Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Jago Jago Bayaran Bag. 2


__ADS_3

Ki Jatirekso menggeram hebat menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di halaman. Tidak kurang dari dua puluh orang terbujur bersimbah darah. Hanya ada satu luka yang terdapat di setiap mayat, tapi sangat lebar dan mematikan. Ki Jatirekso membalikkan tubuhnya, dan melangkah masuk ke rumahnya, diikuti oleh Suryadenta dan tiga orang adiknya. Sementara Jaka Wulung membereskan mayat-mayat yang bergelimpangan, dengan dibantu oleh beberapa orang penduduk.


Di dalam rumah sudah menunggu Ki Karangseda, Ki Pungkur, Sanggabawung dan Sangga Kelana. Mereka memandang Ki Jatirekso yang datang bersama empat bersaudara. Kemudian mereka duduk menghadapi meja bundar yang besar dan beralaskan batu pualam putih yang berkilauan bagai kaca.


"Sebaiknya kau berterus terang saja, Ki Jatirekso. Apakah kau menginginkan seluruh penduduk desa ini habis, hanya karena keangkuhanmu?" dingin dan bergetar suara Ki Karangseda.


Ki Jatirekso menatap tajam pada laki-laki yang usianya sebaya dengannya itu. Suasana tegang menyelimuti ruangan yang luas itu. Kematian dua puluh orang penjaga, membuat para tetua Desa Kali Anget memuncak amarahnya. Lebih-lebih melihat kepala desa yang seperti menyimpan satu rahasia, yang menyebabkan semua tragedi ini.


"Sebenarnya, ada apa di balik semua ini?" tanya Ki Pungkur.


"Katakan yang sebenarnya, Ki. Kami semua berada dipihakmu," desak Sanggabawung.


"Kecuali kalau persoalannya sangat pribadi, aku lepas tangan," sambung Ki Karangseda.


"Maaf, aku mau istirahat dulu," kata Ki Jatirekso seraya bangkit.


"Ki...!" sentak Ki Karangseda gusar.


Ki Jatirekso menatap tajam pada Ki Karangseda, kemudian melangkah meninggalkan ruangan. Mereka memandang dengan penuh keheranan pada sikap kepala desa itu. Pasti ada sesuatu yang sangat berat telah terjadi pada dirinya. Sesuatu yang kini sudah meminta korban yang cukup banyak.


Brak!


Ki Karangseda menggebrak meja dengan keras. Kedua bola matanya merah berapi-api. Dia menatap satu persatu wajah-wajah yang juga menatapnya.


"Keadaan ini, tidak bisa kita biarkan terus! Apa kita akan berpangku tangan terus melihat penduduk satu per satu mati?" suara Ki Karangseda penuh emosi.


"Kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebelum mengetahui permasalahan yang sebenarnya," kata Suryadenta kalem.


"Sudah jelas, semua ini ada hubungannya dengan Ki Jatirekso. Apalagi yang harus diketahui?" sentak Ki Karangseda.


"Banyak!" tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.


Semua kepala langsung menoleh. Jaka Wulung melangkah ke arah mereka, matanya menatap tajam Ki Karangseda yang bertopang pada bibir meja. Jaka Wulung berhenti dan berdiri di belakang empat bersaudara. Sejenak dia mengawasi wajah di depannya satu per satu.


"Masih banyak yang perlu diketahui, tapi bukan dari sebab ayahku," kata Jaka Wulung datar suaranya.


"Kau tahu, kenapa tidak mengatakan dari semula?" nada suara Ki Karangseda terdengar sinis.


"Kenapa bukan kau saja yang mengatakan, Ki?" balas Jaka Wulung tidak kalah sengitnya.


Ki Karangseda tersentak. Seketika wajahnya berubah merah padam. Sementara sinar matanya masih tajam menatap Jaka Wulung. Tapi Jaka Wulung membalasnya dengan tidak kalah tajam.


