
"Sawung Bulu, di mana kau...!"
Teriakan yang keras dan menggema itu membuat Sawung Bulu tersentak kaget. Bergegas dia bangun dari tidurannya. Teriakan itu terdengar sangat dekat dan berulang-ulang. Dia kenal dengan suara itu.
"Paman Sangkala...," desis Sawung Bulu.
"Bagaimana mungkin dia tahu aku ada di sini?"
Sawung Bulu sedikit ragu-ragu untuk ke luar goa. Matanya sempat melirik Melati yang masih tergolek lemas di atas hamparan dedaunan. Rupanya Melati juga mendengar suara itu, namun karena pengaruh totokan pada tubuhnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sawung Bulu...!"
Terdengar lagi suara panggilan yang keras. Pelan-pelan Sawung Bulu mendekati mulut goa. Tangannya menyibakkan sedikit semak-semak rimbun yang menutupi mulut goa. Jelas terlihat Sangkala bersama empat orang lainnya berdiri di depan mulut goa dengan mata beredar mencari-cari.
"Paman.... Paman Sangkala" panggil Sawung Bulu sambil menguakkan semak-semak.
Sangkala langsung menoleh dan berlari ketika melihat Sawung Bulu muncul dari rimbunan semak. Sesaat mereka saling bertatapan, lalu berpelukan hangat.
"Aku tak mengira kau masih hidup, Sawung Bulu," kata Sangkala penuh rasa haru.
"Pendekar Rajawali Sakti telah menyelamatkan hidupku, Paman," sahut Sawung Bulu sambil melepaskan pelukannya.
Kembali mereka saling tatap, penuh rasa haru.
"Bagaimana Paman bisa tahu aku ada di sini?" tanya Sawung Bulu.
"Pendekar yang menolongmu memberitahuku," sahut Sangkala.
"Maksud Paman, Pendekar Rajawali Sakti?" Sawung Bulu belum yakin.
"Benar."
"Lalu, di mana dia sekarang?"
"Ke puncak Gunung Balakambang."
"Celaka!" Sawung Bulu terkejut. Wajahnya seketika menyiratkan kecemasan. "Ayo, Paman. Kita harus bantu dia!"
"Tunggu dulu, Sawung. Aku juga akan ke sana, tapi aku harus membawa dulu orang yang bersamamu di sini."
Sawung Bulu menepuk keningnya sendiri. Dia teringat Melati yang masih tergolek lemas di dalam goa. Cepat-cepat Sawung Bulu mengajak pamannya ke dalam goa batu ini. Betapa terkejutnya Sangkala ketika melihat Melati terbaring lemas di atas tumpukan daun-daun kering. Pakaian hitam ketat masih membungkus tubuh yang ramping.
"Melati...," desis Sangkala setengah tidak percaya.
"Benar, Paman. Dia Melati putri Kepala Desa Karang Sewu," Sawung Bulu membenarkan.
"Bagaimana mungkin? Bukankah sudah dijadikan korban persembahan tiga tahun yang lalu?" Sangkala masih belum percaya.
"Tidak salah Paman. Tiga tahun yang lalu Melati memang dijadikan korban persembahan untuk Raja Dewa Angkara."
Sawung Bulu menjelaskan semuanya yang didapat dari Pendekar Rajawali Sakti. Tidak lupa juga tentang kekuatan yang mempengaruhi semua korban korban persembahan, sehingga mereka tidak ingat akan diri masing masing Raja Dewa Angkara juga menjadikan gadis-gadis itu sebagai laskar yang tangguh.
Sangkala mendengarkan dengan penuh perhatian. Pantas saja Pendekar Rajawali Sakti melarang membunuh Iaskar Raja Dewa Angkara yang telah mengganas membantai penduduk desa. Rupanya memang orang-orang itu tidak berdosa, yang jiwanya dalam pengaruh kekuatan Raja Dewa Angkara.
"Hm..., siapa Raja Dewa Angkara itu sebenarnya?" Sangkala seolah bertanya pada dirinya sendiri.
"Orang-orang yang selama ini kita hormati, Paman," sahut Sawung Bulu.
"Maksudmu?" tanya Sangkala tidak mengerti.
"Rawusangkan, Wratama, Bagaspati, dan Paralaya. Merekalah yang menamakan diri sebagai Raja Dewa Angkara."
Bagai disambar petir rasanya Sangkala saat ini. Bola matanya menatap tajam Sawung Bulu. Dia masih belum percaya dengan pendengarannya sendiri. Apakah Sawung Bulu tidak main-main? Mereka adalah orang-orang yang sangat dihormati, karena mereka orang kerajaan yang menguasai seluruh desa di sekitar lereng Gunung Balakambang.
