
Rangga berdiri mematung di tepi sungai Banyu Biru, tempat saat dia meninggalkan Pandan Wangi. Sementara hari sudah menjelang senja, matahari hampir tenggelam di ufuk Barat. Sinarnya yang kemerahan membias indah di permukaan sungai, gemerlap bagai bertaburkan mutiara.
Pendekar Rajawali Sakti melangkah menghampiri pohon rindang. Di bawah pohon inilah Pandan Wangi ditinggalkannya sendirian tadi. Mata Pendekar Rajawali Sakti memandang ke sekeliling. Hatinya mendadak cemas karena Pandan Wangi tidak ada. Rasa sesal mulai membelit relung hatinya, karena telah meninggalkan Pandan Wangi terlalu lama seorang diri di tempat sunyi seperti ini.
"Pandan...!" teriak Rangga keras.
Suara Rangga menggema di antara pohon dan batu-batuan, terbawa angin senja yang tertiup Iembut. Heberapa kali Pendekar Rajawali Sakti itu memanggil nama Pandan Wangi, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Hanya desah angin dan gemericik air sungai yang menyahuti panggilannya.
"Kemana dia, ya?" Rangga bertanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba telinga Pendekar Rajawali Sakti yang tajam, mendengar suara gemerisik dari balik semak-semak di depannya. Seketika pandangannya tertuju ke arah semak-semak itu. Pelahan kakinya terayun mendekati tempat asal suara tadi. Rangga menyibakkan semak-semak itu. Hatinya jadi kecewa, karena yang didapatinya hanya dua ekor kelinci yang langsung kabur ketakutan. Rangga mendengus, dan mengedarkan pandangannya kembali ke sekelilingnya.
"Pandan...!" panggil Rangga sekali lagi.
Siiing...!
Tiba-tiba terdengar suara mendesing. Rangga melompat berputar di udara. Ketika berkelebat seberkas sinar keemasan mengarah padanya. Sinar itu meluncur deras melewati tubuh Pendekar Rajawali Sakti, dan menancap pada sebatang pohon. Ringan sekali tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu mendarat di tanah. Baru saja kakinya menjejak tanah, kembali secercah sinar keemasan berkelebat cepat.
"Hup!" Rangga kembali melenting ke udara. Pendekar Rajawali Sakti berputaran di udara, menghindari desingan sinar-sinar keemasan yang datang secara beruntun bagai hujan. Mata Rangga yang tajam, dapat melihat arah datangnya sinar-sinar keemasan itu. Sambil berputaran di udara, tangannya menangkap dua benda keemasan yang mengancam dirinya. Dengan kecepatan penuh, langsung dua benda itu dilontarkan kembali ke arah pemiliknya. Seketika itu juga berkelebat satu bayangan hijau dari balik sebuah batu besar.
"Pandan...!" seru Pendekar Rajawali Sakti terkejut.
"Ha ha ha...!" Pandan Wangi tertawa gelak begitu kinya mendarat ditanah.
"Tidak lucu!" dengus Rangga langsung melompat menghampiri gadis itu.
"Tidak lucu ya sudah!" rungut Pandan Wangi. wajahnya dipasang cemberut seperti gadis ingusan yang kena marah orang tuanya.
"Cara bercandamu sangat berbahaya, Pandan," Suara Rangga terdengar lunak.
"Tapi, hebat 'kan?"
"Iya, hanya saja kau perlu banyak latihan."
"Wah! Kalau aku mahir, tentu Kakang tadi sudah...," Pandan Wangi tidak meneruskan ucapannya.
"Ah, sudahlah!" dengus Rangga. "Nih! Aku bawakan pakaian buatmu, dan sedikit makanan."
Pandan Wangi menerima bungkusan yang disodorkan Pendekar Rajawali Sakti. Kemudian dibukanya. Matanya agak membeliak melihat satu stel pakaian berwarna putih. Pakaian seorang pendekar wanita.
"Darimana kau dapatkan ini, Kakang?" tanya Pandan Wangi.
"Beli, disana!" sahut Rangga menunjuk ke arah desa Banyu Biru.
"Kakang dari sana?" Pandan Wangi seperti tidak percaya.
"Iya," sahut Rangga. "Sana, cepat! Ganti pakaianmu, dan kita makan bersama. Kau pasti suka makanan yang kubawa."