"Kalian pasti mengenal senjata ini. Di desa ini, cuma ada satu yang punya!" Jaka Wulung melemparkan ruyung perak ke atas meja.


Semua mata menatap ruyung perak itu, lalu beralih ke arah Ki Karangseda. Meskipun ayahnya tidak pernah menceritakan, tapi Jaka Wulung bisa mengenali, milik siapa senjata itu. Dia mengambilnya saat dibuang oleh ayahnya bersama daun lontar yang bertuliskan huruf berwarna merah. Dia juga menunjukkan daun lontar yang sudah lusuh diremas ayahnya.


Makin merah muka Ki Karangseda, melihat tulisan yang tertera di daun lontar itu. Dia mundur satu tindak. Sementara mereka yang ada di ruangan menatap tajam minta penjelasan pada Ki Karangseda.


"Untuk apa kau melemparkan senjata pada kami?" tanya Jaka Wulung dingin dan datar.


"Senjata itu memang milikku, tapi bukan aku yang melemparkan," bantah Ki Karangseda gusar.


"Di mana saja kau, sepanjang siang ini?" tanya Jaka Wulung seperti menghakimi.


"Aku bersama Ki Pungkur," sahut Ki Karangseda.


"Benar, sejak pagi sampai sekarang, dia bersamaku dikedai Pak Rahim," Ki Pungkur membenarkan. "Bahkan Sanggabawung dan Sanggakelana juga ada di sana."


Jaka Wulung menatap kakak beradik yang disebutkan namanya. Mereka menganggukkan kepala membenarkan. Sementara Ki Karangseda tersenyum tipis penuh kemenangan memandang Jaka Wulung.


"Sebaiknya, persoalan ini jangan diperpanjang. Masih banyak persoalan berat yang harus segera ditangani," kata Ki Pungkur melerai.


"Hm...," Jaka Wulung bergumam sinis.


"Aku permisi dulu," pamit Ki Pungkur seraya bangkit.


Ki Karangseda juga rneninggalkan ruangan itu, mengikuti langkah Ki Pungkur yang sudah sampai di pintu. Tidak lama sesudah kedua laki-laki tua itu berlalu, Sanggabawung mengajak adiknya meninggalkan ruangan juga. Sejenak dia memandang Jaka Wulung, lalu menepuk pundaknya. Kemudian melangkah ke luar. Kini tinggal Jaka Wulung, Suryadenta dan ketiga adiknya.


"Kapan kau menemukan senjata ini?" tanya Tirtadenta setelah cukup lama berdiam diri.


"Tadi, sebelum, kutemukan dua puluh orang penjaga tewas," sahut Jaka Wulung seraya duduk di samping Suryadenta.


"Berarti baru saja," gumam Suryadenta pelan.


"Ya. Senjata itu diarahkan padaku," sambung Jaka Wulung.


"Hm..., di desa ini, memang hanya Ki Karangseda yang memiliki senjata seperti itu, tapi sekarang ini kan banyak tokoh-tokoh rimba persilatan di sini. Dan tidak mustahil ada diantara mereka yang memiliki senjata seperti ini," Mayadenta agak bergumam mengemukakan pendapatnya.


"Jenis senjata memang bisa sama, tapi pasti ada ciri khas tersendiri untuk mengenali siapa pemiliknya," bantah Bayudenta.


"Benar!" seru Suryadenta. Kakak tertua dari empat bersaudara itu mengambil ruyung perak yang tergeletak di meja. Sejenak diamatinya benda itu, lalu memberikannya pada ketiga adiknya.


"Ukiran bunga melati menandakan, kalau ruyung perak ini milik Ki Karangseda," kata Suryadenta.


"Ya, bunga melati lambang keperkasaannya. Aku yakin, tak seorang pun selain Ki Karangseda yang memiliki senjata berukir bunga melati," sambung Mayadenta.


