Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Kitab Tapak Geni Bag. 7


__ADS_3

Dewi Selaksa Mawar benar-benar terkejut ketika tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti muncul di depannya. Dia melangkah ke belakang dua tindak. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak bertolak pinggang. Matanya tajam menatap perempuan tua yang ditemuinya tengah menangis di Hutan Dandaka.


"Apa maksudmu mengikutiku?" tanya Rangga datar.


"Mengapa Setan Arak tidak kau bunuh sekalian, hah?!" Dewi Selaksa Mawar malah balik bertanya.


"Untuk apa? Dia tidak bersalah, kenapa harus dibunuh?"


"Dia yang mencuri kitab pusaka Tapak Geni!" ketus suara Dewi Selaksa Mawar.


"Kau salah sangka. Dia tidak mencuri kitab pusaka itu. Dia hanya kena fitnah! Setan Arak sama sekali tidak tahu tentang kitab Tapak Geni"


"Huh! Kau telah tertipu oleh sikap baik Setan Arak! Dia bersikap baik karena butuh tenagamu!"


Pendekar Rajawali Sakti itu mengerutkan keningnya. Dia masih belum mengerti kata-kata Dewi Selaksa Mawar. Otaknya kini berputar tujuh keliling memikirkan persoalan yang dihadapi betapa rumit. Penuh liku-liku.


"Dia itu punya dendam pribadi terhadap Tiga Setan Neraka, dan tidak mungkin menandingi mereka. Makanya dia mencuri kitab pusaka Tapak Geni untuk menandingi kesaktian Tiga Setan Neraka," ungkap Dewi Selaksa Mawar.


"Bisa kupercaya kata-katamu?" Rangga masih ragu-ragu.


"Bertahun-tahun aku mencari mereka berempat. Terus terang, aku sendiri belum tentu mampu menghadapi setan-setan itu. Aku merasa berdosa jika belum mendapatkan kitab pusaka Tapak Geni milik guruku. Sekarang aku mengharapkan bantuanmu, Pendekar Rajawali Sakti," Dewi Selaksa Mawar berkata terus terang.


"Di Hutan Dandaka kau tuduh Sanggamayit yang mencuri kitab itu. Dan sekarang beralih ke Setan Arak. Siapa sebenarnya yang mencuri kitab itu?"


"Satu di antara mereka berdua!"


Rangga tersentak mendengar jawaban yang tegas itu. Dewi Selaksa Mawar sendiri belum bisa memastikan, apalagi dirinya yang baru beberapa hari saja terlibat masalah ini. Rangga benar-benar merasa seperti bola yang dilempar ke sana ke mari tanpa tujuan pasti.


Tujuan pertamanya adalah membebaskan penderitaan penduduk Desa Ganggang dari cengkeraman dan kekejaman orang-orang Kerajaan Parakan. Tapi kini persoalannya semakin luas lagi setelah bertemu dengan Dewi Selaksa Mawar. Beberapa macam persoalan yang saling tumpang tindih mulai muncul yang menyangkut orang-orang yang itu-itu juga. Sungguh mati Rangga tidak menyangka kalau harus terlibat dalam masalah pribadi orang-orang itu.


"Kapan kitab itu hilang?" tanya Rangga setelah lama berpikir.


"Kira-kira dua puluh tahun yang lalu," jawab Dewi Selaksa Mawar.


"Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempelajari satu kitab! Orang yang mencuri kitab itu, pasti telah menguasai betul isinya. Sedangkan orang-orang yang kau curigai tidak sedikit pun menggunakan ilmu Tapak Geni," Rangga mengungkapkan jalan pikirannya.


"Kau jangan melindungi mereka!" dengus Dewi Selaksa Mawar.


"Aku tidak bermaksud melindungi seorang pun. Dan lagi, aku tidak ada urusan dengan kitab Tapak Geni. Sedang aku mengejar Tiga Setan Neraka hanya untuk menghentikan kekejaman mereka, itu saja!" Rangga sedikit tersinggung.


