Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Wajah Seribu Eps. 08 Bag. 1


__ADS_3

SEMUA orang membungkukkan badannya ketika tiga ekor kuda berpacu cepat melintasi jalan tanah berdebu. Mereka tahu kalau tiga orang yang menunggang kuda itu adalah pembesar dari kerajaan Limbangan. Yang berada di atas kuda putih adalah Panglima Lohgender, sedang yang menunggang kuda hitam dengan kedua kaki depannya belang putih, adalah orang kepercayaan Panglima Lohgender, juga anak angkatnya. Pemuda berwajah tampan dengan tubuh tegap itu bernama Arya Duta. Satunya lagi seorang pemuda yang menunggang kuda coklat bernama Braja Duta.


Langkah-langkah kaki kuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang dijaga ketat oleh beberapa prajurit. Bergegas mereka rurun dan kudanya masing-masing. Dua orang berpakaian prajurit Kadipaten Karang Asem segera mendekat. Panglima Lohgender, Arya Duta dan Braja Duta melangkah beriringan menuju ke serambi rumah besar itu.


"Gusti Adipati sudah lama menunggu, Gusti Panglima," kata salah seorang lelaki tua yang segera menyongsong di serambi rumah.


"Hm, dimana gustimu?" tanya Panglima Lohgender penuh wibawa.


"Ada di ruang tengah, Gusti Panglima."


Panglima Lohgender dari Kerajaan Limbangan itu terus melangkahkan kakinya menuju ruangan tengah di mana Adipati Prahasta telah menunggunya. Dua orang penjaga pintu langsung membungkuk memberi hormat.


"Masuklah, Adi Lohgender!" satu suara besar dan berat menyambut begitu kaki Panglima Lohgender melewati pintu menuju ruangan tengah.


"Ada apa gerangan kau memintaku datang ke Karang Asem, Kakang Prahasta?" tanya Panglima Lohgender begitu duduk di kursi.


"Ada persoalan penting," sahut Adipati Prahasta.


"Pribadi?" tanya Lohgender sambil matanya melirik Arya Duta dan Braja Duta yang masih berdiri di belakang panglima itu.


"Tidak," sahut Adipati Prahasta "Dan memang sebaiknya Arya Duta dan Braja Duta mengetahui persoalan ini"


Adipati Karang Asem itu mempersilakan Arya Duta dan Braja Duta duduk. Mereka mengambil tempat di samping Panglima Lohgender. Beberapa saat lamanya mereka terdiam saling berpandangan. Panglima Lohgender seperti menangkap sesuatu yang tengah menyusahkan Adipati Karang Asem ini.


"Aku tidak melihat istri dan anakmu. Di mana mereka?" tanya Panglima Lohgender memecah kebisuan.


"Aku ungsikan ke Kadipaten Sedana." sahut Adipati Prahasta.


"Diungsikan...?" tanya Panglima Lohgender terperanjat.


"Terpaksa, demi keselamatan mereka."


"Edan! Cuma karena kekacauan saja Kakang mengungsikan keluarga? Atau..., ah, jelaskan seperlunya, Kakang." Panglima Lohgender sudah bisa menduga-duga.


Adipati Prahasta terdiam sesaat, lalu… "Awalnya memang cuma kejadian biasa, perampokan, pembunuhan, dan lain-lainnya. Aku sudah memerintahkan prajurit kadipaten untuk lebih memperkuat penjagaan. Memang ada hasilnya, semua bisa teratasi dengan baik. Tapi dua minggu terakhir ini...," Adipati Prahasta menghentikan kalimatnya.


"Teruskan," pinta Panglima Lohgender.


"Mereka menjarah semua harta benda para petinggi kadipaten. Bahkan juga nyawanya. Dan yang lebih menghebohkan lagi, mereka selalu menculik pemuda-pemuda di sini." lanjut Adipati Prahasta.


"Siapa mereka?"


"Aku tidak tahu," sahut Adipati Prahasta.


"Bagaimana mungkin kau tidak tahu, Kakang?"


"Mereka seperti setan saja. Tidak ada jejak, juga kedatangannya tanpa bisa diduga sebelumnya. Kau bisa bayangkan, Adi Lohgender. Para petinggi kadipaten jadi resah karenanya, bahkan sudah tiga orang mengundurkan diri, dan lima keluarga petinggi kembali ke kota raja."


"Hm..., sudah kau sebar telik sandi untuk menyelidiki?" tanya Panglima Lohgender seperti bergumam.