"Hm..., kalau begitu, apa maksud perbuatannya?" gumam Bayudenta.


Sesaat mereka semua hanya terdiam. Macam-macam pikiran dan dugaan berkecamuk di kepala mereka. Sesekali mata mereka menatap kembali ruyung perak dan Iembaran daun lontar di atas meja. Sulit untuk mencari alasan yang tepat, dengan mengkaitkan keterlibatan Ki Karangseda dalam masalah ini.


********************


Pagi-pagi sekali, di saat matahari baru memancarkan sinarnya, tampak dua orang sedang berjalan menuju kearah Desa Kali Anget. Yang satu seorang laki-laki muda yang mengenakan rompi berwarna putih. Di punggungnya, ada senjata pedang yang gagangnya berbentuk kepala burung. Sedang satunya lagi adalah wanita muda yang cantik dan mengenakan baju biru yang ketat, hingga membentuk tubuhnya kelihatan ramping.


Dilihat dan pakaian dan senjata yang tersandang, mereka adalah Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut. Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti mengajak Pandan Wangi memasuki sebuah kedai yang sudah buka. Tak seorang tamu pun yang tampak di kedai ini, kecuali mereka berdua saja. Rangga memilih tempat agak ke sudut, dan dekat jendela besar yang Iangsung menghadap ke luar.


Seorang laki-laki tua menghampiri dengan terbungkuk-bungkuk. Rangga segera memesan makanan dan seguci arak manis. Kemudian laki-laki tua pemilik kedai itu mengangguk dan berlalu meninggalkan meja. Tidak lama kemudian dia kembali lagi dengan membawa pesanan tamunya.


"Apa nama desa ini, Pak?" tanya Pandan Wangi.


"Desa Kali Anget," sahut Pak Tua itu singkat.


"Kelihatannya ramai sekali, apakah desa ini akan mengadakan perayaan?" tanya Rangga yang sejak tadi mengamati ke luar.


"Tidak tahu, Tuan. Memang dalam beberapa hari banyak orang datang ke sini, bahkan menginap segala. Rumah Bapak saja disewa mereka untuk menginap, yaaah... terpaksa Bapak sekeluarga tidur di kedai ini."


"Hm...," Rangga mengerutkan keningnya.


"Permisi, Bapak mau ke belakang dulu," pamit Pak Tua itu.


"Silakan, Pak," sahut Pandan Wangi.


Mereka segera makan dengan tenang. Sesekali Rangga melihat ke luar melalui jendela besar yang terbuka. Tampak di depan kedai sudah banyak orang hilir mudik dengan kesibukan masing-masing. Pendekar Rajawali Sakti sedikit berkerut keningnya, melihat banyak orang yang menyandang senjata dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Jelas sekali kalau di desa itu banyak orang-orang dari rimba persilatan.


"Ada yang menarik perhatianmu, Kakang?" tanya Pandan Wangi yang juga mengarahkan pandangannya ke luar.


"Ya," sahut Rangga mendesah. Perhatian Rangga segera beralih, ketika ada empat Orang masuk ke dalam kedai. Satu di antaranya seorang wanita muda yang cantik. Di pinggangnya terlilit selendang berwarna kuning gading. Sedang tiga lainnya, menyandang pedang di pinggang. Mereka segera duduk tidak jauh dari tempat duduk Rangga dan Pandan Wangi. Laki-laki pemilik kedai segera menghampiri dengan sika penuh hormat.


"Seperti biasa, Pak Rahim," kata salah seorang yang ternyata Suryadenta.


Cuma sebentar Pak Rahim ke belakang. Kemudian kembali lagi dengan membawa baki besar berisi penuh makanan dan minuman. Mayadenta membantu Pak Rahim menyiapkan makanan di meja.

__ADS_1


"Sebentar, Pak," cegah Suryadenta ketika Pak Rahim mau kembali lagi ke belakang.


