Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Jago Jago Bayaran Bag. 3


__ADS_3

Jaka Wulung tetap diam saja. Lidahnya terasa kaku untuk diajak bicara. Hanya matanya yang berputar-putar menatap dua wajah di depannya.


"Kau tidak bisa hanya dengan di am seperri itu, Jaka. Keadaan desa ini makin kacau dan makin banyak korban yang jatuh. Apakah kau ingin menambah korban lagi?" Tirtadenta tidak sabar lagi.


"Aku tidak bisa mengatakannya, sebaiknya kalian tanyakan langsung pada Ki Karangseda!" jawab Jaka Wulung seraya bangkit, dan melangkah menuju kamarnya.


"Jaka Wulung...!" sentak Tirtadenta.


Namun Jaka Wulung seakan tidak mendengar dan terus melangkah meninggalkan dua bersaudara itu. Tirtadenta bangkit ingin mengejar, tapi tangannya keburu dicekal adiknya. Terpaksa dia diamkan saja Jaka Wulung masuk kedalam kamarnya.


"Dari tadi, aku tidak melihat Ki Jatirekso. Di mana dia?" kata Tirtadenta setengah bergumam, seperti bertanya pada dirinya sendiri.


Mayadenta nampak tersentak. Dia juga baru sadar, kalau dari tadi tidak melihat Ki Jatirekso. Secepat kilat dia melompat dan menerjang pintu sebuah kamar yang tertutup rapat. Ternyata kamar yang biasa ditempati Ki Jatirekso itu kosong melompong. Bahkan keadaannya berantakan bagai kapal layar pecah yang baru diamuk badai.


Melihat keadaan ini Mayadenta segera menuju ke depan pintu kamar Jaka Wulung. Kemudian diketuknya keras-keras pintu kamar itu. Tapi tidak ada sahutan sedikit pun dari dalam. Sejenak gadis itu memasang telinganya tajam-tajam, dan tetap tidak ada suara sedikit pun yang terdengar. Sementara Tirtadenta yang tidak sabar, langsung mendobrak pintu itu.


Brak!


"Jaka...!" teriak Tirtadenta keras-keras.


Rasanya belum begitu lama Jaka Wulung masuk kekamar. Tapi mengapa kamar itu kosong? Sedang jendelanya juga tertutup rapat.


"Aku rasa, dia keluar lewat jendela," kata Mayadenta sambil membuka jendela yang tidak terkunci.


Menyadari keadaan rumah itu sudah kosong, mereka langsung keluar lewat jendela. Tapi begitu kaki mereka menjejak tanah, tiba-tiba dua bayangan meluncur ke arah mereka. Ternyata Suryadenta dan Bayudenta yang datang.


"Tidak lihat Jaka Wulung?" tanya Mayadenta langsung kesasaran.


"Tidak...," sahut Suryadenta menggelengkan kepala.


"Memangnya ada apa?" tanya Bayudenta tidak mengerti.


"Ki Jatirekso menghilang," sahut Tirtadenta.


"Dan Ki Karangseda mendesak Jaka Wulung agar memenggal kepala Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Jaka Wulung tidak mau mengatakan yang sebenarnya, malah kabur lewat jendela kamarnya," lanjut Mayadenta menyambung.


"Gila! Permainan apa pula ini?" dengus Suryadenta.


"Apa orang asing itu sudah tiba di sini?" tanya Bayudenta.


Tirtadenta dan Mayadenta menggelengkan kepala sambil berpandangan. Mereka tadi cuma melihat Ki Karangseda dan Ki Pungkur ke luar dari rumah itu. Sementara di dalam cuma ada Jaka Wulung sendirian. Dan tidak ada siapa-siapa lagi di rumah itu.


********************


Sementara itu, Rangga dan Pandan Wangi tengah beristirahat di bawah pohon yang tidak jauh dari rumah kepala desa. Sesekali pandangan mereka menatap ke arah jalan yang ramai dipenuhi orang-orang hilir mudik dengan kesibukan masing-masing.


"Aku yakin, kau pernah kenal dengan Ki Karangseda," kata Pandan Wangi.


"Dengar namanya saja baru kali ini," keluh Rangga.


Tangannya menjumput batu kerikil dan melemparkannya begitu saja.


"Tapi mengapa dia menginginkan kepalamu?" tanya Pandan Wangi masih tetap tidak percaya pada jawaban Rangga.


