
Malam ini langit kelihatan mendung. Angin bertiup kencang menaburkan udara dingin menggigit kulit. Titik-titik air mulai berjatuhan menimpa bumi. Sudah dapat dipastikan kalau hujan akan segera turun membasahi bumi yang kering kerontang setelah beberapa lama dilanda kekeringan.
Di malam yang pekat ini, tampak tiga sosok tubuh mengenakan baju serba hitam berkelebatan mendekati pondok kecil di tengah Hutan Ganda Mayit. Hanya sebuah pelita kecil yang menerangi pondok itu. Tampak di ambang pintu yang terbuka, duduk seorang bocah laki-laki berusia sebelas tahunan. Matanya yang bulat berair, menatap kosong ke arah gundukan tanah di bawah pohon kamboja.
"Nek...," rintihnya lirih terbawa angin malam.
Bocah laki-laki yang tidak lain adalah Kajar itu tidak tahu kalau ada tiga sosok tubuh menghampirinya dari arah samping kanan dan kirinya. Bibirnya yang mungil kecil terus menerus mendesahkan suara-suara rintihan lirih mengenang Nek Ringgih yang tewas menyedihkan siang tadi.
"Akh!" Kajar memekik kaget ketika dia merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya.
Perlahan-lahan bocah laki-laki itu menoleh. Matanya langsung membeliak melihat Ki Japalu dan Pantula berada di samping kanannya. Sebilah pedang tajam menempel di lehernya dari tangan Pantula. Belum juga hilang rasa kagetnya, mendadak kedua tangannya diringkus dari belakang.
Kajar kaget setengah mati, dia berusaha memberontak, tapi ujung pedang Pantula malah membenam di lehernya. Terpaksa Kajar diam tak berkutik. Ki Sampar Bayu yang meringkus anak laki-laki kecil itu mengikat tangannya dengan kuat dengan tambang. Kajar diangkat berdiri, dan didorong jatuh ke pelataran pondok itu.
"Bakar rumah ini, biar lenyap semuanya!" perintah Ki Japalu.
Pantula mengambil pelita yang tergantung di tengah-tengah ruangan depan pondok. Pelita itu dia banting ke lantai yang beralaskan papan. Api langsung berkobar besar melahap pondok kayu itu.
"Kejam! Kalian kejam...!" teriak Kajar berusaha bangkit.
"Hih!" Ki Sampar Bayu menekan tubuh anak itu dengan kakinya.
Kajar meringis kesakitan. Dadanya terasa sesak ditekan kuat oleh Ki Sampar Bayu. Rasa benci, dendam dan amarah meluap-luap di dalam dadanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang yang ada bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Sedangkan Kajar..., baru mempelajari dasar-dasarnya saja.
Sementara api terus melahap pondok kayu itu tanpa mengenal ampun. Tanpa disadari, air mata menitik di pipi yang merah montok itu. Kajar tidak kuasa lagi melihat pondoknya hancur terbakar dalam beberapa saat lagi. Sejak bayi dia tinggal di sini bersama neneknya, dan sekarang pondok itu hancur terbakar. Hancur sudah seluruh jiwa anak itu. Kini dia benar-benar seorang yang papa, tidak memiliki apapun di dunia ini.
"Bawa anak ini!" perintah Ki Japalu.
Pantula segera mengangkat tubuh Kajar dan mengempitnya di ketiak. Kajar berusaha meronta sambil menjerit-jerit, namun kempitan Pantula sangat kuat, tidak sebanding dengan Kajar yang bertubuh kecil dan lemah itu.
Pada saat ketiga laki-laki berpakaian serba hitam itu hendak melangkah, terdengar ringkik kuda disusul derap lari kuda yang cepat. Suara derap kaki kuda itu semakin terdengar dekat. Kajar langsung tahu kalau Pandan Wangi yang datang bersama kuda hitamnya.
"Kak Pandan, tolong...!" jerit Kajar keras.
"Diam! Hih...!"