Lebih-lebih Rawusangkan yang sampai saat ini sebenarnya masih menjabat patih. Juga Bagaspati dan Paralaya yang merupakan punggawa pilihan. Sedangkan Wratama bekas punggawa yang sudah beralih jadi tabib yang sangat terkenal. Tetapi untuk Wratama sendiri, Sangkala tak ambil peduli. Orangnya telah tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Menurut Pendekar itu pula, Wratama adalah salah satu dari orang-orang Raja Dewa Angkara. Hanya yang masih belum dipercaya adalah ketiga orang itu.
"Aku sendiri hampir tidak percaya kalau mereka berada di belakang layar selama ini. Tetapi setelah kubuktikan dengan mata kepalaku sendiri, baru aku bisa percaya," kata Sawung Bulu.
"Bagaimana kau bisa tahu semua ini?" tanya Sangkala ingin tahu.
"Dengan itu," Sawung Bulu menunjuk seonggok baju hitam yang tergeletak di pojok gua.
Sangkala menghampiri baju itu, dan mengambilnya. Baju itu sama persis dengan yang dikenakan Melati, serta orang-orang Raja Dewa Angkara lainnya. Sangkala memandang keponakannya untuk minta penjelasan.
"Tadi pagi ketika berburu, aku menemukan beberapa mayat yang seluruhnya mengenakan baju hitam. Saat itulah akalku berjalan. Kulepaskan salah satu baju mayat itu yang masih utuh. Dengan baju itu aku menyamar sehingga dapat menyusup ke sarang Raja Dewa Angkara," Sawung Bulu menjelaskan.
"Lalu, apa yang kau dapat dari sana?" tanya Sangkala.
__ADS_1
"Raja Dewa Angkara menggunakan kekuatan bathin untuk mempengaruhi gadis-gadis korban persembahan untuknya sekaligus menjadikan mereka laskar yang tangguh dan perkasa."
Sangkala mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam hati memuji kecerdikan keponakannya ini.
"Yang jadi biang keladi semua ini adalah Rara Inten."
"Rara lnten...?!" Sangkala terkejut. "Bukankah Rara lnten istri ketiga Ki Ardareja?"
"Benar, Paman. Selama ini kita tidak mengetahui kalau Rara lnten mempelajari ilmu kekuatan bathin. Rara lnten pun tahu betul semua peristiwa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu. Ketika dia tahu kalau Rawusangkan sebenarnya adalah kakak Wratama, anak istri pertama Ki Ardareja, maka dengan kekuatan bathin itulah jiwa mereka dipengaruhi. Tak ketinggalan dua punggawa kepercayaan Rawusangkan ikut dipengaruhi kekuatan bathin itu."
"Hm...," Sangkala mengguman dengan kepala ter-angguk-angguk.
"Sebenarnya pula Rara lnten yang membunuh Ki Ardareja. Dia menunggu saat yang tepat untuk melancarkan fitnah. Dipengaruhilah Wratama dan Rawusangkan dengan mengatakan kalau yang membunuh ayah mereka adalah Ki Brajananta."
"Kenapa Rara lnten melakukan semua itu?" tanya Sangkala.
"Rara lnten mencintai Ki Brajananta, namun cintanya tak pemah kesampaian. Dia dendam dan melarikan diri ketika bayi pertama Ki Ardareja hilang. Kemudian dia menyepi di puncak Gunung Balakambang sambil mempelajari semua ilmu-ilmu kebathinan dari buku-buku peninggalan kakeknya."
"Ya, aku tahu itu. Ki Gandara pernah cerita kalau kakek Rara lnten seorang ahli kebathinan di samping jadi tabib. Hm..., tidak mustahil kalau Wratama dan Rawusangkan tidak mengenalnya. Yang pasti Rara lnten sekarang sudah tua," pelan suara Sangkala terdengar.
"Paman salah duga. Rara lnten masih kelihatan muda dan cantik," selak Sawung Bulu.
"Oh...!"
"Dengan ramuan ramuan yang dikuasainya, Rara lnten bisa membuat dirinya jadi awet muda dan tetap kelihatan cantik."
Sangkala menggeleng-gelengkan kepalanya, setengah tidak percaya. Tapi dalam dunia ketabiban, hal itu mungkin saja bisa terjadi. Tidak mustahil, sebelum meninggal kakek Rara lnten menurunkan ilmu-ilmunya pada sebuah buku yang kini sudah dikuasai betul oleh Rara lnten.
