Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Naga Merah Bag. 4


__ADS_3

Malam gelap yang dingin menyelimuti seluruh Lembah Bunga Bangkai. Angin bertiup sedikit keras menyebarkan aroma tidak sedap. Sepanjang hari di lembah ini selalu tercium bau seperti bangkai. Dan setiap setahun sekali di lembah ini selalu tumbuh sejenis bunga yang menyebarkan bau busuk selama tujuh hari. Itulah sebabnya lembah ini dinamakan Lembah Bunga Bangkai. Tidak ada seorang pun yang bersedia tinggal di situ. Masuk ke daerah sekitar lembah ini pun enggan.


Ki Rangkuti berdiri tepat di tengah-tengah batu besar menantang sang dewi malam yang berada tepat di tengah-tengah atas kepala. Sudut ekor matanya melirik Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat yang bersembunyi agak jauh dan tempatnya berdiri.


"Hik hik hik..!" tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik, menggema ke seluruh dataran Lembah Bunga Bangkai ini.


Ki Rangkuti memiringkan sedikit kepalanya, mencoba mencari arah suara tawa tadi. Belum juga dapat menentukan arahnya tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan merah keluar dari gerumbul semak belukar di depan laki-laki tua itu.


"Nyi Rongkot...!" Ki Rangkuti terkejut begitu mengetahui siapa yang kini berdiri di depannya.


­"Hik hik hik..., kau masih ingat aku Pendekar Jari Baja? Lama sekali kita tidak pernah lagi bertemu " perempuan tua yang masih kelihatan garis-garis kecantikannya itu menyebut julukan Ki Rangkuti.


Memang pada masa mudanya dulu ketika malang-melintang dalam rimba persilatan Ki Rangkuti punya Julukan Pendekar Jari Baja. Karena dia punya satu Jurus yang membuat kesepuluh jari-jari tangannya sekuat baja Tidak ada lawan yang mampu menandingi jurus, yang dinamakan 'Sepuluh Jari Baja’ itu.


“Hm... kau membawa kedua sahabatmu. Kenapa mereka bersembunyi seperti tikus? Undanglah mereka ke sini agar bisa jadi saksi pada malam ini " kata Nyi Rongkot setengah bergumam.


Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat yang mendengar semua kata-kata itu jadi terkejut juga. Tidak disangka sama sekali kalau Nyi Rongkot mengetahui kehadiran mereka di lembah Bunga Bangkai ini.


Merasa kehadirannya sudah diketahui, kedua orang itu keluar dan tempat persembunyiannya. Mereka melangkah menghampiri dan berhenti setelah jaraknya dengan Ki Rangkuti. sekitar tiga batang tombak lagi. Nyi Rongkot mengikik kecil melihat kedua sahabat Ki Rangkuti sudah menampakkan diri.


“Apa maksudmu meminta aku datang ke sini Nyi Rongkot?" tanya Ki Rangkuti.


“Aku hanya meminta anakku," sahut Nyi Rongkot


Ki Rangkuti mendengus keras mendengar jawaban yang memang sudah diduga sebelumnya ketika perempuan itu muncul. Sedangkan Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat terkejut sekali mendengarnya. Dia tidak tahu maksud kata-kata Nyi Rongkot barusan. Mereka memang sudah mengetahui siapa perempuan berbaju serba merah ini.


Nyi Rongkot masih terhitung saudara sepupu Ki Rangkuti. Dulu ketika sama-sama masih muda, mereka tidak pernah akur dalam setiap langkah. Di samping itu, jalan hidup mereka berdua memang saling bertentangan. Ki Rangkuti dikenal sebagai Pendekar Jari Baja yang berjalan lurus. Sedangkan Nyi Rongkot sampai sekarang masih malang-melintang dengan julukan Ular Betina. Itulah sebabnya kenapa pada waktu puncak acara peresmian Padepokan Jatiwangit Ki Rangkuti kelihatan tidak menyukai kehadiran Nyi Rongkot.


"Dia bukan anakmu, Nyi Rongkot! Dia tidak pernah kenal siapa ibunya yang sebenarnya. Kau mencampakkan begitu saja saat dia memerlukan kasih sayang seorang ibu. Apakah pantas kau meminta dan mengakuinya sebagai anak? Tidak! Sekar Telasih bukan anakmu! Dia anakku! Aku yang merawat dan membesarkannya sejak masih bayi merah!" Ki Rangkuti membeberkan semuanya dengan suara keras dan tegas.


