Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Jago Jago Bayaran Bag. 5


__ADS_3

Di Desa Kali Anget, Suryadenta dan saudara-saudaranya sedang bergembira, karena rencana mereka untuk menyebarkan berita tentang keberadaan Pendekar Rajawali Sakti, tanpa diketahui sumbernya, berjalan mulus tanpa hambatan. Bahkan orang-orang rimba persilatan mulai meninggalkan desa, menuju Kawah Neraka yang berada diluar batas Desa Kali Anget sebelah Utara.


Namun, kegembiraan empat bersaudara itu tidak berlangsung lama, karena Ki Pungkur mulai menyebarkan hasutan untuk memilih kepala desa yang baru. Sedang Ki Pungkur dengan terang-terangan menyodorkan Ki Karangseda sebagai calon tunggalnya.


"Aku jadi curiga, jangan-jangan semua ini sudah di atur oleh Ki Karangseda," kata Mayadenta setengah bergumam.


Saat itu mereka tengah berada di kedai Pak Rahim. Kedai yang menjadi langganan mereka untuk mengisi perut dan memecahkan segala permasalahan.


"Benar," sambung Tirtadenta. Tidak mungkin orang-orang rimba persilatan datang ke sini kalau tidak ada yang mengundang. Dan kita sudah tahu, mereka ke sini untuk menunggu Pendekar Rajawali Sakti."


"Aku sendiri jadi bingung, bagaimana mereka bisa tahu kalau pendekar itu akan lewat sini?" sambung Bayudenta setengah bergumam.


"Seribu keping uang emas..., benar-benar hadiah yang menggiurkan untuk satu kepala manusia. Tapi tak masalah bagi Ki Karangseda. Bahkan sepuluh kali lipat pun, dia sanggup menyediakan," kata Mayadenta menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sementara Suryadenta hanya mendengarkan. Apa yang dikatakan adik-adiknya memang benar. Ki Karangseda adalah seorang yang paling kaya di desa ini. Dan semua juga tahu, Ki Karangseda sangat berambisi jadi kepala desa. Dia tidak puas hanya sebagai wakilnya saja. Menurutnya, dialah yang lebih pantas jadi kepala desa. Dia tidak pernah rneninggalkan desa. Sedangkan Ki Jatirekso belum lama kembali ke desa, lantaran mengembara.


Suryadenta menengadahkan kepalanya. Dia ingat sekarang, kalau antara Ki Karangseda dan Ki Jatirekso dari dulu tidak pernah sepaham. Ada saja yang menjadi perselisihan di antara mereka.


"Sejak tadi kau diam saja, Kakang. Apa yang kau pikirkan?" tegur Tirtadenta.


"Yaaah...," desah Suryadenta agak kaget.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Mayadenta mengulangi pertanyaan tadi.


Belum sempat Suryadenta meniawab, tiba-tiba perhatian mereka beralih pada Ki Pungkur, yang tahu-tahu sudah ada di dalam kedai. Dia melangkah ringan menghampiri empat bersaudara yang duduk menghadapi satu meja. Tanpa dipersilakan lagi, Ki Pungkur menuang arak yang ada di atas meja ke dalam mulutnya.


"Lezat sekali arak ini," kata Ki Pungkur seraya meletakkan guci arak yang sudah kosong.


Tidak ada yang menanggapi kata-kata Ki Pungkur. Semua hanya memandang dengan tatapan kurang senang. Lebih-lebih Mayadenta, dari dulu dia memang tidak pernah menyukai laki-laki itu. Semua orang tahu, Ki Pungkur selalu menggunakan harta kekayaannya untuk kepentingan pribadi. Dan tidak ada gadis-gadis di desa ini yang lolos dari perhatiannya.


Sedang Mayadenta pun tahu, kalau mata laki-laki itu selalu memandangnya dengan liar dan binal. Bahkan saat ini pun mata Ki Pungkur juga terus merayapi wajah cantik di depannya, yang juga tengah memandangnya dengan penuh kebencian.


"Apakah kalian sudah mendengar pengumuman?" kata Ki Pungkur tidak mempedulikan empat pasang mata yang menatapnya tanpa ada persahabatan.


"Sudah," sahut Suryadenta datar dan dingin suaranya.


"Bagus! Kalian pasti setuju untuk mengganti kepala desa, bukan?" Ki Pungkur tersenyum lebar. Tidak ada satu pun yang menjawab.


