
Rangga menghentikan laju kudanya tepat di depan sebuah pondok kecil di lereng Gunung Kanjaran. Pendekar Rajawali Sakti itu melompat turun dari punggung kuda hitam itu. Matanya tidak berkedip menatap pondok kecil di depannya. Keadaan sekitar pondok ini sangat sepi, sepertinya tidak pernah ada kehidupan di sini. Tapi keadaan yang bersih dan terawat, menandakan adanya kehidupan.
Singgg...!
"Uts!"
Rangga memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan ketika tiba-tiba sebuah benda kecil meluncur deras ke arahnya. Benda itu lewat beberapa rambut di dekat pundaknya. Belum lagi Pendekar Rajawali Sakti itu merubah posisinya, meluncur lagi beberapa benda kecil menghujani dirinya.
"Hup!"
Rangga segera mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Sepasang kakinya lincah bergerak dan tubuhnya meliuk-liuk bagai karet menghindari hujan senjata rahasia yang mengancam tubuhnya. Senjata-senjata kecil itu berseliweran di sekitar tubuhnya. Namun sampai sejauh ini, tidak satu pun yang berhasil mengenainya.
"Hup, hiyaaa...!"
Cepat sekali jari tangan Pendekar Rajawali Sakti bergerak menangkap salah satu senjata rahasia itu, lalu secepat kilat melontarkannya kembali ke arah yang berlawanan.
Srak! Sesosok tubuh melenting ke udara bersamaan dengan meluncurnya satu senjata rahasia. yang berhasil ditangkap Rangga ke dalam semak belukar di samping pondok kecil itu. Bagaikan seekor burung rajawali, tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu ikut melenting ke atas, dan dengan kecepatan luar biasa, tangannya bergerak mendepak dada orang itu.
"Hugh!"
Satu keluhan pendek terdengar. Dan tubuh orang itu meluncur deras ke bawah. Tapi sebelum mencapai tanah, dia sempat berputar dua kali. Dengan manis kakinya mendarat di tanah, bersamaan dengan hinggapnya Pendekar Rajawali Sakti di tanah pula.
Rangga mengamati laki-laki tua di depannya. Laki-laki yang sudah menghunus tongkat ke depan menyilang di dada itu ternyata Ki Sampar Bayu. Rangga langsung bersikap hati-hati dengan orang tua itu. Tadi dia mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' dan telak menghantam dadanya. Tapi Ki Sampar Bayu tidak cidera sedikit pun. Itu menandakan kalau Ki Sampar Bayu memiliki tingkat kepandaian yang tidak bisa dianggap remeh.
"Di mana istri Ki Dandung, Ratih Kencana kau sembunyikan?" tanya Rangga tajam.
"Hhh, rupanya kau sudah tahu banyak urusan ini, Pendekar Rajawali Sakti. Aku tidak suka ada orang luar ikut campur dalam urusan keluarga!" dengus Ki Sampar Bayu.
"Mataku tidak akan tertutup melihat kezaliman tumbuh di muka bumi i!" sahut Rangga tidak kalah dinginnya.
"Phuih! Kau boleh bangga dengan julukanmu. Orang lain boleh kau gertak seenak perutmu, tapi aku..., tidak!" Ki Sampar Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir tersenyum sinis. "Aku sengaja mengalah malam itu agar kau enyah dari Desa Watu Ampar. Tapi rupanya kau masih membandel juga, Bocah!"
"Jangan banyak omong, Ki Sampar Bayu! Di mana Nyi Ratih Kencana kau sembunyikan?"
"Di dalam kubur!"
"Kebarat!" geram Rangga sengit.
"Ha ha ha...!" Ki Sampar Bayu tergelak.
Rangga melihat ke pondok kecil itu ketika tiba-tiba muncul Ki Japalu yang memiting seorang wanita setengah baya yang lusuh. Sebilah pisau menempel di lehernya.
"Berani bergerak, nyawa perempuan ini melayang ke neraka!" gertak Ki Japalu.
"Pengecut!" geram Rangga mendesis.
