
Bayangan Hitam bukan orang lain bagi Saka Lintang. Dia adik kandung Geti Ireng, ayah angkat Saka Lintang. Jadi Bayangan Hitam adalah bibi angkatnya. Meski Saka Lintang telah mengetahui asal-usulnya, namun dia sama sekali tidak membenci Bayangan Hitam. Wanita kurus ini sangat baik terhadap Saka Lintang. Lagi pula, Bayangan Hitam tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan Geti Ireng.
"Siapa kau, anak muda?!" tanya Bayangan Hitam.
"Namaku tak ada artinya buatmu," jawab Rangga. Dari sekilas pandang saja, Rangga sudah dapat mengukur tingkat kepandaian perempuan kurus ini. Dari julukannya, dapat dipastikan kalau tokoh ini dari aliran hitam.
"Sombong!" dengus Bayangan Hitam sedikit gusar. "Sebutkan namamu sebelum kau kukirim ke neraka!"
"Aku Pendekar Rajawali Sakti," lantang suara Rangga. "Aku datang untuk mengambil Putri Intan Kemuning!"
Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu rumah kayu, terkejut. Wajahnya tampak berubah merah. Dia tidak kenal dengan pemuda tampan itu. Mendengar namanya saja, baru kali ini. Tapi diam-diam Intan Kemuning tertarik juga melihat ketampanannya. Lebih-lebih setelah menyaksikan sepak terjangnya yang dengan mudah merobohkan sepuluh orang dalam satu jurus yang diulang-ulang terus.
Bukan hanya Intan Kemuning yang terkejut Ternyata Bayangan Hitam pun kaget setengah mati. Tak disangka-sangka dia bertemu dengan pembunuh kakak laki-lakinya. Apalagi si pembunuh itu masih muda dan tampan. Kalau anak muda ini dapat membunuh Iblis Lembah Tengkorak, pasti tingkat kepandaiannya tinggi sekali.
"Kebetulan kau muncul, bocah setan! Kau berhutang nyawa padaku!" ujar Bayangan Hitam.
"Bertemu saja baru kali ini, bagaimana mungkin aku berhutang nyawa padamu?"
"Kau membunuh saudara laki-lakiku! Kau harus bayar dengan nyawamu!"
"Siapa saudaramu?"
"Geti Ireng atau Iblis Lembah Tengkorak!"
Rangga mengerutkan keningnya. Kini dia mengerti sudah, untuk apa perempuan kurus atau Bayangan Hitam itu muncul. Kelihatannya dia telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Aku membunuh saudaramu, karena dia membantai keluargaku!" lantang dan mantap suara Rangga.
"Aku tidak peduli! Yang jelas kau harus bayar nyawa saudaraku!"
Rangga yang sudah mengukur kepandaian Bayangan Hitam tidak sungkan-sungkan lagi. Dia segera mencabut pedangnya ketika Bayangan Hitam telah siap dengan pedangnya.
Sret!
"Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam.
Bayangan Hitam segera menyerang Rangga dengan jurus-jurus pedang yang dahsyat Sekejap saja mereka telah bertarung dengan jurus-jurus pedang tingkat tinggi. Pedang Rangga berputar-putar berkelebat memancarkan sinar biru yang menyilaukan. Sedangkan pedang Bayangan Hitam menderu-deru menimbulkan hawa panas.
Sinar hitam menggulung-gulung bagai asap tebal. Dua sinar berbeda saling sambar dengan hebatnya. Kian lama pertarungan kian seru. Sebentar saja sepuluh jurus telah berlalu. Kini tubuh mereka tidak terlihat jelas. Yang kelihatan hanya bayangan hitam, putih, dan biru saling berkelebat Semua yang ada di situ melongo, takjub.
Trang! Dua pedang beradu menimbulkan pijaran bunga api. Bayangan Hitam segera melompat mundur satu tombak. Dirasakan tangannya kesemutan ketika pedangnya beradu. Jari-jari tangannya seperti kaku.
"Edan!" dengus Bayangan Hitam melihat ujung pedangnya buntung.
Sementara Rangga tidak bergeming sedikit pun. Pedangnya melintang di depan dada. Bibirnya mengulum senyum, tapi sinar matanya tajam menatap lurus Bayangan Hitam. Rangga tidak merasakan apa-apa waktu pedangnya berbenturan tadi. Kalau saja Bayangan Hitam tadi tidak melompat, bisa jadi tangan kanannya pisah dari badan terbabat pedang Rangga.
