Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Naga Merah Bag. 6


__ADS_3

Nyi Rongkot atau si Ular Betina menghentikan larinya ketika mendengar suara pertarungan di tengah-tengah Hutan Gading. Sebentar dimiringkan kepalanya mencoba untuk mencari arah sumber suara pertarungan itu Kakinya kembali terayun setelah dapat memastikan arah suara itu.


Matanya mengernyit saat melihat kelebatan-kelebatan sinar keemasan. Tampak dua orang sedang bertarung menggunakan senjata masing-masing. Dari ayunan berat disertai suara gemuruh, dapat diketahui salah satu dari yang bertarung itu adalah si manusia liar Buto Dungkul.


Sedangkan yang menggenggam pedang mengeluarkan cahaya keemasan adalah Dewa Pedang Emas. Sejak semalam hingga pagi ini mereka sudah bertarung puluhan jurus. Namun belum ada yang tampak terdesak. Masing-masing melancarkan serangan yang cukup berbahaya dan mematikan. Nyi Rongkot menurunkan tubuh Sekar Telasih dari pondongannya.


“Hm... Dewa Pedang Emas. Benar-benar nama yang patut diperhitungkan oleh Buto Dungkul," gumam Nyi Rongkot.


Perkiraan Nyi Rongkot memang tepat. Dalam beberapa jurus kemudian tampak Buto Dungkul terdesak terus-menerus. Pantas saja kalau mendapat julukan Dewa Pedang Emas. Permainan jurus-jurus pedangnya sungguh lihai dan cepat Pedang dari emas itu berkelebatan berada di tangannya. Cepat sehingga yang terlihat hanya berupa sinar keemasan bergulung-gulung mengurung Buto Dungkul.


Pada satu kesempatan baik, pedang emas berkelebat cepat membabat pundak Buto Dungkul. Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba tidak dapat dihindari lagi. Pundak kiri si manusia liar itu terkena sabetan pedang emas.


“Ha ha ha...!” Buto Dungkul tertawa terbahak-bahak.


Dewa Pedang Emas melompat mundur tiga tindak ke belakang. Matanya membeliak lebar hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Jelas-jelas mata pedangnya membabat pundak si manusia liar itu tapi tidak sedikit pun ada luka goresan di sana. Bahkan dari ujung pedang sampai pangkal lengannya Dewa Pedang Emas merasakan getaran yang amat dahsyat


“Gila! Pedang emasku tidak mempan," dengus Dewa Pedang Emas.


Dewa Pedang Emas berteriak nyaring. Dikebutkan pedangnya kuat-kuat lalu dia melompat menerjang. Buto Dungkul masih tetap tergelak tanpa menghiraukan cahaya keemasan yang berkilat. mengarah dadanya.


“Mampus kau, setan!” geram Dewa Pedang Emas.


Trak!


Dewa Pedang Emas membabat si manusia liar Buto Dungkul dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Seketika tubuh Dewa Pedang Emas terpental ke belakang begitu pedangnya menghantam sasaran. Sedangkan si manusia liar Buto Dungkul masih terbahak-bahak berdiri tegar.


“Setan! Ilmu apa yang dipakainya?” geram Dewa Pedang Emas begitu melihat mata pedangnya gompal. Tidak sedikitpun ada luka di dada si manusia liar ini. Dia berdiri congkak bertolak pinggang. Tubuhnya yang tinggi besar berguncang-guncang karena tawanya terus tergelak. Sementara itu Nyi Rongkot yang menyaksikan hanya tersenyum-senyum. Lain halnya dengan Dewa Pedang. Dia tampak kebingungan menghadapi lawan begini tangguh, tidak mempan oleh senjata pusaka yang sangat diandalkannya.


“Terpaksa, aku harus gunakan paku-paku emas,” gumam Dewa Pedang Emas.


Dia melemparkan pedang emasnya yang gompal besar pada matanya yang tajam. Segera dia bersiap-siap mengeluarkan jurus 'Seribu Paku Emas'. Sambil berteriak nyaring, Dewa Pedang Emas bergerak cepat melontarkan paku-paku emas yang menjadi senjata rahasianya yang sangat diandalkan.