"Sudah. Tapi sampat sekarang belum ada hasilnya. Malah tiga telik sandi tewas dengan keadaan yang mengerikan"


Panglima Lohgender diam termenung. Keningnya berkerut dalam, pertanda dia tengah berpikir keras. Dia merasa heran dan bingung dengan turut diculiknya para pemuda oleh gerombolan pengacau itu. Apalagi jika dia ingat, kalau masih ada kadipaten-kadipaten lain yang jauh lebih kecil dari Kadipaten Karang Asem ini, tapi tak ada kekacauan dan penculikan-penculikan seperti yang terjadi di kadipaten ini. Panglima Lohgender menggeleng-gelengkan kepalanya. Sulit dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menggeluti pikirannya.


"Baiklah, untuk sementara aku akan tinggal di sini beberapa hari. Kalau keadaannya semakin memburuk, Braja Duta bisa membawa prajurit-prajurit pilihannya ke sini," kata Panglima Lohgender.


"Terima kasih, Adi Lohgender. Aku sudah putus asa menghadapi mereka," sambut Adipati Prahasta gembira.


"Hmmm... berapa orang prajurit Kadipaten Karang Asem?" tanya Panglima Lohgender.


"Dua ratus orang," sahut Adipati Prahasta.


"Untuk sementara, kurasa cukup untuk menjaga segala kemungkinan."


"Kalau begitu, sebaiknya Adi Lohgender beristirahat dulu barang sejenak. Tentunya sangat melelahkan menunggang kuda dan menempuh perjalanan jauh."


Adipati Prahasta bangkit berdiri diikuti Panglima Lohgender dan kedua anak angkatnya. Dia sendiri yang mengantarkan langsung Panglima perang Kerajaan Limbangan itu ke tempat peristirahatannya.


Sedangkan Arya Duta meminta izin untuk berjalan-jalan menghirup udara segar di luar. Arya Duta adalah anak angkat Panglima Lohgender. Selain sebagai orang kepercayaan panglima, dia juga memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ilmu kesaktiannya bahkan hampir menyamai sang Panglima itu sendiri. Arya Duta berjalan-jalan mengelilingi rumah kediaman sang adipati yang besar dengan halaman yang luas ditata indah. Dia berjalan-jalan sambil mengamati keadaan sekitarnya, terutama pengaturan penjagaan para prajurit di sekitar kediaman Adipati Karang Asem ini.


"Hm…, cukup rapi penjagaan di sini," gumam Arya Duta dalam hati. Dia merasa cukup puas dengan pengaturan penjagaan di lingkungan kadipaten.


********************


Udara malam ini terasa tak menentu, sebentar panas dan sebentar kemudian terasa begitu dingin oleh sapuan angin yang bertiup kencang. Langit pun tertutup awan hitam yang bergulung-gulung, lalu kembali terang. Cuaca yang tak menentu ini seperti memberikan firasat buruk pada prajurit-prajurit Karang Asem yang tengah berjaga-jaga di seputar kediaman Adipati Prahasta, yang semangatnya kembali terpompa oleh kedatangan Panglima Lohgender dan kedua anak angkatnya.


Tampak di halaman belakang kediaman Adipati, Arya Duta tengah berbincang-bincang dengan dua orang prajurit, yang dilihat dari pakaiannya seperti kepala pasukan. Mereka adalah Balungpati dan Welut Putih. Dari sikap dan caranya berbicara, tampak jelas kalau Arya Duta sangat menghormati keduanya, meski pangkat yang disandang jauh lebih tinggi dari mereka.


"Seharusnya Paman berdua tidak perlu ikut berjaga malam," kata Arya Duta. "Biar kami yang muda-muda ini saja yang berjaga."


"Malah sebaliknya Gusti Arya Duta perlu beristirahat. Seharian penuh Gusti menempuh perjalanan panjang dengan berkuda, tentu sangat melelahkan," sahut Balungpati.


"Aku sudah cukup beristirahat sore tadi, Paman Balungpati." sambut Arya Duta tersenyum ramah.


"Oh, ya, kenapa Gusti Panglima tidak membawa pasukan ke sini?" tanya Welung Putih.


"Ayahanda Lohgender belum merasa perlu untuk mengerahkan prajurit kerajaan. Entah kalau keadaannya semakin memburuk," sahut Arya Duta tanpa bermaksud menyombongkan diri.


