
Demung Pari kewalahan juga menghadapi Pandan Wangi. Apalagi di tangan gadis itu kini tergenggam pedang pusaka Naga Geni. Pedang itu memancarkan sinar merah yang berkelebatan mengurung tubuh Demung Pari. Dengan dua senjata di tangan, lawannya itu kerepotan menghindan serangan serangan yang cepat dan berbahaya dari Pandan Wangi.
Sudah puluhan jurus berlalu, dan tampaknya Pandan Wangi mulai berada di atas angin. Gadis itu tak memberi kesempatan sedikit pun pada lawannya untuk balas menyerang. Demung Pari tidak bisa berbuat banyak. Ruang geraknya semakin sempit, beberapa kali dia harus jatuh bangun menghindari serangan yang datang begitu cepat dan beruntun dari dua senjata Pandan Wangi.
"Hiyaaat..!" tiba-tiba Pandan Wangi berteriak keras.
Bersamaan dengan tubuhnya yang melenting tinggi ke udara, tangan kirinya mengibas seraya merentangkan kipas baja putihnya. Buru-buru Demung Pari mengangkat goloknya untuk melindungi kepala. Tanpa diduga sama sekali, Pandan Wangi malah menuju bagian bawah.
"mampu kau!" bentak Pandan Wangi keras.
Seketika itu juga pedangnya berkelebat cepat membabat perut Demung Pari. Demung Pari mengeluh sejenak. lalu tubuhnya menggelosor ke tanah. Orang-orang yang berada di sekitamya bergumam ngeri melihat perut Demung Pari hampir terbelah dua. Pandan Wangi berdiri tegak. Dia memasukkan kembali pedang pusakanya ke dalam warangkanya di punggung.
Ketegangan menyelimuti suasana di tempat itu. Wira Perakin, Cakala Pati, Antasuro dan Arya Mahesa terlihat menarik napas panjang. Dalam hati mereka mengakui kehebatan Pandan Wangi.
Suasana hening. Pandan Wangi memandangi empat orang yang berdiri berdampingan. Pandangan matanya berurutan menatap keempat orang itu satu per satu. Gadis ini tahu, keempat orang di hadapannya tentu memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari yang lainnya.
"Kuakui kau hebat! Tapi jangan senang dulu, kau belum menang," kata Wira Perakin jujur memuji.
Pandan Wangi hanya tersenyum sinis.
"Jaran Kedung!" panggil Wira Perakin.
"Hamba, Gusti," sahut Jaran Kedung membungkuk hormat. Dia melangkah maju dua tindak.
"Keluarkan algojoku!"
"Segera, Gusti."
Jaran Kedung segera melangkah meninggalkan tempat itu. Pandan Wangi tidak mengertj maksud Wira Perakin, tapi dia tetap waspada, kipas baja saktinya sudah ber-pindah ke tangan kanan, melintang terbuka di depan dada. Pandan Wangi bagaikan seorang dewi cantik pencabut nyawa.
Seorang laki-laki bertubuh besar bagaikan raksasa kemudian muncul mengiringi langkah Jaran Kedung. Tubuhnya nyaris telanjang, hanya cawat yang menutupi bagian bawah pusarnya. Dadanya penuh ditumbuhi rambut hitam keriring. Makhluk ini benar-benar bagaikan raksasa. Tinggi badannya tak bisa disamakan oleh manusia biasa.
"Buto Gendeng, kau lihat kelinci cantik itu?" tanya Wira Perakin. "Nah, dia kuserahkan untukmu"
"Grrr...!" manusia raksasa bemama Buto Gendeng itu menggeram keras. Matanya yang bulat merah menatap ganas pada Pandan Wangi.
"Dia calon istrimu, Buto Gendeng," lanjut Wira Perakin.
"Ha... ha... ha...!" Buto Gendeng tertawa terbahak-bahak.
Pandan Wangi bergidik juga melihat perawakan yang tinggi besar dan kasar itu. Dia menyumpah pada Wira Perakin yang tak berani secara jantan menghadapi dirinya. Jantung Pandan Wangi semakin berdegup kencang ketika manusia yang bagai orang utan itu mendekati. Di tangan kanannya tergenggam gada besar, lebih besar dari paha orang dewasa.
