Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Sepasang Walet Merah Eps. 03 Bag. 1


__ADS_3

BULAN bersinar penuh, menampakkan wajah bulat indah keemasan. Angin bertiup lembut membawa butir-butir embun yang menitik dari pucuk-pucuk daun pepohonan yang meliuk-liuk seperti menari. Malam semakin indah manakala binatang-binatang malam mulai menembang dengan suara-suara mereka yang merdu.


Namun keindahan itu mendadak pecah oleh suara-suara teriakan disertai denting senjata beradu. Suara-suara itu ternyata datang dari sebuah bukit batu yang berdiri gagah menyerupai sebuah batok kelapa terbelah. Di tempat itu terlihat kilatan-kilatan cahaya putih keperakan menyambar-nyambar di bawah siraman cahaya bulan.


Trang! Trang!


Denting senjata beradu makin sering terdengar. Pijaran-pijaran bunga api berpencaran ke segala penjuru. Tiba-tiba dua orang yang saling mengadu senjata itu melompat ke belakang sejauh dua tombak, bersamaan dengan terdengarnya suara tawa terbahak-bahak.


"Kakang Jaka, rupanya kita kedatangan tamu kurang ajar malam ini," kata salah seorang dari mereka. Orang itu bertubuh kecil ramping mengenakan pakaian ketat berwarna serba merah.


Dari suaranya dapat dipastikan kalau dia adalah seorang wanita. Sementara yang diajak bicara melangkah perlahan ke depan. Tampak jelas wajahnya yang begitu tampan, berkeringat. Sinar matanya tajam menyorot lurus ke depan. Pakaiannya ketat dan serba merah pula.


"Tentu maksudnya sama dengan tamu-tamu yang lain. Bersiaplah, Adik Wulan," sahut pemuda itu yang dipanggil Jaka.


"Ha ha ha...!"


Suara tawa itu kembali menggelegar. Kedua muda-mudi itu sudah berdiri berdampingan dengan senjata tombak pendek bermata dua menyilang di depan dada. Semakin lama suara tawa itu semakin memekakkan telinga. Angin pun mendadak bergemuruh disertai batu-batu kerikil berlompatan. Jelas sekali kalau suara tawa itu dibarengi pengerahan tenaga dalam.


Rupanya dua orang muda ini sama sekali tidak gentar dengan kedatangan suara tawa itu. Mereka seperti tidak terpengaruh, bahkan tetap berdiri tegak dengan mata menatap lurus ke depan.


"Tapak Geni!" tiba-tiba Jaka berteriak lantang.


Dengan cepat mereka mendorong tangan kanan masing-masing ke depan Seketika dari telapak tangan kanan yang terbuka, meluncur deras seberkas sinar merah yang kemudian menghantam sebongkah batu besar.


Blar...!


Batu sebesar rumah itu pun hancur berkeping-keping menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat Pada saat yang sama, melesat sebuah bayangan hitam dari bongkahan batu yang hancur.


Debu mengepul pekat menghalangi sinar bulan menembus permukaan bumi. Bayangan hitam itu berputar beberapa kali di udara sebelum mendarat manis di tanah berumput tebal. Jaka dan Wulan sudah menarik tangan kanannya kembali. Mereka masih berdiri tegak dengan mata tajam memandang tubuh hitam yang telah berdiri sekitar sepuluh langkah di depan.


"Sudah kuduga, dia pasti si Gila Jubah Hitam," gumam Jaka begitu mengenali sosok tubuh itu.


Si Gila Jubah Hitam, adalah tokoh sakti yang tidak jelas golongannya. Tingkahnya yang mirip orang gila sering membuat bingung tokoh-tokoh rimba persilatan, baik dari gotongan hitam maupun putih.


"He he he..., tidak percuma bertahun-tahun kalian mengurung diri di Bukit Batok," si Gila Jubah Hitam terkekeh sambil menggaruk-garuk rambutnya yang panjang dan kusut.


Kalau dilihat dari wajah, pakaian, dan tubuhnya orang pasti menyangka si Gila Jubah Hitam ini seorang kakek-kakek. Padahal dia masih berusia tiga puluh tahun. Hanya karena tidak pernah mengurus diri, jadi kelihatan seperti berumur tujuh puluhan


"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Jaka. Matanya tetap tajam menatap si Gila Jubah Hitam.


"Hanya mengunjungi kalian. Tidak boleh?"


Jaka memandang adiknya yang berdiri di sampingnya. Memang sulit diduga niat dan keinginan orang itu. Dalam sekejap saja bisa berubah. Jaka kembali mengalihkan pandangan pada laki-laki aneh yang kini telah duduk di atas rerumputan. Dari kantung kulit yang selalu dibawanya, dikeluarkan seguci arak.


"Kalian punya makanan?" tiba-tiba si Gila Jubah Hitam bertanya. Sikapnya acuh, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal mereka tadi sempat mengadu ilmu, meskipun hanya satu jurus saja.


"Mana ada makanan di sini?" Wulan jadi geli juga. Rasa tegang yang menyelimuti dadanya berangsur-angsur berkurang.


"Lho, kalian selama bertahun-tahun di sini makan apa?" si Gila Jubah Hitam seperti kebingungan. Kembali tangannya garuk-garuk kepala.


"Apa saja, asal bisa dimakan," sahut Wulan.


"Kau punya apa saja?"


Sekelebatan Wulan melihat seekor rusa yang kemalaman di jalan. Secepat kilat tangannya bergerak, lalu seberkas cahaya keperakan pun meluncur deras. Tak pelak lagi, rusa gemuk itu terjungkal langsung mati. Jaka tersenyum akan ketangkasan adiknya melempar bintang perak yang menjadi andalan senjata rahasia mereka berdua.


"Itu!" sahut Wulan menunjuk rusa yang mati dengan leher tertembus bintang bersegi delapan dari perak.


"He he he....!" si Gila Jubah Hitam terkekeh, lalu berdiri.


Wulan hampir saja tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil mendapat mainan. Dengan berjingkrak kegirangan dihampirinya rusa yang tergeletak itu. Sambil menari-nari dan bernyanyi-nyanyi tidak karuan, si Gila itu mengangkat rusa gemuk bagai mengangkat sekantung kapas.


Si Gila Jubah Hitam kembali ke tempatnya semula seraya menjatuhkan rusa itu di depannya. Dia kembali duduk dan meminum arak langsung dari guci. Dengan lengan baju, disekanya mulut yang basah oleh arak.


Orang aneh itu mencabut bintang bersegi delapan yang menancap di leher rusa, lalu dengan cepat dilemparkannya kembali pada Wulan. Tangkas sekali gadis itu menangkap senjata rahasia miliknya. Dimasukannya kembali senjata itu ke dalam kantung yang tersembunyi di balik baju, setelah sebelumnya dibersihkan dari noda darah.


