Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Pertarungan Bukit Setan Bag. 8


__ADS_3

"Berhenti...!"


Tiba-tiba terdengar suara keras menggema ke seluruh puncak Bukit Setan. Tongkat Baja Hitam dan Iblis Wajah Seribu yang tengah bertarung, langsung berhenti seketika. Semua orang yang ada menoleh ke arah suara hentakan tadi datang. Tampak Rangga berdiri angker diatas sebuah batu besar. Ringan sekali Pendekar Rajawali Sakti itu melenting turun dan menjejak tanah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Rangga langsung berdiri di tengah-tengah. Pandangan matanya tajam menatap wajah-wajah yang berdiri dengan sikap bermusuhan.


"Kalian datang ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa sia-sia. Percuma kalian saling bunuh, apa yang kalian cari tidak mungkin bisa didapatkan!" suara Rangga terdengar lantang dan tegas.


"Anak muda! Siapa kau? Apa maksudmu berkata begitu?" bentak Tongkat Baja Hitam keras.


"Aku Pendekar Rajawali Sakti!" sahut Rangga lantang.


Suara-suara menggumam terdengar bagai dengungan ribuan lebah memenuhi puncak Bukit Setan ini. Beberapa di antaranya tampak terkejut setelah tahu kalau yang datang adalah Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan yang merasa dirinya memiliki kemampuan tinggi, tetap bertahan. Lebih-lebih yang sama sekali belum pernah mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti, memandang Rangga sebelah mata saja.


Rangga melirik Iblis Wajah Seribu. Meskipun kini wajahnya lain, tapi dimata Rangga Iblis Wajah Seribu itu tidak ada bedanya sama sekali. Wanita cantik itulah yang hampir saja menjebaknya untuk berbuat mesum. Sedangkan Iblis Wajah Seribu tersenyum-senyum saja mengenali wajah tampan yang membuatnya sempat kecewa.


"Jika kalian menginginkan Kitab Naga Sewu, ini. Ambil dari tanganku kalau kalian mampu!" Rangga mengeluarkan Kitab Naga Sewu dari balik bajunya. Diangkatnya tinggi-tinggi kitab itu ke atas.


Semua orang yang masih tersisa membelalak lebar melihat kitab yang diperebutkan, berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Memang, mereka rata-rata sudah mendengar kabar kalau kitab pusaka itu sudah dikuasai seorang pendekar. Tapi tidak ada yang menyangka kalau pendekar itu masih muda, gagah, dan tampan.


"He he he..., kau jangan menipuku, bocah. Kitab Naga Sewu tidak akan terpisah dari Pedang Naga Geni," Tongkat Baja Hitam terkekeh.


"Kalau kukeluarkan pedang itu, apa kau akan menyingkir?" tantang Rangga.


"He he he..., aku akan percaya jika telah melihat Pedang Naga Geni. Aku yang tua ini tidak akan memungkiri janji," sahut Tongkat Baja Hitam.


"Baiklah! Siapa yang akan mengikuti jejak suci Paman Tongkat Baja Hitam?" tantang Rangga lagi.


"Bocah! Jangan umbar bacot di sini. Tunjukkan pedang itu, baru aku bersedia menyingkir!" bentak Pisau Terbang.


Hampir semua yang hadir mengeluarkan pernyataan itu. Hanya Iblis Bayangan Merah dan Iblis Wajah Seribu saja yang tidak mau memenuhi permintaan Rangga. Lebih-lebih Iblis Wajah Seribu. Dia masih penasaran karena belum dapat menaklukkan pemuda tampan yang menarik hatinya ini. Apalagi setelah mengetahui pemuda ini memiliki kitab dan pedang pusaka.


"Lihat!" seru Rangga tiba-tiba.


Seketika itu juga, Rangga mencabut Pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Mendadak puncak Bukit Setan terang-benderang karena pamor Pedang Rajawali Sakti yang memancarkan sinar biru berkilauan. Meskipun dalam keadaan siang hari, sinar biru yang memancar masih tetap menampakkan pamornya yang dahsyat.