Pantula menotok beberapa jalan darah di tubuh Kajar. Seketika itu juga Kajar langsung diam tak berkutik. Sementara suara derap kaki kuda semakin jelas terdengar dekat. Dan sebagian pondok sudah rubuh jadi arang. Api terus membesar melahap kayu-kayu pondok kecil itu.
"Cepat, tinggalkan tempat ini!" perintah Ki Japalu.
"Biar aku hadapi dia, Kakang," kata Ki Sampar Bayu.
"Tidak perlu! Yang penting anak ini," sahut Ki Japalu.
Ketiga laki-laki berbaju serba hitam itu segera melompat cepat meninggalkan tempat itu. Pada saat itulah, Pandan Wangi muncul dengan kuda hitamnya.
Gadis pendekar berjuluk si Kipas Maut itu langsung melompat dari punggung kudanya.
"Kajar...!" teriak Pandan Wangi memanggil. Tak ada sahutan sama sekali, hanya suara percikan api membakar kayu saja yang terdengar. Sementara titik-titik air hujan sudah semakin sering datang. Seluruh langit diselimuti awan tebal menghitam.
Pandan Wangi berlarian mengelilingi pondok sambil berteriak-teriak memanggil Kajar. Tapi anak laki-laki itu tidak menyahut Pandan Wangi semakin cemas. Ragu-ragu dia masuk menerobos pondok yang dilahap api.
"Kajar, kau di dalam?" tanya Pandan Wangi keras. Tetap tidak ada sahutan.
"Apa boleh buat. Hiyaaa...!" Pandan Wangi melompat menerobos pondok yang hampir habis dilahap api. Hanya sebentar gadis pendekar berjuluk si Kipas Maut itu berada di dalam, sebentar kemudian dia sudah muncul lagi ke luar dari kepungan api. Pada saat yang bersamaan, pondok itu roboh menimbulkan suara gemuruh dan percikan bunga api.
"Kajar...," rintih Pandan Wangi lirih. "Di mana kau...!"
Pandan Wangi jatuh terduduk lemas di tanah. Matanya nanar memandangi pondok yang sudah roboh terbakar. Api mulai mengecil karena tidak ada lagi yang bisa dilahap. Sementara titik-titik air hujan semakin sering datang. Asap hitam mengepul tinggi ke udara. Sebentar kemudian, hujan pun turun dengan derasnya, bersamaan dengan jatuhnya setitik air bening dari sudut mata Pandan Wangi.
********************
Saat itu Ki Japalu, Ki Sampar Bayu dan Pantula sudah berada di tepi Hutan Ganda Mayit. Sedangkan Kajar masih belum sadarkan diri terkepit di ketiak Pantula. Ketiga orang itu berjalan cepat ke luar hutan itu. Mereka berbelok arah setelah sampai di perbatasan Desa Watu Ampar.
"Berhenti!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.
__ADS_1
Ketiga orang yang membawa Kajar langsung berhenti. Mereka terkejut melihat seorang pemuda tampan tahu-tahu sudah mencegat di depan. Pemuda yang memakai baju rompi putih dengan pedang kepala burung di punggung itu berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada. Dialah Rangga si Pendekar Rajawali Sakti.
"Lepaskan anak itu, Ki Japalu!" bentak Rangga kasar.
"Heh! Siapa kau? Berani-beraninya kau mencampuri urusanku!" dengus Ki Japalu terkejut.
"Aku sudah lama menyelidiki tingkah lakumu, Ki Japalu. Kau tidak perlu heran, dari mana aku tahu namamu. Lepaskan anak itu!" ucap Rangga dengan tenang.
Ki Japalu dan Ki Sampar Bayu tersentak kaget. Lebih terkejut lagi mereka begitu kilat menyambar menerangi dalam sesaat. Dalam cahaya kilat itu, jelas sekali rupa Rangga. Sementara hujan tetap deras bagai tertumpah dari langit.
"Pendekar Rajawali Sakti..,," desis Ki Sampat Bayu mengenal pedang di punggung Rangga. Ki Sampar Bayu memandang kakaknya dan keponakannya yang masih mengempit Kajar di ketiaknya. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak dalam siraman curah hujan. Beberapa saat mereka semua terdiam membisu.