"Lantas, kenapa kau berkata seperti itu?"


"Aku hanya melihat kenyataan. Bagiku, menuduh seseorang tanpa bukti adalah dosa besar! Nah, sekarang coba buktikan tuduhanmu terhadap salah satu di antara mereka!"


"Ini!" Dewi Selaksa Mawar mengeluarkan sebuah ruyung perak dari lipatan bajunya.


"Ruyung perak...," gumam Rangga mengenali senjata rahasia yang jelas milik Sanggamayit.


"Aku menemukan ini tertancap di dada guruku," Dewi Selaksa Mawar menerangkan.


"Kau tahu pemilik senjata rahasia ini?" tanya Rangga berusaha meyakinkan diri.


"Sanggamayit."


"Kau yakin dia pencurinya?" Dewi Selaksa Mawar hanya diam. Memang sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Senjata rahasia itu memang bisa merupakan bukti. Tapi tidak mustahil orang lain juga menggunakannya dengan maksud menghilangkan jejak. Sedangkah di Hutan Dandaka, Sanggamayit mengatakan kalau dirinya difitnah Setan Arak. Apakah memang benar si Setan Arak yang mencuri kitab Tapak Geni sekaligus membunuh guru Dewi Selaksa Mawar? Atau hanya akal bulus Sanggamayit saja?


Saat mereka terdiam dengan pikiran yang berkecamuk, mendadak terdengar jeritan nyaring. Suara senjata beradu pun terdengar beberapa kali. Rangga terlonjak ketika telah memastikan arah suara pertarungan itu. Tanpa menghiraukan perempuan tua di depannya, secepat kilat dia melompat menuju arah suara pertarungan.


"Huh! Ada-ada saja!" dengus Dewi Selaksa Mawar.


Sambil bersungut-sungut kesal, perempuan itu berlari sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya mengikuti Rangga. Gerakannya cepat dan ringan. Dalam sekejap telah jauh dari tempat ini.


********************


Setan Arak bertarung mati-matian melawan Setan Jerangkong dan Iblis Mata Satu. Sementara Ratih terlihat tergeletak pingsan di depan kaki Sanggamayit. Rangga yang baru saja tiba, mengkerutkan gerahamnya menahan marah. Segera Rangga melompat membantu Setan Arak yang agak kewalahan menerima serangan beruntun dua dari Tiga Setan Neraka.


Tapi belum juga Rangga sampai di arena pertarungan, tiba-tiba....


"Akh!" Setan Arak memekik tertahan. Pedang Setan Jerangkong yang kini tinggal satu telah menggores dada Setan Arak. Darah segera merembes keluar dari luka yang memanjang. Si Kakek peminum arak ini mundur terhuyung sambil menekap dadanya yang terluka. Namun belum juga menguasai diri, mendadak satu tendangan dilepaskan Iblis Mata Satu telak mampir di kepala Setan Arak. Seketika terdengar jeritan keras yang keluar dari mulut kakek peminum itu. Tubuhnya terjengkang ke belakang, dan terhempas dengan kepala terlebih dulu mendarat di tanah.


"Iblis, kejam!" geram Rangga. Sambil berteriak melengking tinggi, Rangga melayangkan kakinya seraya mengerahkan jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu, sehingga Setan Jerangkong yang berjarak paling dekat terlihat kelabakan. Sedapatnya dikelebatkan pedangnya untuk menghalau serangan kilat itu.


Rangga menarik kakinya cepat, lalu menjejak tanah dengan ujung jarinya. Tubuhnya kembali mencelat ke udara. Gerakannya sangat cepat, dan tahu-tahu telah berada di atas kepala Setan Jerangkong. Setan Jerangkong pun tak kalah sigap. Diangkat pedang dan diputar-putarnya di atas kepala.


Kaki Pendekar Rajawali Sakti yang mengancam kepala lawan, tiba-tiba berbalik arah. Diturunkan tubuhnya sedikit di depan Setan Jerangkong, lalu dengan cepat kaki kanannya terhentak ke depan. Buk!


