Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Asmara Maut Bag. 6


__ADS_3

Ki Japalu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan tengah yang luas di rumahnya. Tampak Ki Sampar Bayu dan Pantula duduk dengan wajah murung. Sejak kejadian malam itu, pikiran mereka jadi tidak bisa tenang. Terutama Ki Japalu. Kemunculan Pendekar Rajawali Sakti di Desa Watu Ampar ini membuat hatinya gundah tidak menentu.


"Diamlah, Kakang. Aku jadi pusing melihatmu mondar-mandir begitu...!" rungut Ki Sampar Bayu kesal.


"Ini semua gara-garamu, Sampar Bayu!" dengus Ki Japalu menatap tajam pada adiknya.


"Kenapa aku? Kau sendiri yang datang padaku agar bisa menguasai desa ini. Nah! Sekarang semua keinginanmu sudah tercapai, bahkan sakit hatimu pada perempuan tua bangka Ringgih itu sudah terbalaskan. Lalu, apa salahku? Aku hanya membantumu saja!" Ki Sampar Bayu tidak terima disalahkan sepihak.


"Ah! Sudahlah...!" Ki Japalu tidak mau berdebat dengan adiknya itu.


Kata-kata yang terlontar dari mulut Ki Sampar Bayu memang tidak bisa dibantah. Ki Japalu mengakui semuanya. Dia memang datang ke Gunung Kanjaran untuk meminta bantuan adiknya dalam mencapai cita-citanya menjadi kepala desa, di samping untuk membalas dendam pada Nek Ringgih, perempuan tua ahli pengobatan itu. Kini dendam yang. dipendamnya puluhan tahun itu sudah terbalaskan, dan sekarang dia juga sudah menduduki jabatan sebagai kepala desa di Watu Ampar ini.


Ki Japalu membanting tubuhnya di kursi rotan. Dia jadi teringat dengan istrinya yang meninggal saat melahirkan anak keduanya. Istrinya yang lembut dan tidak pernah menuntut banyak darinya. Dia meninggal karena melahirkan, dan yang membantu melahirkan adalah Nek Ringgih. Sejak itu Ki Japalu menyimpan dendam pada Nek Ringgih. Dia selalu menyangka kalau Nek Ringgih tidak pantas menjadi tabib. Sampai sekarang ini Ki Japalu selalu membenci tabib di manapun juga. Lebih-lebih pada Nek Ringgih yang dianggapnya menjadi penyebab kematian istrinya.


"Kau menyesal, Kakang Japalu?" tanya Ki Sampar Bayu memandangi kakaknya.


"Tidak!" sahut Ki Japalu tegas.


"Kenapa kau gelisah?"


'Pendekar Rajawali Sakti itu...."


"Ha ha ha...!" Ki Sampar Bayu tertawa terbahak-bahak.


"Huh! Dalam keadaan kacau begini, kau masih juga tertawa," rungut Ki Japalu memberengut.


"Apakah dia tangguh, Ayah?" tanya Pantula yang sejak tadi diam saja.


"Sepuluh orang sepertimu tidak akan sanggup melawan dia!" sahut Ki Japalu tanpa senyum.


"Dia penduduk Desa Watu Ampar?" tanya Pantula lagi.


"Dia pendekar kelana, Pantula. Namanya sudah tersohor sampai ke penjuru mayapada ini," Ki Sampar Bayu yang menjawab.


"Hm..., apa perlunya dia datang ke sini...?" gumam Pantula.


"Jelas kalau dia penghalang paling berat buat kita!" dengus Ki Sampar Bayu.


"Sampar Bayu, sebaiknya kau cari saja cucu Nek Ringgih. Bunuh dia, aku tidak mau melihat lagi keturunan perempuan tua itu! Dua nyawa dia bunuh...," kata Ki Japalu memerintah.


"Dicari ke mana?" tanya Ki Sampar Bayu.


"Pasti ada di Desa Watu Ampar ini, aku melihat dia membawa anak itu ke desa."


"Anak itu ada di rumah Ki Dandung," celetuk Pantula.


Ki Japalu dan Ki Sampar Bayu menatap anak muda itu.


"Kau yakin?" tanya Ki Sampar Bayu.


"Aku lihat anak itu tadi pagi ke luar dari rumah Ki Dandung. Di sana juga ada seorang gadis lain. Kelihatannya dia juga dari kalangan rimba persilatan," sahut Pantula pasti.


"Hm..., rupanya Ki Dandung diam-diam bikin ulah juga," gumam Ki Sampar Bayu.