"Aku senang sekali rusa ini dimasak wanita cantik yang baik hati," kata si Gila menatap Wulan.


Wulan memandang Jaka. Kakaknya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Jaka tahu betul tabiat orang aneh ini. Dia akan selalu baik kalau ada yang membuatnya baik lebih dulu.


Wulan menghampiri laki-laki aneh itu, lalu dikeluarkan sebilah pisau dari lipatan bajunya. Kini rusa malang itu mulai dikulitinya. Sementara Jaka mengumpulkan ranting dan membuat api. Sebentar saja rusa itu telah terpanggang di atas api


"He he he...," si Gila terkekeh senang. Perutnya mendadak lapar sekali mencium bau harum daging panggang.


Laki-laki aneh itu menggeser duduknya mendekati rusa panggang yang masih di atas api. Hidungnya kembang kempis mencium bau harum yang lezat. Tangannya menjulur hendak mencuil daging rusa, tapi Wulan telah terlebih dulu menepisnya.


"Nanti, belum matang!" rungut Wulan, persis seorang ibu pada anaknya.


"Aku sudah lapar, boleh mencicipi sedikit saja," rengek si Gila Jubah Hitam.


"Kubilang nanti! Kita pesta sama-sama!"


"Pesta...! Kau bilang kita akan pesta?" mata si Gila Jubah Hitam seketika berbinar-binar.


"Iya, kenapa?"


"Wah, wah! Nasibku memang mujur malam Ini. Datang membuat ribut, malah ditawari pesta. Maafkan aku," Si Gila Jubah Hitam mendadak murung.


"Sudahlah, yang penting malam ini kita akan pesta dan gembira!" Jaka menimpali.


"He he he..., kalian memang baik!" orang aneh itu terkekeh lagi.


Wulan tersenyum dan mengerling pada kakaknya. Jaka cepat memahami arti kerlingan itu, dan segera bangkit beranjak dari situ.


"Mau ke mana kakakmu?" tanya si Gila Jubah Hitam.


"Mengambil arak," sahut Wulan terus membalik-balik rusa panggangnya.


"Arak..?! Wah, jadi kita benar-benar pesta?"


Wulan mengangguk dan tersenyum manis. Si Gila Jubah Hitam kembali berjingkrak-jingkrak kegirangan. Mulutnya tidak henti-hentinya bernyanyi. Tawa Wulan tidak tertahankan lagi. Sementara Jaka telah kembali dengan lima guci arak di pelukan tangannya. Si Gila Jubah Hitam makin gembira. Apalagi Jaka juga membawa gelas perak indah sebagai pelengkap pesta mereka.


Laki-laki aneh yang dikenal sebagai si Gila Jubah Hitam kini tengah duduk bersandar di pohon. Dibiarkan saja perutnya yang kekenyangan itu terbuka. Jaka dan Wulan duduk tidak jauh dari situ. Wulan sejak tadi tersenyum-senyum melihat tingkah polah si Gila Jubah Hitam yang selalu memancing tawa itu.


Nafsu makan si Gila ini juga luar biasa. Setengah badan rusa gemuk Itu, dihabiskannya sendiri. Sedangkan Wulan dan Jaka saja hanya makan sekedarnya. Sengaja mereka makan berlambat-lambat untuk mengimbangi makan laki-laki aneh itu.


"Sudah berapa orang yang datang ke sini?" tanya Si Gila Jubah Hitam tiba-tiba. Suaranya terdengar seperti bergumam.


"Maksudmu?" tanya Jaka sambil memandang adiknya.


"Aku yakin, aku bukan orang pertama yang datang ke Bukit Batok ini," gumam si Gila Jubah Hitam tidak menghiraukan pertanyaan Jaka.


"Memang bukan. Aku dan adikku sudah sepuluh tahun tinggal di sini," sahut Jaka seenaknya.


"Bukan kalian, tapi yang lain!"


"Oh... maksudmu orang-orang yang...," Jaka tidak melanjutkan kata-katanya.


"Iya, mereka yang gila pusaka!" sambung si Gila sambil membenahi letak bajunya.


"Aku tidak mengerti, kenapa mereka mengira kami yang menyimpan benda pusaka itu," kata Wulan seperti mengeluh.


"Jadi kalian tidak menyimpannya?" tanya si Gila Jubah Hitam.


"Jangankan menyimpan, melihat bentuknya pun belum pernah! Dengar namanya saja baru-baru ini," sahut Wulan.


Si Gila menatap Wulan tajam.


"Kau pasti tidak percaya!" dengus Wulan agak Jengkel.


"Entahlah. Yang jelas aku tidak peduli dengan benda pusaka macam itu," sahut si Gila Jubah Hitam.


"Lantas, kenapa kau ke sini?" tanya Jaka. Si Gila Jubah Hitam tak menjawab. Hanya kepalanya yang terdongak menengadah. Ada kemurungan terpencar dari sinar matanya yang cekung. Desah nafasnya berat, lalu perlahan-lahan kepalanya tertunduk. Sepertinya sedang mengenang sesuatu sehingga wajahnya kelihatan murung.


Kedua anak muda itu saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan perubahan yang tiba-tiba pada si Gila Jubah Hitam Beberapa saat mereka hanya berdiam diri saja. Jaka mengalihkan pandangannya kembali pada laki-laki aneh itu. Wulan juga mengarahkan pandangannya ke sana. Si Gila Jubah Hitam masih tertunduk, diam.


"Ada yang menyusahkanmu?" tanya Wulan lembut


Kembali si Gila Jubah Hitam mendesah berat. Pelan-pelan kepalanya terangkat. Matanya langsung tertumbuk pada wajah Wulan. Gadis ini tersentak melihat butir-butir air bening menetes dari sudut mata laki-laki aneh ini. Wulan menggeser duduknya lebih dekat


"Kau menangis, kenapa?" tanya Wulan pelan dan lembut


"Oh, ah! Tidak..., tidak !" si Gila Jubah Hitam gugup. Cepat-cepat diseka air matanya dengan lengan baju.


"Aku menangkap kesedihan di wajahmu. Kalau kau percaya pada kami, ungkapkanlah! Mungkin kami bisa membantu mengatasi kesedihanmu," lebih lembut suara Wulan.


"Aku tidak yakin kalian akan menemukan," parau suara si Gila Jubah Hitam.


Wulan dan Jaka saling berpandangan. Belum dapat mengerti maksudnya. Mereka segera menggeser duduknya agar lebih dekat lagi pada orang aneh ini


"Kalau kau bersedia mengatakannya, kami berjanji akan membantu kesulitanmu," kata Jaka seraya meletakkan tangannya ke punggung laki-laki itu.


