
Rakapati bergegas ke dalam istana kadipaten. Dia langsung menuju ke kamar pribadi adipati. Di sana Adipati Prahasta masih duduk terikat dengan wajah tenang dan bibir menyunggingkan senyuman. Senyumnya semakin lebar begitu melihat Rakapati masuk menghampiri.
"Sebaiknya kau urungkan saja niatmu, Rakapati. Tanpa mengadakan pertumpahan darah pun aku akan menyerahkan Kadipaten Karang Asem ini padamu," kata Adipati Prahasta.
"Diam kau!" bentak Prahasta gusar.
"Percuma saja kau melawan, prajurit Limbangan bukanlah tandinganmu. Lebih-lebih Panglima Lohgender. Kau akan menyesal seumur hidup," Adipati Prahasta yang teramat menyintai anak tirinya ini berusaha menyadarkannya.
Rakapati menjulurkan kepalanya mendekati wajah Adipati Prahasta. Mukanya merah padam dengan bola mata merah menyala. Perlahan-lahan dia mengeluarkan kelewang dari balik bajunya. Adipati Prahasta tetap tersenyum melihat senjata berkilat di tangan anak tirinya.
"Bunuhlah aku, Rakapati. Kalau itu membuatmu jadi puas," tenang sekali Adipati Prahasta berkata.
"Kau memang harus mati, Prahasta. Harus...!" desis Rakapati tegang.
"Hidupku pun tidak ada gunanya. Bertahun-tahun aku menginginkan seorang anak. Kini meskipun hanya seorang anak tiri yang kudapat, aku tidak merasa menyesal. Aku memang tidak mungkin lagi mempunyai keturunan. Ayo, bunuhlah aku. Aku puas karena anak yang kudidik dan kubesarkan, memiliki semangat dan cita-cita pada tanah kelahirannya. Aku bangga memilikimu, Rakapati," kata Adipati Prahasta dengan mata berkaca-kaca. Namun nada suaranya tetap tenang mencerminkan kebanggaan.
Rakapati jadi terdiam terpaku mendengar kata-kata Adipati Prahasta yang begitu menyentuh sampai ke lubuk hatinya yang paling dalam. Secara jujur, hati kecilnya mengakui kalau selama ini dia benar-benar merasakan kasih sayang penuh dari ayah tirinya ini. Tak pernah sedikitpun Adipati Prahasta memperlakukannya sebagai anak tiri yang tanpa hak di Kadipaten Karang Asem.
Tiga kali Adipati Prahasta menikah, tapi tak seorangpun dari istrinya yang mampu melahirkan keturunan. Dan begitu dia menikahi Puspa Lukita yang sudah memiliki seorang anak laki-laki, seluruh cinta dan kasih sayangnya dia tumpahkan pada anak tirinya. Meskipun seharusnya Puspa Lukita dan Rakapati menjadi tawanan perang pada masa runtuhnya Kerajaan Karang Asem. Dan dengan restu Raja Limbangan, dia menikahi Puspa Lukita. Kini anak yang dia didik dan dia asuh sejak berumur empat tahun, menempelkan kelewang di lehernya.
Namun Adipati Prahasta tidak sedikitpun merasa menyesal atau murka dengan sikap Rakapati. Dalam hatinya justru dia merasa bangga karena Rakapati ingin mengembalikan Karang Asem pada masa jayanya. Adipati Prahasta sendiri sebenarnya tidak setuju ketika harus menggempur Kerajaan Karang Asem ketika itu.
"Rakapati, di mana ibumu?" tanya Adipati Prahasta.
"Untuk apa kau tanyakan ibuku?" dengus Rakapati masih bersikap bermusuhan, namun nada suaranya sudah sedikit melunak.
"Sebaiknya kau bawa ibumu ke Kadipaten Sedana. Kau tidak akan berhasil dengan hanya kekuatanmu yang ada sekarang. Prajurit-prajurit Limbangan terlalu kuat bagimu. Susunlah kekuatan yang lebih besar lagi di Kadipaten Sedana jika kau masih tetap ingin mengembalikan kejayaan Karang Asem. Aku yakin, pamanmu mau membantu perjuanganmu, Rakapati," kata Adipati Prahasta.