"Keluarkan ilmu kesaktianmu, anak setan!" geram Bayangan Hitam sambil membuang pedangnya begitu saja.
Rangga segera memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Dia pun bersiap-siap mengerahkan jurus 'Cakar Rajawali', satu jurus andalan tingkat pertama. Bayangan Hitam pun tak kalah siapnya. Kini dia mengeluarkan jurus andalannya juga. Mereka telah saling berhadapan.
"Bersiaplah!"
Bayangan Hitam segera menggebrak setelah selesai memberi peringatan. Pertarungan dua tokoh sakti itu kembali berlangsung. Rangga mengerutkan keningnya ketika merasakan angin sambaran pukulan yang sangat dahsyat. Kini hanya dua bayangan hitam dan putih berkelebat. Debu mengepul di udara disertai angin yang menderu-deru bagai terjadi topan.
"Blaaar...!" Suara ledakan keras terdengar ketika tangan Bayangan Hitam menghantam batu. Seketika batu itu hancur berkeping-keping menyebar ke segala penjuru. Rangga berdecak kagum melihat kedahsyatan pukulan Bayangan Hitam.
"Hebat...!" desis Rangga memuji dengan tulus
"Tahan seranganku!" teriak Bayangan Hitam. Seketika Bayangan Hitam merubah jurusnya. Kin dengan jurus 'Bayangan Maut', tubuhnya berar-benar seperti bayangan saja. Sulit diiihat dengan mata biasa.
Rangga pun segera merubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangan Rangga mengembang. Kakinya bergerak-gerak lincah mengimbangi gerakan Bayangan Hitam yang sangat cepat. Kedua kaki Rangga kini tidak lagi menjejak tanah. Kedua tangainya menyambar-nyambar menimbulkan deru angin kencang. Beberapa pohon tumbang terkena sambaran angin pukulan Rangga. Kedua kaki Rangga makin bergerak cepat.
Bayangan Hitam sampai terperanjat, karena kaki-kaki Rengga saling susul mengarah kepala. Kedua tangan yang selalu mengembang bagai sepasang sayap itu menyambar-nyambar mengikuti gerakan tubuh Rangga yang kadang melayang, kadang menukik
"Akh!" Tiba-tiba Bayangan Hitam memekik kesakitan. Tubuhnya terhuyung dua tombak. Tanpa dapat dihindari lagi, kaki Rangga berhasil mengenai pundaknya. Dia berusaha menghindari kepala, tapi tidak bisa lagi menarik pundaknya. Bayangan Hitam mengeram menahan sekit yang luar biasa karena menyadari tangan kirinya tidak bisa digerakkan lagi. Tulang pundaknya patah sehingga sulit digerakkan lagi.
"Serang...!" teriak Bayangan Hitam keras melengking.
Serentak sepuluh orang berpakaian serba hitam bergerak menyerang Rangga. Empat orang anak buah Bidadari Sungai Ular yang tersisa membantu mengeroyok Rangga. Mereka penasaran karena belum bisa menggoreskan pedang ke tubuh Rangga.
"Kurang ajar!" geram Rangga sengit.
********************
Sementara di sungai Ular, pertempuran masih berlangsung sengit. Saka Lintang bertarung dengan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Sedangkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya menghadapi anak buah Bidadari Sungai Ular. Denting senjata bercampur dengan jerit kematian. Prajurit Kepatihan yang dipimpin Patih Giling Wesi itu kini berada di atas angin. Patih itu mengamuk terus. Setiap pedangnya berkelebat selalu menimbulkan korban.
Makin lama orang-orang berpakaian serba biru semakin berkurang jumlahnya. Yang tersisa hanya delapan orang saja. Saka Lintang tidak mungkin membantu orang-orangnya. Dia sendiri kewalahan menghadapi Pengemis Sakti Tongkat Merah. Saat gerombolan perompak itu makin terdesak, tiba-tiba muncul sepuluh orang berpakaian serba hitam dipimpin oleh Jambak.
"Tuan Putri, Bibi Bayangan Hitam datang!" teriak Jambak.
Saka Lintang berseri-seri wajah nya. Semangatnya segera bangkit mendengar Bayangan Hitam ikut membantu. Apalagi melihat anak buah Bayangan Hitam ikut bertempur. Lima orang membantu anak buah Saka Lintang, lima orang lagi membantu mengeroyok Pengemis Sakti Tongkat Merah. Saka Lintang mendekati Jambak yang tengah mengeroyok Kakek Sakti Tongkat Merah. Kini keadaannya jadi berbalik. Orang-orang dari Bayangan Hitam lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan lebih ganas dalam bertarung.
