Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Jago Jago Bayaran Bag. 6


__ADS_3

Selain daerahnya sangat berbahaya, Kawah Neraka juga menyimpan banyak misteri. Sampai kini, berarti sudah tiga hari, Sangga Kelana tidak ketahuan kabar beritanya. Sedang Sanggabawung sudah menggeletak jadi mayat busuk, dengan tubuh hancur digerogoti ratusan ular berbisa.


Begitu ganasnya daerah itu, apa mungkin Pendekar Rajawali Sakti dan Kipas Maut ada di sana? Rasanya sulit, sekalipun dia seorang tokoh sakti. Hal itu dapat dilihat dari beberapa tokoh rimba persilatan golongan hitam yang hanya menunggu di batas Kawah Neraka. Itu pun mereka sudah seribu kali berpikir untuk melakukannya.


Dan hal tersebut juga disadari betul oleh Rangga dan Pandan Wangi. Mereka tahu, betapa bahayanya berada didaerah itu. Sementara bagi Rangga, dia juga tidak mau mengambil resiko terlalu berat, karena orang-orang rimba persilatan yang menginginkan kepalanya demi seribu keping uang emas, menunggu di sana. Sebab itulah, sebenarnya mereka tidak berada di sana.


"Bagaimana perkembangan Desa Kali Anget?" tanya Rangga pada Pandan Wangi yang selalu mengamati keadaan desa dan orang-orang rimba persilatan.


"Ada perkembangan baru," sahut Pandan Wangi.


"Maksudmu?" Rangga tertarik.


"Sebentar lagi akan ada pengangkatan kepala desa baru, dan calonnya hanya satu, Ki Karangseda," Pandan Wangi menjelaskan.


"Lantas, bagaimana tindakan Suryadenta dan adik-adiknya?"


"Mereka terus berusaha mencari Ki Jatirekso dan Jaka Wulung. Menurut berita yang tersiar, Ki Jatirekso lah yang mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan. Tapi Suryadenta dan adik-adiknya tidak percaya. mereka justru menduga, Ki Karangseda dan Ki Pungkur lah yang mendalangi semua ini," jelas Pandan Wangi lagi.


"Sudah kuduga...," gumam Rangga pelan, seakan yakin bahwa kejahatan akhirnya akan terbongkar.


"Aku juga mendapat keterangan, kalau Ki Karangseda diam-diam selalu berhubungan dengan Perempuan Iblis Pulau Karang," lanjut Pandan Wangi.


"Siapa dia?" tanya Rangga sedikit terkejut.


"Perempuan tua, tapi masih kelihatan muda dan cantik. Dia adalah seorang tokoh sakti yang datang dari Pulau Karang. Dulu, Ki Jatirekso juga pernah berhubungan dengan perempuan itu, ketika masih sama-sama muda. Tapi, waktu itu ia masih terkenal dengan sebutan Pendekar Pukulan Besi."


"Teruskan," pinta Rangga ketika Pandan Wangi berhenti.


"Aku belum tahu pasti, ada hubungan apa di antara mereka. Tapi yang jelas, sebelum peristiwa itu terjadi, Ki Jatirekso memang sudah memerintahkan Jaka Wulung untuk mencarimu," lanjut Pandan Wangi.


"Mencariku? Untuk apa?" tanya Rangga terheran-heran.


"Entahlah, hanya itu yang bisa kuperoleh," sahut Pandan Wangi.


Sejenak Rangga merenung. Keningnya berkerut dalam, seakan dia tengah berpikir keras untuk mencerna semua keterangan itu, Memang belum seluruhnya jelas, tapi sedikit banyak sudah bisa dijadikan gambaran. Kemudian Rangga mendesah panjang, kepalanya menengadah memandang langit biru yang bersih dari awan. Tampak matahari mulai condong ke Barat, sedang sinarnya tak lagi menyengat.


Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit. Pandangan matanya lurus ke Kawah Neraka. Dari tempat yang cukup tinggi seperti itu, dia dapat melihat jelas bentuk dari daerah itu. Dalam sekelebatan mata, bentuknya memang mirip sebuah kawah, tapi ditumbuhi pepohonan yang sangat lebat, dan dikelilingi bukit-bukit kecil bagai sebuah benteng baru alam. Untuk menuju ke sana, hanya ada satu jalan, yakni melewati Desa Kali Anget.


"Jalan satu-satunya untuk membuka tabir ini, kita larus menemui Ki Jatirekso," gumam Rangga pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.


"Aku rasa tidak," bantah Pandan Wangi.


"Hm..., menurutmu?" Rangga menoleh.


"Perempuan Iblis Pulau Karang!" sahut Pandan Wangi mantap.


Rangga kembali mengernyitkan keningnya. Memang, perempuan itu pasti mengetahui semuanya. Hanya saja, rasanya tidak mungkin bisa memperoleh keterangan darinya. Bagaimana mungkin, sudah jelas dalam masalah ini dia selalu berhubungan dengan Ki Karangseda.


Di lain pihak, untuk menghubungi Ki Jatirekso atau Jaka Wulung, sepertinya kurang tepat. Bukan hanya memakan waktu saja, tapi mereka tidak tahu, ke mana harus mencari? Dan tak seorang pun tahu, di mana kini mereka berada. Kecuali.... Ya! Kecuali, hanya satu yang tahu. Dan itu juga baru suatu kemungkinan.


"Ayo ikut aku, Pandan!" seru Rangga dengan riba-tiba dan langsung melompat.


"Ke mana?" tanya Pandan Wangi segera ikut melompat.


"Ikut saja!"

__ADS_1


Sementara itu, jauh di luar batas Desa Kali Anget sebelah Selatan, tampak berdiri rumah kecil berdinding papan dan beratap daun-daun rumbia. Rumah itu tampak jadi seperti tersembunyi, karena dikelilingi oleh pepohonan besar dan kecil. Keadaannya tampak sunyi bagai tak berpenghuni. Namun di dalam rumah itu ada Ki Jatirekso dan Jaka Wulung yang tengah duduk di dipan bambu. Sementara didepan mereka, duduk beralaskan tikar pandan, seorang perempuan tua yang sedang menganyam bambu yang dihaluskan tipis-tipis.


Perempuan itu adalah Nyi Nirah, ibu dari Ki Jarirekso yang juga berarti nenek Jaka Wulung. Tampak tubuhnya sangat kurus tertutup kemben kembang-kembang yang sudah lusuh. Sementara kerut-kerut kulitnya memenuhi seluruh tubuh. Sedang baris gigi yang hitam akan terlihat saat dia menguap lebar. Namun dengan keadaan yang demikian, dia masih punya sinar mata yang jernih, pertanda bahwa dia memiliki isi dalam tubuhnya. Dalam usianya yang sudah mencapai seratus tahun lebih, Nyi Nirah masih juga bisa menganyam bambu. Terlihat dari jari-jemari tangannya yang lincah menganyam.


"Kapan kau akan kembali ke Desa Kali Anget, Rekso?" tanya Nyi Nirah memecah kesunyian. Suaranya masih terdengar gagah meskipun bergetar.


"Mungkin tidak," sahut Ki Jarirekso pelan.


"Apa kau tidaK kasihan melihat rakyatmu sengsara? Aku tahu betul siapa Ki Karangseda itu, watak dan tingkah lakunya persis dengan mendiang ayahnya dulu. Aku tidak yakin, kejadian ini karena dia ingin membalas kematian ayahnya," kata Nyi Nirah kembali mengenang masa lalunya.


"Mungkin juga begitu, Bu," sahut Ki Jatirekso.


