Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Sepasang Walet Merah Bag. 5


__ADS_3

Klabang Hijau memutar-mutar tongkatnya yang berwarna hijau. Tidak pakai basa-basi lagi, segera dikeluarkannya jurus Tongkat Sakti Membelah Badai. Putaran tongkat yang cepat menimbulkan suara menderu. Hawa panas mulai menyebar ke sekitarnya. Semakin lama semakin menyengat.


Sementara Nenek Sumbing masih berdiri tegak menatap tajam putaran tongkat itu. Tampaknya tidak gentar dan terpengaruh oleh hawa panas yang semakin menyengat. Padahal daun-daun pepohonan di sekitarnya sampai berguguran hingga berwarna kuning kering.


"Jangan gunakan hawa murni," bisik Rangga.


Sepasang Walet Merah telah menyalurkan hawa murni menjadi terkejut mendengarnya. Segera saja mereka hentikan penyaluran hawa murni itu.


"Kesinilah. Pegang tanganku!" bisik Rangga lagi.


Jaka yang sejak semula sudah menduga kalau Rangga tidak bermaksud buruk, langsung menarik tangan Wulan dan membawanya mendekati Rangga. Cepat dipegangnya tangan Pendekar Rajawali Sakti. Seketika tubuh Jaka teraliri hawa dingin yang nyaman, sehingga udara panas yang menyengat hilang begitu saja.


"Pegang tanganku, sebelum kau terkena akibatnya!" perintah Rangga pada Wulan.


"Tidak apa-apa, Adik Wulan. Kau akan selamat," lembut suara Jaka


Wulan masih kelihatan ragu-ragu. Tapi udara panas kian menyengat kulit, membuatnya harus melangkah juga ke samping kanan Pendekar Rajawali Sakti. Lebih-lebih ketika melihat Jaka segar setelah tangannya menggenggam tangan Rangga


Tiga orang itu akhirnya saling berpegangan tangan. Sekejap saja hawa panas yang menyengat di tubuh Wulan berganti menjadi sejuk dan nyaman. Hati Wulan kini malah menjadi malu sendiri karena telah menyangka buruk pada Rangga. Mendadak saja tangan Wulan malah menjadi dingin karena digenggam terus oleh seorang laki-laki tampan. Baru kali ini tangannya digenggam sedemikian rupa sehingga mendadak saja dadanya berdetak keras tidak beraturan. Ganggaman seorang laki-laki tampan lagi asing yang menggetarkan itu.


Selama hidupnya, laki-laki yang dekat hanya Jaka. Tidak heran kalau dia jadi salah tingkah ketika tangannya digenggam laki-laki lain. Wulan bagaikan sekuntum bunga yang belum pernah terjamah oleh tangan iseng manusia. Dia bagaikan bunga yang belum tahu bentuknya kumbang. Gadis itu pun memejamkan matanya untuk menghilangkan segala macam perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.


Sementara itu Klabang Hijau semakin hebat memutar tongkatnya. Putaran itu membentuk sinar hijau yang melingkar dan mengeluarkan kilat yang menyambar-nyambar. Seperti bermata saja, ujung kilat itu menyambar tubuh Nenek Sumbing Tentu saja hal ini membuat si nenek tua berlompatan ke sana kemari, menghindari sambaran kilat.


"Setan! Terima sabuk saktiku!" umpat Nenek Sumbing merasa kewalahan menghadapi serangan Klabang Hijau.


Selesai dengan kata-katanya, Nenek Sumbing melepaskan sabuk hitamnya. Dengan seketika dikebutkan sabuk itu beberapa kali. Suara menggelegar bagai guntur terdengar memekakkan telinga. Ujung sabuk hitam itu selalu menghalau arah kilat yang menyambar ke arahnya.


"Hiya...!" Nenek Sumbing tiba-tiba menjerit tinggi.


Seketika itu juga tubuhnya melesat tinggi ke angkasa sambil berjungkir balik tiga kali. Tubuh itu langsung meluncur cepat ke bawah, tepat ke arah kepala Klabang Hijau. Bersamaan dengan itu, tangannya bergerak cepat mengecutkan sabuk hitamnya.


