Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Manusia Bertopeng Hitam Bag. 4


__ADS_3

Resi Maespati mencegah langkah Santika yang baru pulang ketika pembicaraan di beranda rumah itu usai. Adik Banulaga satu-satunya itu terkejut melihat Resi Maespati yang berdiri di depannya. Buru-buru dia berlutut memberi hormat pada gurunya. Resi Maespati menyentuh pundak Santika dan memintanya berdiri.


"Kapan Eyang Resi datang?" tanya Santika.


"Siang tadi," sahut Resi Maespati tenang.


"Maaf, aku tidak tahu kalau Eyang mau datang sini. Aku tidak bisa menyambut," kata Santika.


"Tidak apa, aku datang atas undangan kakakmu."


"Kakang Banulaga?" Santika mengernyitkan alisnya.


"Untuk apa Kakang Banulaga meminta Eyang datang?"


"Mencari pembunuh ayahmu."


Santika terdiam. Matanya menatap lurus pada Resi Maespati, lalu tertunduk dalam-dalam. Sudah lima hari ayah mereka dikuburkan. Dan selama itu tidak ada lagi kejadian yang meminta korban. Kenapa baru sekarang Banulaga mau mencari pembunuhnya? Bukankah itu sudah terlambat? Santika jadi tak mengerti dengan sikap kakaknya. Tiga hari setelah kematian ayah mereka, Banulaga langsung mengangkat diri sebagai penggantinya tanpa mengajaknya berunding terlebih dahulu.


Dan kini dia mengundang guru mereka untuk mencari pembunuhnya. Santika melirik ke dalam, tampak beberapa orang sedang duduk berbincang-bincang di ruangan tengah. Santika tahu siapa mereka, kecuali satu yang tidak dia kenal. Orang yang mengenakan pakaian hijau lumut dengan tongkat berkepala ular di tangannya.


"Mereka semua diundang Banulaga," kata Resi Maespati seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan Santika saat ini.


"Siapa orang yang bertongkat ular itu?" tanya Santika.


"Si Raja Ular, kakaknya Setan Mata Satu."


"Hm...," Santika menggumam tak jelas.


"Aku mau bicara sedikit denganmu, Santika," kata Resi Maespati.


Santika tak menolak ketika Resi Maespati mengajaknya menuju ke arah samping rumah. Mereka lierjalan beriringan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dan baru berhenti melangkah setelah jauh berada di bagian belakang rumah yang banyak ditumbuhi pepohonan dengan cahaya yang menerangi.


"Seharian kau tak berada di rumah. Ada urusan apa?" Resi Maespati membuka suara lebih dulu.


"Bosan," sahut Santika acuh.


"Bosan? Lantas ke mana saja kau pergi seharian?"


"Ke mana saja, asalkan tidak melihat Banulaga."


"He! Kau ada masalah apa dengan kakakmu?" Resi Maespati terkejut .


"Aku tak mau ribut dengan saudaraku sendiri. Rasanya lebih baik menghindar daripada harus membunuhnya," ringan sekali Santika menjawab.


Resi Maespati semakin terkejut. Sama sekali dia tidak tahu kalau dalam hati Santika tersimpan bara yang sewaktu-waktu bisa berkobar besar.


"Kau mau mengatakan persoalanmu padaku, Santika?" pinta Resi Maespati.


"Mungkin, tapi percuma saja aku mengatakannya. Eyang Resi pasti lebih memihak Kakang Banulaga daripada aku."


"Kenapa kau berkata begitu?"


"Karena aku tidak bisa seperti Ayah atau Banulaga. Aku bukan seperti mereka yang senang menghancurkan hidup wanita, yang senang mengadu domba dan melihat penderitaan orang lain bagai menonton pertunjukan. Eyang Resi bisa melihat sendiri, bagaimana kehidupan penduduk yang setiap hari membanting tulang menggarap sawah ladang. Semuanya hanya untuk membayar hutang yang mencekik leher. Belum lagi mereka menjual tanah dan sawah ladang dengan harga yang tidak pantas, dan terpaksa menggarapnya dengan upah yang tidak memadai. Apakah aku salah kalau aku ingin merombak semua yang telah dilakukan ayah berpuluh-puluh tahun?" begitu bersemangatnya Santika berbicara, menumpahkan semua isi hatinya.