"Ayahmu dulu juga seorang pendekar. Dialah yang membunuh ayah Karangseda karena membela kehormatannya sebagai seorang laki-laki. Mana ada laki-laki di dunia ini yang bisa diam kalau melihat istrinya dirampas. Yaaah...., sebetulnya sih bukan dia yang membunuh, tapi aku! Akulah yang menusukkan keris pusaka Pancasona ke dadanya. Aku bangga dengan ayahmu, Rekso. Dia mau bertanggung jawab, meskipun harus mati di tiang gantungan. Sejak saat itu, aku tidak mau lagi menginjak Desa Kali Anget," ada kesenduan pada suara Nyi Nirah.


"Sudahlah, Bu. Tidak perlu lagi mengingat-ingat kejadian itu. Aku sudah melupakannya. Itulah sebabnya, kenapa aku bersedia dipilih jadi kepala desa, meskipun aku sadar, peristiwa seperti yang terjadi saat ini sebagai akibatnya," kata Ki Jarirekso mencoba menenangkan hati ibunya.


"Kabar sudah tersiar luas, bahwa kaulah yang mengundang orang-orang rimba persilatan untuk memenggal kepala Pendekar Rajawali Sakti," lirih suara Nyi Nirah.


"Biarkan mereka menduga begitu, Bu. Biarkan Karangseda tertawa dengan kemenangannya. Toh akhirnya, rakyat juga yang bisa menentukan. Rasanya aku tidak mungkin lagi berbuat apa-apa sekarang. Aku hanya bisa melihat dan melihat!" sedikit tertekan suara Ki Jatirekso.


"Bagaimana kalau mereka percaya, bahwa kau yang mengundang orang-orang itu? Aku juga dengar bahwa diantara mereka kini ada Perempuan Iblis Pulau Karang," Nyi Nirah memberi pilihan.


"Aku yang akan menghadapi perempuan itu. Dia tidak akan pernah berhenti mengusikku sebelum kupenggal lehernya!" geram juga Ki Jatirekso diingatkan begitu.


"Kau tidak akan mampu, Rekso. Dia bukan lawanmu.


"Lebih baik aku mati di tangannya, daripada jadi boneka permainan!"


"Tapi, bagaimanapun juga, dia masih istrimu. Aku, bisa merasakan perasaannya karena aku juga perempuan, Rekso. Sebuas-buasnya harimau betina, dia tidak akan mungkin memangsa keluarga dan keturunannya sendiri. Kemungkinan dia hanya ingin melampiaskan sakit hatinya padamu. Tapi dia tidak bermaksud mencelakakanmu, apalagi membunuhmu," lagi-lagi Nyi Nirah mengingatkan.


Di dunia ini, memang begitu banyak hal-hal yang sulit dimengerti oleh akal dan pikiran yang sehat. Semua yang dirasa mustahil, kadang jadi kenyataan. Entah itu dengan cara lurus atau bersekutu dengan setan. Pokoknya semua cara ditempuh manusia untuk mencari kepuasan diri. Manusia memang makhluk paling egois di muka bumi ini!


Sejenak Ki Jatirekso melirik Jaka Wulung. Sejak tadi, mata anaknya tidak pernah lepas memandang ke luar. Jaka Wulung adalah anak satu-satunya dari perkawinannya dengan Telasih, si Perempuan Iblis Pulau Karang. Tapi, sejak berumur sepuluh hari, Jaka Wulung tidak pernah kenal siapa ibunya. Sedang Ki Jatirekso selalu mengatakan, bahwa ibunya sudah meninggal ketika melahirkan.


"Ayah...!" Panggil Jaka Wulung tiba-tiba.


Ki Jatirekso segera bangkit dan mendekati anak muda itu. Dia melongokkan kepalanya melalui jendela yang terbuka sedikit. Tampak agak jauh di depan, ada dua bayangan tubuh manusia yang berlari-Iari kecil menghampiri rumah ini. Dua bayangan putih dan biru itu berkelebatan dari balik pepohonan.


"Kau kenal dua orang itu, Rekso?" tanya Nyi Nirah yang tanpa ikut mengintai.


