orang yang haus kedudukan dan kekuasaan. Desa Watu Ampar hanya sebuah ajang, dan nanti juga akan hilang sendiri," sahut Ki Dandung masih merahasiakan.


Rangga mengangkat bahunya.


"Aku harus segera kembali, mungkin Nek Ringgih sudah datang," kata Ki Dandung minta diri.


"Siapa Nek Ringgih?" tanya Rangga.


"Seorang tabib yang sangat ahli," sahut Ki Dandung.


Laki-laki pemilik kedai itu segera melangkah menuju ke Desa Watu Ampar. Rangga tidak mencegah lagi. Dia hanya memandangi saja kepergian laki-laki tua itu. Rasa ingin tahunya mengenai Desa Watu Ampar yang penuh rahasia itu membuatnya jadi berpikir. Dia kembali duduk di batu tidak jauh dari perbatasan desa.


"Apa sebenarnya yang terjadi...?"


********************


Ki Dandung menyambut kedatangan Nek Ringgih yang ditemani cucunya yang ramah. Perempuan tua ahli pengobatan itu segera memeriksa tubuh pemuda yang penuh luka, terbaring di bangku panjang. Kepalanya menggeleng-geleng beberapa kali, dan bibirnya berdecak-decak seperti seekor cicak.


"Kajar, siapkan ramuan luka luar," kata Nek Ringgih dengan suaranya yang agak kering.


"Baik, Nek," sahut Kajar segera membuka bungkusan kain lusuh yang disandangnya di pundak.


Anak laki-laki kecil itu segera menyiapkan ramuan yang diinginkan Nek Ringgih. Cekatan sekali dia bekerja, keterampilannya meramu obat-obatan seperti seorang tabib ahli saja, padahal usianya baru sebelas tahun.


Nenek dan cucu itu bekerja mengobati laki-laki muda dan tampan itu tanpa banyak bicara. Sementara Ki Dandung memperhatikan dari sudut kedainya yang ditutup. Di samping Ki Dandung berdiri anak tunggalnya yang menjemput Nek Ringgih tadi.


"Kenapa dia bisa terluka begitu rupa?" tanya Nek Ringgih setelah selesai mengobati luka-luka di tubuh pemuda itu.


"Dikeroyok," sahut Sarman sebelum ayahnya mendahului.


Nek Ringgih tidak bertanya lagi. Dia sudah tahu dengan jawaban Sarman yang langsung dan tegas. Perempuan tua ahli pengobatan itu melirik Kajar yang tengah membalut luka-luka di tubuh pemuda itu.


"Seharusnya kau bisa bertindak, Dandung. Kau kan bekas kepala desa. Apa kau tidak iba melihat penderitaan penduduk di sekitarmu?" Nek Ringgih menatap tajam pada Ki Dandung.


"Aku bukan siapa-siapa lagi, Nyi Ringgih. Aku tidak bisa berbuat apa-apa?" ada nada putus asa di dalam suara Ki Dandung.


"Seluruh penduduk Desa Watu Ampar berada di belakangmu, Dandung. Mereka pasti tidak akan berpangku tangan saja kalau kau menggerakkannya!"


"Dengan mengorbankan banyak nyawa? Tidak, Nyi."


"Huh! Dengan berdiam diri begitu saja juga sudah banyak nyawa yang hilang. Aku yakin, tidak berapa lama lagi, seluruh penduduk Desa Watu Ampar akan habis ludes!" dengus Nek Ringgih kesal.


"Hhh...," Ki Dandung mendesah panjang dan berat


"Kalau saja Nyi Sirah masih hidup...," gumam Nek Ringgih pelan.


"Jangan bawa-bawa istriku, Nyi!" sentak Ki Dandung.


"Aku tidak mengerti, kenapa kau jadi terbalik jauh, Dandung. Di mana keperkasaanmu? Ke mana kegagahanmu? Nama besarmu, Dandung? Kau seperti singa ompong yang tinggal menunggu ajal saja! Aku tidak percaya kalau semangatmu mati hanya karena kematian istrimu!" Nek Ringgih membakar api semangat Ki Dandung kembali.


"Sudah, Nyi! Aku tidak mau dengar khotbahmu lagi. Aku memanggilmu ke sini hanya untuk mengobati Gantar, bukan untuk mendengar celotehmu!" sentak Ki Dandung kesal.


"Baik..., baik, kalau itu maumu, Dandung. Aku tidak akan mau lagi peduli dengan nasib sekian puluh penduduk Desa Watu Ampar. Tapi ingat, Dandung. Kau akan menyesal di hari senjamu kalau terus bersikap begitu. Ingat kematian istrimu!"


Nek Ringgih langsung menarik tangan Kajar, dan membawanya pergi. Ki Dandung menarik napas panjang dan berat. Dadanya seolah mau meledak mendengar kata-kata Nek Ringgih. Sementara Sarman hanya menatap kepergian perempuan tua ahli pengobatan itu. Dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan barusan. Pandangannya beralih pada ayahnya yang hanya duduk lesu tanpa gairah. Wajah Ki Dandung sebentar pucat, sebentar kemudian memerah saga.


Memang, sejak kematian istrinya, Ki Dandung jadi patah semangat. Dia meletakkan jabatannya sebagai kepala desa. Saat itu Sarman baru berusia sekitar tiga belas tahun. Sarman tidak tahu, kenapa ibunya meninggal mendadak, dan dia juga tidak melihat mayat ibunya. Sarman hanya tahu ibunya sudah terbungkus kain putih dan dikuburkan. Ayahnya tidak pernah mengatakan tentang kematiannya. Sarman merasakan ada sesuatu yang disembunyikan ayahnya tentang kematian ibunya.


"Ayah...," pelan suara Sarman.


"Jangan tanya aku, sebaiknya kau bawa pulang temanmu itu," kata Ki Dandung seraya bangkit berdiri.


Sarman langsung bungkam. Dia tidak mencegah ayahnya yang melangkah masuk ke kamarnya di bagian belakang kedai ini. Setelah menghembuskan napas panjang, Sarman segera menghampiri Gantar yang masih belum sadarkan diri juga. Hampir seluruh tubuh Gantar terbalut Sarman memondong tubuh temannya itu, lalu membawanya ke luar. Seorang anak muda segera menghampiri begitu melihat Sarman membawa Gantar ke luar.


Dengan kereta kuda, Sarman dan temannya membawa Gantar kembali pulang. Anak bekas kepala desa itu tidak sedikit pun berkata-kata. Pikirannya masih kalut, mencoba untuk mereka-reka kata-kata yang tadi didengarnya. Juga dengan sikap ayahnya yang seperti tidak punya gairah hidup lagi. Sejak kematian istrinya, dan meletakkan jabatan sebagai kepala desa, Ki Dandung seperti hendak melupakan semua masa lalunya. Dia menyibukkan diri mengurus kedainya yang kecil. Sejak itulah keadaan Desa Watu Ampar jadi berubah. Tidak ada lagi ketenteraman, penduduk pun selalu diliputi kegelisahan. Kepala desa pengganti Ki Dandung tidak bisa bersikap tegas, sepertinya dia juga tidak peduli dengan keadaan desanya.


"Hhh...," Sarman menarik napas panjang dan berat.


********************

__ADS_1


__ADS_2