Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Sepasang Walet Merah Bag. 3


__ADS_3

Malam baru saja menjelang. Udara dingin menyelimuti seluruh puncak Bukit Batok. Kabut tebal datang bergulung-gulung sedikit menghalangi pemandangan. Namun semua itu tidak menghalangi tokoh-tokoh rimba persilatan untuk tetap tinggal di sana. Sementara lolongan anjing hutan semakin ramai terdengar saling sambut. Beberapa ekor bahkan telah menghampiri mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar Goa Larangan.


Pesta pora anjing-anjing liar itu tidak luput dari perhatian Sepasang Walet Merah yang masih berdiri di puncak tertinggi bukit ini. Sepuluh tahun mereka tinggal di Bukit Batok, setiap jengkal tanah dapat mereka hafal dengan baik. Mereka dapat memandang dengan leluasa di bawahnya hingga dapat tahu siapa-siapa saja yang datang ke tempat itu dengan tujuan yang sama, mencari Cupu Manik Tunjung Biru.


"Kematian yang sia-sia," gumam Wulan lirih.


"Hanya orang ***** yang membuang nyawa percuma."


Sepasang Walet Merah terkejut mendengar suara yang datang tiba-tiba dari belakang. Tampak seorang laki-laki berpakaian kumuh berdiri dengan tangan membawa guci arak. Wulan langsung tersenyum mengetahui orang yang ada di depannya itu.


"Kau datang lagi, Gila Jubah Hitam?" lembut suara Wulan.


"Ya. Aku datang untuk menyaksikan orang-orang ***** memperebutkan pepesan kosong," sahut si Gila Jubah Hitam.


Kata-katanya belum lagi hilang ditelan angin, wajah si Gila Jubah Hitam kembali kelihatan murung. Matanya yang cekung menatap Wulan sayu.


"Aku senang jika kalian tidak lagi memanggilku dengan sebutan si Gila Jubah Hitam," lirih suaranya


"Lantas, kami harus memanggilmu apa?" tanya Jaka.


"Sebenarnya namaku Atmaya."


"Atmaya...?!" hampir bersamaan Jaka dan Wulan berseru kaget


"Kenapa kalian kaget?" tanya si Gila Jubah Hitam atau Atmaya.


"Bagaimana mungkin kami tidak kaget? Eyang Resi Suralaga sering menyebut-nyebut namamu," kata Jaka.


"Benar begitu?" tanya Atmaya tidak percaya.


"Kau lihat aku berbohong?" Jaka malah balik bertanya.


"Bohong atau tidak, itu urusanmu. Aku hanya ingin tahu si Suralaga bicara apa saja tentang aku?"


"Kau jangan sembarangan menyebut Eyang Resi dengan namanya saja!" dengus Wulan gusar. Dia tidak senang kakeknya seperti tidak dihormati.


"He he he..., rupanya kau tidak senang aku menyebut namanya saja," Atmaya dapat mengetahui perasaan Wulan.


"Kakek Atmaya, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan eyang resi?" tanya Jaka mencoba mendinginkan suasana.


"Pertanyaanku belum dijawab, kau sudah bertanya lagi!" Atmaya seolah-olah bersungut kesal.


"Baiklah," Jaka mengalah. "Eyang resi sering menyebut namamu, tapi beliau tidak pernah bercerita tentang dirimu yang sebenarnya. Beliau hanya beri pesan agar kami mencarimu setelah penyelesaian dan penyempurnaan semua ilmu."


"Untuk apa dia menyuruh kalian mencariku?" tanya Atmaya.


"Aku sendiri tidak tahu," sahut Jaka.


Atmaya memandang Wulan.


"Aku tahu, tapi jawab dulu pertanyaan Kakang Jaka," kata Wulan mengerti arti pandangan Atmaya.


"He he he..., kau memang mirip dengan ibumu. Cantik dan cerdik!" Atmaya terkekeh.


"Kau tahu ibuku?" Wulan kaget campur penasaran.


Memang tidak pernah disangka kalau Atmaya atau si Gila Jubah Hitam tahu banyak tentang diri Wulan. Tentu saja gadis ini makin penasaran ingin mengetahui orang tua ini sebenarnya. Tampaknya dia tahu banyak tentang Eyang Resi Suralaga dan dirinya.