Rakapati menjauhkan kelewangnya dari leher Adipati Prahasta. Kepalanya menoleh demi mendengar langkah-langkah kaki memasuki kamar ini. Tampak seorang wanita setengah baya namun masih kelihatan cantik, melangkah menghampiri.
"Ibu...," Rakapati melangkah mundur dua tindak.
"Saran ayahmu benar, anakku. Pergilah ke Kadipaten Sedana. Temui pamanmu Winicitra. Berikan ini padanya," kata Puspa Lukita sambil menyerahkan kalung hitam bercincin emas.
"Ibu...," suara Rakapati seperti tersedak di tenggorokan.
"Pergilah, anakku. Tinggallah di Bukit Kapur bersama Eyang Wanakara. Beliau seorang pertapa sakti. Ibu yakin beliau mau menerimamu karena kau anak tunggal dari Sirandana. Paman Winicitra akan mengantarkanmu ke sana. Tunjukkan kalung ini pada Eyang Wanakara. Beliau pasti sudah tahu melihat kalung ini."
Rakapati tidak mampu berkata-kata lagi. Dia menerima saja pemberian ibunya, dan menyimpannya dibalik lipatan sabuk. Rakapati memandang Adipati Prahasta yang tersenyum dan menganggukkan kepala padanya. Kebekuan dan ketegaran hati Ratapati seketika itu juga mencair luluh tersiram kelembutan dan kasih sayang. Terbetik rasa sesal di hatinya karena telah berlaku tidak terpuji pada laki-laki yang begitu mencintai dirinya.
"Balungpati, aku serahkan anakku padamu. Jaga keselamatannya," kata Puspa Lukita.
Balungpati membungkuk hormat. Tanpa diperintah lagi, dia segera melepaskan ikatan di tubuh Adipati Prahasta. Balungpati langsung memeluk kaki laki-laki tua gemuk itu. Dia benar-benar menyesal telah mengkhianati orang yang sungguh bijaksana dan patut dijadikan teladan. Adipati Prahasta memegang pundak Balungpati dan membawanya berdiri.
"Tidak perlu kau bersikap begitu, Balungpati. Aku serahkan keselamatan Rakapati padamu." kata Adipati Prahasta lembut.
"Maafkan hamba, Gusti," ucap Balungpati tersedak.
Adipati Prahasta menepuk-nepuk pundak kepala pasukan itu. Sementara Rakapati bersujud di kaki ibunya, dan mencium punggung tangan wanita setengah baya itu. Sejenak dia memandang pada Adipati Prahasta setelah bangkit berdiri. Sesaat kemudian, kedua laki-laki yang semula bermusuhan itu, saling berpelukan erat. Agak lama juga mereka saling berpelukan, kemudian berpandangan tanpa berkata-kata lagi.
"Kelak kau akan mengembalikan kejayaan Kerajaan Karang Asem, anakku," bisik Adipati Prahasta.
"Ayah...," Rakapati tak mampu lagi berkata-kata.
"Cepatlah pergi. Panglima Lohgender menuju ke sini!" seru Adipati Prahasta agak ditahan suaranya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rakapati dan Balungpati langsung melompat ke luar dari jendela. Dalam sekejap saja tubuh mereka lenyap di balik tembok kadipaten yang tinggi dan tebal. Saat itu Panglima Lohgender bersama beberapa orang prajurit sudah memasuki kamar itu.
"Kakang tidak apa-apa?" tanya Panglima Lohgender sedikit cemas.
"Tidak," sahut Adipati Prahasta tersenyum.
"Kakang Prahasta, sebaiknya hentikan pertempuran. Korban sudah terlalu banyak yang jatuh," kata Puspa Lukita.
__ADS_1
Adipati Prahasta tersenyum, kemudian mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung melangkah ke luar kamar itu dan memerintahkan kepada prajurit-prajurit yang sedang bertempur untuk menghentikan pertempuran. Setelah dilihatnya pertempuran mereda, Adipati Prahasta pun segera berkata.
"Hai, para prajurit kebanggaanku, marilah kita bersatu kembali membangun Kadipaten Karang Asem ini seperti semula. Janganlah kita terpecah belah hanya karena adanya beda pendapat di antara kita!"