"Aku hanya menitipkan Sekar Telasih padamu. Bukan untuk mengakuinya sebagai anak!" dengus Nyi Rongkot alias Ular Betina.


"Apapun namanya kau telah membuang anakmu sendiri. Darah dagingmu!” sentak Ki Rangkuti gusar.


"Rangkuti! Suka atau tidak, kau harus mengembalikan anakku!” geram Nyi Rongkot.


“Tidak! "


­Nyi Rongkot menggeram marah. Matanya menyala-nyala menatap tajam pula. Sementara dua orang yang berdiri di belakang Ki Rangkuti perlahan-lahan melangkah mundur menjauh. Mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan yang bersifat pribadi ini.


Dewa Pedang Emas menggeser kakinya mendekati Bayangan Malaikat. Sepasang bola matanya tetap terarah pada Nyi Rongkot yang berdiri tegak di depan Ki Rangkuti. Beberapa saat lamanya suasana di Lembah Bunga Bangkai ini jadi sepi senyap.


“Kau mengetahui persoalan itu Bayangan Malaikat?” tanya Dewa Pedang Emas berbisik.


"Tidak Aku sendiri agak terkejut juga mendengarnya," sahut Bayangan Malaikat terus terang.


"Tidak kusangka kalau Sekar Telasih anak Ular Betina," Dewa Pedang Emas setengah bergumam.


"Segalanya bisa terjadi dalam dunia ini," sahut Bayangan Malaikat.


''Ya, dan kita tidak mungkin mencampurinya.”


"Benar, sebaiknya kita hanya menjadi saksi saja. "


Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat duduk di bawah pohon yang besar dan rindang. Dua pasang mata tetap tertuju ke depan dengan telinga terpasang lebar mendengarkan semua pembicaraan yang sudah menghangat.


Sementara itu Nyi Rongkot menyumpah-nyumpah kesal karena Ki Rangkuti masih tetap tidak ingin menyerahkan Sekar Telasih. Begitu marahnya ia sehingga seluruh otot-otot lengannya menegang bersembulan. Wajahnya semakin memerah-saga menahan kemarahan. Sedangkan Ki Rangkuti yang mengenal persis watak saudara pupunya ini sudah bersiap-siap jika Nyi Rongkot main kekerasan.


"Aku beri kesempatan sekali lagi, Rangkuti! Pilih salah satu, serahkan Sekar Telasih atau kau mati!” kata Nyi Rongkot mengancam.


"Sekali aku bilang tidak, tetap tidak!” sahut Ki Rangkuti tegas.


"Kau memilih ****** Rangkuti!" geram Nyi Rongkot.


“Itu lebih baik berarti kau sengaja membiarkan Sekar Telasih jatuh ke tangan Buto Dungkul!" sinis suara Ki Rangkuti


"Ha ha ha...!" Nyi Rongkot tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ki Rangkuti. “Dasar kakek tua jompo! Sudah pikun masih sok jual lagak. Apakah kau tidak ingat dengan surat pertamaku, heh?”


"Setan demit! Rupanya kau bersekutu dengan manusia liar itu!" geram Ki Rangkuti menyadari apa yang telah terjadi selama ini.


"Hik hik hik...! Nyi Rongkot hanya tertawa mengikik


"Kubunuh kau iblis!” geram Ki Rangkuti


"Kau tidak akan mampu, Rangkuti...."


''Yeaaah...! "


Ki Rangkuti yang sudah muak melihat tingkah saudara sepupunya ini langsung melompat menyerang. Kedua tangannya bergerak cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh Nyi Rongkot begitu kakinya menjejak tanah. Mendapat serangan yang cepat disertai pengerahan tenaga dalam membuat Nyi Rongkot berkelit sambil mengebutkan tongkat berbentuk ularnya.


Pertarungan dua saudara yang bertentangan itu berlangsung cepat dengan menggunakan jurus-jurus maut dan berbahaya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pertarungan sudah berjalan tidak kurang dan sepuluh jurus. Namun sampai saat ini belum ada yang kelihatan terdesak. Pertarungan masih berjalan seimbang dan cepat.


"Kau melihat ada kejanggalan dalam pertarungan itu Bayangan Malaikat?” tanya Dewa Pedang Emas.


"Ini bisa berbahaya kalau Rangkuti tidak cepat menyadarinya," gumam Bayangan Malaikat.


