
Sinar matahari yang menyeruak masuk melalui pintu yang tak tertutup rapat itu menerpa wajahnya. Kehangatan yang dia rasa kan mulai membangunkan kesadarannya dari pingsan yang cukup panjang. Wulan pelahan-lahan mem-buka matanya, dan dia begitu terkejut menyadari keberadaannya di tempat asing yang belum pernah dia kenal sama sekali.
Pikiran Wulan mulai meraba-raba. Dia mulai teringat kejadian yang terakhir kali dialaminya, dan tahu-tahu dia sudah berada di tempat ini. Sedikit demi sedikit gadis itu beringsut bangun, dan duduk di tepi balai-balai bambu itu. Sepasang matanya menangkap buntalan kain yang dibawanya dari rumah. Gadis itu mengerutkan keningnya. Hatinya diliputi tanda tanya, siapa gerangan orang yang telah menyelamatkan nyawanya dan membawanya kemari.
Belum lagi dia sempat menduga duga, pintu bilik yang tak tertutup rapat itu pelahan-lahan terkuak. Wulan beringsut ke sudut. Tangannya mendekap buntalan berisi kain dan sedikit bekalnya Pintu bilik itu semakin terbuka lebar. Dan di ambang pintu itu berdiri seorang lelaki muda dan tampan dengan pakaiannya serba putih dan ketat, hingga postur tubuhnya yang tegap dan kekar begitu mudah dikenali oleh Wulan.
"Kang...!" desis Wulan begitu mengenali laki-laki itu.
Wulan segera melompat dan menubruk pemuda tampan itu. Air matanya seketika tumpah di dada lelaki muda itu, yang tak lain adalah Dimas. Pemuda tampan itu hanya membelai-belai rambut kekasihhnya. Beberapa saat lamanya mereka hanya saling perpelukan, diselingi oleh isak tangis sang gadis.
Dimas melepaskan pelukan gadis itu, dan membawanya duduk di tepi pembaringan. Sejenak mereka hanya saling pandang. Dengan lembut Dimas mengusap air mata di pipi yang halus kemerahan itu Wulan membiarkan saja jari-jemari kekasihnya menghapus air matanya.
"Ke mana saja kau, Kakang? Kenapa tidak pulang pulang?" tanya Wulan lirih suaranya.
"Maafkan aku, Wulan. Bukan aku tak rindu padamu, tapi pekerjaanku belum selesai," sahut Dimas lembut
"Aku tidak tahan lagi, Kakang. Aku terpaksa kabur dari rumah, aku ingin bersamamu," rintih Wulan kembali terisak.
"Sudahlah sekarang kau sudah aman bersamaku. Kita bisa hidup damai dan tenteram di ani," hibur Dimas tetap lembut.
Secercah senyum kini tersungging di bibir gadis itu. Dimas membalasnya dengan manis pula. Pelahan-lahan wajah mereka yang saling beradu pandang itu semakin mendekat, hingga desah napas Dimas menerpa hangat di seputar wajah Wulan. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan dengan mesra.
"Wulan...," desah Dimas bergetar.
"Kakang...!"
Pelan dan lembut sekali Dimas menempelkan bibimya ke bibir gadis itu yang terbuka merekah. Mata Wulan ter-pejam merasakan kehangatan yang mulai menjalari tubuh dan urat syarafnya. Tangannya melingkar di leher Dimas, dan menekannya kuat-kuat, hingga bibir mereka bersatu dalam gairah yang semakin menggelegak.
Tak ada lagi kata-kata yang terucap. Tak ada isak tangis keharuan, yang ada kini hanyalah rasa cinta dan kerinduan yang menyatu dalam daya asmara yang semakin memburu. Wulan merintih merasakan kenikmatan yang membawanya melayang layang terbang mengarungi lautan asmara. Mata gadis itu terbuka dan tertutup, menandakan hasrat birahinya yang sangat mendidih.
"Kakang...!" tiba-tiba Wulan tersentak begitu merasakan jari-jari tangan Dimas menyentuh bagian dari tubuhnya yang sangat peka.