"Kakang Japalu, tinggalkan tempat ini. Cepat..!" seru Ki Sampar Bayu. "Biar bocah gendeng ini aku yang urus."
Ki Japalu menyeret perempuan itu mendekan sebuah kereta kuda yang sudah siap terpancang dekat samping pondok. Rangga menggeram marah melihat kepengecutan laki-laki itu. Menyandera seorang wanita tak berdaya. Ki Japalu mendorong Ratih Kencana agar naik ke kereta kuda itu. Kemudian dia sendiri melompat naik setelah Ratih Kencana berada di dalam kereta.
"Hiya..., hiya!"
Ki Japalu menggebah tali kekang kuda. Kereta kecil itu segera bergerak cepat. Rangga yang menyaksikan semua itu, semakin berang saja. Dengan sekali genjot saja, tubuhnya melayang mengejar kereta kuda itu.
"Hih!" Rangga terpaksa menghentikan usahanya ketika Ki Sampar Bayu kembali memberondongnya dengan senjata-senjata rahasia. Pendekar Rajawali Sakti itu segera turun dan bergulingan di tanah menghindari serangan senjata rahasia yang gencar itu.
"Hup!" Kembali tubuh Rangga melenting ke udara, kali ini dia meluruk deras ke arah Ki Sampar Bayu.
"Uts!" Ki Sampar Bayu memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan. Dan tongkatnya di kibaskan ke atas menahan terjangan kaki Rangga yang mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Namun tanpa diduga sama sekali, ujung jari kaki Pendekar Rajawali Sakti itu menotok ujung tongkat Ki Sampar Bayu, dan kembali tubuhnya berputar di udara. Buk!
Ki Sampar Bayu tersentak kaget ketika tanpa diduga sama sekali kaki kanan Rangga berhasil mendepak punggungnya. Laki-laki tua itu bergulingan di tanah, tapi dia cepat bisa bangun lagi. Sementara Rangga sudah siap dengan kedua kaki tegak berpijak di tanah.
Trek! Sret...!
Rangga melangkah mundur satu tindak ketika Ki Sampar Bayu memotong tongkatnya jadi dua bagian. Ternyata tongkat itu menyimpan dua belah pisau kecil tipis yang sangat tajam berkilat pada ujung-ujungnya yang terpotong jadi dua bagian.
Sambil menggeram dahsyat, Ki Sampar Bayu kembali menyerang dengan dua tongkat bermata pisau di tangannya. Rangga terpaksa melayaninya dengan hati-hati. Setiap kebutan dan tusukan senjata Ki Sampar Bayu menimbulkan suara angin menderu yang mengandung hawa panas menyengat.
Diam-diam dalam hati, Rangga memuji kedahsyatan senjata kembar lawannya ini. Juga jurus-jurusnya yang sangat cepat dan mematikan. Rangga harus lebih hati-hati menghadapinya. Dia mengeluarkan semua jurus-jurus andalannya, tapi nampaknya Ki Sampar Bayu bisa menandinginya dengan mudah.
"Hm..., aku harus mencobanya dengan jurus 'Ekor Naga Melibat Gunung'," gumam Rangga dalam hati.
Rangga segera merubah jurusnya dengan cepat. Kali ini tubuhnya jadi lentur bagai karet, dan tangannya bergerak-gerak meliuk-liuk bagai ular. Ki Sampar Bayu kelihatannya kebingungan juga menghadapi jurus ini. Beberapa kali dia harus terdepak ke belakang terkena sampokan tangan Rangga yang kelihatannya lentur itu tapi mengandung tenaga dalam luar biasa.
Tapi hal itu hanya sebentar saja, karena Ki Sampar Bayu cepat tanggap dan langsung menguasai dirinya. Kali ini Rangga yang kelihatan kebingungan, karena setiap serangannya dapat dihindarkan dengan mudah oleh lawannya.
"Cabut senjatamu, Bocah!" seru Ki Sampar Bayu.
"Baik, kalau itu maumu!" sambut Rangga.