"Sebaiknya kita lepaskan saja anak itu, Kakang," kata Ki Sampar Bayu pelan.
"Baiklah, kita harus hindari bentrok dengan Pendekar Rajawali Sakti," sahut Ki Japalu.
Ki Japalu mengambil Kajar dari tangan anaknya. Dia melangkah beberapa tindak ke depan, lalu melemparkan tubuh Kajar begitu saja ke tanah yang becek tergenang air. Rangga tetap berdiri tegak memandang tajam. Ki Japalu segera berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh Ki Sampar Bayu dan Pantula.
Rangga bergegas menghampiri Kajar yang tergolek pingsan dengan beberapa jalan darah tertotok. Sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti itu memeriksa, kemudian membebaskan totokan di tubuh Kajar. Sebelum anak laki-laki itu bisa sadar penuh, dengan cepat Rangga mengangkatnya dan langsung melompat cepat bagai kilat.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti itu sungguh sangat sempurna sekali. Dalam curahan hujan lebat, dia masih mampu berlari cepat bagai angin. Kedua kakinya bagaikan tidak menapak tanah. Rangga terus berlari memasuki Desa Watu Ampar. Dia baru berhenti berlari setelah sampai di depan kedai Ki Dandung.
Pendekar Rajawali Sakti itu meletakkan Kajar di depan pintu kedai Ki Dandung yang terbuka lebar. Pada saat itu Ki Dandung masih duduk menunggu kedatangan Pandan Wangi yang berjanji akan membawa Kajar malam ini juga. Laki-laki tua itu terkejut melihat kemunculan Rangga membawa Kajar dalam keadaan setengah sadar.
"Kenapa dia?" tanya Ki Dandung sambil mengambil tubuh Kajar dan membawanya masuk ke dalam. Dia meletakkan tubuh anak laki-laki berusia sebelas tahun itu di bangku panjang.
"Dia tidak apa-apa, hanya bekas totokan saja belum hilang penuh," kata Rangga tetap berdiri di ambang pintu.
Ki Dandung memandang pemuda tampan yang sempat ditemuinya, dan sempat pula diperingatinya agar tidak ikut campur dalam masalah di Desa Watu Ampar ini.
"Maaf, aku tidak menuruti nasehatmu, Ki," kata Rangga mendahului.
"Masuklah," kata Ki Dandung.
Ki Dandung memeriksa keadaan tubuh Kajar sebentar, lalu dia melangkah masuk ke bagian belakang kedai. Tidak lama kemudian, laki-laki tua pemilik kedai bekas kepala desa itu muncul lagi bersama Sarman, anaknya. Sebentar Sarman memandang Rangga, lata perhatiannya beralih pada Kajar yang masih tergolek setengah sadar di bangku panjang.
"Bawa dia masuk, usahakan agar cepat sadar," kata Ki Dandung memerintah.
"Baik, Ayah," sahut Sarman.
Sarman segera mengangkat tubuh Kajar dan membawanya masuk ke dalam ruangan belakang kedai ini. Sementara Ki Dandung mengambil seguci arak dan membawanya ke meja Rangga. Dua buah gelas tersedia juga di meja itu. Ki Dandung mengisi dua gelas itu dengan arak manis sampai penuh. Tak lama kemudian mereka minum berdua tanpa berkata apa-apa.
"Kenapa kau tidak meninggalkan desa ini?" tanya Ki Dandung setelah menghabiskan dua gelas arak manis.
"Hatiku yang menyuruhku untuk menyelidiki keadaan Desa Watu Ampar ini," sahut Rangga.
"Apa yang telah kau ketahui tentang keadaan Desa Watu Ampar ini?" tanya Ki Dandung.
"Cukup banyak juga, dan aku semakin ingin mengungkapnya lebih jelas. Terus terang, semakin aku tahu banyak, semakin heran.... Seorang kepala desa yang sangat disegani tiba-tiba saja mengundurkan diri hanya karena kematian istrinya. Dan muncul seseorang yang mengangkat dirinya sebagai kepala desa baru tanpa pemilihan lebih dahulu. Sungguh aneh...," Rangga seperti bergumam saja layaknya.
