
Tanpa ragu-ragu lagi Wulan menceritakan semua tentang Cupu Manik Tunjung Biru yang diketahuinya. Wulan merasa yakin kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak seperti tokoh-tokoh lain yang datang hanya untuk merebut benda yang bukan miliknya.
Rangga mendengarkannya dengan serius. Sedikit pun dia tidak bersuara sampai Wulan selesai dengan ceritanya. Bahkan sampai lama Wulan terdiam, masih juga belum membuka mulut.
Wulan memandang Jaka yang kelihatan tidur pulas di sampingnya. Hanya sebentar Jaka sadar tadi, lalu merasa lelah dan mengantuk. Sampai sekarang Jaka belum juga bangun. Wulan kembali teringat pesan terakhir Eyang Resi Suralaga dan Kakek Atmaya.
"Kau tunggu di sini, Wulan," kata Rangga tiba-tiba seraya bangit berdiri.
"Kau akan ke mana?" tanya Wulan
"Ke Goa Larangan," sahut Rangga.
"Untuk apa ke sana?"
"Aku akan mencoba masuk ke dalam goa itu, Wulan," ujar Rangga sambil berbalik menghadap ke muka goa.
"Rangga...!" teriak Wulan mencemaskan kepergian Rangga yang nekat ingin masuk ke goa itu. Sebab banyak pihak lain yang tidak akan membiarkan Rangga masuk begitu saja!
"Mengambil Cupu Manik Tunjung Biru. Jangan khawatir, cupu itu akan menjadi milik kalian berdua."
"Aku tidak yakin benda itu ada di sana," Wulan setengah bergumam.
"Kau bilang, selama ini tinggal di goa itu. Berarti Eyang Resi Suralaga juga tinggal di sana. Aku yakin beliau pasti menyimpan benda itu di sana juga."
"Aku kenal betul Goa Larangan, tapi aku belum pernah melihat benda itu. Namanya saja baru dengar sekarang-sekarang ini," polos sekali Wulan berkata.
"Tidak ada salahnya kan aku ke sana?"
"Mereka tidak akan membiarkanmu masuk ke goa itu."
"Aku akan coba." Rangga segera melangkah, tapi...
"Rangga..," suara Wulan agak tersekat di tenggorokkan.
Rangga berbalik. Dilihatnya Wulan telah berdiri. Tampak bagian atas bajunya terbuka. Kulit dada yang putih terlihat jelas seakan dua bukit kembarnya ingin keluar. Darah muda Pendekar Rajawali Sakti sedikit bergetar melihat pemandangan itu. Cepat-cepat dialihkan perhatiannya ke arah lain.
Wulan menangkap sikap Rangga, jadi merasa canggung dan serba salah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menutupi dadanya yang terbuka. Hanya tangannya saja yang sibuk agar kemulusan tubuhnya sedikit tidak terlihat oleh orang lain. Keadaanlah yang membuatnya menahan malu.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Budimu terlalu besar bagi kami berdua," pelan suara Wulan.
"Ah, sudahlah. Aku senang jika dapat mengembalikan cupu itu padamu," sahut Rangga.
Wulan ingin berkata lagi, tapi Rangga telah lebih cepat menghilang dari hadapannya. Cepat sekali Rangga pergi, sampai-sampai gadis itu tidak melihat arahnya pergi. Wulan menarik napas panjang, lalu kembali duduk di samping Jaka yang terbaring lelap.
Mata Wulan merayapi wajah Jaka yang tampak lelap. Seolah-olah baru disadarinya kalau laki-laki yang selama sekian tahun selalu bersama-sama bukan saudaranya. Wulan seperti baru pertama kali melihat wajah Jaka yang tampan, yang selama ini lepas dan perhatiannya. Rasanya tidak berlebihan kalau dua kakeknya menginginkan Wulan dan Jaka menjadi sepasang pendekar suami istri.
"Jaka...," Wulan mendesah ketika melihat kelopak mata Jaka bergerak-gerak.
Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu perlahan-lahan membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Wulan yang duduk di sampingnya. Pelan-pelan dia berusaha bangun. Tubuhnya memang masih terasa lemah, tapi kesegaran mulai merambat ke seluruh tubuhnya. Jaka duduk bersandar di pohon.
"Wulan...!" Jaka tersentak kaget ketika melihat keadaan Wulan yang sobek-sobek bajunya "Kau.... Kenapa begini?"
