Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Rahasia Puri Merah Bag. 6


__ADS_3

"Sejak tadi, kau melamun terus. Ada yang dipikirkan?" tegur Rangga seraya duduk di samping Kandara Jaya.


"Yaaah...," desah Kandara Jaya panjang.


"Boleh kutahu?"


"Seharian aku mencari kabar tentang Adi Kitri Boga dan Lawawi Girang...." Kandara Jaya menghentikan ceritanya. Dipandangnya Rangga yang duduk di sampingnya.


"Siapa mereka?" tanya Rangga.


"Mungkin sudah saatnya aku berterus terang padamu," kata Kandara Jaya seraya mendesah panjang.


"Sudah kuduga kalau kau menyembunyikan sesuatu. Katakan saja, mungkin aku bisa membantumu."


"Sebenarnya aku seorang putra mahkota yang ditugaskan untuk menghancurkan kelompok Puri Merah...," Kandara Jaya mulai menceritakan semuanya.


Rangga mendengarkan penuh perhatian. Memang sudah diduga sejak semula kalau Kandara Jaya ini seorang putra raja, atau paling tidak seorang putra bangsawan. Rangga tidak terkejut lagi mendengarnya. Sikapnya biasa-biasa saja. Baginya semua manusia di dunia ini sama, hanya kedudukan dan martabat saja yang membedakannya.


"Beberapa kali prajuritku kalah dalam pertempuran. Atas kemauannya sendiri, Punggawa Lawawi Girang dan Adi Kitri Boga menyelidiki ke puncak Bukit Arang Lawu ini. Aku mengijinkannya dan hanya memberi waktu tiga hari. Tapi telah lewat satu pekan, mereka belum juga ada kabar beritanya," lanjut Kandara Jaya.


"Aku kagum dengan rasa tanggung jawabmu, Kandara Jaya." puji Rangga tulus.


Meskipun telah tahu siapa sesungguhnya Kandara Jaya, tapi tetap saja Rangga memperlakukannya seperti teman.


"Terima kasih," ucap Kandara Jaya.


"Pernahkah kau berpikir, kalau dua utusanmu tidak akan pernah sampai ke sini," Rangga menduga-duga.


"Pernah, yaitu setelah tiba di jurang besar itu," jawab Kandara Jaya mendesah.


Rangga diam tertunduk. Dia jadi teringat dengan Pandan Wangi. Rasa penyesalan kembali membelenggu htrinya. Kalau saja dia tidak meminta Pandan Wangi melompati jurang itu, mungkin sampai sekarang gadis itu masih bersamanya.


"Pandan..., seharusnya kau tahu kalau aku mencintaimu," bisik Rangga dalam hati.


"Rangga...."


"Oh!" Rangga tersentak dari lamunannya.


"Aku juga sedih dengan hilangnya adikmu," kata Kandara Jaya.


"Ah, sudahlah. Itu sudah menjadi resiko seorang pendekar," Rangga berusaha tersenyum. Dia tidak ingin Kandara Jaya mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Bibirnya memang tersenyum, tapi hatinya menangis kehilangan Pandan Wangi.


"Kita sama-sama kehilangan. Kau kehilangan seorang adik, dan aku juga kehilangan orang yang seharusnya kulindungi dan kujaga keselamatannya," kata Kandara Jaya lagi.


"Sebaiknya kita lupakan saja persoalan pribadi. Yang penting sekarang, pikirkan cara yang terbaik untuk menghadapi Dewi Sri Tungga Buana," Rangga mencoba menghilangkan segala perasaan yang menyelimuti.


"Benar, aku sendiri punya tugas yang belum kuselesaikan," sambut Kandara Jaya.


"Oh, ya ada yang ingin kukatakan padamu. Tadi aku menemukan mayat laki-laki mengenakan pakaian keprajuritan. Di sampingnya tergeletak pedang perak Dia kutemukan di luar benteng Puri Merah ini," kata Rangga.


"Apakah pedang itu ada batu merah di tangkainya?" tebak Kandara Jaya.


"Benar," sahut Rangga.


"Ada tanda khusus lagi?"


