
Melewati jurus kelima dua murid Padepokan Pasir Batang makin terdesak. Tingkat kepandaian mereka memang jauh di bawah anak buah Raja Dewa Angkara. Rangga yang sejak tadi memperhatikan pertarungan mereka, dapat memastikan kalau dalam dua atau tiga jurus lagi, Sawung Bulu dan Badara dapat dikalahkan.
Dugaan Rangga memang tepat. Dua jurus berlangsung, Badara menjerit keras. Tubuhnya limbung, darah mengucur deras dari dadanya yang sobek. Belum sempat Badara menguasai diri, sebuah tendangan keras menghantam kepalanya. Tidak ampun lagi, Badara terjengkang ambruk Kepalanya pecah.
"Kejam! Iblis!" geram Sawung Bulu ketika melihat putra tunggal Ki Gandara tewas.
Pada saat Sawung Bulu lengah, mendadak sebuah tendangan keras mendarat di dadanya. Murid utama Padepokan Pasir Batang itu terjengkang dua depa. Dadanya terasa sesak, matanya berkunang-kunang. Sawung Bulu belum dapat mengatur posisi, tiba-tiba salah seorang lawan menerjang dengan ujung tombak terhunus.
Sawung Bulu yang memang sudah tidak berdaya, hanya pasrah menerima nasib. Serangan orang berpakaian serba hitam itu sangat cepat. Dan ketika ujung tombak telah berada seujung rambut lagi membelah dada Sawung Bulu, sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat cepat menyambar murid utama Padepokan Pasir Batang itu.
Tubuh Sawung Bulu lenyap begitu saja. Tombak yang hampir membelah dadanya menerobos tempat kosong. Hal ini membuat empat orang berpakaian serba hitam itu terkejut. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya
"Kadal! Siapa berani main-main dengan Raja Dewa Angkara!" bentak salah seorang dari mereka.
Tidak ada sahutan sama sekali. Mata mereka beredar ke sekeliling. Tidak ada seorang pun di dalam kedai makan ini. Hanya meja kursi saja yang terlihat berantakan tidak tentu arahnya.
"Huh! Kepala Desa Pasir Batang harus bertanggung jawab!" dengus orang itu lagi.
"Sebaiknya segera kita laporkan hal ini pada Raja Dewa Angkara," kata lainnya mengusulkan.
"Baiklah! Ayo kita pergi!"
Empat orang anak buah Raja Dewa Angkara itu pun dengan cepat mencelat. Sekejap mata saja mereka tak terlihat lagi bayangannya. Kini kedai makan itu kembali sepi. Tidak ada orang lagi di sana kecuali mayat Badara yang menggeletak mandi darah.
Dalam waktu yang tak lama, muncul Ki Gandara diikuti pemuka-pemuka Desa Pasir Batang dan beberapa penduduk di pintu kedai makan. Ki Gandara tampak terkejut melihat putranya menggeletak dengan kepala pecah. Sangkala, Bagaspata, Rawusangkan, dan dua orang lainnya, seperti terkunci mulutnya. Mereka sangat terkejut melihat mayat Badara dan dua tombak berwarna hitam pekat yang masih tertancap di tengah-tengah meja dan di tanah dekat tubuh Badara.
"Mana Sawung Bulu?" tiba-tiba Sangkala ingat keponakannya
"Tadi... tadi ada di sini, Gusti," jawab seorang penduduk yang tadi juga ada di kedai ini. Bicaranya tergagap.
Muka Sangkala berubah merah pada. Matanya liar merayapi sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda Sawung Bulu ada di sekitar sini. Sementara itu Ki Gandara memeriksa mayat putranya. Kelihatan sekali dua bola matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Siapa yang berbuat ini?" tanya Sangkala pada penduduk yang menjawab tadi.
"Orang-orang Raja Dewa Angkara, Gusti," sahut penduduk itu lagi.