Setan Jerangkong terjajar ke belakang ketika dadanya terhantam tendangan keras Pendekar Rajawali Sakti. Seketika dia merasa sesak dan matanya berkunang-kunang. Belum sempat memperbaiki posisinya, Rangga telah melompat dengan mengerahkan jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali' menyambar dada Setan Jerangkong.


"Aaaakh...!"


Setan Jerangkong menjerit keras. Pukulan telak disertai hawa panas yang menyebar membuat tubuh kurus kering itu terjajar ke belakang sejauh dua batang tombak. Kini Setan Jerangkong tergeletak dengan darah mengalir dari sudut bibir dan hidungnya. Dadanya terlihat memerah, melesak ke dalam. Dia hanya menggeliat sebentar, lalu diam tak bergerak lagi. Mati.


Mendapatkan satu temannya mati, Sanggamayit menjadi lupa dengan Ratih yang tergeletak pingsan terkena totokan pada jalan darahnya. Sambil berteriak nyaring, dikebutkan senjata andalannya yang berupa tongkat pendek berantai dengan bola-bola baja berduri pada ujungnya. Satu tangannya yang buntung tidak menghalangi kelincahan dan kedahsyatan serangannya.


Pendekar Rajawali Sakti yang memuncak kemarahannya, segera meloloskan pedang pusakanya. Seketika cahaya biru berkilau menerangi arena pertarungan itu. Cahaya biru itu pun berkelebat cepat menangkis setiap serangan gencar dari Sanggamayit dan Iblis Mata Satu. Pijaran bunga-bunga api memercik setiap dua senjata ampuh berbenturan.


"Hiyaaaa...!" Iblis Mata Satu tidak lagi peduli dengan tenaga dalamnya yang jauh di bawah Pendekar Rajawali Sakti.


Iblis Mata Satu kini tidak segan-segan lagi membenturkan golok kembarnya, meski tangannya menjadi kaku setelah berbenturan dengan pedang yang memancarkan sinar biru kemilauan itu. Semua itu tidak dihiraukan lagi.


"Sanggamayit, aku lawanmu!" tiba-tiba terdengar teriakan keras disusul berkelebatnya sebuah bayangan merah.


"Bagus! Kau muncul lagi, nenek peot!" dengus Sanggamayit ketika melihat Dewi Selaksa Mawar.


"Bersiaplah untuk mati, *******!"


Dewi Selaksa Mawar berteriak keras, lalu tubuhnya mencelat menyerang Sanggamayit. Melihat kedatangan Dewi Selaksa Mawar, hati Iblis Mata Satu ciut seketika. Dalam keadaan lengkap saja, Tiga Setan Neraka belum mampu menandingi Pendekar Rajawali Sakti. Dan kini, dia harus hadapi sendiri pendekar muda yang tinggi kesaktiannya itu.


Saat hatinya diliputi kegentaran, mendadak kaki Pendekar Rajawali Sakti melayang cepat ke arah dada Iblis Mata Satu yang hanya dapat ter-perangah. Cepat-cepat dia melompat mundur. Dan memang saat inilah yang dikehendaki Rangga. Ketika kakinya mendarat, segera dia melompat menerjang Iblis Mata Satu yang telah terpisah dari Sanggamayit.


Rangga langsung dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Iblis Mata Satu yang telah gentar itu, menjadi kelabakan menerima serangan-serangan gencar Pendekar Rajawali Sakti. Setiap pukulan tangannya mengandung hawa panas yang menyengat luar biasa.


"Modar!" tiba-tiba Rangga berteriak keras.


Bersamaan dengan itu, tangan kanannya meluruk cepat ke arah dada lawan. Iblis Mata Satu memiringkan tubuhnya ke kanan menghindari sodokan itu. Namun tanpa diduga, kaki kiri Pendekar Rajawali Sakti terangkat deras menghantam punggung Iblis Mata Satu.


