Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Prahara Gadis Tumbal Bag. 4


__ADS_3

Wratama mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan kedai makan. Sepi. Tidak ada seorang pun yang ada di tempat ini. Kakinya terus melangkah masuk. Di dalam juga sepi. Bagian dalam merupakan sebuah lorong yang di kanan kirinya terdapat kamar-kamar sewa untuk menginap. Semua pintu nya tertutup rapat Wratama baru berhenti melangkah setelah sampai pada ujung lorong.


Matanya kembali beredar mengamati keadaan. Pelan-pelan dia mulai mengetuk pintu kamar di depannya. Tidak terdengar sahutan. Kembali diketuknya agak keras dari pada semula. Matanya tetap mengamati sekelilingnya


"Masuk..." terdengar suara dari dalam kamar.


Wratama membuka pintu kamar. Cepat-cepat dia melangkah masuk, lalu bergegas ditutup kembali pintunya. Hanya ada satu pelita kecil yang menerangi, sehingga keadaan kamar menjadi remang-remang. Mata Wratama langsung mengarah ke pembaringan tempat sesosok tubuh ramping tergolek di atasnya.


"Tidak ada yang melihatmu ke sini, Wratama?" tanya sosok tubuh ramping itu. Suaranya halus lembut bagai butuh perindu.


"Tidak," sahut Wratama sambil mendekat.


Sosok tubuh ramping itu pun duduk ketika Wratama duduk di tepi pembaringan. Tampak wajahnya yang cantik dengan bibir merah merekah menyunggingkan senyum. Rambutnya panjang, hitam, dan lebat dibiarkan terurai melewati bahu. Kain sutra halus berwarna merah muda melilit di tubuhnya.


Wratama menelan rudah saat bola matanya menangkap dua bukit putih mulus, menyembul seolah-olah hendak berontak keluar dari balik kainnya. Seperti sengaja, wanita itu menggerakkan tubuhnya, sehingga belahan kain yang melilit agak tersingkap. Terlihatlah dua paha yang terbungkus kulit putih itu, Mata Wratama tidak berkedip memandanginya


"Tunggu dulu, Wratama," wanita itu mendorong dada Wratama yang akan memeluknya.


"Kenapa? Kenapa kau menolak?" Wratama terus saja ingin memeluk.


"Kau belum mengatakan apa-apa padaku," kata wanita itu.


"Keadaan di Padepokan Pasir Batang, maksudmu?"


Wanita itu hanya tertawa mengikik. Irama tawanya dipenuhi nafsu birahi, sehingga Wratama hanya menelan ludah untuk yang sekian kalinya. Tangannya sejak tadi telah bermain-main di paha yang putih terbuka.


"Separuh lebih murid Ki Gandara tewas, sedangkan hanya enam dari Raja Dewa Angkara," kata Wratama.


"Kenapa bisa begitu?" suara wanita itu terdengar terkejut mendengar enam orang dari Raja Dewa Angkara tewas.


"Ada seorang pendekar sakti yang membantu."


"Siapa dia?"


"Pendekar Rajawali Sakti. Dia yang membunuh tiga orang Raja Dewa Angkara di halaman rumah kepala desa."


Sesaat suasana hening.


"Bagaimana orangnya?" tanya wanita itu.


"Masih muda, tampan, dan berilmu tinggi. Senjatanya sebuah pedang yang bisa memancarkan sinar biru."


Kembali tak terdengar suara.


"Ah, sudahlah. Kau datang ke sini bukan untuk membicarakan hal itu, kan?" Wratama sudah tidak sabaran lagi.


Wanita itu tidak dapat menolak lagi. Wratama sudah memeluknya ketat. Ciuman dan kecupannya membuat wanita itu mengerang, dan membalas dengan gejolak yang menggelegak dalam dada. Kini di kamar itu hanya terdengar desah nafas memburu disertai erangan dan rintihan yang membangkitkan gairah.


Sementara itu di atap, tepat di atas kamar yang dipenuhi hawa nafsu birahi, Rangga menahan nafas. Suara suara yang didengarnya terakhir membuat gelisah dirinya sendiri. Bergegas dia melompat menuju pohon yang berada tepat di depan jendela kamar itu.


Pendekar Rajawali Sakti itu kembali menahan nafas dengan mata sedikit membelalak. Jelas sekali dari tempatnya bertengger, terlihat dua tubuh menyatu rapat di atas ranjang. Jendela yang terbuat dari bilah-bilah papan, memang terlalu renggang susunannya. Sehingga apa yang terjadi di dalam kamar dapat terlihat jelas meski hanya diterangi oleh sebuah pelita kecil.