Resi Maespati terdiam mendengar tutur kata yang teratur dan penuh semangat. Sedikitpun dia tidak menyalahkan Santika, tapi memang harus diakui kalau dirinya tidak menginginkan Santika merombak yang sudah ada. Sejak masih kecil dan belajar ilmu olah kanuragan, Santika memang sudah menampakkan pola berpikir dan tingkah laku yang berbeda dengan prinsipnya. Dan sekarang semuanya terbuka jelas.


"Maaf, Eyang Resi. Aku tidak bisa mendukung semua yang akan Kakang Banulaga lakukan. Aku telah memilih jalan hidupku sendiri, ketenangan dan kedamaianlah yang aku inginkan," kata Santika seraya berlalu.

__ADS_1


Resi Maespati hanya bisa memandangi punggung Santika tanpa dia bisa mencegahnya. Sementara sepasang mata lainnya turut memandang kepergian Santika dan Resi Maespati yang masih berdiri mematung dari rerimbunan pohon yang tak jauh dari dua orang yang baru dilihatnya selesai berbicara.


"Dari mana saja, Eyang?" tegur Banulaga begitu kaki Resi Maespati menginjak beranda rumah.


"Jalan-jalan menghirup udara segar," sahut Resi Maespati terus melangkah.


"Aku lihat tadi Santika masuk ke kamarnya. Apakah Eyang Resi sudah menemuinya?" tanya Banulaga seraya mengikuti langkahnya.


"Sudah," sahut Resi Maespati pendek.


"Sejak kematian ayahanda, dia banyak berubah," gumam Banulaga pelan.


"Kau tidak pernah menanyakannya?"


"Sudah, tapi dia tidak pernah mau menjawab."


"Hm...," Resi Maespati cuma bergumam.


"Malam sudah sangat larut Sebaiknya Eyang istirahat saja. Kamar sudah disiapkan untuk Eyang," kata Banulaga sambil menunjuk sebuah kamar yang pintunya masih terbuka.


Resi Maespati tidak berkata apa-apa, dan langsung melangkah ke kamarnya. la tersenyum begitu tangannya membuka pintu. Tampak sesosok tubuh ramping tergolek di atas pembaringan. Tubuh yang indah itu hanya tertutup selembar kain sutra merah muda yang halus dan tipis. Keindahan dan lekuk-lekuk tubuhnya begitu jelas terlihat di keremangan cahaya pelita. Tubuh yang ramping dan sintal itu begitu menggairah kan. Resi Maespati menutup pintu dan...


********************


Suara jeritan melengking begitu jelas terdengar. Disusul pekikan tertahan, lalu..., buk! Seperti ada sesuatu yang terjatuh ke tanah. Suara-suara gaduh dan teriakan pun saling susul menyusul. Orang-orang seisi rumah Banulaga pun berhamburan mencari sumber suara yang mengagetkan, yang ternyata dari kamar Banulaga.


"Banulaga! Ada apa? Apa yang terjadi?" terdengar suara Resi Maespati.


"Akh!" kembali terdengar suara pekikan tertahan dari dalam kamar.


Seketika itu juga pintu kamar hancur berantakan disusul dengan berlompatannya Resi Maespati, Iblis Selaksa Racun, Setan Mata Satu dan si Raja Ular ke dalam kamar. Tampak Banulaga terduduk di pinggir ranjang dengan tangan kiri memegangi bahu kanannya. Darah merembes keluar dari sela-sela jari.


"Bagaimana?" tanya Setan Mata Satu.


"Dia seperti malaikat. Cepat sekali menghilang," sahut Resi Maespati.