Sret!
Cahaya biru berkilau langsung memancar terang ketika Rangga mencabut Pedang Rajawali Sakti dari warangkanya. Ki Sampar Bayu terbeliak melihat pedang di tangan Rangga memancarkan cahaya terang menyilaukan mata.
"Tahan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'!" seru Rangga.
"Eits!" Pertarungan kembali berlangsung sengit. Rangga dengan jurus 'Pedang Pemecah Sukma' kelihatan lebih unggul dibandingkan lawannya. Ki Sampar Bayu harus jatuh bangun menghindari setiap serangan Pendekar Rajawali Sakti.
Tapi sesaat kemudian, laki-laki tua itu sudah bisa menguasai keadaan yang tidak menguntungkan baginya tadi. Namun... Hanya sebentar saja Ki Sampar Bayu bisa bertahan. Detik berikutnya dia jadi putus asa, karena gerakan-gerakannya kacau tidak menentu, dan jiwanya juga seperti dirobek-robek tak dapat dikendalikan lagi. Seluruh urat-urat syarafnya seperti terputus-putus tak berfungsi.
"Edan! Kenapa aku jadi begini...?" dengus Ki Sampar Bayu tidak mengerti.
"Terimalah ajalmu, Ki Sampar Bayu!" seru Rangga keras.
Sambil berteriak nyaring, Rangga melompat sambil menusukkan pedangnya ke arah dada Ki Sampar Bayu. Hanya sebentar laki-laki tua itu bisa menatap lebar, detik berikutnya mulutnya menyemburkan darah segar. Pedang Rajawali Sakti amblas ke dada Ki Sampar Bayu sampai setengahnya.
"Hih!" Rangga menarik kembali pedangnya, dan kakinya melayang deras menghantam perut Ki Sampar Bayu.
Bug! Ki Sampar Bayu tidak bisa bersuara lagi. Tubuhnya langsung ambruk dengan darah menyembur deras dari dadanya yang bolong tertembus pedang tadi.
Cring!
Rangga memasukkan pedang Rajawali Sakti ke warangkanya. Sebentar dia menarik napas panjang melihat tubuh Ki Sampar Bayu yang sudah tidak bernyawa lagi. Sebenarnya dia tidak ingin membunuh laki-laki tua itu, tapi dia terpaksa melakukannya. Kalau bukan dia yang membunuh, tentu Ki Sampar Bayu yang akan membunuhnya.
__ADS_1
Sementara itu Ki Japalu yang mengendalikan kereta kuda terus memecuti kudanya agar tetap berlari cepat menuruni lereng Gunung Kanjaran. Di sampingnya duduk Ratih Kencana.
"Ki Japalu, berhenti!" tiba-tiba terdengar bentakan keras.
Seketika itu juga Ki Japalu menghentikan lari kudanya. Tampak dari arah samping berlari dua ekor kuda menghampirinya. Ki Japalu langsung mengenali kalau dua penunggang kuda itu adalah Sarman dan Pantula.
"Ibu...," desis Sarman pelan begitu sampai di depan kereta kuda yang ditumpangi Ki Japalu dan Ratih Kencana.
Sarman turun dari kudanya. Langkahnya pelan mendekati kereta kuda itu. Matanya tidak berkedip memandang perempuan setengah baya yang duduk di samping Ki Japalu. Keadaannya sangat lusuh dan tubuhnya kurus serta matanya cekung ke dalam.
"Anakku...," desah Ratih Kencana lirih. "Oh! Tidak...!" Ratih Kencana melompat turun dari kereta, dan berlari kencang masuk ke dalam hutan.
"Ibuuu...!" Sarman langsung melompat mengejar, dan Ki Japalu bergegas turun dari kereta kudanya. Sementara Ratih terus berlari kencang menerobos lebatnya hutan. Dia tidak menyadari kalau arah larinya justru mendekati bibir jurang.
"Ratih, awas jurang...!" teriak Ki Japalu.
"Hiya...!"