"Uhk!" Iblis Mata Satu terdorong keras ke depan.


Belum juga dia sempat menguasai diri, mendadak tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti melayang ke arah kepalanya. Iblis Mata Satu merunduk cepat, dan pukulan yang mengandung hawa panas itu luput. Bahkan Iblis Mata Satu membalas dengan mengirimkan satu pukulan geledek ke arah lambung Pendekar Rajawali Sakti. Seketika tangan pendekar muda itu bergerak turun ke arah perut.


Trak!


Dua tangan yang masing-masing mengerahkan jurus saling beradu keras. Cepat-cepat Iblis Mata Satu menarik tangannya kembali yang terasa remuk tulang-tulangnya. Dan tepat pada saat yang sama, tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti meluncur ke depan.

__ADS_1


Buk!


Dan memang sungguh telak ketika tangan yang mengandung hawa panas dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' mendarat di dada Iblis Mata Satu. Laki-laki gemuk yang hanya mempunyai mata sebelah itu melenguh pendek. Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang. Mendadak dirasakan dadanya menjadi sesak, sulit sekali bernapas. Hawa panas makin kuat menjalar ke seluruh tubuhnya.


Cepat-cepat Iblis Mata Satu mengerahkan hawa murni untuk mengusir hawa panas yang makin menyerang tubuhnya. Namun belum juga hawa murni tersalurkan, Pendekar Rajawali Sakti telah menyerang kembali.


"Hiyaaa...!"


"Aaaakh...!"


Iblis Mata Satu tidak dapat mengelak dari serangan kilat itu. Kembali dadanya terhantam dua telapak tangan yang mengandung hawa panas luar biasa. Tubuh Iblis Mata Satu terlontar jauh ke belakang. Tubuh gemuk itu terhempas keras ke tanah. Pendekar Rajawali Sakti tak memberi kesempatan sedikit pun. Dia melompat mengejar, dan seketika kakinya mendarat tepat di tubuh Iblis Mata Satu.


Bres!


Kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti menjejak dada yang memerah akibat terkena jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Kaki Rangga amblas ke dalam dada. Setelah Iblis Mata Satu tidak bergerak-gerak lagi, segera kaki yang tertanam dalam dada itu ditarik keluar. Dada itu hancur bagai terbakar hangus. Tidak ada darah yang keluar.


"Ratih...," Rangga mendesis teringat gadis cantik yang kini pingsan tertotok.


Kepalanya langsung menoleh ke arah tubuh ramping yang terbaring di tanah. Baru saja kakinya akan melangkah menghampiri, tiba-tiba telinganya mendengar rintihan lirih dari arah kanan. Dan betapa terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti ketika menoleh, dan mendapatkan Setan Arak tergolek dengan dada bersimbah darah dan kepala babak belur.


Rangga bergegas menghampiri Setan Arak yang merintih lirih. Tampak dada yang sobek panjang serta kepala dan wajahnya sebelah kiri rusak berat karena terhempas keras menggaruk tanah berbatu kerikil tajam.


"Paman...," Rangga membantu Setan Arak duduk bersandar pada sebuah batu besar.


"Selamatkan Ratih. Dia tertotok jalan darahnya oleh Sanggamayit," lirih dan tersendat-sendat suara Setan Arak.


Rangga mengalihkan pandangannya ke arah Ratih yang terbaring lemas. Ragu-ragu juga ia untuk menolong gadis itu, karena melihat keadaan Setan Arak yang memelas dan mengkhawatirkan.


"Jangan pikirkan aku. Cepat kau tolong Ratih. Totokan itu dapat mematikan jalan darah selamanya!" dengus Setan Arak melihat Rangga ragu-ragu.


Mendengar hal itu, Rangga bergegas melompat menghampiri Ratih. Matanya sempat melirik pada pertarungan antara Dewi Selaksa Mawar dengan Sanggamayit yang kelihatan masih berimbang. Memang inilah kesempatan baginya untuk menyelamatkan jiwa Ratih.