Seketika itu juga Wulan menyentakkan tubuh Dimas. Gadis itu begitu terkejut menyadari hampir seluruh pakaiannya terlepas. Bergegas gadis itu membereskan pakaiannya yang sudah tak karuan dan nyaris membuatnya telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Wulan bergetar.
"Wulan..., aku mencintaimu," bisik Dimas seraya mendekat.
"Tapi...," suara Wulan tersekat di tenggorokan.
"Kau mencintaiku juga, kan?"
Wulan tidak bisa menjawab. Tak mungkin dia akan pergi dari rumah dan sampai ke tempat ini kalau dia tak mencintainya. Tapi apakah yang barusan diinginkan oleh Dimas itu ukuran dari perasaan cinta dan kasih sayangnya. Tidak, bisiknya dalam hati. Ia tak mau melakukan hal ter-larang itu sebelum mereka terikat resmi menjadi suami istri. Wulan tak ingin penderitaan hidupnya terus ber-kepanjangan, hanya karena menuruti nafsu birahi sesaat.
"Aku mencintaimu, Wulan. Aku berjanji, kalau tekadku sudah tercapai, aku pasti akan menikahimu," Dimas berucap lembut.
"Kakang...," suara Wulan kembali tersekat di tenggorokan.
"Baiklah...," desah Dimas mengalah.
Wulan hanya memandangi Dimas yang mengenakan pakaiannya kembali, kemudian pemuda itu ke luar kamar tanpa berkata apa-apa lagi. Wulan duduk tepekur di balai-balai bambu. Dia sadar penolakannya telah mengecewakan hati Dimas.
"Ah.., Dimas..., maafkan aku," desah Wulan lirih.
Pelahan-lahan pintu gubuk kecil itu terbuka. Tampak Wulan melangkah ke luar setengah menundukkan kepalanya. Sebentar dia mengamati keadaan sekitarnya, dan dia agak terkejut begitu menyadari dirinya berada di tengah- tengah hutan lebat dengan satu gubuk kecil yang ter-sembunyi di antara lebatnya pepohonan.
Seekor kera hitam bergelantungan dari dahan pohon yang satu ke dahan lainnya. Suaranya memecah kesunyian pagi di sekitar gubuk kecil itu. Bersama burung-burung yang berkicau saling bersahutan.
"Ah, seandainya aku bisa bebas seperti mereka...," desah Wulan lirih.
"Kau sudah bebas, Wulan," terdengar suara lembut dari belakang.
"Oh!" Wulan tersentak kaget. Buru-buru dia membalikkan tubuhnya.
Dimas tampak duduk di akar pohon yang menyembul ke luar dari dalam tanah. Tangannya sibuk membuat anak panah. Beberapa anak panah menggeletak di sekitamya. Dan sebuah busur besar tersandar di pohon. Wulan meng-hampiri dan duduk di samping pemuda itu.
"Maafkan aku, Kakang. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa," kata Wulan pelan.
"Ah, sudahlah. Lupakan soal itu," sahut Dimas tenang.
Sesaat mereka terdiam, dan hanya saling berpan-dangan dengan sinar mata penuh cinta.
"Kenapa kau meninggalkan orang tuamu?" tanya Dimas.
"Terpaksa," sahut Wulan. Kepalanya tertunduk, dan ada kesenduan membayang di wajahnya. Dimas tahu itu.
"Ceritakan, Wulan. Ada apa?!" desak Dimas. Tangan kanan pemuda itu memegangi bahu Wulan.
"Kau jangan marah, Kakang.... Aku terpaksa meninggal-kan mereka, karena aku tak mau menjadi istri si Tua Bangka itu!" Wulan menghentikan ucapan-nya, air matanya yang bening bergayut di sudut matanya. "Dan ayahku, Kakang... dia menerima akibat dari sikapku. Kaki tangan Wira Perakin telah menahannya," Wulan mencoba menahan tangisnya, tapi sia-sia. Kecemasan akan nasib ayah dan ibunya sangat membelenggu batinnya.
Dimas menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Hatinya benar-benar ikut tercabik oleh penderitaan yang dialami Wulan.
"Wira Perakin...," gumam Dimas lirih, tangannya membelai-belai rambut gadis itu. "Bagaimana dengan ayahmu, Wulan? Maksudmu beliau...."