"Itu urusanmu, Sampar Bayu," sergah Ki Japalu.


"Baik, itu memang urusanku. Tapi kau juga tidak bisa cuci tangan begitu saja. Kau juga terlibat, Kakang."


"Huh! Kau selatu memojokkan aku!" dengus Ki Japalu. "Ayah, aku mau ke luar sebentar," kata Pantula menyelak. Dia segera bangkit berdiri dan melangkah ke luar.


Ki Japalu hanya memandangi saja anaknya yang sudah lenyap di balik pintu. Terdengar desahan napasnya yang berat. Laki-laki itu menuang arak ke dalam gelas, dan meneguknya sampai tandas.


"Tidak seharusnya kau berkata begitu di depan anakku," kata Ki Japalu dingin.


"Sudah saatnya dia tahu siapa dirinya, Kakang."


"Tidak! Sampai kapan pun dia tidak boleh tahu. Aku sangat mencintainya, dia pengganti anakku yang mati karena ulah perempuan tua keparat itu!"


"Aku tidak menyangka, temyata hatimu lebih kejam daripada aku. Tidak seharusnya kau memperalat dia yang tidak tahu apa-apa. Kau terlalu menuruti ambisimu, Kakang. Kau sudah memperoleh semuanya, kau juga telah membalaskan kematian istrimu. Seharusnya kau tinggal menikmati hasilnya saja. Tapi malah membuat persoalan baru lagi. Kenapa kau tidak katakan saja pada Pantula kalau dia...."


"Cukup!" sentak Ki Japalu cepat.


"Kakang.... Aku memang ditakdirkan untuk bergelimang darah dan dosa. Tapi aku selalu melakukannya dengan cara terang-terangan, jantan dan tidak bersembunyi di balik kelemahan orang lain. Terus terang, kalau tidak karena kau saudaraku satu-satunya, tidak akan mungkin aku mau mengikuti semua rencana gilamu ini."


"Kau menyesal?"


"Heh! Untuk apa aku menyesal?"


"Lupakan saja aku, Sampar Bayu. Lupakan bocah cucu Nyi Ringgih itu. Biar aku yang menghadapi mereka semua sendiri. Kau sudah cukup banyak membantuku. Terima kasih, Sampar Bayu." Ki Japalu langsung bangkit dan melangkah pergi.


"Kakang...!"


"Kembali saja ke tempatmu, adikku."


Ki Sampar Bayu hanya mendesah mengangkat pundaknya melihat kakaknya masuk ke dalam kamarnya. Sebentar Ki Sampar Bayu masih berada di ruangan besar itu, kemudian kakinya terayun menuju ke luar. Laki-laki tua tokoh persilatan itu langsung melompat naik ke kudanya begitu sampai di luar. Dengan cepat dia menggebah kudanya meninggalkan rumah besar Ki Japalu.


********************

__ADS_1


Ki Japalu berdiri mematung di depan jendela besar kamarnya. Pandangannya kosong tertuju ke depan menatap tanaman bunga yang mekar menyebarkan harum wangi di bagian belakang rumahnya. Tidak ada seorang pun yang terlihat di halaman belakang yang tertata indah itu.


Dulu rumah ini begitu ramai. Banyak pekerja yang hilir mudik ke luar masuk sekitar rumah ini. Tapi sekarang... Semua pekerja meninggalkannya tanpa pamit. Tidak ada seorang pun yang mau berhubungan lagi dengannya. Semua meninggalkannya begitu saja. Pandangan Ki Japalu tertumbuk pada sangkar burung yang berada di tengah-tengah halaman belakang. Tidak ada seekor pun burung di sana. Semuanya mati tak terurus lagi.


"Hhh...," untuk kesekian kalinya Ki Japalu menarik napas panjang dan berat.


"Indah sekali taman itu...."


"Heh!" Ki Japalu terkejut.


Seketika itu juga dia berbalik. Kedua bola matanya membeliak lebar ketika tahu-tahu di dekat pintu kamar ini sudah berdiri seorang laki-laki muda berwajah tampan. Laki-laki muda itu mengenakan baju rompi putih dengan gagang pedang berkepala burung tersembul di punggung.


"Pendekar Rajawali Sakti...," desis Ki Japalu.


"Ya, aku Pendekar Rajawali Sakti," kata Rangga menyebut dirinya dengan nama julukan.


"Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?" tanya Ki Japalu membentak.