Laki-laki tua yang berwajah lusuh itu melirik ke arah pembaringan. Tampak sebuah belati tertancap di leher perempuan muda yang tubuhnya setengah telanjang. Iblis Selaksa Racun cepat tanggap. Dicabutnya belati itu, lalu diamatinya sesaat.


"Beracun," dengusnya.


Dia bergegas menghampiri Banulaga dan memeriksa lukanya. Keningnya berkerut melihat warna kebiruan di sekitar goresan luka yang memanjang. Iblis Selaksa Racun cepat menekan luka itu dengan tangannya. Banulaga menjerit keras merasakan bahunya yang terasa panas membakar. Dia mencoba bertahan sekuat tenaga, tapi kemudian pingsan bersamaan dengan tangan Iblis Selaksa Racun terangkat. Darah merah kebiru-biruan keluar deras dari goresan lukanya yang memanjang. Iblis Selaksa Racun bergumam tak jelas.


Dia mengeluarkan sebungkus bubuk putih dari saku baju, lalu tangan kirinya menaburkan bubuk itu tepat di bagian luka. Asap tipis mengepul kemudian terlihat lalu perlahan-lahan luka itu mengering dan darah berhenti mengalir. Iblis Selaksa Racun mendesah panjang sambil memasukkan kembali sisa bubuk itu ke dalam saku bajunya.


"Racun yang hebat. Sangat cepat kerjanya," gumam Iblis Selaksa Racun.


"Beruntung Banulaga punya kekuatan tubuh yang lumayan, hingga nyawanya bisa tertolong."


"Apakah sudah ke luar semua racunnya?" tanya Setan Mata Satu.


"Sudah, cuma lukanya tidak bisa hilang."


Beberapa saat keheningan mencekam seisi kamar Itu Tidak seorang pun yang membuka suara. Mereka tengah menelusuri jalan pikirannya masing-masing tentang pembunuh misterius yang bergerak cepat dan tak bisa dihadangnya. Mereka punya pandangan yang sama meski tak terucapkan.


"Kau bisa melihat wajahnya, Kakang Maespati?" tanya Iblis Selaksa Racun.


"Tidak," sahut Maespati.

__ADS_1


"Seluruh mukanya tertutup selubung hitam."


"Hm...," ketiga orang lainnya bergumam bersamaan.


********************


Munculnya manusia bertopeng hitam yang misterius itu membuat orang-orang Banulaga bertambah geram. Apalagi ketika ditemukannya mayat Sarkam yang mati terbunuh dengan kepala pecah. Sarkam yang pernah bersama Japra diutus Banulaga untuk menemui Resi Maespati dan ketiga tokoh lainnya itu tergeletak di samping kandang kuda tuannya.


Banulaga merasa seperti dipermainkan dan dipecundangi, lalu hampir semua centeng dan anak buahnya menjadi korban amarahnya yang memuncak. Banulaga dan empat tokoh yang menjadi tamunya tak menemui apa-apa yang bisa dijadikan petunjuk dari tubuh Sarkam. Japra yang biasanya berdua dengan Sarkam pun mengaku pada tuannya kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia memang sedang tidak mendapat giliran jaga ketika temannya itu mati terbunuh.


Berbeda dengan kejadian yang dialami Banulaga, kali ini tidak ada satu belati pun yang menancap pada tubuh Sarkam. Tapi kematian Sarkam yang hanya selisih dua malam berselang membuat Banulaga dan orang-orangnya tetap yakin kalau dua peristiwa terakhir ini semuanya dilakukan oleh si Manusia Bertopeng Hitam.


Resi Maespati dan ketiga tokoh lainnya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menggembleng Banulaga dengan ilmu-ilmu yang mereka miliki dan menjadi andalannya. Mereka yakin benar, kalau si Manusia Bertopeng Hitam akan datang kembali untuk melenyapkan Banulaga. Seorang pembunuh berilmu tinggi dan berdarah dingin tentu tidak akan berbuat setengah-setengah untuk menghabisi setiap korban yang diincarnya.


