Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Rahasia Puri Merah Bag. 4


__ADS_3

Hari berjalan terasa lambat. Kandara Jaya sudah yakin kalau Rangga dan Pandan Wangi bukan dari gerombolan Puri Merah. Bahkan dia tidak sungkan-sungkan lagi memberikan keterangan mengenai kelompok Puri Merah yang kabarnya bersarang di puncak Bukit Arang Lawu ini. Rangga sendiri menjelaskan kalau dirinya dan Pandan Wangi berada di bukit ini karena mengikuti jejak-jejak tapak kaki kuda.


"Jadi, jejak itu menghilang di tepi jurang?" tanya Kandara Jaya yang masih merahasiakan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Benar. Aku berusaha untuk mengikuti jejak itu, tapi entah mengapa jadi kesasar sampai di sini," sahut Rangga.


"Pasti orang-orang Puri Merah yang menghancurkan desa itu," gumam Kandara Jaya.


"Aku tidak tahu pasti siapa yang melakukannya. Yang jelas keadaan desa itu sangat menyedihkan. Semua penduduk tewas, tidak ada seorang pun yang hidup," sambung Pandan Wangi.


"Mereka orang-orang yang kejam. Sudah lama aku berusaha untuk menghancurkannya," kata Kandara Jaya lagi.


Mereka terus berbicara saling tukar pikiran sambil berjalan. Tanpa terasa mereka sudah mencapai tepi jurang yang besar dan dalam. Kandara Jaya memeriksa jurang itu. Dia tertegun mendapati sulur yang bersambung-sambung, dan putus pada tengah-tengahnya. Dia jadi teringat pada Kitri Boga dan Lawawi Girang.


Di sekitar bibir jurang ini terdapat begitu banyak tapak kaki kuda. Begitu jelas tertera pada rerumputan yang basah. Jejak itu hilang dan berhenti di sini! Rasanya mustahil kalau kuda-kuda itu menuruni jurang! yang sangat terjal dan dalam. Hal inilah yang dipikirkan! Rangga.


Diam-diam Pandan Wangi memeriksa sekitar tepi jurang itu, dengan tidak lepas mengikuti jejak-jejak kaki kuda yang begitu banyak. Gadis itu memeriksa sampai ke sebuah semak-semak yang tinggi dan rapat. Di sini jejak kaki kuda itu juga menghilang terputus. Dengan sebatang kayu, Pandan Wangi menyibakkan semal itu. Matanya membeliak lebar, karena di balik semak terdapat sebuah rongga. Agaknya seperti mulut goa.


"Kakang...!" Pandan Wangi berteriak memanggil.


"Ada apa?" tanya Rangga, langsung melompat menghampiri.


"Ada goa," sahut Pandan Wangi sambil terus menyibakkan semak-semak kering yang sepertinya sengaja untuk menutupi mulut goa ini.


Kandara Jaya juga segera menghampiri dan meneliti keadaan mulut goa yang kini telah tersibak lebar.


"Aku periksa sebentar," kata Rangga seraya melangkahkan kakinya memasuki goa itu.


Rangga berjalan perlahan-lahan dengan sikap waspada. Keadaan dalam goa ini tidak terlalu gelap karena masih ada sedikit cahaya yang masuk. Di dasar goa yang memanjang ini terdapat banyak jejak kaki kuda. Rangga terus berjalan mengikuti lorong goa yang panjang ini. Dan dia tertegun ketika melihat banyak kuda yang berkumpul pada sebuah ruangan luas dan terang.


Ruangan itu atasnya berlubang besar bagai kepundan gunung yang sangat besar. Tidak terdapat seorang pun di sini. Sulit menghitung berapa banyak kuda yang ada dalam ruangan ini. Rangga mengedarkan pandangannya. Semua dinding terbuat dari batu-batu kasar yang dibentuk oleh alam. Kelihatannya, hanya lorong ini satu-satunya yang ada.


Rangga segera kembali menemui Pandan Wangi dan Kandara Jaya yang menunggu di luar. Pendekar Rajawali Sakti itu melangkah cepat, sehingga tidak lama kemudian sudah berada di mulut goa ini.


"Bagaimana?" tanya Kandara Jaya tidak sabar.