"Ha... ha.... ha...! Cantik..., cantik sekali...!" Buto Gendeng terbahak-bahak kegirangan menerima hadiah yang sangat menyenangkan hatinya.
"Phuih! Majulah, kupecahkan kepalamu!" dengus Pandan Wangi. Gadis itu telah menguatkan hatinya untuk menghadapi calon lawannya.
"Graaakhg...!" Buto Gendeng menggeram dahsyat.
"Ha ha ha...! Bawa dia ke kamarmu, Buto Gendeng," teriak Wira Perakin sambil tertawa terbahak-bahak.
Pandan Wangi mendelik geram pada laki-laki tua itu. Tak ada pilihan lain baginya bagaimanapun juga, dia harus membunuh manusia raksasa itu. Dia segera mencabut pedang pusakanya.
"Selamat bersenang-senang, Buto Gendeng!" seru Wira Perakin.
Laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu memberikan isyarat agar semua orang menyingkir. Dia sendiri kemudian masuk ke dalam rumah diikuti Cakala Pati, Antasuro dan Arya Mahesa. Tapi Wira Perakin mendadak menghentikan langkahnya, dan tidak jadi masuk ke dalam. Lelaki itu membalikkan badannya.
"Hm..., aku merasakan ada tamu yang tak diundang," gumam Wira Perakin pelahan.
"Siapa?" tanya Cakala Pati.
Sebuah bayangan putih berkelebat cepat, dan tahu-tahu sudah berdiri tegak di depan Wira Perakin dan lain-Iainnya. Dan belum lagi mereka sempat mengenalinya, menyusul lagi sebuah bayangan putih berkelebat mendarat di sampingnya. Kini di tengah-tengah halaman, sudah berdiri dua pemuda tampan berbaju putih. Mereka adalah Rangga dan Dimas.
Wira Perakin menjentikkan jarinya, seketika itu juga puluhan orang berseragam kuning keemasan bergerak mengurung. Dimas menggeretakkan rahangnya saat me-lihat empat orang yang berdiri di tangga masuk rumah, semuanya memiliki gambar kala hitam di tangan kanan. Merekalah yang selama ini dicarinya! Merekalah yang telah memperkosa dan membunuh Surti, kakak perempuannya!
"Hm..., akhimya bisa kutemukan juga...," gumam Dimas.
"Apa maksudmu?" tanya Rangga.
"Merekalah yang selama ini kucari-cari," sahut Dimas.
"Hm... jadi benar, Wira Perakin dan orang-orang-nya yang telah memperkosa dan membunuh kakakmu?"
"Benar. Aku tidak akan lupa dengan gambar di tangan itu! Gambar kala hitam...."
__ADS_1
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Empat orang lelaki itu memang memiliki gambar kala hitam di tangan kanannya. Pendekar Rajawali Sakti itu mengedar-kan pandangannya berkeliling. Tidak kurang dari tiga puluh orang kini telah mengepung dirinya dan Dimas dengan senjata terhunus.
Rangga tersenyum sinis. Dia tahu benar, orang-orang yang cuma menjadi kaki tangan majikan biasanya hanya mengandalkan ilmu kanuragan tanpa memiliki ilmu kesaktian dan kekuatan tenaga dalam. Tidak terlalu sulit baginya menghadapi orang-orang seperti ini!
Rangga memusatkan perhatiannya pada empat orang yang telah membangkitkan dendam kesumat di dada Dimas. Sepintas saja Rangga telah dapat mengukur, bahwa Dimas tak akan mampu menghadapi mereka berempat sekaligus. Jika mereka maju satu per satu sekali pun, itu masih sangat sulit bagi Dimas.
"Wira Perakin, pandang aku baik-baik!" seru Dimas. "Lima belas tahun kita tidak bertemu. Lima belas tahun aku tersiksa karena hutangmu, kini aku datang untuk menagih hutang lama itu!"
"He he he..., Bocah! Bicaramu seperti orang tua saja. Lima belas tahun lalu, kau pasti masih seorang bocah ingusan!" Wira Perakin terkekeh.