"Siapa wanita itu? Apakah salah seorang dari Raja Dewa Angkara?" Rangga bertanya-tanya dalam hati.


Pendekar Rajawali Sakti itu belum dapat menduga-duga lebih jauh. Dipalingkan mukanya, karena tidak sanggup untuk melihat terus ke dalam kamar. Hanya sesekali saja matanya melirik ke sana. Dan setiap kali melihat dua manusia berlainan jenis itu tengah dimabuk birahi, dadanya seketika berdetak lebih keras dari biasanya. Sungguh pemandangan yang membuat Rangga jadi berkeringat


Agak lama juga Rangga tersiksa sendiri di atas pohon. Rasa penasarannya pada wanita itu, membuatnya ber-tahan dalam ketersiksaannya. Padahal sejak tadi dia ingin pergi. Saat matanya kembali melirik dalam kamar, ternyata Wratama telah tergolek dengan dada bergerak cepat. Sedang wanita itu duduk di sampingnya.


Wanita itu beringsut turun dari pembaringan. Terlihat jelas kalau dia tidak mengenakan selembar kain pun pada tubuhnya. Kembali Rangga menahan nafas melihat lekuk-lekuk tubuh indah dan menggairahkan. Wanita itu mengenakan kembali pakaiannya. Wratama masih tergolek tak berdaya.


"Dia keluar," bisik Rangga dalam hati.


Dengan sekali lompatan saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah kembali berada di atas atap lagi. Sebentar dia menunggu, dan terlihatlah wanita itu telah mengenakan pakaian serba hitam. Dia melesat cepat ke luar kedai makan yang sekaligus tempat penginapan. Gerakannya lincah dan ringan, sulit diikuti oleh mata biasa. Namun bagi Pendekar Rajawali Sakti, hal itu bukanlah persoalan.


Sambil mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', Pendekar Rajawali Sakti terus mengikuti ke mana wanita itu pergi. Wanita itu tidak menyadari kalau sejak semula telah dibuntuti karena gerakan Pendekar Rajawali Sakti sangat ringan dan tidak menimbulkan suara sedikit pun.


"Mau ke mana dia?" Rangga bertanya dalam hati.


Kening Rangga berkerut makin dalam setelah tahu kalau wanita itu menuju ke Gunung Balakambang. Kini tubuh wanita itu sebentar menghilang, sebentar kemudian terlihat. Pohon-pohon dan semak yang makin rapat membuat Rangga makin berhati-hati mengikutinya. Dia yakin kalau wanita itu salah seorang dari Raja Dewa Angkara.


"Hm, Wratama..., apa hubungannya dia dengan Raja Dewa Angkara?" lagi-lagi Rangga bertanya dalam hati.


Namun belum lagi sempat mendapat jawaban, mendadak...


"Uts!"


Rangga melompat sambil bersalto cepat ketika sebuah tombak hitam meluncur deras ke arah tubuhnya. Belum lagi dia sempat turun, kembali sebatang tombak mengarah deras kepadanya. Berikutnya disusul tombak tombak lain dari segala penjuru mata angin.


"Setan!" dengus Rangga sambil bersalto di udara menghindari serangan gelap yang datang bagai hujan.


Ternyata bukan hanya tombak yang mengincar nyawanya, tetapi juga serbuan anak-anak panah yang kini meluncur dari segala arah. Pendekar Rajawali Sakti dibuat sedikit kewalahan. Tidak diberi kesempatan untuk menarik napas sedikit pun! Bahkan untuk menjejakkan kaki di tanah saja, tidak ada peluang sama sekali. Kalau saja Pendekar Rajawali Sakti tidak sedang mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', mungkin sudah sejak tadi tubuhnya tercincang.


********************

__ADS_1


Keadaan Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tidak memungkinkan untuk lolos. Serangan gelap itu semakin gencar datangnya. Beberapa kali ujung tombak hampir mengenai tubuhnya. Rangga jadi sengit. Sambil berteriak melengking, dia melompat lebih tinggi seraya mencabut pedangnya.


Sret, Cring!


Seketika keadaan di dalam hutam lereng Gunung Balakambang jadi terang benderang oleh sinar pedang yang biru kemilauan. Dengan senjata pusaka, itu. Rangga mengamuk bagai banteng luka. Sinar biru bergulung-gulung menyelimuti tubuhnya. Beberapa batang tombak dan anak panah rontok berhamburan sebelum mencapai sasaran.


