Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Pertarungan Bukit Setan Bag. 5


__ADS_3

Suara siulan berhenti, bersamaan dengan berhentinya langkah kaki seorang kakek berpakaian hitam dan putih. Kakek itulah yang terus-menerus memandangi Pandan Wangi di kedai tadi. Kakek yang berjuluk Kakek Tangan Seribu. Pandan Wangi tertunduk seperti tidak sanggup memandang wajah keriput di depannya.


Kakek Tangan Seribu menatap Pandan Wangi dengan tajam. Kemudian pandangannya beralih pada Rangga yang berdiri di samping gadis itu. Rangga tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedikit. Bagaimanapun juga dia harus hormat terhadap orang tua, walau pun dia tidak tahu, berada dalam golongan mana orang tua yang dihadapinya kini.


"Pandan Wangi...," suara Kakek Tangan Seribu bergetar saat memanggil Pandan Wangi.


Perlahan-lahan kepala Pandan Wangi terangkat naik. Matanya menatap wajah tua keriput di depannya.


"Anak bengal, selalu saja bikin susah orang tua!" dengus Kakek Tangan Seribu.


"Kek...!" suara Pandan Wangi tercekat ditenggorokan. Pandan Wangi melirik Rangga di sampingnya. Tampak sekali dalam raut wajahnya, kalau Pandan Wangi mengalami kegelisahan yang amat sangat. Rangga yang tidak tahu persoalannya, bergeser agak merenggang dari Pandan Wangi.


"Maaf, apakah kehadiranku mengganggu?" suara Rangga terdengar sopan.


"Hm, siapa kau, anak muda?" tanya Kakek Tangan Seribu.


"Dia teman, Kek," Pandan Wangi buru-buru menyahuti.


"Diam kau, Pandan Wangi!" bentak Kakek Tangan Seribu. "Aku tidak bertanya padamu!"


Pandan Wangi terdiam.


"Namaku Rangga," kata pendekar muda itu mengenalkan diri.


"Kenapa kau bisa bersama-sama cucuku?"


"Hanya kebetulan," sahut Rangga tetap sopan. "Secara kebetulan Pandan Wangi membutuhkan pertolongan."


"Anak nakal! Kau selalu saja bikin susah orang," dengus Kakek Tangan Seribu.


"Tapi, Kek...," Pandan Wangi akan menjelaskan, tapi suaranya nyangkut di tenggorokan.


"Kau lihat! Akibat ulahmu, Desa Banyu Biru jadi penuh setan dan iblis serakah. Kau tahu, apa akibatnya dari ulahmu, heh?!"


Pandan Wangi hanya tertunduk saja. Tidak sedikit pun membuka mulut. Mengangkat muka saja rasanya tidak berani lagi. Kakek Tangan Seribu kelihatan marah sekali padanya. Sampai-sampai wajah tua yang keriput itu kelihatan tegang dan memerah.


"Kalau sudah begini, apa yang akan kau lakukan?" dengus Kakek Tangan Seribu.


"Maaf, Kek," ucap Pandan Wangi lemah.


"Maaf..., maaf!" dengus Kakek Tangan Seribu kesal.


Rangga yang sama sekali tidak mengetahui duduk persoalannya jadi tambah kebingungan. Dia tidak mengerti sama sekali dengan hal yang diributkan Pandan Wangi dengan Kakek Tangan Seribu. Dan kelihatannya Pandan Wangi begitu takut dan patuh sekali pada kakek tua ini. Ada hubungan apa antara mereka berdua?


"Maaf, Kek. Boleh aku tahu, persoalan apa sebenarnya yang sedang terjadi? Dan Kakek ini apanya Pandan Wangi?" tanya Rangga sopan, tanpa sedikit pun bermaksud menyinggung perasaan.


Kakek Tangan Seribu memandang Rangga. "Mungkin pertanyaanku menyinggung perasaanmu. Tapi, bolehkah Kakek memberitahu sedikit," pinta Rangga.


"Sudah berapa lama kau kenal dengan Pandan Wangi?" tanya Kakek Tangan Seribu.