"Benar, dulu aku memang masih anak-anak. Tapi aku tidak pernah lupa dengan perbuatan kalian, memperkosa dan membunuh kakak perempuanku!"
"Bocah! Kau jangan cari-cari perkara di sini, heh," bentak Cakala Pati. "Aku tidak kenal denganmu!"
"Dengar, kalian semua! Lima belas tahun lalu di Hutan Baka, lima orang kerasukan iblis memperkosa seorang perempuan lemah, kemudian membunuhnya tanpa rasa kasihan, disaksikan oleh seorang bocah berumur sepuluh tahun. Bocah kecil itu tak akan lupa seumur hidupnya. Dan dia bertekad membalas dendam dan membunuh lima laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya!" lantang suara Dimas.
Wira Perakin, Cakala Pati, Antasuro dan Arya Mahesa tersentak kaget. Ingatan mereka segera kembali pada peristiwa sekitar lima belas tahun silam, peristiwa yang untuk pertama kali mereka lakukan sebagai orang-orang yang merasa punya kekuatan. Dan tanpa diduga, peristiwa itu kini ternyata berbuntut panjang. Kini mereka sadar kalau anak muda yang berdiri di depan mereka adalah bocah kecil itu.
"Nah, bersiaplah kalian! Aku akan menagih hutang itu!" dengus Dimas.
Sret!
Dimas meloloskan pedangnya yang terbuat dari bahan perak murni. Mata pedang itu berkilauan tertimpa sinar matahari yang sudah agak condong ke arah Barat. Mata-nya tajam menatap lurus empat laki-laki tua di depannya.
Wira Perakin menepuk tangannya tiga kali. Dan segera saja sepuluh orang anak buahnya bergerak maju beberapa langkah lebih dekat ke arah dua anak muda itu. Di tangan mereka semua tergenggam golok berwarna hitam pekat. Dimas segera menyilangkan pedangnya di depan dada. Sementara Rangga sudah bersiap-siap mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Kedua tangannya seketika itu juga berubah menjadi merah membara bagai terbakar Pendekar Rajawali Sakti itu tampak tak ingin berlama-lama meladeni lawannya, hingga dia langsung mengeluarkan jurus andalannya itu.
"Bunuh mereka!" teriak Wira Perakin memerintah.
"Hiya, hiya, hiyaaa..!"
Sepuluh orang itu langsung berteriak menyerang Rangga dan Dimas. Dimas bergerak cepat membabatkan pedangnya yang bergerak liar bagaikan banteng terluka Dimas tak sungkan sungkan lagi membabat lawan-lawannya. Dendam kesumat di dadanya bagaikan air bah menemukan anak sungai, mengalir deras tak terkendali!
Sementara itu Rangga dengan dingin menghadapi lawan-lawannya. Setiap kali dia mengerahkan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', setiap kali itu pula satu nyawa melayang dengan dada hancur
Satu persatu orang-orang berseragam kuning keemasan itu roboh bergelimpangan. Dan dalam waktu singkat saja sepuluh orang lawan dua anak muda itu tak satu pun yang tersisa hidup. Wira Perakin yang menyaksikan pengikutnya dibantai tanpa ampun, langsung bertepuk tangan tiga kali lagi. Sepuluh orang lagi melompat maju. Namun semua itu tidak ada artinya bagi Rangga dan Dimas. Dengan mudah kedua pemuda itu membuat orang-orang yang mengeroyoknya jungkir balik bergelimpangan dengan tubuh bersimbah darah.
"Setan!" geram Wira Petakin, "maju kalian semua! Bunuh bocah-bocah setan itu!"
Wira Perakin semakin gusar melihat orang-orangnya dlbuat tidak berdaya oleh dua pemuda tangguh yang bertarung bagaikan banteng terluka Jerit kematian kembali membahana ditingkahi oleh bergelimpangannya tubuh-tubuh yang bersimbah darah segar. Dan dalam waktu yang tidak berapa lama, Iebih dan separuh sudah meng-gelimpang jadi mayat
"Pandan...!" tiba-tiba Rangga tersentak.
Telinganya yang setajam mata pisau bisa membedakan suara pertarungan yang tengah berlangsung dengan suara lain yang datangnya dari arah belakang rumah. Suara jeritan seorang wanita yang disertai suara menggeram bagai gorilla.