"Persoalan yang kalian hadapi sekarang, lebih berat daripada persoalanku. Aku tidak ingin menambah beban buat kalian lagi. Dosaku akan semakin besar dan menumpuk," lirih suara si Gila Jubah Hitam.


"Kami tidak punya persoalan apa-apa. Kami mengasingkan diri ke Bukit Batok ini karena ingin memperdalam ilmu-ilmu yang kami miliki," kata Wulan meyakinkan.


"Jangan bohongi diri kalian sendiri! Kalian tengah berhadapan dengan tokoh-tokoh rimba persilatan yang gila benda pusaka! Mereka menyangka kalian yang menyimpan benda itu. Atau paling tidak, mengetahui di mana letak penyimpanannya."


Kembali sepasang anak muda itu saling berpandangan. Memang dalam beberapa hari ini sudah empat orang yang datang mencari benda pusaka Cupu Manik Tunjung Biru. Empat orang yang hanya memiliki kepandaian tanggung itu, tentu saja harus rela melepaskan nyawa mereka di tangan sepasang anak muda ini. Di kalangan rimba persilatan, sepasang anak muda ini dikenal sebagai Sepasang Walet Merah.


Kemunculan si Gila Jubah Hitam di Bukit Batok ini memang sedikit menambah persoalan baru bagi Sepasang Walet Merah. Entah ada hubungannya dengan Cupu Manik Tunjung Biru atau tidak, tetapi yang jelas saat ini tokoh-tokoh rimba persilatan tengah geger ingin mendapatkan benda pusaka itu.


Tidak jelas bersumber dari mulut siapa, kini Sepasang Walet Merah menjadi sasaran buruan. Tokoh-tokoh rimba persilatan menduga sepasang anak muda inilah yang paling tahu tentang benda itu. Padahal yang menjadi buruan tidak tahu sama sekali tentang benda itu. Mengapa orang-orang menyangka kalau Sepasang Walet Merah yang menyimpannya?


"Dari mana kau dengar kabar bohong itu?" tanya Jaka.


"Semua orang rimba persilatan sudah tahu, dan mereka pasti mengatakan kalau mereka tahu sendiri," sahut si Gila Jubah Hitam.


"Dan kau juga akan mengatakan begitu? Juga menyangka kalau kami menyimpan benda yang kami sendiri tidak tahu sama sekali? Iya?" desak Jaka agak sewot juga.


"He he he...," tiba-tiba si Gila kumat lagi edannya.


"Mereka semua mengatakan aku gila. Padahal, siapa sebenarnya yang gila?" si Gila Jubah Hitam memberi pertanyaan yang cukup sulit.


"Baiklah! Aku tidak peduli apakah kau, mereka, atau kami yang gila. Aku hanya ingin tahu, untuk apa kau datang ke sini, kenapa tiba-tiba kau sedih, dan untuk apa datang memberi kabar tidak enak?" Jaka memberondong pertanyaan.


"Banyak amat?! Yang mana harus aku jawab lebih dulu?" si Gila Jubah Hitam bingung.


"Terserah!" jawab Jaka.


Si Gila menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya komat-kamit mengulangi pertanyaan-pertanyaan Jaka tadi. Wulan yang memperhatikannya tidak dapat menahan geli. Mendadak saja perutnya mules karena menahan tawa.


"Kebanyakan, ah! Aku akan pergi!" dengus si Gila.


"Hey...,!" Jaka terkejut.


Tapi laki-laki aneh itu telah lebih cepat menghilang. Tokoh satu ini memang boleh juga tingkat kepandaiannya. Dalam keadaan duduk saja masih bisa mencelat dengan cepat. Jaka yang masih sempat mengetahui arah perginya, akan mengejar. Tetapi Wulan telah lebih cepat mencegahnya.


"Sudahlah, Kakang. Satu saat nanti kita pasti tahu," kata Wulan lembut.


"Aku masih penasaran. Adik Wulan," sahut Jaka.


"Aku juga, tapi tidak ada gunanya mendesak. Bisa-bisa dia berbalik memusuhi kita."


"Memang sulit juga menghadapi orang seperti itu," Jaka mengangkat bahunya.

__ADS_1


"He he he...!"


Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara tawa. Tidak salah lagi kalau suara itu milik si Gila Jubah Hitam. Sepasang Walet Merah paham betul dengan suaranya.


"Terima kasih, kalian telah berbaik hati mengundangku pesta. Lain waktu kita jumpa lagi, sobat!"


Jaka yang akan membuka mulut untuk menjawab, jadi mengurungkan niatnya. Wulan telah lebih cepat menepuk pundaknya. Dan memang suara itu tidak terdengar lagi. Si Gila Jubah Hitam benar-benar telah pergi meninggalkan Bukit Batok. Hebat juga pengerahan tenaga dalam orang aneh itu. Dia dapat mengirimkan suara dari jarak yang cukup jauh.


"Aku rasa sebaiknya kita mendahului mereka." kata Jaka.


"Jadi, kita turun kembali merambah rimba persilatan?" nada suara Wulan seperti tidak setuju.


"Terpaksa," desah Jaka sambil mengangkat bahunya.


"Yaaah, lagi pula kita memperdalam ilmu silat memang untuk menjaga dan mempersiapkan diri. Mungkin sudah waktunya," pelan suara Wulan.


"Kita berangkat besok saat fajar."


"Baiklah."


********************


Fajar baru saja menyingsing. Dua ekor kuda hitam berlari menuruni lereng Bukit Batok. Penunggangnya Sepasang Walet Merah. Wulan memperlambat lari kudanya ketika mencapai kaki bukit.


"Sebaiknya kita lebih cepat lagi meninggalkan bukit ini, Adik Wulan," ujar Jaka.


"Untuk apa ? Toh tidak ada yang harus diburu."


Jaka mengangkat bahunya. Benar juga kata Wulan tadi. Mereka memang tidak sedang memburu seseorang. Jadi untuk apa harus cepat-cepat? Dan lagi, dengan berjalan seperti ini tidak akan menarik perhatian orang.


"Semalaman aku berpikir," kata Jaka agak bergumam.


"Tentang apa?" tanya Wulan.


"Tentang Cupu Manik Tunjung Biru."


"Apa yang kau pikirkan dari benda itu?"


"Aku berpikir sebaiknya kita mencari keterangan tentang benda itu."


"Maksudmu?"


"Yaaah, kita harus tahu jenis benda apa, untuk apa, dan kenapa orang-orang sampai menginginkannya? Tidak mungkin mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk sebuah benda kalau tidak bermanfaat sama sekali!" Jaka mengemukakan pikirannya.