Rangga membuka tiga totokan jalan darah di tubuh Ratih yang paling penting. Benar saja kata Setan Arak. Terlambat sedikit saja, nyawa gadis cantik itu tidak akan tertolong lagi. Dan lepas dari totokan itu, Ratih masih kelihatan lemah. Pengaruh totokan itu telah menyerap tenaganya terlalu banyak. Perlu waktu beberapa saat untuk memulihkannya kembali. "Bagaimana keadaan Kakek Setan Arak?" tanya Ratih setelah pulih kondisinya.


"Dia masih hidup, tapi...," Rangga tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa dia? Apakah lukanya parah?" desak Ratih.


Rangga tidak menyahut. Dibantunya gadis itu berdiri, dan memapahnya menghampiri Setan Arak yang duduk bersandar di batu. Ratih terpekik saat melihat keadaan Setan Arak yang sangat mengerikan.


"Jangan!" cegah Rangga ketika Ratih akan menghambur. "Tubuhnya penuh dialiri racun ganas".


Ratih hanya dapat menatap saja. Pelan-pelan dia mendekat dan bersimpuh di ujung kaki Setan Arak. Rangga mengikutinya, dan duduk menggeser ke samping mendekati Setan Arak.


"Kakek...," pelan dan lirih suara Ratih.


"Ratih..., kembalilah ke Gunung Lawu. Kau adalah pewaris tunggal padepokan. Pamanmu akan menurunkan semua ilmunya padamu. Dan kau juga harus mampu menguasai seluruh ilmu-ilmuku yang telah kutuangkan dalam sebuah buku yang disimpan pamanmu. Aku percaya, kau akan menyempurnakan semua yang kumiliki," pelan sekali suara Setan Arak.


Tak kuasa lagi Ratih menitikkan air matanya. Rangga hanya terdiam tidak mampu berbuat apa-apa. Racun pedang Setan Jerangkong telah menyebar luas ke seluruh jaringan darah dan urat syaraf. Bahkan mungkin telah menggumpal di jantung. Tidak mungkin lagi Setan Arak tertolong. Dibantu dengan menyalurkan hawa murni juga percuma. Bisa-bisa malah mempercepat proses kematiannya!


"Satu lagi pesanku, Ratih. Tolong kembalikan kitab Tapak Geni pada pemiliknya," ujar Setan Arak.


Rangga terkejut mendengar ucapan itu.


"Kakek..., Kakek mencuri kitab itu?" Ratih seperti tidak percaya.


"Tidak! Aku tidak mencuri, melainkan menyelamatkannya dari tangan Sanggamayit. Aku ingin mengembalikan kitab ini, tapi pemiliknya telah tewas. Sedangkan murid tunggalnya, aku tidak tahu di mana berada."


"Dewi Selaksa Mawar...," makin lemah suara Setan Arak.


Rangga langsung menoleh ke arah Dewi Selaksa Mawar yang masih bertarung dengan Sanggamayit. Sampai puluhan jurus, kelihatan belum ada yang terdesak.


"Di mana kitab itu?" tanya Ratih.


"Tanyakan pada pamanmu. Dia tahu di mana aku menyimpannya. Hanya dia yang ta..." Setan Arak tidak mampu lagi menyelesaikan kalimatnya.


Sebentar dia terbatuk-batuk, lalu dari mulutnya keluar darah kental kehitaman. Tubuhnya mengejang sebentar, lalu diam tak bergerak-gerak lagi. Ratih hanya bisa terisak. Dia tak berani memeluk tubuh laki-laki tua yang telah menurunkan sebagian ilmu kepadanya. Seluruh tubuh Setan Arak kini mengandung racun ganas yang menular. Hanya Rangga yang kebal terhadap racun itu.


Ratih menatap Rangga yang telah berdiri tegak memandang jalannya pertarungan antara Dewi Selaksa Mawar dengan Sanggamayit. Pelan-pelan gadis itu juga berdiri, dan ikut menatap pertarungan itu. Beberapa saat mereka terdiam.