"Aku tahu siapa ibumu. Wanita cantik, cerdas, dan pandai dalam segala hal. Tidak heran kalau banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya," Atmaya seperti sedang mengenang masa lalu.


Wulan semakin heran dengan kebenaran ucapan Atmaya. Meskipun ibunya meninggal ketika dia berusia tiga tahun, tapi Wulan kenal betul dengan ibunya. Ibunya meninggal karena menjadi korban musuh-musuh suaminya. Malang sekali nasibnya. Wulan tidak menyalahkan ayahnya yang memang seorang pendekar. Pendekar mana pun pasti punya banyak musuh,


"Sayang aku terlambat datang waktu itu. Aku hanya mendapatkan ibumu telah meninggal. Sedangkan kau sendiri dibawa Suralaga ke Bukit Batok ini. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena memang dia lebih berhak merawatmu daripada aku," lanjut Atmaya.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Wulan. Suara terdengar bergetar.


"Meskipun Suralaga lebih tua umurnya dari aku, tapi dalam urutan keluarga dia adik misanku," lanjut Atmaya


"Jadi...," Wulan tidak bisa berkata-kata lagi. pandangnya laki-laki yang berdiri di depannya setengah tidak percaya.


"Ya. Kau adalah cucuku, Wulan."


"Kakek...!"

__ADS_1


Wulan langsung menubruk Atmaya dan memeluknya. Tidak dapat lagi ditahannya air mata haru. Sedangkan Atmaya tampak berkaca-kaca matanya. Bagi Wulan pertemuan itu benar-benar mengharukan dan tiba-tiba sekali. Jaka hanya dapat menatap dengan pandangan kosong, seperti sedang mimpi saja.


Cukup lama mereka saling berpelukan menumpahkan rasa. yang terpendam dalam dada Pelan-pelan Atmaya melepaskan pelukan gadis itu. Matanya masih berkaca-kaca memandang wajah Wulan yang bersimbah air mata. Dengan tangan bergetar, diusapnya air mata di wajah gadis itu.


"Kenapa baru sekarang kakek datang ke sini?" tanya Wulan setelah tenang kembali.


"Aku sudah janji pada Suralaga untuk tidak mengganggumu," sahut Atmaya.


"Menggangguku? Apa maksud kakek?" tanya Wulan tidak mengerti.


"Semua peristiwa menyedihkan itu berawal dari ulahku. Aku telah menyebar kabar yang sebenarnya sangat rahasia. Aku menyesal dan merasa berdosa. Ketika aku berniat merawatmu, Suralaga tidak mengijinkan. Tapi aku berjanji akan datang lagi sampai kau selesai mewarisi seluruh ilmu-ilmu Suralaga. Aku hanya bisa memberimu rahasia tentang cupu."


"Rahasia tentang cupu? Lalu, rahasia yang kakek sebar?" tanya Jaka.


"Ya mengenai cupu itu," sahut Atmaya.


"Cupu? Maksud kakek, Cupu Manik Tunjung Biru?" desak Jaka lagi.


"Benar. Cupu itu sebenarnya ada padaku dan kusimpan di suatu tempat. Tapi aku mengatakan kalau benda itu dipegang ayahmu," sahut Atmaya memandang Wulan.


"Kenapa kakek berbuat demikian?" tanya Wulan sedikit menyesalkan.


"Aku sakit hati pada ayahmu. Beliau telah membuatku malu di depan keluarga sehingga aku diusir dari keluarga besar," sebentar Atmaya terdiam. Setelah menarik napas panjang, dilanjutkannya lagi. "Sebenarnya memang salahku juga. Aku mencuri pedang pusaka miliknya dan kusembunyikan. Ternyata perbuatanku dilihat oleh si Suralaga. Aku ditantang oleh ayahmu. Kami lalu bertarung dan aku kalah. Tapi itu tidak berarti pedang pusakanya kukembalikan. Setelah aku mengabarkan kabar bohong tentang cupu itu pada orang-orang, baru aku sadar bahwa jiwa ayahmu terancam oleh orang-orang yang gila benda pusaka. Aku pun berniat akan mengembalikan pedang milik ayahmu, tapi terlambat"


Beberapa saat kemudian keadaan menjadi sunyi. Pundak Atmaya berguncang-guncang menahan isak tangis penyesalan.