"Tidak, Kakang," sahut Wulan. "Wira Perakin tak mungkin membunuh Ayah, selagi masih ada yang diharapkannya.... Tapi sekarang... aku tak tahu, Kakang!"
__ADS_1
"Kau tunggu saja di sini, Wulan," kata Dimas seraya bangkit melepaskan pelukannya. "Kakang mau ke mana?"
"Aku akan membawa ayah dan ibumu ke sini. Aku tidak akan lama, Wulan, kau tak usah cemas," sahut Dimas seraya menjumput anak-anak panah dan memasukkannya ke dalam kantung kulit.
Dimas mengikatkan kantung penuh anak panah itu di pinggang, kemudian dia mengambil pedang dan menyandangkannya di punggung. Tangan kirinya meng-genggam busur besar yang sedikit terukir di bagian tengah-nya. Wulan berdiri dan menghadang langkah pemuda itu dengan wajah penuh kecemasan.
"Kakang...," serak dan lirih suara Wulan.
"Kau jangan pergi ke mana-mana Wulan. Tempat ini tidak ada yang tahu selain aku," pesan Dimas.
Sesaat mereka saling tatap, kemudian Dimas mengecup lembut bibir gadis Itu. Dia berbalik, langsung melangkah cepat tanpa menoleh lagi. Wulan memandangi tanpa berkedip, sampai punggung lelaki pujaannya itu hilang dari pandangan.
********************
Nyi Sukirah langsung terlonjak terbangun dari tidurnya. Suara pintu didobrak sangat mengagetkannya. Pintu kamar itu hancur berantakan. Nyi Sukirah menjerit tertahan melihat seorang laki-laki tinggi besar berdiri di ambang pintu yang hancur Di belakang laki-laki yang bertampang seram itu, berdiri beberapa orang berpakaian seragam kuning keemasan seperti prajurit kerajaan.
Nyi Sukirah tahu, orang yang berdiri congkak di ambang pintu itu adalah Kebo Rimang, tangan kanan Wira Perakin. Ya, orang itulah yang turut merampas rumahnya dulu bersama Wira Perakin. Dan kini, sejarah hidupnya kembali terulang. Orang yang terkenal kejam itu kini siap meng-hancurkan hidupnya kembali.
"Seret perempuan ini ke luar! Cepat!" perintah Kebo Rimang. Suaranya terdengar keras dan kasar. Kedua matanya menatap tajam dan memerah.
Dua orang anak buahnya langsung bergerak maju ke dalam kamar yang pintunya jebol berantakan. Tanpa banyak bicara lagi, dua orang itu langsung menyeret Nyi Sukirah.
"Akh...!" Nyi Sukirah memekik keras begitu tubuhnya dicampakkan.
Perempuan tua itu jatuh bergulingan di tanah. Kulit tangannya yang keriput, tergores mengeluarkan darah. Nyi Sukirah berusaha bangkit berdiri, tapi salah seorang yang menyeretnya segera menendang keras. Kembali tubuh perempuan tua itu bergulingan di tanah. Dadanya terasa sesak sekali dan rintihannya terdengar memelas.
"Di mana anak gadismu. Perempuan Tua?" tanya Kebo Rimang datar.
Nyi Sukirah tidak menyahut, hanya suara rintihannya yang menyayat dan terdengar memilukan. Beberapa kepala bersembulan ke luar dari rumah rumah di sekitar rumah Nyi Sukirah. Tidak ada seorang pun yang berani ke luar rumah, apalagi mencampuri urusan ini. Mereka semua hanya bisa mengurut dada, iba melihat nasib keluarga Ki Sukirah.
"Di mana anakmu, Nyi Sukirah?" Kebo Rimang mengulangi lagi pertanyaannya.
Tetap saja Nyi Sukirah tidak menjawab. Dia malah membalas tajam tatapan mata Kebo Rimang. Dia seperti mendapatkan kekuatan bathin, tak sedikit pun ada rasa gentar di hati perempuan ini.
"Setan!" geram Kebo Rimang. "Geledah rumahnya!"
Lima orang pengikutnya segera beranjak masuk ke dalam rumah itu. Tak lama kemudian mereka sudah ke luar lagi. Salah seorang mendekati Kebo Rimang yang berdiri angker memandang tajam pada Nyi Sukirah.