"Aku..., aku tidak apa-apa. Hanya bajuku saja yang rusak," sahut Wulan. "Seorang pendekar telah menolong kita."
"Pendekar...?"
"Iya. Dia menamakannya Pendekar Rajawali Sakti"
Jaka berusaha mengingat-ingat. Rasanya tidak pernah dengar nama itu. Namun begitu, dalam hatinya mengucapkan terima kasih pada pendekar yang telah menolong mereka.
"Dia yang tadi pagi bersama kita," kata Wulan seolah-olah mengingatkan..
"Oh..., Itu," Jaka jadi teringat dengan laki-laki muda yang sebaya dengannya. Ternyata mata hatinya tidak salah menilai.
"Dia juga yang menyembuhkanmu dari racun Lima Golok Neraka," sambung Wulan.
Jaka langsung menatap Wulan. Dirasakan ada nada-nada aneh pada suara Wulan. Laki-laki itu memang masih muda dan tampan. Ilmunya pun sangat tinggi. Buktinya, dengan mudah Lima Golok Neraka dapat dikalahkannya. Tidak aneh kalau Wulan seperti terpikat karenanya. Secara jujur, Jaka cemburu juga. Namun dia tidak berusaha memperlihatkan cemburunya pada Wulan. Memang sulit bagi mereka untuk menghilangkan perasaan saudara yang telah tertanam sejak lama.
"Aku sudah ceritakan semuanya pada pendekar itu. Kau tidak keberatan, kan?" kata Wulan.
"Oh, tidak," sahut Jaka. "Asal kau tidak ceritakan tentang permintaan Eyang Resi dan Kakek Atmaya yang terakhir."
"Juga itu."
"Apa...?" Jaka kaget bukan main.
"Tapi ditanggapinya dengan baik . Katanya kita memang cocok untuk..." Wulan tidak melanjutkan ucapannya. Kepalanya tertunduk, tidak sanggup lagi meneruskan kata-kata yang hanya karangannya sendiri. Dia sebenarnya hanya ingin tahu perasaan Jaka saja.
__ADS_1
"Wulan..," Jaka meletakkan tangannya ke pundak gadis itu yang terbuka.
Seketika aliran darah Jaka seperti terhenti. Baru kali ini dia menyentuh pundak Wulan tanpa penghalang. Sangat halus kulit pundak itu. Rasanya Jaka seperti sulit bernapas. Debar jantungnya pun kian cepat berdetak.
Perlahan-lahan Wulan mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung tertuju pada satu titik perasaan yang sukar diungkapkan. Seketika dirasakan ada sesuatu yang lain pada dirinya. Dia tidak mengerti perasaan apa yang tengah melanda dirinya. Yang jelas, debar jantungnya jadi semakin kuat saja.
Tangan Jaka yang berada di pundak Wulan, perlahan-lahan merayap naik. Lalu dengan lembut jari-jari tangannya mengusap pipi yang halus bagai sutra. Wulan membiarkan saja ketika tangan itu secara perlahan-lahan menarik kepalanya. Dia malah memejamkan matanya ketika desah napas Jaka mengusap kulit wajahnya. Begitu hangat dan lembut.
Seketika itu juga, Wulan seperti terserang demam luar biasa ketika bibir Jaka menyentuh bibirnya dengan lembut Jaka merasakan seluruh tubuh Wulan menggigil. Cepat-cepat dilepaskan bibirnya yang memagut tadi. Sungguh mati, Jaka tidak tahu kenapa Wulan demikian.
"Wulan, kau kenapa?" tanya Jaka seperti orang bodoh.
"Aku...," Wulan tidak sanggup berkata-kata lagi. Wajahnya menyemburat merah. Kepalanya kembali tertunduk.
"Maafkan aku, Wulan. Tidak seharusnya aku berbuat seperti ini padamu," pelan suara Jaka.
Wulan mengangkat kepalanya. Mereka kembali saling pandang. Entah kenapa, tiba-tiba saja Wulan jadi seperti takut kehilangan Jaka. Apakah ini yang dinamakan cinta? Begitu cepatkah cinta itu datang?
"Kita akan selalu bersama kan, Kakang?" lirih suara Wulan.
"Tentu," sahut Jaka tersenyum.