Aneh! Si manusia liar Buto Dungkul tidak sedikitpun bergeming. Paku-paku emas meluncur deras menghantam tubuh tinggi besar bagai raksasa itu. Lagi-lagi Dewa Pedang Emas terbeliak lebar. Pakupaku emas yang dilontarkan dengan menggunakan jurus Seribu Paku Emas tidak sedikit pun melukai lawannya. Paku-paku emas yang mengandung racun dahsyat, rontok begitu saja setelah menghantam tubuh Buto Dungkul.


“Habiskan semua ilmu yang kau miliki, bocah!” ejek Buto Dungkul jumawa.


“Bedebah!” geram Dewa Pedang Emas jengkel.


"Kenapa bengong? Apa kau sudah tidak punya lagi ilmu kesaktian?"


Dewa Pedang Emas tidak menyahut. Otaknya berpikir keras mencari cara untuk mengalahkan si manusia raksasa ini. Matanya melirik Nyi Rongkot, si Ular Betina yang berdiri tersenyum-senyum. Hati Dewa Pedang Emas jadi panas saat matanya tertumbuk pada sesosok tubuh ramping menggeletak dekat kaki si Ular Betina.


"Iblis! Rupanya dia sudah berhasil menculik Sekar Telasih. Hm, bagaimana nasib Rangkuti dan Bayangan Malaikat? Apakah mereka sudah tewas?" Dewa Pedang Emas bertanya-tanya sendiri dengan hati geram.


“Cukup waktumu untuk berpikir, Dewa Pedang Emas. Bersiaplah untuk ke neraka!” sentak Buto Dungkul.


Begitu selesai berkata, gada besar penuh duri dikebut-kebutkan di atas kepala. Suara angin menderu-deru memekakkan telinga. Begitu besar tenaga yang dimiliki si manusia liar itu, sehingga dalam seketika saja tempat itu seperti dilanda badai topan yang amat dahsyat.


Secepat kilat Buto Dungkul berlari sambil mengayunkan gada besar berdurinya. Dewa Pedang Emas melompat ke samping menghindari sambaran gada yang sebesar pahanya sendiri. Bumi bergetar begitu gada itu menghantam tempat Dewa Pedang berdiri tadi.


­"Graaagh...!" Buto Dungkul meraung dahsyat.


Kembali diayunkan gadanya kuat-kuat. Kembali Dewa Pedang Emas melompat namun kali ini kaki Buto Dungkul terayun cepat hampir bersamaan dengan ayunan gada. Dewa Pedang Emas yang terlalu memusatkan perhatian pada senjata lawan tidak menyangka kalau kaki Buto Dungkul melayang.


Buk!


Keras sekali kaki manusia liar yang bagai raksasa itu menghantam pinggang Dewa Pedang Emas. Tak ayal lagi tubuh Dewa Pedang Emas terjungkal menyuruk tanah. Belum sempat memperbaiki diri, gada besar berduri telah terayun deras ke arahnya.


"Aaakh...!” Dewa Pedang Emas menjerit keras. Kaki kirinya langsung remuk kena hantam gada Buto Dungkul. Darah muncrat dari kaki yang hancur.


Buto Dungkul kembali mengayunkan gadanya. Prak! KaIi ini Dewa Pedang Emas tidak bisa lagi bersuara. Kepalanya langsung hancur terkena hantaman keras gada berduri Buto Dungkul. Tubuh Dewa Pedang Emas menggeletak tak bernyawa lagi.


Buto Dungkul kembali tertawa tergelak. Tawanya langsung berhenti begitu tubuhnya berbalik. Gada besar penuh duri dipanggul di pundak. Matanya yang merah besar menatap tajam pada Nyi Rongkot.


“Kau sudah datang, Rongkot?” suara Buto Dungkul terdengar berat menggelegar.


“Aku datang membawa hadiah untukmu," Nyi Rongkot menunjuk Sekar Telasih yang masih tergeletak lemas di tanah.


“Sekar Telasih...!” mata Buto Dungkul berbinar. Buru-buru dia melangkah menghampiri.


