Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Rahasia Puri Merah Bag. 2


__ADS_3

Tidak jauh dari Bukit Arang Lawu, tampak serombongan orang berkuda berpacu cepat menuju ke sebuah desa di dekat kaki Bukit Arang Lawu sebelah Barat Tidak kurang dari lima puluh ekor kuda dipacu oleh orang-orang yang mengenakan jubah merah. Suara derap kaki kuda dengan teriakan-teriakan riuh berbaur menjadi satu.


Tampak penduduk desa itu berlarian ketakutan menyelamatkan diri bersama barang-barang yang bisa diselamatkan. Rombongan berkuda itu semakin dekat, dan mulai memasuki desa. Orang-orang berjubah merah yang semuanya memegang senjata terhunus, langsung rnemporak-porandakan seluruh isi desa itu.


Tidak peduli orang tua, perempuan atau anak-anak, semuanya mereka bantai tanpa belas kasihan. Jerit dan pekik kematian terdengar membahana saling sambut. Ditambah lagi dengan sorak-sorai dan teriakan-teriakan perintah menggelegar.


"Bakar! Habiskan, jangan sampai ada yang tersisa...!"


Beberapa penunggang kuda berjubah merah mulai melempar obor ke atap-atap rumah. Api cepat berkobar besar melahap rumah-rumah penduduk desa yang rata-rata terbuat dari papan dan bilik bambu.


Suasana hiruk pikuk semakin tak terkendalikan lagi. Beberapa penduduk yang bernyali besar, mengadakan perlawanan dengan senjata seadanya. Namun mereka hanya membuang nyawa percuma. Orang-orang berjubah merah itu sangat kejam dan ganas. Siapa saja yang berani mendekat, pasti ambruk bersimbah darah.


Sudah tak terhitung lagi, berapa mayat bergelimpangan berlumuran darah. Dalam waktu singkat saja, puluhan rumah dan ratusan penduduk mati terbunuh. Api semakin besar, merambat ke rumah-rumah lain yang berdekatan. Kerusuhan itu terus berlangsung, seakan tak akan tertanggulangi lagi.


Setelah puas, orang-orang berjubah merah itu kembali memacu kudanya meninggalkan desa yang sudah porak-poranda. Beberapa di antaranya telah membawa paksa wanita-wanita muda. Belum lagi barang-barang berharga yang berhasil mereka rampas dari rumah-rumah penduduk.


Kerusuhan itu begitu cepat berlalu. Suasana di desa kini tenang kembali, walau keadaannya sungguh menyedihkan. Tidak satu rumah pun yang masih utuh. Semuanya rusak berantakan. Bahkan tidak sedikit yang hangus jadi arang. Api masih saja berkobar melahap apa saja yang bisa terbakar. Mayat-mayat bergelimpangan di setiap tempat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di desa yang naas itu.


Menjelang senja, keadaan di desa sebelah Barat kaki Bukit Arang Lawu itu masih tetap sunyi sepi. Sementara rumah-rumah yang terbakar tinggal puingpuing mengepulkan asap tipis. Binatang-binatang buas yang mencium anyir darah, mulai keluar hutan. Tidak lama lagi desa yang porak poranda itu akan menjadi tempat pesta binatang-binatang buas.


Namun sebelum binatang-binatang liar itu menyerbu desa, tampak dua orang berjalan tenang ke arah desa itu. Mereka masih muda. Yang satu laki-laki, dan satunya lagi wanita berparas cantik dengan baju ketat warna biru membentuk tubuh yang indah dan ramping.


Dilihat dari pakaian dan wajahnya, mereka adalah Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi atau Kipas Maut. Kedua pendekar muda itu tetap berjalan tenang menuju ke desa yang sudah berantakan tak berujud lagi. Langkah mereka seketika terhenti saat menyaksikan pemandangan mengenaskan di depannya. Mulut mereka sempat ternganga menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan, dan rumah-rumah terbakar hangus.


"Kejam! Setan mana yang melakukan semua ini?" rutuk Rangga menggeram.


"Kita lihat, Kakang. Barangkali masih ada yang hidup," ajak Pandan Wangi.