"Baru beberapa hari," jawab Rangga.


"Apa saja yang telah dikatakan bocah bengal ini?"


Tanpa sungkan-sungkan lagi, Rangga menceritakan pertemuannya dengan Pandan Wangi. Juga mengenai Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni yang kini sedang dicari-cari dan diperebutkan orang-orang kalangan rimba persilatan yang menyangka benda itu sudah berada ditangan Pandan Wangi. Kakek Tangan Seribu menggeretkan rahangnya. Matanya semakin tajam menatap Pandan Wangi yang hanya tertunduk saja. Rangga makin bingung, karena Kakek Tangan Seribu jadi semakin marah saja kelihatannya. Sungguh mati, dia tidak tahu ada apa di balik semua ini. Kemunculan Kakek Tangan Seribu sepertinya membawa persoalan baru sebelum yang lama selesai.


"Pandan..., Pandan. Kapan sikapmu bisa berubah? Kau bukan anak ingusan lagi, Pandan.... Kau sudah besar dan sudah jadi gadis dewasa," Kakek Tangan Seribu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maafkan Pandan, Kek," lirih dan pelan sekali suara Pandan Wangi.


"Ah, sudahlah! Selalu itu saja yang kau katakan. Maaf.... Maaf!


Besok, lusa, entah kapan lagi kau pasti bikin ulah. Nah, sekarang apa lagi yang akan kau lakukan? Tokoh-tokoh rimba persilatan sudah tumplek di Banyu Biru. Apa kau sanggup menghadapi mereka yang rata-rata berkemampuan di atasmu?"


Pandan Wangi tidak mampu berkata lagi. Dia hanya menunduk saja seperti tikus menunggu nasib di tangan kucing. Kakek Tangan Seribu mendekati Rangga. Tangannya menepuk-nepuk pundak Pendekar Rajawali Sakti.


"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawa cucuku," kata Kakek Tangan Seribu. Suaranya terdengar lunak.


"Sama-sama, Kek. itu juga cuma kebetulan saja, kok," sahut Rangga merendah.


"Ketahuilah, anak muda. Pandan Wangi itu cucuku sendiri. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak dia masih kecil. Aku menitipkannya pada Kakang Abiyasa untuk mendidiknya jadi seorang pendekar wanita yang tangguh. Sayang, Kakang Abiyasa terlalu cepat meninggal sebelum menurunkan seluruh ilmunya pada Pandan Wangi. Sejak itu, Pandan Wangi tinggal bersamaku di hulu sungai Banyu Biru. Tapi anak ini memang nakal, selalu saja bikin ulah macam-macam yang mengundang bahaya."


"Lalu, apa hubungannya dengan Kitab Naga Sewu?" tanya Rangga.


"Masalah ini, sebenarnya aku tidak menyalahkan Pandan Wangi sepenuhnya. Memang benar dia telah menolong seseorang dari tangan Empat Setan Jagal. Tapi kepergiannya ke puncak Bukit Setan, itu cuma bualannya saja! Apalagi kalau sampai menyebarkan kabar angin bahwa dia berhasil menemukan Kitab Naga Sewu. Huh! Orang-orang itu saja yang bodoh. Tidak mungkin Pandan Wangi menemukan Kitab Naga Sewu tanpa memiliki Pedang Naga Geni sekaligus. Kedua pusaka itu selalu berdampingan, tidak bisa dipisahkan satu sama lain."


"Jadi, kitab dan pedang pusaka itu masih tetap berada di puncak Bukit Setan?" tanya Rangga mulai mengerti permasalahannya.


"Mungkin, aku sendiri tidak tahu," sahut Kakek Tangan Seribu. "Kitab dan pedang itu memang pernah ada dan dimiliki oleh seorang pertapa. Mungkin Pandan Wangi sudah menceritakannya padamu."


"Betul"


"Nah, setelah pertapa itu mangkat, kedua benda pusaka itu menghilang entah kemana. Sampai sekarang tidak seorang pun yang tahu. Memang sudah lama para tokoh rimba persilatan mencari dua benda Itu. Tapi, tidak akan sampai begini jadinya kalau saja bocah nakal ini tidak menyebarkan kabar bohong!"