"Tidak ada, Gusti," lapor orang itu.
"Kurang asar!" geram Kebo Rimang gusar. "Bakar...!" perintah Kebo Rimang kalap.
"Oh, jangaan..!" sentak Nyi Sukirah terkejut.
Tapi permintaan itu sama sekali tidak digubris. Salah seorang anak buah Kebo Rimang sudah mencabut obor yang tertancap di bang penyangga beranda. Kemudian melemparkannya ke atas atap, api langsung berkobar besar melahap atap rumah yang terbuat dari daun rumbia kering itu. Nyi Sukirah merintih dan terus meratap. Dia hanya bisa melihat api yang terus melahap rumah tempat tinggal satu-satunya itu.
"Kau manusia tidak tahu diuntung, Perempuan Tua! Gusti Wira Perakin sudah terlaiu baik padamu. Membiar-kan kau, suamimu dan anakmu hidup. Tapi masih juga kau mau bertingkah macam-macam," ujar Kebo Rimang dingin.
"Phuih! Kalian anjing-anjing kebarat!"
"Kurang asar...!"
Plak!
"Akh!"
Nyi Sukirah terpelanting keras ke tanah begitu tangan kanan Kebo Rimang menghajar pipinya. Perempuan tua itu jatuh pingsan. Tamparan Kebo Rimang begitu keras.
"Ikat perempuan tua itu! Seret dengan kuda!" perintah Kebo Rimang kalap.
Salah seorang segera maju mendekati Nyi Sukirah yang tergeletak pingsan. Orang itu mengeluarkan tambang dari balik bajunya, kemudian mengikat tangan Nyi Sukirah, lalu melemparkan satu ujung tambang itu pada temannya yang menunggang kuda.
Kebo Rimang melompat tangkas ke atas punggung kuda hitam tunggangannya. Orang-orang Wira Perakin yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh orang itu, segera berlompatan naik ke punggung kudanya masing-masing.
"Jalan!" perintah Kebo Rimang.
Baru saja mereka menggebah kuda, tiba-tiba. Wuuut, tras...!
Tambang yang mengikat tangan Nyi Sukirah putus. Sebatang anak panah tertancap di tanah, tak jauh dari tubuh perempuan tua yang masih pingsan dengan kedua tangannya terikat itu. Kebo Rimang dan sepuluh orang pengikutnya terkejut setengah mati. Bergegas mereka berlompatan turun.
Tampak seorang pemuda tampan berbaju putih ketat berdiri tegak. Busur besar dengan anak panah tergenggam di tangannya. Dan tiba-tiba saja dia menarik tali busur itu, dan...
Wuuut!
"Aaakh...!" salah seorang menjerit keras.
Anak panah yang dilepaskan Dimas menancap tepat menembus leher orang itu. Tubuhnya seketika terjajar ke belakang, lalu ambruk mencium tanah Belum lagi hilang rasa terkejut mereka, Dimas sudah melepaskan lagi tiga anak panah secara beruntun dan cepat. Tiga orang langsung menyusul temannya, bergulingan jatuh bersimbah darah.
"Kurang ejar!" geram Kebo Rimang. Secepat kilat laki-laki bertubuh bnggi besar dengan luka codet di wajahnya itu, melompat begitu Dimas kembali menghujaninya dengan anak-anak panah. Kebo Rimang berkelebatan cepat menyambar anak-anak panah yang datangnya bagai-kan hujan itu.
"Phuih!" Kebo Rimang menyemburkan ludahnya sengit
Laki-laki kasar itu berdiri tegak dengan sikap meremehkan. Puluhan batang anak panah tergenggam di kedua tangannya. Sedangkan kantung anak panah di pinggang Dimas sudah kosong. Pemuda itu membuang busumya. Kagum juga dia pada Kebo Rimang yang begitu tangkas bisa menangkap semua anak panah yang dilepaskannya.
Kebo Rimang menjuiurkan kedua tangannya ke depan, lalu meremas anak panah di tangannya hingga hancur. Semua mata memandang kagum pada ketinggian ilmu tenaga dalam yang dimiliki Kebo Rimang.