"Berapa orang mereka?" tanya Bagaspati.
"Empat Semuanya mengenakan topeng"
"Lalu, siapa di antara kalian yang melihat Sawung Bulu?" tanya Rawusangkan.
Matanya menatap satu persatu penduduk yang sudah banyak berkumpul di depan kedai. Semua orang tidak ada yang membuka mulut. Kepala mereka perlahan tertunduk. Memang tidak ada seorang pun yang melihat, ke mana Sawung Bulu pergi. Apalagi melihat kepergian empat anak buah Raja Dewa Angkara yang begitu cepat melesat.
Mereka memang hanya penduduk biasa yang awam terhadap ilmu silat Ki Gandara berdiri. Matanya merayapi lima orang pemuka desa, lalu memandang satu-satu wajah penduduk Desa Pasir Batang yang tertunduk. Sebentar guru besar Padepokan Pasir Batang menarik nafas panjang. Tangannya memberi isyarat kepada murid-muridnya untuk mengangkat mayat Badara. Segera empat orang murid Padepokan Pasir Batang bergerak
"Apa yang kita khawatirkan selama ini sudah jadi kenyataan," pelan suara Ki Gandara bergumam.
"Maafkan anak ponakan saya, Ki," ucap Sangkala menyesali perbuatan Sawung Bulu.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya telah terjadi. Entah kapan waktunya, malapetaka akan datang ke desa ini," masih terdengar pelan suara Ki Gandara.
"Saya yang akan mewakili meminta maaf pada Raja Dewa Angkara," kata Sangkala merasa bertanggung jawab.
"Percuma saja, Sangkala. Raja Dewa Angkara tidak memandang satu dua orang. Kini yang harus bertanggung jawab adalah kita semua."
Seketaka semua terdiam. Wajah-wajah pucat tergambar jelas. Semua mengerti maksud kata-kata Ki Gandara. Pada saatnya nanti, desa Pasir Batang akan lenyap seperti Desa Kenanga. Pertentangan sudah dibuka. Korban pertama telah jatuh. Mereka tinggal menunggu nasib. Sangkala menyesali diri karena tidak bisa meredam darah muda keponakannya. Kini semuanya terlambat.
Mau tidak mau seluruh penduduk Desa Pasir Batang harus menghadapi kelompok Raja Dewa Angkara. Kehancuran sudah terbayang di mata seluruh penduduk. Rasanya saat ini nyawa telah lenyap dari badan. Satu per satu mereka melangkah pergi dengan wajah tertunduk lesu. Tidak ada semangat hidup. Sepertinya tinggal tunggu waktu saja malaikat maut datang ke Desa Pasir Batang.
********************
Malam baru saja menjelang. Keadaan Desa Pasir Batang benar-benar seperti mati. Tak ada seorang pun yang keluar rumah. Mereka takut maut lebih dulu menjemput. Sementara itu di salah satu kamar rumah Kepala Desa, Dewi Purmita tengah menangis dalam pelukan ibunya. Ki Brajananta hanya dapat berdiri dengan wajah murung. Kejadian pagi tadi telah membuat seluruh penduduk Desa Pasir Batang putus asa. Hal ini sangat disesalkan Ki Brajananta.
"Sudahlah, Purmita. Semuanya sudah terjadi, tidak perlu ditangisi lagi." lembut suara ibunya.
Dewi Purmita mengangkat kepalanya. Seluruh wajah-nya basah oleh air mata. Sebentar ditatap wajah ibunya, lalu beralih ke ayahnya.
"Apakah Kakang Sawung Bulu sudah ditemukan. Ayah?" tanya Dewi Punnita lirih.
"Belum," sahut Ki Brajananta pelan.
"Kenapa Kakang Sawung Bulu sampai berbuat senekad itu?"