"Mudah saja, tidak ada seorang pun yang kutemui di sini. Hm..., sungguh mengherankan. Rumah seorang kepala desa yang besar dan indah, tapi tidak ada seorang pun yang ada."


"Mau apa kau ke sini?" tanya Ki Japalu tidak peduli dengan gumaman Rangga.


"Menyadarkanmu," sahut Rangga.


"Aku bukan orang gila!" bentak Ki Japalu tersinggung.


"Menyadarkan kekeliruanmu, Ki Japalu."


"Aku tidak kenal kau! Aku juga tidak punya urusan denganmu. Kenapa kau mau ikut campur dalam urusanku, heh?"


"Mungkin kita bisa bicara baik-baik kalau kau bisa mendinginkan kepalamu," kata Rangga kalem.


Tanpa menghiraukan sikap Ki Japalu, Pendekar Rajawali Sakti menghenyakkan tubuhnya di kursi dekat pintu. Bibirnya yang tipis menyunggingkan senyum. Matanya teduh dan lembut memancarkan sinar kejantanan dan kearifan.


"Namamu memang bisa membuat jantung orang copot mendengarnya, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi jangan coba-coba kau menghalangi langkahku!" ancam Ki Japalu.


Rangga hanya tersenyum saja. Dia mengambil guci arak yang ada di atas meja di sampingnya. Cairan hangat itu dituangkan ke dalam gelas dari perunggu. Hanya dengan sekali teguk saja, arak di dalam gelas sudah berpindah ke perutnya. "Enak sekali, pasti arak mahal," puji Rangga.


"Sebaiknya kau cepat enyah dari sini!" usir Ki Japalu sengit.


"Baik, aku memang akan pergi. Tapi sebaiknya kau pikirkan kata-kata adikmu. Aku rasa dia ada benarnya juga, meskipun tindakannya tidak pernah menyenangkan hati siapapun," kata. Rangga seraya bangkit berdiri.


"Tunggu!" cegah Ki Japalu.


"Jangan tanyakan dari mana aku tahu," potong Rangga cepat.


Rangga hanya mengangkat bahunya saja.


"Apa saja yang telah kau ketahui?" tanya Ki Japalu mau tahu.


"Tidak banyak, tapi aku rasa Ki Dandung bisa mengerti dan mau memaafkanmu," sahut Rangga. "Maaf, aku tidak bisa lama di sini."


"Hey!"


Bagaikan kilat saja, Rangga langsung lenyap begitu tangannya membuka pintu kamar ini. Ki Japalu segera mengejar, tapi bayangan Pendekar Rajawali Sakti itu sudah tidak kelihatan lagi. Dia kembali masuk ke kamarnya dengan kepala dipenuhi berbagai macam pikiran. Kini rahasia yang sudah dipendamnya puluhan tahun sudah diketahui orang lain selain dirinya dan adiknya.


"Tidak! Tidak boleh ada orang lain yang tahu. Aku sangat mencintainya, dia tidak boleh lepas dari tanganku! Dia satu-satunya penggantiku yang masih hidup," desah Ki Japalu pelan. "Hm.... Pendekar Rajawali Sakti itu harus ******! Dia sudah tahu semuanya, dia harus ******...!"


********************


Rangga memandangi kuda yang dipacu cepat ke luar dari Desa Watu Ampar. Bisa saja dia mengejar kuda itu dengan ilmu lari cepat, tapi hal itu akan membuang-buang tenaga dengan percuma. Saat kepalanya sedang mencari jalan ke luar yang terbaik, mendadak matanya melihat Kajar sedang membersihkan kuda di halaman kedai Ki Dandung. Rangga bergegas menghampiri anak itu.


"Oh! Paman...," Kajar segera menghentikan kegiatannya.


"Ki Dandung ada, Jar?" tanya Rangga.


"Sedang ke luar, Paman" sahut Kajar.


"Hm, ke mana?"


"Mungkin ke pasar, Paman," jawab Kajar santai.


Rangga jadi tersenyum. Matanya melirik ke arah perbatasan Utara Desa Watu Ampar ini. Penunggang kuda yang sedang diawasinya tadi sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Hanya debu saja yang masih tampak mengepul tipis di udara.


"Kudamu bagus," puji Rangga.


"Bukan kudaku, ini kuda kakakku," sahut Kajar.


"Hm, boleh aku pinjam sebentar?"


Kajar tampak ragu-ragu, tapi akhirnya dia berikan juga kuda itu. Rangga segera melompat ke atas punggung kuda hitam itu.


"Jangan lama-lama, Paman...!" pesan Kajar.


