Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Bidadari Sungai Ular Bag. 3


__ADS_3

Matahari baru saja menampakkan diri. Sinarnya membias menerangi mayapada. Patih Giling Wesi duduk di atas punggung kudanya dengan lesu. Semalaman dia mencari di sekitar sungai Ular, tapi tidak sedikit pun jejak kapal layar yang membawa putrinya ditemukan.


"Rapaksa!"


"Hamba, Gusti Patih," salah seorang tamtama segera mendekat.


"Beritahu prajurit, kita istirahat sebentar di sini," kata Patih Giling Wesi.


"Adya Bala, istirahat!" teriak tamtama Rapaksa keras.


Para prajurit serentak turun dari kuda masing-masing. Mereka mencari tempat beristirahat dan membuka perbekalan. Patih Giling Wesi pun telah turun dari kudanya lalu menghampiri sebuah batu besar yang menjorok ke sungai. Dia duduk di atas batu menatap ke arah sungai yang berliku. Belum sempat Patih Giling Wesi beristirahat banyak, tiba-tiba datang seorang prajurit berlari-lari menghampirinya. Didekatinya Patih Giling Wesi.


"Ampun, Gusti Patih. Hamba menemukan tanda keprajuritan di pinggir sungai," kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah kalung tanda keprajuritan.


Patih Giling Wesi lantas menyambar kalung itu. Matanya mengamati sebentar. Ada noda darah melekat di kalung itu. Berarti telah terjadi sesuatu pada kapal itu. Dan yang jelas kejadiannya di sungai Ular ini!


"Rapaksa!" teriak Path Giling Wesi. Rapaksa berlari menghampiri. Dia segera memberi hormat setelah tiba di depan Path Giling Wesi. "Siapkan prajurit!" perintah Patih Giling Wesi.


Rapaksa belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan dan disusul dengan rubuhnya lima orang prajurit. Dada mereka tertancap tombak. Serentak para prajurit yang lain bersiaga. Patih Giling Wesi cepat melompat ke arah lima prajuritnya yang tewas. Dia mencabut sebatang tombak dari salah seorang prajuritnya yang sudah tidak bergerak itu. Sebuah tombak berwarna biru dengan tangkai berukir huruf yang rapi dan indah.


"Bidadari Sungai Ular," desis Patih Giling Wesi


"Rupanya ada tamu agung berkenan mengunjungi wilayahku!"


Patih Giling Wesi dan para prajuritnya terkejut mendengar suara yang tinggi menggema dibarengi pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Rasa terkejut mereka belum juga hilang ketika tiba-tiba muncul seorang wanita cantik mengenakan pakaian serba biru. Dia tidak lain adalah Saka Lintang. Dengan angkuh dia berdiri di atas batu tempat Patih Giling Wesi tadi beristirahat.


"Siapa kau?!" bentak Patih Giling Wesi.


"Bidadari Sungai Ular!" jawab Saka Lintang mantap.


"Setan! Kembalikan putriku!" geram Patih Giling Wesi.


"Ha ha ha..., tidak semudah itu patih yang gagah."


"Adya Bala!" teriak Patih Giling Wesi memberi aba-aba.


Begitu prajurit bersiap, seketika itu pula dari rimbunan semak dan dari balik bongkahan batu, bermunculan orang-orang yang semuanya berseragam biru. Mereka semua telah siap dengan senjata di tangan. Patih Giling Wesi makin geram menyadari keadaannya telah terkepung. Dua kelompok itu hampir seimbang jumlahnya.


Kelihatannya prajurit Kepatihan lebih banyak. Tapi bukan berarti mereka bisa dengan mudah mengalahkan gerombolan ini. Mereka semua memiliki tingkat kepandaian rata-rata di atas para prajurit pilihan sekali pun.


"Intan Kemuning akan kukembalikan pada saatnya nanti. Percuma saja kau kerahkan seluruh prajurit! Mereka hanya mengantar nyawa ke tempat ini!" ujar Saka Lintang pongah.


"Kalian perompak liar, dan harus dimusnahkan!" geram Patih Giling Wesi.


"Tidak semudah itu, Patih gagah," kata Saka Lintang meremehkan.