Sarman melentingkan tubuhnya ketika di depan Ratih Kencana menganga mulut jurang yang lebar dan cukup dalam. Dan begitu kaki Sarman menjejak tanah di tepi jurang itu, mendadak Ratih Kencana melompat dan...
"Aaa...!" "Ratih!"
"Ibuuu...!"
Sarman menjerit sekuat-kuatnya ketika melihat tubuh ibunya meluncur masuk ke dalam jurang. Dia sudah berusaha untuk menjambret tangan ibunya, tapi tidak berhasil. Tubuh Ratih Kencana meluruk deras dan jatuh membentur batu di dasar jurang itu.
"Ibu...," rintih Sarman terjatuh lemas di tepi jurang.
Sementara Ki Japalu hanya bisa memandangi dengan mata nanar berair. Pantula yang masih ragu-ragu kalau itu ibunya hanya bisa berdiri menyaksikan dengan hati bimbang dan pikiran penuh digeluti bermacam-macam prasangka.
Sarman langsung berdiri tegak. Rintihannya seketika lenyap. Dia berbalik, dan menatap tajam pada Ki Japalu. Yang dipandang membalasnya dengan sayu tanpa gairah.
"Pembunuh...!" geram Sarman. "Kau membunuh ibuku!"
Ki Japalu tidak menyahuti.
"Kubunuh kau, keparat...! Hiyaaa...!"
Sarman menjerit melengking seraya menghentakkan kakinya ke tanah. Begitu tubuhnya melayang di udara, dengan cepat dia mencabut pedangnya. Tapi ketika ujung pedangnya hampir saja memenggal leher Ki Japalu yang hanya diam saja, mendadak satu bayangan berkelebat menahan serangan Sarman.
"Ayah...," desah Sarman melihat Ki Dandung tiba-tiba muncul.
"Jangan mata gelap, Sarman!" bentak Ki Dandung.
"Dia membunuh Ibu, Ayah. Dia harus mati!"
Ki Dandung menatap ke dalam jurang. Darahnya langsung menggelegak melihat mayat istrinya tergeletak di dasar jurang dengan kepala pecah membentur batu. Pandangannya beralih pada Ki Japalu dan Pantula bergantian.
"Aku tidak tahu, hukuman apa yang setimpal buatmu, Japalu," kata Ki Dandung tertahan suaranya.
''Bunuh aku," sahut Ki Japalu lirih.
"Tidak...," Ki Dandung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bunuh aku, Dandung," Ki Japalu memandang Ki Dandung dengan penuh harap. "Sarman, Pantula, ayo bunuh aku!"
"Ayo kita pulang, Sarman," ajak Ki Dandung pada anaknya.
Sarman tidak menjawab, dia menuruti saja langkah ayahnya meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan rengekan Ki Japalu. Baru saja mereka melangkah beberapa tindak, mendadak wajah Ki Japalu berubah garang, dan dengan cepat tangannya merogoh ke balik baju. Kejadian berikutnya...
"Awas...!" teriak Pantula tiba-tiba.
Ki Dandung dan Sarman langsung berbalik. Mereka terkejut, dan tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengelak. Jarak mereka begitu dekat, dan Ki Japalu melepaskan dua pisau kecil dengan kecepatan tinggi disertai pengerahan tenaga dalam yang sangat tinggi.
"Ah...!" Ki Dandung hanya bisa mendesah.
********************
Pada saat kritis itu, sebuah bayangan putih berkelebat cepat menangkap dua buah pisau yang meluncur deras ke arah Ki Dandung dan Sarman.
Tap, tap!
"Pendekar Rajawali Sakti...," desah Ki Japalu kaget setengah mati begitu bayangan putih itu berhasil menangkap dua pisau kecilnya.
"Hm..., kau licik sekali, Ki Japalu...," gumam Rangga sinis.
"lblis! Binatang...!" geram Sarman langsung meluap amarahnya.
Seketika itu juga Sarman melompat seraya mengirimkan beberapa pukulan mautnya. Ki Japalu yang sudah nekad, segera menggeser kakinya sedikit menghindari pukulan-pukulan itu. Dan tanpa diduga sama sekali, dengan cepat tangan kanannya menyampok perut Sarman.