Trak!


Ujung sabuk menembus lingkaran hijau yang menutupi seluruh tubuh Klabang Hijau. Hal ini membuat serangan Klabang Hijau menjadi berantakan. Dalam sekejap lingkaran yang menyelimuti tubuhnya buyar. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Nenek Sumbing. Dengan cepat diayunkan kakinya ke arah dada lawan.


"Uts!"


Klabang Hijau langsung menyabet kaki itu dengan tongkatnya. Namun secepat kilat Nenek Sumbing menarik kakinya. Dengan gerakan yang tak terduga Nenek Sumbing mengebutkan sabuknya ke kepala lawan. Untunglah Klabang Hijau cepat menarik kepalanya ke belakang, sehingga ujung sabuk lewat di depan mukanya


Pertarungan terus berlangsung berganti-ganti jurus, saling sambung tanpa henti. Tampaknya dalam jurus-jurus awal mereka masih kelihatan seimbang. Pada saat yang sama, Jaka mengalihkan pandangannya ke Goa Larangan. Matanya tiba-tiba saja mendelik ketika melihat lima orang sedang mendekati mulut goa.


"Wulan...," bisik Jaka.


"Aku sudah tahu. Ayo kita halangi," potong Wulan cepat.


Tanpa banyak bicara lagi, Sepasang Walet Merah segera melepaskan genggamannya pada Rangga, langsung melompat cepat ke arah Goa Larangan. Mereka tidak lagi menghiraukan pertarungan dua tokoh sakti itu. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti seperti acuh saja terhadap Sepasang Walet Merah. Dia dengan seksama memperhatikan setiap pertarungan itu.


"Berhenti!" teriak Wulan melengking.


Teriakan yang disertai tenaga dalam, membuat terkejut lima orang yang berpakaian dengan warna berbeda itu. Mereka adalah Lima Golok Neraka. Mereka semakin terkejut ketika melihat Sepasang Walet Merah tiba-tiba saja telah meluruk dan berdiri di depan mulut goa. Di tangan mereka telah tergenggam senjata tombak bermata dua.


"Sungguh beruntung sekali bertemu langsung dengan kalian," kata Baga Biru, salah satu dari Lima Golok Neraka yang tertua.


"Huh! Kalian orang-orang tidak tahu diri! Datang hanya untuk merusak peristirahatan orang!" dengus Wulan.


"Kalau begitu, serahkan saja Cupu Manik Tunjung Biru pada kami," kata Baga Biru lagi.


"Langkahi dulu mayat kami!" seru Wulan menantang.


Baga Biru menjentikkan dua jarinya. Seketika itu juga empat orang lainnya serentak mencabut senjata masing-masing yang berupa golok besar dengan sebelah sisinya bergerigi. Senjata-senjata itu berkilatan tertimpa sinar matahari. Baga Kuning dan Baga Ungu menggeser posisinya berada di sebelah kiri Baga Biru. Sedangkan Baga Merah dan Baga Putih mengambil tempat di kanannya.


"Hati-hati, Wulan. Tampaknya mereka punya kepandaian cukup tinggi," bisik Jaka. Jika dilihat dari cara mereka mengambil posisi saja, sudah terlihat kalau ilmu peringan tubuh mereka tidak rendah. Kaki-kaki mereka seperti tidak bergerak, tapi tiba-tiba saja telah siap dengan posisi masing-masing.


Wulan tidak bersuara. Matanya tajam menatap pada lima orang yang sudah siap dengan senjata di tangan. Sedikit pun hatinya tidak merasa gentar. Setinggi apa pun tingkat kepandaian lawan, harus dipertahankan hak miliknya sampai titik darah penghabisan.


"Hiyaaat...!" tiba-tiba Wulan memekik keras.