"Di mana Bibi Bayangan Hitam sekarang?" tanya Saka Lintang di sela-sela pertarungan.
__ADS_1
"Tengah menghadapi Pendekar Rajawali Sakti," jawab Jambak.
"Apa...?" Saka Lintang terkejut.
Pengemis Sakti Tongkat Merah mendengar hal itu merasa bersyukur karena Pendekar Rajawali Sakti telah sampai di sarang gerombolan Bidadari Sungai Ular.
"Lalu, bagaimana Intan?" tanya Saka Lintang dengan cemas.
"Berada di markas!" sahut Jambak.
Saka Lintang segera melompat keluar dari pertarungan ketika ada kesempatan. Dengan cepat dia berlari menggunakan ilmu peringan tubuh. Pengemis Sakti Tongkat Merah yang sejak tadi mendengar, lalu berteriak nyaring. Tubuhnya mencelat tinggi di udara dan jatuh tepat di samping Patih Giling Wesi.
"Cepat ke bukit Guntur! Selamatkan putrimu!" perintah Kakek Pengemis itu. "Biar orang-orang ini aku yang hadapi!"
Patih Giling Wesi segera melompat tinggi dan bersalto di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, langsung dikeluarkannya ilmu lari cepat. Bagaikan kilat tubuh patih itu dan kini sudah jauh meninggalkan pertempuran.
Pengemis Sakti Tongkat Merah mengamuk memutar-mutar tongkat saktinya. Satu persatu orang-orang berpakaian serba hitam tersungkur berlumuran darah disertai jerit kesakitan. Mereka bukanlah lawan Pengemis Sakti Tongkat Merah. Tongkatnya seperti hidup menyambar-nyambar mencari mangsa.
"Cepat susul Gustimu!" teriak Aki Lungkur kepada para prajurit.
"Tapi, Ki...!" seorang prajurit tidak tega meninggalkan orang tua itu sendirian.
"Jangan membantah!" dengus Aki Lungkur.
Delapan prajurit Kepatihan itu langsung beriari menyusul pemimpinnya. Sementara Kakek Pengemis kian waspada, selalu menghalangi setiap orang yang akan mengejar para prajurit.
"Cari kesempatan! Kejar mereka!" teriak Jambak gusar.
Perintah Jambak seperti tertelan angin. Mereka seperti menghadapi seribu pengemis. Aki Lungkur bergerak cepat menyambar setiap orang yang berusaha keluar dari medan pertarungan. Jambak memutar otaknya mencari jalan agar sebagian temannya bisa keluar dari pertarungan. Kakek sakti menebas tongkatnya sehingga satu persatu bergelimpangan. Kini jumlah mereka makin berkurang saja.
Di markas gerombolan Bidadari Sungai Ular, pertarungan masih berlangsung sengit. Rangga mengamuk menghadapi Bayangan Hitam yang dibantu oleh kaki tangannya. Rangga mencabut pedangnya dan mengerahkan ilmu pedangnya yang dipadu dengan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Jurus ketiga dari rangkaian jurus Rajawali Sakti. Gerakan kakinya lincah menghindari setiap serangan lawan, sedangkan pedangnya berkelebat ke arah tubuh lawan yang kosong.
"Rantai Bayangan!" teriak Bayangan Hitam tiba-tiba. Seketika sepuluh orang mengambil posisi melingkar mengepung Rangga. Empat orang ber-pakaian biru keluar dari arena. Mata Rangga tajam mengamati gerakan sepuluh orang yang berputar mengelilinginya sambil pedangnya tersilang di depan dada. Seperti mata rantai, mereka bekerja sama dengan gerakan-gerakan yang teratur dan menunjang. Makin lama makin cepat. Yang terlihat kini hanya bayangan hitam yang bergerak melingkar.
"Hiya! Yeah...!" Rangga kebingungan juga menghadapi pola serangan yang ganjil ini. Tetapi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti dapat menguasai diri. Ternyata teriakan-teriakan itu hanya untuk memecah konsentrasinya.
Serangan-serangan itu sulit ditebak, datang dari segala penjuru secara berganrJan. Gencar sekali. Mata Rangga tidak lepas mengamati setiap serangan yang datang. Tiba-tiba dia menjerit kuat sekali. Tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling.