Tanpa berpikir banyak, Wulan segera menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Jaka. Sesaat mereka saling berpelukan tanpa berkata-kata lagi. Kini hanya hati dan debar jantung mereka yang terpaut jadi satu. Mengalun dalam irama cinta yang indah.
Dengan jari-jari tangannya, Jaka mengangkat dagu gadis itu. Mata mereka kembali bertemu. Jaka secara lembut mendekatkan wajahnya. Yang terjadi kini hanya desahan napas dari dua insan berlainan jenis yang menyatukan bibir mereka dengan rapat. Anehnya, Wulan seperti sudah biasa saja melakukannya. Dibalasnya kecupan dan ******* bibir Jaka penuh dengan gelora cinta.
Mendapat balasan yang bergelora dari Wulan, gairah Jaka bangkit seketika. Pelan-pelan dibaringkan tubuh ramping itu di atas rerumputan. Tangannya kini mulai merayap menjelajahi tubuh indah yang terbaring pasrah. Luka yang ada pada tubuh Jaka seakan-akan lenyap saat itu juga, terbawa desah napas Wulan yang memburu hangat menggairahkan.
"Oh, Kakang...," desah Wulan.
********************
Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti semakin dekat dengan Goa Larangan. Malam yang berkabut tebal hanya menampakkan bayangan tubuhnya saja yang bergerak ringan bagai melayang di atas tanah. Tanpa disadari dua pasang mata mengawasi setiap geraknya yang tersembunyi tidak jauh dari situ.
"Uts!" tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti melompat.
Seberkas sinar kebiruan menyambar cepat ke arah tubuhnya. Untungnya Pendekar Rajawali Sakti selalu waspada. Sinar biru itu hanya lewat sedikit di bawah kakinya. Dua kali jumpalitan di udara, lalu dengan manis menjejakkan kakinya di tanah.
"Rupanya ada juga yang ingin main-main denganku," gumam Rangga pelan.
Baru saja selasai bergumam, sinar biru kembali meluncur menyambar tubuh Rangga. Pendekar ini hanya memiringkan tubuhnya sedikit, maka sinar itu hanya lewat di depan dadanya. Matanya yang tajam, segera dapat mengetahui dari mana datangnya sinar-sinar itu.
Dengan kekuatan luar biasa, tangan kanannya bergerak mengibas. Seberkas cahaya kemerahan pun meluncur deras dari telapak tangannya. Sinar itu langsung menghantam pohon besar tidak jauh darinya. Pohon itu pun tumbang tanpa menimbulkan suara ledakan sedikit pun.
Dari pohon yang tumbang itu, berkelebat dua sosok bayangan putih. Dalam sekejap saja di depan Rangga telah berdiri dua orang dengan pakaian, wajah, dan bentuk tubuh yang sama.
"Ah, rupanya Setan Kembar dari Gunung Wetan tertarik juga dengan kabar kosong," kata Rangga mengenali dua laki-laki kembar di depannya.
"Kami sudah mendengar nama besarmu, Pendekar Rajawali Sakti.
Beruntung sekali bisa bertemu di sini," kata Sencaka.
"Tentunya maksudku berbeda dengan kalian."
"Aku tidak peduli dengan alasanmu datang ke Bukit Batok. Yang jelas, siapa saja berani mendekati Goa Larangan, harus mati!" dingin suara Sencaki.
"Apa ada larangan seperti nama goa itu?" Rangga berlagak pilon.
"Aku yang melarang!" dengus Sencaki.
"Apakah goa ini milikmu?"
"Jangan banyak bacot!" bentak Sencaki yang tidak pernah dapat meredam emosi. Lain dengan saudara kembarnya yang lebih tenang dan kalem dalam wataknya. Mereka memang selalu sama dalam banyak hal, tapi dalam watak mereka berbeda jauh.
"Meskipun kau punya nama besar yang bisa membuat jantung orang copot tapi kami tidak gentar menghadapimu!" lanjut Sencaki.
"Aku pun tahu nama besar kalian, tapi aku muak dengan sepak terjang kalian!" Rangga tidak kalah dingin serta pedas suaranya.
"Bersiaplah untuk mati!" dengus Sencaki seraya mencabut senjata andalannya berupa sepasang pedang pendek melengkung.
Sret!
Sencaka pun telah mencabut senjata yang sama bentuknya dengan Sencaki. Rangga tetap berdiri tenang walaupun dua orang dari Setan Kembar telah mencabut senjatanya. Pendekar Rajawali Sakti sama sekali tidak menyentuh gagang pedangnya. Dia sengaja bersikap seolahlah meremehkan, untuk memancing kemarahan lawan.