"Aku tidak tahu. Tapi di wajahnya ada guratan seperti bekas luka."


"Paman Lawawi Girang...," desah Kandara Jaya bergumam.


"Dia salah seorang punggawa?"


"Ya, tidak salah lagi. Dia pasti Paman Lawawi Girang!"


"Kau bilang dua orang, bukan?"


"Benar. Berarti mereka telah berhasil mencapai puncak bukit ini. Hm..., di mana Kitri Boga?"


"Ada dua kemungkinan. Pertama dia berhasil melarikan diri, dan yang kedua menjadi tawanan."


"Kalau dia menjadi tawanan, tentu Natrasoma mengatakannya padaku. Tapi katanya, dia tidak menawan laki-laki seorang pun. Memang diakui, kalau banyak tawanan wanita muda yang semuanya masih gadis. Tapi dia sudah berjanji akan membebaskan semuanya kalau kita berhasil mengusir Dewi Sri Tungga Buana bersama pengikutnya."


"Kalau begitu sudah jelas. Kedua orangmu tidak bertemu dengan orang-orang Puri Merah, tapi bertemu dengan orang-orang Dewi Sri Tungga Buana. Aku yakin kalau Kitri Boga menjadi tawanan mereka sekarang."


"Aku harus segera membebaskannya, Rangga!"


"Jangan terlalu gegabah! Kita harus cari jalan yang tepat. Yang akan kita hadapi bukanlah orang-orang berilmu rendah. Kita menghadapi manusia setengah iblis!"


Kandara Jaya terdiam lagi. Memang benar apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti itu. Mustahil Dewi Sri Tungga Buana bisa memperdayai orang-orang Puri Merah kalau tidak memiliki kekuatan di atas mereka, yang rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi. Rangga dan Kandara Jaya sama-sama terdiam.


Kepala mereka dipenuhi berbagai macam rencana untuk menghadapi gerombolan Dewi Sri Tungga Buana. Mereka memang harus menghadapinya berdua saja, karena orang-orang Puri Merah tidak ada yang bersedia membantu menghadapi salah seorang dewa mereka. Bagaimanapun juga, sulit bagi Rangga dan Kandara Jaya meyakinkan mereka. Jelas kalau Dewi Sri Tungga Buana itu manusia biasa. Bukan dewa! Tapi orang-orang Puri Merah begitu kuat kepercayaannya terhadap dewa yang mereka sembah.


"Aku ada rencana, Rangga!" tiba-tiba Kandara Jaya membuka suara.


"Apa?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Kau sudah dianggap sebagai Dewa Agung mereka, raja dari segala dewa-dewa yang mereka sembah. Aku yakin kau punya kemampuan untuk mengubah kepercayaan mereka, kalau Dewi Sri Tungga Buana bukanlah dewa!"


"Aku tidak mengerti maksudmu...?"


"Begini..."


********************


Malam telah sejak tadi merayap menyelimuti mayapada. Bulan bersinar hampir penuh merambah kegelapan malam. Langit tampak cerah, tanpa sedikit pun awan menggantung. Hanya kabut tipis yang berarak terbawa angin. Dalam siraman cahaya bulan dan gemerlapnya bintang, tampak Rangga berdiri mematung di tangga puri. Pandangannya lurus menatap patung yang berada di puncak Puri Merah ini.


Dalam hati Pendekar Rajawali Sakti itu masih diliputi tanda tanya dengan adanya patung yang wajahnya hampir sama dengan dirinya. Seakan-akan Rangga tengah memandangi dirinya sendiri yang tengah menunggang burung rajawali raksasa. Bibirnya menyunggingkan senyum, dan kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Dia baru sadar kalau patung yang wajahnya hampir sama dengan dirinya itu adalah gurunya yang hidup seratus tahun yang lalu, dan pernah menampakkan dirinya untuk merestui Rangga melanjutkan kependekarannya. Mungkin pada waktu dulu gurunya pernah singgah di sini dan sangat dihormati, sehingga dibuatkan patungnya.


"Hm..., aku tidak melihat orang-orang yang tidak berjubah merah di sini," bisik Rangga dalam hari.


Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada seorang pun yang terlihat, selain orang-orang berjubah merah yang berjalan hilir-mudik dengan kesibukannya masing-masing.


"Ke mana mereka...?" Rangga bertanya-tanya dalam hati.


Pertanyaan itu membuahkan rasa ingin tahu dirinya. Kakinya mulai melangkah menuruni tangga Puri Merah ini. Tatapan matanya tetap beredar ke sekeliling. Beberapa orang berjubah merah yang melihat, langsung berlutut. Risih juga diperlakukan seperti itu.


"Di mana aku bisa menemui Natrasoma?" tanya Rangga pada salah seorang yang berlutut tepat di depannya.


"Tuanku Natrasoma tengah tidak ada di tempat, Gusti Dewa Agung," jawab orang itu. "Ke mana?"


"Menunaikan tugas bersama sembilan pengawal pribadinya."


"Tugas apa?"


"Mencari gadis perawan untuk korban esok malam."


"Lalu, orang-orang yang...."


"Mereka juga pergi, Rangga!"


Rangga menoleh. Ternyata Kandara Jaya yang menjawab sambi! menghampiri dengan langkah lebar.


"Dari mana saja kau?" tanya Rangga.


"Aku membuntuti mereka," sahut Kandara Jaya.


Rangga menarik tangan Kandara Jaya, dan mengajaknya menjauhi orang-orang berjubah merah yang masih berlutut di sekitar mereka. Rangga baru berhenti setelah mendapat tempat yang cukup sepi dan terlindung di balik tembok.


"Aku tahu, kau pasti ingin mendengar hasil pekerjaanku," kata Kandara Jaya langsung menebak.


"Mereka menuju ke luar Bukit Arang Lawu sebelah Selatan. Tapi aku terpaksa tidak bisa membuntuti mereka terus. Masalahnya, aku terhadang jurang pemisah yang tidak mungkin kulalui," tutur Kandara Jaya.


"Lalu, bagaimana mereka melintasi jurang itu?" desak Rangga tidak sabar.


"Sepuluh orang berjubah merah membagi tugas. Lima orang menyeberang lebih dulu sambil membawa tambang. Lalu, lima orang lainnya menunggu dengan tambang pada ujungnya. Dengan tambang itu mereka menyeberangi jurang."


Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang, sepuluh orang berjubah merah itu mampu melayang bagaikan terbang. Tidak sulit bagi mereka menyeberangi jurang lebar itu. Tapi dengan satu tambang terentang. Ini menunjukkan kalau anak buah Dewi Sri Tungga Buana memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.


Memang, berjalan di tambang bagi kalangan pendekar tidak lagi aneh. Tapi untuk orang sebanyak itu...? Rangga harus berpikir keras untuk mengukur tingkat kepandaian yang mereka miliki. Padahal jelas kalau mereka hanyalah manusia biasa yang juga memiliki keterbatasan.


"Pasti ada yang mereka inginkan dari Puri Merah ini...," gumam Rangga pelan.


"Aku sudah menduganya begitu, Rangga. Mustahil Dewi Sri Tungga Buana dan anak buahnya menguasai puri ini tanpa tujuan yang pasti," sahut Kandara Jaya membenarkan.


"Kita harus selidiki dan harus menghentikan semuanya!" tekad Rangga.


"Itu sudah pasti, Rangga. Hanya saja kita harus kerja berdua tanpa dapat minta bantuan. Orang-orang Puri Merah tidak ada yang bersedia membantu kita. Mereka tampaknya takut setiap kali kutanya tentang Dewi Sri Tungga Buana," kata Kandara Jaya.


"Ya, aku tahu itu. Mereka seperti mendapat tekanan dan ancaman. Justru itulah yang harus kita ketahui secepatnya, dan jangan sampai berlarut-larut."


"Aku akan selidiki lorong penjara bawah tanah," kata Kandara Jaya lagi.


"Kapan kau kerjakan?"


"Sekarang juga. Dan kau...?"


"Mencari tempat persembunyian Dewi Sri Tungga Buana. Aku yakin tidak jauh dari sini."