Mereka tadi memang mendengar semua percakapan dengan jelas di rumah Ki Jatirekso. Tapi Rangga dan Pandan Wangi sengaja tidak menampakkan diri. Mereka ingin mengetahui lebih jelas, apa sebenarnya yang tengah terjadi.


"Itu yang sedang aku pikirkan sekarang, Pandan," kata Rangga setelah cukup lama diam.


"Kalau begitu, kenapa tadi Jaka Wulung tidak kita kejar saja?"


"Untuk apa?" Rangga balik bertanya.


"Kok, untuk apa? Dia kan diperintahkan untuk memenggal kepalamu. Tentunya dia tahu, apa maksud Ki Karangseda menginginkan kepalamu."


"Yang diinginkan adalah aku. Jadi, biarkan saja laki-laki tua itu yang mencariku! Untuk apa mengurusi dia?"


"Kau mulai egois, Kakang!"


"Tidak! Sampai sejauh ini, aku tidak pernah mementingkan diri sendiri."


"Memang, tapi kau harus ingat! Dengan keadaan seperti itu, Jaka Wulung terancam nyawanya, dan kita harus bertindak!"

__ADS_1


"Kita tunggu saja perkembangannya, Pandan," jawab Rangga mengalah.


Tak lama kernudian mereka bangkit. Sejenak mata mereka menatap rumah besar tempat tinggal Kepala Desa Kali Anget. Setelah itu mereka berbalik dan hendak melangkah pergi. Namun baru saja kaki mereka terayun, tiba-tiba...


"Awas...!" seru Rangga keras.


Seketika itu juga dia mendorong tubuh Pandan Wangi, dan tangan kanannya bergerak cepat menangkap benda hitam yang meluruk deras ke arahnya sambil melompat. Dan dengan manis sekali, Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya lagi ke tanah. Sedangkan Pandan Wangi yang terdorong tadi, bergulingan, lalu bagai seekor burung walet, dia melompat dan bangkit lagi. Tangannya segera mencabut kipas yang terselip di pinggang. Sebuah kipas baja dengan ujung-ujungnya yang runcing dan tajam.


Rangga segera mengamati tiga batang anak panah berwarna hitam pekat yang tergenggam di tangannya. Matanya yang setajam mata elang, berhasil menangkap kelebatan bayangan hitam dari balik semak belukar disebelah kanannya.


Menyadari hal itu, dia langsung salto sambil mengebutkan tangan kirinya dengan cepat. Dan sebelum kakinya menginjak tanah kembali, Rangga telah melemparkan anak-anak panah yang tadi disambarnya kearah bayangan hitam itu.


Crab, crab, crab...!


Tiga bayangan hitam langsung ke luar dari dalam semak belukar. Sejenak Rangga mengamati tiga orang yang berpakaian serba hitam, yang kini telah berdiri didepannya.


"Hebat! Tidak percuma kau mendapat julukan Pendekar Rajawali Sakti!" kata salah seorang yang berdiri di tengah. Suaranya kecil, namun terdengar nyaring melengking.


"Siapa kalian?" tanya Rangga.


"Hik hik hik..., kami inilah yang mendapat julukan Tiga Bayangan Tengkorak!"


"Pantas! Tubuhmu kurus kering seperti tengkorak," sungut Pandan Wangi mencibir.


"Kenapa kalian ingin membunuhku?" tanya Rangga lagi.


"He he he..., seribu keping uang emas untuk kepalamu, Pendekar Rajawali Sakti! Benar-benar luar biasa, begitu mahal harga kepalamu," sahut orang yang berdiri paling kanan.


Rangga menggeser kakinya ke samping kiri, mendekati Pandan Wangi. Sejenak dimiringkan kepalanya dan berbisik di telinga gadis itu.


"Kau menyingkir dulu, adik kecil," bisik Rangga.


"Apa?!" Pandan Wangi kontan mendelik disebut adik kecil.


"Benar! Kau menyingkir saja anak manis," celetuk salah seorang dari Tiga Bayangan Tengkorak.


Pandan Wangi tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena Rangga sudah mendorong pundaknya agar menyingkir. Mau tidak mau, dia terpaksa menyingkir. Tapi tidak begitu jauh dari Pendekar Rajawali Sakti.


Sejenak Rangga melirik Pandan Wangi. Gemas juga dia, karena gadis itu hanya berdiri di bawah pohon yang jaraknya masih terlalu dekat.


"Kalau kalian menginginkan uang itu, berusahalah untuk mendapatkannya!" tantang Rangga.


