Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Prahara Gadis Tumbal Eps. 06 Bag. 1


__ADS_3

UDARA malam terasa panas. Angin seolah-olah enggan bertiup. Langit merah merona bagai membakar. Tanda malam ini akan turun hujan lebat. Keadaan yang seperti tak bersahabat ini, tidak membuat Rangga gundah. Pendekar Rajawali Sakti ini tampak duduk tenang, bersandar pada sebuah batu besar dan beralaskan rerumputan tebal bagai permadani terhampar. Matanya menerawang jauh, menatap sebuah desa yang terlihat sepi dan tenang.


Menurut seorang pencari kayu yang ditemui tadi siang, desa itu bernama Pasir Batang. Tampak rumah rumah penduduk yang hanya diterangi pelita dari buah Jarak, berjajar rapi sepanjang jalan utama desa itu. Pandangan Rangga terhenti pada sebuah rumah yang lebih besar dan lebih terang daripada rumah rumah lainnya. Empat buah obor terpancang di setiap sudut pekarangan depan.


Lewat pintu dan jendela yang terbuka, terlihat bagian dalam rumah yang ramai dan terang benderang. Mungkin rumah itu milik seorang saudagar kaya atau Kepala Desa yang tengah mengadakan pesta. Beberapa orang teriihat berjaga-jaga di sekelilingnya. Dugaan Pendekar Rajawali Sakti memang hampir benar. Rumah besar yang kini jadi perhatiannya itu, milik Kepala Desa Pasir Batang.


Tapi di sana bukan sedang mengadakan pesta, melainkan semacam sidang. Beberapa pemuka dan tokoh terpandang desa Pasir Batang ber-kumpul atas undangan Ki Brajananta, Kepala Desa Pasir Batang. Di ruangan yang cukup luas itu, Ki Brajananta duduk dengan penuh wibawa. Matanya agak sayu memandangi tamu-tamu.


Seorang laki-laki tua berpakaian serba puth duduk di sampingnya. Dialah Ki Gandara, seorang guru besar Padepokan Pasir Batang. Wajahnya bersih cerah memantulkan kewibawaan. Di depan mereka masih ada enam orang lagi.


"Tujuh hari lagi bulan purnama yang ke tujuh," kata Ki Brajananta perlahan, agak bergumam.


Enam orang yang duduk di depan Ki Brajananta memandang ke arahnya. Mereka telah mampu menebak arah pembicaraan itu. Suaru pembicaraan yang selalu ada setiap tujuh purnama.


"Tujuh hari bukan waktu yang lama, sedang kita belum siap apa-apa," kata Ki Brajananta lagi.


"Hal ini telah berlangsung lama, Ki. Mengapa Ki Brajananta murung dan gelisah?" tanya Sawung Bulu yang duduk tepat di hadapan Kepala Desa Pasir Batang itu.


"Apa kau tak tahu, Sawung Bulu? Untuk purnama kali ini, Dewi Purmitalah yang harus dipersembahkan!" Bangka Putung menyelak.


"Benar begitu, Ki?" Sawung Bulu terkejut sekali. Matanya melotot dan menyala tajam.


Ki Brajananta mengangguk lemah.


"Hhh...!" Sawung Bulu mendesah panjang.


Semua mata menatap Ki Brajananta dan Sawung Bulu bergantian. Mereka semua tahu bahwa Dewi Purmita putri tunggal Ki Brajananta adalah kekasih Sawung Bulu, murid andalan Padepokan Pasir Batang.


"Ini tidak boleh terjadi! Kita harus melawan!" tiba-tiba Sawung Bulu berkata keras.


"Sawung Bulu!" Sangkala tak kalah keras, sambil berdiri dia menggebrak meja. Mukanya merah. Matanya tajam menatap keponakannya. Sawung Bulu balas menatap tajam pula.


Darah Sawung Bulu mendidih. Hatinya berontak ketika mendengar Dewi Purmita akan dijadikan korban persembahan bagi siluman yang menamakan diri, Raja Dewa Angkara.


Sebenarnya bukan hanya desa Pasir Batang saja yang dilanda kegelisahan macam ini. Sebelumnya, suatu desa yang bersebelahan dengan desa Pasir Batang, pernah mencoba menentang tradisi pengorbanan satu gadis perawan setiap tujuh purnama. Tetapi akibatnya, desa itu hancur rata dengan tanah. Tak seorang pun dibiarkan hidup. Gadis-gadis perawan lenyap tanpa bekas. Kejadian itu membuat desa-desa lain di sekitar kaki gunung Balakambang, berpikir seribu kali jika berani menentang kehendak Raja Dewa Angkara.