"Dia tidak rela kau dijadikan korban persembahan, anakku," Subragen yang menjawab
Dewi Purmita memandang ibunya, lalu dipeluk ibunya yang sudah setengah baya itu. Dia telah tahu kalau dirinya bakal dijadikan korban persembahan. Semua itu telah diutarakan kepada Sawung Bulu. Jelas saja Sawung Bulu merasa tidak rela kekasihnya jadi korban. Ketidakrelaan itu telah dibuktikan dengan peristiwa tadi pagi.
"Saya rela dijadikan korban persembahan, asal penduduk desa ini hidup tentram... " semakin lirih suara Dewi Purmita.
"Purmita, anakku...," Sutiragen terharu mendengarnya.
"Sebaiknya Ayah mengirim utusan untuk meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Saya bersedia jadi korban pada waktunya nanti," kata Dewi Purmita seraya menghapus air matanya.
Ki Brajananta tidak dapat berkata kata lagi. Mulutnya terkunci. Dia hanya berdiri mematung menatap anak gadisnya. Dalam hati kecilnya, dia tidak rela putrinya jadi korban persembahan. Tetapi dia tidak dapat membantah lagi. Nyawa seluruh penduduk desa taruhannya. Yang jelas dia harus pasrah menerima nasib.
Dewi Purmita pun demikian. Pasrah. Baginya, hidup sudah tidak ada gunanya lagi. Apalagi Sawung Bulu sampai kini lenyap tanpa ketahuan di mana rimbanya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Semua mata menoleh ke arah pintu yang tertutup. Ki Brajananta melangkah dan segera membukanya. Kiranya seorang wanita tua yang mengetuk tadi.
"Tamu-tamu telah datang, Gusti," kata wanita tua itu membungkuk hormat Ki Brajananta memandang Dewi Purmita sebentar, kemudian melangkah ke luar. Langkahnya kelihatan lesu menuju ruangan pendopo. Di ruangan itu, Ki Gandara, Sangkala, Bagaspati, Rawusangkan, Wratama, dan Paralaya, telah menunggu. Mereka serentak berdiri ketika Ki Brajananta muncul.
"Silakan duduk," kata Ki Brajananta seraya duduk.
Enam orang pemuka Desa Pasir Batang itu bersama-sama duduk melingkari sebuah meja marmer. Sesaat suasana hening. Tidak ada yang membuka suara lebih dulu. Mata mereka semua memandang Kepala Desa yang kelihatan murung tanpa gairah.
"Sudah ada khabar tentang Sawung Bulu?" tanya Ki Brajananta memecah keheningan.
"Belum," sahut Wiratama yang ditugaskan untuk mencari Sawung Bulu
"Apa tidak mungkin Sawung Bulu dibawa ke..." Paralaya tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tidak!" selak Sangkala Cepat "Raja Dewa Angkara tidak pernah membawa korban seorang laki-laki ke sarangnya."
__ADS_1
"Menurut pemilik kedai dan Pak Bolang, pagi tadi desa kita kedatangan seorang pengembara," kata Rawusangkan.
"Pengembara...?" Ki Gandara mengerutkan keningnya. "Kau tanyakan ciri-cirinya?"
"Ya," Jawab Rawusangkan.
"Bagaimana ciri-cirinya? tanya Sangkala.
"Orangnya masih muda, kulitnya kuning langsat. Ada pedang bergagang ukiran kepala burung di punggungnya," Rawusangkan coba menyebutkan ciri-ciri pengembara itu.
"Pakai baju rompi?" tebak Ki Gandara.
"Benar, Ki" sahut Rawusangkan cepat.
"Tidak salah lagi," gumam Ki Gandara.
Semua mata memandang Ki Gandara
"Ki Gandara kenal dia?" tanya Ki Brajananta.
"Dari ciri-cirinya mirip Pendekar Rajawali Sakti," pelan suara Ki Gandara seperti kurang yakin.
"Pendekar Rajawali Sakti...?!" hampir berbarengan mereka semua menyebut nama itu.
