
Pertarungan antara Rangga melawan Saka Lintang dan Setan Jubah Merah kian berlangsung sengit di bukit Guntur. Rangga masih tetap menggunakan empat jurus gabungan dari jurus Rajawali Sakti. Kadang dia menggabungkan dua atau tiga jurus. Bahkan kalau mungkin menggabungkan keempatnya sekaligus. Dalam gerakan-gerakan membingungkan itu, Rangga selalu mengganti-ganti jurus. Dengan demikian lawannya benar-benar kerepotan. Mereka bingung menghadapi gerakan-gerakan yang sulit diduga arah dan tujuannya.
"Yeaaah...!"
Tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Seketika itu pula, tangannya mengembang dengan cepat Tubuhnya kini melayang. Kedua tangannya bergerak-gerak cepat mengibas mencari sasaran.
"Awas, Lintang!" teriak Setan Jubah Merah tiba-tiba.
"Hait!" Saka Lintang melentingkan tubuhnya ke belakang sejauh dua tombak. Kibasan Rangga berhasil dielakkan, namun bajunya harus direlakan terjambret.
"Kurang ajar" geram Saka Lintang. Mukanya merah menahan malu.
Baju di bagian dada yang memang sudah sobek, kian lebar saja terbuka. Bagian dada yang membukit terbungkus kulit putih mulus itu tidak lepas dari tatapan mata Patih Giling Wesi. Mata Rangga pun sempat menatap ke bagian indah itu. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. Tetapi dengan cepat dipusatkan kembali perhatiannya pada Setan Jubah Merah.
Saka Lintang sedapat mungkin menutupi bagian tubuhnya yang terbuka itu. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah bagai kepiting rebus. Lalu dengan cepat dia kembali menerjang sambil menghunus pedangnya. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedangnya. Kali ini Saka Lintang menggabungkan antara jurus-jurus ilmu pedang dengan jurus Ular Berbisa Menyebar Racun.
Menyadari Saka Lintang telah menebar racun, Setan Jubah Merah menahan napas. Tetapi Rangga malah kelihatan tenang-tenang saja. Bahkan bibirnya menyungging senyum. Dia tahu kalau hawa racun telah menyebar di sekelilingnya. Tetapi racun jenis apa pun tak ada pengaruhnya bagi Rangga.
"Kena!" teriak Saka Lintang keras. Pukulan tangan kiri Saka Lintang tepat menghantam dada Rangga.
Gadis itu tidak tahu kalau sebenamya Rangga sengaja membiarkan tangan beracun itu masuk ke dalam bagian dada yang lowong. Wajah Saka Lintang seketika berubah setelah menyadari tangannya tidak dapat ditarik lagi dari tubuh Rangga. Sekuat tenaga gadis itu menarik tangannya. Namun semakin ditarik, semakin kuat telapak tangannya menempel. Saka Lintang jadi geram. Ditebaskan pedang yang ada di tangan kanannya ke leher Rangga, namun...
Trak!
Rangga hanya menyentil pedang itu dengan jurus Cakar Rajawali. Seketika dari ujung pedang sampai pangkal lengan Saka Lintang bergetar. Belum sempat gadis itu menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba tangan Rangga bergerak menyambar gagang pedang dalam genggaman Saka Lintang.
"Ah...!" pekik Saka Lintang tertahan. Saka Lintang semakin panik. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam dan penyaluran racun ke telapak tangannya, gadis itu menggedor dada Rangga sekali lagi dengan tangan kanannya. Di luar dugaan, kedua telapak tangan Saka Lintang kini menempel erat di dada Rangga.
"Setan!" dengus Saka Lintang geram. Kalau Rangga mau, sebenarnya dia bisa saja menebaskan pedang yang terebut tadi. Tetapi hal itu tidak dilakukannya. Dia malah membuang pedang itu jauh-jauh. Matanya menatap Setan Jubah Merah yang kebingungan. Rangga menggunakan gadis itu menjadi tameng, sehingga Setan Jubah Merah tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa leluasa melancarkan pukulan mautnya.
"Pengecut! Lepaskan gadis itu!" bentak Setan Jubah Merah.
"Oh, tentu! Ini, terimalah!"
Tiba-tiba saja tubuh Saka Lintang terpental keras. Setan Jubah Merah terkejut. Dengan cepat dia melompat dan menangkap tubuh gadis itu yang melayang deras. Jika saja gerakan Setan Jubah Merah tidak cepat, tubuh Saka Lintang dipastikan hancur menubruk batu besar.