Seketika itu juga tombaknya berpindah ke tangan kiri, sedang tangan kanannya bergerak cepat Cahaya keperakan berkelebat keluar dari tangan kanan Wulan. Ternyata gadis itu telah menyerang lebih dulu dengan melemparkan bintang-bintang besi bersegi delapan.


Cring! Cring! Cring!


Lima Golok Neraka mengebut-ngebutkan senjatanya menangkis bintang-bintang besi yang meluncur cepat mengancam jiwa. Wulan terus menghujani lima orang itu dengan senjata rahasianya. Namun sampai sejauh ini, tak satu pun senjata itu menyentuh kulit lawan. Semuanya rontok di tengah jalan.


"Hanya sampai di sinikah kepandaian murid Suralaga?" Baga Biru mengejek.


"Kurobek mulutmu, *******'" Wulan seperti kalap mendengar ejekan yang membawa-bawa nama Eyang Resi Suralaga.


Setelah berkata demikian, Wulan langsung mencelat menerjang Baga Biru. Ujung tombaknya berkelebat mengancam leher.


Trang!


Baga Biru menangkis serangan itu dengan mengayunkan goloknya. Wulan mencelat lagi ke belakang sejauh satu batang tombak. Tangannya terasa kesemutan ketika ujung tombaknya berbenturan dengan golok Baga Biru. Padahal dia menyerang dengan mengerahkan tenaga dalam.


Itu baru satu dari Lima Golok Neraka. Bagaimana jika semuanya bergabung bersatu padu? Ada sedikit rasa gentar terselip di hati Wulan. Dia sadar kalau lawannya mempunyai tingkat kepandaian yang jauh di atasnya. Ternyata hal ini pun dirasakan oleh Jaka. Segera dia melompat menghampiri Wulan.


"Kita hadapi bersama. Adik Wulan Tahan emosimu," kata Jaka setengah berbisik.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Wulan segera memegang tangan Jaka. Mereka langsung mengerahkan jurus 'Tapak Geni'. Melihat Sepasang Walet Merah telah siap akan menyerang lagi, Baga Biru memberi isyarat pada yang lain. Serentak mereka merapat dan menyatukan ujung-ujung golok.


"Tapak Geni...!" Wulan dan Jaka berteriak bersamaan.


Seketika itu juga mereka mendorong tangan ke depan. Dari telapak tangan mereka meluncur sinar merah ke arah Lima Golok Neraka.


Dalam waktu yang bersamaan, dari ujung-ujung golok yang menyatu, keluar seberkas sinar bagai kilat. Pada satu titik, kedua sinar itu saling bertemu. Ledakan keras pun terjadi disertai percikkan bunga api. Belum tuntas suara ledakan keras tadi, kembali Sepasang Walet Merah mengerahkan ajiannya. Lima Golok Neraka pun tak kalah sigap untuk menyambut serangan itu.


Suara ledakan kembali terdengar beruntun. Lima Golok Neraka mulai bergerak maju sambil terus menyatukan ujung goloknya. Semakin lama jarak mereka semakin dekat saja. Ketika jarak mereka hanya tinggal setengah tombak lagi, tiba-tiba Baga Biru melepaskan diri seraya mengibaskan goloknya.


"Awas!" teriak Jaka sambil melepaskan pegangannya pada tangan Wulan.


Sepasang Walet Merah melompat ke samping menghindari tebasan golok Baga Biru. Tanpa diduga sama sekali, Baga Biru melompat ke arah Jaka seraya menebaskan goloknya. Jaka yang belum siap benar, sedapat mungkin menangkis serangan itu yang mengancam iganya dengan tombak pendek bermata dua.


Trang!


Serangan cepat Baga Biru memang berhasil dipatahkan, tetapi dengan cepat Baga Biru melayangkan kakinya.


Buk!


Tanpa dapat dihindari lagi, kaki itu bersarang telak di dada Jaka. Tubuh Jaka terdorong ke belakang sejauh dua tombak. Baga Biru tidak memberi kesempatan lawannya untuk bernapas. Dia langsung melompat sambil berteriak nyaring. Jaka yang masih sempoyongan dengan dada sesak, terkejut mendapati lawannya sudah kembali menyerang Tapi belum sempat dia berbuat sesuatu, tiba-tiba...