Cara bertarung Ular Betina yang ogah-ogahan itu rupanya juga disadari oleh Ki Rangkuti. Hal ini bukannya membuat Ki Rangkuti jadi enggan, tapi malah semakin bernafsu untuk menjatuhkan lawan. Dia merasa kalau ulah Ular Betina yang tidak sungguh-sungguh hanya meremehkan dirinya saja.


Pada satu ketika, tangan kanan Ki Rangkuti menerobos masuk ke arah dada Ular Betina. Begitu cepatnya sodokan tangan itu sehingga membuat perempuan tua itu jadi terkejut. Buru-buru diangkat tongkatnya dan disilangkan ke dada.


"Uts!”


Ki Rangkuti yang sudah mengetahui kehebatan tongkat ular Nyi Rongkot, segera menarik tangannya kembali. Dia tahu kalau tongkat itu mengandung racun yang sangat mematikan. Hanya pemiliknya saja yang kebal terhadap racun tongkat maut itu.


Begitu menarik tangannya pulang, secepat kilat Ki Rangkuti mengangkat kakinya, mengibas ke arah pinggang. Nyi Rongkot menarik tongkatnya ke samping menjaga pinggangnya dari sepakan kaki lawan. Lagi-lagi serangan Ki Rangkuti gagal total sebelum mencapai tujuan.


"Keluarkan keris Panca Nagamu, Rangkuti!" seru Nyi Rongkot.


Selesai berkata begitu Nyi Rongkot mengibaskan ujung tongkatnya mengarah ke dada lawan. Begitu cepatnya kibasan itu sehingga membuat Ki Rangkuti tidak bisa lagi menghindar. Jalan satu-satunya adalah menangkis. Padahal dia sekarang dalam keadaan kosong tanpa senjata. Secepat kilat Ki Rangkuti mencabut kerisnya yang berlekuk lima.


Tring!


Dua senjata beradu keras tepat di depan dada Ki Rangkuti. Bunga-bunga api memercik begitu dua senjata beradu. Pada saat itu juga Ki Rangkuti merasakan tangannya bergetar kesemutan. Buru-buru dia melompat mundur tiga langkah.


"Hik hik hik... !" Nyi Rongkot terkikik dengan tongkat menyilang di depan dada.


Bola matanya berbinar melihat keris hitam legam tergenggam di tangan Ki Rangkuti. Tatapannya tertuju pada ujung keris yang berlekuk lima. Dari ujungnya yang runcing mengepulkan asap hitam yang sangat bau menyengat hidung. Tidak ada seorang pun yang sanggup bertahan lama mencium bau busuk yang terpancar dari keris Pancanaga itu.

__ADS_1


­Nyi Rongkot menghirup dalam-dalam uap busuk yang tersebar di sekitarnya. Cuping hidungnya kembang-kempis seolah tengah menikmati bau yang harum menyegarkan. Jelas sekali kalau dia begitu kesenangan menghirup bau busuk yang keluar dari keris Pancanaga milik Ki Rangkuti.


Sementara dua orang yang duduk di bawah pohon mulai mengerahkan hawa murni untuk menghalau bau busuk yang semakin lama semakin menyengat hidung Kalau mereka orang biasa atau hanya memiliki tingkat kepandaian pas-pasan mungkin sudah sejak tadi muntah-muntah dan pingsan Dan begitu melihat Nyi Rongkot seperti kenikmatan menghirup udara busuk mata mereka jadi terbelalak seperti tidak percaya dengan penglihatan sendiri.


“Gila! Bagaimana mungkin dia bisa tahan oleh asap Pancanaga?” dengus Ki Rangkuti keheranan melihat Nyi Rongkot sedikitpun tidak terpengaruh oleh uap berbau busuk itu.


“Ah... segar sekali rasanya,” desah Nyi Rongkot sambil menghirup udara yang berbau busuk dalam-dalam.


"Hesss... hih!' Ki Rangkuti menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kuat. Bersamaan dengan itu, secepat kilat dia melompat sambil menghunus kerisnya. Uap hitam mengepul tebal keluar dari kelima lekukan keris berwarna hitam kelam itu. Nyi Rongkot memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan Tusukan keris itu lewat sedikit di depan dadanya. Lalu dengan cepat dihentakkan tongkatnya menghalau keris Pancanaga.


­Trak!


“Akh!” Ki Rangkuti memekik tertahan.