“Tunggu!” cegah Nyi Rongkot.


Buto Dungkul menghentikan langkahnya seketika. Jarak antara dia dengan Sekar Telasih tinggal empat langkah lagi. Matanya langsung menatap Nyi Rongkot yang berdiri tepat di depannya di samping Sekar Telasih yang menggeletak di tanah. Kembali ditatapnya gadis itu. Keningnya agak berkerut.

__ADS_1


“Dia, dia mati...?" suaranya agak parau serak.


“Tidak. Cuma pingsan,” sahut Nyi Rongkot


"Lalu kenapa kau menghalangiku?" Buto Dungkul menatap Ular Betina itu dengan pandangan tajam tidak mengerti.


"Belum saatnya kau menyentuh putriku."


“Rongkot! Kau sudah berjanji akan menyerahkan Sekar Telasih padaku. Kau sudah kuberi Kitab Naga Merah. Dan kau sudah menguasainya, kenapa masih juga menghalangiku?”


"Masih ada satu syarat lagi yang belum kau laksanakan."


"Membunuh si tua bangka Rangkuti? Ha ha ha.... Dengan sebelah mata saja aku bisa mengirimnya ke neraka'"


“Kenapa tidak kau lakukan?"


"Tidak! Aku harus taat pada janjiku sendiri. Belum waktunya aku membunuh si tua keparat itu!"


"Kalau begitu kau juga belum waktunya menyentuh putriku.”


"Kau licik, Rongkot!” dengus Buto Dungkul.


“Lebih licik lagi dirimu, Buto Dungkul. Kau sudah kuberi ilmu kekebalan tubuh masih juga menginginkan putriku.”


“Huh!” Buto Dungkul hanya mendengus.


“­Nah! Sambil menunggu waktu perjanjianmu, selama itu aku tidak mengijinkan kau mengganggu Sekar Telasih.”


"Baiklah," desah Buto Dungkul pasrah.


Nyi Rongkot tersenyum puas. Kemudian dia kembali memondong tubuh Sekar Telasih di atas pundaknya. Kakinya mulai terayun melangkah di dampingi si manusia liar Buto Dungkul. Mereka melangkah terus lebih masuk ke dalam Hutan Gading yang lebat tak pernah terjamah manusia. Hutan yang selalu dijauhi para penduduk di sekitarnya.


********************


Sementara itu Ki Rangkuti termenung di beranda depan rumahnya. Di depannya duduk Bayangan Malaikat. Sejak acara penguburan Darmasaka Ki Rangkuti terlihat lebih banyak diam termenung. Memang berat rasanya kehilangan putra tunggal yang sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang pendekar. Lebih-lebih sekarang ini dia juga kehilangan anak angkat seorang gadis cantik yang diurus sejak masih bayi.


Belum lagi dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan Buto Dungkul yang kebal terhadap segala jenis senjata pusaka. Bayangan Malaikat yang mengetahui persis persoalan yang tengah dihadapi sahabatnya, tidak bisa meninggalkannya sendirian Ke mana Ki Rangkuti pergi, dia selalu mendampingi. Mereka memang benar-benar sahabat sejati.


"Belum," sahut si Bayangan Malaikat. ''Tapi aku sudah mengirim beberapa orang murid pilihan Padepokan Jatiwangi untuk memeriksa sekitar Hutan Gading. "


"Berapa orang yang kau kirim?"


"Hanya sepuluh."


Ki Rangkuti mendesah panjang.


"Aku tidak mau mengambil resiko kehilangan banyak orang. Hutan itu sangat berbahaya, masih untung kalau tidak bertemu si manusia liar."


''Terima kasih.”


"Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya melaksanakan apa yang kumampu saja,” Bayangan Malaikat merendah.


Ki Rangkuti tersenyum kecut. Namun senyumnya mendadak hilang ketika matanya melihat sepuluh orang berkuda datang. Mereka langsung turun dari kuda masing-masing setelah sampai di depan rumah Kepala Desa Jatiwangi itu.


Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat serentak berdiri lalu berjalan ke luar beranda menghampiri sepuluh orang yang datang itu. Mereka adalah murid-murid Padepokan Jatiwangi. Yang berjalan paling depan, laki-laki tinggi tegap berkumis tebal. Dia salah satu guru pengajar olah kanuragan


"Bagaimana, Sayuti?" tanya Ki Rangkuti tidak sabar.


­“Kami hanya menemukan mayatnya saja, Ki,” sahut Sayuti yang jadi pemimpin dalam pencarian Dewa Pedang Emas di samping sebagai guru pengajar olah kanuragan di Padepokan Jatiwangi.


“Maksudmu...?” Ki Rangkuti tidak bisa lagi melanjutkan pertanyaannya.


“Dewa Pedang Emas tewas di tengah Hutan Gading.”


“Jagat Dewa Batara...,” Ki Rangkuti mengeluh lirih.


Sebentar dia mendongakkan kepalanya kemudian berpaling pada Bayangan Malaikat. Tampak sepasang bola matanya berkaca-kaca. Ki Rangkuti benar-benar terpukul mendengar kematian sahabat karibnya. Sahabat sejati tewas membela kemurnian persahabatan. Dewa Pedang Emas mempertaruhkan nyawa demi kehormatan sahabatnya Ki Rangkuti.


“Bagaimana dengan Sekar Telasih?” tanya Bayangan Malaikat


“Kami tidak menemukan Nini Sekar Telasih. Hanya ini,” Sayuti menyerahkan kain warna biru muda.


Ki Rangkuti mengambil kain ikat kepala yang biasa dikenakan Sekar Telasih. Kepala Desa Jatiwangi yang bekas seorang pendekar itu tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya. Dia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah Air matanya tidak bisa lagi ditahan. Kain ikat kepala Sekar Telasih diciuminya beberapa kali..

__ADS_1


Bayangan Malaikat dan sepuluh orang lainnya hanya bisa memandang dengan perasaan sedih. Belum pernah mereka melihat Ki Rangkuti begitu sedih sampai menitikkan air mata. Kejadian yang menimpa Ki Rangkuti benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Setegar-tegarnya dia hancur juga hatinya kehilangan orang-orang yang dicintai secara beruntun.


“Kau tidak menemukan mayat Nini Sekar?” tanya Bayangan Malaikat setengah berbisik.


“Tidak Hanya itu yang saya temukan,” sahut Sayuti.


“Tidak menemukan jejak?”


Sayuti menggelengkan kepalanya.


“Hhh....,” Bayangan Malaikat menarik napas panjang.


“Di sekitar tempat itu kelihatannya bekas terjadi pertempuran. Di situ juga saya menemukan ikat kepala Nini Sekar Telasih.”


“Baiklah terima kasih,” ucap Bayangan Malaikat, “Aku percayakan padamu mengatur penjagaan untuk keamanan desa ini.”


Sayuti membungkuk sedikit lalu mengajak yang lain meninggalkan tempat itu. Mereka menuntun kuda masing-masing kembali ke padepokan. Bayangan Malaikat masih berdiri cukup lama di depan beranda rumah. Sebentar ditarik napasnya dalam-dalam kemudian kakinya terayun hendak pergi.


Baru saja dia melangkah tiga tindak telinganya mendengar suara langkah kaki di belakang. Bayangan Malaikat berhenti dan menoleh. Keningnya agak berkerut melihat Ki Rangkuti berjalan ke luar dengan pakaian lengkap seorang pendekar. Pakaian putih-putih yang ketat membentuk tubuhnya yang kekar. Sebilah pedang tergantung di pinggang.


“Kau akan ke mana?” tanya Bayangan Malaikat setelah Ki Rangkuti berada di depannya.


“Membunuh iblis-iblis itu!” sahut Ki Rangkuti dingin.


“Pikirkan dulu Rangkuti. Aku tidak menyangsikan kesaktianmu tapi mereka berdua bukanlah orang-orang yang bisa dianggap remeh. Aku tidak ingin kehilangan lagi seorang sahabat. Tinggal kau satu-satunya sahabatku di dunia ini, Rangkuti,” Bayangan Malaikat mencoba meredakan rasa dendam di hati Kepala Desa Jatiwangi itu.