"Apa yang harus kita lakukan?" Ratih tiba-tiba memecah kebisuan itu.


"Biarkan mereka. Kita tidak punya urusan dengan mereka," sahut Rangga.


"Tapi, Dewi Selaksa Mawar tidak boleh mati."


"Dalam beberapa jurus lagi, dia akan mampu mendesak Sanggamayit."


"Mustahil! Sanggamayit terlalu sakti!" sergah Ratih.


Rangga hanya tersenyum. Ratih memang cukup tinggi ilmunya, tapi belum mampu menilai tingkat kepandaian orang yang berada jauh di atasnya. Memang sulit menilai orang yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya.


Kata-kata Pendekar Rajawali Sakti memang benar. Setelah lewat sepuluh jurus, tampak Sanggamayit mulai terdesak. Lebih-lebih darah kembali mengucur dari pangkal lengannya yang buntung. Jelas cukup sulit bagi Sanggamayit bertarung seperti ini.


Beberapa kali tendangan dan pukulan bertenaga dalam tinggi yang dilancarkan Dewi Selaksa Mawar hampir mengenai tubuhnya. Sanggamayit memang masih dapat mengelak dari pukulan maut itu. Tapi dengan cepat pula Dewi Selaksa Mawar mengirimkan tendangan. Kembali laki-laki itu berkelit. Namun bersamaan dengan itu sebuah jotosan mengarah ke dada.


Buk!


Sanggamayit tidak mungkin untuk mengelak lagi. Dadanya telak menerima pukulan yang disertai tenaga dalam yang tinggi. Dua langkah tubuh laki-laki itu terjajar ke belakang. Dadanya menjadi sesak, sulit untuk bernapas.


"Setan!" dengus Sanggamayit geram.


"****** kau, pencuri busuk!" teriak Dewi Selaksa Mawar keras.


Setelah berkata demikian, dengan cepat perempuan tua itu melompat dengan kaki kanan menjulur ke depan. Sanggamayit memiringkan tubuhnya menghindari serangan itu. Kaki Dewi Selaksa Mawar hanya lewat di samping Sanggamayit.


Belum sempat Dewi Selaksa Mawar menjejakkan kakinya ke tanah, secepat kilat tangan kiri Sanggamayit melayang ke arah dada. Dan...


Trap!


Cepat sekali Dewi Selaksa Mawar menangkap tangan kiri Sanggamayit yang hampir menghantam dadanya. Segera dicekal kuat pergelangan tangan itu, lalu dengan cepat Dewi Selaksa Mawar memutar tubuh, sehingga...


Bret! "Akh!" Sanggamayit memekik tertahan.


Jari-jari tangan Dewi Selaksa Mawar berhasil merobek perut Sanggamayit. Dan itu pun masih dibarengi dengan sebuah tendangan yang mendarat di perut. Sanggamayit kembali memekik keras. Tubuhnya terdorong dua langkah ke belakang. Dengan sisa kekuatannya, disentakkan tangannya yang tercengkeram. Ketika lepas dari cengkeraman Dewi Selaksa Mawar, bagai geledek senjata aneh Sanggamayit menderu ke arah dada lawan.


"Ih!"


Dewi Selaksa Mawar memiringkan tubuhnya ke kanan, maka serangan itu hanya lewat di depannya. Tapi belum benar posisinya, mendadak kaki kiri Sanggamayit melayang cepat.


Buk!


Dewi Selaksa Mawar melenguh sedikit. Punggungnya terasa sakit terkena hantam kaki kiri itu. Sebentar tubuh perempuan itu terhuyung.

__ADS_1


"Yeaaah...!"


Sambil berteriak nyaring, Sanggamayit melompat seraya mengebutkan senjatanya. Serangan yang datang beruntun dan cepat itu, tidak dapat lagi dihindari Dewi Selaksa Mawar. Dengan nekad, disambutnya bola-bola baja berduri.