Siapa yang tidak kenal nama Pendekar Rajawali Sakti? Seorang tokoh sakti yang baru muncul, tapi sudah menggegerkan seluruh rimba persilatan. Bukan hanya tokoh tokoh golongan putih yang merasa sungkan dan kagum. Tokoh-tokoh golongan hitam pun merasa enggan bila berhadapan dengannya. Sudah banyak tokoh golongan hitam yang tewas di tangan pendekar ini. Jurus rangkaian Rajawali Saktinya sangat sulit dicari tandingannya pada jaman ini.
"Apa dia ada di kedai pagi itu, Rawusangkan?" tanya Ki Gandara.
"Benar, Ki." sahut Rawusangkan cepat
"Hm..., tidak mustahil dia yang menolong Sawung Bulu," gumam Ki Gandara.
Sesaat suasana kembali sunyi. Semua yang ada di situ terpusat pikirannya pada Pendekar Rajawali Sakti yang muncul di Desa Pasir Batang ini. Kemunculan yang tiba-tiba, di saat seluruh pemuka dan penduduk desa dicekam kegelisahan. Sangkala yang sejak tadi memperhatikan guru besar Padepokan Pasir Batang itu melihat ada sedikit cahaya di mata Ki Gandara. Dalam hati Sangkala juga berharap dugaan Ki Gandara benar. Biar bagaimana pun dia sangat mencintai keponakannya itu. Sejak kecil Sawung Bulu dirawat dan dididiknya di Padepokan Pasir Batang bersama Ki Gandara.
Ketika mereka tengah khusuk bersama pikiran masing masing tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar. Ki Brajananta segera berdiri dan melangkah ke luar. Ki Gandara dan yang lainnya mengikuti dari belakang Dan betapa terhenyaknya mereka ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di halaman depan rumah kepala desa.
Mayat-mayat itu adalah para penjaga rumah ini. Mereka terbantai oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Dan kini Ki Brajananta dan yang lainnya, dikejutkan oleh kehadiran seorang pemuda yang tengah bertarung melawan empat orang berpakaian serba hitam. Pertarungan yang cepat disertai jurus-jurus silat tingkat tinggi, membuat orang yang ada di situ sulit mengenali siapa pemuda itu.
"Siapa dia, Ki?" tanya Rawusangkan yang berdiri di samping Ki Gandara.
"Sepertinya dia..., Pendekar Rajawali Sakti," sahut Ki Gandara ragu-ragu
"Kalau begitu, kita harus membantunya, Ki!" seru Ki Brajananta.
"Jangan!" Ki Gandara langsung mencegah Wratama dan Paralaya yang teriihat akan bergerak
Mereka segera mengurungkan niatnya.
"Dia tidak perlu dibantu dan bisa mengatasinya sendiri," kata Ki Gandara.
Matanya tidak lepas mengamati pertarungan itu. Begitu Ki Gandara selesai berkata, mendadak terdengar jeritan panjang disusul oleh rubuhnya seorang yang berpakaian serba hitam. Kemudian menyusul seorang lagi yang tiba-tiba mencelat ke atas disertai jeritan memilukan, lalu ambruk tak bangun-bangun lagi. Kepalanya hancur ketika menimpa bumi. Dua orang lagi yang masih hidup, mencelat ke belakang sejauh dua tombak.
Kini jelaslah, siapa laki-laki muda yang bertarung melawan empat orang yang tampaknya anak buah Raja Dewa Angkara. Dugaan Ki Gandara memang tidak meleset. Laki-laki muda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti yang telah menjatuhkan dua lawannya dengan jurus 'Cakar Rajawali'.
"Lebih fatal lagi jika kalian masih mengganggu Desa Pasir Batang ini!" tegas dan lantang suara Pendekar Rajawali Sakti.
"Setan! Kau harus minggat!"