Cras!


Ujung tombak Baga Biru menggores dada Jaka. Darah segar keluar deras dari luka yang dalam dan memanjang. Kembali Baga Biru mengirimkan satu tendangan keras. Buk! Tendangan itu tepat bersarang di luka yang diderita Jaka.


"Akh!" Jaka memekik pendek dan tertahan. Tubuhnya tersuruk ke belakang dan membentur pohon. Jaka meluruk roboh di tanah. Darah semakin mengalir deras dari dadanya yang terluka. Dalam keadaan kritis, Jaka masih berusaha untuk bangkit. Matanya berkunang-kunang. Bibirnya meringis menahan sakit yang amat sangat. Seluruh tulang dadanya terasa remuk.


"Kakang...!" Wulan memekik cemas melihat keadaan Jaka yang kritis.


Dengan dada penuh diliputi berbagai perasaan, gadis itu berlari ke arah Jaka yang tertunduk bersandar di pohon. Tampaknya dia sudah tidak sanggup lagi untuk dapat berdiri. Napasnya satu dua. Wulan langsung menubruk tubuh Jaka dan memeluknya.


"Kakang...," suara Wulan tercekat. Dilepaskan pelukannya sambil matanya nanar melihat darah membasahi tubuh Jaka.


Cepat-cepat Wulan menotok beberapa bagian tubuh Jaka untuk membekukan aliran darah. Seketika darah itu tidak mengalir. Wulan membuka ikat kepalanya dan membalut luka Jaka yang cukup lebar. Selesai menolong Jaka, dia berdiri membalikkan tubuh menghadapi Lima Golok Neraka.


"Kubunuh kalian!" pekik Wulan mengkelap.


Selesai mengatakan itu, Wulan langsung berteriak nyaring. Tubuhnya yang ramping berkelebat cepat bagai seekor burung walet Diterjangnya Lima Golok Neraka seraya mengarahkan dua ujung tombaknya ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan.


Wulan bertarung bagai singa betina terluka. Tidak dipedulikannya lagi lawan yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Rasa marah dan dendam membalut seluruh perasaan takut gadis ini, sehingga tidak dapat berpikir jernih lagi. Serangan-serangannya memang hebat, tapi kurang terkontrol. Lima Golok Neraka dengan mudah dapat menghindari setiap serangan Wulan yang gencar.


Baga Biru yang mengetahui Wulan yang tak terkontrol itu, dengan tenang selalu dapat mengantisipasinya. Bibirnya tersenyum ketika tahu beberapa kelemahan pada setiap serangan Wulan yang beruntun. Dia pun mencari-cari kesempatan yang baik untuk menjatuhkan lawan sambil membuatnya malu.


Baga Biru memberi isyarat kepada yang lain untuk terus bertahan sambil mendesak Wulan. Empat orang itu mengangguk sambil tersenyum-senyum. Wulan tidak sadar kalau Lima Golok Neraka mempunyai rencana kotor terhadapnya. Dia terus saja menyerang membabi buta.


"Hup!" Baga Biru menurunkan tangan kanannya setelah melempar golok ke tangan kirinya.


"Auw!" Wulan memekik kaget


"Ha ha ha...!" Lima Golok Neraka tertawa terbahak-bahak bersama-sama.


Wajah Wulan seketika merah padam. Sambil mendengus geram, tangannya bergerak cepat menerjang leher Baga Biru. Namun terjangan tangan yang menggenggam tongkat itu hanya dilayani dengan mengegoskan kepala sedikit ke samping. Bahkan tangan kanan Baga Biru menjulur ke depan.


"Setan!" maki Wulan sambil melompat mundur. Tangan Baga Biru hampir saja menyentuh buah dadanya. Laki-laki itu makin tertawa-tawa liar. Bola matanya ****** penuh nafsu memandang paras Wulan yang cantik.