Tanpa dapat dicegah lagi, keris dalam genggamannya terpental tinggi ke udara. Dan pada saat itu meluncur sebuah bayangan menyambar keris Pancanaga yang melayang deras ke angkasa. Ki Rangkuti melenting dua kali berputar di udara lalu mendarat dengan kaki sempoyongan sejauh dua tombak dari Ular Betina itu.


Nyi Rongkot yang melihat ada sebuah bayangan meluncur deras menyambar keris Pancanaga langsung melesat cepat mengejar bayangan itu. Ujung tongkatnya terhunus mengarah ke bayangan yang sudah menyambar keris hitam di udara.


Buk!


“Ikh!” Nyi Rongkot terpekik


Tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya meluruk deras ke bawah. Namun dengan manis sekali mampu menjejak tanah dengan kedua kakinya. Bayangan itu juga menukik deras turun ke bawah. Nyi Rongkot menggeram hebat dengan bola mata memerah nyalang.


"Setan! "


Seorang laki-laki muda dan tampan berdiri tegak di antara dua tokoh sakti yang tadi bertarung sengit. Di tangan kanannya tergenggam keris hitam Pancanaga. Tampak di punggungnya bertengger sebilah pedang bergagang kepala rajawali. Dengan baju rompi putih, sudah dapat dikenali siapa pemuda tampan gagah itu. Dia Pendekar Rajawali Sakti.


Pendekar Rajawali Sakti atau Rangga, menatap Nyi Rongkot sebentar, lalu beralih pada Ki Rangkuti yang berdiri sambil memegangi tangan kanannya sendiri. Tampak darah mengucur dari jari-jari tangannya. Luka di tangannya terjadi akibat hentakan keras disertai tenaga dalam yang cukup sempurna dari tongkat Ular Nyi Rongkot tadi.


"Kau terkena racun berbahaya, Paman," kata Rangga sambil melangkah menghampiri.


Ki Rangkuti membiarkan saja tangannya dipegang oleh Pendekar Rajawali Sakti itu. Jari-jari tangan Rangga bergerak cepat menotok sekitar pergelangan tangan yang mulai membiru kehitaman. Lalu di serahkan keris Pancanaga pada Ki Rangkuti. Tentu saja laki-laki tua itu jadi keheranan dengan sikap anak muda yang jelas-jelas berpihak kepadanya.


"Keluarkan darah yang mengandung racun. Gunakan pisau biasa," kata Rangga.


Belum sempat Ki Rangkuti mengucapkan apa-apa, Pendekar Rajawali Sakti sudah meninggalkannya. Rangga melangkah menghampiri Nyi Rongkot yang menyumpah-nyumpah karena serangannya gagal akibat campur tangan anak muda yang kini sudah berdiri di depannya.


"Setan belang! Minggir! Jangan coba-coba campuri urusanku!" bentak Nyi Rongkot geram.


"Aku tidak akan mencampuri urusanmu kalau kau tidak berlaku kejam,” sahut Rangga kalem.


"Buka matamu lebar-lebar, bocah. Siapa di antara aku dan dia yang paling kejam?!" sinis suara Nyi Rongkot


"Aku sudah tahu semua dan sudah berada di sini sebelum kalian semua datang. Tidak sepatutnya kau menuntut dengan cara begitu. Pertumpahan darah bukan penyelesaian yang terbaik,” tenang sekali Rangga berkata.


“Edan! Monyet buntung! Sebutkan gurumu! Lancang sekali kau berkhotbah di depanku. Apa matamu sudah buta sehingga tidak melihat siapa yang ada di depanmu heh?!” merah padam muka Nyi Rongkot


Kata-kata Pendekar Rajawali Sakti yang tenang. Sangat tepat menusuk jantung. Rangga tahu siapa yang berdiri di depannya ini. Dia seorang tokoh tua yang pilih tanding. Tapi jelas Rangga tidak bisa melihat kekejaman berlangsung di depan matanya.


“Aku tahu siapa kau. Perempuan tua yang berjuluk Ular Betina. Perempuan yang tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri. Apakah pantas setelah kau menyerahkan anakmu sendiri, lalu kau meminta kembali dengan cara paksa? Membunuh sepuluh orang yang tidak berdosa! Dan sekarang, kau hampir membunuh orang yang mengurus dan membesarkan anakmu. Semua orang pasti akan mengutukmu, Nyi Rongkot!"


"Bedegul! Berani kau berkata begitu padaku!"


"Anak kecil pun akan mengatakan begitu padamu.”