"Menakjubkan," gumam Sangkala. "Apa yang dicari Rara lnten sebenarnya?"
"Menguasai seluruh rimba persilatan."
"Edan!"
********************
Sementara itu di puncak Gunung Balakambang, Rara lnten tergolek di pembaringan. Butir-butir keringat masih mem-basahi tubuh yang hanya ditutupi selembar kain sutra tipis biru muda. Lampu pelita yang menerangi kamar menembus kain sutra tipis, sehingga bayangan lekuk-lekuk tubuh indah tergambar di baliknya.
Sepasang bola mata Rara lnten yang indah menatap Rawusangkan yang berdiri membelakanginya di depan jendela. Dia beringsut sambil melilitkan kain sutra biru muda ke tubuhnya, lahi duduk bersandar membiarkan bagian pahanya tersingkap. Cahaya api pelita membias menjilati paha yang putih mulus itu.
"Kau kelihatan murung dan tidak bergairah sekali malam ini Ada apa?" masih terdengar lembut suara Rara lnten.
"Entahlah," desah Rawusangkan. "Rasanya hatiku tidak enak malam ini."
"Kau sudah tidak sabar menunggu Dewi Purmita?" Rara Inten menebak.
Rawusangkan hanya tersenyum saja. Bayangan Dewi Purmita mendadak berkelebat di matanya.
"Sabarlah. Tidak lama lagi dia akan tunduk padamu. Kau bisa menjadikannya kelinci cantik mainanmu.
Lagi-lagi Rawusangkan hanya tersenyum hambar. Dia memang tak sabar menunggu Dewi Purmita. Tetapi ada hal Iain yang mengganggu pikirannya. Kemunculan Pendekar Rajawali Sakti di Desa Pasir Batang inilah yang menjadi beban pikirannya.
Tidak sedikit gadis-gadis Iaskar Raja Dewa Angkara tewas di tangan pendekar itu. Dan malam ini seperti ada firasat kalau pendekar itu akan menghalangi gerakan Raja Dewa Angkara. Tidak biasanya, anak buahnya begitu lama menjalankan tugas membumi-hanguskan satu desa saja.
Rara Inten beringsut turun dari pembaringan. Langkah-nya gemulai menghampiri Rawusangkan yang masih di tempatnya. Wanita itu langsung melingkarkan tangannya ke leher Rawusangkan.
Tanpa maksud menyinggung perasaan Rara Inten, Rawusangkan melepaskan pelukan di lehernya. Tentu saja wanita itu makin heran dengan sikap Rawusangkan yang tidak seperti biasanya. Tadi dia pun sangat kecewa karena Rawusangkan tidak dapat memuaskan dirinya di atas ranjang. Kini dia menolak meskipun dengan cara halus.
"Kau kelihatan lain sekali malam ini. Apa yang kau pikirkan?" tanya Rara Inten.
"Hhh...," Rawusangkan mendesah panjang "Tidak biasanya mereka menjalankan tugas begini lama."
"Ah, barangkali saja mereka mendapat halangan," Rara Inten mencoba untuk menenangkan kegalauan hati laki-laki ini.
"Halangan itu yang kini jadi beban pikiranku."
Rara Inten merayapi wajah Rawusangkan. Kekuatan bathinnya langsung bekerja menerobos ke dinding hati laki-laki ini melalui sinar matanya. Rara Inten melangkah mundur dua tindak. Seketika wajahnya berubah agak menegang. Pelan-pelan mata Rara Inten terpejam. Kepalanya sedikit terdongak. Lalu dibuka lagi matanya, dan segera menatap ke luar melalui jendela yang terbuka lebar. Raut wajahnya makin jelas kelihatan menegang.
"Setan!" dengus Rara Inten tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Rawusangkan.
"Cepat berpakaian, kumpulkan semua anak-anak!" tegas suara Rara Inten.
Rawusangkan tidak membantah. Bergegas dirapikan pakaiannya, lalu melangkah menghampiri pintu. Rara Inten menoleh. Rawusangkan belum sempat sampai pintu, mendadak terdengar suara ketukan beruntun. Kedengarannya seperti terburu-buru. Bergegas Rawusangkan membukanya. Tampak Bagaspati berdiri dengan peluh bercucuran di wajahnya.
"Celaka..., celaka Kakang," terputus-putus suara Bagaspati.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" tanya Rawusangkan.