"Serahkan saja Cupu Manik Tunjung Biru, dan kau akan senang bila jadi istriku," kata Baga Biru.


"Phuih!" Wulan semakin geram hatinya.


Lima Golok Neraka kembali tertawa gelak. Mereka melangkah maju mendekati Wulan. Dada mereka bergolak penuh nafsu. Liur mereka seperti tak tertahan memandangi kecantikan Wulan. Mendadak mereka melompat serempak Wulan menjadi bingung. Sedapat mungkin diputarnya tombak pendek bermata dua untuk melindungi dirinya.


Trang! Trang!


"Akh!" Wulan menjerit tertahan. Tangannya bergetar kesemutan ketika tombak pendeknya beradu dengan golok mereka.


Pada saat yang tepar, ujung golok Baga Biru berkelebat cepat.


Bret...! Bagian dada baju Wulan sobek, sehingga kulit bukitnya yang putih, terbuka. Dua bukit kembar terlihat akan mencuat hendak keluar.


Wulan memekik kaget bukan main. Buru-buru ditutupinya bagian yang terbuka itu dengan tangannya. Wajahnya semakin merah karena marah campur malu. Baga Biru yang sempat melihat kemulusan kulit dua bulat kembar itu, semakin bernafsu. Perhatiannya terhadap Cupu Manik Tunjung Biru terasa hilang seketika. Kini dia hanya terpusat pada gadis cantik yang sudah tidak berdaya di depannya.


"He he he...," Baga Biru terkekeh. Liurnya menetes menahan gejolak birahi.


"Kubunuh kalian!" geram Wulan.


Baga Biru tidak peduli. Kakinya melangkah maju mendekati Wulan yang sibuk memegangi sobekan baju di dadanya. Dengan kalap gadis itu menerjang Baga Biru. Tapi laki-laki ini hanya memiringkan sedikit tubuhnya, sehingga tusukan tombak pendek Wulan hanya lewat menyambar tempat kosong. Bahkan tangan kiri Baga Biru berhasil menjambret bahu gadis itu.


Bret!


"Akh!" lagi lagi Wulan memekik.


Kini bahunya terbuka lebar sampai ke punggung. Keadaan Wulan benar-benar tidak menguntungkan saat ini. Sebagian tubuhnya kini telah terbuka lebar. Kulit tubuhnya yang putih mulus terlihat leluasa membangkitkan gairah lima laki-laki yang menatapnya liar penuh nafsu.


Baga Biru sudah tidak bisa lagi menahan gejolak nafsunya. Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh, dia melompat menerjang. Wulan yang sudah tak berdaya hanya bisa mendelik, serta repot berusaha menutupi tubuhnya. Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba....


"Akh...!" tubuh Baga Biru yang hampir mencapai Wulan, tiba-tiba saja terjengkang ke belakang.

__ADS_1


Empat orang lainnya hanya ternganga. Di depan Wulan kini berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi dengan pedang di punggung Laki-laki muda itu tidak lain dari Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti.


"Rangga...," Wulan mendesah.


"Menyingkirlah. Bawa saudaramu ke tempat yang aman," kata Rangga pelan, namun tegas suaranya.


Sementara itu Baga Biru terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang telah berdiri kembali. Mukanya merah padam karena ada orang yang berani menghalangi maksudnya. Dengan cepat dia melompat menerjang Rangga.


Rangga hanya memiringkan sedikit tubuhnya menghindari tebasan golok Baga Biru. Kemudian tangan kirinya bergerak cepat menotok pergelangan tangan lawan. Baga Biru terperanjat, cepat-cepat ditarik tangannya sambil berputar mengarahkan mata goloknya ke perut Rangga.


Lagi-lagi Pendekar Rajawali Sakti hanya mengegos sedikit Tangan kanannya segera bergerak menotok kembali pergelangan tangan lawan. Makin kalap saja Baga Biru. Dua serangannya gagal total, bahkan dua kali pula hampir terkena totokan pada jalan darah di pergelangan tangannya.