"Cabut pedangmu!" dengus Sencaki.
Rangga hanya tersenyum tanpa mempedulikan bentakan Sencaki.
__ADS_1
"Jangan salahkan kami bila kau mati tanpa senjata," kata Sencaka. Suaranya masih terdengar tenang dan tanpa emosi.
"Silakan kalau kalian mampu"
Setan Kembar segera bergerak membuka jurus. Rangga masih tetap tenang, namun dua bola matanya tajam mengamati setiap gerakan lawan. Sambil berteriak nyaring, dua orang kembar itu melompat menyerang.
Sadar kalau lawan memiliki kepandaian cukup tinggi, Rangga melayaninya dengan jurus Cakar Raawali. Tubuhnya bergerak cepat menghindari setiap sabetan dan tusukan pedang lawan yang sangat berbahaya dan mematikan. Hingga pada saat yang tepat Rangga berhasil menyentil ujung pedang Sencaki. Namun dengan cepat Sencaki memutar pedangnya menyabet ke perut Rangga.
"Uh!" Rangga mendengus sambil menarik perutnya ke belakang.
Ujung pedang Sencaki lewat di depan perut Rangga. Tampaknya Sencaki tidak terpengaruh oleh sentilan jari Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan semakin ganas saja menyerang Demikian pula dengan saudara kembarnya yang selalu mendukung setiap serangan Sencaki. Tidak jarang ujung pedang Sencaka hampir bersarang di tubuh Pendekar Rajawali Sakti.
"Nampaknya mereka bisa menandingi jurus Cakar Rajawali. Hm..., akan kucoba lagi," bisik Rangga dalam hati.
Pada saat yang tepat pedang Sencaki masuk mengarah dada Pendekar Rajawali Sakti. Dengan cepat tangan Rangga bergerak menjepit pedang Itu dengan dua jarinya. Jepitan itu sangat kuat dan disertai pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Tapi hanya sekali sentak saja, Sencaki berhasil melepaskan jepitan itu Bahkan dia langsung memutar pedangnya mengarah ke leher. Rangga benar-benar terkejut.
Pendekar Rajawali Sakti tidak punya pilihan lain. Segera dikerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Seketika itu juga tubuhnya mencelat ke udara.
Pedang Sencaki hanya menyambar tempat kosong di bawah kaki Rangga. Tetapi sungguh di luar dugaan sama sekali. Setelah Pendekar Rajawali Saka melesat ke udara, ternyata Setan Kembar pun bisa melayang bagai burung. Apalagi serangan-serangan mereka juga semakin dahsyat. Baru kali ini Pendekar Rajawali Sakti menemui lawan yang mampu menandingi duel di udara. Sungguh lawan yang cukup tangguh. Kibasan-kibasan tangan pendekar muda itu selalu dapat dihindari lawan. Namun serangan-serangan balasan Setan Kembar juga tidak kalah dahsyatnya. Empat buah pedang pendek seperti mengurung Pendekar Rajawali Sakti.
"Sungguh hebat kalian," puji Rangga dalam hati.
Dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya. Kini dia melesat tinggi, lalu secepat itu pula menukik dengan kaki bergerak mengancam kepala lawan. Jelas, ini adalah jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Begitu cepat gerakan kakinya, sehingga membuat Setan Kembar kewalahan. Secepat itu pula mereka merubah jurusnya.
Kembali pertarungan berjalan seimbang. Rangga terus saja menukik turun dan menjejakkan kakinya di tanah dengan gerakan indah. Setan Kembar juga segera turun sambil terus menyerang, membuat Pendekar Rajawali Sakti sedikit kewalahan juga.
"Terpaksa harus kugunakan jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali" dengus Rangga dalam hati.
********************
Ketika Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya, baru kelihatan kalau lawan mulai terdesak sedikit demi sedikit. Gerakan pendekar muda ini selalu penuh tipuan. Bahkan setiap pukulannya mengandung hawa panas yang luar biasa. Hal ini membuat Setan Kembar menjadi kacau dalam permainan jurus-jurusnya.
"Hm..."
Rangga mendengus ketika melihat Sencaki sedikit lowong pertahanannya. Dengan cepat dimiringkan tubuhnya menghindari tebasan pedang Sencaka. Tapi tanpa diduga, tangan kirinya menyodok iga Sencaki yang kosong.