"Dimas, aku tinggal sebentar!" seat Rangga seraya melompat cepat ke atas atap
Wira Perakin dan yang lainnya terhenyak sesaat melihat begitu cepatnya Rangga bergerak. Cakala Pati langsung melenting tinggi ke udara mengejar Rangga. Sedangkan Arya Mahesa juga segera melompat, meluruk ke arah Dimas yang kini tengah menghadapi tiga orang lagi.
"Aku lawanmu Bocah Setan!" bentak Arya Mahesa.
"Bagus!" sambut Dimas yang memang sudah mengharapkan sejak tadi.
Tiga orang yang masih tersisa hidup, langsung melompat mundur. Mereka masih bisa bernapas lega, karena terhindar dari kematian. Bagaimanapun juga mereka merasa ngeri dan kehilangan keberanian melihat teman-teman mereka sudah habis dibantai.
********************
Rangga terperangah melihat Pandan Wangi kewalahan menghadapi manusia raksasa Beberapa kali pedang pusakanya menghantam tubuh lawannya, tapi Buto Gendeng tetap saja tegar. Tidak ada luka sedikitpun pada kulitnya yang kasar dan kotor, meskipun Pandan Wangi sudah mengerahkan seluruh kekuatannya pada pedang yang terus menerus menghantam bagian-bagian tubuh manusia raksasa itu.
Pandan Wangi benar-benar putus asa, tidak sedikit dia menerima pukulan dan tendangan dari Buto Gendeng. Baju dan tubuh gadis itu sudah kotor oleh debu yang bercampur keringat Pandan Wangi benar-benar tidak mampu lagi berbuat banyak, dan nyaris kehilangan akal. Aji 'Tapak Wisa' yang dimilikinya juga tidak berpengaruh sama sekali pada Buto Gendeng. Seluruh kemampuannya sudah ter-kuras, tapi manusia raksasa itu tetap saja tegar, bahkan semakin ganas dan liar.
"Pandan, minggir...!" teriak Rangga seraya melompat, menerjang Buto Gendeng.
"Oh, Kakang...," Pandan Wangi gembira melihat Rangga datang.
"Aaarghk...!" Buto Gendeng menggeram marah melihat ada orang lain yang langsung menyerangnya.
"Hati-hati, Kakang. Manusia aneh ini sangat kebal," kata Pandan Wangi setelah melompat menjauhi Buto Gendeng. Napasnya masih tersengal-sengal.
"Hm...," Rangga hanya bergumam. Dia seperti sudah mengerti apa yang harus diperbuatnya.
Rangga menghentikan gerakannya sejenak. Sesaat dia mengerutkan keningnya. Dia teringat dengan pengalamannya ketika menghadapi manusia raksasa yang pernah bentrok dengannya. Tapi yang ini kelihatannya lebih besar lagi, dan lebih ganas dari yang dulu!
"Menyingkirlah, Pandan. Biar aku yang hadapi manusia liar ini," kata Rangga seraya mendorong tubuh Pandan Wangi.
__ADS_1
Pandan Wangi tak membantah, dia melangkah mundur menjauh. Dia percaya kalau Pendekar Rajawali Sakti itu dapat mengatasi kekebalan tubuh Buto Gendeng. Pandan Wangi memasukkan pedang pusakanya ke warangkanya. Sungguh dia tidak mengerb, pedang yang sangat dahsyat itu tidak berarti banyak buat Buto Gendeng. Mungkinkah manusia raksasa itu memiliki ilmu kekebalan yang sempurna? Kalau memang benar, tentu sukar bagi Rangga untuk mengalahkannya!
"Majulah! Hadapi aku!" geram Rangga
"Grrrh...!" Buto Gendeng menggeram sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo maju, biar kupecahkan kepalamu!" Rangga keras memancing kemarahan manusia raksasa itu.
Buto Gendeng menggerung-gerung marah. Matanya semakin merah. Gada sebesar paha manusia dewasa itu diayunkan-ayunkannya dengan cepat, sehingga menimbul-kan deru angin dahsyat bagaikan topan. Rangga sedikit goyah juga mendapat dorongan angin yang sangat dahsyat berhembus. Cepat-cepat dia mengeluarkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.