Ki Dandung langsung terdiam. Kata-kata Rangga yang pelan dan lemah lembut bernada sindiran tajam untuk dirinya. Jelas sekali kalau ucapan Rangga tadi ditujukan langsung padanya. Ki Dandung menatap tajam pada pemuda yang duduk di depannya. Dia mengangkat gelas dan meneguk arak hingga tandas. Tarikan napasnya panjang dan berat.
"Mungkin kehadiranku di sini tidak menyenangkan hatimu. Maaf, aku hanya tidak bisa melihat penderitaan di depan mataku." Setelah berkata begitu, Rangga langsung melompat tanpa bangun dulu dari duduknya. Ki Dandung sampai tersentak kaget. Dalam sekejap saja Pendekar Rajawali Sakti itu sudah lenyap tanpa terlihat lagi bayangannya.
Baru saja Ki Dandung bangkit berdiri, terdengar suara derap kaki kuda yang dipacu cepat menembus rinai hujan lebat di tengah malam buta ini. Ki Dandung segera melangkah ke pintu. Pada saat itu, kuda hitam yang ditunggangi Pandan Wangi sudah berhenti di depan pintu. Pandan Wangi langsung melompat dari punggung kudanya. Hanya sekali lompatan saja, gadis itu sudah mencapai ambang pintu kedai itu. Seluruh bajunya basah kuyup sehingga memetakan bentuk tubuhnya yang indah dan ramping. Ki Dandung langsung memberi minuman hangat pada pendekar wanita itu.
"Celaka, Ki..., benar-benar celaka!" agak tergagap suara Pandan Wangi.
"Tenang, minum dulu," Ki Dandung menenangkan.
Pandan Wangi menerima gelas berisi minuman hangat. Dia meneguknya sampai habis, lalu menaruh gelas kosong itu ke meja di depannya. Sebentar Pandan Wangi mengatur jalan napasnya. Dia mulai sedikit tenang setelah jalan napasnya kembali teratur.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan," kata Ki Dandung.
"Ki Dandung tahu...?!" Pandan Wangi terkejut.
__ADS_1
"Ya, Kajar ada di dalam sedang istirahat ditemani Sarman."
"Apa...?!"
********************
"Bagaimana Kajar bisa sampai ke sini, Ki?" tanya Pandan Wangi.
"Dia dibawa seorang pemuda yang sangat tinggi ilmunya," sahut Ki Dandung.
"Pendekar maksudmu, Ki?" Pandan Wangi ingin menegaskan.
"Mungkin, tapi tampaknya dia berbudi luhur. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa membawa Kajar ke sini." "Ki Dandung tidak menanyakannya?"
Ki Dandung hanya menggeleng. Dia memang lupa menanyakan bagaimana pemuda itu membawa Kajar ke rumahnya ini. Pembicaraannya dengan pemuda pendekar itu sampai membuat dirinya lupa. Ki Dan-dung juga jadi lupa tidak menanyakan namanya atau pun julukannya.
"Siapa dia, Ki?" tanya Pandan Wangi.
Entah kenapa, dada gadis itu jadi bergemuruh tanpa sebab. Mendadak saja bayangan Rangga memenuhi benaknya. Ada satu harapan yang sulit untuk diungkapkan di dalam hatinya. Tapi harapan itu juga tertindas oleh perasaan lain yang sangat sukar untuk dicampakkan jauh-jauh. Ada kerinduan untuk bertemu, tapi juga ada rasa malu dan rendah diri di hatinya. Yang paling kuat membelenggu hatinya adalah perasaan cinta. Ya..., perasaan itulah yang paling sulit untuk dienyahkan dalam hatinya. Pandan Wangi tidak mengerti, kenapa perasaan itu tiba-tiba saja muncul pada dirinya?