"Tidak ada siapa-siapa di dalam. Goa ini buntu," sahut Rangga.


"Buntu...?!" Pandan Wangi sepertinya tidak percaya.


"Ya, buntu. Goa ini tempat menyimpan kuda-kuda."


"Apa...?!" Kandara Jaya terkejut.


"Ada puluhan ekor kuda di dalam sana, tapi tidak ada seorang pun yang terlihat," kembali Rangga menjelaskan.


"Mustahil! Lalu, ke mana orang-orang itu pergi?" gerutu Kandara Jaya.


Rangga tidak menyahut. Matanya menatap lurus ke tanah. Memang yang ada hanyalah tapak-tapak kaki kuda saja. Tapi... Mendadak dia tersentak, dan langsung jongkok. Tangannya meraba-raba rerumputan di sekitarnya. Rangga terus mengikuti jejak-jejak tipis kaki manusia yang berseling dengan jejak-jejak kaki kuda. Memang tipis sekali, sehingga sulit terlihat kalau tidak benar-benar teliti.


Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti sesampainya di tepi jurang yang besar dan dalam itu. Lagi-lagi dia menarik napas panjang dan berat. Semua jejak sepertinya terputus di bibir jurang ini. Pelan-pelan Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri. Pandan Wangi dan Kandara Jaya pun telah berada di sampingnya.


"Kau pernah bentrok dengan mereka?" tanya Rangga tanpa mengalihkan pandangannya ke puncak bukit yang berselimut kabut tebal.


"Pernah, beberapa kali," sahut Kandara Jaya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Rangga lagi.


"Tingkat kepandaian mereka memang tinggi sekali. Tapi tidak semuanya. Ada juga yang lumayan, bahkan yang rendah pun ada," jelas Kandara Jaya.


"Kira-kira, berapa orang yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi?"


"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang mengenakan jubah merah, rasanya yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Jumlah yang pasti aku tidak tahu."


"Hm...," Rangga bergumam tidak jelas.


Pendekar Rajawali Sakti pandangannya beralih pada Pandan Wangi yang berdiri di samping kirinya. Kemudian pandangannya kembali beralih ke seberang jurang sana.


"Kau bisa melompati jurang ini, Pandan?" tanya Rangga.


"Mungkin," sahut Pandan Wangi ragu-ragu.


"Coba lakukan!"


"Apa...?! Gila! Kau ingin jadikan aku kelinci percobaan, ya?" gerutu Pandan Wangi gusar.


"Aku hanya ingin tahu saja. Dengan cara itu, kita bisa mengukur sampai di mana tingkat kepandaian yang mereka miliki," suara Rangga terdengar tenang.


"Biar aku saja!" sergah Kandara Jaya.


"Jangan!" cegah Rangga.


"Kenapa? Aku atau adikmu kan sama saja!"


"Maaf, bukannya aku tidak percaya dengan kemampuanmu. Tapi sebaiknya biar Pandan Wangi saja yang mencoba lebih dulu."


Pandan Wangi diam saja. Dia tidak ingin berdebat dengan Pendekar Rajawali Sakti ini. Cukup lama ia bersama Rangga, maka dia sudah tahu betul segala sifat dan tindakannya. Memang, kadang-kadang tindakan dan pemikiran Rangga sangat sulit dimengerti. Tapi Pandan Wangi merasa yakin kalau segala yang dikatakan Rangga, tentu sudah pula dipikirkan akibatnya. Pendekar muda itu tidak mungkin membiarkan Pandan Wangi mendapat celaka.


Tanpa banyak bicara lagi, Pandan Wangi segera memekik keras, dan tubuhnya melesat tinggi ke udara. Beberapa kali jungkir balik di udara untuk menambah ayunan lompatan, tapi Pandan Wangi belum juga sampai ke seberang. Tubuh gadis itu merasa meluruk menghunjam ke bawah.


"Hait..!" tiba-tiba saja Rangga menyentakkan tangannya ke arah tubuh Pandan Wangi yang siap dilumat dasar jurang.


Dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti itu meluncur deras seberkas sinar putih kebiru-biruan menyeberangi jurang. Sedangkan tubuh Pandan Wangi terus meluruk deras bagai tersedot mulut jurang.