"Si Gila Jubah Hitam mengatakan kalau benda itu merupakan benda pusaka. Jelas banyak kegunaannya," Wulan menimpali.


"Kau tahu benda apa itu?"


"Kalau aku tahu, kau pun pasti tahu, Kakang."


"Susah juga, ya. Kita sendiri tidak tahu, tapi orang menyangka lain."


"Itulah hidup."


Mereka tertawa bersama, tapi tidak tahu apa yang ditertawakan. Namun mendadak tawa mereka berhenti. Seketika itu juga, mereka menarik tali kekang kudanya. Belum sempat menarik napas, mendadak secercah sinar keemasan meluncur deras ke arah mereka.


"Awas, Kakang...!" teriak Wulan.


Dengan sigap Jaka melompat dari kudanya melesat ke udara sambil bersalto dua kali. Sinar keemasan Itu lewat di bawah kakinya, dan hampir menyambar Wulan. Untung gadis itu tak kalah sigap dengan Jaka. Dia melompat cepat dari kudanya.


Sepasang Walet Merah dengan manis mendarat di atas tanah dan berdiri tegak berdampingan. Hampir bersamaan, mereka mencabut tombak yang kedua ujungnya bermata tajam.


Kembali dua berkas sinar keemasan meluncur deras ke arah mereka. Tapi Sepasang Walet Merah sama sekati tidak bergeming. Dan ketika dua sinar keemasan itu hampir menyentuh tubuh, dengan cepat masing-masing menggerakkan tongkatnya.


Trak! Trak!


Dua sinar itu meluruk ke tanah. Tampak sebentuk bunga anggrek dari bahan logam keemasan menggeletak di ujung kaki mereka.


"Dewi Anggrek Emas," desis Wulan mengenali senjata itu.


Belum lagi selesai kata-kata terucap, tiba-tiba di depan mereka muncul seorang wanita cantik. Dia mengenakan baju berwarna kuning keemasan. Pada rambutnya yang panjang terkepang, terselip bunga anggrek berwarna kuning emas. Wanita itu adalah Dewi Anggrek Emas. Tangannya menggenggam setangkai bunga anggrek yang sangat besar.


"Panjang jodoh kita bisa bertemu di sini," suara Dewi Anggrek Emas terdengar lembut mempesona. Kedua matanya yang bulat indah tidak lepas menatap wajah Jaka.


"Apa yang kau inginkan. Dewi Anggrek Emas? Mengapa kau menghadang jalan kami?" tanya Wulan ketus. Dia benci melihat pandangan mata itu terhadap kakaknya.


"Sepuluh tahun tidak bertemu, rasa rindu sekali. Apakah perasaanmu sama denganku, Jaka?" Dewi Anggrek Emas tidak menghiraukan pertanyaan Wulan.


"Tentu saja aku rindu," sahut Jaka.


"Kakang!" bentak Wulan kesal.


Jaka menatap adiknya yang kelihatan sewot. Dia paham betul kalau Wulan membenci wanita itu. Rasa benci itu memang dapat dimaklumi. Sebab, meskipun Dewi Anggrek Emas memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh indah, namun tingkah lakunya liar. Segala macam cara selalu digunakannya untuk menjerat pemuda-pemuda tampan untuk memuaskan nafsunya.


Dewi Anggrek Emas sampai sekarang masih penasaran karena belum juga dapat menundukkan Jaka. Hatinya belum puas kalau pemuda tampan itu belum tunduk di bawah kakinya. Hanya saja yang jadi ganjalan utamanya adalah Wulan.


"Dewi Anggrek Emas! Kalau kau tidak ada keperluan penting, sebaiknya angkat kaki dari sini!" bentak Wulan penuh kebencian.


"Justru aku datang memang sengaja mencari kalian," sahut Dewi Anggrek Emas.


"Kau pasti sama seperti yang lain. Menyangka kami memiliki benda keparat itu!" dengus Wulan.


"Sebaiknya kalian serahkan saja benda pusaka itu padaku. Bukankah dengan demikian kalian akan selamat?" Dewi Anggrek Emas mengerling genit pada Jaka.


"Kami tidak tahu di mana benda itu! Jelas?!" lantang suara Wulan.


"Benar begitu, Jaka?" tanya Dewi Anggrek Emas dengan suara dibuat selembut mungkin.


"Mungkin," sahut Jaka sambil mengangkat bahunya. Dia senang membuat wanita ini jadi penasaran. Jaka tahu betul kalau Dewi Anggrek Emas selalu menginginkan dirinya. Maka setiap bertemu, Jaka selalu mempermainkannya dengan halus.


"Tanyakan saja sendiri pada Wulan," kata Jaka.


Wulan jadi gemas melihat sikap kakaknya yang seperti memberi angin pada wanita liar itu. Rasanya ingin memaki-maki, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat. Wulan jadi tambah geregetan melihat Jaka tersenyum-senyum. Di tangannya tidak lagi tergenggam tombak bermata dua. Senjata itu sejak tadi sudah diselipkan di pinggangnya.


"Kalau benar benda itu ada padaku, kau mau apa?" gemas Wulan menantang.


Dewi Anggrek Emas hanya tertawa saja.


"Nenek jelek, rebut benda pusaka itu dari tanganku!" teriak Wulan mengejek.


"Kadal buduk! Kurobek mulutmu!" geram Dewi Anggrek Emas. Muka dan telinganya merah saat itu juga ketika dipanggil nenek jelek.


Secepat kilat Dewi Anggrek Emas melompat sambil mengibaskan bunga anggrek raksasa yang menjadi senjata kebanggaannya. Wulan yang sudah muak sejak tadi langsung menggeser kakinya ke samping. Dan tombak bermata dua pun digerakkan dengan cepat ke atas.


Trang!


Dua senjata beradu sangat keras sehingga menimbulkan pijaran bunga api. Dewi Anggrek Emas lantas melesatkan tubuhnya dan berputar satu kali tanpa menjejak tanah lebih dulu, lalu kembali menyerang dari atas.


Wulan segera memutar tombak pendeknya seolah-olah memayungi kepalanya dari gempuran lawan. Namun tanpa diduga sama sekali, Dewi Anggrek Emas mengegos ke samping, lalu kakinya melayang deras ke iga Tawan.


"Ih!" Wulan tersentak. Buru-buru digerakkan tangannya menangkis kaki yang mengarah ke iganya, sambil memiringkan tubuh sedikit.


Dewi Anggrek Emas tidak ingin mengambil resiko. Cepat ditarik kakinya kembali dan dijejakkan di tanah. Namun baru saja kakinya sampai di tanah, Wulan menyerangnya dengan satu tombak mengarah dada.


Tidak ada pilihan lain bagi Dewi Anggrek Emas. Ditangkis tombak pendek itu dengan senjatanya yang berbentuk bunga anggrek raksasa.