"Kalau begitu, kita berpisah di sini. Ingat, Rangga. Rencana yang kuusulkan harus berjalan besok!"


"Beres!"


Rangga menepuk pundak Kandara Jaya sebelum pangeran muda itu berlalu. Kemudian dia sendiri bergerak mengelilingi dinding batu yang menyerupai benteng ini. Setiap langkah, selalu diperhatikannya dengan seksama. Rangga juga memeriksa setiap bangunan batu yang ada. Hal itu dilakukan dengan hati-hati agar tidak seorang pun yang melihat dan mencurigainya.


"Semua tempat ini sudah kuselidiki. Aku harus keluar dari benteng ini," gumam Rangga dalam hati.


Pendekar Rajawali Sakti itu segera melesat tinggi melewati dinding batu yang mengelilingi Puri Merah itu. Dua kali berputar di udara, kemudian dengan manis sekali kakinya menjejak tanah berumput di luar benteng batu. Sebentar Rangga mengamati sekitarnya yang gelap. Hanya cahaya bulan saja yang menerangi dengan sinarnya yang redup.


Rangga berlari mempergunakan ilmu meringankan tubuh mengelilingi tembok batu. Sebentar saja dia telah kembali ke tempat semula. Tidak ada penemuan yang berarti di sekitar tembok batu ini. Juga tidak ada seorang penjaga pun yang dijumpainya. Mungkin semua orang yang tidak berjubah merah pergi turun bukit.


Tiba-tiba Rangga tersentak kaget ketika matanya yang tajam melihat sesuatu berkelebat cepat ke arah Utara. Segera saja Pendekar Rajawali Sakti itu mengeropos tubuh untuk mengejarnya. Karena ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tahap kesempurnaan, maka tidak sulit baginya untuk mengejar bayangan itu. Dalam waktu singkat saja, dia telah mampu mendekati sosok bayangan hitam itu.

__ADS_1


"Hey!"


Rangga mendadak terkejut ketika tiba-tiba saja bayangan hitam itu berbalik cepat. Tampak beberapa benda bulat kecil berwarna merah meluncur deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Secepat kilat Rangga melompat tinggi ke udara, langsung meluruk ke arah bayangan hitam yang belum sempat melarikan diri setelah melemparkan senjata rahasia.


Kelihatannya dia juga terkejut, karena senjata rahasia yang dilontarkan dengan mudah dapat dihindari. Bahkan kini Rangga meluruk ke arahnya. Kembali orang itu melemparkan senjata rahasianya.


"Uts, hiyaaa...!"


Rangga segera mengebutkan tangannya dengan cepat. Kebutan yang disertai pengerahan tenaga dalam yang sempurna itu, membuat senjata rahasia yang mengarah ke tubuhnya berbalik arah.


"Setan! Hih!" orang itu jumpalitan menghindari senjata rahasianya sendiri yang berbalik menyerangnya.


Saat itu pula Rangga dengan cepat melontarkan 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' dari jarak jauh.


Cahaya merah langsung meluncur dari telapak tangan Rangga. Begitu cepatnya, sehingga orang itu tidak mampu lagi mengelak. Belum hilang rasa terkejutnya dengan senjata rahasia yang berbalik menyerang dirinya, kini ditambah lagi dengan sinar merah yang datang begitu cepat dan mendadak.


"Aaakh...!" orang itu menjerit keras ketika sinar merah yang dilepaskan Rangga menghantam tubuhnya.


"Hiyaaa...!"


Bret!


Rangga segera melompat dan menjambret penutup kepala orang itu.


"Oh!"


Betapa terkejutnya Rangga saat melihat wajah yang tidak memiliki daging sama sekali. Wajah itu berbentuk tengkorak, dengan mata dan hidung bolong. Rangga melompat mundur dua tindak. Dan pada saat itu mendadak...


Wut!


Sebatang tombak panjang bermata tiga meluncur deras, dan menancap telak di dada orang berwajah tengkorak itu. Suara jeritan melengking terdengar, disusul dengan ambruknya tubuh orang itu ke tanah. Rangga kaget bukan main. Selintas dia melihat sebuah bayangan hitam yang lain melesat dengan cepat.