"Akh!" tiba-tiba Setan Jubah Merah memekik keras. Cepat-cepat dilepaskan tangannya. Dia kaget setengah mati karena tubuh Saka Lintang masih menyebarkan hawa racun.
Saka Lintang pun tak urung kaget pula. Cepat-cepat dihilangkan hawa racun dari tubuhnya. Dihampirinya Setan Jubah Merah yang tengah meringis memegangi tangannya sendiri.
"Paman... kau tidak apa-apa?" tanya Saka Lintang cemas.
"Uh! Racunmu," kata Setan Jubah Merah sambil meringis.
Saka Lintang merogoh saku jubahnya, dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah. Diberikannya pil itu kepada Setan Jubah Merah. Tanpa banyak tanya lagi, laki-laki tua itu menelan pil yang diberikan Saka Lintang. Seketika tubuhnya seperti terbakar.
"Semadilah, Paman," ujar Saka Lintang.
Setan Jubah Merah pun bersila. Kedua matanya dipejamkan. Perlahan-lahan dari ujung kepalanya mengepul asap tipis. Seluruh tubuh Setan Jubah Merah bergetar. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
"Hoek!"
Cairan kental berwarna kehitaman dimuntahkan oleh Setan Jubah Merah. Sedikit demi sedikit, seluruh tubuh laki-laki tua itu mulai tenang. Setan Jubah Merah membuka matanya ketika getaran pada tubuhnya berhenti sama sekali, dibarengi oleh hilangnya asap tipis yang mengepul di kepala laki-laki tua itu.
Kini Pendekar Rajawali Sakti tengah duduk tenang di atas batu besar. Dia memperhatikan saja kedua lawannya yang tengah sibuk itu. Mulutnya malah bersiul-siul dengan irama tak menentu. Sesekali matanya melirik Intan Kemuning yang berdiri di samping ayahnya. Setiap kali Rangga melirik ke arahnya, Intan Kemuning merasakan jantungnya berdetak keras.
Tanpa sadar Intan Kemuning melontarkan senyuman manis pada pendekar muda itu. Tak diduga, Rangga membalasnya dengan senyum manis pula. Kalau saja saat ini tidak ada ayahnya, ingin sekali Intan Kemuning menghambur dan memeluk pemuda itu. Tapi semua perasaan dan keinginan itu ditekan dalam-dalam sampai ke dasar hatinya.
Sementara, dua tokoh tingkat tinggi, Saka Lintang dan Setan Jubah Merah, telah kembali bersiap-siap menghadapi lawannya yang tengah duduk tenang itu. Rangga seperti tidak peduli dengan lawan yang sudah bersiap-siap menyerang kembali.
"Hiya!" "Yeah!"
Dua teriakan keras saling susul, kemudian disambung dengan melentingnya dua tubuh ke arah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak tahu sama sekali kalau dua tokoh itu meluruk ke arahnya. Rangga masih tenang. Sikap Rangga yang masa bodoh itu membuat Intan Kemuning cemas. Dia gelisah karena dua tokoh sakti begitu cepat menyerang.
"Pendekar Rajawali Sakti, awas!"
Intan Kemuning tidak dapat lagi mengendalikan diri. Peringatan gadis itu tepat bersamaan dengan dua tubuh yang meluruk menerjang Rangga. Serangan yang dibarengi pengerahan tenaga dalam, begitu cepat datangnya. Akibatnya memang dahsyat. Batu tempat Rangga duduk, jadi berkeping keping disertai ledakan keras terkena pukulan itu.
"Akh!" Intan Kemuning memekik tertahan. Jelas kalau Rangga tadi tidak sedikit pun menghindar. Dia seperti membiarkan saja pukulan itu menghantam tubuhnya. Batu yang sebesar kerbau itu saja hancur, bagaimana dengan Rangga? Debu masih mengepal tebal. Intan Kemuning benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Dia tidak melihat pendekar itu. Apakah dia hancur bersama batu itu? Batin Intan Kemuning bertanya-tanya penuh kecemasan.
Berangsur-angsur asap tebal yang mengepul sirna disapu angin. Ketika debu itu hilang sama sekali, tampak Rangga masih duduk di atas tumpukan batu-batu yang hancur. Sikap duduknya tidak berubah sedikit pun. Kedua tokoh sakti Itu terperanjat melihat hasil gempurannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap lawannya.