Kembali mereka bertarung. Dua orang yang berpakaian serba hitam yang masih tersisa itu kini menyerang dengan lebih cepat dan berbahaya.
Kini Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tubuhnya jadi ringan dengan kedua kaki tidak lagi menapak tanah. Pendekar muda itu mengontrol diri agar tidak melayang terlalu tinggi. Hanya kedua tangannya saja yang bergerak cepat mengibas ke arah bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan.
"Awas, kepala!" teriak Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba.
Tangan kanannya menyampok kepala salah seorang lawannya. Orang itu terkejut, cepat-cepat ditarik kepalanya ke belakang. Tak terduga sama sekali, tangan Rangga dengan cepat berputar arah dan langsung mengibas ke arah perut
"Aaakh...!" orang itu menjerit kesakitan.
Kibasan tangan kanan Rangga tepat menyobek perutnya, sehingga ususnya berhamburan ke luar. Sebentar saja orang itu mampu bertahan. Dan ketika kaki Rangga mendarat di dada orang itu, tanpa ampun lagi tubuhnya terjengkang dan ambruk ke tanah. Mati. Darah mengucur deras dari perutnya yang menganga lebar.
Melihat temannya tewas, sisanya yang tinggal seorang itu mencelat kabur. Rangga tidak berusaha mengejar orang itu. Dia berdiri saja mengawasi mayat-mayat yang bergelimpangan mandi darah. Sepuluh mayat penjaga pun terbujur tak tentu arah di tempat itu.
Pendekar Rajawali Sakti menoleh ketika telinganya mendengar langkah langkah kaki menghampiri. Jumlah mereka tujuh orang. Dua orang yang berjalan di depan kelihatannya lebih tua daripada yang lainnya.
"Sungguh tak menyangka, Tuan berkenan singgah di desa kami," kata Ki Brajananta setelah berdiri di depan Rangga.
"Maaf jika kedatanganku mengganggu tuan-tuan sekalian," Rangga membungkuk hormat
"Tidak, sama sekali tidak. Justru kedatangan Tuan Pendekar sangat kami butuhkan," kata Ki Gandara gembira dengan adanya Pendekar Rajawali Sakti di desa ini
"Jika Tuan Pendekar tidak keberatan, singgahlah barang sebentar di gubukku." kata Ki Brajananta.
"Terima kasih," Rangga mau menolak.
"Kami akan senang jika Tuan Pendekar bersedia menolong penduduk Desa Pasir Batang," kata Sangkala.
Rangga terdiam. Matanya mengamati satu per satu wajah-wajah di depannya, lalu tersenyum mengangguk.
Segera saja Ki Brajananta mempersilahkan Pendekar Rajawali Sakti untuk masuk ke dalam rumahnya. Rangga berjalan diapit oleh Ki Brajananta dan Ki Gandara. Sedangkan Sangkala dan yang lainnya mengurus mayat-mayat untuk segera dikuburkan.
********************
"Sebenarnya ada apa di desa ini?" tanya Rangga setelah duduk menghadapi meja marmer.
Ki Brajananta yang duduk tepat di depan Pendekar Rajawali Sakti itu menatap Ki Gandara. Guru Besar Padepokan Pasir Batang ini mengerti tatapan kepala desa itu. Sejenak ditariknya napas panjang.
"Sebenarnya bukan hanya Desa Pasir Batang yang tertimpa malapetaka seperti ini. Desa-desa lain di sekitar lereng Gunung Balakambang juga mengalami nasib yang sama. Kejadian ini sudah ada sejak sepuluh tahun yang lalu. Dan tidak seorang pun yang bisa melepaskan diri dari cengkeraman Raja Dewa Angkara," pelan tapi jelas suara Ki Gandara.
"Siapa Raja Dewa Angkara?" tanya Rangga.
"Dia seorang tokoh sakti yang sulit dicari tandingannya. Setiap tujuh purnama, kami diharuskan menyerahkan korban persembahan berupa seorang gadis remaja," sahut Ki Brajananta.