Rangga melintangkan pedangnya di depan dada, kemudian dimasukkan Kitab Naga Sewu ke balik baju. Lalu tangan kirinya mengusap mata pedang dari pangkal tangkai sampai ke ujung, lalu balik lagi dan berhenti di tengah-tengah. Rangga sengaja mengeluarkan ilmu 'Pedang Pemecah Sukma' untuk menggetarkan hati orang-orang yang haus ilmu ini.


Sinar biru berkilau mengggumpal jadi satu. Dan ketika Rangga menunjuk sebuah batu besar tempatnya berdiri tadi, sinar biru berkilau itu meluncur deras. Suara ledakan terjadi bersamaan dengan hancurnya batu sebesar rumah setelah terkena sinar biru dari pedang pusaka Rajawali Sakti. Rangga segera memasukkan pedang itu kedalam warangkanya.


"Nah! Siapa yang ingin mencoba?" tantang Rangga.


Sunyi, tidak ada seorang pun yang menjawab tantangan itu. Mereka hanya saling pandang, lalu satu persatu meninggalkan puncak Bukit Setan. Mereka tidak tahu kalau pedang yang dikeluarkan Rangga bukan Pedang Naga Geni, tapi Pedang Rajawali Sakti. Hanya pamornya yang dahsyat saja, sehingga mampu melunturkan niat mereka memiliki pedang dan kitab pusaka itu dari Pendekar Rajawali Sakti.


"Pendekar Rajawali Sakti, aku yang tua ini mohon diri," kata Tongkat Baja Hitam seraya menjura.


"Terima kasih," sahut Rangga membalas menjura pula.


Tongkat Baja Hitam berbalik dan melangkah meninggalkan puncak Bukit Setan. Sebagai tokoh tua, dia harus menepati ucapannya. Pantang baginya menjilat kembali ludah yang sudah keluar. Setelah Tongkat Baja Hitam pergi, Pisau Terbang melangkah mendekati Rangga. Dia berdiri dengan tegak dengan jarak sekitar tiga langkah lagi. Matanya tajam menatap wajah pendekar muda itu.


"Suatu saat, kita bertarung sampai mati," dingin suara Pisau Terbang.


"Aku tunggu," sahut Rangga kalem.


Pisau Terbang berbalik dan melangkah pergi. Kemudian disusul beberapa tokoh lain. Mereka ada yang meninggalkan tempat itu dengan rela, tapi ada pula yang sempat mengeluarkan tantangan seperti Pisau Terbang. Namun semuanya ditanggapi Rangga dengan bibir tersungging senyuman. Mereka adalah tokoh sakti yang selalu hormat akan kata-kata dan janji yang terucapkan.


Padahal kebanyakan dari mereka, adalah tokoh aliran hitam. Sikap mereka dalam rimba persilatan, memang patut diacungi jempol. Kini tinggal Iblis Wajah Seribu dan Iblis Bayangan Merah saja yang belum meninggalkan tempat. Mereka masih berdiri di tempat masing-masing. Rangga memandangi kedua orang itu. Sangat kontras sekali. Yang satu berwajah cantik, sedangkan satunya sudah tua keriput.


********************


"Kau boleh senang karena bisa membodohi mereka, bocah," kata Iblis Bayangan Merah dengan suaranya yang serak.


Rangga mengernyitkan dahinya. Sudah bisa ditebak arah pembicaraan Iblis Bayangan Merah tadi.


"Mata tuaku masih bisa membedakan benda pusaka. Kau berjuluk Pendekar Rajawali Sakti, dan pedangmu bernama Pedang Rajawali Sakti. Bukan Pedang Naga Geni. He he he... Pedang Naga Geni tidak memancarkan sinar biru, juga tidak bergagang kepala burung. Sungguh bodoh mereka! Mau saja ditipu bocah ingusan!"


Dalam hati Rangga mengakui kecerdikan nenek tua keriput ini. Memang, dengan rencananya ia berharap bisa menghalau sebagian besar, bahkan hampir semua orang dari puncak Bukit Setan ini. Sengaja dia memamerkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Tapi rupanya ada juga yang bermata jeli dan tidak mudah percaya begitu saja. Sekarang mau tidak mau Rangga harus berhadapan dengan Iblis Bayangan Merah.