Sudah tak tertahankan lagi amarah Patih Giling Wesi. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan putrinya. Segera diperintahkan prajuritnya untuk menyerang. Maka pertempuran pun berlangsung sengit. Bunyi senjata beradu dan teriakan-teriakan pertempuran terdengar membahana. Patih Giling Wesi tak ketinggalan dengan cepat melompat menerjang Saka Lintang. Tetapi belum sampai dekat Saka Lintang, sebuah bayangan berkelebat menghadang.


"Huh! Sontoloyo!" dengus Patih Giling Wesi.


Gering berdiri dengan pedang terhunus. Kalau saja bukan Patih Giling Wesi, mungkin kepalanya sudah terpisah dari badan tersambar pedang Gering yang berkelebat cepat. Patih Giling Wesi tidak membuang-buang waktu lagi. Dia menerjang dengan jurus-jurus mautnya.


Namun yang dihadapinya adalah Gering yang cukup tinggi ilmunya. Tidak heran kalau Gering dapat mengimbangi permainan pedang Patih Giling Wesi. Bahkan beberapa kali dia dapat membalas serangan itu. Sementara itu pertarungan semakin sengit. Beberapa prajurit telah banyak yang roboh. Sedang dari pihak Bidadari Sungai Ular, belum ada satu pun yang tewas. Jerit-jerit kematian makin sering terdengar menyayat dari pihak prajurit.


Patih Giling Wesi berteriak melengking dan merubah permainan pedangnya. Yang terlihat kini hanya bayang-bayang pedang yang bergulung-gulung menyelimuti tubuh Gering. Menyadari lawan telah menggunakan jurus yang ampuh, Gering pun segera merubah jurusnya pula. Pertarungan makin seru dan tak terlihat lagi oleh mata biasa. Tubuh mereka seperti lenyap ditelan gulungan sinar pedang yang menimbulkan suara bersiutan.


"Aaaakh...!" tiba-tiba Gering berteriak memekik. Ketika tubuhnya keluar dari gulungan sinar pedang, dada telah basah oleh darah. Rupanya ujung pedang Patih Giling Wesi telah mengenai sasarannya. Di saat yang genting itu, tiba-tiba Codet menerjang masuk. Gering segera mundur sambil menekap dadanya yang robek.


"Kau akan bernasib lebih buruk dari temanmu!" dengus Patih Giling Wesi.


"Sebaliknya kau akan kukirim ke neraka!" sembur Codet.


"Majulah, setan!" geram Patih Giling Wesi. Codet mencabut golok besarnya.


Kelihatannya, golok itu berat sekali. Namun ketika berada di tangan Codet seperti ringan saja. Benda tajam itu berkelebat cepat dan mengarah ke bagian-bagian tubuh Patih Giling Wesi. Serangan-serangan yang dibangun Codet memang lebih dahsyat dan berbahaya dibandirig Gering. Patih Giling Wesi harus lebih hati-hati lagi. Dia merasakan angin sambaran golok lawannya menimbulkan hawa panas.


Di luar arena pertarungan, Saka Lintang hanya mengamati saja sambil bibirnya menyungging senyum. Tampaknya prajurit-prajurit Kepatihan makin kewalahan dan terdesak. Jumlah mereka makin berkurang. Sedang dari pihaknya, hanya dua yang tewas. Hanya Gering yang kelihatan terluka parah dan kini dirawat oleh anak buah Saka Lintang.


Gadis ini cukup memaklumi keadaan Gering karena lawannya memang tangguh. Kedudukan Codet pun kelihatan makin kewalahan. Saka Lintang sudah bisa menduga kalau sebentar lagi Codet akan jatuh. Gerakan-gerakan Codet makin ngawur. Sementara Patih Giling Wesi terus mendesak dengan penuh nafsu. Hingga pada suatu kesempatan....


"Aaaakh.,.!" Codet menjerit keras.


Tepat seperti dugaan Saka Lintang. Pedang Patih Giling Wesi berhasil menembus dada Codet. Darah segar segera muncrat ketika pedang itu ditarik ke luar. Codet limbung sebentar, lalu ambruk tak berkutik. Patih Giling Wesi dengan cepat melompat ke tengah-tengah prajurit-prajuritnya yang sedang kewalahan menerima gempuran yang datang bagai air bah.