"Mereka bukan orang-orang sembarangan, Gusti Arya Duta. Aku sendiri sangsi dengan kekuatan prajurit kadipaten," kata Balungpati agak bergumam.

__ADS_1


"Paman pernah bertemu dengan mereka?" tanya Arya Duta.


"Paman pernah bertemu dengan mereka?" tanya Arya Duta.


"Pernah, ketika gerombolan pengacau itu mendatangi rumah Kepala Desa Karang Asem Wetan," sahut Balungpati.


"Berapa orang mereka?"


"Waktu itu cuma empat orang, tapi rata-rata mereka memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Sepuluh orang prajuritku mati terbunuh, dan aku sendiri mendapat luka yang cukup parah."


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Mereka menculik putra Kepala Desa itu."


"Hanya itu?"


"Iya. Mereka tidak sempat bergerak lebih jauh, karena Welut Putih dan tiga puluh orang prajurit keburu datang."


Arya Duta memandang Welut Putih.


"Sayang, aku tidak sempat bentrok dengan mereka," kata Welut Putih mengakui.


"Paman tidak berusaha mengejar?"


"Percuma, seperti lenyap tak berbekas, tidak ketahuan arahnya ke mana mereka pergi," sahut Welut Putih.


Arya Duta menghela napas panjang. Hatinya sudah menduga kalau yang akan dihadapinya adalah orang-orang dari kalangan rimba persilatan yang terbiasa malang melintang di dunia bebas, dunia yang selalu diukur dengan ilmu kesaktian. Seandainya dugaan Arya Duta benar, tentu tidak mungkin hanya mengandalkan para prajurit yang cuma menguasal ilmu olah kanuragan tanpa sedikitpun memiliki kesaktian. Prajurit pilihan kerajaan pun akan sangat sulit menandingi, apalagi prajurit-prajurit kadipaten yang kemampuannya masih jauh dibawah rata-rata.


Saat anak muda itu termenung, sekilas matanya menangkap sekelebat bayangan hitam melewati tembok benteng Kadipaten Karang Asem, lalu berkelebat ke atas atap. Arya Duta langsung melenting ke arah bayangan tadi menghilang di balik atap. Balungpati dan Welut Putih segera bertindak mengikuti Arya Duta.


"Berhenti…!" teriak Arya Duta begitu kakinya menjejak atap.


Bayangan hitam itu berbalik cepat, dan seketika dua sinar kehijauan meluncur deras ke arah Arya Duta. Anak muda itu bukanlah pemuda kosong, secepat kilat dia melentingkan tubuhnya menghindari sinar kehijauan itu. Dan belum lagi kakinya menjejak atap, kembali dua sinar kehijauan meluncur ke arahnya.


"Hup!" Tap, tap!


Arya Duta menangkap dua sinar kehijauan itu sambil berputar di udara, kemudian dengan manis kakinya menjejak atap. Namun mendadak, ketika matanya tengah melirik dua paku yang berwarna hijau di tangannya, bayangan hitam itu melesat cepat ke bawah.


"Hey..!"


Arya Duta segera melompat turun ke tanah, tapi bayangan hitam itu lenyap seketika begitu kakinya menginjak tanah. Arya Duta mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya yang tajam seolah menembus kepekatan malam. Arya Duta lalu menoleh ketika telinganya mendengar langkah-langkah kaki mendekati. Tampak Balungpati dan Welut Putih berlarian menghampiri, yang disusul Panglima Lohgender dan Braja Duta di belakang mereka.


"Ada apa, Arya Duta?" tanya Panglima Lohgender.


"Ada seseorang yang tampaknya bermaksud tidak baik," sahut Arya Duta.


"Seseorang...?"


Arya Duta menyodorkan dua buah paku berwarna hijau dengan telapak tangannya yang terbuka. Panglima Lohgender memperhatikannya sejenak, lalu mengambilnya sebuah dari tangan anak angkatnya itu.


"Ayah mengenalinya?" tanya Arya Duta.


"Tidak...." sahut Panglima Lohgender seperti ragu-ragu nada suaranya.


Arya Duta baru saja mau membuka mulutnya hendak bertanya lagi, ketika tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah dalam kediaman adipati. Arya Duta langsung meloncat dan berlari cepat diikuti oleh Balungpati dan Welut Putih menuju ke ruang dalam.


"Balungpati, atur penjagaan!" seru Panglima Lohgender.


"Baik, Gusti," sahut Balungpati.