Selesai memaki Nyi Rongkot berteriak nyaring. Tongkatnya dikebutkan dengan cepat sambil melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Kemarahan yang sudah meluap membuat Ular Betina itu langsung menyerang dengan jurus-jurus maut.


Tongkat berbentuk ular berkelebatan cepat menimbulkan suara angin menderu-deru di sekitar tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Setiap kibasannya mengandung hawa dingin menusuk tulang. Hawa yang mengandung uap racun dahsyat mematikan. Tapi semuanya tidaklah berarti sama sekali bagi Pendekar Rajawali Sakti yang kebal terhadap segala jenis racun.


Dalam tubuh Rangga sudah mengandung zat penangkal segala jenis racun yang sudah menyatu dalam aliran darahnya. Dua puluh tahun tinggal di lembah Bangkai, selama itu pula hanya memakan jamur yang mengandung khasiat penawar segala jenis racun.


Ular Betina semakin mengkelap melihat lawannya tidak terpengaruh sama sekali dengan uap racun yang keluar dan tongkat saktinya. Biasanya tidak ada seorang lawan pun yang sanggup melayani kalau jurus Tongkat Beracun sudah keluar dalam sepuluh jurus. Tapi kini sudah lebih dari sepuluh jurus Pendekar Rajawali Sakti itu masih mampu menandinginya. Bahkan tidak sedikit pun kelihatan terdesak. Malahan tidak jarang memberikan serangan balasan yang cukup berbahaya.


“Mampus kau hih!" dengus Nyi Rongkot geram.


Seketika diputar tongkatnya dengan cepat dari bawah ke atas. Rangga hanya menundukkan kepalanya sedikit dan tongkat itu mendesing di atas kepalanya. Begitu serangannya lewat menerpa angin Nyi Rongkot cepat menarik tongkatnya sedikit dan dengan kecepatan kilat ditusukkan tepat ke arah dada Rangga.


Pendekar muda ini memiringkan tubuhnya ke kanan. Ujung tongkat itu lewat di depan dadanya. Dengan jarinya disentil tepat pada ujung tongkat yang runcing. Nyt Rongkot terkejut karena dari ujung tongkat sampai pangkal lengannya bergetar ketika ujung tongkatnya tersentil.


“Kurang ajar, hih!" Nyi Rongkot mengumpat sambil cepat-cepat menarik kembali tongkatnya.


Tepat ketika Nyi Rongkot menarik pulang tongkat ularnya, kaki Rangga melayang deras ke atas. Buk! Tanpa dapat dicegah lagi kibasan kaki yang cepat bagai geledek itu menghantam dadanya. Nyi Rongkot mengeluh pendek. Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang. Cepat digerakkan tangannya untuk menghilangkan rasa sesak yang menyelimuti dadanya.


Rangga berdiri tegak bertolak pinggang. Bibirnya tersenyum tipis mengejek. Nyi Rongkot mendengus geram langsung menyilangkan tongkatnya di depan dada: Kemudian dengan cepat diputarnya tongkat itu bagai baling-baling. Suara angin menderu-deru bagai hendak ada badai topan.


Dengan tiba-tiba perempuan tua itu menghantam ujung tongkatnya ke tanah. Lalu secepat kilat dia memindahkan ujung tongkat ke dalam genggaman Pelan-pelan tangannya mengangkat tongkat itu.


“Naga Merah...!” teriak Nyi Rongkot tiba-tiba.


Bersamaan dengan terdengarnya teriakan itu, mendadak tongkat sakti Ular Betina berubah jadi seekor ular berwarna merah menyala. Rangga tersentak kaget, dan langsung melompat mundur sejauh satu batang tombak. Ular di tangan Nyi Rongkot meliuk-liuk dengan suara mendesis-desis. Dari mulutnya keluar asap kemerahan seirama dengan suara desisannya.


“Celaka! Anak muda itu bisa mati!” sentak Ki Rangkuti yang kini sudah didampingi oleh dua sahabatnya.


“Jarang sekali Nyi Rongkot mengeluarkan ilmu Naga Merahtnya,” gumam Dewa Pedang Emas.


“Kita harus mencegah sebelum terlambat,” kata Bayangan Malaikat.


“Mustahil! Ilmu Naga Merah tidak bisa ditarik sebelum mendapatkan korban,” dengus Ki Rangkuti.