Prajurit Kepatihan tinggal lima belas orang jumlahnya. Seperti orang kesetanan layaknya, Patih Giling Wesi mengamuk membabi buta. Setiap pedangnya berkelebat, pasti ada seorang lawan yang ambruk mandi darah. Prajurit-prajurit yang semula kendor semangatnya, seketika bangkit kembali melihat pemimpinnya mengamuk bagai banteng terluka. Sepuluh orang sudah roboh di ujung pedang Patih Giling Wesi dalam tempo yang singkat.


Memang tidak sia-sia dia dijuluki Singa Medan Laga. Gerakannya cepat, sukar diduga. Meskipun hatinya terbakar amarah, namun kelihatan sekali kalau Patih Giling Wesi bertarung menggunakan otak yang dingin. Dia cepat membaca gerakan lawan. Dia pun dapat mematahkan serangan lawan sebelum sampai, bahkan dengan cepat mendahuluinya. Melihat orang-orangnya kewalahan menghadapi amukan Singa Medan Laga, Saka Lintang jadi geram. Apalagi orang-orangnya makin banyak yang tumbang. Sebentar saja, dua puluh mayat sudah menggeletak.


"Patih Giling Wesi, akulah lawanmu!" teriak Saka Lintang. Bersamaan dengan itu, tubuhnya mencelat ke udara dan menghadang serangan Patih yang mengamuk


"Huh!" Patih Giling Wesi mendengus sambil menyemburkan ludahnya. Seketika pertempuran terhenti. Masing-masing kelompok melompat mundur. Mereka seperti memberi peluang bagi masing-masing pemimpin untuk berlaga. Patih Giling Wesi menatap tajam pada Saka Lintang yang sudah menghunus pedangnya.


"Serahkan anakku, atau kau harus mati di ujung pedangku!" dengus Patih Giling Wesi.


"Aku tidak akan membunuhmu, Patih Giling Wesi. Aku hanya ingin memberirnu sedikit pelajaran agar kau tidak lagi pongah!" kalem dan tenang sekali suara Saka Lintang.

__ADS_1


"Bocah setan!" geram Patih Giling Wesi merasa terhina.


"Ha ha ha..., putrimu yang cantik akan jadi ratu setan!" dia langsung menyerang dengan jurus-jurus berbahaya.


Saka Lintang melayaninya sambil tertawa -tawa. Sejak tadi sudah diperhatikannya jurus-jurus Patih Giling Wesi. Dia telah tahu kelebihan dan kelemahannya. Saka Lintang sengaja tidak membalas serangan lawan. Dia hanya menghindar dan menangkis dengan gerakan-gerakan indah memukau. Patih Giling Wesi memang tangguh dalam olah keprajuritan. Tetapi dalam menghadapi tokoh rimba persilatan seperti Saka Lintang ini, dia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. Semua serangan-serangannya, mentah dan rontok di tengah jalan oleh gadis ini. Patih Giling Wesi mulai merasa sulit menghadapi.


Mengingat dirinya adalah seorang patih yang disegani, Patih Giling Wesi tidak mau menyerah begitu saja. Dirubahnya serangan dengan menggunakan jurus-jurus andalan. Dan memang, kali ini Saka Lintang tidak main-main lagi. Jurus yang digunakan patih ini memang dahsyat, penuh gerak tipu yang berbahaya. Sedikit saja lemah, akibatnya sangat fatal.


"Awas kepala!" teriak Saka Lintang tiba-tiba.


Patih Giling Wesi terkejut Cepat-cepat dia menggerakkan pedangnya melindungi kepala. Tapi tak disangka-sangka, gerakan yang menyambar kepala hanya tipuan belaka. Sedangkan sasaran sesungguhnya adalah perut. Dengan cepat pedang Saka Lintang berputar mengarah ke perut yang lowong. Untung Patih Giling Wesi cepat menarik pedangnya.


Trang!