Sementara kakaknya terus mengasah ilmunya, Santika nyaris tak pernah kelihatan batang hidungnya. Dini hari menjelang fajar, dia sudah menggebah kudanya dan baru pulang ke rumah saat Banulaga dan tamu-tamunya tengah tertidur lelap. Banulaga yang sebenarnya merasa tidak enak pada tamu-tamunya atas sikap adiknya ini tidak lagi peduli. Dendam kesumatnya pada si Manusia Bertopeng Hitam juga membuat otaknya tak lagi dijejali oleh bayangan Mega Lembayung dan si Pendekar Rajawali Sakti.


Dua puluh satu hari pun berlalu sejak kejadian yang menimpa Banulaga. Resi Maespati dan ketiga tokoh lainnya merasa sudah cukup berbuat banyak untuk menurunkan semua ilmu dan kepandaiannya pada putra sulung Badaraka itu. Dan kini, mereka seperti sudah tidak sabar untuk membekuk si Manusia Bertopeng Hitam.


Malam sudah menjelang larut, namun Banulaga dan keempat tamu yang sudah menjadi gurunya itu masih duduk-duduk di beranda tengah. Mereka sepertinya tengah merundingkan rencana-rencana yang akan mereka lakukan.


"Banulaga, bagaimana dengan orang-orangmu? Maksudku, yang kau tugasi untuk mengawasi rumah si Karta dan gerak-gerik adikmu, Santika?" tanya Resi Maespati.


"Hmmm...," Banulaga bergumam. "Pendekar Rajawali Sakti seperti angin, lenyap tidak berbekas... langkah Santika pun sulit diraba," katanya pelan.


"Sejak kematian Sarkam pun tidak ada korban lagi..., kita kehilangan jejak si Manusia Bertopeng Hitam yang misterius itu," Setan Mata Satu berucap, menyambung kata-kata Banulaga.


"Aku kira...," Iblis Selaksa Racun angkat bicara, "Selagi kita semua masih berada di sini, Manusia Bertopeng Hitam itu tidak akan muncul lagi. Paling tidak untuk sementara."


"Lantas, apa usulmu?" tanya si Raja Ular.


"Rencana kita tetap, jangan biarkan Manusia Bertopeng Hitam itu mengajak kucing-kucingan..., lalu melecehkan wibawamu di mata orang-orang desa ini, Banulaga," Iblis Selaksa Racun mengalihkan perhatiannya pada Banulaga sesaat, lalu kembali berujar, "Tapi sebaiknya kita berpencar.... Kita harus membagi tempat dan tugas kita masing-masing, lalu menyatu pada sasaran yang kita tuju..." Iblis Selaksa Racun berkata tenang mengajukan usulnya.


Semuanya lalu terdiam untuk beberapa saat lamanya. Sementara sepasang telinga yang tak jauh dari beranda rumah itu pun seperti menunggu apa yang akan dibicarakan lagi.


"Japra!" suara Banulaga memecahkan heningnya suasana beranda rumah itu. Yang dipanggil segera menghampiri sambil membungkukkan badannya.


"Kau periksa seluruh ruangan dalam, lalu periksa sekeliling rumah, semua teman-temanmu harus ada di tempatnya. Lalu lakukan apa yang aku perintahkan padamu siang tadi…, mengerti?"


"Baik, tuan…" Japra lalu bergegas meninggalkan tempat Banulaga dan keempat tokoh sakti itu berkumpul.


Sementara di balik misainya, bibir Resi Maeaspati menyunggingkan senyuman, dia tahu apa yang dimaksudkan Banulaga pada Japra. Anak Badaraka ini memang persis bapaknya, tidak mungkin tahan berhari-hari tanpa perempuan, dan dia menyuruh Japra untuk menyediakannya.