"Kalau saja pedang itu kukembalikan pada ayahmu tentu dia tidak akan terbunuh," kata Atmaya lagi.


"Ah, sudahlah. Semuanya telah berlalu. Semua sudah takdir Yang Maha Kuasa, Kek," lembut suara Wulan.


"Kau tidak dendam padaku, Wulan?" Atmaya memandang sayu pada Wulan.


"Untuk apa? Tinggal kau satu-satunya kakekku sekarang. Lagi pula semua yang telah terjadi tidak perlu dijadikan dendam yang tidak akan pernah berkesudahan."


Atmaya tidak dapat menahan harunya. Langsung dipeluknya Wulan dengan perasaan haru yang dalam. Betapa besar jiwa gadis ini. Setelah pelukan itu lepas, Wulan mengajak Atmaya dan Jaka duduk di bawah pohon. Mereka duduk melingkar tanpa membuat api unggun. Padahal udara di puncak Bukit Batok dingin menusuk pada malam hari. Tapi buat tokoh rimba persilatan seperti mereka, dengan mudah saja mengusir hawa dingin lewat penyaluran hawa murni ke seluruh tubuh.


"Aku tidak menyangka kalau mereka masih menginginkan Cupu Manik Tunjung Biru," kata Atmaya agak bergumam setelah lama terdiam.


"Sebenarnya apa sih istimewanya cupu itu, Kek?" tanya Wulan.


"Kakek akan menjelaskannya, bukan?" desak Jaka.


"Apa Suralaga tidak pernah memberi tahu kalian berdua?" Atmaya balik bertanya.


Sepasang Walet Merah menggeleng bersamaan.


"Edan! Rupanya dia lebih gila daripada aku!" rungut Atmaya.


Lagi-lagi Wulan dan Jaka saling berpandangan. Sulit sekali memperoleh keterangan dari laki-laki aneh ini. Persoalan yang dibicarakan, selalu saja dibolak-balik. Ada rahasia apa yang sebenarnya dibalik Cupu Manik Tunjung Biru, sehingga tokoh-tokoh rimba persilatan nekad mengadu nyawa untuk memperebutkannya?


********************


Malam terus merambat bertambah larut. Suasana puncak Bukit Batok sebenarnya sunyi senyap. Tapi seakan-akan suara anjing-anjing liar yang berpesta menikmati mayat-mayat di sekitar Goa Larangan, terus merusak suasana itu. Angin yang berhembus agak kencang, menyebarkan bau anyir darah. Mencekam sekali seperti mengandung hawa kemarahan.


Wulan masih tetap duduk bersimpuh di depan Atmaya. Jaka yang duduk di samping gadis itu, tidak berkedip mengamati Atmaya. Wajah laki-laki yang diam membisu itu, seperti tengah memikirkan sesuatu. Desahan napasnya terdengar keras dan tiba-tiba. Kemudian perlahan-lahan kepalanya terangkat menengadah. Secara mendadak digelengkan kepalanya sambil menyemburkan ludah dengan keras.


"Akh!"


Seketika itu juga Sepasang Walet Merah terkejut mendengar keluhan tertahan, disusul dengan suara benda berat jatuh ke semak-semak. Jaka segera melompat ke arah datangnya suara keluhan pendek tadi


"Bawa dia ke sini!" seru Atmaya berat penuh wibawa.


Jaka yang belum hilang rasa terkejutnya, mendapatkan seorang laki-laki muda terkapar di semak-semak Segera diseretnya tubuh orang itu ke depan Atmaya. Kelihatannya orang itu masih bernapas, dengan setemplokan ludah kental menempel di keningnya. Rupanya semburan ludah Atmaya tadi disertai pengerahan tenaga dalam. Sungguh luar biasa, Atmaya. Dia cepat tahu kalau di sekitar sini ada orang yang mengintai. Padahal Sepasang Walet Merah tidak mendengar apa-apa tadi.