"Trang! Trang! Trang!"
Kepingan-kepingan logam pedang yang patah meluncur deras ke arah orang-orang berpakaian serba hitam yang kebingungan. Pedang mereka terkena sambaran pedang biru menyilaukan.
"Aaaakh...!" Beberapa tubuh yang tidak sempat mengelak langsung bergelimpangan dengan dada tertembus patahan pedang mereka sendiri menyusul jeritan kematian.
Sedangkan yang selamat hanya memegang pedang yang tinggal setengah saja. Dengan gerakan manis, Rangga mendarat di tanah. Pedangnya dimasukkan ke dalam sarungnya di punggung. Rangga tidak akan menggunakan senjata jika lawan tidak pula menggunakannya.
"Bola Rantai Hitam! teriak Bayangan Hitam tiba-tiba.
Dengan serentak sisa anak buahnya mengeluarkan sebuah bola besi berwarna hitam yang bergigi runcing di sekelilingnya dan dihubungkan dengan rantai halus berwarna hitam pula. Keenam orang itu segera membentuk lingkaran. Tangan mereka memutar-mutar rantai panjang dengan bola-bola bergigi di ujungnya. Suaranya menderu-deru bagai angin topan.
Rangga pun mengerahkan gabungan dari tiga rangkaian jurus Rajawali Sakti. Dia masih menganggap belum perlu merubah jurus, dan hanya menggabung-gabungkan saja dengan berbagai kombinasi.
"Serang...!" teriak Bayangan Hitam memberi komando. Seketika bola-bola itu menderu-deru silih berganti, dilontarkan oleh keenam orang itu.
Rangga membiarkan tubuhnya terbelit rantai-rantai dengan bola bergigi itu. Dengan satu teriakan melengking, dia melesat ke udara bagai seekor rajawali. Tiba-tiba tubuh mereka terangkat ikut meluncur bersama Rangga yang semakin tinggi.
"Lepaskan!" teriak Bayangan Hitam. Keenam orang itu serentak melepaskan rantai. Sebelum menjejakkan kakinya di tanah, mereka bersalto di udara. Rangga yang masih berada di atas, dengan gerakan cepat mengumpulkan dan melemparkan rantai-rantai itu kepada pemiliknya.
"Aaaakh...!" seorang dari mereka menjerit keras.
Kepalanya hancur terhantam bola hitam miliknya sendiri. Lima orang lainnya masih bisa menyelamatkan diri. Bola-bola besi lainnya menghantam tanah lalu melesak ke dalam. Rantai-rantai hanya terlihat beberapa jengkal saja. Sungguh hebat tenaga dalam Rangga.
"Bedebah!" geram Bayangan Hitam.
Rangga turun dengan manis. Kali ini dia tidak ingin lagi membiarkan lawan mengatur siasat. Dia segera menyerang Bayangan Hitam dengan gabungan tiga rangkaian jurus Rajawali Sakti. Tentu Bayangan Hitam jadi kelabakan. Apalagi sebelah tangannya tidak bisa digerakkan. Kelima anak buahnya ditambah empat anak buah kelompok Bidadari Sungai Ular, langsung membantunya. Rangga kini dikeroyok sepuluh orang. Tapi hanya empat orang saja yang menggunakan senjata.
"Lepas!" sentak Rangga. Tiba-tiba saja empat pedang terlempar ke udara. Dan tanpa terduga sama sekali, kaki Rangga melayang ke arah kepala.
Kraaak! "Aaaa..r!" Gerakan Rangga dengan jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa begitu cepat sehingga keempat orang itu tidak bisa melindungi kepalanya. Mereka segera menggelepar dengan kepala pecah. Dengan cepat Rangga segera mengganti ketiga jurusnya sehingga lawan kebingungan. Apalagi kini mereka tanpa senjata. Bayangan Hitam pun kini hanya bisa bertahan tanpa mampu memberikan serangan balasan. Dari mulutnya terus keluar umpatan dan cacian yang tidak berhenti.
"Bibi...!"
Bayangan Hitam menoleh. Dilihatnya Saka Lintang berlari cepat dan segera melompat sambil menghunus pedang. Seketika Saka Lintang terlibat dalam pertempuran pula. Dia menggeram dengan gigi gemerutuk melihat semua anak buahnya tewas. Bahkan lima orang anggota Bayangan Hitam telah jadi mayat.