Trang!


Kembali dua senjata beradu keras. Seketika tangan Wulan seperti kesemutan. Bergegas ditarik pulang senjatanya. Demikian juga yang dialami Dewi Anggrek Emas. Jari-jari tangannya menjadi kaku. Hampir saja senjatanya lepas kalau tidak segera dipindahkannya ke tangan kiri.


Pertarungan yang baru berlangsung dua jurus itu mendapat perhatian serius dari Jaka. Diam-diam dikaguminya kemajuan Wulan. Dua kali adu senjata, dua kali pula Wulan hampir melontarkan senjata lawan. Kelihatannya selama sepuluh tahun ini, Dewi Anggrek Emas tidak mengalami perubahan. Baru dua jurus saja, Jaka telah dapat menilainya


"Kenapa berhenti, takut?" ejek Wulan.


"Sepuluh orang sepertimu, aku tidak akan mundur setapak pun!" dengus Dewi Anggrek Emas.


"Bersiaplah! Terima jurus Mata geledekku!"


Selesai berkata demikian, Wulan menggerakkan kakinya menyusur tanah dengan cepat. Tombaknya dibolak-balikkan cepat ke depan. Dua ujung tombak yang bermata tajam mengarah ke dada lawan.


Dewi Anggrek Emas menyambut serangan itu dengan jurus Anggrek Maut itu diputar-putar bagai baling-baling. Tubuhnya meliuk-liuk bagai karet.


"Lihat kaki!" teriak Wulan keras dan tiba-tiba.


Secepat itu pula ujung tombaknya mengibas ke kaki lawan. Dewi Anggrek Emas menggeser kakinya segera, tetapi ternyata terpedaya. Serangan Wulan yang mengarah ke kaki hanya tipuan saja. Sedangkan dalam waktu yang hampir bersamaan, kaki kanannya naik cepat dan menyambar pinggang.


"Setan!" dengus Dewi Anggrek Emas kaget. Cepat-cepat Dewi Anggrek Emas mengarahkan senjatanya untuk melindungi pinggangnya. Tapi lagi-lagi tertipu. Ternyata kaki Wulan tidak sampai menyambar pinggang. Justru pada saat kaki itu bergerak, Wulan membarengi dengan memutar tombaknya ke atas.


Kali ini Dewi Anggrek Emas tidak bisa lagi mengelak Tombak itu sangat cepat menyambar ke lehernya. Mau tidak mau Dewi Anggrek Emas menangkis dengan tangan kirinya yang masih bebas.


"Akh!" Dewi anggrek emas memekik tertahan.


Dengan cepat dia melompat sejauh dua tombak ke belakang. Tangan kirinya sobek cukup lebar. Darah segar mengucur deras. Dewi Anggrek Emas segera menotok jalan darah di tangan yang luka itu. Sekejap saja darah berhenti mengalir.


Dewi Anggrek Emas memandang sengit pada lawannya. Giginya terkatup rapat dengan geraham bergemeletuk menahan geram. Dia hampir tidak percaya kalau Wulan memperoleh kemajuan begitu pesat. Jurus-jurusnya makin berbahaya. Gerakannya sangat cepat, sukar diduga arah dan tujuannya.


Sementara Jaka yang sejak tadi mengawasi dengan seksama pertarungan itu, tersenyum-senyum melihat Dewi Anggrek Emas mendapat luka. Diç’¦cungkan ibu jarinya saat Wulan menoleh dengan bibir tersungging senyum.


"Jangan besar kepala dulu, Wulan. Aku belum kalah," desis Dewi Anggrek Emas dongkol.


"Kau ingin adu kesaktian?" Wulan menantang.


"Bersiaplah! Terima jurus Anggrek Seribuku!"


Dewi Anggrek Emas memasukkan senjata bunga anggrek raksasanya ke balik ikat pinggang. Kemudian direntangkan kedua belah tangannya ke samping. Dengan diiringi jerit melengking, secara cepat kedua tangannya bergerak. Seketika benda-benda yang memancarkan sinar keemasan bertebaran deras ke arah Wulan.


"Hait..!"


Wulan berjumpalitan menghindari serbuan anggrek emas yang dilontarkan Dewi Anggrek Emas. Senjata yang berbentuk bunga anggrek berwarna emas itu datang bagai hujan tumpah dari langit. Begitu derasnya sehingga Wulan agak kerepotan menghindarinya.


Trang! Trang! Trang!


Beberapa kali tombak bermata dua beradu menahan serangan anggrek-anggrek emas yang datang tanpa henti. Bahkan kini Dewi Anggrek Emas menggerakkan kakinya dengan cepat seperti ingin memutari tubuh Wulan.


Wulan sadar betul melihat keadaan ini. Tanpa menunggu waktu lagi, tombak bermata dua itu pun diputar-putar bagai baling-baling. Dewi Anggrek Emas sangat terkejut melihat tubuh Wulan seperti hilang di balik gulungan sinar keperakan. Dengan hati panas diliputi penasaran yang tinggi, Dewi Anggrek Emas makin mempercepat gerakan sambil melontarkan senjata andalannya.


"Habiskan semua senjatamu, Nenek Sihir!" teriak Wulan mengejek.


"Phuih!"Dewi Anggrek Emas makin geram hatinya mendengar ejekan itu.


Dewi Anggrek Emas semakin cepat bergerak memutari tubuh Wulan. Senjata anggreknya menyebar dari segala penjuru. Namun sampai sejauh itu belum ada satu pun yang dapat menembus benteng pertahanan Wulan. Sinar keperakan yang menyelimuti tubuh gadis itu sulit ditembus. Dewi Anggrek Emas makin geram.


Tiba-tiba Dewi Anggrek Emas menjerit melengking, lalu tubuhnya melompat tinggi ke udara. Tangannya bergerak cepat melontarkan senjata andalannya dari udara.


"Setan!" dengus Wulan terkejut dengan perubahan serangan yang tiba-tiba.


Anggrek-anggrek emas itu datang sangat cepat dari atas kepalanya Wulan. Tidak mungkin merobah lagi pertahanannya Bagian atas memang lowong, dan tidak ada pilihan lain. Segera Wulan menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Anggrek-anggrek emas itu meluruk deras menancap di tanah beberapa jengkal saja dari tubuh Wulan.


"****** kau!" jerit Dewi Anggrek Emas.


Setelah berkata demikian, dengan cepat Dewi Anggrek Emas meluruk ke bawah sambil tidak henti melontarkan senjatanya. Seperti bermata saja, senjata itu mengejar ke mana saja Wulan menghindari sambil bergulingan. Wulan tidak punya kesempatan lagi menggunakan tombaknya.