"Kakang...!" jerit Pandan Wangi ngeri.


"Hiya...! Hiyaaa...!" Rangga menambah kekuatan dalam usahanya meluncurkan sinar agar mencapai tubuh Pandan Wangi. Tapi ujung sinar putih itu tidak juga mencapai tubuh Pandan Wangi yang terus meluruk semakin dalam ke jurang yang berkabut tebal. Terdengar jeritan menyayat dan menggema dari dalam jurang.

__ADS_1


"Pandaaan...!" teriak Rangga keras.


Jeritan Pandan Wangi yang melengking tinggi, menghilang ketika tubuhnya ditelan kabut yang menutupi bagian dalam jurang itu. Rangga berteriak-teriak memanggil Pandan Wangi. Sedangkan tubuh gadis itu sudah lenyap ditelan jurang.


"Oh! Pandan...," rintih Rangga, lalu jatuh lemas berlutut.


"Rangga...," Kandara Jaya memegang pundak Rangga yang berlutut di bibir jurang.


Pelan-pelan kepala Pendekar Rajawali Sakti itu menoleh menatap Kandara Jaya. Kemudian pandangannya kembali berpaling pada jurang di depannya. Keadaan di dalam jurang tetap gelap dan berkabut. Tidak terdengar lagi suara apa-apa di sana.


"Maafkan aku, Pandan. Aku tidak bermaksud mencelakakan dirimu," rintih Rangga lirih.


"Rangga...," pelan suara Kandara Jaya terdengar.


"Tidak! Dia tidak boleh mati! Aku..., aku mencintainya. Aku mencintai Pandan Wangi. Tidaaak...!" Rangga jadi histeris.


Kandara Jaya bingung akan sikap Rangga yang begitu histeris. Dia tidak mengerti maksud ucapan Rangga. Disangkanya Pandan Wangi benar-benar adik Rangga. Tapi kata-kata yang terucap dari mulut Rangga... Sepertinya Pandan Wangi adalah seorang kekasih yang sangat dicintai.


"Dengarkan aku, Pandan! Dengarkan... Aku mencintaimu, Pandan. Aku mencintaimu...!" keras sekali suara Rangga, hingga menggema ke seluruh penjuru.


"Rangga... tenanglah. Rangga..." Kandara Jaya berusaha menenangkan hari Rangga yang tengah dicambuk rasa penyesalan, karena telah meminta Pandan Wangi untuk melompati jurang ini.


Rangga berdiri tegak. Tampak dua bola matanya berkaca-kaca, menatap lurus ke puncak Bukit Arang Lawu. Perlahan-lahan dia menunduk memandang ke dalam jurang yang gelap tertutup kabut Pendekar Rajawali Sakti itu mendesah panjang merasakan pundaknya ditepuk.


"Aku ikut merasakan apa yang kau rasakan, saat ini," kata Kandara Jaya penuh perhatian.


"Yaaah...," Rangga mendesah panjang. Rasanya tidak ingin mengucapkan apa-apa lagi.


"Kau sudah berusaha menolongnya. Itu bukan kesalahanmu semata, Rangga," kembali Kandara Jaya berusaha menentramkan hari Pendekar Rajawali Sakti itu.


Lama Rangga meratap dan menyesali peristiwa itu... Rangga mengangkat kepalanya ketika tiba-tiba mendengar suara yang sangat halus. Tampak di seberang jurang sana, berdiri sekitar sepuluh orang berjubah merah dengan tombak berujung tiga. Kandara Jaya juga terkejut saat melihat gerombolan itu yang telah berdiri di seberang jurang.


Yang membuat Rangga sangat terkejut adalah adanya seorang wanita mengenakan baju ketat warna biru tengah dipegangi kedua tangannya oleh dua orang dari gerombolan itu. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang, terurai lepas menutupi wajahnya. Potongan tubuh dan baju yang dikenakannya sangat mirip dengan Pandan Wangi.


"Pandan...," desah Rangga lirih. 'Pandan...! Kaukah itu?" teriak Rangga disertai pengerahan tenaga dalam.


"Ha ha ha...!" salah seorang yang berjubah merah tertawa terbahak-bahak.