"Setujuuu ..." para prajurit berteriak serentak, menyatakan kegembiraannya melihat pemimpin mereka telah siap membangun kembali kadipaten yang tadinya terpecah belah ini.
Para prajurit yang tadinya memihak Rakapati, segera berbalik kembali memihak Adipati Prahasta. Apalagi ketika mereka melihat pemimpin mereka tidak kelihatan lagi batang hidungnya.
Kadipaten Karang Asem sudah tenang kembali dengan munculnya Adipati Prahasta bersama Puspa Lukita. Panglima Lohgender juga tidak bertanya-tanya lagi setelah mendapat penjelasan kalau Rakapati sudah melarikan diri. Tapi Adipati Prahasta dan Puspa Lukita tidak mau mengatakan ke mana Rakapati pergi. Tapi sebenarnya yang menjadi beban pikiran Panglima Lohgender, bukanlah kepergian Rakapati, tapi hilangnya Arya Duta yang dibawa kabur oleh Iblis Wajah Seribu dalam keadaan pingsan. Ke mana Iblis Wajah Seribu atau Klenting Kuning membawa Arya Duta?
Di sebuah pondok kecil dekat tepi Hutan Tarik, tampak Klenting Kuning berdiri memandangi Arya Duta yang lemas tak berdaya karena jalan darahnya tertotok Iblis Wajah Seribu itu. Hanya matanya saja yang mendelik penuh amarah melihat wanita cantik itu tersenyum-senyum.
Klenting Kuning menghampiri dipan kayu di mana Arya Duta terbaring lemas tanpa daya, kemudian dia duduk di tepi dipan itu. Tangannya lembut membelai-belai leher dan dada pemuda itu. Gerakan lembut jari-jemari tangan Klenting Kuning itu, rupanya membuka totokan pada leher, sehinga Arya Duta bisa menggerak-gerakkan kepalanya.
"Perempuan jalan! Apa yang akan kau lakukan?" sentak Arya Duta ketika jari-jari tangan Klenting Kuning membuka bajunya.
"Diamlah, bocah bagus. Kau akan merasakan nikmatnya sorga," desah Klenting Kuning tak dapat lagi menahan gejolak di dadanya.
"Ikh...!" Arya Duta memalingkan mukanya ke samping begitu Klenting Kuning mulai menciumi leher dan wajahnya.
Iblis Wajah Seribu itu semakin bernapsu. Napasnya mulai memburu, mendengus-dengus hangat di seputar leher dan wajah Arya Duta. Pemuda itu tidak menyadari kalau Klenting Kuning menyebarkan ajiannya yang sangat ampuh untuk menaklukkan laki-laki. Periahan-lahan, aji 'Pelebur Jiwa' meresap ke dalam tubuh dan mengacaukan syaraf-syaraf Arya Duta.
"Oh...," Arya Duta mulai mendesah. Sekuat tenaga dia berusaha untuk melawan gejolak yang semakin membara di dadanya. Arya Duta meng-geleng-gelengkan kepalanya dengan kelopak mata ter-pejam rapat. Rasanya sia-sia saja dia melawan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Perasaan itu semakin mem-belenggu tak terkendalikan lagi.
Arya Duta merasakan kepalanya jadi pening, dan matanya yang mulai terbuka, berkunang-kunang. Dadanya semakin berdebar kencang, bergemuruh bagai ombak di lautan. Sedikit demi sedikit, kesadaran Arya Duta mulai menghilang, hingga akhirnya dia lupa sama sekali. Pada saat itulah Klenting Kuning melepaskan totokan di tubuh pemuda itu.
Arya Duta bukannya memberontak, tapi kini dia malah membalas semua kehangatan yang diberikan Klenting Kuning. Bau harum yang menyebar dari tubuh wanita itu, semakin membuat Arya Duta mabuk.
"Aaah….” Klenting Kuning mendesah lirih.
********************
Klenting Kuning tersenyum penuh kepuasan. Tangannya bergerak cepat merapikan pakaiannya, lalu tangannya sudah menggenggam sebilah pisau kecil berwarna hijau. Wanita itu masih tersenyum menatap Arya Duta yang tergolek lemah tanpa daya. Seluruh tubuhnya bersimbah keringat. Kedua matanya membeliak lebar melihat Klenting Kuning menggenggam pisau.
