
"Inilah tempat tinggal kami. Kami namakan Puri Merah," kata Natrasoma.
Rangga memandangi bentuk-bentuk bangunan yang semuanya terbuat dari tumpukan batu. Di tengah-tengah bangunan itu terdapat sebuah puri kecil berwarna merah. Seluruh tempat ini dikelilingi tembok batu yang berbentuk seperti cincin raksasa melingkari puncak Bukit Arang Lawu. Kebanyakan orang yang ada di sini mengenakan jubah merah. Tapi ada juga yang mengenakan pakaian biasa. Rangga dan Kandara Jaya terus melangkah mengikuti Natrasoma menuju puri yang berwarna merah. Natrasoma berhenti di depan puri itu dan berlutut. Satu per satu orang berjubah merah yang ada menghampiri, dan mereka segera berlutut di depan puri merah itu.
Natrasoma kembali berdiri, lalu berbalik menghadap pada Rangga. Badannya membungkuk dengan tangan berada di dada.
"Ijinkan hamba berbicara, Gusti Dewa Agung," kata Natrasoma sopan.
"Silakan," sahut Rangga.
"Terima kasih."
Natrasoma melangkah dua tindak menghampiri Puri Merah lalu naik satu tangga puri itu. Sebentar diedarkan pandangannya ke sekeliling. Di sekitar Puri Merah itu sudah dipenuhi orang berjubah merah. Sedangkan yang mengenakan pakaian biasa berjaga-jaga dengan senjata terhunus.
"Saudara-saudaraku semua. Hari ini Gusti Dewa Agung berkenan mengunjungi kita semua. Saudara-saudara bisa lihat, siapa yang berdiri di tengah-tengah kita!" suara Natrasoma terdengar lantang dan berwibawa.
Suara-suara gumaman terdengar bagai lebah digebah sarangnya. Semua orang yang memakai jubah merah serentak menjatuhkan diri berlutut Rangga benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya dianggap dewa! Dia adalah manusia biasa yang masih doyan makan, dan masih senang hidup di dunia.
"Bagaimana ini?" tanya Rangga pada Kandara Jaya.
"Aku sendiri tidak tahu. Mereka benar-benar menganggapmu dewa," sahut Kandara Jaya berbisik.
"Gila! Aku bukan dewa!" rungut Rangga, tapi pelan.
"Kau lihat Rangga...."
Rangga mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Kandara Jaya. Pendekar Rajawali Sakti itu terkejut bukan main. Tepat pada bagian puncak puri, terdapat patung burung rajawali raksasa yang ditunggangi seorang laki-laki yang....
"Mustahil!" desah Rangga.
Patung itu hampir mirip dengan dirinya. Bentuk wajah, pakaian, dan pedang di punggung. Pendekar Rajawali Sakti semakin tidak mengerti. Sedangkan orang-orang berjubah merah di sekelilingnya mulai mengalunkan lagu-lagu persembahan yang tidak dimengerti sama sekali.
"Natrasoma!" panggil Rangga.
"Hamba, Gusti," sahut Natrasoma seraya menghampiri.
"Aku ingin bicara denganmu," kata Rangga setengah berbisik.
"Silakan Gusti Dewa Agung masuk ke dalam puri. Itulah tempat suci yang kami sediakan bagi dewa yang berkunjung ke sini."
"Terima kasih," ucap Rangga seraya melangkah menuju ke Puri Merah. "Kau ikut Kandara!"
Kandara Jaya segera mengikuti langkah Rangga yang didampingi Natrasoma. Sementara itu orangorang berjubah merah terus berlutut seraya mengalunkan nyanyian persembahan. Sedangkan orang-orang yang tampaknya dari kalangan rimba persilatan, hanya berdiri berkeliling dengan senjata terhunus.
Rangga, Kandara Jaya, dan Natrasoma menaiki anak-anak tangga Puri Merah. Natrasoma berhenti dan membungkukkan badan ketika tiba pada sebuah pintu yang tidak memiliki penutup. Rangga terus melangkah masuk diikuti Kandara Jaya. Natrasoma mengikuti dari belakang.
"Ck ck ck...," Rangga berdecak kagum melihat keadaan dalam puri yang begitu megah bagaikan berada di istana saja.
Kandara Jaya pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia anak seorang raja, tapi belum pernah meliha tata ruang yang begitu indah. Semua barang dan perabotan terbuat dari bahan emas dan perak murni. Lantainya beralaskan permadani tebal nan lembut, dan bercorak indah. Sekeliling dinding hingga atap, penuh dengan ukiran-ukiran yang memiliki nilai seni yang sangat tinggi.
Terus terang saja, Rangga belum pernah memasuki tempat seindah ini. Sepertinya tempat yang diperuntukkan bagi para dewa. Seorang raja besar sekalipun, belum tentu memiliki ruangan seindah dan semewah ini. Rangga duduk di sebuah pembaringan beralaskan kain sutra berwarna merah muda yang halus dan lembut. Natrasoma duduk bersimpuh dekat kakinya. Sedangkan Kandara Jaya mengambil tempat di samping Pendekar Rajawali Sakti itu.