__ADS_1
"Selain itu, kami juga diharuskan memberi upeti yang sangat menjerat," sambung Ki Gandara.
"Mereka sangat kejam. Satu orang saja berani menentang, akibatnya satu desa dihancurkan. Kami tidak ingin mengalami nasib yang sama dengan Desa Kenanga. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Salah seorang anak kami sudah membuka pintu pertentangan. Kami tidak tahu lagi harus berbuat apa. Raja Dewa Angkara pasti akan membumi hanguskan desa ini," lirih suara Ki Brajananta.
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Jiwa ksatrianya segera timbul melihat kesengsaraan. Telinganya tidak bisa mendengar jeritan penindasan. Darah pendekarnya segera bergolak mendidih.
"Kapan persembahan dilaksanakan?" tanya Rangga.
"Enam hari lagi," jawab Ki Brajananta.
"Hm, enam hari lagi. Bukan waktu yang lama," gumam Rangga.
Pendekar Rajawali Sakti ini sebenarnya sudah tahu hal itu melalui ilmu 'Pembilah Suara'. Namun dia tidak ingin dikatakan lancang karena telah menguping pembicaraan orang lain. Jadi pertanyaan tadi hanya untuk basa-basi saja.
"Sekarang tidak perlu lagi ada korban persembahan karena pertentangan telah dibuka. Desa Pasir Batang akan hancur, dan gadis-gadis akan diboyong Raja Dewa Angkara. Semua laki-laki, orang tua, dan anak-anak akan tewas," Ki Brajananta seperti mengeluh putus asa.
Rangga menatap kepala desa itu tajam. Sungguh mati dia tidak mengira akan seburuk itu keadaannya.
"Korban sudah mulai berjatuhan. Dan selama enam hari ini korban akan berlangsung terus, sampai seluruh penduduk desa habis terbantai," lagi-lagi Ki Brajananta mengeluh.
"Hal itu tidak akan terjadi, Ki," tegas suara Rangga terdengar.
Ki Brajananta mengangkat kepalanya. Ada secercah harapan terbetik dari sinar matanya. Sedangkan Ki Gandara tampak tersenyum. Dia percaya kalau nama besar Pendekar Rajawali Sakti bukanlah nama kosong.
"Sampai bulan purnama nanti, aku akan tinggal di Desa Pasir Batang ini. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa berkenan melindungi seluruh penduduk desa ini," kata Rangga lagi.
"Ah, senang sekali kami mendengarnya. Sudah lama kami berharap bisa bebas dari cengkeraman iblis itu," desah Ki Brajananta.
Rangga tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri.
"Akan ke mana, Tuan Pendekar?" tanya Ki Brajananta melihat Rangga berdiri.
"Lihat-lihat keadaan," sahut Rangga terus saja melangkah.
Ki Brajananta dan Ki Gandara mengikuti. Mereka berpapasan dengan Sangkala yang akan masuk.
"Sangkala, temani Tuan Pendekar melihat-lihat keadaan desa." kata Ki Gandara.
"Baik, Ki," Sangkala tersenyum seraya mengangguk-angguk.
"Terima kasih," ucap Rangga terus saja melangkah.
Sangkala berjalan di samping Pendekar Rajawali Sakti. Mereka melintasi halaman rumah kepala desa yang luas, lalu menyusuri jalan utama Desa Pasir Batang. Sampai jauh meninggalkan rumah kepala desa, belum ada yang berbicara.
"Sebenarnya akan ke manakah, Tuan?" tanya Sangkala membuka pembicaraan dengan hormat dan sopan.
Rangga menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap pada Sangkala. Telinganya gatal jika dipanggil dengan sebutan tuan. Rangga menepuk pundak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Hanya saja wajah Sangkala yang dipenuhi cambang dan kumis lebat, membuat seperti kelihatan lebih tua dari usia yang sebenarnya.