"Seluruh penduduk tampaknya sudah tidak sabar lagi untuk mengangkat Ki Karangseda menjadi kepala desa. Dan aku pun sudah menetapkan harinya," kata Ki Pungkur lagi.


"Tidak semudah itu, Ki Pungkur!" dingin suara Mayadenta.


"He he he..., semuanya mudah diatur," Ki Pungkur terkekeh seraya mengedipkan matanya ke arah gadis itu.


"Penduduk tidak akan pernah memilih kakakmu! Mereka masih setia pada Ki Jatirekso yang pasti akan kembali lagi," kata Tirtadenta agak muak melihat tingkahnya.


"Apa yang kalian harapkan dari seorang pengecut seperti itu, heh?!" seketika itu juga wajah Ki Pungkur berubah.


"Ki Jatirekso lebih baik daripada Ki Karangseda!" dengus Tirtadenta.


"Phuih! Orang pengecut begitu kalian anggap baik? Melarikan diri pada saat seluruh penduduk membutuhkannya. Kalau dia memang seorang kepala desa yang baik, kenapa tidak bertindak? Dia kan punya hak untuk mengusir mereka semua?!" suara Ki Pungkur terdengar meledak-ledak dan berapi-api. Wajahnya merah padam.


"Asal kau tahu saja, Ki Jatirekso tidak melarikan diri, dia sedang menyelidiki, siapa pembuat onar di sini?" sahut Suryadenta dingin.


"Kalian pasti tahu, bahwa orang-orang itu datang atas undangan Ki Jatirekso. Dia memang punya dendam pribadi dengan Pendekar Rajawali Sakti, karena anak yang dititipkan Perempuan Iblis Pulau Karang padanya, tewas! Dan perempuan itu minta ganti rugi dengan kepala Pendekar Rajawali Sakti!"


Tanpa menunggu tanggapan dari empat bersaudara itu, Ki Pungkur langsung berbalik meninggalkan kedai. Sedang empat bersaudara itu masih tetap duduk di tempatnya. Kata-kata Ki Pungkur begitu jelas dan gamblang. Bahkan Pak Rahim yang duduk di sudut, langsung terbangun.

__ADS_1


"Kalian percaya pada kata-katanya?" Mayadenta memecah kebisuan.


"Entahlah," desah Suryadenta seraya bangkit.


********************


Kawah Neraka bukanlah tempat yang ramah dan gampang dicapai. Bagi yang nyalinya kecil, langsung mengundurkan diri dari percaturan memperebutkan kepala Pendekar Rajawali Sakti. Tapi tidak sedikit juga yang nekad, meskipun nyawa sebagai taruhannya. Kini, sudah tak terhitung lagi, berapa jumlah yang tewas di tempat itu, sebelum bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti.


Sementara itu, Sanggabawung terus melangkah memasuki daerah Kawah Neraka. Di belakangnya, tampak Sangga Kelana. Tidak kurang dari sepuluh mayat yang mereka jumpai, begitu menginjakkan kaki di daerah ganas itu. Semua mayat-mayat itu dalam keadaan rusak mengenaskan.


"Hsss...!" tiba-tiba terdengar suara mendesis.


Sanggabawung langsung menghentikan langkahnya. Sedang matanya liar mengawasi sekitarnya. Tiba-tiba Sangga Kelana mencolek pundak kakaknya. Kedua matanya mendelik lebar melihat beberapa ekor ular dari berbagai macam jenis, sedang merayap menghampiri. suara mendesis yang disertai bau amis, semakin tajam menusuk hidung. Buru-buru Sanggabawung mengeluarkan pedangnya.


"Kita telah terkepung, Kakang," desah Sangga Kelana bergetar.


"Nampaknya ular-ular itu ada yang mengendalikan," bisik Sanggabawung.


Kini mereka benar-benar sudah terkepung oleh ratusan ular berbisa dari bebagai macam jenis. Sementara suara mendesis makin keras terdengar. Melihat keadaan yang demikian, Sangga Kelana segera merapatkan punggungnya ke punggung Sanggabawung. Sementara ular-ular itu semakin mendekat ke arah mereka.


"Awas...!" seru Sanggabawung tiba-tiba.


Bersamaan dengan itu, seekor ular belang mencelat kearah Sangga Kelana. Secepat kilat anak muda itu mengibaskan goloknya. Tak ampun lagi, ular itu langsung menggelepar dengan tubuh terpotong jadi dua. Bau amis darah yang ke luar dari tubuh ular tadi, membuat ular ular lainnya makin beringas. Kini mereka sibuk mengibaskan goloknya dan membabat ular-ular yang mencoba mendekat.