Mata Arya Duta semakin membeliak lebar tanpa mampu mengeluarkan suara, meskipun mulutnya terbuka lebar.
"Pergilah dengan tenang ke neraka, hi... hi... hi...!"
Arya Duta berusaha menjerit sekuat-kuatnya ketika pisau hijau itu menghunjam dadanya dengan dalam. Tak ada suara yang ke luar dari mulut pemuda itu. Dia juga tidak mengejang, hanya raut mukanya saja yang menegang kaku. Darah muncrat ke luar dari dada yang berlubang tertembus pisau.
"Ha... ha... ha...!" Klenting Kuning tertawa renyah.
Arya Duta langsung tewas tanpa mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Klenting Kuning menarik pisaunya dari tubuh pemuda malang itu, dan menyelipkannya ke balik bajunya. Tawanya kembali terdengar renyah dan lepas.
"Tak ada seorang pun yang mampu menghadapi Klenting Kuning!" katanya pongah.
"Kecuali aku!"
Tawa Klenting Kuning langsung berhenti seketika begitu terdengar suara jawaban keras menggema. Suara itu seolah terdengar dari segala penjuru. Si Iblis Wajah Seribu itu langsung melentingkan tubuhnya ke luar dari pondok. Dua kali dia bersalto di udara sebelum mendarat ringan di atas atap.
"Setan! Siapa kau!" bentak Klenting Kuning.
"Aku!"
Klenting Kuning terperanjat ketika dia menoleh. Tampak Pendekar Rajawali Sakti berdiri tenang di atas atap itu juga. Klenting Kuning semakin terperanjat, karena Pandan Wangi juga berada di tempat ini. Gadis itu menunggu di bawah.
. "Kau terkejut, Klenting Kuning?"
"Huh! Mau apa kau ke sini?" dengus Klenting Kuning tidak menghiraukan pertanyaan Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti.
Klenting Kuning memang terkejut, tapi dia juga gembira melihat Pendekar Rajawali Sakti. Sejak dia gagal menundukkan pemuda itu, rasa penasarannya semakin men-jadi. Dia belum puas kalau belum bisa menundukkan pendekar tampan itu.
"Kau bisa menjawab sendiri pertanyaanmu, Klenting Kuning."
__ADS_1
"Kakang Rangga, Arya Duta tegas!" teriak Pandan Wangi dari bawah.
"Iblis!" geram Rangga.
"Ha... ha... ha...!" Klenting Kuning tertawa pongah. Dia langsung melompat turun dan tanpa banyak bicara lagi menyerang Pandan Wangi.
Mendapat serangan mendadak, Pandan Wangi sedikit kerepotan juga. Tapi dia segera menjatuhkan diri, dan langsung melentingkan tubuhnya menjauh. Klenting Kuning tidak memberikan kesempatan pada gadis itu. Dia segera melancarkan serangan-serangan berikutnya yang lebih dahsyat lagi.
Rangga yang menyaksikan pertarungan itu, segera melompat turun. Dia berdiri tegak menyaksikan pertarungan dua wanita cantik itu. Dalam beberapa jurus, pertarungan masih berjalan seimbang. Tapi pada jurus ke lima belas, tampak kalau Pandan Wangi mulai terdesak. Beberapa kali pukulan dan tendangan Klenting Kuning mendarat telak di tubuh si Kipas Maut itu.
"Gunakan Pedang Naga Geni, Pandan!" seru Rangga keras.
"Tidak!" sahut Pandan Wangi segera mencabut senjata kebanggaannya berupa kipas baja putih.
Pandan Wangi tidak mau lagi menggunakan pedang Naga Geni. Dia hampir mati dengan pedang berpengaruh liar itu. Kalau saja Rangga tidak membantunya dengan pedang Rajawali Sakti, entah apa yang akan terjadi pada diri gadis itu.
"Bagus! Dengan senjata, kau akan lebih cepat kukirim ke neraka!" dengus Klenting Kuning.
"mampu kau, iblis! Hiyaaa...!"
Pandan Wangi segera menyerang Iblis Wajah Seribu itu dengan senjata kipas di tangan. Klenting Kuning masih melayaninya dengan tangan kosong. Biarpun Pandan Wangi sudah menggunakan senjata kebanggaannya, tapi setelah mellewati sepuluh jurus lagi, gadis itu masih juga terdesak hebat.