"Gila! Hih!


Rangga segera melompat kencang mengejar bayangan hitam lain yang diduga dialah yang melepaskan tombak tadi. Pendekar Rajawali Sakti itu merasa penasaran, lalu dikemposnya seluruh kekuatan tenaga dalam untuk mengejar bayangan hitam tadi. Dengan satu lentingan di udara, dia berhasil menyusulnya.


"Mau lari ke mana, kau!" bentak Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan orang berbaju hitam. Persis dengan orang yang pertama tadi.


"Suiiit...!" tiba-tiba saja orang itu bersiul nyaring.


"Gila! Apa ini...?!" dengus Rangga menggeram. Tiba-tiba saja dari balik semak dan pepohonan muncul beberapa orang berpakaian hitam ketat. Seluruh kepala dan wajahnya juga berselubung kain hitam. Rangga menghitung dalam hati. Ada tujuh orang. Semuanya jadi delapan dengan orang yang tadi dicegatnya.


"Bunuh dewa gadungan itu!" terdengar suara memerintah.


"Hiyaaa...!" "Hiyaaa...!"


Tujuh orang yang baru saja bermunculan langsung berlompatan menyerang Rangga tanpa banyak bicara lagi. Semuanya menggenggam tombak bermata tiga. Mau tidak mau Rangga melayaninya, tapi hanya dengan jurus-jurus biasa saja. Hitung-hitung sambil mengukur sampai di mana tingkat kepandaian para pengeroyoknya ini.


Rangga pun tersenyum setelah lewat lima jurus. Langsung saja dikerahkannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya terpentang lebar ke samping. Kakinya bergerak lincah membuat para pengeroyoknya kebingungan. Pada saat itulah kedua tangan Rangga bekerja sangat cepat. Begitu cepatnya sehingga sulit untuk dilihat.


Jerit dan pekik kematian terdengar saling susul. Kemudian disusul dengan tersungkurnya satu persatu para pengeroyoknya. Rangga berdiri tegak sekitar satu tombak jaraknya di depan orang yang dicegatnya tadi. Dua bola matanya tajam menatap wajah yang tertutup kain hitam.


"Sekarang giliranmu, muka setan!" dengus Rangga menggeram.


"Phuih! Jangan bangga dulu, dewa gadungan! Mereka memang bukan lawanmu!" tantang orang itu, juga menggeram.


"Suaramu seperti wanita. Buka topengmu! Aku i ingin lihat seperti apa tampangmu!" Rangga sedikit menyipitkan matanya.


"Tidak semudah itu!"


"Baik. Tidak sulit memaksamu membuka kedok."


"Silakan. Tanganku pun telah gatal ingin merobek mulutmu!"


Setelah berkata demikian, orang yang memilki suara wanita itu segera bergerak menyerang dengan jurus-jurus pendek tangan kosong. Rangga melayaninya dengan memusatkan perhatiannya pada gerakan-gerakan lawannya. Beberapa kali tangan Rangga hampir membuka kedok orang itu, tapi dengan gesit sekali orang itu mampu mengelakkan tangan Pendekar Rajawali Sakti.


Merasa lawannya sangat licin dan lincah, Rangga segera membuka jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Sekarang, diarahkanlah tangannya ke wajah lawan. Dengan jurus itu Rangga bisa mendesak lebih hebat lagi.


"Awas kaki...!" teriak Rangga tiba-tiba.


Seketika itu juga dia merunduk seraya mengibaskan tangannya menyambar kaki. Orang itu pun segera melompat cepat disertai tendangan balasan yang juga cepat. Dan pada saat yang tepat, Rangga memutar tubuhnya, langsung melenting ke udara.


"Ih!" orang itu terkejut.


Tapi...


Bret!


"Auh!"


Cepat sekali tangan Rangga menyambar kain penutup kepala lawannya sambil menukik tajam. Rangga menjejakkan kakinya dengan manis di tanah. Pendekar Rajawali Sakti itu begitu kaget ketika wajah lawannya.


"Kau...?!"


********************

__ADS_1


__ADS_2