"Hugh!" Sarman mengeluh pendek.
Ketika tubuh Sarman membungkuk, Ki Japalu mengangkat kakinya dengan kuat, dan tubuh Sarman terpental ke belakang dengan dada sesak terkena hantaman kaki orang tua itu. Ki Japalu memanglah bukan tandingan Sarman. Ki Dandung sendiri saat ini harus berpikir dua kali menghadapi Kepala Desa Watu Ampar itu.
"Japalu, selama ini aku selalu mengalah padamu. Sampai perintah guru untuk menghukummu tidak aku turuti. Sekarang apa boleh buat, aku harus menghukummu!" kata Ki Dandung yang sudah hilang kesabarannya.
"Ha ha ha...! Bagus..., bagus, Dandung! Kita memang harus bertarung sampai mati!" sambut Ki Japalu.
Ki Dandung melangkah tiga tindak ke depan. Tatapan matanya tajam dan lurus. Perlahan-lahan dia menarik pedang yang tergantung di pinggangnya. Pedang pusaka pemberian gurunya yang belum pernah digunakan selama hidupnya. Pedang ini memang khusus diberikan untuk menghukum Ki Japalu yang dianggapnya sebagai murid murtad bertindak di luar batas perikemanusiaan.
"Pedang Karang Melati...," desah Ki Japalu. Wajah laki-laki tua itu seketika berubah melihat pedang di tangan Ki Dandung terhunus. Buru-buru dia merogoh ke balik bajunya, dan mengeluarkan sebuah senjata berupa keris berwarna hitam pekat. Keris itu menyebarkan bau busuk yang tidak sedap.
"Hhh..., rupanya kau juga mencuri keris pusaka Karang Mayit, Japalu," dengus Ki Dandung kaget melihat senjata pusaka itu.
"Aku mau tahu, sampai di mana kehebatan pedang Karang Melati melawan Keris Karang Mayit," kata Ki Japalu pelan dan datar.
Ki Dandung jadi lebih waspada lagi. Dia ingat kata-kata gurunya untuk waspada jika berhadapan dengan keris Karang Mayit. Pedang Karang Melati belum pernah bisa menandingi kehebatan keris itu. Keris yang mengandung hawa jahat dan nafsu membunuh. Pamor yang tidak baik itulah yang membuat senjata itu selalu tersimpan di dalam gudang penyimpanan senjata pusaka. Rupanya Ki Japalu mencuri senjata itu untuk memperkuat dirinya.
"Tahan seranganku, Dandung...! Hiyaaa...!"
Ki Japalu segera menerjang dengan jurus-jurus mautnya. Ki Dandung melayaninya dengan sikap hati-hati dan waspada. Dia selalu berusaha menghindari ujung keris Karang Mayit itu dari hidungnya. Sekali saja ujung keris itu berada di bawah hidung, akibatnya akan fatal. Aroma busuk yang mengandung racun untuk melemahkan otot-otot dan syaraf bisa melumpuhkan seseorang seketika. Dan itu sangat diketahui oleh Ki Dandung maupun Ki Japalu.
Pertarungan berjalan semakin sengit. Beberapa kali Ki Japalu hampir bisa menyorongkan ujung kerisnya ke depan hidung Ki Dandung, tapi dengan cepat Ki Dandung menepiskannya dengan mengibaskan pedangnya. Dan anehnya, mereka seperti sama-sama tidak ingin membenturkan senjata masing-masing.
__ADS_1
"Ugh! Aku tidak bisa bertahan lama. Bau itu semakin menusuk.... Kepalaku pening...," desah Ki Dandung dalam hati.
"Ha ha ha...!" Ki Japalu tertawa terbahak-bahak begitu melihat lawannya mulai tidak menentu jurus-jurusnya.