Kata-kata Sawung Bulu yang dilandasi oleh hari panas dan gejolak darah muda itu, memang membuat semua orang yang hadir di situ terkejut. Lebih lebih Sangkala, paman Sawung Bulu. Tak terkecuali Ki Gandara, guru sekaligus pengganti orang tua Sawung Bulu. Tetapi sikapnya sangat tenang. Matanya hanya menatap tajam pada murid kesayangannya itu.


"Aku akan menantang si Raja Dewa Angkara itu! Kalau dia mampu mengalahkanku, maka aku baru rela Dewi Purmita menjadi korban persembahan!" lantang dan tegas suara Sawung Bulu.


"Edan! Apa kau sudah gila, Sawung Bulu?" Sangkala mendehem.


"Justru aku waras, maka aku berani menantang!" sahut Sawung Bulu tetap tegas suaranya.


"Jadi, kau anggap kami-kami ini tidak waras, heh?!"


"Aku tidak mengatakan begitu, Paman." Sawung Bulu mengalihkan pandangan pada gurunya.


Sementara Sangkala kembali duduk setelah tangannya ditarik lembut oleh Rangkuti yang sejak tadi duduk diam di sebelah Sangkala.


"Kau tahu, apa akibatnya menentang Raja Dewa Angkara?" masih terdengar lembut, tenang, dan berwibawa suara Ki Gandara.


"Aku tahu, Ki," sahut Sawung Bulu. "Aku rela melepaskan nyawa demi kebenaran."


"Aku bangga mendengarnya, Sawung Bulu. Hanya saja kau salah menempatkan sikap satriamu."


Semua hening. Sawung Bulu perlahan kembali duduk Rasanya semua sungkan kalau Ki Gandara sudah ikut bicara. Tak ada suara yang terdengar.


"Tak pernah aku memberi pelajaran tentang pemikiran yang pendek dan mementingkan diri sendiri. Kau bisa menentang Raja Dewa Angkara. Tapi, cobalah pikirkan akibat yang lebih luas. Bukan kau saja yang akan terbunuh, bahkan seluruh penduduk desa ini akan musnah akibat kecerobohanmu. Ingat, Sawung Bulu. Kau dan kita semua berdiri demi kepentingan penduduk desa Pasir Batang yang kita cintai," ujar Ki Gandara dengan penuh wibawa.


"Tapi, Ki...!" Sawung Bulu coba membantah.


"Kau tidak rela Dewi Purmita jadi korban persembahan?" potong Ki Gandara.

__ADS_1


Sawung Bulu hanya menatap saja. Hatinya memang tidak rela kekasihnya Jadi korban persembahan iblis itu.


"Lihatlah Ki Brajananta, Sawung Bulu. Dewi Purmita itu putri beliau. Sudah tentu kasih sayang dan cintanya melebihimu. Dia pun tak rela putrinya jadi korban persembahan, seperti halnya orang-orang tua lain yang anak gadisnya jadi korban. Kita semua tak rela, sedih, dan ingin berontak. Namun keselamatan penduduk Pasir Batang di atas segala-galanya. Kita masih punya kekuatan dengan mengekang hawa marah, walaupun sakit Kau mengerti Sawung Bulu?" panjang lebar Ki Gandara memberikan pengertian kepada muridnya yang tengah dilanda emosi.


Sawung Bulu terdiam. Dirundukkan kepalanya. Kata-kata lembut dan penuh wibawa itu menyentuh perasaannya. Hatinya merasa kerdil berhadapan dengan Ki Gandara. Sungguh picik mata hatinya jika tidak bisa melihat keadaan sekitar. Tetapi hatinya tetap merintih dan menangis. Sawung Bulu tak rela dan ingin berontak, tetapi akibatnya seluruh penduduk Pasir Batang akan merasakan murka Raja Dewa Angkara.


Sawung Bulu semakin tak bergairah mengikuti pembicaraan ini. Pikirannya kalut dan hanya tertuju pada Dewi Purmita tercinta. Tujuh hari lagi gadis itu akan jadi korban persembahan Raja Dewa Angkara. Malam pun merambat semakin larut. Pembicaraan terus berlangsung walau tersendat sendat.


********************


Rangga menggeliatkan tubuhnya beberapa kali. Matahari yang menyorot hangat dari ufuk Timur, membangunkannya dari tidur nyenyak malam tadi. Matanya langsung menatap ke depan, ke arah desa Pasir Batang. Dengan ilmu Pembilah Suara, dia telah mendengar semua pembicaraan di rumah Ki Brajananta semalam.


Pendekar Rajawali Sakti lalu berdiri, dan kembali menggeliatkan tubuhnya. Dia menguap lebar sambil menggosok-gosokkan matanya. Setelah merapikan pakaian, Pendekar Rajawali Sakti melangkah menuju ke jalan utama desa Pasir Batang.


"Tujuh hari lagi... hm. Bukan waktu yang lama," gumam Rangga sambil melangkah.