Dua pedang berbenturan tepat di depan perut Patih Giling Wesi. Terlambat sedikit saja, perut itu pasti sobek. Dalam hati, Saka Lintang mengakui kehebatan patih ini. Tiga puluh jurus telah berlalu, tapi kelihatannya belum ada seorang pun yang terdesak. Mereka masih seimbang meskipun telah mengeluarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi.


Pertarungan antara Patih Giling Wesi dengan Saka Lintang telah meningkat pada taraf yang genting. Seratus jurus telah berlalu dengan cepat. Masing-masing belum ada yang terdesak. Semula Saka Lintang menduga kalau kepandaian Patih Giling Wesi berada jauh di bawahnya. Kenyataannya sangat tak disangka sama sekali. Patih Giling Wesi belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya.


Saka Lintang kini meningkatkan permainan jurus-jurusnya. Kombinasi antara ilmu pedang dengan jurus 'Pukulan Geledek' yang dikeluarkannya kini, sangat dahsyat. Selain pedang yang menyambar-nyambar, pukulan tangan kiri Saka Lintang juga mencari sasaran. Semua sama-sama dahsyat. Batu-batuan dan pohon-pohon yang terkena pukulannya, langsung hancur berkeping-keping.


Sedangkan Patih Giling Wesi juga sudah mengeluarkan kesaktiannya. Dengan 'Ajian Sayuti Angin', Patih Giling Wesi dapat bergerak melebihi kecepatan angin topan. Tebasan dan tusukan pedangnya makin berbahaya dan menimbulkan tenaga dorongan yang dahsyat. Batang-batang pohon segera tumbang terkena tebasan pedang Patih Giling Wesi. Daun-daun segera berguguran terkena sambaran angin kelebatan pedang yang menimbulkan suara gemuruh bagai angin ****** beliung.


"Setan! Ilmu apa yang dia pakai?" dengus Saka Lintang dalam hati. Setiap kali pedangnya membentur pedang Patih Giling Wesi, tangan Saka Lintang selalu bergetar bagai tersengat ribuan kala berbisa. Sedapat mungkin dihindarinya benturan senjata. Tapi....


Trang! Trak!


Saka Lintang melompat mundur dengan wajah terkejut. Bagian ujung pedangnya sempal. Tangannya seperti dijalari jutaan semut yang menggigit. Perth dan bergetar keseluruh persendian tangannya. Buru-buru gadis itu memasukkan pedang ke dalam sarungnya. Dan kini dia telah siap dengan jurus 'Tarian Bidadari'.


Gerakan-gerakan tubuh Saka Lintang jadi berubah. Dia seperti menari. Meliuk-liuk dengan indahnya dengan tangan bergerak-gerak lemah gemulai. Matanya mengerling genit disertai gerak-gerak bibir yang mengundang birahi. Sesaat Patih Giling Wesi terpana. Hatinya mendadak bergetar melihat tubuh indah meliuk-liuk dan sikap yang mengundang birahi. Namun tiba-tiba, dengan cepat dan tak terduga sama sekali, tangan kanan Saka Lintang melayang mengarah dadanya. Patih itu terkejut bukan kepalang.


"Setan!" dengus Patih Giling Wesi dengan cepat melompat sambil membabatkan pedangnya.


"Ah!" Saka Lintang memekik manja. Tangannya yang sudah terulur cepat, dengan lembut ditarik. Dan.... Sulit dipercaya! Pedang yang sudah sedemikian dekat tangan Saka Lintang yang bergerak lemah, tidak bisa membabatnya putus. Bahkan lewat begitu saja. Padahal tebasan pedang patih itu sangat cepat. Tidak sebanding dengan gerakan tangan yang lemah itu!


Patih Giling Wesi segera menyadari kalau gerakan lemah gemulai yang mengundang birahi itu sangat berbahaya dan dapat mematikan lawan. Patih itu berusaha untuk tidak terpengaruh pada setiap gerakan tubuh yang indah itu.


"****** kau!" bentak Patih Giling Wesi kembali melancarkan serangan mautnya.


"Ouw!" Saka Lintang hanya mendesah manja sambil menggerakkan tubuh dengan indah.