"Aku tidak butuh laporanmu. Cepat kumpulkan anak-anak, setan keparat itu sudah dekat!" potong Rara lnten.
Bagaspati menelan ludahnya ketika melihat Rara Inten hanya terbungkus sutra tipis pada tubuhnya. Bayangan lekuk-lekuk tubuh indah itu menggiurkannya. Rawusangkan mendorong Bagaspati, dan segera menutup pintu. Sementara Rara Inten memungut pakaiannya yang teronggok di lantai kamar beralaskan anyaman bambu halus. Tenang sekali mengenakan pakaiannya. Pakaian serba hitam yang ketat memetakan bentuk tubuhnya yang ramping indah. Dengan langkah tenang, dia ke luar kamar.
Belum sempat Rara Inten mencapai pintu ke luar rumahnya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut diikuti jeritan-jeritan perkelahian. Denting senjata beradu terdengar beberapa kali.
"Huh!" Rara Inten mendengus.
Sekali hentak saja, tubuhnya meluncur deras ke luar dari rumah yang paling besar diantara rumah rumah lain di puncak Gunung Balakambang. Dijejakkan kakinya di tanah dengan manis. Seketika rahang Rara Inten menggeletuk saat melihat kilauan sinar biru di antara ujung-ujung batang tombak hitam yang mengurung.
"Setan!" geram Rara Inten saat mengetahui beberapa anak buahnya rubuh terkena totokan.
Dalam beberapa gebrakan saja sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam menggeletak dengan totokan pada jalan darahnya. Pendekar Rajawali Sakti sengaja untuk tidak melukai, apalagi membunuh mereka. Hati kependekarannya tidak mengijinkan membantai orang-orang yang tengah dipengaruhi jiwanya.
Kian lama serangan-serangan mereka kian tajam dan berbahaya dan datang dari segala arah. Bagai air bah yang siap menghanyutkan. Pendekar Rajawali Sakti tampak sedikit kewalahan menghadapinya. Ruang geraknya begitu sempit. Dalam keadaan yang terdesak, Pendekar Rajawali Sakti sempat melihat sesosok tubuh berdiri agak Jauh, tengah menggerak-gerakkan tangannya.
"Hm..., rupanya dia yang menggerakkan gadis-gadis ini," gumam Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti dalam hati. Gelombang kekuatan bathin mulai dapat dirasakan.
Kian lama kian kuat Rangga mulai merapal ajian Bayu Braja, satu ajian yang dapat menimbulkan angin topan yang sangat dahsyat.
"Tidak!" tiba-tiba Rangga tersentak. Segera dicabutnya lagi ajian itu.
Ajian 'Bayu Braja' yang sangat dahsyat ini dapat berakibat fatal bagi mereka yang tidak berdosa. Mereka dapat terhempas ke pohon-pohon atau batu-batu cadas! Sedangkan bagi yang memiliki tenaga dalam cukup, akan semakin parah jika mencoba melawan kekuatan ajian ini Bisa bisa mereka akan tewas dengan luka dalam yang sangat parah.
"Hiya...!"
Tiba-tiba Rangga berteriak kuat Secepat kilat dirubah jurusnya menjadi 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sambil memutar pedangnya, Rangga melompat tinggi ke udara Namun tampaknya lawan lawan tidak membiarkannya loJos. Seperti ada yang memberi komando serentak dilemparkan tombak-tombak itu ke arah Pendekar Rajawali Sakti.
Melihat beberapa tombak meluncur ke arahnya secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti memutar pedangnya. Tombak-tombak hitam pekat itu patah terbabat pedang pusaka Rajawali Sakti. Tiga kali Pendekar Rajawali Sakti berputar di udara, lalu meluruk cepat ke arah sosok tubuh ramping berpakaian serba hitam.
Kaki-kaki Rangga bergerak cepat meluruk tepat di atas kepala sosok yang tak Iain adalah Rara lnten. Begitu cepat dan mendadaknya serangan itu, sehingga Rara lnten kelabakan. Dihempaskan tubuhnya, lalu bergulingan di tanah menghindarl terjangan Pendekar Rajawali Sakti yang dahsyat.
"Bedebah! Setan kebarat!" umpat Rara lnten seraya melenting, dan berdiri lagi dengan kokoh.
Rangga menjejakkan kakinya di tanah dengan manis. Dimasukkan pedang pusaka ke dalam sarung di punggung-nya. Kedua kakinya terbentang lebar. Sepasang bola matanya memandang tajam ke arah lawan.
"Angkara murkamu sudah berakhir. Raja Dewa Angkara," dingin suara Rangga.