"Bangun!" dengus Atmaya sambil mengetuk jidat orang yang terkapar di depannya.


Seketika itu juga orang itu bangun. Tiba-tiba saja ludah yang menempel di jidat orang itu langsung hilang, dan lengket menempel di ujung ranting kering yang dipegang Atmaya. Aneh.


"Ampun, Ki, jangan bunuh aku," kata orang itu segera berlutut di depan Atmaya.


"Siapa yang menyuruhmu memata-mataiku?" tanya Atmaya dingin suaranya.


Jaka memperhatikan laki-laki yang kelihatan masih muda dan sebaya dengan dirinya. Dia sendiri heran dengan sikap orang itu yang seperti ketakutan di depan Atmaya. Padahal, kalau dilihat dari cara mengintip tadi, sepertinya dia memiliki kepandaian yang lumayan. Sampai-sampai sepasang Walet Merah tidak mengetahui kehadirannya.

__ADS_1


"Kau datang ke sini bersama gurumu, heh?" tegas dan berat suara Atmaya.


"akh!"


Belum lagi orang itu mengucapkan satu kata, tiba-tiba tubuhnya terjungkal. Di keningnya menancap sebuah paku emas. Wulan dan Jaka serentak melompat dan bersiaga dengan tombak pendek bermata dua pada ujung-ujungnya. Sedangkan Atmaya masih tetap duduk bersila di tempatnya. Dia seperti tidak terpengaruh sama sekali.


"Paku Emas...," gumam Atmaya dengan mata menatap lurus pada paku emas yang tertancap pada kening orang itu.


Sret! Sret!


Dua kilatan sinar kuning melesat cepat ke arah Atmaya. Dengan sigap, digerakkan tangan kanannya. Dan...


Tap! Tap!


Seketika itu di jari-jari tangan Atmaya sudah terselip dua batang paku emas Secepat kilat Atmaya menggerakkan tangannya, dan kembali sinar kuning melesat ke arah yang berlawanan menuju serangan gelap tadi.


"Aaaakh...!"


Terdengar dua kali teriakan kesakitan saling susul. Kemudian terlihat dua sosok tubuh terguling, tersuruk dari semak-semak. Masing-masing keningnya tertancap sebuah paku emas.


"Hm..., hanya cunguk busuk!" gumam Atmaya agak mendengus.


"Siapa mereka, Kakang?" tanya Wulan.


"Orang-orang partai Paku Emas," jawab Jaka setengah berbisik


"Kau tahu mereka?"


"Ya. Dari senjata yang digunakan. Eyang resi pernah cerita padaku tentang partai itu."


Wulan mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika Eyang Resi Suralaga menceritakan seseorang atau sebuah partai, tentulah ada maksudnya. Paling tidak mereka yang diceritakan punya tingkatan kepandaian yang cukup tinggi dan punya nama dalam rimba persilatan.


Ketika Wulan akan membuka mulutnya lagi tiba-tiba beberapa sinar kuning kembali meluncur deras ke arah mereka dan Atmaya. Jelas di sekitar sini tidak hanya tiga orang saja dari partai Paku Emas. Selain mereka yang telah tewas tadi masih ada beberapa orang yang mengintai. Bahkan kemungkinan guru mereka juga hadir di sini.


Tring! Tring!


Sepasang Walet Merah menangkis serangan-serangan itu dengan memutar-mutar tombak pendek senjata andalan mereka. Paku-paku emas yang mengancam jiwa, rontok di tengah jalan tersapu senjata Sepasang Walet Merah.


Sementara itu Atmaya hanya melompat-lompat berkelit menghindari serangan beruntun yang datang bagai hujan. Paku-paku itu datang saling susul tidak hentinya mengancam tubuh si Gila Jubah Hitam.


"Hanya beginikah tikus-tikus yang kau bawa, Jenggala?" Atmaya berkata nyaring mengejek


Setelah berkata demikian, tangannya bergerak cepat Dan tiba-tiba saja beberapa paku emas berbalik arah, disusul dengan terdengar jerit kematian. Beberapa tubuh terjungkal dari semak-semak dan balik pohon.