Serangan Patih Giling Wesi yang bertubi-tubi mengarah pada bagian-bagian yang mematikan. Tetapi serangan dahsyat itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Saka Lintang. Patih Giling Wesi memutar otak, mencari kelemahan jurus aneh yang dimainkan lawannya itu. Setiap kali pedangnya berkelebat dan dipastikan akan menebas lawan, namun dengan manis Saka Lintang berhasil mengelak. Ujung pedang patih itu hanya menyerempet beberapa rambut saja. Itulah kelebihan dari jurus Tarian Bidadari yang membuat lawan jadi frustasi karena mengira serangannya berhasil.


"Huh! Ilmu setan mana yang dipakainya?" dengus Patih Giling Wesi.


Patih Giling Wesi makin kewalahan. Di samping harus menghadapi jurus aneh itu, dia juga harus berperang dengan batinnya sendiri. Daya pikat yang dipancarkan Saka Lintang begitu kuat Gerakan-gerakan patih itu jadi tidak teratur karena terpecah konsentrasinya. Sekuat daya Patih Giling Wesi menekan nafsu birahinya yang semakin berkobar-kobar.


Tiba-tiba Patih Giling Wesi tersentak. Tangan halus gemulai itu mendadak hampir menepuk pundaknya. Untung saja patih itu masih memiliki sedikit kewaspadaan sehingga tepukan tangan Saka Lintang berhasil dihindari. Tetapi tak urung, tepukan lembut itu menyerempet bahunya. Patih Giling Wesi merasakan suatu hawa panas menyebar. Seketika dia tersentak kaget.


"Racun...!" desisnya. Segera Patih Giling Wesi mengerahkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Belum dapat dipastikan racun itu berbahaya atau tidak. Namun dari anginnya sudah dapat dirasa. Mendadak kepala Patih Giling Wesi terasa pening. Secara tidak langsung, dia telah menghirup hawa racun yang disebar oleh telapak tangan Saka Lintang. Hawa murni itu telah menutup seluruh aliran darahnya. Perlahan- lahan rasa pening di kepala berkurang. Tubuhnya jadi terasa hangat. Patih Giling Wesi membuka lagi jalan darahnya setelah terasa racun yang terhisap tadi telah keluar dari tubuhnya.


Patih Giling Wesi menatap Saka Lintang yang berdiri tenang dengan bibir menyungging senyum memikat. Dalam hati Patih Giling Wesi mengatakan bahwa tidak mungkin bertarung sambil menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni. Tetapi kalau tidak begitu, racun bakal terhisap lagi! Untuk menutup jalan darah dan mengerahkan hawa murni juga terlalu besar resikonya. Bisa-bisa malah mati karena di dalam tubuh terjadi pertentangan dua hawa yang berlainan.


"Jalan satu-satunya harus menahan nafas. Ya, menahan nafas!" bisik hati Patih Giling Wesi. Tapi apakah mampu menahan napas sambil bertarung? Kalau hanya sepuluh jurus saja dia masih mampu. Tetapi lewat dari sepuluh, rasanya tidak mungkin. Patih Giling Wesi seperti kehilangan akal dalam menghadapi lawannya kali ini.


Sementara Saka Lintang telah mulai lagi dengan jurus Tarian Bidadari. Di saat Patih Giling Wesi dalam kebingungan, mendadak sebuah bisikan lembut terdengar di telinganya. Bisikan yang entah datang dari mana. Sepertinya suara itu begitu dekat dan jelas. Patih Giling Wesi tidak dapat berpikir lebih banyak lagi. Yang jelas bisikan itu mengatakan tentang kelemahan jurus Tarian Bidadari.


"Jangan hiraukan tangannya, tetapi pandanglah matanya. Arahkan pedang pada pusarnya," jelas bisikan itu.


Tanpa ragu-ragu lagi, patih itu segera menatap mata Saka Lintang. Pedangnya terhunus ke arah pusar.


"Ikuti setiap gerak kakinya," terdengar lagi bisikan itu.