Sencaki yang tengah memusatkan perhatiannya pada kaki lawan, benarenar terkejut Padahal dia tadi ingin cepat-cepat melompat, tapi pukulan tangan kiri Rangga bagai kilat datangnya. Tanpa ampun lagi iga Sencaki terhantam Pukulan Maut Paruh Rajawali.
"Aaaakh!" Sencaki memekik keras.
Sencaki terjungkal beberapa langkah ke belakang. Tampak pada bagian iganya seperti hangus terbakar. Warna hitam sebesar kepalan tangan menghanguskan bajunya, tembus sampai ke bagian tubuh. Melihat saudara kembarnya terkena pukulan, Sencaka pun memperhebat serangannya. Dua pedang pendeknya berkelebat cepat mengancam tubuh Pendekar Rajawali Sakti.
Sementara itu Sencaki yang roboh, berusaha bangun kembali Mulutnya meringis kesakitan merasakan tulang-tulang iganya remuk. Cepat digerakkan jari-jari tangannya ke bagian sekitar luka hitam di iga. Walaupun masih terasa nyeri, Sencaki bergerak berdiri.
"*******!" umpat Sencaki geram.
Segera dia terjun lagi dalam pertarungan. Sencaka agak senang juga melihat saudaranya mampu melanjutkan pertarungan lagi. Sedangkan Rangga sedikit terkejut karena pukulan mautnya tidak membuat lawan tewas. Bahkan kini mampu menyerang kembali dengan ganas.
Sret!
Rangga tidak ada pilihan lagi. Segera dicabut pedang saktinya. Seketika keadaan malam yang diliputi kabut menjadi terang oleh sinar biru yang terpancar dari pedang pusaka itu.
Betapa terkejutnya Setan Kembar melihat pamor pedang itu. Tapi rasa terkejut itu pun lenyap ketika Rangga mengibaskan pedangnya.
Trang! Trang!
Dua kali terdengar senjata berbenturan. Kali ini Setan Kembar terlonjak dan langsung mencelat mundur dua langkah. Mata mereka membelalak melihat sebuah pedang mereka masing-masing buntung. Bahkan akibat benturan itu, tangan mereka seperti kaku.
Rasa kaget yang menyentak jantung mereka belum lagi hilang, Rangga kini kembali menyerang dengan menggunakan jurus gabungan antara Cakar Rajawali dengan Pukulan Maut Paruh Rajawali.
"Awas...!" seru Sencaka keras.
Sencaki yang masih dalam keadaan terluka, tidak dapat mengelak cepat. Terpaksa ditangkisnya pedang yang mengancam jiwanya.
Trang! Pedang Sencaki buntung!
Dan tanpa diduga sama sekali, pedang Rangga terus menerobos tanpa henti.
"Aaaakh...!" Sencaki menjerit melengking.
Pedang itu telah membuat leher Sencaki hampir putus. Sebentar masih mampu bertahan, tapi tak lama ambruk dan menggelepar di tanah. Darahnya mengucur deras dari leher yang koyak.
"Sencaki...!" teriak Sencaka kaget. Benar-benar hampir tak percaya Sencaka melihat saudara kembarnya tewas mengerikan.
Sencaka memang tidak bisa berbuat banyak lagi. Pedang itu kini telah berkelebat lagi mengancam dirinya. Pikirannya cerdik. Dia tidak mau mengambil resiko dengan menghadang pedang itu dengan pedangnya. Cepat-cepat dia melompat sejauh satu tombak ke belakang. Pedang Pendekar Rajawali Sakti hanya menebas bagian kosong.
"Kubunuh kau, *******!" geram Sencaka. Secepat kilat Sencaka menyerang Rangga dengan melompat. Tapi kalah cepat dengan Rangga. Karena baru saja akan melompat, pedang Rangga telah lebih dulu mengibas. Sencaka yang dirasuki amarah tidak dapat lagi menghindar. Pedang itu tepat menancap di dadanya. Dengan satu jeritan melengking panjang, tubuh Sencaka roboh mandi darah.
__ADS_1
Rangga kembali memasukkan pedang pusaka ke dalam sarung di punggung. Kembali gelap menyelimuti sekitarnya. Sebentar Rangga memandangi dua mayat lawannya, lalu cepat melompat ke arah mulut goa.
********************