"Oh..." Intan Kemuning mendesah lega melihat pendekar tampan itu masih hidup. Sikap gadis itu tidak lepas dari pengamatan Patih Giling Wesi. Dia hanya tersenyum-senyum saja. Rupanya dia mengerti apa yang telah melanda putrinya ini. Patih Giling Wesi kembali perhatiannya tercurah pada ketiga tokoh yang kini telah bertarung kembali.
Tanpa disadari, sepasang mata tengah mengawasi pertarungan itu dari balik pohon. Jelas pemilik sepasang mata itu bukan orang sembarangan. Kehadirannya saja tidak diketahui sama sekali. Sementara itu Rangga sudah kembali melayani dua lawannya yang kian bernafsu untuk mengakhiri pertarungan alot dan panjang ini.
Kini Saka Lintang hanya sesekali saja melontarkan pukulan beracunnya. Dia harus mempertimbangkan kehadiran Setan Jubah Merah. Dia tidak ingin lagi berbuat konyol yang hampir merenggut nyawa paman angkatnya.
"Maaf, Kakek!" seru Rangga tiba-tiba.
Seketika Rangga merubah jurusnya. Dengan jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali tangan Rangga berhasil menghantam telak dada Setan Jubah Merah.
"Aaaa...!" Setan Jubah Merah meraung keras. Tubuhnya terlontar ke belakang sejauh tiga tombak.
"Paman...!" pekik Saka Lintang. Setan Jubah Merah meregang nyawa sebentar, lalu diam tak bergerak sama sekali. Seluruh dadanya seperti hangus terbakar. Dia terkena Pukulan Maut Paruh Rajawali yang tak terduga dilepaskan Rangga.
__ADS_1
"Kejam! Setan! Kubunuh kau!" pekik Saka Lintang marah.
Gadis itu segera menyerang Rangga dengan mengeluarkan jurus andalan terakhirnya. Jurus Ular Berbisa Menyebar Racun yang dipadu dengan jurus Tarian Bidadari. Dalam sekejap sekitar tempat pertarungan telah terselimuti oleh hawa racun yang mematikan. Rangga kembali merubah jurusnya. Kali ini digunakannya jurus Sayap Rajawali Membelah Mega.
Sekejap saja tubuhnya telah melambung di udara. Kedua tangannya merentang mengepak bagai sayap rajawali. Secepat kilat, dirubahnya jurus itu menjadi Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Tubuhnya meluruk turun deras. Kakinya bergerak mengarah kepala lawan. Begitu cepatnya jurus itu sehingga Saka Lintang tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak.
"Aaaa...!" Saka Lintang memekik keras. Gadis itu ambruk dengan kepala hancur berantakan. Darah seketika membasahi tanah.
Rangga kembali mendarat Matanya memperhatikan tubuh Saka Lintang yang meregang nyawa, lalu diam tak bergerak lagi. Sungguh tragis kematian gadis ini. Dia mati di tangan laki-laki yang dicintainya. Mati bersama rasa cinta, benci dan dendam.
"He he he." tiba-tiba terdengar suara terkekeh.
Rangga menoleh ke arah suara itu. Dari balik pohon muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping. Ditangannya tergenggam tongkat berwarna merah. Siapa lagi kalau bukan Pengemis Sakti Tongkat Merah.
"Menakjubkan, hebat... hebat..." Aki Lungkur atau Pengemis Sakti Tongkat Merah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, kalau tidak salah, kakek yang berada di kedai minum tempo hari," kata Rangga dengan tutur kata yang halus.
"Penglihatanmu tajam, anak muda. Aku pengemis tua yang hina," sahut Aki Lungkur.
Rangga mendekat Aki Lungkur terkekeh. "Bagaimana kalau kita makan bersama lagi di bawah pohon sambil menikmati udara segar," kata Rangga teringat ketika dia memberikan sebungkus bekal makanan, lalu mereka makan bersama di pinggir tegalan.
"Ah..., tawaran yang menggairahkan. Mari!!" Ketika mereka akan melangkah, tiba-tiba terdengar suara Patih Giling Wesi mencegah.
"Tunggu!"
Mereka menoleh dan berbalik bersamaan. "Uts! Hampir lupa kalau di sini masih ada orang lain," kata Aki Lungkur.