"Keluarkan permainanmu tadi, bocah. Aku ingin tahu apakah ilmumu sanggup menandingi aji 'Tapa Wisa Merah'ku tantang Iblis Bayangan Merah.


"Maaf, aku tidak ingin mengotori tangan dengan darah," sergah Rangga.


"He he he..., kau takut, bocah?" ejek Iblis Bayangan Merah.

__ADS_1


Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Jurus 'Pedang Pemecah Sukma' sangat dahsyat. Dia enggan mengeluarkan kalau tidak karena terpaksa sekali. Bukan menganggap enteng lawannya, tapi pantang baginya menurunkan tangan kejam dengan langsung menggunakan ajian dahsyat.


"Bersiaplah, bocah. Jangan katakan aku kejam, kalau sampai menurunkan tangan maut padamu!' dengus Iblis Bayangan Merah.


"Kalau itu yang kau inginkan, baiklah!" jawab Rangga.


Pendekar Rajawali Sakti langsung membuka jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali. Dia tahu kalau lawannya kali ini bukanlah lawan yang enteng. Makanya langsung dibukanya jurus ke empat dari rangkaian lima jurus 'Rajawali Sakti'.


Melihat Rangga membuka jurus tangan kosong, Iblis Bayangan Merah juga segara membuka jurus tangan kosong. Dia juga tidak menganggap enteng Pendekar Rajawali Sakti. Sudah didengarnya sepak terjang pendekar muda itu. Iblis Bayangan Merah langsung membuka jurus andalannya. Jurus 'Pukulan Maut'.


"Hiya!"


"Yeaaah!"


Hampir bersamaan mereka berteriak dan melompat saling terjang. Pertarungan jurus tangan kosong pun segera berlangsung sengit. Iblis Bayangan Merah terkejut ketika merasakan angin pukulan Pendekar Rajawali Sakti mengandung hawa panas yang luar biasa. Lebih-lebih saat tangannya beradu dengan Pendekar Rajawali Sakti. Seluruh tangannya terasa panas bagai terbakar, dan nyeri sampai mengilukan tulang.


Baru beberapa gebrakan saja, tampak Pendekar Rajawali Sakti sudah di atas angin. Pukulan-pukulan mautnya yang menyebarkan hawa panas, membuat pertahanan Iblis Bayangan Merah jadi kacau. Jarang sekali didapat kesempatan untuk balas menyerang. Setiap kali kesempatan itu diperoleh, selalu kandas di tengah jalan. Iblis Bayangan Merah sepertinya selalu menghindari benturan tangan dengan Pendekar Rajawali Sakti. Rasanya dua kali sudah cukup merasakan dahsyatnya, jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.


"Hih!"


Rangga mendorong tangan kirinya dengan tiba-tiba ke arah dada. Iblis Bayangan Merah segera melompat mundur, tapi Pendekar Rajawali Sakti itu malah melenting sambil mengibaskan tangan kanannya. Tentu saja Iblis Bayangan Merah jadi terkejut setengah mati. Buru-buru dijatuhkan dirinya ke tanah. Namun.... Buk!


Kaki Rangga masih sempat mendarat di perut Iblis Bayangan Merah. Perempuan tua itu mengeluh pendek, dan tubuhnya bergulingan di tanah. Segera dia melenting bangun. Langsung dikerahkan aji 'Tapak Wisa Merah'. Seketika saja seluruh telapak tangannya berubah jadi merah membara. Rangga juga segera merubah jurusnya. Dikeluarkannya jurus 'Seribu Rajawali'.


Iblis Bayangan Merah jadi kelabakan. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu seakan-akan berubah banyak jumlahnya. Iblis Bayangan Merah melepaskan aji 'Tapak Wisa Merah' beberapa kali, tapi begitu menyentuh salah satu tubuh Pendekar Rajawali Sakti, langsung lenyap. Sedangkan yang Iainnya masih banyak mengurung dirinya. Iblis Bayangan Merah menjadi kalang-kabut sendiri. Dilepaskan ajiannya dengan tak tentu arah. Tiba-tiba tubuh Pendekar Rajawali Sakti melenting ke atas, dan dengan satu pukulan dahsyat, tangannya menghantam kepala Iblis Bayangan Merah.