Rangga yang menyaksikan pertarungan itu, jadi cemas juga. Klenting Kuning memang bukan tandingan Pandan Wangi, meskipun gadis itu sudah hampir menguasai aji 'Naga Sewu', tapi masih belum sempurna. Dan nampaknya Klenting Kuning masih terlalu tangguh bagi Pandan Wangi yang mengeluarkan aji 'Naga Sewu’. Keadaan Pandan Wangi semakin mem prihatinkan. Dia jadi bulanan bulanan Klenting Kuning pada jurus-jurus terakhir.
"Pandan, mundur...'" seru Rangga langsung melompat ke tengah-tengah pertempuran.
Pandan Wangi menyeka darah yang memenuhi mulutnya. Matanya tajam menatap Klenting Kuning. Bagai-manapun juga, dia harus mengakui tidak akan mampu menandingi Iblis Wajah Seribu itu dalam lima jurus lagi. Pandan Wangi segera melangkah mundur beberapa tindak.
"Aku suka bertempur denganmu, Rangga. Tapi aku lebih suka berkasih mesra denganmu," kata Klenting Kuning.
"Biar kubunuh perempuan liar itu, Kakang!" sentak Pandan Wangi geram.
"Ah, rupanya kau juga menyukai Rangga. Boleh, aku senang punya saingan." sambut Klenting Kuning mengerling genit pada Rangga.
"Bedebah!" merah padam muka Pandan Wangi.
Dengan kasar dia menyentakkan tangan Rangga yang berusaha mencegahnya. Tanpa buang waktu lagi, Pandan Wangi langsung menerjang si Iblis Wajah Seribu itu. Amarah yang meluap-luap membuat gadis itu nekad. Dia langsung mencabut Pedang Naga Geni, meskipun tahu bahayanya bagi lawan maupun yang menggunakannya.
"Eh!" Klenting Kuning terkesiap kaget melihat pamor pedang yang mengeluarkan cahaya merah menyala itu.
Kekagetan Klenting Kuning tidaklah lama, karena dia harus segera berlompatan menghindari serangan Pandan Wangi. Setiap kibasannya selalu mengandung hawa panas yang luar biasa. Klenting Kuning jadi hati-hati menghadapi Pandan Wangi yang menggunakan pedang Naga Geni.
Dua puluh jurus segera berlalu dengan cepat, tampaknya Pandan Wangi sudah tidak bisa lagi menguasai pedang itu. Gerakan-gerakannya tak terkendali, mukanya merah dan kedua bola matanya menyala-nyala menimbulkan napsu membunuh. Sementara Klenting Kuning semakin kerepotan menghadapi serangan Pandan Wangi yang aneh dan tak terkendali, dia kelihatan terdesak sekali. Napasnya tersengal-sengal karena udara di sekitarnya semakin menipis.
"Hiyaaa..!" tiba-tiba Pandan Wangi berteriak nyaring.
Secepat kilat Klenting Kuning melentingkan tubuhnya ke udara. Dan pada saat itu juga, pedang Naga Geni berkelebat cepat menebas tubuh yang sedang bersalto di udara itu.
"Aaakh..." terdengar jeritan menyayat dari mulut Iblis Wajah Seribu itu. Tubuhnya terbagi menjadi dua bagian dan jatuh di tanah.
"Pandan...!" panggil Rangga keras sambil mencabut pedangnya.
Cring!
"Ayo lawan aku!" seru Rangga sambil menghunus pedang Rajawali Sakti.
"Kakang...!" Pandan Wangi tersentak kaget.
"Ayo, cepat! lawan aku!" seru Rangga.
Pada saat itu, Panglima Lohgender bersama sekitar dua puluh orang prajurit tiba di tempat itu. Panglima Kerajaan Limbangan itu terkejut melihat dua pendekar saling berhadapan dengan senjata terhunus dan di bawah kaki mereka tergeletak potongan tubuh seorang perempuan. Panglima Lohgender tidak mengerti, kenapa dua pendekar beraliran putih itu bisa saling berhadapan?
****************
__ADS_1