"Dia akan menjadi persembahan bagi dewa keabadian bangsa kami!" terdengar suara bergema.


Kandara Jaya celingukan mencari sumber suara. Sedangkan Rangga tetap memandang lurus ke seberang jurang. Sepertinya tengah memastikan kalau wanita yang terkulai lemas itu adalah Pandan Wangi.


"Berikan persembahan itu pada Sang Dewa Agung Keabadian!" terdengar lagi suara besar bergema.


"Kakang..., tolooong...!" terdengar suara teriakan seorang wanita.


Bersamaan dengan itu, dua orang yang tengah memegangi wanita itu, melangkah maju beberapa langkah. Kemudian wanita itu dilemparkannya ke dalam jurang yang lebar dan dalam. Suara jeritan melengking terdengar menyayat semakin melemah, bersamaan dengan meluncurnya tubuh wanita itu ditelan perut jurang.


"Pandan...," desah Rangga lirih. Suara wanita itu sangat mirip sekali dengan Pandan Wangi.


"Ha ha ha...!" terdengar suara tawa menggelegar.


Setelah menggeram beberapa kali, Pendekar Rajawali Sakti itu melenting tinggi ke udara menyeberangi jurang yang sangat lebar dan dalam. Kandara Jaya tidak dapat mencegah lagi. Rangga begitu cepat bergerak dan kini berjumpalitan di udara.


Saat posisi Rangga di tengah-tengah jurang, sepuluh orang berjubah merah itu segera menyentakkan tangannya dengan cepat. Ratusan benda kecil berwarna merah, meluncur deras ke arah Rangga.


"Awas, senjata rahasia...!" teriak Kandara Jaya memperingatkan.


"Hiyaaa...!" Rangga berteriak nyaring melengking. Tubuhnya berputaran cepat di udara, menghindari senjata-senjata rahasia berwarna merah yang menghujani dirinya. Senjata rahasia menyerupai bola-bola kecil, meluruk jatuh ke dalam jurang sebelum sampai ke seberang. Tidak ada satu pun yang berhasil menyentuh tubuh Rangga yang terus melenting mendekati bibir jurang seberang sana.


Kandara Jaya hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Sepuluh orang berjubah merah itu berlompatan bagai terbang menyongsong Rangga sebelum sampai ke tepi jurang, langsung menyerang dengan tombak bermata tiga.


Rangga segera mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Dengan jurus ini, dia dapat leluasa bertarung di udara, bagaikan bertarung di permukaan tanah saja. Rangga agak terkejut juga, karena orang-orang berjubah merah itu dapat terbang seperti burung. Gerakan-gerakannya pun begitu cepat dan berbahaya. Pendekar Rajawali Sakti itu agak kewalahan juga menghadapi lawan-lawannya dalam pertarungan di udara, pada permukaan jurang yang siap menelan siapa saja.


"Aku tidak akan mungkin menandingi mereka tanpa senjata," dengus Rangga dalam hati.


Sret!


Cahaya biru berkilau langsung membias saat pedang Rajawali Sakti telah keluar dari warangkanya. Dengan pedang pusaka di tangan, Rangga bagaikan malaikat maut yang siap mencabut nyawa Sinar biru berkelebat memburu orang-orang berjubah merah. Beberapa kali pedang Rajawali Sakti berbenturan dengan tombak-tombak bermata tiga. Dan ini membuat Rangga jadi tersentak kaget. Sebab, belum pernah ada senjata yang utuh bila berbenturan dengan pedangnya! Tapi tombak di tangan orang-orang berjubah merah itu tidak berubah sedikit pun.


Jurus demi jurus segera berlalu dengan cepat, Rangga merasa semakin sulit bertarung di udara terus menerus. Beberapa kali dia harus meminjam tenaga saat senjatanya beradu, agar tetap berada di udara. Tapi cara itu dapat diketahui dengan cepat Orang-orang berjubah merah itu tidak ada yang membenturkan senjata lagi. Mereka seakan-akan sengaja menghindar, bahkan bertarung dengan menjaga jarak.


"Celaka! Aku bisa masuk jurang kalau begini terus," pikir Rangga.