Balungpati membelokkan larinya. Sedangkan Welut Putih tetap berlari cepat mengikuti Arya Duta dan Panglima Lohgender yang berlari cepat seraya mengerahkan ilmu meringankan tubuh.


"Kakang, buka pintunya!" tertak Panglima Lohgender sambil menggedor pintu.


Pintu kamar dari kayu jati berukir itu terkuak. Tampak Adipati Prahasta ke luar dengan tubuh sempoyongan dan rupa acak-acakan. Pakaiannya basah oleh darah segar yang mengucur deras dari bahu kanannya. Panglima Lohgender langsung menerobos masuk ke dalam. Matanya membelalak lebar ketika dilihatnya keadaan kamar yang berantakan.


"Apa yang terjadi, Kakang'" tanya Panglima Lohgender.


"Dia ingin membunuhku," sahut Adipati Prahasta.


"Dia... dia siapa?"


"Aku tidak tahu, sulit untuk mengenalinya. Seluruh tubuhnya terselubung baju hitam."


Arya Duta ikut memeriksa mendekati Panglima Lohgender. Sepuluh anak panah yang ditemukannya tertancap di lantai, dia sodorkan ke ayah angkatnya. Panglima Lohgender mengerutkan keningnya melihat anak panah berwarna hijau yang kini berada di tangannya. Sepertinya Panglima Kerajaan Limbangan itu mengenali senjata di tangannya ini, tapi serasa sulit untuk mengingat-ingat, siapa pemilik senjata berwarna hijau ini.


"Kau sempat bentrok dengannya, Arya Duta?" tanya Panglima Lohgender.


"Sedikit," sahut Arya Duta.


"Bagaimana rupanya"


"Kejadiannya terlalu cepat, sulit untuk mengenali wajahnya," sahut Arya Duta seraya mengingat-ingat.


"Hm…, sudahlah, sebaiknya kau bantu Balungpati mengatur penjagaan di luar."


"Baik, Ayah"


Arya Duta segera berlalu diikuti Braja Duta. Sepeninggal kedua anak angkatnya itu, Panglima Lohgender masih termenung menatap dua senjata di tangannya. Kemudian dia melangkah ke luar dan kamar itu. Langkahnya terhenti saat melihat Welut Putih berdiri di depan pintu kamar yang tertutup. Panglima Lohgender tahu kalau kamar itu biasanya ditempati oleh putra adipati. Dan tadi dia sempat melihat Adipati Prahasta masuk ke dalam kamar itu dibimbing Welut Putih.

__ADS_1


"Kenapa kau di sini?" tanya Panglima Lohgender.


"Gusti Adipati ada di dalam, hamba diperintahkan untuk menjaga di sini," sahut Welut Putih penuh hormat.


"Bagaimana lukanya?"


"Gusti Adipati ingin mengobatinya sendiri. Katanya tidak mau diganggu.”


"Baiklah. Perintahkan beberapa prajurit untuk berjaga-jaga di sekitar kamar ini," perintah Panglima Lohgender.


"Hamba laksanakan Gusti Panglima"


Panglima Lohgender segera berlalu. Welut Putih juga lekas beranjak meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan sepuluh orang prajurit. Langsung dia mengatur penjagaan di sekitar kamar itu. Welut Putih sendiri mengambil tempat tidak jauh dari pintu kamar.


Sementara Panglima Lohgender terus melangkah menuju ke luar. Dia berdiri di depan pintu beranda sambil matanya tajam mengamati keadaan sekitarnya. Sementara di tangan kanannya masih tergenggam satu paku dan satu anak panah berwarna hijau yang ditemukan oleh anak angkatnya. Pikirannya masih diselimuti oleh berbagai kejadian-kejadian yang serba misterius di Kadipaten Karang Asem ini.


"Aku seperti pernah mengenal senjata ini, siapa ya...? Hm... Orang itu pasti memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi," gumam Panglima Lohgender. Matanya tidak lepas memandangi dua senjata di tangannya dengan kening berkerut dalam.


"Ayah..." tiba-tiba Braja Duta sudah berada di sampingnya.


Panglima Lohgender berpaling menatap Braja Duta.


"Ada apa?" tanya Panglima Lohgender.


"Dua orang prajurit yang bertugas di bagian belakang tewas," Braja Duta melaporkan.


"Apa...?!" Panglima Lohgender terperanjat.


"Di leher mereka tertancap paku hijau," sambung Braja Duta.


"Edan! Bagaimana mungkin bisa terjadi?"