Dua orang yang berdiri mengapit Ki Rangkuti terdiam. Mereka memang sudah mendengar kehebatan ilmu ‘Naga Merah'. Kalau Nyi Rongkot sudah mengeluarkannya sulit untuk ditarik kembali sebelum jatuh korban. Mereka hanya terdiam memandang iba pada Pendekar Rajawali Sakti.


Sambil melompat cepat Nyi Rongkot melepaskan tongkatnya yang sudah berubah jadi ular berwarna merah darah. Ular itu meluncur cepat mengarah ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Hanya dengan memiringkan tubuhnya sedikit ke samping ular itu lewat di depan dada Namun belum juga Rangga merubah posisinya kaki Nyi Rongkot melayang deras.


Buk!


­Rangga tidak bisa berkelit lagi. Punggungnya terhajar tendangan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam. Tiga langkah Pendekar Rajawali Sakti itu terdorong ke depan. Lalu dengan cepat dia berputar sambil mengembangkan kedua tangannya ke samping. Kedua tangan membentang lebar, bergerak cepat diikuti geseran kaki yang menyuruk tanah.


Wut, wut!


Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan kedua tangannya bergantian. Begitu cepatnya kibasan tangan yang disertai gerakan tubuh yang lincah membuat Nyi Rongkot sedikit kerepotan menghindari serangan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega.


Pada saat perempuan tua itu kerepotan menghindar kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba mulutnya mendesis bagai ular. Dan tiba-tiba saja berkelebat sebuah bayangan merah panjang ke arah Pendekar Rajawali sakti. Ular yang meliuk-liuk melayang bagai kilat langsung menyambar tubuh Rangga.


Serangan yang datang tiba-tiba tanpa diduga itu menyebabkan Pendekar Rajawali Sakti sedikit terperangah. Buru-buru dimiringkan tubuhnya sambil mengibaskan tangan kanannya. Ular merah jelmaan tongkat Nyi. Rongko meliuk membentuk putaran dengan kepala meluruk deras ke arah pundak.


Cras!

__ADS_1


“Akh!” Rangga memekik tertahan


Pundak sebelah kiri tak dapat lagi dilindungi. Ular merah itu berhasil menancapkan giginya dan merobek pundak Pendekar Rajawali Sakti. Darah segar langsung mengucur deras. Rangga segera menghantam tubuh ular itu. Tapi gerakan yang selalu meliuk-liuk membuat hantamannya hanya mengenai angin kosong.


“Hiyaaa!”


Mendadak Ular Betina berteriak nyaring. Bagai anak panah lepas dari busurnya tubuhnya meluncur deras dengan kedua telapak tangan terbuka. Rangga yang sibuk oleh serangan ular merah terkejut melihat dua telapak tangan berwarna merah meluncur deras ke arahnya.


Buru-buru dia melompat ke udara, namun gerakannya terhambat karena ular merah kembali menyerang dari atas kepala Rangga mengibaskan tangan kirinya ke atas, sehingga pertahanan dadanya jadi terbuka lebar.


Buk!


“Aaakh...!”


Tubuh Pendekar Rajawali Sakti terlontar sejauh dua batang tombak ke belakang. Kedua telapak tangan Nyi Rongkot yang mengerahkan ilmu ‘Naga M­rah’ berhasil bersarang telak di dada Pendekar Rajawali Sakti. Deras sekali tubuh Rangga meluncur dan terbanting ke tanah.


Dua tapak tangan berwarna merah tergambar di dada. Rangga memuntahkan darah kental kehitaman dari mulutnya ketika telah mampu bangun. Seluruh bagian rongga dadanya terasa nyeri dan sesak Sebentar digerak-gerakkan tangannya menghimpun hawa mumi di dalam tubuhnya, lalu berdiri tegak dengan mata menatap tajam Nyi Rongkot. Ular merah membelit tangan kanan perempuan tua itu.


­“Dadaku.... ukh!” Rangga mengeluh.


Dadanya terasa nyeri dan sesak sekali. Sepertinya seluruh tulang-tulang dadanya remuk. Hawa mumi yang dialirkan ke rongga dada membuatnya kembali memuntahkan darah kental kehitaman. Saat Pendekar Rajawali Sakti itu tengah bergelut dengan rasa nyeri di dada mendadak Nyi Rongkot sudah melompat bagai kilat menyerang lagi.


“Mampus kau bocah setan!” teriak Nyi Rongkot. Rangga berkelit sambil mengempos ilmu meringankan tubuhnya. Kemudian dia berlari-lari kencang mengelilingi Ular Betina itu. Sambil berlari berkeliling Pendekar Rajawali Sakti mengeluarkan jurus andalan yang terakhir yaitu Seribu Rajawali.