"Ke luar kalian!" teriak Rangga.


Suaranya menggelegar karena disertai pengerahan tenaga dalam yang luar biasa. Begitu hebatnya suara Pendekar Rajawali Sakti itu, sehingga daun-daun berguguran. Batu-batu kerikil berlompatan terkena getaran suaranya. Dan lebih hebat lagi, pengaruh teriakan itu membuat serangan tombak dan anak panah berhenti mendadak.


Pendekar Rajawali Sakti melenting dan berputar di udara dua kali, sambil memasukkan kembali pedang pusaka ke dalam sarungnya di punggung. Dia hinggap dengan manis di atas sebuah dahan pohon yang cukup tinggi. Bagaikan mata rajawali, matanya merayapi sekitar-nya. Terlihatlah tubuh-tubuh berseragam kain hitam bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak


"Harus diberi pelajaran manusia-manusia jahat ini!" dengus Rangga dalam hati.


Tangannya bergerak cepat merampas daun-daun pohon di sekitamya. Sambil mengerahkan tenaga dalam, dilemparkannya daun-daun itu ke arah orang-orang yang berpakaian serba hitam. Daun-daun yang semula lemas tak berguna, kini bagaikan senjata rahasia ampuh yang meluncur deras melebihi kecepatan anak panah yang lepas dari busurnya.


Seketika terdengar suara jerit kesakitan saling susul. Kemudian tidak kurang dari enam orang berpakaian serba hitam bertumbangan. Daun-daun yang dilontarkan Pendekar Rajawali Sakti bagaikan terbuat dari logam keras, menancap di dada mereka.


"Minggat kau, iblis-iblis Jahat!" desis Rangga dengan nada geram.


Kembali tangannya merampas daun-daun, lalu dilemparkan dengan pengerahan tenaga dalam yang hebat Dan terdengarlah jeritan menyayat disusul tumbangnya beberapa tubuh berpakaian serba hitam. Desisan Rangga rupanya terdengar oleh mereka. Maka sebatang tombak pun meluncur deras ke arah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu menggerakkan tangannya cepat menangkap tombak itu. Tanpa membuang waktu lagi, tubuhnya meluruk cepat ke arah si pelempar tadi.


"Akh!" pelempar tombak itu terkejut. Segera digulingkan tubuhnya ke samping Kaki Pendekar Rajawali Sakti hanya menjejak tanah kosong. Namun belum sempat bergerak, tiba-tiba seseorang membokong dengan tombak terhunus ke arah Pendekar Rajawali Sakti.


"Ih!" Pendekar Rajawali Sakti menangkis dengan tombak yang ada di tangannya. Trak!


Dua tombak hitam beradu keras. Tanpa membuang waktu lagi, kaki Pendekar Rajawali Sakti terayun keras, dan..., Buk!


Telapak kakinya tepat mendarat di dada penyerangnya. Orang itu terjengkang beberapa langkah ke belakang. Pendekar Rajawali Sakti melemparkan tombak di tangannya. Tombak itu meluncur deras, dan tepat menghujam di dada pembokong tadi. Jerit menyayat terdengar bersamaan dengan ambruknya orang itu. Belum lagi Pendekar Rajawali Sakti itu bisa menarik nafas, mendadak datang dua serangan dari arah samping kanan dari jarinya.


Hanya dengan menggeser selangkah ke belakang, dua ujung tombak mengenai sasaran kosong Sambil menarik badan ke belakang, Pendekar Rajawali Sakti menangkap dua tombak itu, lalu mengangkatnya ke atas. Dua tubuh melayang deras dan... Trak!


Kepala dua orang itu beradu keras. Tanpa mengeluarkan suara lagi, dua orang berpakaian serba hitam itu ambruk dengan kepala pecah. Rangga menoleh pada orang yang kini tidak bersenjata. Orang yang pertama menyerangnya ketika di atas pohon. Tampak orang itu mundur dengan bola mata jelalatan ke kanan dan ke kiri.


Rangga membuang tombak yang ada di tangan kanannya. Kemudian dia menghunus satu tombak lainnya dengan tangan kiri. Kakinya bergerak perlahan mendekati satu orang itu.


"Huh! Ayo kita bertarung tanpa senjata!" dengus Rangga. Tangan kirinya membuang tombak ke samping.