"Serang, anjing keparat ini!" teriak Baga Biru keras.


Seketika itu juga empat orang saudaranya segera bergerak mengepung Pendekar Rajawali Sakti. Golok mereka berkelebatan menyerang ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Pendekar Rajawali Sakti hanya mengegoskan tubuhnya ke kiri dan ke kanan menghindari setiap tebasan golok lawan.


Semakin lama serangan Lima Golok Neraka semakin dahsyat mematikan. Menyadari lawannya bukan hanya sekedar nama kosong belaka. Rangga mengeluarkan jurus Cakar Rajawali. Kini gerakan tubuhnya semakin cepat. Kedua tangannya bergerak mencari sasaran. Kesepuluh jari tangannya menjadi keras bagai baja.


Pendekar Rajawali Sakti menarik kepalanya ke belakang ketika golok Baga Kuning mengarah ke lehernya. Secepat kilat dinaikkan tangan kiri, dan disentilnya ujung golok yang berada tepat di depan lehernya.


Tring!


Baga Kuning kaget bukan main. Tangannya bergetar hebat bagai terkena sengatan ribuan kalajengking. Cepat-cepat ditarik pulang senjatanya. Baga Kuning segera mundur dua tindak ke belakang. Seluruh tangan kanannya seperti mati, sulit digerakkan.


Satu demi satu Pendekar Rajawali Sakti menyentil ujung-ujung golok lawannya. Mereka semua langsung melompat mundur karena seperti tersengat tangan mereka. Merah Padam wajah Lima Golok Neraka. Segera dipindahkan golok mereka ke tangan kiri. Bagi mereka, tangan kanan atau kiri sama aktifnya.


"Aku masih mau memaafkan kalian. Nah, pergilah. Benda itu bukan milik kalian," ujar Pendekar Rajawali Sakti.


"Kutu busuk! Jangan sok jadi pahlawan, kau!" bentak Baga Biru berang.


"Aku peringatkan sekali lagi. Pergilah kalian sebelum aku jatuhkan tangan maut pada kalian!" dingin suara Rangga.


"Seraaang...!" Baga Biru berteriak lantang.


Serempak Lima Golok Neraka berlompatan menyerang Pendekar Rajawali Saku. Namun serangan yang mendadak dan cepat itu hanya menemui tempat kosong saja. Rangga telah lebih dulu menjejak kakinya dan melesat ke atas dengan menggunakan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega.


Tentu saja hal ini membuat kelima penyerangnya kebingungan. Dan di tengah-tengah kebingungan itu, tiba-tiba saja Rangga menggerakkan tangannya dengan cepat.


Plak! Plak!


Lima kali tangan Rangga menempeleng kepala mereka. Lima Golok Neraka bergulingan di tanah. Rangga masih memberikan kelonggaran bagi lawannya dengan tidak mengerahkan seluruh kekuatan. Hanya saja kepala Lima Golok Neraka dibuat benjol sebesar telur ayam.


"Setan!" dengus Baga Biru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan rasa pening.


Baga Biru cepat melejit ke atas ketika rasa pening di kepalanya hilang. Diayunkan goloknya dengan cepat disertai pengerahan tenaga dalam yang penuh. Pendekar Rajawali Sakti tidak sedikit pun berkelit Dia seperti menanti datangnya golok itu. Dan ketika ujung golok hampir mencapai tubuhnya, dengan cepat dijepitnya ujung golok itu dengan dua jari tangannya.


"Trek!"


Baga Biru hanya melompong melihat goloknya patah dengan mudah oleh Pendekar Rajawali Sakti. Belum lagi hilang rasa bingungnya, tiba-tiba sebelah tangan Rangga berkelebat cepat. Baga Biru tidak mampu lagi berkelit. Lehernya terbabat tangan Pendekar Rajawali Sakti, dan disusul dengan tendangan telak menghantam dadanya.