"Graaaghk...!" Buto Gendeng menggeram dahsyat.
Tiba-tiba saja gadanya dilayangkan ke tubuh Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya menghindari hantaman dahsyat dari gada Buto Gendeng. Secepat kilat dia menghantamkan pukulan yang disertai pengerahan tenaga dalam yang sempurna ke arah gada yang sangat besar itu.
Darrr!
Suara ledakan keras terdengar begitu tangan Rangga menghantam gada Buto Gendeng. Manusia raksasa itu menggeram dahsyat melihat gada miliknya pecah dan hancur. Cakala Pari yang berada tak jauh dari tempat pertempuran itu tersentak kaget melihat gada Buto Gendeng hancur dengan satu pukulan saja.
"Aaargh...!" Buto Gendeng meraung keras.
Sekuat tenaga dia melemparkan sisa gada tadi ke arah Rangga. Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti itu mengelak. Potongan gada itu meluncur deras melewari kepala Rangga, langsung menghantam dua orang berseragam kuning keemasan yang tidak sempat menghindar.
Begitu kerasnya lemparan Buto Gendeng, sehingga dua orang yang tersambar gada itu langsung ambruk tak bernyawa. Buto Gendeng menggeram kembali, langsung dia melompat menerjang Rangga. Manusia raksasa itu mengamuk membabi buta. Pohon-pohon dan tembok hancur berkeping keping terkena hantaman tangan Buto Gendeng yang dahsyat. Rangga sedikit kerepotan juga menghadapi amukan manusia raksasa itu, tapi masih sempat dia mendaratkan beberapa pukulan mautnya ke tubuh Buto Gendeng. 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' itu tidak juga membuat Buto Gendeng reda dari amukannya bahkan semakin menjadi-jadi.
"Gila! Semua pukulanku mentah " dengus Rangga.
"Awas, Kakang...!" teriak Pandan Wangi tiba-tiba.
Terlambat! Satu hantaman keras dari Buto Gendeng mendarat telak di dada Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu terpental sejauh dua batang tombak. Dia merasakan rongga dadanya sesak dan sulit untuk bernapas. Rangga buru-buru bangun dan melompat ketika melihat jejakan kaki Buto Gendeng. Bumi terasa bergetar begitu kaki manusia raksasa itu menghantam tanah.
Rangga segera mengumpulkan hawa murni untuk mengusir rasa sesak di dadanya. Pelahan-lahan dada Pendekar Rajawali Sakti itu terangkat, lalu tertahan beberapa saat, tak lama kemudian dadanya mengempis turun kembali. Buto Gendeng seperti tertegun melihat perbuatan lawannya yang dirasanya aneh itu.
"Terpaksa, aku harus menggunakan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'," gumam Rangga.
Sret!
Sinar biru membias terang menyilaukan begitu pedang Rajawali Sakti itu keluar dari warangkanya. Rangga bagaikan sesosok malaikat maut yang siap mencabut nyawa dengan pedang sakti di tangannya. Buto Gendeng melangkah mundur dua tindak, kedua matanya menyipit memandang pedang yang berpamor sangat luar biasa itu. Cakala Pati yang sedari tadi menyaksikan jalannya pertarungan itu juga terperangah takjub melihat cahaya biru berkilauan menyilaukan mata. Rangga bergerak perlahan menggeser kakinya ke kanan Kedua matanya menatap tajam pada Buto Gendeng. Pedang pusakanya menyilang di depan dada.
"Majulah, aku akan menyerah kalau kau mampu menandingi pedang pusakaku." kata Rangga menggeram.
"Grrr...!" Buto Gendeng menggeram pelan.
Buto Gendeng sedikit membungkuk, bergerak perlahan menyusur tanah mengikuti gerak ki Rangga. Kelihatan sekali kalau manusia raksasa itu mulai bersikap hati-hati dan memperhitungkan kekuatan lawannya, terutama pada pedang yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti itu. Mereka saling tatap dengan tajam, seolah sedang mencari jalan dan cara yang tepat untuk meringkus lawannya.