__ADS_1


Kakek Tangan Seribu menatap Pandan Wangi tajam.


"Rasanya persoalan ini tidak bisa diselesaikan begitu saja, Kek," kata Rangga agak bergumam.


"Memang benar, mau tidak mau aku harus menghadapi mereka. Tidak mungkin mereka mau mendengar kata-kata saja. Mereka semua sudah percaya kalau Kitab Naga Sewu sekarang berada di tangan Pandan Wangi," Kakek Tangan Seribu seolah mengeluh.


"Kita akan menghadapi bersama-sama, Kek," kata Rangga.


Kakek Tangang Seribu menatap Rangga tidak mengerti.


"Aku sudah menyebar berita kalau kedua benda itu masih ada diBukit Setan. Hal ini kulakukan untuk mengalihkan perhatian mereka terhadap Pandan Wangi. Bahkan aku juga menyebar kabar kalau dibukit itu sekarang sudah dikuasai oleh seorang pendekar yang kini tengah mempelajari kitab itu, dan menguasai Pedang Naga Geni."


"Gila! Bukit Setan itu bisa hancur!" Kakek Tangan Seribu terperanjat kaget.


"Terpaksa, untuk membatalkan niat mereka yang hanya memiliki kepandaian pas-pasan. Yah, mungkin hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berniat mencari kitab itu. Sudah kuperhitungkan, mereka yang tetap pada niatnya adalah orang-orang yang berkemampuan cukup tinggi."


"Lalu, bagaimana kalau mereka tidak menemukan pendekar karanganmu itu?"


"Mereka pasti menemukannya, Kek!"


"Mustahil!"


"Pendekar itu adalah aku sendiri."


"Apa...? Edan!"


"Memang rencana gila, tapi semua kemungkinan sudah kuperhitungkan dengan masak."


Kakek Tangan Seribu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia tidak bisa lagi berkata apa-apa. Semuanya sudah telanjur dan tidak mungkin bisa ditarik kembali. Dalam hati dikaguminya keberanian anak muda ini yang rela menempuh bahaya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya sendiri.


"Aku rasa sebaiknya persiapkan dirimu, anak muda. Mari kerumahku untuk beberapa hari," Kakek Tangan Seribu mengusulkan.


"Terima kasih," ucap Rangga.


"Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja ini sebagai tanda ucapan terima kasihku karena kau telah menyelamatkan nyawa cucuku yang bandel!" lagi-lagi Kakek Tangan Seribu melirik Pandan Wangi.


"Baiklah," desah Rangga setelah menerima kerlingan mata Pandan Wangi.


"Mari kita berangkat sebelum hari gelap."


Tiga hari Rangga tinggal di rumah Kakek Tangan Seribu. Selama itu, ia memantapkan jurus-jurusnya, terutama ilmu 'Pedang Pemecah Sukma' dan ilmu 'Cakra Buana Sukma'. Juga, dibantunya Pandan Wangi dengan petunjuk-petunjuk, sehingga gadis itu lebih menguasai lagi jurus-jurusnya.


Sementara Kakek Tangan Seribu selalu mengamati keadaan di Desa Banyu Biru. Hari ini, sejak matahari menampakkan diri, Rangga dan Pandan Wangi sudah berlatih sama-sama. Dan sebenarnya Rangga lebih banyak memberikan pemantapan jurus-jurus silat untuk Pandan Wangi. Mereka berlatih hampir setengah harian. Pandan Wangi kelihatan semakin mantap dengan jurus Kipas Mautnya.


Pendekar Rajawali Sakti itu melompat mundur dua langkah. Pandan Wangi menutup kipas saktinya, lalu mereka sama-sama menjura, membungkukkan badannya sedikit. Rangga melangkah mendekati sebuah pohon rindang, kemudian duduk bersandar dibawahnya. Pandan Wangi mengikuti dan duduk di samping pemuda tampan itu.