“Mereka telah merampas orang-orang yang kucintai!”


“Aku mengerti aku tahu. Aku juga bisa merasakan apa yang kau rasakan sekarang. Tapi cobalah kau bertindak dengan kepala dingin. Jangan turuti hawa dendam dan amarahmu. Aku yakin Sekar Telasih tidak dibunuh. Dia pasti masih hidup.”


“Mereka harus mati. Nyawa anakku harus mereka tebus!”


“Darmasaka mati membela kebenaran. Kau harus bangga punya putra yang berjiwa pendekar. Salah besar kalau kau menyesali kematiannya. Sebaliknya kau harus bangga Rangkuti. Darmasaka mati karena membela kehormatanmu!”


Ki Rangkuti terdiam. Kata-kata Bayangan Malaikat tepat mengena pusat hatinya. Dia memang harus bangga dengan Darmasaka yang mati sebagai pendekar Tidak gentar menghadapi musuh meskipun tahu tingkatannya jauh lebih tinggi. Putranya tidak mati secara sia-sia. Dia mati karena membela kehormatan keluarga.


“Sempurnakan dulu ilmu Pukulan Karang Baja mu. Aku rasa waktu tiga purnama cukup untukmu menyempurnakan ilmu itu,” kata Bayangan Malaikat.


Ki Rangkuti menatap Bayangan Malaikat dengan mata sayu. Bibirnya bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak ada kata-kata yang terucapkan. Tiba-tiba ia merangkul sahabatnya dengan ketat. Bayangan Malaikat menepuk-nepuk punggung Ki Rangkuti.


“Aku akan selalu berada di sampingmu Sobat.” bisik Bayangan Malaikat.


“Kau benar-benar sahabat sejatiku,” balas Ki Rangkuti lirih.


“Sudahlah, aku sendiri akan menyempurnakan ilmu Bayangan Maut. Kita bisa bersatu mengalahkan mereka.”


Ki Rangkuti tersenyum penuh haru. Memang dalam persahabatan ditemui banyak ujian. Kejadian seperti inilah merupakan satu ujian berat dalam persahabatan. Kalau perlu nyawa akan dikorbankan demi persahabatan yang murni dan sejati.


Mereka berpelukan hangat agak lama. Kemudian Bayangan Malaikat melepaskan pelukan perlahan-lahan. Sesaat mereka hanya saling pandang saja. Kemudian pelan-pelan melangkah menuju ke rumah besar yang kini tampak sepi senyap.


“Aku akan menyediakan kamar khusus untukmu bersemedi,” kata Ki Rangkuti.


“Terima kasih ilmu Bayangan Maut tidak bisa dilatih di dalam kamar. Aku akan berlatih di pinggiran desa setiap malam hari,” sahut Bayangan Malaikat.


“Maaf, aku lupa.”


Bayangan Malaikat hanya tersenyum tipis.


“Kau yakin Sekar Telasih tidak apa-apa?” tanya Ki Rangkuti masih memikirkan keselamatan anak angkatnya itu.


“Aku yakin. Meskipun Ular Betina berada di jalan yang sesat tidak mungkin mencelakakan anaknya sendiri.”


“Yah, itu kalau tidak bersama Buto Dungkul,” desah Ki Rangkuti. berat.


“Jangan terlalu dipikirkan biarpun dia liar, masih bisa taat pada janji. Kau ingat perjanjian Mahesa ****** kan?”


“Ya.”


“Nah! itu satu bukti kalau Buto Dungkul selalu mentaati perjanjiannya.”


Agak sedikit tenang hati Ki Rangkuti. Namun belum seluruhnya begitu. Bagaimanapun juga dia masih memikirkan keselamatan nyawa Sekar Telasih. Gadis itu belum tahu seluk-beluk orang-orang rimba persilatan. Meskipun sudah mendapat gemblengan dalam berbagai ilmu olah kanuragan, tapi tingkatannya jelas masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Buto Dungkul dan si Ular Betina.


********************

__ADS_1


__ADS_2