Mereka kembali melangkah tergesa-gesa. Rangga beberapa kali mengumpat, menghadapi mayat-mayat bergelimpangan di setiap tempat. Hampir tidak dipercaya akan pemandangan yang disaksikannya ini. Tidak seorang pun yang hidup. Semuanya mati dengan luka yang mengerikan.


"Aku tidak percaya, apabila manusia waras yang melakukan semua ini!" dengus Rangga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak seorang pun yang masih hidup," gumam Pandan Wangi.


"Benar-benar biadab! Keji!"


"Ada banyak tapak kaki kuda, Kakang," kata Pandan Wangi sambil jongkok.


Rangga meneliti jejak-jejak tapak kaki kuda yang berbaur dengan tapak-tapak kaki manusia. Begitu banyak, sehingga sulit untuk ditentukan jumlah kuda yang tapak kakinya membekas di tanah. Kedua pendekar itu mengikuti jejak-jejak kaki kuda yang tertera jelas. Sepanjang jejak itir, selalu dijumpai mayat yang keadaan tubuhnya terluka.


Rangga mendengus kesal, karena tapak-tapak kaki kuda itu ada di setiap pelosok desa. Bahkan sampai ke pinggiran desa pun, tapak kaki kuda masih terlihat jelas begitu banyak. Tanpa disadari dia terpisah dari Pandan Wangi. Rangga terus menyusuri bekas tapak kaki kuda di tanah, sambil mengamari setiap tubuh yang tergolek Kalau-kalau masih ada yang hidup.


"Kakang...!" tiba-tiba terdengar suara Pandan Wangi memanggil.


"Ada apa, Pandan?" teriak Rangga. "Cepat, ke sini!"


Rangga langsung melompat menuju ke arah suara tadi. Hanya dengan beberapa kali lompatan saja, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berada di samping Pandan Wangi. Tampak gadis itu tengah jongkok meneliti tanah.


"Ada apa?" tanya Rangga.


"Jejak kaki kuda itu menuju ke arah hutan," sahut Pandan Wangi sambil berdiri.


Rangga menyusuri pandangannya mengikuti jejak tapak kaki kuda yang terus menuju ke luar desa ini. Jejak-jejak itu memang menuju ke hutan lebat yang membatasi desa. ini dengan Bukit Arang Lawu. Tapi jejak itu banyaknya bukan main. Sulit bagi Rangga untuk menentukan berapa banyak orang berkuda yang telah membumihanguskan desa ini.


Bau anyir darah makin menyengat hidung. Beberapa ekor anjing hutan mulai berdatangan. Suaranya ribut sekali berebutan daging manusia yang bergelimpangan tak terurus. Pandan Wangi segera menggamit tangan Rangga, dan mengajaknya meninggalkan desa itu. Dia tidak tahan melihat tubuh-tubuh bergelimpangan menjadi santapan anjing-anjing liar yang rakus kelaparan. Kedua pendekar muda itu berjalan mengikuti jejak-jejak kaki kuda yang tertera jelas di tanah dan rerumputan.


Sementara senja terus merayap turun. Matahari hanya mengintip genit di ufuk Barat. Sinarnya yang kemerahan membias lembut menyambut datangnya kabut. Rangga dan Pandan Wangi terus melangkah semakin dalam masuk hutan, menuju lereng Bukit Arang Lawu. Mereka tidak peduli lagi dengan binatang-binatang liar yang tengah berpesta pora menikmati santapan berlimpah ruah.


********************


Awan hitam datang bergulung-gulung menyelimuti mayapada. Angin berhembus kencang mengeluarkan suara menderu-deru, menggoyahkan pepohonan di sekitar lereng Bukit Arang Lawu. Kilat mulai menyambar disertai suara guruh memekakkan telinga. Rangga menghentikan langkahnya ketika merasakan titik-titik air hujan mulai jatuh ke bumi satu-satu.


Kepala Pendekar Rajawali Sakti itu menengadah ke atas. Kilat kembali menyambar, menerangi alam yang gelap gulita dalam sekejap mata saja. Titik-titik air hujan yang jatuh mulai sering menimpa bumi. Rangga mementang matanya menentang kegelapan malam. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian ditariknya tangan Pandan Wangi ketika melihat sebuah goa batu pada saat kilat kembali memercik.