Pandan Wangi berlari-lari kecil menuju kebalik batu hitam sebesar dangau. Rangga membuka bungkusan makanan yang dibawanya dari Desa Banyu Biru. Sesekali matanya melirik ke arah batu hitam, tempat Pandan Wangi tengah mengganti pakaiannya.
Tidak lama kemudian Pandan Wangi keluar lagi, dan telah mengenakan pakaian yang dibelikan Rangga tadi. Pendekar Rajawali Sakti memandang tanpa berkedip. Dia seperti terpana saja melihat Iblis turun dari kahyangan. Pandan Wangi kelihatan cantik sekali mengenakan pakaian pendekar putih berpita merah. Ikat kepala berwarna merah menambah cantik raut wajahnya. Pakaian itu ternyata pas di tubuh Pandan Wangi.
"Ck ck ck...," Rangga berdecak kagum.
"Mengapa memandangku begitu?" rungut Pandan Wangi jengah.
"Kau cantik sekali," puji Rangga tulus.
"Huh!" Pandan Wangi mencibir. Namun dalam hatinya senang sekali mendapat pujian dari pemuda tampan yang telah mencabik-cabik sekeping hatinya.
"Ayo, makan dulu. Kau belum makan dari tadi, 'kan?" ajak Rangga mengalihkan perhatian. Dia sendiri tidak ingin lama-lama terpesona oleh kecantikan Pandan Wangi.
"Apa itu?" tanya Pandan Wangi segera duduk bersila di depan Rangga.
"Ikan bakar, lalap, sambal, tapi nasinya sudah dingin," sahut Rangga seperti penjaja saja.
"Tidak apa-apa, yang penting kenyang."
Rangga tersenyum. Senang juga dia dengan sikap Pandan Wangi yang urakan, dan sedikit liar, tapi menyenangkan untuk diajak berteman. Mereka mulai makan dengan nikmatnya. Rangga banyak bercerita tentang keadaan di Desa Banyu Biru. Dia juga mengatakan tentang rencananya yang sudah dilaksanakan. Kini hanya tinggal menunggu reaksinya saja dari orang-orang yang gila benda-benda pusaka.
"Besok pagi kita ke sana," kata Rangga.
"Ke Desa Banyu Biru?" Pandan Wangi menegaskan.
"Iya, aku ingin tahu sampai di mana mereka terpengaruh ceritaku tentang Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni."
"Kau yakin bisa berhasil?"
"Lihat saja nanti."
********************
Suasaan di Desa Banyu Biru tampak seperti biasa. Kehidupan berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Desa yang menjadi tempat persinggahan perahu-perahu pedagang, dan para pengelana pencari kehidupan maupun tokoh-tokoh rimba persilatan. Kehidupan kembali berlangsung menjelang pagi tiba.
Di sebuah kedai minum, tampak Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut duduk menghadapi meja. Seguci arak dan makanan tersedia hampir memenuhi meja kecil dari kayu jati. Sejak datang pagi-pagi sekali, Pendekar Rajawali Sakti terus memasang mata dan telinga. Dia ingin tahu perkembangan rencana yang sudah dilaksanakannya kemarin siang.
__ADS_1
"Tampaknya berita yang kusebar belum diketahui banyak orang," kata Rangga agak berbisik.
"Mungkin masih terlalu pagi," sahut Pandan Wangi.
"Ya, kita tunggu saja," desah Rangga.
"Kau yakin mereka akan tertarik ke Bukit Setan?" tanya Pandan Wangi.
"Mudah-mudahan begitu, asal kau tetap ingat. Jangan sekali-sekali mengaku kalau kau si Kipas Maut. Tetap saja memakai nama Pandan Wangi."
"Lalu, senjataku?"
"Simpan saja dulu. Kau bisa menggunakan senjata Iainnya, 'kan?"
"He-eh."
Percakapan mereka terhenti ketika dua orang laki-laki bertubuh tinggi kekar masuk ke dalam kedai. Mereka mengenakan pakaian serba hitam. Tampak di punggung masing-masing tersampir sebilah pedang. Mereka duduk tidak jauh dari tempat duduk Rangga dan Pandan Wangi. Dengan suara kasar, salah seorang memesan makanan dan minuman.
Rangga memperhatikan dari sudut ekor matanya. Lagak dan tingkah kedua orang itu sangat memuakkan. Mereka seperti di rumah sendiri saja. Main perintah dan membentak para pelayan.
"Kau kenal mereka?" tanya Rangga berbisik.