Sungguh luar biasa tubuh Pendekar Rajawali Sakti bagaikan berjumlah seribu orang banyaknya mengepung lawan. Nyi Rongkot tampak tenang-tenang saja menghadapi kepungan seribu orang Pendekar Rajawali Sakti.


“He he he...,” Nyi Rongkot malah tertawa terkekeh. “Yeah!”


Satu jeritan keras terdengar melengking tinggi. Bersamaan dengan itu kedua tangan Nyi Rongkot terangkat ke atas. Ular Merah bergerak cepat memutari kedua tangan yang Jari-Jemarinya bergerak-gerak. Tampak kedua tangan Ular Betina itu seperti dikelilingi sinar merah.


“Bubar...!” teriak Nyi Rongkot tiba-tiba.


Seketika itu juga dari gulungan sinar merah di tangan Ular Betina itu memijar percikan bola-bola api ke segala penjuru. Bola-bola api itu langsung menghantam satu persatu tubuh dari pecahan Pendekar Rajawali Sakti. Satu persatu bayangan tubuh itu lenyap dengan cepat. Dan akhirnya tinggal satu saja yang tinggal.


“Bedebah!” dengus Rangga geram.


“He he he... ilmu andalan apa yang bisa kau keluarkan bocah setan?” ejek Nyi Rongkot terkekeh.


“Lihat ini, iblis betina!” rungut Rangga.


Sret!


Seketika itu juga tagan kanan Pendekar Rajawali Sakti menarik pedang pusaka dari warangkanya. Sinar biru menyilaukan membias menerangi sekitarnya. Nyi Rongkot mundur dua langkah ke belakang ketika melihat pamor Pedang Rajawali Sakti.


“Rasakan Pedang Rajawali Sakti iblis betina!” teriak Rangga keras. “yeaaah...!”


Rangga menerjang bagai kilat sambil mengayun-ayunkan pedang pusakanya. Sinar biru menyilaukan berkelebat cepat mengurung tubuh Ular Betina. Pertarungan dua tokoh sakti kembali berlangsung cepat dan berbahaya. Masing-masing telah mengeluarkan ilmu andalannya yang paling dahsyat.


Sinar merah berkilau berkelebat menjadi satu saling sambar. Tubuh kedua tokoh sakti itu bagai lenyap ditelan dua sinar yang berkelebat cepat Sinar biru yang memancar dari Pedang Rajawali Sakti, semakin lama semakin berkilau menyilaukan mata.


Tampak mata Nyi Rongkot mulai berair terkena pancaran sinar Pedang Rajawali Sakti pandangannya menjadi buram tak mampu melihat jelas. Sekuat tenaga dia berusaha mengimbangi ilmu pedang Rajawali Sakti Kejadian yang hampir sama juga dialami oleh Pendekar Rajawali Sakti. Sinar merah ilmu ‘Naga Merah’ menyakitkan matanya.


Pada suatu saat tiba-tiba Ular Betina berteriak nyaring. Kemudian tubuhnya melambung tinggi ke udara. Pendekar Rajawali Sakti ikut melayang deras mengejar. Ular Betina melepaskan ular merah jelmaan tongkat saktinya. Ular itu meluncur deras ke arah Rangga.


Wut!


Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan pedangnya membabat kepala ular yang menganga lebar. Namun sabetan pedang itu hanya menyambar angin dengan lincah sekali ular merah meliukkan tubuhnya menghindari babatan pedang Rajawali Sakti. Pada saat yang bersamaan kaki Nyi Rongkot terangkat dan....


Buk!


“Akh!” Pendekar Rajawali Sakti memekik tertahan. Tubuhnya langsung meluruk deras ke bawah.


“Hiyaaa...!” Nyt Rongkot mengejar sambil mendorong kedua tangannya ke depan.


“Aaa...!” Rangga berteriak nyaring.


Kedua telapak tangan Nyi Rongkot yang merah berhasil telak memukul punggung Pendekar Rajawali Sakti itu. Tak ampun lagi Rangga jatuh keras di tanah. Tubuhnya bergulingan membentur batu besar Pedang Rajawali Sakti terlepas dari genggamannya. Bagian dada dan punggung tergambar sepasang telapak tangan berwarna merah menyala.