Rangga berdiri tegak dengan sikap menantang. Orang yang seluruh tubuhnya terbalut kain hitam, berhenti mundur. Dia seperti menyadari kalau dia sendiri yang masih hidup. Lalu dengan satu teriakan melengking, tubuh-nya mencelat menerjang Pendekar Rajawali Sakti.


Hanya sedikit saja Rangga memiringkan tubuhnya, maka serangan itu lewat di depannya. Secepat kilat tangan Rangga menjulur, dan menotok pundak orang itu. Namun tidak diduga sama sekali, totokannya dapat dihindari dengan manis. Orang itu menjatuhkan tubuhnya sambil mengayunkan kakinya.


Dengan cepat Rangga menurunkan tangannya. Dan kaki lawanpun membentur tangan Rangga yang teraliri kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi. Rangga menduga kaki itu akan patah namun kenyataannya. Orang itu malah memutar tubuhnya setengah miring, lalu kakinya kembali terayun mengarah ke iga.


Cepat-cepat Rangga mengegoskan tubuhnya, dan kaki itu lewat beberapa helai rambut di samping iganya. Rangga kembali mengulurkan tangan kanannya ke arah pundak lawan. Dia sengaja mengincar bagian tubuh dengan totokan saja. Dia ingin orang ini hidup tanpa terluka. Gerakan Rangga yang cepat, kali ini sulit dihindari. Dengan rasa terpaksa, orang itu menangkis tangan Rangga. Namun cepat pula Rangga memutar tangannya. Dan....


"Ah!" orang itu mendesah kaget. Mendadak tangan kirinya lemas lunglai. Belum lagi hilang rasa terkejutnya. Jari tangan Rangga sudah kembali bergerak cepat Kini bagian bahu dan dada orang itu kena totokan yang membuat seluruh tubuhnya lemas. Tanpa dapat dihindari lagi, tubuh yang mengenakan pakaian serba hitam itu jatuh lunglai.


"Hup...!" Rangga cepat-cepat menyangga tubuh yang lemas tak bertenaga itu. Tanpa membuang uang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti langsung memanggulnya. Sebentar diedarkan pandangan berkeliling, lalu mengempos tubuhnya. Sekejap mata saja tubuh Rangga sudah mencelat ke angkasa. Dengan kaki menjejak pada ujung ujung dahan pohon, Pendekar Rajawali Sakti bagai terbang meninggalkan tempat itu.


********************


Rangga melemparkan kayu ke atas api unggun. Cahaya api jadi bertambah terang dan menghangatkan sekitar goa. Dua kali Rangga menambahkan kayu, kemudian dihampiri-nya tubuh ramping terbalut kain hitam yang menggeletak di atas daun-daun kering Rangga merenggut topeng dari kain hitam yang menutupi seluruh kepala orang Itu.


Tampak seraut wajah cantik dengan bola mata bulat indah terbias oleh cahaya api. Rambutnya tergulung ke atas cukup rapi. Bibimya bergerak-gerak seolah hendak mengatakan sesuatu, namun tidak ada sedikit pun suara yang ke luar. Hanya bola matanya saja yang liar mem-belalak lebar menatap tajam wajah Pendekar Rajawali Sakti.


"Melati..." desis Sawung Bulu yang berada di belakang Rangga.


"Kau kenal dia?" tanya Rangga seraya menoleh.


Sawung Bulu menggeser, matanya merayapi wajah cantik yang tergolek lemah.


"Tidak salah, dia Melati. Aku masih ingat betul!" seru Sawung Bulu mengenali wajah wanita itu.


Sawung Bulu menjulurkan tangannya dan membalikkan kepala wanita itu. Disibakkan rambut yang menjuntai di samping kepala wanita itu. Tampak pada belakang telinganya, terdapat bulatan hitam sebesar kuku jari. Sawung Bulu kembali membalikkan kepala itu, matanya merayapi wajah yang putih kemerahan.


"Dia..., dia Melati!" seru Sawung Bulu pasti.


Rangga menatap Sawung Bulu dan wanita itu bergantian.


"Dia anak Kepala Desa Karang Sewu. Letaknya di sebelah Barat Desa Pasir Batang Tiga tahun lalu Melati dijadikan korban persembahan untuk Raja Dewa Angkara," Sawung Bulu menjelaskan.


Rangga menggerakkan jari-jarinya menotok dua kali pada bagian leher wanita yang dikenal Sawung Bulu bernama Melati. Sebentar wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu bola matanya menatap tajam pada Rangga dan Sawung Bulu bergantian.