Beberapa penduduk sudah mulai menuju ladang mereka. Pagi ini kehidupan di desa Pasir Batang berjalan normal seperti tidak akan terjadi apa-apa. Mereka seperti sudah terbiasa menghadapi peristiwa persembahan korban untuk Raja Dewa Angkara. Peristiwa yang sudah bertahun-tahun berlangsung. sehingga menjadi tradisi yang tak terelakkan lagi.


"Uh... Lapar juga. Semalam aku nggak makan! Di mana ada kedai makan, ya?" Rangga bergumam sendiri sambil menepuk-nepuk perutnya. Matanya jelalatan mencari-cari kalau kalau ada kedai makan yang buka di pagi buta begini.


Agak kesal juga dia, sepanjang jalan yang dilewati tak nampak juga kedai makan Sedangkan perutnya terus berkeruyuk minta diisi. Rangga menggerutu sendirian.


"Maaf. Pak. Bisa bertanya?" Rangga mencegat seorang laki-laki setengah baya yang berpapasan denganriya.


"Oh, iya. Boleh, Den," laki-laki setengan baya itu mengamati Rangga dari ujung kepala sampai ke ujung rambut.


"Apa ada kedai makan di desa ini, Pak?" tanya Rangga.


"Oh, ada. Ada, Den. Itu di ujung tikungan jalan ini, tepat di bawah pohon kenari."


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


"Siapa anak muda itu, Pak Bolang?"


"Oh!" laki-laki setengah baya yang ternyata bernama Pak Bolang itu terkejut "Bikin kaget saja kau. Ujang!"


"Kelihatannya dia bukan orang desa kita ya, Pak?" Ujang setengah bergumam.


"Iya, seperti pengembara," sahut Pak Bolang.


"Cari siapa dia?"


"Kedai makan," sahut Pak Bolang. "Ah, sudahlah! Nanti kesiangan kita ke ladang."


Kedua laki-laki itu melangkah beriringan. "Tujuh hari lagi, purnama ya, Pak!" Ujang berkata setelah lama terdiam.


"Iya, purnama yang ke tujuh," balas Pak Bolang pelan.


"Siapa ya, yang kira-kira jadi korban persembahan nanti?"


"Yang jelas bukan keluargaku. Aku tidak punya anak gadis lagi. Semuanya sudah menikah," Pak Bolang merasa bersyukur karena tak ada seorang pun dari keluarganya yang jadi korban


"Lama-lama bisa habis gadis-gadis di desa ini."


"Ya sudah, jangan dipikirkan, Jang! Kita sih bekerja saja..." ucap Pak Bolang berjalan pergi.


Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti duduk menghadap meja yang penuh dengan makanan dan minuman. Makannya tenang, tapi sudut matanya sejak tadi memperhatikan dua pemuda yang duduk tak jauh dari mejanya.


Mereka adalah murid-murid Padepokan Pasir Batang Yang mengenakan pakaian serba putih dan ketat, tak Iain adalah Sawung Bulu. Sedangkan satunya mengenakan baju ketat pula berwama kuning gading Di pinggang masing-masing terselip sebuah tongkat pendek, dengan cincin emas di tengahnya. Rangga memang tak kenal mereka. Namun pembicaraan dua pemuda itu sangat menarik perhatiannya.


"Apa pun yang terjadi, aku harus gagalkan upacara iblis itu!" suara Sawung Bulu agak tertekan. "Kau boleh tak menyetujui tekadku, Badara. Tapi aku perlu teman untuk menumpas Raja Dewa Angkara."

__ADS_1


"Kau sudah bicara pada guru?" tanya Badara.


"Percuma, ayahmu tak akan pernah menyetujui. Apalagi Pamanku. Jelas dia menentang keras!"


"Memang sulit menyetujui niat baikmu, Sawung. Aku yakin semua orang tidak akan mendukungmu."


"Mereka terlalu pasrah pada nasib. Padahal, jika kita mau bersatu, iblis itu takkan berpikir dua kali pada desa kita. Toh, mereka juga manusia biasa seperti kita. Apa yang harus ditakuti?"


"Raja Dewa Angkara sangat sakti. Lawan kaki tangannya saja, seluruh murid Padepokan belum tentu menang. Kau ingat peristiwa di desa Kenanga? Desa itu memiliki juga Padepokan yang terkenal dengan orang-orang yang berilmu tinggi. Tetapi dalam satu malam saja, desa itu hancur karena menentang korban persembahan gila itu! Apalagi kita yang hanya mengandalkan Ayahanda Guru Gandara? Aku rasa sia-sia saja usahamu, Sawung..."