__ADS_1
"Siapa kau, Anak Muda? Mengapa kau mencampuri urusanku!" dengus Kebo Rimang menggeram.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku! Aku datang untuk membasmi anjing-anjing Wira Perakin," balas Dimas tak kalah sengitnya.
"Setan! Apa kau sudah punya nyawa pengganti, heh? Berani-beraninya sesumbar di depanku!"
"Nyawaku cuma satu, tapi aku mampu menyumbat kesombonganmu!"
"Anjing geladak! Hiyaaa...!" Hup!
Kebo Rimang segera membuka jurus jurusnya. Dimas melirik enam orang yang sudah menghunus pedangnya masing masing Dari bentuk senjata mereka yang beraneka ragam, bisa diketahui kalau mereka bukanlah prajurit kerajaan. Mereka orang-orang rimba persilatan yang mengenakan seragam seperti prajurit.
Kebo Rimang melompat menerjang Dimas. Per-tempuran tidak bisa lagi dihindarkan. Dua orang yang masing masing memiliki kepandaian yang cukup tinggi itu saling menyerang menggunakan jurus jurus maut mereka yang berbahaya.
Dalam waktu singkat saja, tidak kurang dari sepuluh jurus telah mereka kerahkan. Namun belum terlihat siapa yang lebih unggul atau terdesak. Mereka kelihatan sama-sama tangguh dengan gerakan jurus-jurusnya yang cepat.
Enam orang lainnya, dan orang-orang yang mengintip dari celah-celah rumah mereka di sekitarnya, seolah terpaku menyaksikan pertarungan itu.
"Hiyaaa...!" tiba-tiba Kebo Rimang berteriak nya-ring. Seketika itu juga tubuhnya melenting ke udara, dan pada waktu yang bersamaan, Dimas juga berbuat yang sama. Keduanya telah mencabut senjata masing masing. Kini di tangan Dimas tergenggam sebilah pedang yang panjang dan tipis keperakan. Sedang lawannya menggenggam dua buah tongkat besi kecil bercabang dua. Tongkat itu berwama kuning keemasan.
Trang, trang!
Dua senjata beradu keras di udara. Dua tubuh di angkasa itu sama-sama terpental. Tubuh Kebo Rimang jatuh berdebum keras di tanah, lalu bergulingan sejauh tiga ujung tombak. Dimas juga mengalami nasib yang sama, tapi dia masih sanggup berdiri kembali dengan cepat.
Sementara Kebo Rimang berusaha bangkit, enam orang pengikutnya langsung berlompatan mengurung Dimas. Senjata mereka berkelebatan di depan dada. Dimas memandangi enam orang itu dengan mata merah menahan geram.
"Jaring berantai!" teriak Kebo Rimang tiba-tiba.
Enam orang itu langsung memasukkan senjata masing masing ke dalam tempatnya Kemudian dengan cepat mereka mengeluarkan tambang bersimpul dari bafik baju masing-masing. Mereka memutar-mutar tambang ber-simpul itu di atas kepala. Kaki-kaki mereka bergerak lincah mengitari tubuh Dimas.
Dimas jadi kebingungan juga menghadapi enam orang yang memutar-mutarkan tambang bersimpul mengelilingi dirinya. Kakinya segera bergerak lincah mengikuti arah putaran enam orang itu. Kedua matanya tajam mengawasi setiap gerakan yang dilakukan enam orang lawan lawannya Dan tiba-tiba salah seorang melemparkan tambang ke atas, jauh di atas kepalanya.
Hampir bersamaan waktunya, seorang lagi melemparkan tambangnya, lalu disusul berganban oleh yang lain. Dimas benar-benar tak tahu maksudnya. Dia terkejut begitu tiba-tiba enam orang itu serempak berlompatan ke udara.
Tap, tap...!
Enam orang berseragam bagai prajurit itu menangkap ujung ujung tambang yang saling teriempar ke atas. Lalu dengan gerakan manis dan cepat sekali, mereka meluruk turun. Dimas yang belum menyadari tidak dapat berbuat apa-apa. sekebka itu juga tubuhnya terjerat enam utas tambang.
"Hih!" Dimas berkutat berusaha melepaskan diri dari jeratan yang membelit tubuhnya.