Prak!


"Aaakh...!" Iblis Bayangan Merah menjerit melengking tinggi. Kepalanya pecah kena hantam tangan Pendekar Rajawali Sakti. Tanpa suara apa-apa lagi, tubuh Iblis Bayangan Merah menggelosor di tanah. Darah mengucur deras dari batok kepalanya yang hancur. Rangga berdiri tegak dengan mata menatap perempuan tua yang sudah jadi mayat. Kemudian matanya beralih menatap Iblis Wajah Seribu.


Iblis Wajah Seribu yang menyadari kemampuannya masih satu tingkat di bawah Iblis Bayangan Merah, jadi gentar juga. Dia pernah dikalahkan Iblis Bayangan Merah beberapa waktu yang lalu. Masih untung perempuan tua itu tidak menjatuhkan tangan kejam, sehingga dia masih hidup sampai sekarang.


Rasanya tidak mungkin Iblis Wajah Seribu bisa mengalahkan Pendekar Rajawali Sakti dalam satu ilmu silat. Apalagi adu ilmu kesaktian. Iblis Wajah Seribu segera merapalkan ajian yang pernah dipakainya, saat hampir menundukkan pendekar ini di atas ranjang. Belum pernah aji 'Pelebur Jiwa' meleset dari sasaran. Tapi untuk sesama wanita, aji 'Pelebur Jiwa' tidak akan berarti apa-apa.


Pengaruh aji Pelebur Jiwa' mulai terasa meskipun tidak berujud sama sekali. Dalam waktu sekejap saja seluruh tubuh Iblis Wajah Seribu memancarkan bau harum semerbak. Wajahnya kelihatan bertambah cantik bercahaya.


"Uh!" Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam pandangan Pendekar Rajawali Sakti, wajah dan tubuh Iblis Wajah Seribu atau Klenting Kuning sangat mempesona dan membangkitkan gairah kejantanannya. Rangga berusaha mengusir gejolak gairah yang mendadak menggelegak di dalam dadanya. Sama sekali tidak disadarinya kalau Iblis Wajah Seribu menggunakan aji 'Pelebur Jiwa'. Suatu ajian yang dapat membangkitkan gairah kejantanan laki-laki.


"Marilah, Kakang. Mendekatlah! Biarkan mayat-mayat bergelimpangan. Kita masih punya waktu untuk bercumbu. Nikmati hidup ini dengan segala keindahan," suara Klenting Kuning atau Iblis Wajah Seribu terdengar merdu merayu.


Semakin memandang Klenting Kuning, gairahnya semakin kuat saja menggempur dada. Rangga merasakan kepalanya jadi pening, dan matanya berkunang-kunang. Beberapa kali dia menelan ludah membasahi tenggorokannya yang kering mendadak. Tanpa disadari, kakinya melangkah mendekati Klenting Kuning.


"Ayolah, Kakang...," desah Klenting Kuning.


Rangga terus melangkah semakin dekat. Seluruh jiwanya benar-benar terpengaruh oleh ajian 'Pelebur Jiwa' yang dilepaskan Iblis Wajah Seribu. Ketika tinggal tiga langkah lagi untuk mencapai wanita cantik penuh daya pesona itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras.


"Kakang Rangga!"


********************


Rangga menoleh ketika mendengar bentakan keras dari arah samping kanan. Tampak Pandan Wangi berdiri tegak, tidak jauh darinya. Klenting Kuning juga terkejut mendengar bentakan itu yang disertai pengerahan tenaga dalam. Gerahamnya bergemelutuk melihat Pandan Wangi tiba-tiba muncul.


Pandan Wangi menghampiri Rangga dan menarik tangan pemuda itu untuk menjauh dari Klenting Kuning. Rangga seperti orang *****, tidak bisa berbuat apa-apa. Pengaruh aji 'Pelebur Jiwa' benar-benar telah merusak jiwanya. Sepertinya Rangga tidak tahu siapa dirinya lagi.