Dan semua isi hatinya sudah diungkapkannya pada Nek ringgih. Ada sedikit ketenangan bila Pandan Wangi teringat dengan kata-kata sejuk menyegarkan dari Nek Ringgih yang menjabarkan arti cinta suci. Pandan Wangi memang tidak menyangkal kalau di dalam hatinya telah tumbuh benih-benih cinta pada Pendekar Rajawali Sakti itu. Dan benih itu semakin hari semakin berkembang subur.
"Aku lupa menanyakannya," sahut Ki Dandung. "Tapi dia masih muda, tampan dan gagah."
"Ah...," Pandan Wangi mendesah lirih.
Semula dia berharap Ki Dandung tahu namanya. Harapannya kini pupus setelah mendengar jawaban tanpa kepastian itu. Tidak sedikit pendekar-pendekar muda bermunculan di jaman ini. Mungkin juga pendekar itu adalah Rangga, tapi ada kemungkinan juga bukan dia. Harapan yang tadinya tumbuh, langsung padam seketika.
"Aku mendapatkan pondok Nek Ringgih sudah terbakar, dan Kajar hilang...," kata Pandan Wangi bercerita tanpa diminta.
"Jangan dipikirkan, Kajar sudah aman berada di sini. Siapa pun dia yang membawanya, maksudnya tentu baik," kata Ki Dandung membesarkan hati Pandan Wangi.
"Ki, apakah mungkin Ki Japalu yang membakar rumah Nek Ringgih?" tanya Pandan Wangi hati-hati.
"Ya," desah Ki Dandung menjawab.
"Kenapa dia tega berbuat seperti itu?"
Ki Dandung tidak langsung menjawab.
"Kau sudah berjanji untuk mengatakan semuanya padaku, Ki," Pandan Wangi mengingatkan. "Apa lagi yang harus aku katakan? Kau sudah tahu siapa itu Ki Japalu, Ki Sampar Bayu dan Pantula. Merekalah yang sekarang menguasai Desa Watu Ampar," kata Ki Dandung.
"Kenapa mereka membunuh Nek Ringgih?" tanya Pandan Wangi.
"Persoalan lama yang dicari-cari," sahut Ki Dandung.
"Maksudmu, Ki?"
"Mereka memang sudah lama ingin melenyapkan Nek Ringgih. Baru kali ini mereka punya kesempatan. Kasihan perempuan malang itu..., hidupnya tidak pernah merasa bahagia. Selalu saja ada gangguan. Sampai mati pun masih juga diganggu."
Pandan Wangi mengerutkan keningnya melihat raut wajah Ki Dandung jadi berubah murung. Tatapan matanya sayu bagai tak memiliki gairah hidup lagi. Pandan Wangi mengangkat kepalanya ketika Sarman masuk. Pemuda itu langsung duduk di samping ayahnya.
"Bagaimana Kajar?" tanya Ki Dandung tanpa menoleh.
"Sudah tidur, kelihatan dia lelah sekali," sahut Sarman sambil melirik Pandan Wangi.
Sarman melemparkan senyum yang termanis. Lirikannya terpaku lama pada seraut wajah cantik dengan bibir mengulas senyum manis itu. Sarman baru mengalihkan perhatiannya ketika Pandan Wangi terbatuk tiga kali.
"Kasihan sekali Nek Ringgih...," gumam Pandan Wangi pelan.
"Aku juga semula tidak percaya kalau ancaman Ki Japalu tidak main-main. Rupanya dia melaksanakan juga ancamannya membunuh Nek Ringgih. Menyesal sekali aku memanggilnya ke sini. Kalau saja aku tidak memintanya datang, tentu dia masih hidup," suara Ki Dandung semakin pelan dan lirih.
Mereka terus saja membicarakan tentang kematian Nek Ringgih. Sampai menjelang pagi mereka baru beranjak meninggalkan kedai itu. Ki Dandung menyediakan kamar sendiri untuk Pandan Wangi. Rumah di belakang kedai ternyata sangat luas dan banyak terdapat kamar-kamar yang kosong. Pandan Wangi menyempatkan pula menengok Kajar yang lelap tertidur.
********************
__ADS_1