"Pakai ujung tombakmu, Wulan. Pinjam tenaga!" tiba-tiba Jaka berteriak keras.


"Baik, Kakang!" balas Wulan.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Wulan menekan ujung tongkatnya ke tanah. Ketika sebuah senjata meluncur deras ke arahnya, dengan cepat Wulan membalikkan tombaknya. Sebelah ujung tombaknya menutuk senjata bunga anggrek itu. Kemudian dengan meminjam tenaga dari tongkatnya, Wulan langsung melompat ke angkasa.


"Curang!" sungut Dewi Anggrek Emas.


Manis sekali kaki Wulan mendarat di tanah. Senjata tombak bermata dua kembali menyilang di depan dada. Sesaat Wulan memberikan kerlingan mata pada Jaka, yang kemudian dibalas dengan senyuman. Sedangkan Dewi Anggrek Emas kelihatan bersungut-sungut setelah lawannya mampu menandingi jurus Anggrek Seribunya tanpa mendapat celaka sedikit pun


"Jaka, hadapi aku!" bentak Dewi Anggrek Emas sengit.


"Tidak perlu manis. Adikku pun sudah cukup," tenang dan lembut Jaka menyahuti.


Tetapi kelembutan suara Jaka justru menyakitkan di telinga Dewi Anggrek Emas. Jelas, kata-kata yang diucapkan tenang itu mengandung nada ejekan serta meremehkan dirinya. Dewi Anggrek Emas makin dongkol saja.


"Bagaimana, Nenek Sihir? Menyerah?" tantang Wulan.


"Phuih!" tambah geram hati Dewi Anggrek Emas "Jaka, jangan salahkan aku kalau adikmu yang masih bau kencur ini mati di tanganku!"


"Apa tidak sebaliknya?" ejek Wulan.


"Tikus busuk! Terima seranganku!"


Seketika saja Dewi Anggrek Emas mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan gerakan perlahan, tangannya diturunkan hingga sejajar dengat ketiak.


"Hati-hati, Wulan. Dia mengeluarkan ajian Wisanggeni" kata Jaka memperingatkan. "Lawan dengan Bayu Segara!"


"Baik, Kakang," sahut Wulan.


Segera saja Wulan menekuk kaki kanannya ke depan. Sedangkan kaki kirinya ditarik ke belakang agak menyamping. Kemudian tangan kirinya dipentang lurus ke depan, lalu tangan kanannya ditempelkan di siku kiri.


"Aji Wisanggeni...!" teriak Dewi Anggrek Emas melengking.


Seketika tubuhnya mencelat bagai anak panah lepas dari busur. Pada saat yang bersamaan kaki Wulan bergerak cepat menyusur tanah. Tangannya merentang ke samping, lalu dengan cepat dikebut ke depan.


Pada saat yang sama, Dewi Anggrek Emas telah mendorong kedua tangannya ke depan pula. Maka kedua pasang tangan itu pun beradu keras hingga menimbulkan suara ledakan dahsyat. Tubuh Dewi Anggrek Emas terjengkang ke belakang dua depa. Sedangkan Wulan melentingkan tubuhnya ke angkasa. Dua kali berputar di udara, kemudian dengan cepat meluruk bagai seekor elang menerkam mangsa, terarah ke kepala Dewi Anggrek Emas.


Dewi Anggrek Emas yang terjengkang itu belum dapat menguasai diri. Dia terkejut sekali karena Wulan telah menyerang kembali dari atas kepalanya.


"Setan!" umpat Dewi Anggrek Emas.


Tanpa pikir panjang lagi, disambutnya serangan Wulan yang mendadak. Kembali dua pasang telapak tangan beradu. Begitu dahsyatnya serangan itu sampai-sampai kaki Dewi Anggrek Emas melesak masuk ke tanah hingga sebatas lutut Wulan kembali melenting berputar dua kali di udara, lalu dengan lincah mendarat ke tanah.


"Hoek!" Dewi Anggrek Emas memuntahkan darah kental kehitaman.


Wajah wanita itu mendadak merah. Betapa malunya Dewi Anggrek Emas karena dapat dikalahkan oleh seorang gadis yang dulu menjadi bulan-bulanan dirinya. Setelah menyeka mulutnya, Dewi Anggrek Emas mengerahkan tenaga dalamnya. Dan....


"Hait..!"


Tubuh Dewi Anggrek Emas terlonjak ke atas. Kakinya telah keluar dari tanah. Kini tubuhnya melesat ke udara dan membuat putaran tiga kali sebelum menjejak tanah. Tubuhnya sedikit limbung ketika kakinya sampai di tanah. Dari mulutnya kembali memuntahkan kental kehitaman. Matanya menjadi perih berkunang-kunang.


"Kau terluka dalam, Dewi Anggrek Emas. Perlu waktu satu bulan untuk memulihkan kekuatanmu," kata Wulan kalem.


"Bocah setan! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini. Satu saat kelak, akan kubalas kau!" dengus Dewi Anggrek Emas dendam.


"Aku rasa dalam satu bulan belum tentu kau dapat memulihkan tenaga dalammu," Jaka menimpali.


Dewi Anggrek Emas mendengus. Dia baru tahu kalau aji Bayu Segara yang dilepaskan Wulan dapat menyedot setengah lebih tenaga dalam yang dimilikinya. Memang bukan sedikit waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya.


Aji Bayu Segara memang tidak kelihatan akibatnya secara langsung. Tapi siapa saja yang terkena ajian itu, dapat dipastikan lebih dari setengah tenaga dalamnya akan tersedot. Dan lagi jurus-jurus serta ilmu-ilmu kesaktiannya juga akan berkurang kehebatannya Tidak nyata secara fisik, tapi mampu membuat mental seorang tokoh jadi frustasi.


"Tunggu pembalasanku, Wulan!" teriak Dewi Anggrek Emas.


Setelah berkata demikian, Dewi Anggrek Emas segera melompat pergi. Tetapi tanpa diduga sekali, lompatannya jadi lambat dan pendek seperti orang sedang belajar ilmu olah kanuragan. Dia benar-benar lupa kalau setengah kekuatan tenaga dalamnya telah tersedot. Melihat kenyataan ini, Dewi Anggrek Emas menjadi geram setengah mati. Matanya merah menyala menatap Wulan yang hanya tersenyum-senyum.


"Jangan gunakan tenaga dalam, bisa mati lemas nanti," kata Jaka kalem.


"Huh!" Dewi Anggrek Emas bersungut-sungut.


Hatinya benar-benar tidak dapat melupakan penghinaan ini. Dendam terbalut rapat di dasar hatinya. Sambil menggerutu jengkel, Dewi Anggrek Emas melangkah pergi tanpa berani lagi menggunakan tenaga dalamnya.