"Duduk dulu di sini," kata Tirtadenta menyambung.


"Ada apa, Den?" tanya Pak Rahim seraya duduk disamping Bayudenta.


"Apakah kemarin Bapak melihat Ki Karangseda dan Ki Pungkur di sini?" tanya Suryadenta Iangsung.


"Tidak, Den," sahut Pak Rahim setelah berpikir sebentar.


Suryadenta memandang ketiga adiknya bergantian. Kemarin Ki Karangseda bilang, bahwa dia seharian berada di sini bersama Ki Pungkur. Sedang pemilik kedai sendiri mengatakan, tidak melihat mereka kemarin.


"Kalau Sanggabawung dan Sangga Kelana, apa Pak Rahim melihat mereka kemarin?" tanya Tirtadenta.


"Wah! Kalau mereka, seharian memang ada di sini, Den. Malah sampai dipanggil mereka baru ke luar," katanya yang memanggil kepala desa," sahut Pak Rahim.


"Mereka cuma berdua?" tanya Bayudenta menyambung.


"Benar, dan ada beberapa orang lagi. Tapi mereka pendatang yang menyewa rumahku," sahut Pak Rahim.


"Jadi, Ki Karangseda dan Ki Pungkur tidak ada di sini, kemarin?" Mayadenta ingin memastikan.


"Benar, Ni. Mereka tidak di sini. Kalau semalam, memang mereka ke sini, itu pun tidak lama. Karena kemudian mereka pergi lagi bersama seorang perempuan dan dua orang laki-laki."


"Pak Rahim kenal dengan mereka?" kejar Suryadenta.


"Tidak, Den. Tapi kelihatannya mereka dari kalangan persilatan. Yang perempuan sudah tua, tapi masih kelihatan cantik. Sedang yang laki-laki, masih muda-muda," kata Pak Rahim polos.


"Terima kasih, Pak," ucap Suryadenta.


Pak Rahim mengangguk sedikit, lalu beranjak pergi ke belakang. Sementara Suryadenta mengamati sekitarnya. Kemudian pandangannya berhenti pada Rangga dan Pandan Wangi yang tengah asyik menikmati makanannya, hingga seolah-olah tidak mendengarkan percakapan tadi. Suryadenta kembali mengalihkan pandangannya pada ketiga adiknya.


"Aku jadi curiga...," gumam Tirtadenta pelan.


"lya, aku juga tidak mengerti. Mengapa Ki Karangseda memberikan keterangan palsu?" sambung Bayudenta bergumam.


"Aku yakin, ini ada hubungannya dengan kedatangan para tokoh rimba persilatan ke sini. Dan yang pasti, ada hubungannya dengan Ki Jatirekso!" kata Mayadenta mantap.


Suryadenta mengerdipkan matanya sebelah. Dan dengan ujung ekor matanya, dia mengisyaratkan, ada dua orang yang duduk tidak jauh dari mereka.


Serentak mereka melirik Rangga dan Pandan Wangi. Pembicaraan pun terhenti seketika. Suryadenta mengerdipkan matanya lagi, kemudian mereka segera menikmati hidangan yang sudah tersedia sejak tadi. Namun demikian, sudut mata mereka tidak lepas mengamati dua orang yang tak jauh dari tempat mereka makan.


Merasa dirinya diamati terus, Rangga bangkit diikuti Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti itu segera meletakkan tiga keping uang perak di mejanya, kemudian melangkah ke luar kedai. Melihat tamunya pergi, Pak Rahim dengan tergopoh-gopoh segera menghampiri meja yang baru ditinggalkan Rangga dan Pandan Wangi. Lelaki tua itu melongo melihat tiga keping uang perak yang tergeletak diatas meja.