Patih Giling Wesi mendekat diikuti Intan Kemuning. Gadis itu selalu menundukkan kepala terus, tetapi matanya melirik pada Rangga. Hatinya makin berdebar-debar kalau kebetulan matanya beradu pandang. Kalau sudah demikian, cepat-cepat matanya dialihkan mencari pandangan lain.
"Kisanak, kalau boleh tahu, siapa namamu dan dari mana kau berasal?" tanya Patih Giling Wesi.
"Hamba hanya seorang pengembara hina Gusti Patih. Nama hamba Rangga," jawab Rangga merendah.
"Rangga...," Patih Giling Wesi menggumamkan nama itu beberapa kali. Rangga memperhatikan dengan pandangan bertanya-tanya.
"Namamu mirip dengan seorang putra Adipati yang hilang dua puluh tahun lalu," Patih Giling Wesi setengah bergumam.
Rangga terkejut juga mendengarnya. Cepat-cepat diturupi rasa kaget itu dengan senyum. Memang benar gumaman patih ini. Rangga jadi bertanya-tanya, apakah Patih Giling Wesi kenal dengan ayahnya?
"Nama bisa saja sama, Gusti Patih," kata Rangga buru-buru. Dia tidak ingin masa lalunya terungkap lagi. Biarlah kenangan pahit itu dia sendiri yang tahu.
"Nama memang bisa saja sama. Tapi..."
Patih Giling Wesi mengamati wajah Rangga dengan teliti sekali. Patih Giling Wesi tengah berusaha mengingat-ingat. Sepertinya dia pernah mengenal wajah itu. Tapi di mana? Kapan pernah bertemu? Ingatannya terus berputar. Tiba-tiba dia tersentak Benar! Tidak salah lagi. Wajahnya sangat mirip dengan Adipati Karang Setra. Dua puluh tahun yang lalu terjadi musibah pada rombongan Sang Adipati yang hendak menuju ke kota Kerajaan Ayahandanya.
********************
Beberapa saat suasana di bukit Guntur hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara, Semua seperti menunggu pembicaraan Patih Giling Wesi. Patih itu sendiri sampai saat ini masih berusaha memecahkan teka-teki itu. Dia belum dapat memastikan perihal anak muda ini. Ah! Siapa pun dia, yang jelas jasanya sangat besar. Kalau tidak ada pendekar muda ini, entah bagaimana nasib putrinya. Batin Patih Giling Wesi bicara sendiri.
"Aku sangat berhutang budi padamu, Kisanak. Jika tidak mengganggu perjalananmu, sudi kau mampir sebentar di Kepatihan," Patih Giling Wesi mengundang.
Rangga menoleh pada Aki Lungkur yang berdiri di sampingnya. Pengemis tua itu mengangguk-angguk kepalanya. Tentu dia setuju karena antara dia dan patih itu telah terjalin suatu persahabatan. Rangga belum menjawab. Matanya beralih memandang Intan Kemuning. Seketika dua pasang mata saling berpandangan. Intan Kemuning jadi gelagapan. Cepat dialihkan pandangannya ke tempat lain. Tapi bibirnya sempat memberikan senyum manis.
"Baiklah," sahut Rangga mendesah.
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!" ajak Patih Giling Wesi.
Keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Mereka menuruni bukit Guntur, meninggalkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan siap jadi santapan anjing-anjing hutan. Di kaki bukit, telah menunggu delapan orang prajurit Kepatihan. Mereka segera menghampiri patih itu. Masing-masing menunggang kuda dan menuntun seekor kuda pula. Rapaksa segera melompat dari kudanya, diikuti oleh tujuh orang prajurit-prajurit lain. Patih Giling Wesi mengamati sisa prajurit-prajuritnya. Sungguh besar jasa mereka. Nyawa mereka korbankan hanya untuk menyelamatkan seorang putri patih.
"Ampun, Gusti Patih. Hamba datang terlambat Hamba mencari kuda-kuda dulu. Dan kini hamba hanya dapat lima belas ekor," kata Rapaksa melapor.
"Huh, sudahlah. Mari kita kembali ke Kepatihan," sahut Patih Giling Wesi mendesah berat.
Perjalanan kini dilanjutkan dengan menunggang kuda. Semula Patih Giling Wesi khawatir juga terhadap Intan Kemuning. Setahunya Intan Kemuning tidah pernah belajar naik kuda. Patih itu tidak tahu kalau selama jadi tawanan perampok, Intan Kemuning telah diajari naik kuda oleh Saka Lintang. Akhirnya pikiran patih itu tenang setelah melihat putrinya sangat lihai menunggang kuda. Rombongan berkuda itu terus meninggalkan bukit Guntur yang terlihat hijau.