"Gunakan 'Sapuan Badai', Adik Wulan!" seru Jaka ketika melihat Atmaya berhasil merobohkan beberapa orang lagi dengan senjata lawannya pula.


"Baik, Kakang!" sahut Wulan. Seketika itu juga Sepasang Walet Merah melompat dan berpegangan tangan. Tombak mereka berputar bagai baling-baling. Bagai terjadi angin topan saja, paku-paku yang berkelebatan mengancam jiwa mereka tertiup keras dan berbalik arah mengarah ke pemiliknya. Kembali terdengar jerit melengking disusul dengan robohnya beberapa orang dari semak-semak. Senjata makan tuan.


Deru angin dari ajian Sepasang Walet Merah terus bekerja dan semakin dahsyat Pohon-pohon kecil mulai melayang tercabut sampai ke akar-akarnya. Batu-batu kerikil beterbangan tersapu angin dari jurus 'Sapuan Badai' milik Sepasang Walet Merah. Bahkan kini pohon-pohon besar mulai tumbang. Kembali jerit kematian dan kepanikan yang menyayat


"He he he..., bagus, bagus!" Atmaya terkekeh gembira.


Dengan sikap tenang dia berdiri sambil melipat tangannya di dada. Sepertinya tidak terpengaruh sama sekali dengan jurus Sapuan Badai. Suara Atmaya terdengar terus terkekeh. Gilanya seperti kumat lagi


Namun angin badai tidak bertahan lama ketika tiba-tiba saja dua berkas sinar kuning berhasil menembus badai buatan itu. Dua sinar kuning itu mengarah deras ke kepala Sepasang Walet Merah.


"Awas, Kakang!" teriak Wulan langsung melompat sambil melepaskan pegangan tangannya pada Jaka.


Seketika itu juga Jaka melompat ke arah yang berlawanan. Dua sinar kuning meluruk cepat mengenai sasaran kosong dan hanya menghantam sebuah pohon besar. Terdengar suara ledakan yang dahsyat. Ternyata berasal dari pohon yang hancur berkeping-keping dihantam dua sinar kuning tadi.


"Tidak percuma kalian menguras ilmu si tua bangka Suralaga. Sayang, kalian harus lebih banyak membuka mata dan telinga," terdengar suara menggema yang disertai pengerahan tenaga dalam.


Sepasang Walet Merah kembali melompat dan berdiri berdampingan. Mata mereka melayang mengamati ke sekitarnya yang gelap diselimuti kabut tebal. Suara itu seperti datang dari segala arah. Jelas, sumber suara itu milik orang yang cukup tinggi ilmunya. Dia dapat memperdengarkan suara tanpa diketahui di mana orangnya. Sepasang Walet Merah memang telah menyadari sejak semula kalau yang datang ke Bukit Batok adalah orang-orang yang berilmu cukup tinggi.


"Muncullah, Jenggala. Aku tidak suka main petak umpet macam anak kecil!" seru Atmaya atau si Gila Jubah Hitam. Suaranya pun dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup sempurna.


"Ha ha ha...!" kembali terdengar suara. Kali ini suara tawa keras disertai pengerahan tenaga dalam yang kuat. Suara itu terdengar menggelegar dan menyakitkan telinga.


Saat setelah suara tawa itu berhenti, dari sebuah batu besar muncul sesosok tubuh berpakaian serba kuning yang ketat. Pada bagian dadanya tersulam gambar sebuah paku dari benang emas yang indah. Dia berambut panjang yang digulung ke atas. Beberapa helai dibiarkan meriap sampai bahu.


Wulan agak tersekat juga ketika melihat wajah orang itu. Tak disangka sama sekali kalau wajah itu begitu tampan dengan kulit putih bersih. Dua bola matanya bening bagai bayi baru lahir. Bibirnya merah seperti bibir seorang gadis, dengan senyum tersungging. Tubuhnya pun ramping, namun


"Dia kah yang bernama Jenggala?" Wulan bertanya dalam hati.

__ADS_1


********************


__ADS_2