Dalam waktu yang singkat saja, tidak terhitung lagi ular yang terbabat dan putus jadi dua bagian. Namun herannya, ular-ular lainnya bukannya surut melihat temannya mati, tapi malah tambah semakin banyak.


"Celaka! Bisa kehabisan nafas kalau begini!" rungut Sanggabawung tersengal.


"Binatang celaka ini semakin banyak!" dengus Sangga Kelana. Sementara keringatnya sudah bercucuran membasahi wajah dan lehernya.


"Kau...?!"


"Jangan hiraukan aku.... Akh!"


"Kakang...!"


Sanggawabung meringis. Salah seekor ular berhasil menyambar kaki kanannya. Kontan saja dia membabatkan goloknya ke arah ular itu. Dan darah pun langsung muncrat dari tubuh ular yang telah buntung. Tapi tiba-tiba satu ekor lagi berhasil menerkam kaki kiri Sanggabawung.


"Hiya...!" Sangga Kelana melompat tinggi ke udara.


Goloknya berkibas cepat sekali. Tampak lima ekor ular langsung terbabat buntung.


"Cepat pergi..., aaakh...!" Sanggabawung tidak mampu lagi bertahan.


Hampir seluruh tubuhnya sudah dibelit ular-ular yang langsung mematukinya. Sangga Kelana menggeram menyaksikan kakaknya mati dengan begitu tragis. Sementara tubuh Sanggabawung menggelepar tak karuan dilibat puluhan ekor ular.


Sangga Kelana kembali melompat lebih tinggi, dan kabur dari tempat itu. Dia baru berhenti berlompatan setelah jaraknya agak jauh dari tempat itu.


"Uh..., uh...!" Sangga Kelana membungkuk menahan nafasnya.


Belum sempat dia bernafas lega, tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ada suara auman harimau yang begitu dekat. Dia terkejut sekali dan matanya mendelik melihat seekor harimau besar mengendap-endap menghampiri.


"Mati aku...!" keluh Sangga Kelana putus asa.


Sementara harimau itu makin mendekat ke arah Sangga Kelana. Suaranya yang besar bagai guntur, telah membuat pemuda itu menciut nyalinya. Seluruh persendiannya terasa lemas tak bertenaga. Baru saja terlepas dari satu bahaya, kini sudah menghadang bahaya lain yang tidak kalah ngerinya. Tubuh harimau itu besar sekali, lebih besar dari anak kerbau. Tiba-tiba harimau itu melompat bagai kilat kearah Sangga Kelana. Sejenak anak muda itu terkesiap, lalu Harimau itu melompat bagai kilat ke arah Sangga Kelana. Sejenak anak muda itu terkesiap, lalu dengan cepat sekali dia melenting ke atas menghindari sergapan harimau itu!


"Hih!" Sangga Kelana bergidik juga merasakan terjangan harimau itu lewat di bawahnya dengan cepat sekali dia melenting ke atas menghindari sergapan harimau itu.

__ADS_1


"Hih!" Sangga Kelana mengibaskan goloknya begitu dia berada di atas.


Namun tanpa diduga sama sekali, harimau itu meIentingkan tubuhnya dengan manis dan lentur sekali, sehingga tebasan golok Sangga Kelana menyambar angin. Kemudian setelah kakinya menginjak tanah kembali, dia bersiap-siap lagi untuk menerima serangan berikutnya dari si raja hutan itu.


"Ayo maju! Serang aku!" seru Sangga Kelana nekad.


"Auuummm...!" harimau itu mengaum keras menggetarkan bumi.


"Phuih! Kau pikir aku takut, heh?!" Sangga Kelana menyemburkan ludahnya.


Sangga Kelana menggerakkan kakinya menyusur tanah. Goloknya dia kibas-kibaskan di depan dada. Sementara kedua matanya terpicing lebar menatap harimau yang hanya diam mendekam di rumput tebal.


********************


"Auuummm...!" Harimau itu kembali mengaum keras.


Sementara Sangga Kelana yang sudah siap sejak tadi, langsung menghindar, begitu harimau itu melompat dan menerjangnya. Sangga Kelana menjatuhkan tubuhnya seraya mengayunkan goloknya ke arah perut hewan itu. Dia berguling ke samping dan langsung melompat bangun. Sementara kibasan goloknya hanya mengenai angin, karena harimau itu bisa mengelak dengan melenturkan tubuhnya.