"Kakang, dia Iblis Wajah Seribu! Jangan mau dipengaruhi jiwamu! Sadar, Kakang! Dia mempengaruhimu!" kata Pandan Wangi.


Rangga menatap Pandan Wangi sejenak, kemudian matanya beralih menatap Klenting Kuning. Dia tampak kebingungan melihat dua wanita cantik berada di dekatnya. Sementara rasa gairah birahi masih menyelimuti dadanya.


"Kakang..., sadar. Aku Pandan, Kakang...," Pandan Wangi terus mencoba menyadarkan Rangga dari pengaruh aji 'Pelebur Jiwa'.


"Pandan...," desah Rangga.


Tiba-tiba saja Rangga merangkul Pandan Wangi. Tentu saja gadis itu menjadi kelabakan. Pandan Wangi meronta-ronta mencoba melepaskan rangkulan ketat itu. Rontaan Pandan Wangi malah membuat Rangga semakin bergairah. Dia berusaha mencium wajah dan leher gadis itu.


"Kakang..., lepaskan!" pekik Pandan Wangi.


"Pandan, kau cantik sekali," desah Rangga.


"Lepaskan!" Pandan Wangi mendorong tubuh Rangga sekuat-kuatnya.


Rangga terdorong dan jatuh di tanah. Pandan Wangi langsung melompat menjauh. Rangga kembali bangkit berdiri. Matanya sayu menatap Pandan Wangi yang ketakutan melihat sinar mata Rangga yang dipenuhi nafsu birahi. Pandan Wangi berpaling pada Klenting Kuning yang tersenyum penuh kemenangan karena aji 'Pelebur Jiwa'nya berhasil mempengaruhi pendekar muda tampan itu.

__ADS_1


"Iblis! Kau apakan Kakangku!" bentak Pandan Wangi geram.


"Hi hi hi..., dia ingin bercinta denganmu, manis," Klenting Kuning tertawa kesenangan.


"Minggat kau, iblis!" geram Pandan Wangi.


Seketika gadis yang berjuluk Kipas Maut itu segera melompat menerjang Klenting Kuning. Terjangan Pandan Wangi dengan mudah dapat dielakkan. Tapi gadis itu dengan cepat mengirimkan serangan yang saling susul. Iblis Wajah Seribu itu berkelit, berlompatan menghindari serangan-serangan Pandan Wangi yang diliputi kemarahan. Rasa cemburunya membuat gadis ini menjadi memuncak amarahnya.


Sret!


Pandan Wangi mengeluarkan kipas baja saktinya. Kembali diserangnya Klenting Kuning dengan senjata andalan di tangan. Serangan-serangan Pandan Wangi semakin cepat dan hebat. Terlihat Klenting Kuning mulai kewalahan dalam beberapa jurus saja. Dalam hal ilmu olah kanuragan, Klenting Kuning atau yang bergelar Iblis Wajah Seribu memang kurang menguasai. Tidak heran ketika memasuki jurus ke sepuluh, posisinya semakin terdesak.


"Jebol!" seru Pandan Wangi tiba-tiba.


Seketika itu juga, dikibaskan kipasnya ke perut Klenting Kuning. Iblis Wajah Seribu itu menarik perutnya ke belakang. Tapi ujung kipas Pandan Wangi masih bisa merobek baju Klenting Kuning.


"Ih!" Klenting Kuning terkejut dan memekik kecil. Cepat-cepat dia melompat mundur, lalu dengan cepat pula mencabut kalung yang dikenakannya. Dengan kalung di tangan, Klenting Kuning bisa mengimbangi lagi permainan kipas Pandan Wangi. Pertarungan dua wanita cantik itu kembali berlangsung seimbang. Masing-masing mengirimkan serangan-serangan berbahaya. Masing-masing pula bisa menghindar dengan cepat.