Beberapa kali dia berusaha untuk keluar dari dalam pertarungan. Tapi usahanya selalu gagal. Orang-orang berjubah merah itu bagaikan telah membaca setiap gerakan Pendekar Rajawali Sakti ini. Bahkan dengan mudah bisa mematahkan serangan Rangga di tengah jalan.


"Suiiit...!" tiba-tiba Rangga bersiul nyaring. Orang-orang berjubah merah yang jumlahnya sepuluh orang itu serentak berlompatan ke tepi jurang, begitu mendengar siulan melengking dari mulut Rangga. Tepat ketika kaki mereka mendarat manis di tepi jurang, di angkasa terlihat satu benda berwarna coklat kehitaman melayang-layang, lalu menukik turun.


"Cepat! Aku sudah tidak kuat!" teriak Rangga ketika melihat burung rajawali raksasa itu.


Aneh! Sepuluh orang berjubah merah langsung melepaskan senjatanya dan berlutut Dengan tangan terentang ke atas, mereka bergerak membungkuk dan kembali tegak, bagaikan tengah menyembah dewa.


"He! Kenapa mereka jadi begitu?" Rangga keheranan tidak mengerti.


********************


Rangga memerintahkan burung rajawali raksasa untuk mendarat di seberang. Sepuluh orang berjubah merah itu terus saja menyembah-nyembah. Manis sekali Rangga melompat turun dari punggung rajawali raksasa itu. Dilangkahkan kakinya mendekati sepuluh orang yang tetap berlutut dengan telapak tangan menyentuh tanah.


"Siapa di antara kalian yang jadi pemimpin?" tanya Rangga.


Satu orang yang berada di tengah-tengah langsung bergerak maju. Sikapnya tetap berlutut dan membungkuk seraya mencium tanah beberapa kali. Hormat sekali.


"Siapa namamu?" tanya Rangga. "Ampunkan hamba. Ampunkan segala dosa-dosa bangsa hamba, Dewa Agung penguasa jagad raya," kata orang itu terus menyembah-nyembah.


"Aku tanya, siapa namamu?" Rangga mengulangi lagi pertanyaannya.


"Nama hamba Natrasoma. Dan mereka adalah para punggawa hamba, Gusti Dewa Agung."

__ADS_1


"Hm...."


Rangga memalingkan muka ke arah seberang. Tampak Kandara Jaya masih berdiri mematung keheranan akan kejadian yang sama sekali belum pernah disaksikannya. Sepertinya tengah bermimpi saja saat ini. Sungguh mari, dia tadi nyaris pingsan ketika melihat seekor rajawali raksasa menukik menyambar Rangga. Kandara Jaya terperangah karena burung itu sangat jinak, bahkan mengerti perintah Rangga. Dan yang lebih mengherankan lagi, orang-orang berjubah merah itu langsung menyembah-nyembah. Sepertinya, Rangga dan rajawali raksasa itu adalah dewa sesembahan mereka.


"Rajawali, bawa Kandara Jaya ke sini!" kata Rangga.


"Khraaaghk!"


Maka sayap lebar burung raksasa itu pun terkepaklah. Dia melayang, dan cepat menyambar tubuh Kandara Jaya. Tentu saja pangeran muda itu menjerit-jerit ketakutan. Dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman cakar burung raksasa itu. Rangga hanya tersenyum melihat Kandara Jaya ketakutan setengah mati. Wajah pangeran muda itu kelihatan pucat, meski telah berada di samping Rangga.


"Terima kasih," ucap Rangga seraya menepuk-nepuk kepala burung rajawali raksasa itu, lalu menciumnya lembut.


"Rangga...," Kandara Jaya beringsut ngeri melihat burung rajawali raksasa berada di dekatnya.


"Tidak apa-apa. Dia sahabatku yang terbaik," kata Rangga kalem.


Perhatian Rangga beralih pada sepuluh orang berjubah merah yang tetap berlutut di depannya. Matanya menatap tajam salah seorang yang berada paling depan. Orang yang mengaku bernama Natrasoma.


"Natrasoma, kuminta jawablah dengan jujur. Mengapa kau melakukan pembunuhan dan pengrusakan desa-desa di sekitar kaki bukit Arang Lawu ini?" tanya Rangga.


