Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Iblis Lembah Tengkorak bag 10


__ADS_3

Melihat korban telah cukup banyak, Rangga menggeram menahan amarahnya. Tiba-tiba dia membentak dengan pengerahan tenaga dalam yang luar biasa. Betapa hebat akibat bentakan Rangga. Di Lembah Tengkorak bagaikan terjadi gempa. Batu-batu berjatuhan dan pohon-pohon bertumbangan. Orang-orang yang berada di sekitar situ sampai terlompat beberapa tombak.


"Setan!" umpat Geti Ireng yang terlonjat sampai dua tombak ke belakang.


"Tidak pantas kau mengumbar ilmu iblis di depanku, Geti Ireng!" dengus Rangga.


"Kurobek mulutmu, bocah setan!" geram Geti Ireng.


Setelah selesai kata-katanya, Geti Ireng segera berteriak nyaring, dan tak tanggung-tanggung, dikeluarkannya jurus 'Tongkat Maut Mencabut Nyawa'. Rangga menghadapinya tanpa mengeluarkan jurus andalan. Dia hanya berkelit menghindari setiap serangan lawan, sehingga membuat Geti Ireng makin marah.


Jurus demi jurus berlangsung cepat Semua orang yang menyaksikan tertahan napasnya. Rangga seperti mempermainkan Geti Ireng saja. Setiap kali ujung tongkat nyaris menyentuh tubuhnya, Rangga berkelit. Beberapa kali Geti Ireng merasa tertipu oleh gerakan Rangga yang tak terduga itu.


"Kena!" teriak Rangga tiba-tiba.


Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu kaki Rangga berhasil menyepak punggung Geti Ireng yang lowong. Geti Ireng bergulingan di tanah. Dengan cepat dia bangkit kembali. Di saat yang bersamaan, Saka Lintang memekik tertahan. Hatinya terkesiap melihat ayah angkatnya terguling kena tendangan Pendekar Rajawali Sakti.


Geti Ireng membuka serangan kembali. Hatinya penasaran bercampur malu. Sudah tiga jurus dimainkan, tapi belum juga dapat menjatuhkan lawannya. Malah kaki lawan telah mampir di punggungnya. Memang tidak berbahaya. Tapi menyebabkan Geti Ireng kehilangan muka. Pendekar muda itu telah mempermainkannya di depan orang banyak.


Rangga mendorong kedua tangannya ke depan. Kesepuluh jari tangannya mengembang bagai sepasang cakar. Rangga mengeluarkan jurus 'Cakar Rajawali'.


"Hiyaaaa...!"


Dengan suatu teriakan geledek, Rangga mendahului menyerang. Gerakannya sangat cepat, sehingga tubuh Pendekar Rajawali Sakti hanya terlihat bayangannya saja. Geti Ireng makin kewalahan menghadapi jurus pendekar muda ini. Hingga tiba saatnya....


"Akh!" pekik Geti Ireng tertahan.


Tubuh Geti Ireng terdorong ke belakang sejauh dua tombak. Tangannya mendekap dada. Dari mulut menyembur darah kental kehitaman. Cepat-cepat disilangkan tongkatnya ke depan dada. Dan darah kental kehitaman kembali menyembur ke luar.


"Ayah...!" pekik Saka Lintang.


Gadis yang juga membenci ayah angkatnya ini, ternyata mengkhawatirkan keadaannya. Batinnya terus berkecamuk antara benci dan rasa hutang budi. Bagaimanapun juga laki-laki itu telah merawat, membesarkan, dan mendidiknya sampai dia dewasa. Figur seorang ayah pada Geti Ireng sulit dilupakannya.


"Lintang, jangan!" sentak Geti Ireng yang melihat Saka Lintang sudah mengeluarkan gabungan dari jurus 'Tarian Bidadari' dengan 'Ular Berbisa Menyebar Racun'.

__ADS_1


Namun gadis itu sudah tidak mendengar lagi peringatan ayahnya. Dengan cepat Saka Lintang menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Gerakan-gerakan Saka Lintang segera berubah gemulai setelah berada di depan pendekar muda itu.


"Ah, indah sekali tarianmu," Rangga memperhatikannya dengan senyum tersungging.


"Hati-hati, Pendekar Rajawali Sakti. Jurus itu sangat berbahaya!" Begawan Pasopati mengingatkan.


"Dia hanya menari, Eyang Begawan," sahut Rangga sambil merentangkan kedua tangannya.


Tangan Pendekar Rajawali Sakti bergerak-gerak gemulai. Seperti sepasang sayap yang terkembang akan terbang. Itulah jurus 'Rajawali Pentang Sayap'. Suatu jurus yang sebenarnya bukan jurus andalan. Jurus ini dikeluarkan karena Rangga menganggap jurus yang dikeluarkan Saka Lintang tidak berbahaya. Dan lagi Rangga tidak ingin gadis itu celaka. Hanya satu yang ingin dicabut nyawanya yakni, Geti Ireng!


Semua orang yang menyaksikan, menahan napas ketika gerakan gemulai dari jurus 'Tarian Bidadari' berubah menjadi cepat dan masuk ke beberapa bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun pendekar muda itu hanya mengepak-ngepakkan kedua tangannya saja sambil berlompatan kian kemari menghindari setiap totokan dan pukulan maut Saka Lintang.


"Gila! Ilmu setan apa yang dimilikinya?!" dengus Geti Ireng keheranan.