Mereka melewati jalur pintas, tidak menyusuri tepian sungai Ular. Hutan dirambah, padang diarungi, dan kini mereka telah dekat dengan sebuah desa yang dekat dengan bukit Guntur. Rombongan itu terus melewati desa itu. Patih Giling Wesi selalu berada di samping Intan Kemuning. Hatinya masih bertanya-tanya tentang kelihaian putrinya menunggang kuda.
********************
Matahari telah condong ke Barat ketika rombongan itu sampai di pintu Gerbang Kepatihan. Penjaga pintu segera membuka pintu ketika melihat Patih Giling Wesi yang datang bersama putrinya. Mereka pun segera masuk ke dalam benteng Kepatihan, dan berhenti tepat di depan pendopo. Setelah melompat turun dari kudanya, Patih Giling Wesi membantu Intan Kemuning yang sedikit kesulitan turun dari kudanya.
Rangga memandangi bangunan indah dan megah di depannya. Seketika dia teringat sewaktu masih tinggal di Kadipaten. Kediamannya juga tak kalah indahnya dengan bangunan itu.
"Mari silahkan masuk. Anda berdua adalah tamu kehormatanku," kata Patih Giling Wesi.
Sementara Intan Kemuning telah berlari masuk ke dalam keputrenan. Rasa rindu yang menggebu ingin segera bertemu ibundanya, membuat dia lupa sejenak terhadap Rangga. Patih Giling Wesi membawa dua tamunya masuk ke bangsal utama Pendopo itu. Mereka kemudian duduk melingkar menghadapi meja. Beberapa orang pelayan datang menyediakan suguhan.
"Silahkan," Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya untuk minum.
"Terima kasih," ucap Rangga sambil mengangkat gelas yang sudah terisi arak manis.
Rangga minum sedikit dengan sikap Sopan. Beda dengan Aki Lungkur. Dia menenggak habis arak wangi mahal itu. Di mana lagi dia dapat minum arak selezat ini kalau tidak mendapat undangan dari Patih Giling Wesi?
Patih Giling Wesi selalu memperhatikan sikap dan tutur kata Rangga. Dari situ dia merasa sedang berhadapan dengan seorang pemuda bangsawan. Sikap Rangga memang tidak seperti pendekar-pendekar lainnya. Biasanya tokoh-tokoh rimba persilatan selalu tidak peduli dengan tata krama.
__ADS_1
"Aku senang sekali jika kalian sudi menginap di sini barang satu atau dua malam," kata Patih Giling Wesi lagi.
"Oh, tentu. Tentu saja aku tidak keberatan!" Aki Lungkur cepat menerima sebelum Rangga membuka suara.
Sebenarnya Rangga ingin menolak. Tetapi karena Aki Lungkur sudah menerima, dia hanya bisa angkat bahu saja. Memang tidak ada salahnya menginap barang sehari setelah sepanjang hari menguras tenaga menyabung nyawa. Patih Giling Wesi menepuk tangannya dua kali. Dua orang punggawa datang mendekat. Mereka memberi hormat.
"Antarkan tamu-tamuku ke tempat istirahatnya," perintah Patih Giling Wesi. Kedua punggawa itu kembali memberi hormat.
"Silahkan," Patih Giling Wesi menyilahkan tamunya mengikuti para punggawa yang mengantarkan ke peristirahatan.
Aki Lungkur bangkit dan melangkah pergi ke tempat istirahatnya. Rangga masih duduk di kursinya. Setelah mendapat anggukan dari Patih Giling Wesi, dia pun bangkit melangkah mengikuti punggawa. Rangga memandangi setiap ruangan yang dilewatinya. Di sebuah kamar yang indah dan luas, punggawa itu berhenti. Dia menyilahkan Rangga masuk, dan segera pergi setelah tugasnya selesai.
Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Indah sekali ruangan ini. Saat matanya menatap ke arah taman, dilihatnya Intan Kemuning tengah duduk di bangku taman sendirian. Diamatinya sebentar, dan memang kelihatannya Intan Kemuning juga tengah memandang ke arahnya. Entah melihat atau tidak, yang jelas pandangan itu tertuju pada Rangga. Rangga menoleh ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Bergegas dia membukanya. Aki Lungkur segera menerobos masuk dan menutup kembali. Rangga mengernyitkan keningnya melihat pengemis tua itu seperti terburu-buru.