Belum juga Sangga Kelana berdiri, harimau itu sudah kembali menerjang sambil mengaum. Buru-buru dia mengelebatkan goloknya dan memapak terjangan harimau itu. Sungguh di luar dugaan, meskipun berada di udara, harimau itu bisa berkelit menghindari kibasan goloknya. Bahkan tanpa disangka-sangka, harimau itu melentingkan tubuhnya lebih tinggi lagi.


Harimau itu seperri sudah terlatih menghadapi lawan manusia bersenjata. Belum lagi hilang rasa herannya, mendadak sebelah kaki depan binatang itu menyambar dari atas.


"Akh!" Sangga Kelana memekik tertahan.


Darah mengucur dari bahu yang koyak tersambar kuku-kuku tajam kaki harimau itu. Dia langsung melompat mundur. Luka di bahunya begitu besar, hingga darah mengucur deras membasahi bajunya.


"Grrr...!" harimau itu menggeram begitu mencium darah segar.


"Ukh! Matilah aku," lenguh Sangga Kelana putus asa.


Kembali harimau itu menerjang dengan kecepatan tinggi. Sementara Sangga Kelana yang sudah kehilangan semangat, dengan sebisanya menghindari serangan itu dengan berkelit sambil mengibaskan goloknya.


Darah pun mengucur semakin banyak dari luka Sangga Kelana. Gerakan-gerakannya pun semakin lemah. Sedang matanya berkunang-kunang lantaran terlalu banyak darah yang ke luar. Dari tadi tebasan goloknya tidak ada yang mengenai sasaran.


Sangga Kelana kini benar-benar sudah tidak berdaya. Untuk berdiri saja rasanya tidak mampu lagi. Sementara keringat dan darahnya bercampur jadi satu. Nafasnya tersengal-sengal dan memburu cepat. Kini dia hanya berlutut, bertopang pada goloknya. Sedangkan harimau itu tampak mendekam sekitar tiga batang tombak dari Sangga Kelana. Sementara kedua matanya menatap liar menggetarkan jantung.


"Ayo, bunuh aku! Terkam aku, binatang!" rungut Sangga Kelana putus asa.


"Grrr...," harimau itu hanya menggeram lirih. Seperti mengolok-olok keputus asaan Sangga Kelana.


Melihat harimau itu diam saja, Sangga Kelana mencoba bangkit. Namun baru saja bergerak, tiba-tiba harimau itu menggeram hebat. Membuat Sangga Kelana mengurungkan niatnya. Kini hanya matanya yang berani menatap harimau yang tetap mendekam bermalas-malasan. Dia heran, kenapa harimau itu menjadi seperti jinak. Hanya saja, setiap dia bergerak harimau itu menggeram hebat. Seperti hendak mengatakan, dirinya harus diam.


"Heran, apa sebenarnya yang dia inginkan?" gumam Sangga Kelana dalam hati


Belum lagi pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba terdengar siulan nyaring yang melengking panjang. Siulan itu menggema, seakan-akan datang dari segala arah. Setelah dua kali siulan panjang itu terdengar, maka pada siulan ketiga, harimau itu bangkit berdiri. Gerakannya lamban seperti malas untuk bangun.


"Oh!" Sangga Kelana semakin kaget ketika matanya menangkap sesosok tubuh berjubah merah sudah berdiri didepannya.


Dia seorang perempuan tua yang rambutnya sudah memutih dan tergulung ke atas. Wajahnya penuh keriput, namun sinar matanya tajam menatap Sangga Kelana. Seluruh tubuhnya terbungkus jubah merah yang longgar. Sementara tangan kanannya menggenggam tongkat dengan beberapa kelukan berkepala bulat yang tak beraturan bentuknya.


"Belang...!" suara perempuan aneh itu terdengar serak dan kering. "Habisi dia!"


Harimau besar itu menggeram lirih, lalu segera.menerkam tubuh Sangga Kelana yang sudah tak berdaya lagi. Dia mengoyak-ngoyak tubuh itu dan menyantapnya dengan bernafsu.


Setelah merasa kenyang, dia segera merebahkan tubuhnya di samping tuannya. Sementara lidahnya menjulur-julur ke luar menjilati sisa-sisa darah yang melekat di mulutnya. Lalu nenek penguasa Kawah Neraka yang berjuluk Ratu Macan Kumbang itu mengajak binatang piaraannya pergi meninggalkan bangkai Sangga Kelana yang tinggal tulang-tulang saja.


*************

__ADS_1


__ADS_2