Racun yang menyebar dari setiap gerakan Saka Lintang tidak berarti apa-apa pada Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan setiap kali tangan mereka beradu, pendekar itu tidak terpengaruh sama sekali. Padahal seluruh tubuh Saka Lintang kini tengah menyebarkan racun yang sangat dahsyat dan mematikan.


"Akh...!" tiba-tiba Saka Lintang terpekik.


Punggungnya terkena tepukan tangan kanan Rangga. Gadis itu jatuh bergulingan di tanah. Dia bergegas bangkit lagi dan bersiap-siap menyerang kembali. Niat itu tiba-tiba terhenti ketika mendadak saja Geti Ireng menggantikannya dengan jurus-jurus maut.


Geti Ireng makin kebingungan melihat gerakan-gerakan yang aneh dari pendekar muda ini. Setiap serangannya selalu kandas mengenai tempat kosong. Dalam keputusasaannya itu, tiba-tiba kaki Rangga berhasil mendarat di dada Geti Ireng.


"Ukh!" Geti Ireng kembali memuntahkan darah kental kehitaman.


Belum sempurna posisi Geti Ireng, tiba-tiba tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti menyampok pinggang Geti Ireng. Tak ayal lagi, tubuh Iblis Lembah Tengkorak ini melayang ke angkasa. Dengan tetap menggunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', Rangga mengejarnya.


Sukar untuk dibayangkan. Tubuh Rangga meluncur cepat mengejar Geti Ireng yang terlontar ke udara. Tiba-tiba tubuh yang melayang itu terhajar oleh Pendekar Rajawali Sakti.


"Ayah...,!" Pekik Saka Lintang keras, melihat tubuh Geti Ireng terpotong-potong di angkasa.


Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti melemparkan setiap potongan tubuh ke tanah. Dan sungguh hebat! Setiap potongan yang jatuh ke tanah, tersusun kembali seperti semula. Namun darah telah menggenang di sekitanya. Pendekar Rajawali Sakti turun kembali dengan manis di tanah.


Melihat pemimpinnya tewas dengan tubuh terpotong-potong, tokoh-tokoh hitam yang tergabung di bawah Panji Tengkorak, segera mengambil langkah seribu.

__ADS_1


"Pendeta Murtad! Berhenti kau!" teriak Pragola yang melihat Pradya Dagma melarikan diri dengan menge-rahkan ilmu peringan tubuhnya.


"Pragola, jangan!" teriak Begawan Pasopati.


Pragola tidak mendengarkannya lagi. Dia telah lebih dulu mencelat mengejar pendeta murtad itu. Tokoh-tokoh lain dari golongan putih pun segera berlompatan mengejar anggota-anggota Panji Tengkorak yang telah kabur. Begawan Pasopati pun segera mencelat mengejar Pragola. Dia khawatir karena murid kesayangannya itu mengejar lawan yang bukan tandingannya.


Dalam sekejap saja di Lembah Tengkorak tinggal Pendekar Rajawali Sakti dengan Saka Lintang. Secara bergantian, Saka Lintang menatap tubuh Iblis Lembah Tengkorak dan Pendekar Rajawali Sakti. Batinnya terus berperang antara percaya dan tidak, antara kenyataan dan khayalan. Dia ingin menangis, marah, membenci, tapi tidak tahu kepada siapa semua dilimpahkannya.


"Dia ayahmu?" Tanya Rangga dengan suara pelan dan hati-hati.


Saka Lintang hanya menatap saja tanpa berkedip pada Pendekar Rajawali Sakti yang juga tengah menatapnya. Dada gadis itu bergemuruh, tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.


Entah terdorong rasa apa, tanpa diminta lagi Saka Lintang menceritakan semua yang diketahui tentang dirinya berdasarkan cerita Emban Girika. Rangga mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Sampai Saka Lintang selesai bercerita, Rangga masih tetap berdiam diri.


"Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku...."


"Maaf, Lintang. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan," potong Rangga cepat. Saka Lintang terdongak, "Selamat tinggal!" seru Rangga.


Bersamaan dengan itu, tubuhnya sudah melesat ke udara, meluncur cepat menembus hutan dan meng-hilang dari pandangan mata.


"Rangga....!" Saka Lintang menjerit sekuat-kuatnya.


Saka Lintang menghentakkan kakinya dengan kesal. Dalam kesempatan yang sempit tadi, dia sudah berusaha menarik simpati pendekar tampan itu. Namun kini Rangga meninggalkannya sendirian. Saka Lintang sungguh kecewa. Cintanya yang berkobar-kobar tidak terbalaskan.


Dari cinta yang tak terbalaskan itu, membuat Saka Lintang membenci Pendekar Rajawali Sakti. Wajahnya seketika berubah tegang memerah. Rasa cinta dan benci bercampur jadi satu. Sikap Rangga terasa sangat merendahkan harga dirinya.


"Satu saat nanti, kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku!" Desis Saka Lintang.


Setelah berkata demikian, Saka Lintang melangkahkan kakinya meninggalkan markas Panji Tengkorak, tempat dia dibesarkan. Tempat yang penuh kenangan manis dan pahit Kakinya terayun dengan satu tujuan, mencari dan ingin menaklukkan pendekar tampan yang telah merobek-robek hatinya. Mampukah Saka Lintang menaklukkan Pendekar Rajawali Sakti?


Nah, bagi para pembaca yang mau tahu petualangan selanjutnya dari Saka Lintang, silakan ikuti kisah berikutnya dalam Bidadari Sungai Ular


SELESAI

__ADS_1


Pendekar Rajawali Sakti


__ADS_2