"Mundur...!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar. Begitu hebatnya suara bentakan tadi, sehingga pertempuran sekejap saja berhenti, Siapakah yang membentak itu?
Seberkas sinar merah meluncur deras menyambar Rangga. Dengan sigap Pendekar Rajawali Sakti itu melompat menghindari sinar merah yang datang tiba-tiba itu. Belum sempat menjejakkan kakinya ke tanah, Rangga telah disibukkan dengan sinar merah yang datang lagi. Terpaksa dia kini mengerahkan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega.
Mata Rangga yang tajam cepat mengetahui dari mana datangnya sinar merah itu. Rangga cepat mengibaskan tangannya, dengan seketika dia telah menggenggam pedangnya. Kini pedang itu terarah pada sebuah pohon besar. Dari pedang pun meluncur sinar biru bergulung-gulung.
Blar...!
Pohon besar itu hancur berkeping-keping tersambar sinar biru. Rangga kembali memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Tepat saat kakinya menginjak tanah, muncul seorang kakek tua berjubah merah. Kakek itu mencelat bersamaan dengan hancurnya pohon itu.
__ADS_1
"Paman Nambi...!" seru Saka Lintang.
Seorang tokoh tua sakti bernama Nambi muncul di tengah-tengah arena pertarungan. Dia dikenal dalam rimba persilatan dengan nama Setan Jubah Merah. Tokoh ini beraliran hitam dan dulunya merupakan suami Bayangan Hitam. Sampai sekarang pun mereka masih suami istri. Hanya kemunculan mereka saja yang tidak selalu bersamaan. Banyak tokoh menduga kalau mereka tengah bentrok. Hanya saja watak mereka yang terbiasa malang melintang di rimba persilatan, sehingga mereka tidak hiraukan status suami istri. Mereka sibuk mendirikan partai sendiri-sendiri.
"Paman..., untung paman cepat datang," Saka Lintang gembira.
"Hm, apa yang terjadi, Lintang?" tanya Nambi sambil mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan.
"Perkumpulanku dihancurkan, paman," jawab Saka Lintang. Ada nada kesedihan daiam suaranya.
"Dan kau tidak mampu mengatasinya?"
Saka Lintang hanya tertunduk saja.
"Sudah kuperingatkan, jangan cari perkara dengan pihak kerajaan. Masih saja membandel!" tegur paman angkat Saka Lintang.
Maksud Saka Lintang hanya ingin merubah Intan Kemuning menjadi seorang pendekar wanita. Tetapi tak diduga sama sekali akibatnya jadi demikian. Seluruh anak buahnya mati. Dia sadar, ini adalah kesalahannya. Saka Lintang melirik Intan Kemuning yang masih berdiri di depan pintu. Mungkin kalau Pengemis Sakti Tongkat Merah tidak ikut campur, Saka Lintang pasti mampu mengalahkan Patih Giling Wesi dan para prajuritnya. Tapi sekarang? Apalagi Pendekar Rajawali Sakti ikut membantu.
Saka Lintang memandang Rangga. Seketika hatinya bergetar. Benih-benih cinta kembali muncul. Namun bibit dendam dan kebencian juga bertumbuhan. Untuk kedua kalinya dia harus berhadapan dengan pemuda yang telah merobek-robek hatinya ini. (Untuk lebih jelas, silahkan baca Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Lembah Tengkorak!)
"Siapa dia?" tanya Nambi atau Setan Jubah Merah.
"Pendekar Rajawali Sakti," jawab Saka Lintang.
Nambi memandang pada istrinya, Bayangan Hitam. Matanya agak menyipit melihat ke arah pundak perempuan tua itu. Pundak itu melesak ke dalam. Patah! Mendadak hatinya panas.
"Anak muda, hadapi aku!" bentak Setan Jubah Merah.
"Hati-hati, Kakang!" Bayangan Hitam memperingatkan.
Setan Jubah Merah melompat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Pertempuran sengit tidak dapat dihindari lagi. Setan Jubah Merah segera mengerahkan jurus-jurus andalannya. Jurus tangan kosongnya sangat dahsyat. Setiap pukulannya mengandung hawa racun yang mematikan.
Tapi semua itu tidak berpengaruh terhadap Rangga. Rangga kebal terhadap segala jenis racun. Kini Rangga menghadapi lawan dengan jurus Cakar Rajawali. Dengan jurus ini, Rangga tidak bermaksud memandang enteng lawan. Dia hanya mengukur tingkat kepandaian lawan. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak mengeluarkan jurus-jurus berbahaya sebelum dia mengetahui tingkat kepandaian lawan.