"Ck ck ck..., duit segini sih, bisa untuk beli kambing seekor," gumamnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Pak Rahim segera memasukkan uang itu ke dalam saku bajunya. Setelah membereskan meja bekas tamunya, kemudian dia melangkah kembali ke belakang. dengan wajah berseri-seri. Betapa tidak? Uang yang diberikan oleh Rangga begitu banyak, dan tidak sesuai dengan harga makanan.


********************


Rangga segera berhenti melangkah, begitu sampai di depan pinru pagar halaman rumah Kepala Desa Kali Anget. Sejenak diamatinya rumah yang kelihatan sepi itu. Kemudian Rangga menggamit tangan Pandan. Wangi, dan mengajaknya berlalu.


Desa Kali Anget, kini benar-benar telah dipenuhi pendatang, sehingga semua rumah penginapan tidak ada satu kamar pun yang kosong. Bahkan rumah-rumah penduduk pun terpaksa juga disewakan. Sebab itulah, biarpun Rangga dan Pandan Wangi sudah keliling desa, tapi tak satu rumah pun yang disewakan lagi. Rangga makin heran dengan keadaan desa ini.


"Bagaimana, Pandan? Tidak ada tempat untuk bermalam di sini," Rangga minta pendapat Pandan Wangi.


"Yah, apa boleh buat...?" Pandan Wangi mengangkat bahunya.


"Padahal perlu waktu sepekan untuk sampai ke desa berikutnya," kata Rangga memberitahu.


"Huh! Bosan rasanya, tidur di alam terbuka terus!" rungut Pandan Wangi. "Sudah dua pekan, kita menjelajahi hutan dan tidur di alam terbuka. Mau istirahat satu dua malam saja susah!"


"Kau menyesal?" tanya Rangga.


"Mengapa cemberut begitu?"


"Tidak apa-apa," Pandan Wangi memang kesal, karena bayangan tidur di ranjang empuk sirna begitu saja.


Padahal semula dia sudah girang melihat perkampungan, ternyata bukan kegembiraan yang didapat, tapi malah kekesalan. Karena semua rumah penginapan sudah terisi.


Langkah mereka terhenti, karena dihadang oleh dua orang laki-laki tua yang berjubah mentereng. Sikap dua orang yang tak lain adalah Ki Karangseda dan Ki Pungkur ini, jelas-jelas menghalangi Iangkah Rangga dan Pandan Wangi. Mereka berdiri tegak di tengah-tengah jalan tanpa bergerak sedikit pun.


Ki Karangseda dan Ki Pungkur segera melangkah tiga tindak mendekat ke arah Rangga dan Pandan Wangi berhenti. Sementara Rangga melirik ke kanan, dan tampaklah dua orang lagi sudah berdiri di sana. Mereka bersenjata golok besar yang terselip di pinggang masing-masing.


Ternyata mereka tak lain adalah, Sanggabawung dan Sangga Kelana. Keduanya masih muda, mungkin seusia dengan Pendekar Rajawali Sakti atau lebih sedikit. Ada cambang lebat yang hampir memenuhi wajah mereka, sehingga membuat tampangnya kelihatan lebih tua.


"Maaf, bolehkah kami meneruskan perjalanan?" sapa Rangga seramah mungkin.


"Kalian siapa dan mau apa datang ke sini?" tanya Ki Karangseda datar, tapi tatapannya tajam memandang wajah Rangga.


"Aku Rangga, dan ini adikku, Pandan Wangi. Kami pengembara yang kebetulan lewat di desa ini," kata Rangga tetap sopan.


"Ke mana tujuanmu?" tanya Ki Pungkur.


"Tidak ada," sahut Rangga terus terang.


Ki Pungkur melirik Ki Karangseda, kemudian kepalanya mengegos kecil. Segera Sanggabawung dan Sangga Kelana melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara Rangga cuma melirik sebentar, kemudian kembali memandang dua laki-laki tua di depannya yang masih menghadang.


"Sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini," kata Ki Karangseda tidak ramah.