Sambil meraung keras, Buto Gendeng melompat cepat menerjang Rangga. Bagaikan seekor gorilla raksasa, Buto Gendeng meluruk seraya melayangkan pukulan keras. Rangga langsung melenting tinggi ke udara menghindari terjangan manusia raksasa itu. Bagaikan kilat kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti itu menghantam kepala Buto Gendeng secara beruntun.
Buto Gendeng menggerung keras menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia langsung berbalik cepat mengibaskan tangannya, namun Rangga sudah lebih cepat lagi melenting ke atas. Kembali kedua kakinya menghantam kepala manusia raksasa itu beberapa kali, hingga tubuh Buto Gendeng agak sempoyongan dibuatnya.
"mampu, kau! Hiyaaa...!" teriak Rangga lantang.
Seketika itu juga pedangnya berkelebat bagaikan kilat ke arah dada Buto Gendeng yang baru saja memutar tubuhnya. Buto Gendeng meraung keras. Badannya terdorong mundur beberapa langkah. Ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti itu berhasil menggores kulit dadanya. Darah segar mengucur dari luka panjang di dada yang berbulu lebat itu.
"Sekarang giliran leher, hiyaaa...!" teriak Rangga seraya melompat cepat
Pedang yang memancarkan sinar biru itu kembali berkelebat cepat ke arah leher Buto Gendeng. Manusia raksasa itu meraung keras sambil membekap lehernya yang terbabat pedang Pendekar Rajawali Sakti. Kali ini Rangga bdak mau lagi memberikan kesempatan, satu tendangan geledek dia sarangkan ke dada, dan satu sabetan pedang lagi menghajar perut.
Buto Gendeng semakin keras meraung. Darah bercucuran deras membasahi tubuhnya. Melihat manusia raksasa itu sudah tidak berdaya lagi, Pandan Wangi yang memang sudah kesal dan mendendam, langsung melompat memberikan tendangan beruntun ke dada. Buto Gendeng bagaikan boneka raksasa mainan sekarang menjadi bulan-bulanan Rangga dan Pandan Wangi.
"mampu, kau! Hiyaaa...!" teriak Pandan Wangi melengking tinggi.
Secepat kilat dia melompat dan menusukkan ujung kipasnya ke arah mata. Lagi-lagi Buto Gendeng meraung keras begitu dua biji matanya bolong bercucuran darah tertusuk ujung kipas Pandan Wangi. Belum lagi manusia raksasa itu berhenti meraung, tiba-tiba secercah cahaya biru berkebebat bagai kilat, dan...
Cras!
Buto Gendeng tak mampu lagi bersuara. Sebentar tubuhnya bergetar kemudian ambruk dengan kepala terpisah dari leher. Darah semakin deras mengucur dari tubuh yang penuh luka. Tubuh Buto Gendeng menggelepar-gelepar di tanah kemudian diam tak mampu bergerak lagi.
"Serang...! Bunuh mereka...!" Cakala Pati segera memerintahkan orang-orangnya.
Orang-orang yang sebenarnya sudah gentar itu berlompatan sambil berteriak-teriak mengacung-acungkan senjatanya. Tidak kurang dari lima belas orang meluruk menyerbu Rangga dan Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti merasa tak perlu menggunakan pedangnya, dia segera memasukkan pedang Rajawali Sakti ke dalam warangkanya di punggung.
Lain halnya dengan Pandan Wangi yang sudah muak dan geram. Dia langsung mencabut pedang pusakanya, dan mengamuk menghajar orang-orang berseragam kurang keemasan itu. Rangga jadi tak mempunyai ruang gerak, akhimya dia melompat minggir dan hanya berdiri mengawasi. Hanya menghadapi Pandan Wangi saja orang-orang itu sudah berantakan. Jerit lengking kematian terdengar saling menyusul. Pandan Wangi mengamuk bagaikan singa betina terluka. Setiap kali pedang dan kipasnya bergerak, setiap kali itu pula dua nyawa melayang.
Menyadari tidak akan mampu menghadapi dua sejoli pendekar itu, Cakala Pati langsung mencelat kabur. Rangga yang sejak tadi mengawasi, tidak membiarkan laki-laki tua licik itu melarikan diri. Dia langsung mengejar dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.
__ADS_1
********************