"Orang itu pasti dari kalangan rimba persilatan, dan ilmunya tentu tinggi sekali," kata Braja Duta menduga.


"Kau yakin...?" Panglima Lohgender seperti ragu-ragu.


"Rasanya tidak mungkin orang biasa bisa melakukannya tanpa kita ketahui."


Panglima Lohgender bergumam tak jelas. Matanya kembali menatap dua senjata di tangannya. Dia tengah berusaha mengingat-ingat saat dirinya malang-melintang di dunia persilatan, sebelum menjadi Panglima tertinggi Kerajaan Limbangan. Tapi beberapa saat lamanya dia tak mampu mengungkapnya. Dia yakin kalau pernah melihat senjata ini, tapi kapan dan di mana? Siapa pemiliknya? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikirannya saat ini.


"Kita harus menghentikannya sebelum jatuh korban lebih banyak lagi, Ayah," kata Braja Duta.


"Kalau dugaanmu benar, seribu prajurit pun tidak akan mampu menandinginya, Braja Duta," sahut Panglima Lohgender seperti bergumam.


"Kita harus minta bantuan orang-orang dari rimba persilatan juga," Braja Duta menyarankan.


"Orang-orang seperti itu tidak pernah mau ikut campur dalam persoalan kerajaan. Puluhan tahun aku malang-melintang dalam rimba persilatan, dan aku tahu persis watak-watak mereka."


"Lantas apa yang akan kita lakukan?"


Panglima Lohgender tidak segera menjawab. Memang sulit kalau harus menghadapi orang-orang rimba persilatan. Sedangkan selama ini dia tidak pernah lagi mengetahui perkembangannya. Tugas-tugas kerajaan telah menyita banyak waktunya untuk terus mengamati per-kembangan dunia persilatan saat ini.


Mendadak saja Panglima Lohgender tersentak. Dia teringat dengan satu nama ketika terjadi peristiwa di Desa Pasir Batang, meskipun dia tidak mengalaminya sendiri, tapi dari cerita yang sempat didengar, ada seorang pendekar muda digdaya yang ilmunya sangat tinggi, sukar dicari tandingannya. Pada saat ia sedang berpikir begitu, Arya Duta datang menghampirinya.


"Arya Duta, kau pernah mendengar peristiwa di Desa Pasir Batang?" tanya Panglima Lohgender langsung bertanya pada Arya Duta.


"Ya, desa yang hampir musnah oleh Raja Dewa Angkara." sahut Arya Duta.


"Kau pasti tahu, siapa yang menumpas iblis itu?"


"Pendekar Rajawali Sakti."


"Benar!"


Arya Duta menatap ayahnya tak mengerti.


"Hanya kau satu-satunya yang kuandalkan, Arya Duta. Pergi dan carilah di mana pendekar itu berada," kata Panglima Lohgender bernada memerintah.


"Maksud Ayah...?" Arya Duta masih belum mengerti.


"Katakan padanya tentang keadaan di sini. Aku yakin pendekar itu mau membantu," sahut Panglima Lohgender.


"Di mana mencarinya? Tempat tinggal pendekar itu tak menentu. Lagi pula membutuhkan waktu yang tidak pendek untuk mencarinya, Ayah. Bisa-bisa Kadipaten Karang Asem ini sudah hangus lebih dulu."


"Ini perintah, Arya Duta!" sentak Panglima Lohgender melihat anak angkatnya seperti putus asa.


"Baik, Ayah. Besok pagi-pagi sekali aku berangkat," sahut Arya Duta cepat-cepat.


"Kalau perlu, bawa beberapa prajurit"


"Tidak perlu seorang pun. Aku bisa melaksanakannya sendiri," sanggah Arya Duta sengit mendapat tugas yang dirasakannya tidak masuk akal itu.


"Sebelum kau kembali, aku tidak meninggalkan kadipaten ini," kata Panglima Lohgender tegas.


Arya Duta diam saja. Dia tidak menyanggah sedikitpun. Dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Mencari seorang pendekar, apa lagi yang mengembara sama saja mencari jarum di padang luas. Tugas yang tidak berat, tapi terasa mustahil untuk dilaksanakan.


"Dan kau, Braja Duta." lanjut Panglima Lohgender pada anak angkatnya yang satu lagi. "Segera kembali ke Limbangan. Persiapkan prajurit pilihan. Suatu saat aku akan kirim utusan ke sana."


"Baik. Ayah." sahut Braja Duta segera beranjak pergi.

__ADS_1


********************


__ADS_2