"Kau tidak berlatih dengan pedangmu, Kakang?" tanya Pandan Wangi.


"Tidak," sahut Rangga menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin menarik perhatian orang. Pedang Rajawali Sakti terlalu berbahaya, dan aku hanya mengeluarkannya jika diperlukan saja," Rangga menjelaskan.


Pandan Wangi hanya mengangguk-angguk saja. Dia memang sudah melihat kehebatan pedang Rajawali Sakti ketika Rangga bertarung melawan Iblis Mata Elang. Selama malang-melintang di rimba persilatan bersama Eyang Abiyasa, baru kali itu Pandan Wangi melihat pamor sebuah pedang yang sangat dahsyat.


"Pandan, terus-terang aku masih belum mengerti Kenapa kau sebarkan kabar bohong itu?" Rangg seolah bergumam. Matanya menatap lurus ke mata gadis itu.


"Cuma iseng," sahut Pandan Wangi seenaknya.


"Iseng...?" Rangga mengerutkan keningnya.


"Iya, soalnya sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan tokoh-tokoh rimba persilatan. Aku hanya ingin mengumpulkan mereka, dan melihat ilmu-ilmu kesaktian mereka saja."


"Gila! Apa sih untungnya?"


"Tidak ada."


"Lalu, kenapa kau lakukan?"


"Kan sudah kubilang, cuma iseng."


Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh dia tidak mengerti sikap Pandan Wangi yang edan-edanan ini. Melakukan pekerjaan yang hanya iseng saja, tapi akibatnya sangat fatal. Nyawa dipermainkan seperti tidak ada harganya sama sekali. Rangga memalingkan kepalanya ketika mendengar langkah-langkah kaki mendekat Juga Pandan Wangi, segera dia bangkit berdiri. Tampak Kakek Tangan Seribu berjalan cepat menghampiri mereka. Rangga segera berdiri begitu Kakek Tangan Seribu hampir sampai.


"Keadaan makin kacau. Desa Banyu Biru seperti gelanggang adu kesaktian," kata Kakek Tangan Seribu.


"Hebat...," desah Pandan Wangi.


"Hebat, gundulmu!" dengus Kakek Tangan Seribu. "Mereka saling bunuh, tahu!"


"Itu lebih baik, Kek. Berarti yang akan datang ke Bukit Setan harus berpikir dua kali. Paling-paling yang datang adalah yang merasa dirinya kuat saja," tenang sekali Pandan Wangi berkata.


"Huh! Seharusnya otakmu dikuras biar bersih!" gerutu Kakek Tangan Seribu.

__ADS_1


"Wah! Apakah otakku kotor?"


Rangga tersenyum-senyum saja melihat kakek dan cucu saling adu mulut. Sang kakek pemarah, cucunya senang menggoda. Memang seru jadinya jika bertemu. Rangga seperti melihat dua badut tengah beraksi diatas panggung. Kakek Tangan Seribu terus menggerutu. Dia menarik tangan Rangga dan membawanya pergi menjauh. Rangga mengerling pada Pandan Wangi yang tertawa mengikik kesenangan karena dapat menggoda kakeknya. Kakek Tangan Seribu mengajak Rangga ke tepian sungai Banyu Biru, jauh dari tempat Pandan Wangi berdiri dibawah pohon rindang.


"Ada apa, Kek?" tanya Rangga.


"Aku dapat kabar kalau Iblis Wajah Seribu, Pisau Terbang, Iblis Bayangan Merah, Tongkat Baja Hitam, dan beberapa tokoh sakti lainnya sudah mencapai lereng Bukit Setan," kata Kakek Tangan Seribu.


"Hm..., jadi mereka sudah melupakan Kipas Maut," gumam Rangga.


"Mungkin," jawab Kakek Tangan Seribu juga bergumam.


"Kalau begitu, sudah saatnya aku pergi ke puncak Bukit Setan."