Rangga tersenyum dan mengangguk. Dia menggamit tangan Pandan Wangi dan kembali melangkah. Sementara Ki Pungkur menggeser kakinya memberi jalan. Dua laki-laki tua itu masih terus memandang Rangga dan Pandan Wangi yang terus berjalan ke arah Barat. Tak lama kemudian Ki Pungkur mendekati Ki Karangseda.


"Kau lihat senjata yang dibawa laki-laki muda itu, Ki Karangseda?" pelan suara Ki Pungkur.


"Ya," jawab Ki Karangseda agak mendesah.


"Dilihat dari gagang pedangnya, seperti milik Pendekar Rajawali Sakti," Ki Pungkur menduga-duga.


Ki Karangseda memandang Ki Pungkur yang berdiri disampingnya. Kemudian pandangannya beralih ke ujung jalan, dimana Rangga dan Pandan Wangi belok ke kanan tadi.


"Aku yakin, dia pasti Pendekar Rajawali Sakti," kata Ki Pungkur begitu pasti.


"Pendekar Rajawali Sakti selalu sendiri," bantah Ki Karangseda setengah bergumam.


"Tapi, ciri-ciri anak muda itu sangat mirip dengan Pendekar Rajawali Sakti!" Ki Pungkur tetap bersikeras.


"Ah, sudahlah! Dia tidak mungkin muncul di sini. Kabar terakhir yang kudengar, dia berada di wilayah Timur," bantah Ki Karangseda.


"Tapi...."


"Ah! Sudahlah, ayo!" Ki Karangseda memotong cepat.


Ki Karangseda menarik tangan Ki Pungkur, dan berjalan menuju ke rumah kepala desa.


********************


"Ayo, cepat! Jangan sampai terlambat!" seru Suryadenta sambil melompat dari tempat persembunyiannya.


Ketiga adiknya segera mengikutinya. Mereka berlari cepat ke ujung jalan yang memilki dua belokan. Dari cara mereka berlari, dapat dipastikan kalau ilmu yang dimiliki cukup tinggi. Dalam sekejap saja mereka sudah tidak kelihatan.


Mereka segera berhenti setelah sampai di perbatasan. Desa Kali Anget. Tampak hutan lebat membentang didepan. Sampai di sini, jalan sudah terputus oleh sungai besar yang mengalir deras. Tidak ada satu perahu pun yang tampak, hanya sebuah rakit yang dihubungkan dengan tambang ke seberang.

__ADS_1


"Mungkin mereka sudah menyeberang, Kakang," kata Tirtadenta.


Suryadenta tidak menjawab. Matanya lurus menatap keseberang sungai. Tak seorang pun yang berada di atas rakit itu. Kemudian pandangan matanya menatap ke sekitarnya. Tiba-tiba matanya agak menyipit, begitu melihat jejak-jejak kaki yang tertera di tepian sepanjang sungai. Jejak-jejak kaki itu menuju ke muara, dan ini berarti kembali lagi ke Desa Kali Anget.


"Ikuti aku!" seru Suryadenta agak cerah wajahnya.


Mereka berjalan cepat menyusuri tepian sungai ke arah muara. Jejak-jejak kaki itu tertera jelas milik dua orang yang berjalan bersisian. Sejenak mereka berhenti melangkah, karena jejak-jejak kaki yang diikuti hilang begitu saja.


"Maaf, apakah ada yang kalian cari?"


Empat bersaudara itu bukan alang kepalang kagetnya, begitu mendengar suara dengan tiba-tiba dari belakang. Dengan segera mereka melompat berbalik. Kini di depan mereka berdiri Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi.


"Kalau tidak salah, kalian berempat yang tadi berada dikedai. Apakah benar?" Rangga bersikap sopan dengan senyum tersungging di bibir.


"Benar," sahut Suryadenta.


"Lantas, apa maksud kalian mengikuti perjalanan kami?" tanya Rangga.