"Bilang sama kakakmu, kudanya kupinjam," sahut Rangga.


Kajar belum sempat menyahut, Rangga sudah menggebah kuda hitam itu dengan cepat menuju ke arah Utara. Debu mengepul terhempas kaki-kaki kuda yang berpacu cepat bagaikan angin. Sementara Kajar hanya memandanginya saja dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Rangga terus memacu kudanya dengan cepat. Dia kagum juga dengan kuda ini. Larinya bagaikan angin saja, dan sepertinya kaki-kaki kuda ini tidak menapak tanah. Pendekar Rajawali Sakti itu terus memacu kuda hitam itu semakin cepat. Dalam waktu tidak berapa lama saja penunggang kuda yang diawasinya sejak tadi sudah kelihatan lagi.


"Hiya, hiya...!"


Penunggang kuda yang dikejar Rangga menoleh ke belakang. Tampak sekali kalau dia terkejut. Seketika itu juga dia menggebah kudanya dengan keras. Suara ringkikan kuda terdengar nyaring. Kuda itu pun semakin cepat larinya.


"Hup, hiyaaa...!"


Rangga melompat dari punggung kudanya ketika jaraknya sudah demikian dekat dengan penunggang kuda di depannya. Hanya dengan sekali putaran di udara saja, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berhasil mencegat. Tangannya langsung menyambar tali kekang kuda itu, dan menghentikan larinya.


Kuda putih belang hitam itu meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Rangga melepaskan pegangannya pada tali kekang kuda itu, ketika penunggangnya melompat turun dengan cepat. Kuda itu langsung berhenti mendadak.


"Siapa kau? Mau apa kau menghadangku?"


"Tenang, Pantula. Kau pernah bertemu denganku sekali," sahut Rangga kalem.


Pantula mengamati pemuda di depannya dengan seksama. Benar! Dia memang pernah bertemu sekali. Ya..., malam itu, ketika dia bersama ayah dan pamannya berusaha menculik Kajar. Pemuda inilah yang menolong Kajar.


"Oh..., rupanya kau yang dijuluki Pendekar Rajawali Sakti. Hm..., pendekar tangguh dengan nama besar berlagak seperti perampok jalanan," cibir Pantula.


"Maaf, kalau aku mengganggu perjalananmu," ucap Rangga tetap ramah.


"Kau memang sudah mengganggu perjalananku!" dengus Pantula ketus.


"Terpaksa aku lakukan, karena ada hal penting yang harus aku katakan padamu," Rangga mulai serius.


"Kau ingin merampokku?" Pantula masih bersikap sinis.


Rangga hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia bisa memaklumi sikap Pantula yang ketus dan tidak ramah ini. Tentu Ki Japula sudah menjejalinya dengan cerita-cerita kosong yang buruk. Sama sekali Rangga tidak menyalahkan Pantula dengan sikapnya ini.


"Aku hanya ingin mengembalikanmu pada keluargamu," kata Rangga kelem.


"Heh! Apa yang kau katakan...?!" Pantula mendelik tidak mengerti.


"Nasibmu sama denganku, Pantula. Hanya aku lebih buruk lagi darimu, dan tak mungkin bisa bertemu lagi dengan orang yang paling kukasihi," pelan dan ngambang suara Rangga.


"Kau bicara apa, Pendekar Rajawali Sakti?" Pantula kelihatan mulai terpengaruh. Kegalakannya mulai sirna.


"Temuilah Pamanmu, dia tahu banyak tentang dirimu sesungguhnya. Desak dia agar mengakui semuanya," kata Rangga. "Hey, tunggu...!"


Namun Rangga sudah cepat melompat ke punggung kuda hitamnya dan seketika itu juga kuda hitamnya itu melesat cepat bagaikan angin. Pantula hanya memandangi dengan kepala dipenuhi berbagai macam pikiran. Apakah dia bukan anak Ki Japalu? Kalau memang benar, lalu siapa orang tuanya?


Pantula tidak jadi meneruskan perjalanannya ke Desa Halimun untuk menemui saudara seperguruannya. Dia kembali lagi ke Desa Watu Ampar. Kudanya dipacu cepat bagai kesetanan. Debu mengepul tinggi ke udara tersepak kaki-kaki kuda yang dipacu cepat.


Pantula terus mengarahkan kudanya ke rumah. Beberapa penduduk yang berada di sepanjang jalan utama desa itu langsung menyingkir, takut tertabrak kuda yang dilarikan bagai setan oleh penunggangnya. Mereka menyumpah serapah merasa terganggu dengan ulah anak kepala desa itu.