"Aku perhatikan, seperti ada dua kelompok di sini," kata Rangga memulai pembicaraannya.
"Bisa kau jelaskan, Natrasoma?"
__ADS_1
"Benar, Gusti Dewa Agung. Orang-orang yang tidak mengenakan jubah merah adalah mereka yang dibawa Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana. Mereka para prajurit kahyangan yang sedang menyamar jadi manusia, seperti halnya Gusti," jawab Natrasoma dengan sikap hormat.
"Hm..., lalu di mana Dewi Sri Tungga Buana?" i tanya Rangga lagi.
"Yang Mulia biasanya datang pada saat bulan purnama, untuk menghadiri upacara persembahan tumbal seorang gadis perawan."
"Oh..., jadi kau culik gadis-gadis hanya untuk dijadikan tumbal?" celetuk Kandara Jaya.
"Benar, Gusti. Semua itu kami lakukan karena terpaksa. Kami tidak ada pilihan lain. Karena, kalau tumbal tidak diserahkan tepat pada waktunya, maka Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana akan memusnahkan kami semua."
"Dengan para prajurit kahyangannya?"
"Benar, Gusti. Prajurit-prajurit kahyangan itu selalu menjaga tempat kami. Yah..., memang nasib kami selalu buruk. Kami adalah orang-orang yang dibuang dan dikucilkan, karena bangsa kami telah dikutuk Dewa Keadilan. Kami telah memilih tempat yang terpencil, jauh dari jangkauan bangsa lain. Tapi rupanya masih ada juga yang tidak suka, seperti halnya Yang Mulia Dewi Sri Tungga Buana. Beliau memang tidak menyukai orang-orang seperti kami. Katanya, kami ini pembawa malapetaka bagi seluruh umat manusia."
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia menoleh pada Kandara Jaya yang juga tengah memandang kepadanya.
"Baiklah. Kau boleh pergi," kata Rangga.
"Hamba mohon diri, Gusti Dewa Agung," pamit Natrasoma.
"Ya, silakan."
"Tidak mungkin!"
********************
"Aku melihat sendiri, Nini Dewi! Orang yang datang bersama Natrasoma hampir sama dengan patung Dewa Agung mereka!"
"Dewa Agung mereka menunggang seekor rajawali raksasa. Bertahun-tahun telah kupelajari hal itu Aku tidak percaya adanya Dewa Agung!"
Wanita muda yang cantik berpakaian ketat serba merah itu berjalan mondar-mandir. Sedangkan laki-laki tua yang berdiri dekat pintu hanya memandangi saja. Wanita muda itulah yang menamakan dirinya Dewi Sri Tungga Buana. Sedangkan laki-laki tua itu bernama Ki Datapola.
"Bawa tawanan kemarin ke sini!" perintah Dewi Sri Tungga Buana.
"Untuk apa, Nini Dewi? Aku rasa kedatangan dua orang yang dianggap Dewa Agung itu, tidak ada hubungannya dengan tawanan kita," bantah Ki Datapola.
"Kurasa, malah sebaliknya, Ki Datapola. Kejadiannya begitu cepat dan berurutan. Sedangkan menurut laporanmu, para prajurit Kerajaan Mandaraka telah meninggalkan lereng bukit. Nah! Bukan tidak mustahil mereka menggunakan siasat baru, karena tidak mampu mengalahkan kekuatan kita!"
"Baiklah, akan kubawa tawanan itu ke sini."
"Secepatnya, Ki Datapola!"
"Baik, Nini Dewi."
Ki Datapola segera beranjak pergi dari ruangan yang seluruhnya berdinding batu. Pada keempat sudutnya terdapat pelita yang menyala besar menerangi seluruh ruangan yang ditata indah dan apik, dengan sentuhan lembut dan halus. Ruangan ini mirip dengan goa, tapi karena ditata sedemikian rupa sehingga kelihatannya bagai berada dalam kamar putri raja.
Sepeninggal Ki Datapola, Dewi Sri Tungga Buana membantingkan tubuhnya di atas pembaringan beralaskan kain sutra halus berwarna biru muda. Tampak sekali kekesalan tersirat di wajahnya yang putih halus nan cantik itu. Bibirnya yang selalu merah, bergerak-gerak bergetar. Hatinya sangat risau setelah mendengar laporan tentang kedatangan Rangga dan Kandara Jaya yang dianggap Dewa Agung oleh orang-orang Puri Merah.
Dewi Sri Tungga Buana memiringkan tubuhnya. Sebelah tangannya ditekuk untuk menopang kepala. Pada saat itu terdengar ketukan pintu di luar. Wanita itu mendongakkan kepalanya sedikit memandang ke arah pintu.
"Masuk!" serunya sedikit keras.
Pintu yang terbuat dari kayu jari tebal, perlahan-lahan terbuka. Tampak Ki Datapola melangkah masuk diiringi dua orang dengan pedang tergantung di pinggang mengiringi Kitri Boga. Kedua tangan anak muda putra Maha Patih Kerajaan Mandaraka itu terikat rantai besi. Kitri Boga didorong keras sehingga jatuh tersuruk. Dia lalu berlutut di depan pembaringan Dewi Sri Tungga Buana.