Patih Giling Wesi segera bergerak mengikuti setiap gerakan kaki Saka Lintang. Dan benar saja, baru dua petunjuk saja, kelihatan Saka Lintang mulai kebingungan. Namun semuanya tertutupi oleh gerakan-gerakan lemah gemulainya.


"Pusatkan napas pada perut. Hembuskan melalui mulut," bisikan itu terdengar lagi.


Mudah dan sederhana sekali petunjuk yang diberikan sehingga Patih Giling Wesi dengan cepat memahaminya. Hatinya gembira. Semangat timbul lagi. Dia sudah mulai merasakan kalau Saka Lintang menemui kesulitan. Setiap gerakan Saka Lintang selalu dapat dibaca olehnya. Saka Lintang mulai sulit menebarkan racun lewat pukulannya. Kian lama gerakannya menjadi kacau, tidak beraturan. Bahkan beberapa kali ujung pedang Patih Giling Wesi hampir menembus perutnya.


"Ih!" Saka Lintang terkejut ketika ujung pedang patih itu berhasil merobek baju bagian perutnya. Merah pada wajah gadis itu menahan malu. Cepat-cepat ditutupinya bagian yang terbuka itu. Cukup besar sayatan menggores bajunya. Saka Lintang segera melompat mundur. Dia jadi geram karena kelemahan jurus andalannya terbaca lawan.


Patih Giling Wesi makin gembira karena merasa di atas angin. Rupanya gerakan-gerakan lemah lembut Saka Lintang harus dihadapi pula dengan gerakan yang lemah sedikit kaku. Untuk bisa melakukannya, digunakan pernapasan perut di samping memandang mata lawan. Sedangkan pada bagian perut yang terbuka, sering luput dari perhatian. Mungkin karena lawan telah terpengaruh oleh gerakan-gerakan yang mengundang syahwat itu, hingga jadi lupa terhadap daerah lowong itu.


Dalam menghadapi Patih Giling Wesi, Saka Lintang kali ini memang menelan pil pahit. Dia sama sekali tidak tahu kalau patih itu mendapat petunjuk dari bisikan misterius yang hanya dapat didengar oleh patih itu sendiri.


"Keluarkan seluruh kesaktianmu, biar lebih cepat kau kukirim ke neraka!" dengus Patih Giling Wesi.


Saka Lintang hanya mendengus saja. Kini disiapkannya jurus andalannya yang terakhir. Jurus Ular Berbisa Menyebar Racun.


"Huh! Ilmu setan mana lagi yang digunakannya?!" dengus Patih Giling Wesi.


Gerakan-gerakan yang diperlihatkan memang aneh. Kadang lambat, tetapi segera berubah cepat. Sebentar dia melompat, kemudian merayap cepat menyusur tanah. Mulutnya mendesis bagai ular.


"He he he...!" Suara terkekeh tiba-tiba terdengar menggema dari segala penjuru. Kemudian muncul seorang kakek tua mengenakan baju compang-camping dengan tongkat merah di tangannya. "Ular harus dilawan dengan tongkat!" kata kakek tua yang tidak lain adalah Pengemis Sakti Tongkat Merah atau Aki Lungkur.


"Aki Lungkur...," desis Patih Giling Wesi. Seketika dia menduga kalau kakek tua inilah yang membisikkannya tadi.

__ADS_1


"Adi Patih Giling Wesi, mundurlah. Dia bukan lawanmu," kata Aki Lungkur tanpa mengecilkan kepandaian patih itu.


Patih Giling Wesi pun mundur dua tindak. Dia sudah tahu siapa kakek tua itu. Tingkat kepandaiannya memang sulit diukur. Patih Giling Wesi sangat menghormatinya meski dia hanya seorang yang lebih mirip pengemis.


"Selamatkan putrimu di bukit Guntur," kata Aki Lungkur lagi.


"Bedebah! Kakek busuk, jangan campuri urusanku!" bentak Saka Lintang geram.


"Cepatlah berangkat! Jangan buang-buang waktu lagi," kata Aki Lungkur tanpa mempedulikan bentakan Saka Lintang.


"Baik, Aki. Hati-hatilah," sahut Patih Giling Wesi.


"He he he...," Aki Lungkur terkekeh lagi.