"Ya, aku kenal. Yang pakai kalung rantai namanya Macan Hitam, dan satunya lagi Gagak Hitam. Mereka dikenal dengan julukan Iblis Kembar Hitam," sahut Pandan Wangi menerangkan.
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya beralih menatap seorang wanita muda yang cantik duduk sendirian agak ke pojok. Pakaiannya yang ketat berwarna merah menyala membuat lekuk tubuhnya tampak jelas. Dari sikapnya, sudah bisa diduga kalau wanita itu jelas dari kalangan rimba persilatan. Lebih-lebih kalau melihat dua pisau terselip di pinggangnya.
Rupanya bukan hanya Rangga yang memperhatikan wanita cantik itu. Dua orang yang dikenal dengan julukan Iblis Kembar Hitam juga tertarik untuk memandang wanita cantik itu. Gagak Hitam mengerdipkan matanya pada Macan Hitam.
"He he he..., kau tertarik dengan perempuan itu, adik Gagak Hitam?" Macan Hitam terkekeh.
"Aku rasa kau juga tertarik, Kakang," sahut Gagak Hitam.
"Dia memang cantik. He he he... Memang sayang kalau dilewatkan begitu saja."
Macan Hitam berdiri sambil terkekeh. Kakinya melangkah berat menghampiri wanita cantik yang dimaksudkannya itu. Macan Hitam mengangkat kaki ke atas kursi di depan wanita itu. Sementara Rangga yang memperhatikan sejak tadi hanya mencibir. Dia berharap Macan Hitam kena batunya. Sejak tadi dia telah muak melihat tingkahnya yang sok dan urakan. Rangga menjulurkan kepalanya mendekati Pandan Wangi.
"Siapa perempuan itu?" tanya Rangga.
"Yang baju merah?" Pandan Wangi balik bertanya.
"Iya."
"Dia Pisau Terbang."
Sementara itu Macan Hitam mulai beraksi menggoda wanita cantik berbaju merah menyala yang dijuluki si Pisau Terbang. Kelihatannya Pisau Terbang tidak peduli dengan sikap memuakkan Macan Hitam. Tenang sekali dia menikmati arak manisnya.
"Sendirian saja, Cah Ayu?" suara Macan Hitam dibuat lembut. Namun tetap saja terdengar kasar dan serak.
"Hm...," Pisau Terbang hanya menggumam kecil.
"Boleh aku temani?"
"Silakan, asal, kau mampu mengangkat guci arak ku," sahut si Pisau Terbang kalem.
"He he he...," Macan Hitam terkekeh.
Matanya mengerling pada Gagak Hitam. Dia merasa tantangan itu merupakan satu permainan anak bau kencur. Macan Hitam yakin kalau hanya mengangkat guci arak saja, itu masalah mudah. Tangannya terulur dan mencekal leher guci. Tapi... begitu akan ditarik guci itu, mendadak wajahnya jadipucat. Guci itu tetap pada tempatnya. Tidak sedikit pun bergerak. Macan Hitam mengerahkan tenaga dalam untuk masalah yang kelihatannya ringan.
"Uhk!" Macan Hitam membetot guci yang menjadi berat sekali.
Pisau Terbang tersenyum sinis mengejek. Tangannya terulur dan menyentil tangan Macan Hitam yang menggenggam leher guci. Macan Hitam langsung menarik tangannya. Pisau Terbang dengan enak mengangkat guci arak dan menuang isinya ke dalam gelas parungan.
"Kurasa kau belum pantas duduk denganku, Kisanak," kata Pisau Terbang kalem.
"Huh!" Macan Hitam mendengus kesal.
Melihat kakaknya dipermalukan di depan orang banyak, Gagak Hitam cepat melompat sambil mencabut pedang yang tersampir di punggungnya.
Sret! Gagak Hitam langsung mengibaskan pedangnya ke leher Pisau Terbang. Pedang yang seluruhnya berwarna hitam legam, berkelebat cepat mengincar leher yang putih mulus. Namun hanya dengan menarik kepalanya ke belakang, kibasan pedang itu hanya lewat di depan wajah Pisau Terbang. Pisau Terbang mengangkat tangannya dan menyentil pergelangan tangan Gagak Hitam yang menggenggam pedang.
Gagak Hitam memekik tertahan ketika merasakan pergelangan tangannya nyeri kesemutan. Buru-buru dipindahkan pedangnya ke tangan kiri. Kemudian melompat satu langkah ke belakang.