"Nama besarmu yang berakhir, Pendekar Rajawali Sakti," suara Rara lnten tidak kalah dingin.
"Lihat, orang-orangmu sudah tidak bersenjata lagi. Aku dapat membunuh mereka semudah membalikkan tangan. Tetapi mereka tidak berdosa. Kau harus bertanggung jawab!" keras suara Rangga.
"Mereka bukan orang-orang yang takut mati, dan aku belum kalah!" sahut Rara Inten.
Selesai berkata demikian, mendadak Rara lnten mendorong kedua tangannya yang terbuka ke depan. Secercah sinar merah meluncur deras dari kedua telapak tangannya Begitu pesatnya, sehingga membuat Pendekar Rajawali Sakti terkesiap. Tidak ada waktu lagi untuk menghindari.
"Hih!" Rangga terpaksa segera mengerahkan aji 'Bayu Braja', tapi terlambat Sinar merah itu cepat membentur dadanya. Tak pelak lagi, tubuh pendekar muda itu terjengkang ke belakang sekitar tiga batang tombak jauhnya.
"Hoek...!" Rangga memuntahkan darah kental dari mulutnya.
Akibat terhantam oleh sinar merah Rara lnten, mendadak tubuh Rangga terserang hawa panas. Cepat-cepat digerakkan kedua tangannya ke atas, lalu turun sampai di depan dada. Kakinya dipentang lebar ke samping dengan lutut ditekuk. Pendekar Rajawali Sakti lalu mengerahkan hawa mumi untuk mengusir hawa panas itu.
Sebentar saja hawa murni itu lenyap dari tubuhnya. Rangga mengepalkan tangan kiri dan diletakkan persis di tengah-tengah telapak tangan yang terbuka. Pelan-pelan digeser tangannya ke kanan, lalu didorong lagi ke kiri. Itulah pembukaan jurus 'Pukuian Maut Paruh Rajawali'.
Rangga yang sudah muak dengan kekejaman Raja Dewa Angkara, tidak segan segan lagi menumpasnya. Langsung dikerahkannya jurus andalan keempat dari rangkaian jurus maut 'Rajawali Sakti'. Begitu dibuka jurus itu, seketika saja kedua kepalan tangannya berubah merah menyala.
"Huh! Ilmu setan apa yang dikeluarkannya?" dengus Rara Inten.
Wanita itu sebenarnya terkejut juga melihat Pendekar Rajawali Sakti tidak cedera terkena ajian mautnya. Biasanya, tak ada seorangpun yang sanggup berdiri lagi jika terkena ajian 'Tapak Dewi Maut.'
''Tampaknya ilmu yang dimiliki sangat berbahaya. Hm..., aku harus menandinginya dengan aji 'Kala Seribu'," gumam Rara lnten.
Segera saja Rara lnten merapalkan ajian maut itu. Setelah selesai merapal seketika kuku-kuku jarinya berubah berwarna hijau menyala. Rara lnten yang telah merasa mendapat lawan tangguh, segera mengambil inisiatif menyerang lebih dulu. Dan dengan cepat kedua tangannya dihentakkan ke depan.
"Hiya...!"
"Ya...!"
Teriakan teriakan keras terdengar saling sahut. Dari jari-jari tangan Rara lnten meluncur sinar-sinar hijau yang membentuk menyerupai binatang kalajengking yang sangat banyak. Ajian ini sangat di bangga banggakan Rara lnten. Lawan yang terkena dalam sekejap pasti tewas dengan tubuh penuh hibang, bagai habis tersengat ribuan kalajengking.
Tapi, apakah ajian itu mampu menandingi jurus 'Pukuan Maut Paruh Rajawali', yang sekaligus dibarengi dengan pengerahan aji 'Bayu Braja'?
Kini kedua tokoh sakti berbeda aliran sudah saling menyerang. Mereka kerahkan seluruh kesaktian masing-masing. Dua ilmu kesaktian yang berbeda aliran kini bertemu. Sementara semua orang yang saat itu menyaksikan, hanya dapat menahan nafas. Ki Gandara, Ki Brajananta, Sangkala, dan Sawung Bulu, pun telah datang ke puncak Gunung Balakambang. Mereka datang tepat ketika dua tokoh sakti itu saling berhadapan. Mata mereka tidak berkedip menyaksikan pertarungan itu. Dua kelompok yang saling bermusuhan itu terpusat penuh perhatiannya pada Pendekar Rajawali Sakti dan Rara lnten.
********************
__ADS_1