"Tunggu dulu!" potong Kandara Jaya cepat sebelum Natrasoma menjawab pertanyaan Rangga.


"Ada apa lagi, Kandara Jaya?" tanya Rangga.


"Aku ingin mereka membuka selubung yang menutupi wajahnya," sahut Kandara Jaya.


Kesepuluh orang itu mendongakkan kepala.


Tanpa diminta dua kali, mereka segera membuka selubung yang menutupi kepala dan wajah. Kandara Jaya dan Rangga terperangah begitu melihat wajah mereka yang rusak bagai mayat hidup. Daging dan kulit wajah terkelupas, sehingga menampakkan tulang-tulangnya.


Kandara Jaya bergidik menyaksikan keadaan yang mengerikan itu. Bahkan mereka juga tidak memiliki rambut. Kulit kepala pun terkelupas di beberapa tempat.


"Sudah, sudah! Tutup lagi!" kata Rangga tidak tahan melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu.


Bagaimana tidak? Mereka itu lebih mirip mayat hidup! Sulit dimengerti. Dalam keadaan seperti itu, mereka masih mampu bertahan hidup. Pantas, mereka selalu mengenakan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuh. Hanya tangan saja yang kelihatan utuh dan tidak cacat.


Dalam benak Pendekar Rajawali Sakti, tiba-tiba muncul rencana setelah melihat keadaan sepuluh orang berjubah merah itu. Apa lagi melihat sikap mereka yang begitu ketakutan saat burung rajawali raksasa datang memenuhi panggilannya. Burung rajawali raksasa yang telah mengajarkan dan mendidik Rangga hingga menjadi seorang pendekar pilih tanding sampai saat ini.


********************


Burung rajawali raksasa mengepakkan sayapnya, melambung tinggi ke angkasa. Rangga memandanginya hingga tidak terlihat lagi, lenyap di balik gumpalan mega. Sementara itu Kandara Jaya tetap berdiri di sampingnya. Pikirannya masih dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit terjawab, dan membuatnya masih terheran-heran.


Rangga melangkahkan kakinya mendekati bibir jurang. Dia berdiri tepat di tepi jurang yang menganga lebar. Pandangannya lurus menatap ke bawah yang gelap berselimut tebal. Rasa penyesalan kembali melanda hatinya. Entah bagaimana nasib Pandan Wangi di dalam jurang sana. Agak lama juga Rangga berdiri memandang ke dalam jurang. Sambil melepaskan napas panjang, dibalikkan rubuhnya.


"Natrasoma, ceritakan yang sebenarnya. Kenapa kau lemparkan wanita tadi ke dalam jurang?" tanya Rangga.


"Ampunkan hamba, Gusti Dewa Agung. Hamba terpaksa melakukannya. Seluruh bangsa hamba terancam musnah bila tidak menuruti kehendak Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana," sahut Natrasoma seraya membungkukkan badannya.


"Dewi Sri Tungga Buana? Siapa dia?" desak Kandara Jaya.


"Dewi yang memberi kami hidup abadi dan kedamaian di alam mayapada ini."


"Dengan mengorbankan gadis-gadis?" Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gadis-gadis itu pilihan Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana. Mereka akan dijadikan dayang-dayang penghias istana kerajaan para dewa di kahyangan."


"Kenapa harus diceburkan ke dalam jurang ini?" tanya Kandara Jaya masih belum mengerti betul.


"Itulah jalan satu-satunya menuju istana dewa. Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana yang memerintahkan kami untuk menunjukkan jalan bagi gadis-gadis itu."


Kandara Jaya memandang Rangga dengan sinar mata tidak mengerti. Rangga mengayunkan kakinya mendekati Natrasoma yang berdiri paling depan di antara yang lainnya. Mereka berdiri dengan kepala tertunduk. Entah kenapa. Begitu melihat sinar biru terpancar dari pedang Rajawali Sakti, mereka langsung menyangka kalau Dewa Agung mereka datang. Lebih-lebih setelah kemunculan burung rajawali raksasa. Rangga yang menyadari salah pengertian ini, memanfaatkannya dengan baik, meskipun benaknya masih terus bertanya-tanya.