"Maaf, jika kami mengganggu. Tapi kami bermaksud baik padamu," kata Suryadenta.


"Hm...," Rangga mengernyitkan alisnya.


"Apakah kau Pendekar Raj awali Sakti?" tanya Bayudenta tidak sabaran.


Rangga tidak langsung menjawab, dia menatap empat orang di depannya. Kemudian pandangannya beralih pada Pandan Wangi di sampingnya. Pertanyaan Bayudenta membuatnya jadi berpikir.


"Mungkin kami salah menilai, silakan Ni dan Kisanak melanjutkan perjalanan," kata Suryadenta sambil menggerakkan tangannya, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.


"Tunggu!" cegah Rangga.


Suryadenta berhenti. Sementara Rangga mendekat kearah mereka, diikuti Pandan Wangi.


"Boleh aku tahu, untuk apa kalian mencari Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Rangga menyelidik.


"Apakah Kisanak tahu, dimana Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Suryadenta tidak menggubris pertanyaan Rangga.


"Aku akan menunjukkan, kalau kalian mau memberitahu alasannya," sahut Rangga.


Suryadenta memandang ketiga adiknya. Semua mengangguk perlahan, menyetujui usul Rangga. "Baiklah, aku memang tidak bisa menjelaskan secara rinci. Tapi, kalau ingin tahu semuanya, kau bisa menemui Ki Jatirekso atau Jaka Wulung," kata Suryadenta.


"Hm..., siapa mereka?"


"Kepala desa dan putranya. Rumah mereka yang paling besar di desa ini. Aku yakin, kau sudah melewatinya tadi," sahut Bayudenta.


"Kalau begitu, apakah aku harus bertanya dulu pada kepala desa itu?"


"Benar!"


"Ayo, Pandan!"


Rangga langsung melompat cepat. Pandan Wangi mengikutinya. Begitu cepatnya mereka berlalu, dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan. Empat orang yang menyaksikan itu hanya melongo.


"Bagaimana sekarang, Kakang?" tanya Tirtadenta.


"Kita harus pergi ke rumah kepala desa, tapi dengan cara diam-diam," kata Suryadenta.


"Aku yakin, dia pasti Pendekar Rajawali Sakti. Tidak banyak orang yang bisa menghilang begitu cepat," kata Mayadenta setengah bergumam.


Tidak ada yang menanggapi ucapan Mayadenta. Mereka terus saja berjalan cepat menuju Desa Kali Anget. Tujuan mereka sudah pasti, yakni ke rumah kepala desa. Tapi Suryadenta mengajak melalui jalan memutar.


"Sebaiknya kita datang terang-terangan saja, Kakang," usul Mayadenta


"Tidak! Kita harus tahu, ada apa sebenarnya dibalik semua ini. Dan hanya dengan cara inilah, kita dapat mengetahui semua yang terjadi!" bantah Suryadenta.


"Tapi, tindakan kita apa tidak salah?" Mayadenta masih tetap tidak menyetujui.


"Demi kebenaran, segala cara harus ditempuh."


"Terlalu besar resikonya, Kakang."


Suryadenta menatap adik bungsunya itu. "Baiklah, kau dan Tirta datang dari depan. Tapi bersikaplah yang wajar, aku dan Bayu akan menyelinap dari belakang," kata Suryadenta bisa mengerti kekhawatiran adik perempuan satu-satunya itu.


"Tapi kalau ada yang menanyakanmu?" tanya Tirtadenta.


"Bilang saja, aku sedang di batas desa!" jawab Suryadenta tanpa pikir panjang lagi.


"Ayo, Bayu!"


Mayadenta tidak dapat mencegah lagi. Dia hanya bisa memandang kepergian dua kakaknya. Kemudian dia menurut saja ketika tangannya digamit Tirtadenta. Kini mereka terpisah menjadi dua bagian dengan tugas masing-masing. Mayadenta sendiri masih belum bisa memahami jalan pikiran kakak sulungnya. Tapi dia harus menurut, agar semua rencana yang ada di kepala Suryadenta bisa berjalan lancar.