Tap!


Dia berhasil mencekal rantai senjata itu. Dua tokoh sakti itu saling tarik menarik dengan mengerahkan tenaga dalam. Dua pasang kaki terentang ke samping saling berhadapan. Dua pasang mata saling tatap. Tajam sekali. Tampak keringat mulai membasahi keduanya. Wajah mereka tegang.


Sementara itu Rangga yang sejak tadi memperhatikan, mengerutkan keningnya. Dia telah mampu mengukur tingkat tenaga dalam Sanggamayit. Begitu pula dengan tingkat tenaga dalam Dewi Selaksa Mawar.


"Mereka bisa mati, Kakang," desah Ratih tanpa memalingkan wajahnya.


"Kau lihat saja," jawab Rangga belum berani memastikan.


"Bantu dia, Kakang. Aku khawatir Dewi Selaksa Mawar tewas!" Ratih menyarankan.


"Itu bukan perbuatan seorang pendekar," Rangga tersenyum kecut mendengar kata-kata Ratih.


Ratih tidak berkata-kata lagi. Dia menjadi malu sendiri karena memberi saran buruk terhadap Pendekar Rajawali Sakti yang jelas-jelas adalah seorang pendekar sejati. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri yang tidak berpikir dulu sebelum berucap. Bodoh! Maki Ratih dalam hati.


Sementara itu pertarungan antara dua tokoh sakti tadi semakin menegangkan. Masing-masing telah mengerahkan seluruh kekuatannya. Wajah mereka semakin menegang berkeringat. Otot-otot bersembulan di tubuh mereka.


"Hih!" Dewi Selaksa Mawar mengempos lagi tenaga dalamnya untuk mendukung daya tahannya yang mulai mengendor.


Tapi ada yang dilakukan Sanggamayit sungguh di luar dugaan. Disentakkan tangannya ke bawah, tepat pada saat Dewi Selaksa Mawar menambah kekuatannya. Dan, tanpa ampun lagi kaki Dewi Selaksa Mawar amblas ke dalam tanah sebatas lutut.


Rupanya Sanggamayit membaca kalau Dewi Selaksa Mawar tengah mengempos tenaga dalam tambahan. Dalam detik itu pula, dipinjamnya tenaga dalam lawan yang mengalir untuk mencelakakan lawannya sendiri. Kecerdikan itulah yang membuat Sanggamayit memenangkan adu tenaga dalam ini.


"Setan! Curang!" dengus Dewi Selaksa Mawar mengetahui kelicikan Sanggamayit.


Baru saja perempuan tua itu berhenti memaki, tiba-tiba Sanggamayit melepaskan senjatanya.


"Akh!" Dewi Selaksa Mawar terkejut. Dan betapa terkejut lagi, karena bersamaan dengan itu tubuh Sanggamayit telah melayang sambil melemparkan senjata-senjata rahasianya. Dewi Selaksa Mawar yang tidak mungkin dapat menghindar dengan cepat pula melontarkan senjata rahasianya. Sinar-sinar keperakan berseliweran deras.


Crap, crap, crap!


"Aaaakh...!"


Dua jeritan melengking terdengar hampir bersamaan. Tampak tubuh Dewi Selaksa Mawar dipenuhi ruyung-ruyung perak Sanggamayit. Sedangkan di tubuh Sanggamayit, telah menancap bintang-bintang perak bersegi enam. Tubuh yang berada di atas, seketika terhempas menimpa Dewi Selaksa Mawar.


Dua tubuh tokoh sakti itu saling berbenturan sehingga terdengar bunyi tulang-tulang patah. Mereka jatuh dengan posisi saling tindih belumuran darah. Tak ada yang bergerak-gerak lagi, tewas bersamaan. Memang tragis kematian mereka.


"Nekad!" kata Rangga setelah menyaksikan kejadian itu.


Ratih menoleh pada pendekar muda tampan yang berdiri di sampingnya.