Bagaimana mungkin mereka menganggapnya dewa? Dia adalah manusia biasa. Sama dengan mereka. Tapi Rangga tidak ingin mempersoalkannya. Maka dimanfaatkannya kesempatan ini untuk menyingkap misteri yang terkandung di Bukit Arang Lawu ini.


"Natrasoma di antara rakyatmu ada yang wanita, bukan? Nah! Mengapa harus menculik gadis-gadis dari desa lain? Bahkan membunuh semua penduduknya. Apakah semua yang kau lakukan itu juga kehendak Dewi Sri Tungga Buana?" tanya Rangga mulai memancing.


"Benar, Gusti Dewa Agung," sahut Natrasoma seraya membungkuk.


"Lalu, siapa tadi yang kau ceburkan?" ada sedikit tekanan pada suara Rangga.


"Seorang gadis yang kesasar masuk wilayah kami. Dan Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana menginginkan segera dikorbankan."


"Gadis kesasar?" Rangga mengerutkan keningnya.


"Benar, Gusti Dewa Agung. Rakyatku menemukannya tengah hanyut di sungai. Di tubuhnya terdapat sebilah pedang dan kipas dari ba...."


"Setan! Kau bunuh Pandan Wangi, heh!" geram Rangga memotong kata-kata Natrasoma.


"Ampun, Gusti Dewa Agung. Kami hanya menjalankan perintah Dewi Sri Tungga Buana," suara Natrasoma terdengar bergetar.


Tubuhnya pun menggigil ketakutan. Rangga menjadi geram, dan memuncak kemarahannya. Tapi tiba-tiba saja dia tidak sampai hati ketika orang-orang berjubah merah di depannya menjatuhkan diri dan berlutut.


"Ah, Pandan... mengapa sampai dua kali kau jatuh ke jurang?" desah Rangga bergumam, penuh dengan ketidakmengertian.


"Hamba menerima salah, Gusti Dewa Agung. Kami semua siap menerima hukuman," kata Natrasoma bergetar.


"Bangunlah kalian semua," kata Rangga. Suaranya agung dan berwibawa.


Kandra Jaya sendiri sempat melongo mendengar suara Rangga begitu agung penuh kewibawaan. Hampir seharian saling berbicara dan saling mengenal, tapi baru kali ini Kandara Jaya mendengar suara yang begitu agung meluncur dari bibir Rangga. Kesepuluh orang berjubah merah beranjak bangkit berdiri. Kepala mereka masih tetap menunduk tertutup kain merah berbentuk kerucut.


"Kami semua siap menjalankan perintah dan menerima hukuman, Gusti Dewa Agung," kata Natrasoma. Suaranya masih terdengar bergetar bernada takut.


"Tidak ada gunanya menghukum kalian. Aku tahu kalian tidak bersalah dan ditekan oleh kekuatan iblis yang mengaku sebagai Dewi Sri Tungga Buana," kata Rangga penuh wibawa.


Tidak ada yang membuka suara. Suasana hening untuk beberapa saat. Rangga memandangi sepuluh orang yang berdiri membungkuk di depannya. Dari sinar matanya, terlihat kalau dia tengah berperang dengan batinnya sendiri. Rangga kini dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit dipecahkan.


Di satu pihak, dia sangat mencintai Pandan Wangi yang kini entah bagaimana nasibnya di dalam jurang sana. Rangga tidak bisa membohongi dirinya lagi. Dia benar-benar mencintai gadis itu. Tapi di pihak lain jiwa kependekarannya dituntut untuk menyelesaikan kemelut yang tengah dihadapinya. Dari jawaban dan keterangan yang diberikan Natrasoma, ada kesimpulan kalau orang-orang berjubah merah ini dalam keadaan tertekan suatu kekuatan iblis.

__ADS_1


Jiwa kependekaran Rangga mengatakan kalau dia harus menolong orang-orang berjubah merah ini. Orang-orang yang disebut sebagai Kelompok Puri Merah. Rangga meminta mereka untuk membawanya ke puncak Bukit Arang Lawu. Tentu dengan senang hati mereka akan mengantar Rangga yang dianggap sebagai Dewa Agung. Dewa yang menurut kepercayaan mereka adalah raja dari segala dewa yang ada.


********************


__ADS_2