"Kau tidak apa-apa, Wulan?" tanya Jaka ketika Dewi Anggrek Emas sudah tidak kelihatan lagu


"Tidak," sahut Wulan cepat.


"Tapi kau harus semadi sebentar untuk memulihkan tenagamu. Barangkali ada sedikit pengaruh aji Wisanggeni di jalan darahmu," kata Jaka penuh perhatian.


Wulan tersenyum, lalu duduk bersimpuh di bawah pohon yang berumput tebal. Segera diambilnya sikap bersemadi, memusatkan seluruh perhatian dan semua indranya dari hubungan dengan dunia fana. Disatukan diri dan jiwanya kepada Sang Pencipta. Perlahan-lahan Wulan merasakan tubuhnya kian ringan, darahnya mengalir tenang. Hawa sejuk mulai merembes masuk ke seluruh jaringan syarafnya.


Hawa sejuk nyaman perlahan-lahan berganti menjadi panas. Semakin lama panas yang menyambar ke seluruh tubuhnya semakin menyengat. Keringat mulai menitik di kening dan seputar lehernya. Selanjutnya tubuh Wulan bagai terserang demam. Dan....


"Hoek!" Wulan memuntahkan darah merah kental dari mulutnya dua kali.


Berangsur-angsur seluruh jiwa dan raganya kembali tenang. Wajah yang memerah pun kembali pulih seperti semula. Cerah bagai bayi tanpa dosa. Perlahan-lahan Wulan membuka matanya yang bulat bening seperti bertaburkan bintang berkilauan. Dengan lengan baju diseka mulutnya Segera Wulan bangkit berdiri. Matanya langsung tertuju pada Jaka yang duduk bersandar di bawah pohon rindang. Kakaknya itu pun tengah memperhatikannya dengan bibir tersenyum.


"Sudah?" tanya Jaka setelah Wulan mendekat.


Wulan mengangguk.


"Kau terkena aji Wisanggeni tadi," kata Jaka sambil bangkit dari duduknya.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Wulan. Kakinya terus melangkah mendekati kuda yang setia menunggu sambil merumput.


"Aku melihat noda merah pada telapak tanganmu," sahut Jaka seraya melompat ringan ke atas punggung kuda.


Wulan segera naik ke punggung kudanya sendiri. Sikapnya tenang, setenang air sungai mengalir. Digebah kudanya perlahan agar berjalan lambat-lambat saja Jaka juga menyentak tali kekang kudanya. Dua ekor kuda dengan penunggang Sepasang Walet Merah itu berjalan perlahan.


"Kalau saja aji Bayu Segaramu sudah sempurna, pasti perempuan itu akan mati tanpa luka," kata Jaka setengah bergumam.


"Yah, seharusnya aku menyempurnakannya dulu baru turun bukit lagi," desah Wulan.


"Kau bisa melakukannya dalam perjalanan."


"Apa mungkin?"


"Kenapa tidak? Setiap lawan yang terkena aji Bayu Segara akan menitipkan sebagian tenaga dalamnya padamu. Dengan demikian kau tidak perlu susah-susah bersemedi menyempurnakan tenaga dalam. Enak, kan?"


"Kau lupa, Wulan. Aji Bayu Segara hanya cocok dimiliki wanita. Sedangkan aku melatih padanannya yang dapat menunjang ajianmu itu. Namanya, aji Tirta Segara."


"Maaf, aku lupa," Wulan tersipu. "Kita dipersiapkan eyang resi untuk menjadi Sepasang Walet Merah. Jadi apa yang kita miliki ini saling menunjang. Memang tidak ada salahnya kalau dilakukan sendiri-sendiri. Tapi akan lebih sempurna jika dilakukan bersama-sama dalam satu jiwa."


"Itu kan pesan Eyang Resi, Kakang."


"Iya, aku hanya memperingatkan saja kok." Wulan mendadak tercenung. Dia ingat dengan kata-kata yang diucapkan guru mereka sebelum meninggal. Semua yang telah diturunkan dan dikuasai kakak beradik ini akan lebih sempurna jika memakan jantung burung walet merah yang hanya ada sepasang saja di dunia ini. Dan sepasang jantung itu telah disimpan eyang resi dalam satu tempat. Sayang beliau belum sempat menyebutkan, di mana jantung sepasang walet merah Ku disimpan.


"Kakang..," kata Wulan.


"Ada apa?" tanya Jaka.


"Kau Ingat pesan terakhir Eyang Resi?" Wulan balik bertanya.


"Pesan apa?" Jaka belum mengerti.


"Coba kau ingat-ingat dulu," kata Wulan seolah-olah memberi teka-teki.


Jaka mengerutkan keningnya. Terlalu banyak pesan yang diberikan guru mereka sebelum meninggal. Jaka mencoba untuk mengingat satu per satu. Menduduk dia tersentak ketika teringat salah satu pesan yang hampir terlupakan. Hanya satu kalimat saja, dan kelihatannya tidak begitu penting.


"Aku rasa ini ada hubungannya dengan tokoh-tokoh rimba persilatan yang tengah mencari-cari kita," kata Wulan.


"Mungkin juga," gumam Jaka. Keningnya masih berkerut.


********************


Hari sudah menjelang senja. Matahari bersiap-siap pergi tidur. Di atas pepohonan, burung-burung nampak sibuk kembali ke sarangnya. Sedangkan di bawahnya, terlihat dua ekor kuda yang tengah ditunggangi Sepasang Walet Merah. Mereka terus berjalan menyusuri lereng Bukit Batok. Tidak jauh dari situ, terlihat sebuah desa yang mulai kelihatan sepi. Desa yang satu-satunya terdekat dengan lereng bukit ini dinamakan Desa Batok.


Suasana sepi itu tiba-tiba pecah oleh teriakan keras disusul dengan munculnya sesosok tubuh menjebol atap sebuah rumah. Sosok tubuh berpakaian ketat serba putih itu bersalto beberapa kali. Di sebuah dahan pohon sosok itu hinggap dengan manis. Matanya memandang sebentar pada rumah yang baru saja dijebolnya, lalu kembali mendarat di tanah. Gerakannya ringan, menandakan orang itu memiliki kepandaian yang tidak rendah.


Sepasang Walet Merah segera menghentikan langkah kudanya. Serentak mereka melompat turun dan menuntun kuda mendekati sebuah pohon di pinggir jalan utama desa itu. Wulan mengamati rumah yang ternyata sebuah penginapan. Tatapannya lalu beralih pada orang berpakaian ketat serba putih yang berdiri tegang menghadap ke pintu rumah penginapan.


"Sarmapala," desah Wulan mengenali orang itu.


Brak!