"Bebaskan aku. Kita bertarung sampai mati!" dengus wanita itu dingin.


Rangga meraba dada wanita itu.


"Setan! Geliii! Ku Tampar kau!" bentak wanita itu geram. Dia berusaha menggeliatkan tubuhnya, tapi pengaruh totokan Pendekar Rajawali Sakti sangat kuat.


"Dalam tubuhnya mengalir sejenis racun yang bisa mempengaruhi jiwanya," Rangga bergumam.


"Apakah bisa disembuhkan?" tanya Sawung Bulu.

__ADS_1


"Entahlah. Aku harus tahu dulu racun jenis apa yang bersarang di tubuhnya. Yang jelas dia sekarang tidak tahu lagi siapa dirinya," sahut Rangga.


Rangga kembali menggerakkan jari-jari tangan untuk menotok leher wanita itu. Seketika wanita itu diam lemas. Sambil mendesah panjang, Pendekar Rajawali Sakti meng-henyakkan tubuhnya bersandar ke dinding goa. Sementara Sawung Bulu duduk di samping wanita itu.


"Apakah racun itu mematikan, Rangga?" tanya Sawung Bulu.


"Tidak," sahut Rangga. "Racun itu hanya mempengaruhi jiwa dan pikiran. Hmm... apakah dia punya ilmu silat?"


Sawung Bulu menggeleng. "Setahuku, Melati tidak pernah belajar ilmu silat."


"Aneh, kepandaiannya cukup tinggi. Mustahil dalam waktu tiga tahun saja, bisa memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi." gumam Rangga.


"Aku rasa karena pengaruh racun itu," Sawung Bulu menduga-duga.


"Mungkin," desah Rangga.


Sawung Bulu terdiam sejenak dicoba untuk mereka-reka hal yang tengah dialaminya kini. Memang sulit dipercaya kalau korban-korban persembahan untuk Raja Dewa Angkara dijadikan semacam laskar wanita. Dalam waktu singkat saja, wanita-wanita yang selama hidupnya buta terhadap ilmu olah kanuragan, tiba-tiba menjadi orang yang tangguh.


Sedangkan di benak Pendekar Rajawali Sakti tengah berpikir tentang jenis ramuan yang digunakan oleh Raja Dewa Angkara itu Banyak diketahuinya tentang jenis-jenis racun dan ilmu ilmu pengobatan. Tapi untuk racun jenis ini. rasanya belum pernah dipelajarinya. Atau mungkin ia lupa?


Rangga terus mencoba membuka ingatannya tentang segala jenis racun dan ramuan ramuan yang didapatnya dari buku-buku warisan Pendekar Rajawali Sakti


Rangga menggeser duduknya mendekati wanita yang masih tergolek lemas itu. Sawung Bulu menggeser duduknya memberi tempat. Kembali jari-jari tangan Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak membebaskan totokan pada leher wanita itu.


"Nyawamu ada di tanganku. Aku bisa membunuhmu semudah aku membalikkan tangan," suara Rangga dibuat dingin


"Huh! Kau kira aku takut mendengar ancaman mu?" wanita yang dikenal Sawung Bulu bernama Melati ini ter-senyum mengejek


"Terserah kau ingin bilang apa. Yang jelas kau sendiri tidak kenal lagi siapa dirimu yang sebenarnya," suara Rangga terdengar tenang "Siapa namanya tadi?" lanjut Rangga diarahkan pada Sawung Bulu


"Melati," sahut Sawung Bulu.


"Dengar, Melati. Jiwamu sedang dipengaruhi oleh kekuatan iblis! Aku ingin membebaskanmu dari pengaruh itu. Berbuatlah wajar dan tidak melakukan hal hal yang dapat merugikan dirimu sendiri. Pengaruh ibhs itu tak akan lenyap tanpa kau sendiri yang bersedia melepaskannya."


Melati hanya mencibir penuh ejekan


"Bantu aku, Sawung," kata Rangga.


Rangga mengangkat tubuh Melati dibantu Sawung Bulu. Mereka mendudukkannya dekat api. Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti membuka pakaian atas Melati.


"Kurang asem! Kau kau kau!" sentak Melati geram.


Seketika wajah Melati merah padam menahan malu dan geram. Sawung Bulu sampai tak berkedip memandang bagian dada Melati yang membulat indah dan terbuka lebar. Sangat jelas terlihat karena dia berada tepat di depannya. Tangannya yang memegangi pundak Melati, jadi berkeringat gemetaran. Beberapa kali Sawung Bulu menelan ludah membasahi teng gorokan yang mendadak kering.