Baga Biru tidak mampu lagi bersuara. Tubuhnya melayang deras ke tanah tanpa kepala lagi. Tangan Pendekar Rajawali Sakti yang setajam pedang telah memisahkan kepala dari badannya. Empat orang lainnya hanya bisa melongo menyaksikan Baga Biru menggeletak tanpa kepala lagi.


"Siapa di antara kalian yang ingin menyusul?" keras dan lantang suara Rangga.


Empat orang dari Lima Golok Neraka saling berpandangan. Di wajah mereka tergambar jelas rasa kengerian yang amat sangat Buru-buru mereka menggotong tubuh Baga Biru yang sudah tidak memiliki kepala lagi. Tiga orang menggotong badan, seorang lagi membawa kepala Baga Biru. Bergegas mereka meninggalkan Bukit Batok.


Sementara Pendekar Rajawali Sakti masih melayang tegak lurus di angkasa, dan perlahan-lahan turun kembali. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dihampirinya Wulan yang tengah merawat luka-luka Jaka. Gadis itu menoleh ketika merasa di dekatnya ada orang lain.


"Bagaimana lukanya?" tanya Rangga.


"Aku masih tidak tahu. Dia masih belum sadar juga," sahut Wulan lirih.


"Bawa saudaramu ke goa itu. Biar aku yang jaga di luar," kata Rangga.


"Goa Larangan...?!" Wulan terkejut


"Iya. Kenapa?" Rangga heran.


"Apa kau tidak tahu kalau goa itu sekarang jadi pusat perhatian semua orang?"


Rangga hanya mengerutkan keningnya. Dia semakin paham dengan apa yang tengah terjadi di Bukit Batok ini. Rupanya orang-orang yang berkumpul di tempat ini menduga kalau Cupu Manik Tunjung Biru ada di dalam Goa Larangan. Rangga menatap mulut goa yang tampak hitam gelap. Tiba-tiba matanya menyipit. Dilihatnya sebuah titik cahaya di dalam kegelapan goa itu. Cahaya itu terlihat jauh di relung goa.


"Cahaya Cupu Manik Tunjung Biru kah itu?" tanya Rangga dalam hati.


Mendadak saja cahaya itu hilang dari pandangan matanya. Rangga menoleh ke arah Wulan, lalu jongkok di samping tubuh Jaka yang masih belum siuman. Dadanya tampak bergerak lemah, menandakan masih hidup. Rangga menempelkan telapak tangannya di dada yang bergerak lemah itu.


"Racun...," desis Rangga kaget.


"Apa?!" Wulan semakin cemas.


"Dia harus cepat ditolong"


Wulan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Didiamkan saja ketika Rangga menyobek baju bagian dada Jaka. Selanjutnya kedua tangan Rangga menempel di dada yang bidang itu. Perlahan-lahan kedua tangan Rangga bergetar. Sebentar kemudian, asap putih mengepul dari tangan yang menempel di dada itu.


"Buka balutannya," kata Rangga.


Wulan segera membuka kain pembalut luka Jaka. Tampak darah yang menghitam seperti mendidih, meleleh keluar dari luka yang lebar dan panjang Dari mulut Jaka juga mengalir darah kehitaman. Rangga menyalurkan hawa murni melalui kedua telapak tangannya ke seluruh tubuh Jaka. Dicobanya untuk mengeluarkan racun yang bersarang di dalam tubuh salah seorang dari Sepasang Walet Merah. Sedikit demi sedikit darah yang keluar berubah merah segar. Rangga melepaskan tangannya setelah darah yang mengandung racun tuntas.

__ADS_1


"Bisa minta kain bajumu sedikit?" pinta Rangga. Tanpa membantah lagi, Wulan lantas menyobek bajunya. Tidak dipedulikan lagi sebagian tubuhnya yang terbuka. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan Jaka. Rangga membalut luka di dada Jaka dengan kain sobekan baju Wulan. Kemudian diangkatnya tubuh Jaka dan dibawa ke rimbunan pepohonan. Wulan mengikuti sambil mengikat cabikan-cabikan bajunya. Yang penting tubuhnya tidak terlalu lebar terbuka.


********************


__ADS_2