__ADS_1


Tepat ketika dua pendekar muda itu masuk ke dalam goa yang kecil dan sempit, hujan deras turun bagai ditumpahkan dari langit. Rangga menarik tangan Pandan Wangi agar lebih dalam masuk goa. Angin yang berhembus kencang membawa masuk air hujan ke dalam goa. Mereka baru berhenti setelah tidak lagi terkena air hujan yang terbawa angin kencang.


"Kau punya pemantik api, Pandan?" tanya Rangga.


"Ada, nih," sahut Pandan Wangi sambil menyerahkan batu pemantik api.


Rangga menerima batu pemantik api itu, kemudian tangannya meraba-raba tanah di sekitarnya. Ditemukannya beberapa ranting kering yang kemudian dikumpulkan jadi satu. Dengan pemantik itu Rangga menyalakan api pada ranting-ranting kering. Goa yang gelap gulita itu kini menjadi terang benderang. Rangga mengumpulkan ranting kering yang rupanya banyak terserak di lantai goa ini. Pandan Wangi sudah duduk memeluk lutut di dekat api. Sesekali ditambahkan ranting ke dalam api.


"Dingin...?" tanya Rangga seraya menempatkan diri di depan Pandan Wangi. Hanya api unggun yang membatasi mereka.


"He-eh," sahut Pandan Wangi sedikit menggigil.


"Bajumu basah, buka saja biar kering," kata Rangga.


"Apa...?!" Pandan Wangi mendelik.


"Maaf, aku lupa kalau kau...," Rangga nyengir.


"Huh! Nggak lucu!" rungut Pandan Wangi.


Tapi di bibirnya terlintas senyum kecil, hampir tidak terlihat.


Rangga menggeser duduknya mendekati gadis itu. Dia menambahkan ranting ke atas api. Percikan bunga api saat melahap ranting menarik perhatian Pandan Wangi. Dia tidak peduli dengan Rangga yang kini telah dekat di sampingnya. Pandan Wangi menggores-goreskan sebatang ranting ke lantai goa yang sedikit lembab.


"Sudah berapa lama ya, kita bersama-sama?" gumam Rangga seolah bertanya pada dirinya sendiri.


"Entahlah, aku tidak pernah menghitung," sahut Pandan Wangi mendesah.


"Kadang-kadang aku suka berpikir...," Rangga tidak meneruskan kata-katanya. Pandangannya lurus menatap wajah cantik di sampingnya.


Pandan Wangi menolehkan kepalanya. Sesaat pandangin mereka bertemu pada satu titik. Gadis itu segera memalingkan pandangannya ke arah lain. Mendadak rasa jantungnya berdetak kencang tak beraturan. Sungguh mati, baru kali ini dia merasa seperti ini. Entah sudah berapa lama selalu bersama-sama pemuda ini, tapi baru kali ini ada perasaan lain di dalam hatinya. Sesuatu yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Pandan Wangi merasa rikuh dan serba salah dipandangi terus menerus. Duduknya juga jadi gelisah. Belum pernah dirasakan kegelisahan yang mengganggu sedemikian rupa. Sering mereka dalam goa, juga bukan sekali dua kali berada dalam satu kamar penginapan. Namun belum pernah Pandan Wangi punya perasaan seperti sekarang ini.


"Ah, tidak... tidak apa-apa," sahut Rangga gugup. Buru-buru Rangga membuang segala macam pikiran yang merasuk hatinya.


Pandan Wangi sudah dianggapiya sebagai saudaranya sendiri. Dia sudah berkata dalam hatinya kalau gadis ini adalah adiknya. Bukan siapa-siapa, dan tidak lebih dari adik! Rangga membuang jauh-jauh pikiran aneh dan perasaan asing yang melintas dihati dan benaknya. Dia tidak ingin hanyut dalam perasaan hatinya.


"Aku rasa tempat ini cukup nyaman untuk bermalam," kata Rangga mencoba untuk mengalihkan pembicaran.


"Ya, asal tidak ada binatang menjijikkan saja," sahut Pandan Wangi.


"Kalau ada ular, atau ca...."