"Uh! Banyak Ialat kotor di sini," dengus Pisau Terbang.
"Perempuan liar! Buka matamu lebar-lebar, siapa yang ada didepanmu?" bentak Macan Hitam gusar.
"Aku tahu, kalian cuma tikus-rikus busuk yang mengganggu selera minumku," sahut Pisau Terbang dingin.
"Bedebah! Kau harus ****** di tangan Iblis Kembar Hitam!" bentak Gagak Hitam.
"Pantas saja muka kalian jelek."
"kebarat!"
Macan Hitam segera mencabut pedangnya, dan mengibaskannya dengan cepat. Pisau Terbang hanya menarik sedikit dadanya kebelakang. Kibasan pedang Macan Hitam lewat di depan dadanya yang membukit indah. Gagak Hitam langsung menyusul menerjang sambil menusukkan pedangnya. Pisau Terbang seketika melompat dari duduknya! lalu begitu kakinya menjejak meja, dengan cepat berputar seraya melayangkan kaki kanannya. Begitu cepat gerakan Pisau Terbang, sehingga hal itu tidak diduga! sama sekali oleh Iblis Kembar Hitam.
__ADS_1
Buk! Buk!
Dua tendangan maut bersarang di dada Macan Hitam dan Gagak Hitam. Mereka terjajar ke belakang dengan mulut meringis. Mendadak saja mereka merasakan dadanya sakit dan sesak. Belum sempat mereka menguasai diri, mendadak Pisau Terbang mencelat sambil merentangkan kedua tangannya.
"Aaakh...!"
Iblis Kembar Hitam berteriak nyaring hampir bersamaan. Kedua tangan Pisau Terbang menjambret dua tubuh tinggi besar, dan melemparkannya keluar dari kedai. Dua tubuh besar melayang deras diluar kedai.
Pisau Terbang melenting kembali, dan tahu-tahu telah duduk kembali di tempatnya semula. Sikapnya sangat tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa terhadap dirinya. Sementara itu Iblis Kembar Hitam sudah bangkit lagi. Sambil menggeram, mereka serentak menerjang masuk. Tapi...
"Akh!"
"Akh!"
Hampir bersamaan mereka memekik tertahan. Kemudian tubuh besar itu terjungkal dengan leher tertembus potongan bilah bilik bambu. Sebentar saja Iblis Kembar Hitam berkelojotan, lalu diam tak bergerak-gerak lagi.
Semua kejadian itu tidak lepas dari perhatian Pendekar Rajawali Sakti. Ketika Iblis Kembar Hitam menerjang masuk, dengan cepat Pisau Terbang memotes bilik bambu di dekatnya, lalu menjentikkan Jarinya seraya mengerahkan tenaga dalam yang cukup tinggi. Hasilnya memang mengagumkan. Satu ilmu melempar yang sempurna sekali. Cepat dan sulit diikuti oleh mata biasa.
********************
"Kelihatannya tempat ini sudah tidak aman lagi, Kakang," kata Pandan Wangi berbisik.
"Hm...," Rangga hanya bergumam.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini," ajak Pandan Wangi.
"Tunggu dulu, Pandan," cegah Rangga menahan tangan gadis itu.
Pandan Wangi terpaksa mengurungkan niat ingin bangun. Hatinya semakin tidak menentu saja. Bukannya takut menghadapi segala macam kemungkinan, tapi dia tidak ingin menampakkan diri lebih dulu. Masalahnya di desa Banyu Biru ini rata-rata telah mengenal wajahnya, meskipun memakai pakaian dan dandanan yang berbeda. Pandan Wangi merasa dirinya masih cukup bisa dikenali orang.
Dari sudut ekor matanya, Pandan Wangi cepat tahu kalau sejumlah orang di dalam kedai ini telah memperhatikan dirinya. Lebih-lebih seorang kakek tua yang duduk agak jauh darinya. Pandangan kakek tua itu tidak pernah berpaling darinya. Pandan Wangi tahu kalau kakek tua itu yang dijuluki Kakek Tangan Seribu.
Pandan Wangi jadi gelisah sendiri. Dia khawatir samarannya diketahui oleh Kakek Tangan Seribu. Atau mungkin oleh yang lainnya. Kegelisahan Pandan Wangi bisa dirasakan Rangga yang sejak tadi memegangi tangan gadis itu. Punggung tangan gadis itu berkeringat dan terasa dingin.
"Apa yang kau pikirkan, Pandan Wangi?" tanya Rangga.