"Bersiaplah untuk mati, bocah!"


"Tunggu!"


Tiba-tiba Pandan Wangi melompat, dan langsung berdiri di tengah-tengah. Tentu saja kenekatan gadis itu membuat Rangga kaget setengah mati.


"Pandan...!" bentak Rangga agak emosi.


"Tenang, Kakang. Biarlah aku yang main-main dulu dengan kakek-kakek jelek ini!" kata Pandan Wangi keras suaranya.


"He he he..., menyingkirlah, anak manis. Wajahmu terlalu cantik, jangan membuat aku terpaksa merusak kecantikanmu," kata orang yang di tengah mengejek.


"Aku memang ingin jelek seperti mukamu!" tantang Pandan Wangi ketus.


"Kurang asar! Kurobek mulutmu!" geram yang di kanan.


"Mungkin tanganmu dulu yang buntung!"


"Setan...!"


********************


Salah seorang dari Tiga Bayangan Tengkorak yang bernama Bayangan Tengkorak Putih langsung menerjang Pandan Wangi. Tampak jari-jari tangannya terkembang kaku. Sementara Pandan Wangi menggeser kakinya sedikit, sambil menarik tubuhnya ke kiri. Kemudian dengan cepat, dia mengebutkan kipas mautnya ke arah tangan yang mengembang kaku itu.


Bayangan Tengkorak Putih sangat terkejut dengan serangan mendadak itu, segera ditariknya kembali tangannya. Tapi belum sempat ditarik penuh, tiba-tiba kaki Pandan Wangi mengenai dadanya. Si Bayangan Tengkorak Putih terjengkang beberapa langkah, tapi kernudian dia melompat untuk menghindari serangan berikutnya. Di lain pihak, tanpa menurunkah kakinya, Pandan Wangi ikut melompat dengan memutar kedua kakinya.


Buk, buk!


Dua kali kaki Pandan Wangi mendarat telak di punggung dan dada lawannya. Langsung saja lawannya mengaduh dan tubuhnya tersuruk dengan keras. Sementara Pandan Wangi mendarat mulus di tanah.

__ADS_1


"Setan...!" umpatnya.


"Baru begitu saja sudah jatuh, apalagi melawan Pendekar Rajawali Sakti?" ejek Pandan Wangi.


Tiga Bayangan Tengkorak sangat geram mendengar ejekan itu, dan tak lagi menganggap remeh gadis itu. Mereka segera bergerak dan mengepung dari tiga jurusan. Sementara jari-jari tangan mereka yang kurus, terentang kaku, bagai cakar besi yang siap mengoyak apa saja.


"Bagus! Maju kalian semua!" dengus Pandan Wangi.


Tak jauh dari situ, tampak Rangga masih tetap berdiri ditempatnya. Sebenarnya dia masih khawatir akan Pandan Wangi, meskipun tadi Pandan Wangi sudah memperlihatkan kemajuan yang diperolehnya. Sementara pertarungan antara Pandan Wangi melawan Tiga Bayangan Tengkorak sudah berlangsung sengit.


Rangga keheranan melihat Pandan Wangi mampu menandingi lawannya sampai sepuluh jurus. Bahkan tampaknya, dia masih mampu menandingi sampai lima puluh jurus sekali pun. Tidak disangka sama sekali, kalau gadis itu telah memperoleh kemajuan yang begitu pesat. Kipas baja mautnya yang ada di tangan, berkelebatan memancarkan sinar keperakan yang mengancam tubuh lawan.


"Hiyaaa...!" tiba-tiba Pandan Wangi berteriak keras dan melengking tinggi.


Bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat ke udara. Setelah dua kali berputar, tiba-tiba di tangan kanannya sudah berganti dengan sebuah pedang berwarna merah menyala. Sedang kipas baja mautnya, berada di tangan kiri. Kini, dengan Pedang Naga Geni di tangan, dia bagai sesosok malaikat maut yang siap mencabut nyawa.


Tiga Bayangan Tengkorak terkesiap melihat pamor pedang di tangan Pandan Wangi. Tapi sebelum mereka ada kesempatan untuk bertindak, dengan cepat Pandan Wangi mengibaskan dua senjata pusakanya dan menerjang bagai kilat.


Bet!


"Akh!" tiba-tiba salah seorang musuhnya memekik tertahan.