"Hooop...!" Pantula menarik tali kekang kudanya begitu sampai di depan rumahnya. Bergegas dia melompat turun, dan langsung berlari menerjang pintu depan rumah itu. Ki Sampar Bayu yang sedang berada di ruangan depan, terkejut melihat kedatangan Pantula dengan muka merah padam. Ki Sampar Bayu langsung beranjak bangun dari kursinya.


"Mana Ayah?" tanya Pantula kasar.


"Pantula, ada apa kau ini?" Ki Sampar Bayu mengerutkan keningnya.


Pantula hanya menggeleng saja, dia langsung mengayunkan kakinya melewati ruangan depan itu. Ki Sampar Bayu mengikuti dari belakang. Dia heran melihat sikap Pantula demikian. Pemuda itu langsung saja menuju ke kamar peristirahatan ayahnya. Dengan kasar dia membuka pintu kamar itu. Matanya nyalang merayapi kamar yang kosong tak berpenghuni. Dia segera berbalik, tapi langkahnya tertahan oleh Ki Sampar Bayu.


"Pantula, ada apa? Kenapa kau marah-marah begini?" tanya Ki Sampar Bayu.


"Di mana Ayah?" Pantula tidak menggubris pertanyaan pamannya, dia malah balik bertanya.


"Pergi," sahut Ki Sampar Bayu.


"Kemana?"


"Aku tidak tahu, dia tidak bilang apa-apa padaku."


Pantula menggeretakkan rahangnya. Matanya yang memerah menatap tajam pada pamannya ini. Kemudian dia melayangkan pandangannya berkeliling, seolah-olah tidak mempercayai jawaban laki-laki tua itu.


"Ada apa kau, Pantula? Apa yang terjadi?" Ki Sampar Bayu memberondong pertanyaan-pertanyaan.


Pantula tidak menjawab sedikit pun. Dia hanya menatap tajam pada laki-laki tua adik ayahnya ini. Ayahnya...? Benarkah Ki Japalu itu ayahnya? Lalu, apa maksudnya Pendekar Rajawali Sakti berkata demikian tadi? Pantula menghenyakkan tubuhnya di kursi. Dia jadi lemas memikirkan dirinya bukanlah anak Ki Japalu. Kalau memang dia bukan anaknya Ki Japalu, lalu siapa orang tuanya? Apakah Ki Sampar Bayu benar pamannya? Pantula memandang laki-laki yang duduk di depannya dan tengah memandang dirinya pula.


"Siapa Ayahku sebenarnya, Paman?" tanya Pantula tajam.


Ki Sampar Bayu tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. Mulutnya langsung terkunci rapat. Pandangannya tajam menatap lurus ke bola mata pemuda itu. Sungguh dia tidak pernah berpikir kalau Pantula akan bertanya seperti itu.


"Jawab sejujurnya, Ki Sampar Bayu. Siapa ayahku sebenarnya?" Makin dingin suara Pantula.


"Tentu saja ayahmu Ki Japalu, Kepala Desa Watu Ampar ini. Dan aku pamanmu, Pantula...," agak tertahan suara Ki Sampar Bayu menjawab.


"Kau tidak berdusta, Ki Sampar Bayu?" Pantula tetap tidak memanggil laki-laki tua itu dengan sebutan paman lagi.


Ki Sampar Bayu tidak menjawab. Dia jadi kebingungan menjawab pertanyaan pemuda itu. Entah kenapa, duduknya jadi gelisah, seperti berada di atas bara api yang siap menghanguskannya.


Ki Sampar Bayu dan Pantula mengangkat kepalanya secara bersamaan ketika mendengar langkah kaki memasuki ruangan ini. Tampak Ki Japalu terhenti langkahnya di depan pintu begitu melihat Pantula dan Ki Sampar Bayu duduk berhadapan dengan wajah mendung tidak biasanya.


Ki Japalu mengurungkan membuka suara ketika Ki Sampar Bayu mengerdipkan matanya sebelah kiri. Ki Sampar Bayu bangkit berdiri dan menghampiri kakaknya yang tetap berdiri di ambang pintu. Sementara Pantula memandangi dengan mata tidak berkedip. Kedua laki-laki tua itu berbicara pelan berbisik. Tampak wajah Ki Japalu berubah merah seketika. Dia menatap Pantula dengan mata sulit diartikan.


********************

__ADS_1


__ADS_2