"Jangan macam-macam, ah!" sergah Pandan Wangi sambil cemberut. Dia paling jijik dengan binatang-binatang yang baru saja disebutkan Rangga. Meskipun seorang pendekar, tapi nalurinya sebagai wanita tidak hilang begitu saja.


"Ha ha ha...!" Rangga tertawa terbahak-bahak.


Pandan Wangi mendelik, tapi tersenyum juga mendengar suara tawa Rangga. Selama bersama pemuda ini, baru kali ini ia mendengar Rangga tertawa begitu lepas. Suara tawanya sangat merdu di telinga Pandan Wangi. Tidak mudah bagi Rangga untuk tertawa selepas tadi. Kehidupannya selalu dipenuhi dengan kekerasan, sehingga membuatnya sulit tertawa. Dan Pandan Wangi senang mendengar tawa yang sebentar namun begitu lepas tergerai.


"Aaah...! Ngantuk, tidur ah," Pandan Wangi menguap menutupi mulutnya.


"Tidurlah sana. Biar aku yang jaga," kata Rangga.


"Nanti gantian, ya?"


"Iya!"


Pandan Wangi mengambil tempat yang. nyaman, dan merebahkan tubuhnya dengan tangan menekuk menopang kepala. Meskipun sudah merebahkan diri, namun matanya belum juga terpejam. Malah ditatapnya terus pemuda tampan yang masih duduk membelakanginya.


Mungkin saat itu mereka tengah berbicara satu sama lain dalam hati. Entah apa yang tengah dibisikkan di hati mereka. Yang jelas, Rangga maupun Pandan Wangi tidak tenang. Rasa kantuk pun hilang. Beberapa kali mereka saling melirik, tapi tidak pernah bertemu pandang.


Sementara di luar goa, hujan terus turun deras. Seakan-akan hujan tidak akan berhenti sepanjang malam ini. Malam pun terus merayap semakin larut, dan kesunyian makin menyelimuti sekitarnya. Dua manusia di dalam goa tetap berdiam diri, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


********************


Saat itu, di bagian lain lereng Bukit Arang Lawu, Pangeran Kandara Jaya duduk termenung di dalam tenda yang besar dan indah. Sudah dua hari Lawawi Girang dan Kitri Boga belum juga kembali dari penyelidikannya atas gerombolan Puri Merah yang bermarkas di puncak Bukit Arang Lawu.


Pangeran Kandara Jaya semakin gelisah, karena tidak ada kabar sedikit pun tentang Lawawi Girang dan Kitri Boga. Lima orang telik sandi sudah dikirim untuk mencari kabar, dan semuanya kembali dengan membawa laporan yang sama. Nihil.


Lima orang telik sandi yang dikirim itu tidak bisa melanjutkan perjalanan ke puncak, karena dihadang jurang yang lebar dan dalam. Mereka tidak mungkin menyeberangi jurang itu, karena tidak ada jembatan sama sekali. Memang mereka menemui sulur-sulur yang disambung-sambung terikat di pohon, tapi sulur-sulur itu putus di tengah-tengah.


"Mungkinkah Paman Lawawi Girang dan Adi Kitri Boga terjerumus ke dalam jurang?" gumam Pangeran Kandara Jaya seperti bertanya pada dirinya sendiri.


"Mungkin juga mereka berhasil menyeberangi jurang itu, Gusti," celetuk Karpatala dengan bersila agak ke samping di depan pangeran muda itu.


"Kalau mereka berhasil menyeberang, lalu mengapa sulur itu putus?"


Karpatala tidak dapat menjawab. Memang sulit untuk menjawab pertanyaan Pangeran Kandara Jaya tadi. Satu-satunya alat untuk menyeberangi jurang itu hanya sulur yang disambung-sambung. Tapi kenyataannya sekarang, sulur itu putus di tengah-tengah. Rasanya mustahil jika Lawawi Girang dan Kitri Boga bisa selamat sampai ke seberang. Dan kalau pun sampai, tentu mereka sulit untuk kembali lagi ke sini.


"Kalau sampai besok pagi mereka belum muncul, kuperintahkan agar tenda segera dibongkar dan kembali pulang ke kerajaan," kata Pangeran Kandara Jaya.


"Gusti...!" Karpatala tersentak kaget.