"Tidak," sahut Pandan Wangi cepat-cepat. Dia tidak ingin Pendekar Rajawali Sakti itu mengetahui kegelisahannya.
"Kau kelihatan gelisah sekali,"
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Hm, kau akan pergi dari sini?" Pandan Wangi tidak menjawab.
"Baiklah. Mungkin kedai ini terlalu panas untukmu.
Pandan Wangi berdiri setelah Rangga bangkit berdiri. Pendekar Rajawali Sakti itu meletakkan beberapa keping uang perak di atas meja, kemudian menarik tangan Pandan Wangi. Mereka melangkah ke luar dari kedai Pandan Wangi masih sempat melirik Kakek Tangan Seribu yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedikit kepadanya.
Tentu saja gadis itu jadi terkejut. Buru-buru dia melangkah ke luar mendahului Rangga. Pandan Wangi sudah merasa kalau penyamarannya sudah diketahui oleh Kakek Tangan Seribu. Rangga yang merasakan kalau Pandan Wangi gelisah, segera mempercepat langkahnya. Mereka terus berjalan cepat meninggalkan kedai yang dipenuhi orang-orang rimba persilatan.
Sepanjang jalan mereka masih melihat beberapa orang menyandang senjata dengan bermacam-macam bentuk dan ukuran. Pandan Wangi berjalan tanpa mengangkat kepala, sampai mereka tiba di perbatasan Desa Banyu Biru. Mereka baru berhenti setelah sampai di tempat yang sepi dari keramaian.
"Pandan Wangi..," Rangga menepuk pundak gadis itu.
"Oh!" Pandan Wangi terkejut, langsung berbalik menghadap Pendekar Rajawali Sakti.
"Di kedai tadi, kau kelihatan gelisah. Ada apa? Ada orang yang mengenalimu?"
"Aku..., eh. Tidak!" Pandan Wangi jadi gugup.
Rangga melepaskan pegangannya pada pundak gadis itu. Dia mundur dua langkah dan duduk di atas batu. Pandan Wangi masih tetap berdiri memandang ke arah Desa Banyu Biru. Pikirannya masih tertuju pada Kakek Tangan Seribu. Sungguh dia tidak menginginkan Kakek Tangan Seribu muncul dalam keadaan begini. Pada saat dirinya dilanda kesulitan besar, karena adanya kabar kosong yang melibatkan dirinya secara langsung.
"Di kedai tadi, kuperhatikan kau selalu memandang seorang kakek tua. Kau kenal dia?" tanya Rangga menebak.
Pandan Wangi terkejut, hingga memalingkan muka dari tatapan Pendekar Rajawali Sakti itu. Sungguh mati, dan tidak disangka kalau Rangga selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Rasanya di depan pemuda ini dia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan perasaannya. Rangga selalu bisa menebak dengan tepat tanpa harus dijawab.
Lemah sekali kepala Pandan Wangi terangguk. Dalam pandangan Rangga, sikap gadis itu jadi berubah seratus delapan puluh derajat sejak berada dalam kedai minum tadi. Tidak lagi nakal, tidak banyak bicara dan kelihatan lebih banyak berpikir. Sepertinya Rangga tidak lagi melihat Pandan Wangi yang dikenalnya beberapa hari lalu. Pandan Wangi yang berjuluk Kipas Maut yang tingkahnya urakan dan sedikit liar.
"Siapa kakek tua itu?" tanya Rangga.
"Dia Kakek Tangan Seribu," sahut Pandan Wangi.
"Kau ada masalah dengannya?"
"Tidak,"
"Kenapa sikapmu berubah setelah melihat dia?"
"Aku..., aku hanya tidak ingin dia muncul pada saat-saat seperti ini."
"Kenapa?"
Belum sempat Pandan Wangi menjawab, tiba-tiba terdengar siulan yang nyaring dan panjang. Suara siulan itu tanpa nada yang tidak jelas iramanya. Mendadak wajah gadis itu jadi berubah pucat. Rangga langsung berdiri dan melangkah ke samping Pandan Wangi. Suara siulan itu semakin lama semakin terdengar dekat dan jelas. Rangga memandang ke satu arah, asal suara siulan itu. Samar-samar matanya mulai melihat bayang-bayang hitam dan putih bergerak semakin dekat. Bayang-bayang itu kian jelas terlihat. Siapakah yang datang dengan memperdengar-kan suara siulan?
********************
__ADS_1