"Belum begitu jelas," sahut Ki Jatirekso yang tidak lagi heran mendengar pertanyaan ibunya. Di kenal betul siapa ibunya. Perempuan itu bisa mendengar dan membedakan gerak dari jarak yang cukup jauh. Karena dia memiliki ilmu pendengaran jarak jauh yang sudah sempurna.


"Dua orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, ayunan kakinya begitu ringan dan halus," gumam Nyi Nirah seraya berusaha bangkit.


Melihat itu, Jaka Wulung segera melompat dan membantu neneknya berdiri. Kemudian dituntunnya kedekat jendela. Meskipun perempuan itu tidak memerlukan bantuan untuk berjalan, tapi dia membiarkan cucu satu-satunya itu membantu. Bahkan dia tersenyum bangga pada Jaka Wulung. Sedangkan Ki Jatirekso memberi tempat agar ibunya bisa lebih jelas melihat ke luar.


"Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka masih amat muda," kata Nyi Nirah setelah memandang ke luar sebentar. "Ah Ada pedang di punggung. Bentuknya begitu mirip dengan kepala burung. Benar-benar pasangan yang serasi. Ck ck ck...."


"Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ki Jarirekso pelan.


"Siapa...?" tanya Nyi Nirah.


Tapi sebelum pertanyaan perempuan itu terjawab, Ki Jarirekso sudah mencelat ke luar. Begitu cepatnya, tahu-tahu dia sudah berdiri tegak di depan pondok. Ki Jatirekso tampak seperti menghadang dua orang yang semakin dekat ke arah pondok. Benarkah dugaan dan penglihatan Ki Jatirekso?


********************

__ADS_1


Apa yang didengar dan dirasakan Nyi Nirah memang benar. Dua orang yang datang itu adalah Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut. Mereka segera berhenti melangkah setelah jaraknya dekat dengan Ki Jatirekso. Sementara dari dalam pondok, Nyi Nirah ke luar didampingi Jaka Wulung.


Rangga segera merunduk, memberi hormat pada perempuan tua yang sudah berdiri di samping Ki Jatirekso. Nyi Nirah membalas dengan mengangguk pula sebagaimana seorang pendekar bertemu sesama pendekar.


"Kalau tidak salah penglihatanku, benarkah nenek yang bernama Nyi Nirah?" tanya Rangga ingin memastikan.


"Benar, anak muda. Dari mana kau bisa tahu namaku?" balas Nyi Nirah sopan, mengimbangi kesopanan Rangga.


"Bibi Pelangi banyak cerita tentang nenek."


"Ah, ya..., bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah kedua keponakannya sehat dan betah tinggal di sana?"


"Semuanya baik-baik saja, Nyi."


Nyi Nirah melirik Jaka Wulung yang berdiri di samping ayahnya.


"Jaka! Kenapa kau diam saja seperti patung? Ayo, beri hormat pada pamanmu!" sentak Nyi Nirah.


Jaka Wulung jadi kebingungan, buru-buru dia membungkuk, memberi hormat. Rangga tersenyum dan membalas dengan membungkuk pula. Keadaan tersebut, bukan saja mengherankan Ki Jatirekso dan anaknya, Jaka Wulung. Pandan Wangi pun demikian. Mereka heran melihat Nyi Nirah dan Rangga seperti sudah saling kenal, hingga saling hormat begitu rupa.


"Aku sudah banyak tahu tentang dirimu, Rangga. Biarpun berpuluh tahun aku mengurung diri di sini, tapi setiap kejadian di luar, aku selalu bisa mengikutinya. Adik Pelangi mengatakan, bahwa dia telah mengangkatmu sebagai saudara, dan tentunya kau juga jadi saudaraku," kata Nyi Nirah tersenyum lebar.


"Terima kasih," ucap Rangga.


"Mari, sebaiknya kita ngobrol di dalam saja," ajak Nyi Nirah.