Sawung Bulu menarik nafas panjang. Dan memang ada benarnya juga kata-kata Badara itu. Akankah desa Pasir Batang harus hancur juga, hanya karena satu orang merasa tidak rela kekasihnya dijadikan korban persembahan Raja Dewa Angkara? Hanya satu orang yang diselamatkan, tapi mengorbankan seluruh penduduk desa. Tidak! Sawung Bulu menggelengkan kepalanya.


Sawung Bulu tak ingin seluruh penduduk menjadi korban. Tetapi dia juga tak rela Dewi Purmita kekasihnya itu jadi korban. Sawung Bulu benar-benar seperti makan buah simalakama. Serba salah.


"Aku mengerti perasaanmu, Sawung. Bukan kau saja yang merasakan itu. Tapi ini sudah menjadi kehendak Raja Dewa Angkara. Tak seorang pun yang berani menentangnya. Sadarlah itu, Sawung," kembali Badara mencoba menyadarkan saudara seperguruannya ini.


"Aku tetap akan menentang. Aku akan berjalan atas namaku sendiri, dan tidak akan melibatkan seorang pun baik dari Padepokan maupun penduduk desa ini!"


Walau dengan hati bimbang, Sawung Bulu tetap pada pendiriannya. Tekadnya sudah bulat. Apa pun yang akan terjadi, dia harus menghadapi si iblis Raja Dewa Angkara!


"Sa...."


Badara belum melanjutkan ucapannya, tiba-tiba sebuah tombak menancap tepat di tengah-tengah meja mereka. Dengan serentak kedua murid Padepokan Pasir Batang ini melompat kaget. Semua yang ada di kedai makan itu terkejut pula. Mereka kenal betul dengan tombak itu.


Bagi mereka yang bernyali kecil, langsung kabur ke luar. Di kedai makan itu memang rata-rata hanya penduduk biasa. Maka dengan sekejap kedai makan menjadi sepi. Sawung Bulu menatap tajam pada tombak hltam Itu.


"Celaka, Raja Dewa Angkara sudah tahu," gumam Badara dengan wajah agak pucat.


Rangga masih duduk di tempatnya. Dia makin tertarik ingin mengetahui kelanjutannya. Matanya tidak lepas memandang dua pemuda yang masih menatap tombak hitam itu. Walau terlihat tampan dan gagah, tetapi mereka gemetar juga.


"Sawung Bulu...," suara Badara bergetar.


"Pergilah!" tegas Sawung Bulu. Namun nadanya sedikit bergetar.


Badara yang semula tak ingin ikut campur beranjak pergi. Kakinya baru saja melangkah dua tindak tiba-tiba sebatang tombak kembali meluncur dan menancap tepat di ujung kakinya. Badara melompat kaget.


"Kau sudah membuat malapetaka, Sawung Bulu!" Badara agak kesal.


Tombak kedua yang datang menghalangi langkahnya, sudah diraba maksudnya. Tak ada pilihan lain. Dia sudah terlibat secara tak langsung dalam kemelut ini. Tak mungkin Raja Dewa Angkara melepaskan satu nyawa pun.


"Terpaksa harus dihadapi bersama," lenguh Badara.


"Maaf, Badara!" ucap Sawung Bulu.


"Lupakan!" sahut Badara.


"Bagus!" tiba-tiba terdengar suara berat menggelegar. "Murid-murid Padepokan Pasir Batang rupanya punya nyali juga!"


Rasa terkejut kedua murid Padepokan Pasir Batang belum lagi hilang, mendadak dari atap kedai makan berlompatan empat orang berpakaian serba hitam dengan gambar bunga bangkai di dada, berwarna merah. Di tengahnya terselip juga gambar seekor kalajengking berwarna emas.


Empat orang yang dikenal sebagai anggota Raja Dewa Angkara itu, berdiri mengelilingi Sawung Bulu dan Badara. Wajah mereka tertutup selembar kain hitam, kecuali bagian mata. Masing-masing menggenggam dua trisula. Suatu penampilan yang menggetarkan.


"Raja Dewa Angkara berkenan memaafkan, jika kalian lekas meminta maaf," kata salah seorang yang mengenakan pakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kenapa bukan iblis itu sendiri yang datang? Aku tak perlu dengan cacing-cacing macam kalian!" dengus Sawung Bulu. Baginya tak ada pilihan lain kecuali meneruskan segala niat menentang iblis itu.


"He...he...he..., gurumu saja belum tentu mampu mengalahkan salah seorang dari kami."


"Iblis! Kubunuh kau!" geram Badara mendengar ayahnya dihina. Hatinya panas seketika.


Tanpa banyak bicara lagi, Badara langsung melompat sambil mencabut tongkat pendeknya. Dia menyerang dengan jurus-jurus andalan kepada orang yang mengejek ayahnya. Melihat keadaan itu, Sawung Bulu tak mau ketinggalan. Pertarungan kini berjalan satu lawan dua orang.


********************

__ADS_1


__ADS_2