Tubuhnya langsung terhuyung-huyung ke belakang, sedang darahnya mengucur deras dari pangkal lengannya yang buntung terbabat pedang. Sementara Rangga yang berdiri tak jauh dari tempat itu, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Pandan Wangi bagaikan singa betina yang mengamuk.


"Mampuk kalian. Yeaaah...!" pekik Pandan Wangi.


Bersamaan dengan itu, tubuhnya berputar cepat. Sementara sinar merah yang keluar dari pedangnya, mengurung seluruh tubuhnya. Saat itulah salah seorang lawannya lagi tidak sempat menghindar. Maka tanpa ampun lagi, orang kurus itu langsung menjerit menyayat hati sambil memegangi dadanya yang tertembus pedang. Kemudian tubuhnya ambruk ke tanah tak bergerak-gerak lagi. Sedangkan Pandan Wangi berdiri tegak dan menatap tajam pada salah seorang lagi yang masih hidup.


"Sekarang giliranmu, kakek jelek!" dengus Pandan Wangi.


Laki-laki tua yang tinggal seorang diri itu, langsung mundur beberapa tindak. Hatinya menciut melihat dua temannya sudah menggeletak berlumuran darah. Sementara Pandan Wangi dengan pedang teracung di tangan perlahan-lahan mendekati musuhnya.


"Pandan...," panggil Rangga seraya mendekat.


Pandan Wangi tidak menoleh. Pandangan matanya tajam menatap musuhnya yang terus melangkah mundur. Rangga segera menggamit tangan Pandan Wangi dan menekannya ke bawah. Sejenak Pandan Wangi berhenti melangkah dan langsung menatap Rangga.


"Sudahlah, dia sudah tidak berdaya," kata Rangga menyadarkan.


"Ingatlah, Kakang. Hanya karena seribu keping uang emas, dia mau memenggal kepalamu. Masih pantaskah dia dibiarkan hidup?" Pandan Wangi kembali menatap tajam pada musuhnya.


"Masukkan pedangmu, Pandan!" perintah Rangga tegas.


Pandan Wangi menatap tajam ke arah Rangga. Kemudian perlahan-lahan dia memasukkan pedang Naga Geni ke dalam warangkanya. Rangga tersenyum, lalu melangkah mendekati kakek tua itu.


"Kalau boleh aku tahu, siapa namamu, Kek?" tanya Rangga dengan suara lembut dan sopan.


"Bayangan Tengkorak Hitam!" sahut kakek itu dingin.


Memang sulit mengetahui nama asli seorang tokoh rimba persilatan. Mereka lebih senang menggunakan julukan daripada nama sebenarnya.


"Siapa yang membayarmu?" tanya Rangga lagi sambil tersenyum.


"Itu bukan urusanmu!" ketus jawaban si Bayangan Tengkorak Hitam.


"Nyawamu sudah di tenggorokan, Kakek Jelek!" geram Pandan Wangi mengancam.


"Kenapa tidak kau bunuh saja aku sekalian?" tantang Bayangan Tengkorak Hitam sambil melirik dua temannya yang sudah tidak bernyawa lagi. Rangga segera menahan langkah Pandan Wangi, yang sudah muak dengan melihat tingkah kakek itu.


Gadis itu menggerutu, mengapa Rangga masih juga sabar, padahal orang yang dihadapinya jelas-jelas menginginkan kepalanya.


"Jawab pertanyaanku, Bayangan Tengkorak Hitam Kalau tidak... biar adikku yang mengurusmu," ancam Rangga.


"Huh!" Bayangan Tengkorak Hitam hanya mendengus.


"Siapa yang membayarmu?" tanya Rangga lagi.


Bayangan Tengkorak Hitam tetap diam.


"Jawab!" bentak Pandan Wangi gusar.


Pandan Wangi benar-benar tidak dapat lagi menahan amarahnya. Dan tanpa dapat dicegah lagi, ia segera melompat sambil menarik pedangnya. Begitu cepatnya dia bergerak, sehingga Bayangan Tengkorak Hitam tidak sempat lagi mengelak. Seketika itu juga, laki-laki tua itu langsung menjerit melengking tinggi, begitu tubuhnya terbabat pedang Pandan Wangi.

__ADS_1


Kemudian Pandan Wangi melayangkan kakinya ke arah dada. Kontan saja tubuh Bayangan Tengkorak Hitam terjengkang deras ke belakang dan membentur batang pohon yang besar. Setelah jatuh tubuh itu terkulai tidak bernyawa lagi.


********************


__ADS_2