"Tidak ada gunanya menunggu lama di sini, sementara perbekalan menipis. Beberapa kali kita mencoba untuk mencapai puncak, tapi baru sampai lerengnya saja, kita sudah dipukul mundur. Paman Karpatala, aku tidak akan malu mengakui kekalahan pada Ayahanda Prabu. Mereka memang tangguh dan kuat," kata Pangeran Kandara Jaya tegas.


"Ampun. Gusti. Boleh hamba mengajukan permohonan?" Karpatala merapatkan tangannya di depan hidung, memberi hormat.


"Silakan," sahut Pangeran Kandara Jaya.


"Menurut hamba, tempat ini jangan dikosongkan sama sekali. Hamba akan tetap berada di sini bersama beberapa prajurit, menunggu kalau-kalau Kakang Lawawi Girang dan Gusti Kitri Boga kembali," kata Kar-patala penuh hormat.


"Lalu, siapa yang akan memimpin prajurit pulang?"


"Gusti sendiri. Bukankah Gusti Pangeran juga akan kembali pulang?"


"Tidak!"


Karpatala tersentak kaget mendengar jawaban tegas junjungannya. Dia tidak mengerti maksud Pangeran Kandara Jaya, memerintahkan untuk kembali pulang, dan sekarang...


"Aku tidak akan kembali ke istana jika tidak bersama Kitri Boga!" kata Pangeran Kandara Jaya tegas.


"Maksud Gusti?" tanya Karpatala tidak mengerti.


"Kuperintahkan kau memimpin prajurit kembali ke istana besok pagi, dan aku sendiri yang akan ke puncak Bukit Arang Lawu."


"Ah...! Jangan, Gusti. Terlalu berbahaya pergi seorang diri ke sana. Lima ratus prajurit pun belum tentu mampu mencapai puncak, apalagi hanya seorang diri? Jangan, Gusti. Hamba mohon, jangan pergi ke sana seorang diri."


"Sudah kusiapkan surat untuk Ayahanda Prabu, dan kau yang kupercayakan menyerahkan surat ini. Aku tidak ingin surat ini sampai bukan melalui tanganmu sendiri, Paman."


Kandara Jaya menyerahkan surat yang tergulung di dalam longsong perak. Dengan tangan bergetar, Karpatala menerima surat itu. Percuma saja merengek dan mencairkan hati junjungannya ini. Pangeran Kandara Jaya tetap pada pendiriannya. Sekali bilang hitam, untuk selamanya tetap hitam. Itulah watak Pangeran Kandara Jaya.


"Surat itu bercap cincin pusakaku. Di situ tertulis namamu sebagai pengantar, dan hukuman yang akan kau terima bila surat itu diantar bukan lewat tanganmu!" sambung Pangeran Kandara Jaya.


"Hamba laksanakan, Gusti," sahut Karpatala bergetar suaranya.


"Pergilah, dan bersiap-siaplah untuk membongkar tenda besok!"


"Hamba mohon undur diri, Gusti," pamit Karpatala.


"Hm...!"


Karpatala bangkit berdiri, kemudian memberi hormat sebelum keluar dari tenda besar tempat beristirahat Pangeran Kandara Jaya. Sepeninggal punggawa setianya itu, Kandara Jaya tetap duduk di tempatnya. Dia masih memikirkan tentang keselamatan Kitri Boga yang seharusnya jadi tanggung jawabnya. Kembali teringat akan janjinya pada Maha Patih Sangga Buana untuk menjaga keselamatan putranya yang kini tidak tentu nasibnya bersama Lawawi Girang.


Kandara Jaya sangat menyesali keputusannya yang ceroboh, mengijinkan Punggawa Lawawi Girang membawa serta Kitri Boga. Padahal keselamatan Kitri Boga berada di tangannya. Apa pun yang akan terjadi dia harus pergi ke puncak Bukit Arang Lawu itu. Seandainya hanya menemukan mayat Kitri Boga, itu pun sudah cukup baginya. Kandara Jaya tidak begitu berharap Kitri Boga dan Lawawi Girang masih hidup sekarang ini. Dia sadar, betapa berbahayanya mendaki puncak Bukit Arang Lawu.


"Ah, Dewata Yang Agung....," desah Kandara Jaya lirih.

__ADS_1


********************


__ADS_2