Tiba-tiba saja pintu rumah penginapan itu hancur berantakan. Kemudian disusul berkelebatnya seberkas cahaya merah meluncur deras ke arah Sarmapala. Dalam waktu yang bersamaan, Sarmapala melompat ke udara. Sinar merah itu lewat di bawah kakinya, lalu tepat menghantam pohon yang berada di belakang laki-laki muda itu. Seketika pohon itu meledak dan tumbang. Sarmapala kembali mendarat manis di tanah.


"Klabang Hijau, ke luar kau! Jangan seperti tikus bersembunyi di parit!" bentak Sarmapala keras.


"He he he.... Sungguh besar nyalimu, Sarmapala. Tapi lebih besar bualanmu daripada besarnya gunung," terdengar suara keras dari dalam penginapan.


"Nyalimu yang seperti liur! Kalau jantan, ke luar!" balas Sarmapala dengan tajam.


Belum lagi selesai bibir Sarmapala berkata, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan hijau ke luar dari pintu rumah penginapan yang hancur berantakan. Sekejap saja di depan Sarmapala sudah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk dengan tongkat hijau di tangannya. Bajunya yang menyerupai jubah, seluruhnya berwarna hijau. Bahkan wajah dan tangannya pun berwarna hijau. Dia kini tengah memandang Sarmapala dengan tajam.


"Sarmapala bisa mati di tangan Klabang Hijau." desis Jaka ketika melihat laki-laki tua berdiri dengan tiba-tiba di depan Sarmapala.


"Kau akan membantu Sarmapala, Kakang?" tanya Wulan


"Tidak," Sahut Jaka tegas.


Seperti apapun bahayanya Sarmapala, tidak bakalan Jaka membantu. Dia tidak pernah menyukai laki-laki itu yang selalu saja menginginkan Wulan menerima cintanya, meskipun Sarmapala seorang pendekar digdaya yang berhati lurus.


Jaka masih ingat ketika Sarmapala mempermalukannya di depan orang banyak. Saat itu tubuh Jaka dibuat babak belur hanya karena salah pengertian yang sepele. Meskipun dulu hidup bergelandang dan mengemis, tapi Jaka tidak pernah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.


Waktu itu, Sarmapala masih remaja, sama seperti dirinya yang masih berusia sekitar lima belas tahun. Dia anak seorang pembesar kerajaan yang sangat dihormati dan disegani. Suatu saat, di pusat kerajaan sedang diadakan pesta besar-besaran menyambut datangnya peringatan Dasawarsa Kerajaan. Dalam keadaan seluruh penduduk bersenang-senang, tiba-tiba terjadi ribut-ribut.


Keributan itu berawal dari seorang wanita setengah baya yang kecopetan. Kebetulan Jaka yang waktu itu masih bergelandang berada dekat dengan kejadian itu. Semua orang langsung menuduhnya mencopet wanita setengah baya itu. Sarmapala yang saat itu juga berada di sana bersama sejumlah prajurit, segera bertindak tanpa bertanya lebih dulu. Tentu saja, Jaka yang hanya seorang gelandangan dan awam terhadap ilmu kanuragan, menjadi babak belur. Untunglah seorang kakek tua cepat menolongnya dan membawanya dari tempat itu. Kakek yang bernama Eyang Resi Suralaga lalu mengangkat Jaka sebagai anak sekaligus murid bersama cucu kakek itu yang bernama Wulan. Kejadian itu tidak terlupakan bagi Jaka hingga saat ini.


"Kakang...," Wulan mencolek lengan Jaka.


"Oh!" Jaka tersentak dari lamunannya.


"Kita disini terus, Kakang?" tanya Wulan


"Sebentar, biarkan mereka selesai dulu dengan urusannya, baru kita lanjutkan perjalanan," jawab Jaka.


Wulan tidak membantah. Dia cukup mengerti perasaan Jaka saat ini. Wulan pun tahu peristiwa yang sekitar dua puluh tahun yang lalu. Saat itu dia masih berusia sekitar lima tahun. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana keadaan Jaka waktu itu. Tetapi Wulan tidak menyalahkan Jaka ataupun Sarmapala. Baginya hal itu hanya salah pengertian saja. Lain halnya dengan Jaka. Rupanya dia mengingatnya sebagai sesuatu yang tidak patut dilupakan. Dan itu memang hak seseorang, dan Wulan tidak ingin mencampurinya.


Sementara itu Sarmapala sudah bertarung melawan Klabang Hijau. Jaka yang selalu memperhatikan dengan serius, sudah bisa menghitung kalau pertarungan itu sudah berjalan hampir lima jurus. Dan kelihatannya Sarmapala sudah sangat terdesak sekali.


Kepandaian Klabang Hijau memang jauh di atas Sarmapala. Hanya saja sikap Sarmapala yang congkak dan tinggi hati membuatnya enggan mengakui keunggulan lawan. Hidupnya yang serba kecukupan dan dikelilingi para pengawal, membuatnya selalu memandang rendah pada siapa. Rupanya ini berlanjut sampai dewasa. Lebih-lebih sekarang menjabat sebagai Kepala Pasukan Kerajaan, semakin jelas sikap congkaknya. Namun demikian, Sarmapala selalu berjalan dalam alur yang lurus.


Kini Sarmapala telah mengeluarkan jurus-jurus ilmu pedang andalannya. Sementara Klabang Hijau kelihatan masih melayaninya setengah-setengah. Bahkan sampai lewat tiga puluh jurus, Klabang Hijau belum sekali pun membalas setiap serangan Sarmapala. Dia hanya berkelit menghindar, sambil terkekeh tidak henti-hentinya Hal ini membuat Sarmapala semakin gusar dan panas hatinya.


"Klabang Hijau, jangan hanya berkelit saja! Serang aku!" teriak Sarmapala jengkel karena merasa diremehkan.


"He he he.... Aku tidak pernah berurusan dengan pihak kerajaan. Bahkan selamanya aku tidak ingin berurusan!" sahut Klabang Hijau.


"Jangan katakan aku kejam kalau pedangku menembus jantungmu!" dengus Sarmapala.


"Silakan, kalau kau mampu."


Mendengar tantangan ini, Sarmapala makin geram hatinya. Dia pun segera memperhebat serangan-serangannya Pedang pusaka warisan Ayahandanya, berkelebat cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan. Rasa penasaran di dalam hatinya semakin menebal. Tetapi sampai sejauh ini, pedangnya belum sedikit pun menyentuh ujung jubah orang tua itu. Hingga pada suatu saat...


"Tahan...!" seru Klabang Hijau keras.


"Celaka!" sentak Jaka dan Wulan hampir berbarengan.


Apa yang dilakukan Klabang Hijau?

__ADS_1


********************


__ADS_2