"Kau harus hati-hati, Rangga. Mereka semua sangat sakti dan kejam. Terutama sekali, kau harus waspada terhadap Iblis Wajah Seribu. Dia punya ajian yang bisa membuat lawan menjadi lupa dan tunduk padanya. Hm...," Kakek Tangan Seribu memandang wajah Pendekar Rajawali Sakti itu. Sepertinya ada yang tengah dirisaukan.


"Ada apa, Kek? Kelihatannya ada yang dipikirkan?" tanya Rangga.


"Oh, tidak! Aku hanya berpesan padamu, hati-hati saja dengan Iblis Wajah Seribu," sahut Kakek Tangan Seribu.


"Apakah dia lebih tinggi ilmunya daripada yang lain?"


"Tidak, hanya saja dia punya satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Keistimewaannya itu yang harus kau perhatikan nanti."


Rangga masih belum mengerti, tapi tidak ingin banyak bertanya lagi. Paling tidak kakek tua ini telah memberikan satu peringatan padanya. Dia akan mengingat-ingat terus nama Iblis Wajah Seribu. Nama yang tampaknya sangat dikhawatirkan sekali oleh laki-laki tua ini.


"Sebaiknya kau berangkat nanti setelah Pandan Wangi pergi ke sungai," kata Kakek Tangan Seribu.


"Aku mengerti, Kek," sahut Rangga.


"Terima kasih, mereka bukanlah lawan Pandan Wangi. Anak itu masih mentah, masih perlu waktu banyak untuk terjun langsung dalam rimba persilatan."


Rangga tersenyum tipis. Kakek tua ini kelihatan galak dan pemarah, tapi sangat mencintai cucu satu-satunya itu. Rangga bisa mengerti, dan tidak ingin mengecewakan harapan Kakek Tangan Seribu. Meskipun tidak diucapkan, namun dari nada bicaranya Rangga sudah bisa mengetahui jelas maksudnya.


Sementara itu matahari terus merayap makin tinggi. Sinarnya terik, membias berkilauan di permukaan sungai Banyu Biru, bak intan permata gemerlap bertaburan indah. Rangga duduk di atas batu dengan kaki berendam dalam air sungai setelah Kakek Tangan Seribu pergi meninggalkannya. Pikirannya terus terpusat pada tokoh-tokoh sakti rimba persilatan yang kini sudah mencapai lereng Bukit Setan.


********************


Bulan bersinar penuh di malam ini. Kesunyiannya meliputi sekitar tepian hulu Sungai Banyu Biru. Cahaya pelita kecil meriap dipermainkan angin malam yang dingin. Cahaya yang tidak bisa menerangi seluruh isi pondok Kakek Tangan Seribu. Tapi cukup jelas membayangi sosok tubuh ramping di beranda pondok itu. Pandan Wangi menatap lurus ke depan. Matanya tidak berkedip memandang satu titik putih yang makin lama makin hilang ditelan kegelapan malam. Tampak titik-titik air bening bergulir di pipinya yang halus. Pandan Wangi tidak menyadari kalau sejak tadi Kakek Tangan Seribu sudah berdiri di belakangnya.


"Kakang Rangga...," desah Pandan Wangi pelan dan lirih.


"Pandan...," Kakek Tangan Seribu menyentuh pundak cucunya.


"Oh!" Pandan Wangi terkejut. Buru-buru dihapus air matanya dan berbalik.


"Kau menangis, cucuku?" lembut suara Kakek Tangan Seribu.


Pandan Wangi hanya mendesah berat, lalu mundur dan bersandar pada tiang beranda pondok kecil itu. Matanya kembali menatap ke arah titik putih yang telah hilang dari pandangannya. Lurus tatapan mata gadis itu menembus kegelapan malam.


"Apa yang kau tangisi, Pandan?" tanya Kakek Tangan Seribu tetap lembut suaranya.


Pandan Wangi tidak menjawab. Kakek Tangan Seribu menghela napas panjang. Dia sungguh tidak tahu kalau Pandan Wangi belum tidur. Tadi seharusnya kepergian Pendekar Rajawali Sakti ditahannya barang sejenak. Laki-laki tua itu bisa merasakan apa yang ada dalam hati cucu tunggalnya ini. Memang wajar kalau gadis seusia Pandan Wangi melirik seorang pemuda, apalagi pemuda tampan dan berkepandaian sangat tinggi seperti Pendekar Rajawali Sakti.