"Sebaiknya, kau panggil saja aku Rangga," kata Rangga merendah.
"Ah, mana berani saya...."
"Aku hanya pengembara miskin. Tidak pantas dipanggjl tuan," cepat-cepat Rangga memotong
"Baiklah, jika tu..., eh! Kau menginginkan begitu."
"Nah, jika begitu kan lebih enak. Oh, ya. Dengan apa aku harus memanggilmu?"
"Cukup Sangkala saja."
"Baiklah, Sangkala. Kau tahu di mana tempat Raja Dewa Angkara?" tanya Rangga kembali meneruskan langkahnya.
"Tepatnya aku tidak tahu. Tetapi menurut kabar dia tinggal di puncak Gunung Balakambang," jawab Sangkala.
"Pernah ada yang ke sana?"
"Tidak. Tidak ada yang berani sampai kepuncak. Para penduduk yang mencari kayu bakar, hanya sampai lereng saja. Itu pun tidak berani masuk sampai ke dalam hutan."
"Kau pernah bertemu dengan orangnya."
"Tidak ada yang pernah melihat Raja Dewa Angkara. Tetapi orang-orangnya rata-rata memiliki kepandaian yang cukupan. Aku rasa, sepuluh orang seperti aku saja belum mampu menandingi satu dari mereka," Sangkala merendah.
"Lalu, untuk apa Raja Dewa Angkara meminta korban seorang gadis?" tanya Rangga lagi. Bibirnya tersenyum mendengar kerendahan hati Sangkala.
"Entahlah," sahut Sangkala. "Setiap korban persembahan diambil sendiri oleh kaki tangan Raja Dewa Angkara, lalu dibawa ke puncak Gunung Balakambang. Tidak ada yang tahu, bagaimana nasib mereka di sana. Selama ini gadis-gadis yang dijadikan korban tidak ada yang kembali dalam keadaan hidup. Mayatnya saja tidak pernah ditemukan lagi."
"Berapa orang kelompok mereka?"
"Tidak tahu pasti. Yang jelas, setiap tujuh purnama mereka datang dengan jumlah sepuluh orang. Tidak kurang dan tidak lebih."
"Mereka selalu mengenakan pakaian serba hitam?"
"Benar. Itu ciri mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat dikenali wajahnya karena selalu mengenakan topeng hitam."
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Keningnya berkerut dalam, menandakan tengah berpikir keras. Keterangan dari Sangkala tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Ki Brajananta maupun Ki Gandara. Tetapi semua masih membingungkan karena belum ada titik terang yang pasti untuk menghadapi kelompok Raja Dewa Angkara.
"Di mana kau tinggal?" tanya Rangga.
"Di Padepokan Pasir Batang," sahut Sangkala.
"Sudah berkeluarga?"
Sangkala mengangguk, sambil tersipu.
"Sebaiknya kau pulang saja, tentu istrimu sudah menunggu sejak tadi," kata Rangga.
"Tapi...," Sangkala jadi bingung. Tidak mungkin Rangga ditinggal sendirian. Perintah Ki Gandara tidak berani dilalaikan begitu saja.
"Sudah cukup aku melihat-lihat keadaan desa ini. Lagi pula malam sudah larut. Aku yang akan mengatakannya nanti pada gurumu," kata Rangga bisa mengerti kebimbangan Sangkala.
"Baiklah kalau begitu," sahut Sangkala senang. Dia memang sudah lelah dan mengantuk Dan lagi, sejak tadi pikirannya selalu tertuju pada anak dan istrinya yang tentu tengah menunggu cemas.
__ADS_1
Rangga menepuk pundak Sangkala sebelum berlalu melanjutkan langkahnya lagi. Sebentar Sangkala berdiri diam ditempatnya, lalu bergegas kembali menuju kepadepokan. Langkahnya cepat, ingin segera tiba dirumah.
********************