Sementara Rangga yang memperhatikan jalannya pertarungan itu sudah dapat menduga kalau beberapa jurus lagi, Ki Dandung pasti akan tewas di ujung keris hitam itu. Dan dugaan Rangga memang menjadi kenyataan. Ki Dandung sempoyongan ketika satu tendangan telak berhasil disarangkan Ki Japalu ke dadanya.
"Mati kau, Dandung. Hiyaaa...!" Ki Japalu berteriak lantang seraya melesat dengan ujung keris terhunus ke depan. Pada saat itu Ki Dandung tengah berusaha menguasai keseimbangan tubuhnya. Dan pada saat yang kritis itu, tiba-tiba Pantula melesat cepat menerjang ke arah Ki Japalu.
"Pantula...!" sentak Ki Japalu kaget.
Buru-buru orang tua itu menarik kembali senjatanya. Tapi...
"Aaakh...!"
"Pantula...!"
Ki Japalu terkejut setengah mati. Pantula seperti sengaja menghujamkan tubuhnya ke ujung keris di tangan ayahnya. Ki Japalu segera menarik kembali kerisnya yang tertanam di dada Pantula. Pemuda itu langsung roboh ke tanah mengerang lirih
"Pantula...," pelan dan tertahan suara Ki Japalu.
Bibir Pantula bergerak-gerak bergetar.
Ki Japalu berlutut dan mengangkat tubuh Pantula ke dalam pelukannya. Dada berlubang yang bekas tusukan keris itu menghitam pekat. Darah yang ke luar juga berwarna kehitaman dan berbau tidak sedap. "Pantula, anakku...," rintih Ki Japalu.
"Jangan panggil aku anakmu, Ki Japalu. Kau bukan ayahku," lirih suara Pantula.
"Pantula...."
"Sudah seharusnya aku mati di tanganmu. Ibu..., maafkan aku.... Akh!"
"Pantula...!" jerit Ki Japalu.
Pantula terkulai lemas dengan nyawa melayang dari tubuhnya. Ki Japalu menangis tersedu-sedu memeluk anaknya. Pantula adalah darah dagingnya sendiri dari rahim Ratih Kencana. Ki Japalu sangat mencintainya karena Pantula lahir dari rahim wanita yang sangat dicintai dan dipuja-pujanya. Dia rela melakukan apa saja demi mencapai harapannya memiliki Ratih Kencana. Tapi sekarang semuanya telah tiada. Tak ada sesal yang datang lebih dahulu.
Kasih sayang yang diberikan Ki Japalu terhadap Pantula dan Segara memang sangat berbeda. Dia tidak begitu mencintai Segara, karena lahir dari wanita yang tidak dicintainya, meskipun Segara anak syah. Ki Japalu menggerung-gerung menangisi putra kesayangannya. Perlahan-lahan kepalanya terangkat naik menatap Ki Dandung.
"Kau menang, Dandung. Kau selalu menang dariku...," lirih suara Ki Japalu.
Ki Japalu mengangkat tubuh anaknya. Dia tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan langkah lesu, dia membawa mayat Pantula. Di juga tidak peduli dengan keris Karang Mayit yang menggeletak di tanah. Ki Japalu terus melangkah pelan-pelan membawa mayat anaknya meninggalkan tempat itu.
Rangga memungut keris Karang Mayit yang ditinggalkan Ki Japalu. Dia menghampiri Ki Dandung dan menyerahkan senjata keramat itu. Ki Dandung menerimanya dengan mata nanar berkaca-kaca. Betapapun dia tidak menyukai tindakan saudara seperguruannya itu, tapi melihat begitu besarnya cinta dan kasih sayangnya pada Pantula, luruh juga hatinya.
"Sebenarnya dia mempunyai hati yang baik. Sayang, pengaruh adiknya begitu kuat sehingga terperosok ke dalam jurang sesat," kata Ki Dandung lirih.
"Mudah-mudahan dia menyadari kekeliruannya," desah Rangga.
"Ya, itu yang aku harapkan."
Rangga melangkah mundur. "Rasanya aku tidak bisa lama di sini. Aku harus pergi," kata Rangga pamitan.