Tanpa mendapat peringatan pun, Aki Lungkur tahu siapa lawan yang dihadapinya kini. Seorang gadis, anak angkat Geti Ireng. Tentulah kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng. Terbukti Patih Giling Wesi tidak mampu menandinginya.


Patih Giling Wesi segera berangkat. Bersama prajurit-prajuritnya dia menuju bukit Guntur. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, Saka Lintang segera memerintahkan anak buahnya menghalangi para prajurit Kepatihan itu. Tanpa dikomando lagi, mereka langsung menyerang para prajurit yang belum pergi jauh itu.


********************


Pada waktu yang bersamaan, seorang pemuda berbaju rompi putih berjalan menelusuri kaki bukit Guntur sambil bersiul-siul. Dari gagang pedang yang menempel di punggungnya dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Rangga, si Pendekar Rajawali Sakti. Sambil bersiul-siul dengan irama yang tak jelas, Rangga terus melenggang. Kepalanya tergeleng-geleng begitu mendengar suara berkeresek. Suara siulannya berhenti. Bibirnya menyungging senyum.


"1... 2... 3... Ah, hanya 15," gumam Rangga menghitung. Rangga masih melenggang tenang. Dia tahu kalau dirinya telah memasuki daerah markas Bidadari Sungai Ular. Telinganya yang tajam menangkap suara gerak langkah kaki tersembunyi. Dan kini telah mengepung dirinya.


"Hm..., mungkin rumah itu sarangnya," kembali Rangga bergumam ketika melihat sebuah rumah kayu di depannya. Rumah beratap rumbia itu bertengger di kaki lereng yang cukup terjal. Tidak terlalu sulit untuk mencapai sana. Dan, mendadak dari rimbunan semak-semak bermunculan orang-orang berpakaian serba biru dengan senjata terhunus.


"Berhenti!" bentak salah seorang dengan keras.


"Waduh, galak sekali," Rangga berlagak kaget.


"Siapa kau? Apa maksudmu datang ke sini?" tanya orang yang membentak tadi. Dia salah seorang kepercayaan si Bidadari Sungai Ular. Namanya Jambak.


"Aku hanya pengembara dan kebetulan lewat sini," jawab Rangga kalem.


"Tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan ini!" kata Jambak galak.


"Lho, kenapa?" Rangga berlagak dungu.


"Jangan banyak tanya. Ayo, kembali! Atau tubuhmu kujadikan dendeng!" ancam Jambak.


"Wuih! Sadis sekali."


"Pergi!" bentak Jambak keras.


Rangga hanya tersenyum saja. Diayunkan langkahnya. Tanpa peduli Rangga meneruskan perjalanannya. Jambak jadi gusar karena kata-katanya tidak digubris sama sekali. Dia segera melompat dengan ilmu peringan tubuhnya. Pedangnya terayun cepat mengarah kepala Rangga. Namun tebasan pedang itu hanya mengenai angin.


"Teman-teman, serang keparat ini!" perintah Jambak.


Seketika empat belas orang temannya dengan cepat mengurung Rangga sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata. Rangga hanya tersenyun. Digenjot kakinya, dan dengan cepat tubuhnya melenting di udara. Bagaikan terbang saja, Rangga melayang menuju rumah kayu di tebing bukit. Kelima belas orang itu hanya melongo. Jambak yang memiliki kepandaian cukup tinggi, segera memerintahkan teman-temannya mengejar. Dia sendiri berlompatan dengan bantuan ilmu peringan tubuhnya.


"Hem..., kalian hanya kronco!" dengus Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan rumah kayu itu.


Jambak yang datang lebih dulu dari teman-temannya dengan cepat menyerang ganas. Rangga hanya berkelit menghindari tebasan pedang yang datang bagai air bah itu. Namun bagi Rangga, semua serangan Jambak hanya dianggap main-main saja. Dia hanya meliuk-liukkan tubuhnya tanpa menggeser kaki sedikit pun. Kaki Rangga baru bergerak jika datang serangan lain secara keroyokan.