Rangga segera menggamit tangan Pandan Wangi dan mengikuti langkah Nyi Nirah yang di dampingi Ki Jatirekso dan Jaka Wulung. Tak lama kemudian, tampak mereka telah duduk di lantai pondok yang beralaskan papan dan dilapisi tikar pandan. Jaka Wulung segera menyediakan beberapa guci arak dan gelas dari bambu yang dihaluskan.


"Silakan," Nyi Nirah mempersilakan tamunya untuk minum.


Rangga segera mengangkat gelas yang sudah diisi arak manis oleh Jaka Wulung. Sementara Pandan Wangi juga minum setelah Nyi Nirah dan Ki Jatirekso menenggak minuman dari guci yang sama. Sedangkan Jaka Wulung hanya duduk di samping neneknya. Di benaknya masih diliputi berbagai macam pertanyaan mengenai Rangga dan neneknya yang begitu saling menghormati.


"Apakah ada sesuatu yang khusus hingga kau datang kemari? Atau hanya sekedar singgah?" tanya Nyi Nirah setelah beberapa saat terdiam.


"Sebenarnya aku sengaja datang ke sini, tapi tanpa diduga malah bertemu dengan Ki Jatirekso dan adik Jaka Wulung di sini," sahut Rangga sambil melirik dua laki-laki yang duduk mengapit Nyi Nirah.


"Hm..., ya, ya...! Aku tahu." Nyi Nirah terangguk-angguk.


"Terus terang, Nyi. Sejak semula aku tidak percaya, kalau Ki Jatirekso mengundang jago-jago itu untuk membunuhku," kata Rangga sejujurnya. "Dan kedatanganku ke sini, sebenarnya juga untuk meminta bantuan pada Nyi. Karena menurut Bibi Pelangi, Nyi memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain."


"Ki Jatirekso sudah menceritakan semuanya padaku. Semua ini hanya karena dendam lama seseorang pada Jatirekso. Aku sendiri tidak tahu, kenapa justru kau yang dijadikan kambing hitam."


Kemudian tanpa diminta, Jatirekso pun segera menceritakan semua yang terjadi beberapa tahun lalu, sampai berbuntut panjang hingga kini. Sementara Rangga sedikit kaget, setelah mengetahui ternyata Ki Jatirekso anak dari Nyi Nirah. Kini persoalannya sudah jelas! Jago-jago bayaran sengaja didatangkan untuk mengacaukan suasana, yang sebenarnya hanya untuk menutupi maksud buruk Ki Karangseda.


"Aku tahu di mana perempuan iblis itu tinggal," kata Jaka Wulung.


"Darimana kau tahu, Jaka?" tanya Ki Jatirekso.


"Selama ini aku menyelidiki, siapa yang menyediakan seribu keping uang emas. Maaf, Ayah. Semua ini kulakukan untuk membersihkan nama Ayah," Jaka Wulung menjelaskan.


Tanpa diminta, Jaka Wulung segera menceritakan pengalamannya menguntit Ki Karangseda dan Ki Pungkur yang pergi ke tempat tinggal sementara Perempuan Iblis Pulau Karang. Sementara secara bergantian, Rangga segera menceritakan, bahwa dia telah berhasil menggiring tokoh-tokoh rimba persilatan ke luar dari Desa Kali Anget dan menuju Kawah Neraka.


Kini dalam gubuk itu terdengar mereka bercerita saling sambung, apa yang mereka alami selama ini sambil mencari jalan keluarnya. Kini Rangga sudah tahu duduk persoalannya, siapa yang patut diberi dukungan dan siapa yang harus dilawan. Tiba-tiba hatinya panas, karena dijadikan kambing hitam oleh Ki Karangseda dan Perempuan Iblis Pulau Karang. Rupanya mereka memanfaatkan masa silam untuk menggulingkan Ki Jatirekso. Suatu rencana keji yang tersusun dengan rapi.


********************

__ADS_1


__ADS_2