Rangga tidak mempedulikan makian Melati. Terus dibukanya bagian belakang tubuh wanita itu, kemudian duduk bersila. Kedua tangannya terbuka dan diletakkan di punggung yang putih mulus. Sedikit Rangga bergetar begitu merasakan halusnya kulit punggung Melati. Secepatnya Pendekar Rajawali Sakti itu menekan perasaannya yang mendadak bergejolak. Kelopak mata Rangga terpejam. Dikerahkan hawa murni dalam tubuhnya, dan disalurkannya ke telapak tangan yang menempel erat di punggung Melati.


"Lepaskan tanganmu, Sawung," kata Rangga sambil membuka matanya.


Sawung Bulu melepaskan tangannya dari pundak Melati. Dia benngsut ke samping agak menjauh. Namun matanya tidak mau lepas menatap bukit indah yang terbuka. Ketika hawa mumi yang tersalur dalam telapak tangan Rangga menyentuh kulit punggung Melati, tiba-tiba wanita itu mengejang kaku. Semakin lama tubuh Rangga semakin kuat bergetar. Asap putih mengepul tipis dari punggung Melati. Dan saat Rangga mendengus keras, Melati berdahak


"Hoek!"


Dari mututnya ke luar cairan kuning kehijauan yang kental. Dua kali Melati berdahak, dua kali pula cairan itu meluncur dari mulutnya. Rangga masih menyalurkan hawa murni ke tubuh wanita itu. Kini keringat telah menganak sungai di wajah dan di tubuh Rangga.


"Aaa...!" tiba-tiba Melati menjerit keras. Rangga menarik tangannya bersamaan dengan ter-kulainya wanita itu ke pelukan Rangga. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti menarik napas panjang lalu ditutupinya lagi tubuh yang polos terbuka. Tangannya agak bergetar ketika memakaikan baju Melati kembali.


Masih sedikit gemetar, jari-jari tangan Rangga menyeka darah yang merembes ke luar dari sudut bibir Melati. Dia menggeser tubuhnya, dan dibiarkan wanita itu tergolek di tangan lembab dalam goa. Melati tergolek dengan dada bergerak teratur. Baju hitamnya sudah kembali rapih seperti semula membungkus tubuh yang ramping indah.


"Bagaimana?" tanya Sawung Bulu sambil mendekat.


"Masih perlu waktu. Pengaruh iblis terlalu kuat ter-tanam pada aliran darahnya," jawab Rangga sambil memindahkan tubuh Melati kembali ke atas tumpukan daun-daun kering.


Rangga menghenyakkan tubuhnya kembali dan ber-sandar di dinding goa. Matanya tetap memandang pada wanita yang kini tergolek bagai tidur pulas. Kepala Rangga menggeleng-geleng dengan kening agak berkerut.


"Berbahaya sekali...," gumam Rangga pelan.


"Apanya yang berbahaya?" tanya Sawung Bulu sambil mendekat. Dia duduk bersila di depan Pendekar Rajawali Sakti.


"Aku tidak bisa membantunya dengan menyalurkan hawa murni," sahut Rangga pelan


"Lalu...?"


"Satu-satunya jalan hanya Raja Dewa Angkara yang bisa memulihkan."


"Maksudmu, obat pemunahnya hanya pada Raja Dewa Angkara?"


"Ya, hanya dia yang tahu jenisnya. Hanya dia pula yang bisa menyembuhkannya. Aku tidak tahu, apakah berbentuk pil atau cairan. Atau mungkin dan kekuatan bathin."


Sawung Bulu mendesah panjang. Dia sudah bisa paham maksud kata-kata Pendekar Rajawali Sakti tadi. Satu-satunya cara adalah melenyapkan Raja Dewa Angkara. Susahnya, iblis itu mempengaruhi wanita-wanita yang diserahkan untuk korban persembahan melalui kekuatan gaib dan kebathinan. Jika hanya ramuan saja, masih bisa dicari jenis ramuan pemunahnya.


Sedangkan, sepertinya Pendekar Rajawali Sakti sendiri sudah mengetahul penyebab gangguan jiwa pada wanita ini. Hanya saja dia tidak ingin menyebutkannya. Sawung Bulu bisa menangkap rahasia yang tersembunyi dari cahaya mata Pendekar Rajawali Sakti.


********************

__ADS_1


__ADS_2