Tapi, keenam orang itu lebih cepat lagi bergerak memutar mengelilingi. Dimas benar-benar tak berdaya lagi sekarang Pemuda itu jatuh berdebum ke tanah dengan seluruh tubuhnya terikat tambang. Pedangnya ikut terikat menempel di paha kakinya. Keenam orang berseragam kuning keemasan itu, terus memegangi ujung-ujung tambang.
"Ha... ha... ha...!" Kebo Rimang tertawa terbahak-bahak.
Namun seketika tawanya terhenti sebuah bayangan putih lain tiba-tiba bergerak cepat membabat putus tambang-tambang yang membelit tubuh Dimas. Belum lagi Kebo Rimang hilang rasa terkejutnya, muncul lagi satu bayangan biru menghajar enam orang berseragam itu.
Jeritan kematian terdengar melengking bersahutan. Tubuh enam orang yang memegangi tambang itu, langsung bergelimpangan di tanah. Sebentar mereka menggelepar, lalu diam tak bemyawa lagi. Darah segar membanjiri tanah, menyebarkan aroma anyir menusuk hidung.
Kini di depan Kebo Rimang berdiri dua orang anak muda. Seorang laki-laki berbaju rompi pubh, dan seorang perempuan cantik mengenakan pakaian biru ketat Mereka tak lain adalah Rangga dan Pandan Wangi, dua pendekar muda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut. Pandan Wangi mengebut-ngebutkan kipas baja putihnya di depan dada. Pandangan matanya tajam menatap Kebo Rimang.
"Monyet buduk! Siapa kalian?" geram Kebo Rimang membentak.
Mata Kebo Rimang tak lepas memandang Pendekar Rajawali Sakti. Dia jadi teringat dengan cerita Jaran Kedung. Semua ciri-ciri yang diceritakannya ada pada orang di hadapannya.
"Oooh..., rupanya kau yang membunuh tujuh orang anak buahku kemarin?" dengus Kebo Rimang tetap memandang tajam pada Rangga.
"Benar! Dan hari ini giliranmu yang ******!" sahut Rangga tak kalah gertak.
"Setan alas! Rupanya kau sudah bosan hidup, hingga berani mengusik macan, heh?!"
"Macan ompong...!" ejek Pandan Wangi sengit.
Kebo Rimang mendelik lebar menerima ejekan itu. Matanya menyipit. Kini di hadapannya berdiri tiga orang anak muda menantangnya. Dimas berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Di tangan kanannya tergenggam sebuah pedang.
Kebo Rimang mulai surut nyalinya. Dia telah jelas-jelas melihat kalau ketiga orang anak muda itu memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, dan tak mungkin baginya untuk bisa menandingi.
Tanpa malu-malu lagi, Kebo Rimang melompat ke atas punggung kudanya. Kuda tinggi besar itu bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya, berlari cepat hingga dalam sekejap saja telah hilang dari pandangan.
"Pengecut!" dengus Dimas menggeram.
"Sebaiknya kau urus saja orang tuamu," kata Rangga mengingatkan.
Dimas tersentak, buru-buru ia menghampiri Nyi Sukirah yang masih tergolek pingsan. Pemuda kekasih Wulan itu sekilas menatap rumah yang kini tinggal puing-puing membara mengepulkan asap tipis. Dimas lalu membopong tubuh perempuan tua itu, dan membawanya ke suatu tempat yang teduh Dimas memeriksa keadaannya. Dia menoleh pada Rangga dan Pandan Wangi yang juga sudah berlutut di samping tubuh Nyi Sukirah.
"Bagaimana?" tanya Pandan Wangi.
"Hanya pingsan, tidak ada luka yang serius," sahut Dimas.
Pemuda itu memandangi Rangga dan Pandan Wangi. Dia agak berkerut juga keningnya, sama sekali dia belum pernah melihat dua orang yang telah menolongnya ini.
Rangga mengerti arti pandangan Dimas, dia tersenyum dan menepuk pundak pemuda itu dengan sikap bersahabat.
"Terima kasih atas pertolongan kalian," ucap Dimas membalas senyuman Rangga.
"Ah, lupakan saja," sahut Rangga.
__ADS_1
********************