Saat Klenting Kuning mengebutkan kalung mutiaranya, Pandan Wangi menangkis sambil mengerahkan tenaga dalamnya dengan penuh. Dua senjata beradu keras. Klenting Kuning cepat melompat mundur. Tangannya seketika bergetar hebat ketika kalung mutiaranya beradu dengan kipas Pandan Wangi. Jelas kalau tenaga dalam Klenting Kuning masih di bawah Pandan Wangi. Menyadari hal ini, Pandan Wangi makin bemafsu untuk menyudahi pertarungan.


"Minggat kau, iblis!" teriak Pandan Wangi sambil melompat mengirimkan serangan.


"Akh!" Klenting Kuning terpekik kaget.


Buru-buru diayunkan kalungnya menangkis kipas yang berkelebat cepat mengancam lehernya. Klenting Kuning kembali terpekik keras begitu senjatanya beradu. Dia tidak bisa lagi menguasai senjatanya. Saat itu juga Pandan Wangi mengatupkan kipasnya sehingga kalung mutiara Klenting Kuning terjepit. Dengan mengerahkan tenaga dalam, Pandan Wangi membetot kalung itu.


"Setan!" dengus Klenting Kuning ketika kalung mutiaranya berhasil dirampas Pandan Wangi.


Pada saat yang hampir bersamaan, kaki Pandan Wangi melayang deras ke arah dada. Klenting Kuning segera menjatuhkan tubuhnya ketanah, tapi Pandan Wangi lebih cepat mengebutkan kipasnya sebelum tubuh Iblis Wajah Seribu itu berhasil mencapai tanah.


Bret!


"Akh!"


Klenting Kuning bergulingan di tanah, lalu buru-buru bangun. Bibirnya yang merah dan selalu menggoda tampak meringis. Kipas Pandan Wangi berhasil merobek bahu kanannya. Klenting Kuning menekap luka di bahu kanannya dengan tangan kiri.


"Tunggu pembalasanku, Pandan Wangi!" ancam Klenting Kuning.


Selesai mengancam, Iblis Wajah Seribu itu langsung melompat kabur. Klenting Kuning dalam sekejap saja telah hilang dari pandangan mata, lenyap di balik lebatnya pepohonan. Pandan Wangi membalikkan tubuhnya, seraya melihat Rangga tengah duduk dengan sikap bersemadi.


"Kakang...," panggil Pandan Wangi seraya melangkah mendekat.


Perlahan-Iahan kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti terbuka. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum saat melihat Pandan Wangi berdiri di depannya. Rangga merogoh ke balik bajunya mengambil Kitab Naga Sewu untuk diserahakan kepada Pandan Wangi.


"Ini milikmu," kata Rangga seraya bangkit.


"Oh! Kakang..., kau sudah sadar?" Pandan Wangi gembira melihat Rangga tidak lagi dipengaruhi oleh aji 'Pelebur Jiwa'.


"Ya. Terima kasih, kau telah menolongku," sahut Rangga.


"Bukan aku, Kakang. Tapi dirimu sendiri," Pandan Wangi mengelak.


Rangga tersenyum sambil tetap menyodorkan Kitab Naga Sewu. Pandan Wangi menerima kitab itu dan menyimpannya di balik baju. Sesaat mereka hanya saling pandang saja. Pelan-pelan Rangga mendekat dan meletakkan tangannya di pundak gadis itu.


"Kau harus menguasai isi kitab itu, Pandan," kata Rangga lembut.


"Tapi...."


Rangga tahu apa yang akan diucapkan Pandan Wangi. "Aku akan membimbingmu sementara," kata Rangga.


"Mengapa sementara?" protes Pandan Wangi.


"Seorang pendekar sejati, tidak selamanya membutuhkan bantuan dan pertolongan. Ingat Pandan. Lebih baik tangan di atas dari pada dibawah. Kau mengerti maksudku, 'kan?"


Pandan Wangi mengangguk.


"Mari kita tinggalkan Bukit Setan," ajak Rangga.


"Kemana?" tanya Pandan Wangi sambil melangkah di samping Pendekar Rajawali Sakti.


Rangga hanya tersenyum, tanpa memberikan jawaban.

__ADS_1


Dan jawaban itu dapat pembaca temui dalam kisah berikutnya


IBLIS WAJAH SERIBU


__ADS_2