********************


Matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk Timur. Burung-burung bernyanyi merdu menyambut datangnya pagi. Rangga mengamati keadaan di sekitarnya. Empat sosok mayat bergelimpangan di sekitar tepian sungai ini.


Rangga mendesah panjang, lalu diayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu. Dia seperti lupa kalau masih ada seorang gadis cantik yang sejak tadi memperhatikannya. Ratih menatap kepergian pendekar tampan itu dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.


"Kakang...," panggil Ratih agak bergetar suaranya.


Rangga menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Ratih melangkah cepat menghampiri. Dia berhenti tepat di depan Pendekar Rajawali Sakti itu. Beberapa saat mereka hanya terdiam dan saling tatap saja.


"Kakang akan ke mana?" tanya Ratih suaranya masih bergetar.


"Pergi," sahut Rangga singkat.


"Ke mana?" tanya Ratih lagi agak mendesak.


"Mengikuti langkah kakiku saja."


"Aku ikut!"


Rangga menatap gadis cantik di depannya. Pelan-pelan kepalanya menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," pelan suara Ratih.


"Kau masih punya paman yang menunggu di Gunung Lawu," kata Rangga mengingatkan.


Ratih menggelengkan kepalanya.


"Ingat Ratih! Kau masih punya tugas penting!"


"Percuma. Satu-satunya pewaris kitab Tapak Geni telah meninggal. Untuk apa lagi aku harus kembali ke padepokan? Toh, paman masih sanggup mengurusnya sendiri."


"Kau ingin melalaikan amanat Setan Arak?" Ratih terdiam. Matanya melirik Setan Arak yang terbujur kaku membiru di bebatuan. Sungguh dia tidak bermaksud mengecewakan pesan terakhir Setan Arak. Tapi..., hatinya telah terpikat oleh pendekar tampan di depannya ini. Ratih jadi bimbang juga.


"Seorang pendekar sejati, tidak akan mendahulukan kepentingan pribadi. Ingatlah, sejak kecil kau dipersiapkan untuk menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh dan pilih tanding. Apakah kau akan mengkhianati jiwa pendekar yang telah tertanam dalam hatimu sendiri? Jangan, Ratih. Aku akan membencimu kalau kau tidak bisa membedakan jiwa pribadi dan jiwa pendekar," tegas dan lembut suara Rangga.


Ratih kembali diam tertunduk. Kata-kata Pendekar Rajawali Sakti itu langsung menyentuh sudut hatinya yang paling dalam. Pelan-pelan diangkat kepalanya, sepasang bola matanya yang indah langsung memandang tajam ke bola mata Rangga.


"Kau bersedia singgah ke Padepokan Gunung Lawu, Kakang?" terdengar nada berharap dari suara Ratih.


"Satu saat kelak," sahut Rangga tersenyum.


"Kapan?"


"Kalau kau telah menguasai seluruh ilmu peninggalan Setan Arak dan Pamanmu."


"Hhhh..., apakah tidak terlalu lama?" Ratih mendesah lesu.


"Tidak! Aku akan datang menguji ilmu yang akan kau kuasai."


Ratih terdongak kaget. Tapi belum sempat membuka mulut, tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti itu lenyap dari pandangan matanya. Tentu saja gadis ini kebingungan. Rangga mendadak lenyap bagai ditelan bumi.


"Kakang...!" panggil Ratih keras.


Tidak ada sahutan.


"Kakang, di mana kau?!"


"Aku akan datang mengujimu. Tunggulah!"


Ratih tertegun mendengar suara menggema di sekitarnya. Jelas itu suara Pendekar Rajawali Sakti. Sebentar gadis itu berdiri diam. Kemudian mendesah panjang sebelum kakinya terayun pergi meninggalkan tepian sungai.


"Kau hebat, Kakang. Tapi aku akan mengalahkanmu kelak!" gumam Ratih bertekad.


SELESAI


SELANJUTNYA NAGA MERAH

__ADS_1


__ADS_2