"Kau mencintainya, Pandan?" Kakek Tangan Seribu langsung menebak.


Pandan Wangi terkejut Matanya menatap lurus ke bola mata laki-laki tua di depannya. Sungguh mati, dan tidak disangka kalau kakeknya bisa menebak perasannya dengan tepat. Dia memang tidak bisa menipu hatinya sendiri, kalau rasa cintanya telah tumbuh subur saat pertemuannya yang pertama kali dengan Rangga. Hanya keangkuhan dan naluri seorang wanita saja yang membuatnya mampu bertahan untuk tidak memperlihatkan, apalagi mengungkapkan cinta di depan pemuda itu.


"Kau sudah dewasa, cantik dan punya sedikit bekal dalam hidup. Aku tidak akan melarang. Hal itu memang wajar dan harus terjadi pada semua makhluk hidup. Kau harus bersyukur karena dalam dirimu masih ada api cinta yang bisa tumbuh."


"Aku..., aku tidak mencintainya! Siapa bilang aku jatuh cinta?" Pandan Wangi menyangkal keras.


"Bisa saja bibirmu berkata begitu, tapi hati dan matamu berkata lain. Aku juga pernah muda dan pernah merasakan seperti yang kau alami sekarang."


"Aku tidak mencintainya, Kek. Dia cuma...," Pandan Wangi tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi. Bibirnya memang menyangkal keras, tapi hatinya memang berkata lain.


Kakek Tangan Seribu tersenyum penuh arti. Dia melangkah dan meraih pundak gadis itu. Kemudian membawanya berjalan-jalan dibawah siraman cahaya sang dewi malam. Pandan Wangi mengikuti saja di samping kakeknya. la tidak menggubris ketika tangan laki-laki tua itu merangkul pundaknya. Malah dengan manja gadis itu meletakkan kepalanya di bahu Kakek Tangan Seribu. Mereka berjalan menuju tepian Sungai Banyu Biru.


"Ayah ibumu adalah sepasang pendekar yang sangat tangguh. Pada masanya mereka dikenal sebagai Sepasang Pendekar Banyu Biru. Aku sangat mencintai mereka, terlebih lagi ketika kau lahir, Pandan. Sayang Yang Maha Kuasa lebih cepat meminta sebelum kau sempat mengenali wajah kedua orang tuamu," kata Kakek Tangen Seribu pelan.


Pandan Wangi hanya diam mendengarkan. Sudah sering hal ini diceritakan. Banyu Biru memang tempat kelahiran seluruh keluarganya, termasuk Pandan Wangi. Hanya Kakek Tangan Seribu yang selalu berpetualang, merambah rimba persilatan. Laki-laki tua ini baru menetap di Banyu Biru setelah kematian Eyang Abiyasa, ayah dari ibu Pandan Wangi.


"Sekarang cuma kau satu-satunya keturunanku Pandan. Kurasa wajar jika aku berharap bila kau mendapatkan seorang suami yang dapat melindungi mu dari segala macam keganasan dunia," lanjut Kakek Tangan Seribu.


"Kek...," tiba-tiba Pandan Wangi berhenti melangkah.


Kakek Tangan Seribu juga berhenti melangkah! "Biarkan saja, Pandan," bisik Kakek Tangan Seribu.


Pandan Wangi kembali melangkah mengikuti kakeknya. Telinganya tetap terpasang tajam menangkap langkah-langkah kaki orang lain yang ringan bagai tidak menyentuh tanah, tengah mengikuti mereka. Dan Kakek Tangan Seribu juga sudah mengetahui hal itu. Mereka memang tengah diintai.


"Awas, Pandan...!" tiba-tiba Kakek Tangan Seribu berteriak keras.


"Hiya...!"

__ADS_1


********************


__ADS_2