"Heh, tunggu...!" sentak Ki Dandung.
Tapi Rangga sudah beranjak pergi. Bersamaan dengan itu muncul kuda hitam yang ditinggalkannya tadi. Kuda itu berlari mengikuti kepergian Rangga. Tampaknya dia sangat nurut pada Pendekar Rajawali Sakti. Melihat demikian, Rangga pun langsung meloncat ke punggung kuda itu. Bagaikan angin saja, kuda hitam itu berpacu cepat menembus lebatnya Hutan Ganda Mayit.
"Ayah, kenapa tidak mengatakan kalau Pandan Wangi mencarinya?" tegur Sarman.
"Dia pergi seperti angin saja...," keluh Ki Dandung.
Rangga memang cepat sekali menghilang. Bayangannya sudah tidak kelihatan lagi dalam sekejap.
"Bagaimana kalau Pandan Wangi menanyakannya, Ayah?" tanya Sarman.
"Aku harus mengatakannya terus terang," sahut Ki Dandung. "Ayo kita pulang."
Sarman tidak membantah. Dia mengikuti saja langkah ayahnya yang sudah lebih dulu meninggalkan tempat ini. Tapi baru beberapa tombak mereka berjalan, tiba-tiba Pandan Wangi muncul.
"Maaf, aku kesasar," kata Pandan Wangi mengakui. "Aku tidak tahu daerah ini...."
Ki Dandung dan Sarman saling berpandangan. Pandan Wangi memandang berkeliling. Dia sedikit heran karena tidak ada satu mayat pun menggeletak. Apa yang terjadi sebenarnya...?
"Aku tidak bisa mencegah. Dia sudah pergi," kata Ki Dandung pelan.
"Siapa?"
"Orang yang kau cari."
"Rangga...? Ke mana perginya?"
"Ke arah Utara."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Pandan Wangi langsung melesat pergi ke arah Utara yang ditunjuk Ki Dandung. Laki-laki tua itu hanya mendesah panjang memandangi tubuh gadis itu yang segera lenyap di balik rimbunnya pepohonan.
"Ayo," ajak Ki Dandung pada anaknya.
"Ayah...," Sarman menarik tangan ayahnya.
"Ada apa lagi?"
"Ibu...."
"Oh!"
Mereka bergegas ke jurang. Tanpa banyak bicara lagi, Ki Dandung segera menuruni jurang yang cukup dalam itu. Sementara Sarman menunggunya di bibir jurang. Tidak sulit bagi Ki Dandung yang memiliki ilmu cecak untuk menuruni jurang itu. Telapak kakinya sepertinya merekat di bebatuan yang banyak berserakan sepanjang jurang.
Sebentar saja laki-laki tua itu sudah bisa mencapai tempat di mana Ratih Kencana tergeletak tak bernyawa di atas bebatuan. Ki Dandung mengangkat tubuh istrinya itu, dan membawanya naik ke atas. Tubuhnya ringan bagai kapas berlompatan dari satu batu ke batu lainnya. Sebentar saja dia sudah sampai di tepi jurang. Sarman menggantikan ayahnya membawa Ratih Kencana.
"Kita harus menguburkan sebelum para penduduk desa tahu," kata Ki Dandung.
"Ya, Ayah," sahut Sarman tersedak.
Mereka kembali melangkah meninggalkan tempat itu. Arah yang ditempuh bukannya menuju ke Desa Watu Ampar, tapi menuju ke tampat pemakaman yang berada di pinggiran Hutan Ganda Mayit. Sementara matahari sudah condong ke arah Barat. Sinarnya tidak lagi terik menyengat.
Dua laki-laki itu terus berjalan tanpa berkata-kata. Hutan Ganda Mayit jadi saksi bisu perselisihan satu keluarga itu, juga jadi saksi cinta antara dua pendekar tangguh yang belum sempat dipertemukan kembali. Apakah kedua pendekar itu akan berkumpul kembali...?
__ADS_1
SELANJUTNYA
API DI KARANG SETRA