Manis sekali Ular Betina mendarat di tanah. Kedua tangannya segera terangkat tinggi-tinggi. Sinar merah menyala dan kedua telapak tangannya. Lalu dengan cepat mengebut ke depan. Dua bias sinar merah meluncur deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang masih menggeletak di tanah.


Rangga menjerit-jerit ketika sinar merah menggulung tubuhnya. Dia menggeliat-geliat di tanah dengan seluruh tubuh terbalut warna merah. Pohon-pohon dan batu hancur berantakan diterjang tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang bergulingan sambil berteriak-teriak keras. Cahaya merah menyala masih mengurung dirinya.


“Ha ha ha...!” Nyi Rongkot tertawa terbahak-bahak. “Mampus kau bocah setan!”


“Kraaagh...!” tiba-tiba terdengar suara raungan menggelegar.


Mendadak satu bayangan besar dan hitam melesat cepat menukik dari atas Nyi Rongkot terkejut ketika tiba-tiba merasakan sapuan angin bagai topan mengarah ke tubuhnya. Secepat kilat dia melompat menghindari sapuan deras itu. Nyi Rongkot berputar dua kali di udara, tubuhnya agak limbung saat kakinya menjejak tanah Angin bagai badai topan yang hampir melontarkan tubuhnya lewat hanya beberapa jengkal saja


Mata Nyi Rongkot membelalak lebar setelah melihat seekor rajawali raksasa melayang-layang di atas tanah dengan kecepatan tinggi. Suaranya menggelegar memekakkan telinga seakan ingin meruntuhkan Lembah Bunga Bangkai ini. Nyi Rongkot segera menuding ular merah yang bergerak-gerak di tanah dengan jari telunjuknya. Seketika itu juga sinar merah meluncur langsung menerpa ular merah itu.


“Hsss...!” desisan keras terdengar.


Tiba-tiba saja ular yang tadinya sebesar tongkat berubah membesar. Setelah tubuhnya mencapai sebesar batang pohon kelapa, langsung menyerang burung rajawali sakti. Itulah ilmu tingkat akhir Naga Merah.


Ular itu menjadi besar seperti seekor naga berwarna merah menyala. Lidah-lidah api menyembur dari lubang hidung dan mulutnya.


“Khraaagh...!” rajawali memekik keras.


Seketika tubuhnya melesat ke udara lalu kembali menukik deras ke arah kepala naga. Semburan api keluar saat cakar-cakar rajawali raksasa hampir mencapai kepala naga merah itu.


Secepat kilat burung raksasa itu berkelit dari sambaran api langsung meluruk menghantam tubuh naga merah.


UIar naga merah itu menggerung dahsyat begitu paruh burung rajawali raksasa menyobek kulit tubuhnya. Belum sempat balas menyerang, tahu-tahu cakar burung raksasa itu sudah mencengkeram kuat. Sayap yang lebar mengepak kencang menimbulkan suara angin yang keras menderu.


Nyi Rongkot yang melihat ular naga jelmaan tongkat saktinya terangkat naik, segera melompat menerjang burung rajawali raksasa. Kedua tangannya yang berwarna merah, didorong ke depan. Secercah sinar merah meluncur deras ke arah burung raksasa itu.


Tepat pada saat itu, burung rajawali itu melemparkan ular naga yang sebesar batang pohon kelapa ke arah Nyi Rongkot. Cepat sekali dia menukik turun sehingga sinar merah yang dilepaskan Nyi Rongkot tidak mengenai sasaran. Sayap rajawali raksasa yang besar mengibas dan....


“Aaakh!” Nyi Rongkot terpekik.


Dalam keadaan tubuh masih di udara Ular Betina tidak bisa berkelit. Dengan telak sayap rajawali itu menghantam tubuhnya. Nyi Rongkot terpelanting keras jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, ular naga ciptaannya juga meluruk menghantam tubuhnya. Nyi Rongkot meraung keras sambil menggelimpang keluar dari himpitan badan ular yang besar dan berat.


“Graaahg...!” rajawali raksasa memekik nyaring.


Bagai kilat tubuhnya melesat menyambar tubuh Pendekar Rajawali Sakti dan pedang pusaka yang menggeletak di tanah. Tubuh Rangga serta pedang pusaka itu dicengkeram dengan jari-jari kakinya. Hanya sekejap mata saja burung rajawali raksasa itu telah membumbung tinggi ke angkasa.


********************

__ADS_1


__ADS_2