"Bocah setan! Jangan salahkan aku jika sampai menurunkan tangan kejam!" geram Nambi sengit melihat Rangga hanya berkelit tanpa membalas serangan.
"Kalau itu keinginanmu, baiklah! Maafkan, Kakek!" sahut Rangga dengan hormat.
Nambi terdongak mendengar kata-kata Rangga. Baru kali ini didapatkan lawan yang mau menghormat pada dirinya. Pemuda itu tidak congkak. Bahkan selalu merendah.
"Serang aku!" teriak Nambi.
"Bersiaplah, Kek!" Rangga menyalurkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangannya.
Seketika jari-jari tangannya meregang kaku. Lalu digerakkan tangannya yang makin lama makin cepat. Nambi sedikit terperangah. Dengan cepat dia mengimbanginya. pertarungan pun menjadi sengit.
"Maaf!" seru Rangga.
"Akh!" Setan Jubah Merah memekik tertahan. Dia terhuyung satu tombak ke belakang. Jari-jari tangan Rangga berhasil menusuk pangkal lengan kiri Nambi.
Darah mengucur deras dari pangkal lengan yang bolong dua jari itu. Nambi mengemerutukkan gerahamnya. Hati kecilnya berkata kalau dia merasa salut terhadap anak muda itu. Dia sempat mendengar permintaan maaf Rangga sebelum melancarkan serangan. Hasilnya sungguh tak terduga sekali. Lengan Nambi bolong oleh tusukan jari-jari Rangga.
"Kakang...!" jerit Bayangan Hitam cemas melihat darah mengucur dari lengan suaminya.
Bayangan Hitam langsung melompat menyerang Rangga. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melayani serangan beruntun Bayangan Hitam. Saka Lintang pun tidak ingin ketinggalan. Mereka segera mengeroyok Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti segera menggabungkan jurus Cakar Rajawali dengan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega. Sedangkan Saka Lintang mengerahkan jurus Pukulan Geledeknya. Setan Jubah Merah yang telah berhasil menghentikan darah dengan totokannya, segera ikut mengeroyok Rangga.
Kini Rangga berhadapan langsung dengan tiga orang tokoh yang memiliki kepandaian yang luar biasa. Posisi Rangga kian terdesak oleh serangan yang beruntun. Rangga mengerahkan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega lalu disusul dengan jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Sasarannya kini ke arah Bayangan Hitam. Begitu cepat perubahan jurus yang dilakukan Rangga, sehingga Bayangan Hitam tidak dapat menguasai diri lagi.
"Aaaakh...!"
Bayangan Hitam menjerit kesakitan. Kaki Rangga telak bersarang di kepala Bayangan Hitam. Dia menggelepar-gelepar dengan kepala hancur, kemudian diam tak bergerak lagi.
"Bibi...!" Saka Lintang memekik kaget.
Setan Jubah Merah menggeram menahan marah. "Kubunuh kau, bocah setan!" teriak Nambi.
Secepat kilat Setan Jubah Merah menyerang dengan jurus-jurus mautnya. Sementara Saka Lintang kembali menyerang dengan jurus Ular Berbisa Menyebar Racun. Kemarahan dan dendamnya sudah sampai ubun-ubun. Dia tidak lagi memandang perasaan cintanya pada Rangga.
Sementara pertarungan sengit berlangsung, lima orang anggota Bayangan Hitam yang tersisa menyeret gurunya ke tempat yang lebih baik. Tetapi salah seorang dari mereka, kebetulan melihat Intan Kemuning yang belum beranjak dari pintu pondok. Melihat kecantikan Intan Kemuning, seketika nafsu birahinya bangkit.
"Ah!" Intan Kemuning kaget ketika tiba-tiba seseorang telah ada di depannya. Mata orang itu liar merayapi wajah gadis cantik di depannya. Jakunnya turun naik menahan gejolak birahi yang bergelora dalam dada.
"Mau apa kau?" Intan Kemuning bergidik.
"Kau yang menjadi gara-gara, sekarang aku minta bayaran darimu," gertak laki-laki itu.
"Ih!" Intan Kemuning menepis tangan laki-laki yang terulur hendak menjamah.
"He he he..., ternyata kau punya isi juga," orang itu menyeringai.
Serunya tertahan. "Ah, jangan!"
__ADS_1
********************