********************


Ki Karangseda tampak bersungut-sungut ketika keluar dari rumah kepala desa. Sorot matanya tajam menatap Mayadenta dan Tirtadenta yang melintas di halaman rumah. Sejenak mereka saling tatap, kemudian Ki Karangseda terus melangkah diikuti Ki Pungkur. Mayadenta masih menatap ke arah kedua laki-laki tua itu, dan baru melangkah ketika tangannya digamit Tirtadenta.


Dua bersaudara itu terus melangkah masuk melewati ruang depan yang sepi. Tak lama kernudian, mereka melihat Jaka Wulung sedang duduk termenung sendirian diruang tengah. Jaka Wulung segera mengangkat kepalanya, begitu mendengar langkah-langkah kaki mendekat.


Sementara Mayadenta dan Tirtadenta langsung duduk didepan putra kepala desa itu, tanpa menunggu dipersilakan lebih dahulu.


"Barusan aku melihat Ki Karangseda dan Ki Pungkur," kata Tirtadenta membuka suara lebih dulu.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Jaka Wulung.


"Tidak ada," sahut Mayadenta sambil menggeleng. "Tapi nampaknya mereka gusar. Ada apa?"


"Mereka mendesakku," sahut Jaka Wulung pelan. Ada kegelisahan di wajahnya


"Apa yang mereka inginkan?" tanya Mayadenta mau tahu.


"Kepala!"


"Kepala...?!" Mayadenta dan Tirtadenta kaget bukan main. Untuk beberapa saat mereka saling tatap salu sama lainnya.


"Kepala siapa?" tanya Mayadenta dengan kening berkerut.


"Pendekar Rajawali Sakti!"


Bagai disambar petir di siang bolong, Mayadenta dan Tirtadenta terlonjak saking kagetnya. Kembali mereka saling tatap. Untuk beberapa lama, tidak ada yang bicara sedikit pun. Tirtadenta makin tidak mengerti, mengapa Ki Karangseda dan Ki Pungkur menginginkan kepala Pendekar Rajawali Sakti? Apakah mereka tidak bisa mengukur tingginya gunung dan dalamnya lautan?


Semua orang tahu, siapa Pendekar Rajawali Sakti. Walaupun belum pernah melihat secara langsung, tapi kabar yang mereka dengar cukup membuat bulu kuduk merinding. Sampai saat ini, belum ada seorang tokoh pun yang mampu menandingi kesaktiannya. Lalu, bagaimana mungkin bisa memperoleh kepalanya?


"Apa yang diinginkan Ki Karangseda dengan kepala pendekar itu?" tanya Tirtadenta.


"Aku tidak tahu. Tapi dia terus mendesakku, agar mencari dan memenggal kepala pendekar itu," sahut Jaka Wulung lesu.


"Kenapa harus kau?" desak Mayadenta bimbang.


"Aku..., aku...," Jaka Wulung tampak kebingungan menjawab.


Tirtadenta dan Mayadenta saling berpandangan. Mereka merasakan ada sesuatu yang tidak beres dalam diri putra kepala desa itu. Kelihatannya Jaka Wulung tidak berdaya menghadapi desakan Ki Karangseda. Ada rahasia apakah sebenarnya di balik semua ini? Pertanyaan itulah yang terus mengganggu pikiran Tirtadenta dan adiknya selama ini.


"Katakan, Jaka! Kenapa Ki Karangseda menginginkan kau yang menghadapi Pendekar Rajawali Sakti itu?" desak Tirtadenta.

__ADS_1


Jaka Wulung masih kebingungan untuk menjawab.


"Apakah dia mengancammu?" tanya Mayadenta mendesak juga.


__ADS_2