Sepeninggal Japra, pembicaraan di beranda rumah pun berlanjut ketika Resi Maespati membuka suaranya yang tenang dan berat


"Bukan aku tidak percaya dengan orang-orangmu, Banulaga..., tapi aku rasa, sebaiknya kita bicara di ruangan dalam saja. Paman Iblis Selaksa Racun tidak keberatan, kan?" Resi Maespati mengakhiri ucapannya sambil menoleh ke arah Iblis Selaksa Racun, yang ditatap pun mengangguk kecil. Iblis Selaksa Racun bangkit diikuti yang lainnya.


Pembicaraan mereka di ruangan dalam nyaris tidak terdengar. Mereka berbicara satu sama lain dengan lirih dan tekanan yang datar Dan sepasang telinga lainnya pun terpaksa merapatkan tubuhnya ke dinding ruangan dalam. Pembicaraan mereka baru usai ketika malam telah begitu larut. Wajah-wajah yang tampak lelah itu pun segera memasuki kamarnya masing-masing, lalu terdengar suara pintu tertutup saling susul menyusul.


Tidak lama setelah Banulaga dan keempat tamu dan gurunya berangkat ke peraduan, terdengar suara derap langkah kaki kuda yang semakin lama semakin jelas terdengar. Banulaga yang sudah berhasrat untuk menggauli tubuh montok yang ada di hadapannya, tidak lagi peduli pada kehadiran Santika yang memacu kudanya sampai di rumah. Tarsa, salah seorang pembantu setianya segera menghampiri Santika yang baru turun dari kudanya, lalu diterimanya tali kekang kuda untuk ditambatkan.


"Hm..., terima kasih, Tarsa. Aku selalu merepotkanmu pada saat orang lain sedang nyenyak tidur," sopan sekali ucapan Santika. Tarsa tersenyum kecil sambil membungkukkan badan.


Santika lalu melangkahkan kakinya menuju ke bagian belakang rumah lewat arah samping, seperti biasanya dia lakukan jika pulang ke rumah sudah larut malam. Sesosok bayangan hitam segera berkelebat cepat begitu menyadari kehadiran Santika. Beruntung Santika tidak sempat memergokinya. Bayangan hitam itu lenyap ditelan kegelapan malam.


Di pembaringannya Santika tidak bisa langsung tertidur. Pikiran dan benaknya menerawang jauh... membayangkan kehidupan penduduk di Desa Malayasati yang sempat dia amati. Kehidupan mereka bagaikan roda pedati yang tak bisa berputar karena terperosok jalanan yang berlubang. Penderitaan mereka karena keperluan sehari harinya yang sulit didapat, menjadi semakin bertambah manakala mereka ingat akan kewajibannya membayar hutang-hutang dengan bunga yang mencekik leher pada orang-orang suruhan Banulaga.


Dan melihat kehadiran Santika dengan pembawaannya yang tenang dan menyiratkan kedamaian, penduduk seperti melihat keadaan yang bertolak belakang dan sulit mereka mengerti. Sungguh suatu keadaan yang kontras jika mereka membandingkan sikap Banulaga, yang tidak lain kakak kandung Santika sendiri. Banulaga dan kaki tangannya tidak segan-segan menghajar mereka dengan cambuk bila mereka tidak bisa membayar hutangnya yang sudah lewat tempo.

__ADS_1


Penduduk seperti tidak percaya manakala mereka melihat sendiri Santika yang tak segan-segan membagikan beberapa bonggol uang untuk mereka. Mereka seperti mulai melihat sinar kehidupan yang akan merubah nasib mereka menjadi lebih baik. Apalagi beberapa hari belakangan ini Banulaga dan orang-orangnya tidak pernah muncul lagi menggedor rumah-rumah mereka. Penduduk tidak tahu kalau selama ini Banulaga dipusingkan oleh kehadiran Manusia Bertopeng Hitam, juga Pendekar Rajawali Sakti yang telah mempecundanginya. Dan kini dia hendak menuntut balas...


********************


__ADS_2