"Ada apa, Ki?" tanya Rangga.
"Gawat!" sahut Aki Lungkur.
"Apanya yang gawat?" tanya Rangga tidak mengerti.
"Patih Giling Wesi curiga padamu."
Rangga masih belum mengerti. Dia hanya menatap laki-laki tua itu tak berkedip.
"Patih Giling Wesi memerintahkan beberapa punggawa untuk menyelidiki asal-usulmu. Dia menduga kau anak Adipati yang hilang dua puluh tahun yang lalu."
"Dia menduga begitu?" Rangga terkejut.
"Benar! Aku mendengar sendiri. Makanya aku segera ke sini menemuimu."
"Mengapa Aki memberitahuku?"
"Karena kau baik. Kau seorang pendekar yang banyak dibutuhkan oleh kaum lemah. Aku tidak peduli siapa dirimu. Yang penting aku sudah menganggapmu sahabat."
Rangga berusaha bersikap tenang, meskipun dadanya bergemuruh. Rangga tidak ingin menjadi seorang pendekar tanpa masa lalu. Masa lalu yang tidak perlu diketahui orang lain.
"Terima kasih, Aki," ucap Rangga.
"Hati-hatilah. Aku membaca gelagat lain di balik niat luhur Patih Giling Wesi."
"Jangan berprasangka buruk. Bukankah kalian bersahabat?"
"Aku tidak berprasangka buruk. Niatnya yang tersembunyi memang baik. Tapi aku yakin kau tidak akan menerimanya."
Rangga hanya tersenyum saja. Dia meminta Aki Lungkur untuk pergi beristirahat. Laki-laki pengemis tua itu kembali ke luar setelah berpesan macam-macam. Rangga hanya mengangguk dan mengiyakan saja. Dia tidak mau bertele-tele melayani segala macam prasangka. Memang hatinya telah menduga, hal apa yang akan dikatakan Aki Lungkur tadi.
Sepeninggal Aku Lungkur, Rangga kembali memandang ke arah taman. Intan Kemuning masih duduk di sana memandang ke arahnya. Gadis itu memang cantik. Tak ada orang di seluruh Kepatihan yang tidak tertarik pada gadis ini. Rangga sendiri sebenamya juga tertarik. Rangga melangkahkan kakinya ke luar kamar. Matanya tajam mengawasi setiap tempat yang dilalui. Setiap sudut, dua orang prajurit pasti ada di situ. Ketat sekali penjagaan di Kepatihan ini.
********************
Intan Kemuning memandang Rangga yang melangkah menghampirinya. Dia tidak beranjak dari duduknya. Sikapnya tetap anggun meskipun selama beberapa hari ditempa dengan latihan-latihan keras oleh Saka Lintang. Jiwa kebangsawanannya tetap tidak luntur.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Rangga.
"Oh! Boleh, boleh," sahut Intan Kemuning tergagap.
"Indah sekali taman ini," desah Rangga setelah duduk di samping gadis itu.
"Ya," sahut Intan Kemuning.
"Tapi ada yang lebih indah lagi untuk dipandang."
"Apa?"
"Wajahmu."
Seketika wajah Intan Kemuning menyemburat merah dadu. Jantungnya jadi berdetak tidak beraturan. Pujian Rangga mengena di hatinya. Rasanya dia ingin seribu kali mendengamya.
"Sepantasnya kau mendapatkan seorang pangeran yang gagah dan tampan," kata Rangga.
"Adakah pangeran yang cocok untukku?" tanya Intan Kemuning ingin menegaskan.
"Satu saat nanti, pasti ada seorang pangeran tampan dan gagah menghampirimu."
"Kapan?"
"Satu saat nanti."
"Siapa pangeran itu?"
Rangga tidak menjawab. Dia tersenyum saja. Beberapa saat mereka terdiam saling tatap. Pelan-pelan Intan Kemuning menundukkan kepalanya.
"Semoga aku yang menjadi pangeran itu, Intan," bisik Rangga dekat sekali dengan wajah Intan Kemuning.
"Oh...!" Intan Kemuning tidak mampu berkata-kata lagi. Hatinya berbunga-bunga. Kedua lengannya berkembang masuk ke dalam pelukan Rangga. Dan mereka memperketat rangkulannya...
__ADS_1
TAMAT
SELANJUTNYA SEPASANG WALET MERAH