Macam-macam bentuk senjata bertebaran mengepung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun sampai sejauh ini, belum ada satu pun senjata yang berhasil menyentuh tubuhnya. Rangga bagai seekor belut. Licin dan berkelit ke sana kemari menghindari segala bentuk serangan yang datang bertubi-tubi.


"Maaf, pinjam tombakmu!" kata Rangga kalem.


Selesai ucapannya, tangan Rangga bergerak cepat. Sekejap saja seorang dari pengeroyoknya yang menggenggam tombak terhuyung ke belakang. Tombak itu telah berpindah tangan. Dan kini orang itu telah ambruk tak berkutik. Darah menguncur deras dari keningnya yang bolong. Rupanya Rangga menggunakan satu jarinya untuk menotok kening orang itu. Sangat keras totokannya, sehingga kening orang itu bolong!


Kini dengan tombak di tangan, Rangga tidak lagi kewalahan. Denting macam- macam senjata beradu dengan tombak di tangan Rangga. Dalam keadaan dikeroyok seperti itu, Rangga masih sempat melirik ke arah pintu rumah yang terbuka. Dan tiba-tiba muncul seorang wanita muda, cantik, dan menggiurkan, mengenakan pakaian merah muda dari bahan sutra halus di depan pintu.


Rangga sedikit terpana melihat kecantikan wanita yang tidak lain adalah Intan Kemuning. Namun dia tidak dapat memperhatikan lebih lama lagi. Rangga kini sibuk menghadapi para pengeroyoknya yang semakin ganas. Rangga menggerakkan tombaknya semakin cepat. Dua orang kini terhuyung sambil menekap dada, lalu ambruk tidak berkutik lagi. Darah segar segera mengucur dari dada yang robek itu. Belum lagi kering darah itu, menyusul dua orang terhuyung-huyung lalu ambruk.


Pekik kematian kini terdengar saling susul. Tubuh-tubuh bermandikan darah mulai bergelim-pangan. Sebentar saja sudah delapan orang yang telah mengantar nyawa. Jambak merasakan lawannya bukan tandingan mereka semua. Hatinya bergetar juga. Lebih-lebih setelah mendengar lagi suara jeritan panjang melengking, disusul am-bruknya dua orang lagi.


"Cukup!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras melengking.


"Bayangan hitam...!" seru Jambak gembira melihat berkelebatnya sebuah bayangan.


Sebentar saja sesosok tubuh kurus tinggi berbalut baju hitam ketat telah berdiri di tengah-tengah lapangan depan rumah kayu itu. Dari raut wajah yang panjang kurus, dapat ditebak kalau orang itu wanita.


"Jambak, siapa tikus itu?" tanya Bayangan Hitam.


"Dia coba-coba menggerogoti lumbung."


"Huh! Lalu di mana Gusti Putrimu?"


"Menghadang perusuh di sungai Ular."


Si Bayangan Hitam mendongak seraya memonyongkan bibir. Terdengarlah siulan yang panjang dan melengking tinggi. Siulan itu menggema dipantulkan oleh bukit-bukit batu dan lembah. Serentak dari balik-balik pepohonan muncul sekitar dua puluh orang berpakaian serba hitam. Mereka semua menyandang pedang di punggung.


"Bagi dua!" teriak Bayangan Hitam. Tanpa banyak omong, orang-orang yang baru bermunculan itu segera membentuk dua kelompok. "Jambak, bawa satu kelompok orangku. Bantu Gusti Putrimu!" perintah Bayangan Hitam.


"Oh, terima kasih" Jambak membungkukkan tubuhnya.

__ADS_1


Jambak cepat memberi isyarat pada salah satu kelompok Bayangan Hitam. Segera mereka berlari menuruni lereng bukit menuju sungai Ular. Sisa empat orang teman-teman Jambak masih terdiam di tempatnya. Secercah harapan muncul dan terbias di wajah mereka melihat kehadiran Bayangan Hitam. Mereka semua tahu siapa Bayangan Hitam. Dia adalah seorang tokoh sakti yang tangguh dan sukar dicari tandingannya. Benar-benar suatu kebetulan, Bayangan Hitam datang membawa anak buahnya. Semangat mereka timbul kembali setelah hampir diporak-porandakan.


********************


__ADS_2