"Kalian semua keluar," kata Dewi Sri Tungga Buana tenang.
__ADS_1
Ki Datapola menjentikkan jarinya, kemudian melangkah keluar diiringi dua orang bertubuh tegap yang mengiringi Kitri Boga tadi. Pintu kembali tertutup rapat. Dewi Sri Tungga Buana memandangi Kitri Boga dengan bola mata berputar. Tergetar juga harinya melihat ketampanan pemuda ini. Dewi Sri Tungga Buana beringsut bangun, dan duduk menjuntai di tepi pembaringan.
Matanya terus menatap wajah Kitri Boga yang juga membalas tatapannya. Hati Kitri Boga pun tergetar melihat kecantikan wanita di depannya. Darah mudanya segera menggelegak ketika melihat bukit putih menyembul bagai hendak keluar dari balik belahan baju yang rendah.
"Siapa namamu?" tanya Dewi Sri Tungga Buana Suaranya terdengar lembut menghanyutkan.
"Kitri Boga," jawab pemuda anak Maha Patih Kerajaan Mandaraka itu.
"Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?"
"Aku ditangkap orang-orang Puri Merah."
"Apa yang kau ketahui tentang Puri Merah?"
"Tidak banyak."
"Lalu, mengapa kau berada di Bukit Arang Lawu?"
"Tentunya kau sudah bisa menjawabnya sendiri, bukan?"
Dewi Sri Tungga Buana tersenyum manis. Dia berdiri dan mendekati pemuda itu. Kakinya terayun pelan dan halus mengelilingi Kitri Boga yang tetap saja duduk berlutut dengan kedua tangan dirantai. Dewi Sri Tungga Buana kembali berdiri di depannya. Jari tangan yang lentik halus, menunjuk ke pergelangan tangan yang terbelenggu rantai.
Sinar merah meluncur dari jari tangan yang menunjuk itu. Kitri Boga terkejut, tapi sinar merah itu telah menyambar rantai. Mata anak muda itu membelalak lebar ketika rantai yang membelenggu tangannya terlepas tanpa melukai kulit tangannya.
"Kau masih muda, tampan, dan gagah. Sayang sekali kalau kau harus mati di sini," kata Dewi Sri Tungga Buana tetap lembut suaranya.
"Katakan terus terang, apa maumu?" tanya Kitri Boga.
"Berdirilah."
Kitri Boga bangkit berdiri. Kini mereka saling berhadapan. Dewi Sri Tungga Buana mendekat, lalu kedua tangannya menjulur ke depan. Kitri Boga jadi gelagapan saat Dewi Sri Tungga Buana melingkarkan tangannya di leher pemuda itu. Belum juga bisa berpikir jauh, Dewi Sri Tungga Buana telah menyumpal mulut Kitri Boga dengan bibirnya.
Seketika itu juga detak jantung Kitri Boga menjadi tidak beraturan kerjanya. Seluruh aliran darahnya mengalir cepat. Pagutan Dewi Sri Tungga Buana begitu hangat dan menghanyutkan, membuat Kitri Boga tidak mampu lagi berpikir jernih. Kesadaran pemuda itu mendadak hilang. Dan kini telah berganti dengan sesuatu yang sulit dipercaya.
Kitri Boga membalas pagutan wanita itu dengan tidak kalah hangatnya. Bahkan kini dipeluknya dengan erat wanita yang menghanyutkan itu. Kitri Boga benar benar lupa kalau dirinya adalah tawanan. Padahal, wanita itu musuhnya yang harus ditumpas. Pemuda itu tidak sadar kalau ciuman Dewi Sri Tungga Buana mengandung kekuatan magis yang dapat membuat lupa akan dirinya sendiri.
"Ah, sabar.... Sabar, Anak Bagus...," desah Dewi Sri Tungga Buana seraya melepaskan diri dari pelukan.
Dewi Sri Tungga Buana melangkah mundur, dan menjatuhkan diri di pembaringan. Kitri Boga yang telah terkena ajian ampuh wanita itu langsung memburu dan menubruk Dewi Sri Tungga Buana.
Wanita itu memekik lirih, dan mendesah halus saat merasakan kehangatan ciuman-ciuman Kitri Boga yang memburu. Satu persatu pakaian yang melekat di tubuh mereka melorot ke lantai yang beralaskan permadani indah. Dewi Sri Tungga Buana menggelinjang sambil merintih lirih di bawah himpitan tubuh tegap Kitri Boga. Tak terdengar lagi kata-kata yang terucapkan. Semua berganti dengan desahan dan rintihan yang membangkitkan gairah.
"Oh, ah...!" Dewi Sri Tungga Buana mengerang.
Keringat mulai membanjiri dua tubuh yang menyatu rapat. Tubuh Dewi Sri Tungga Buana menggeliat-geliat mengikuti irama gerakan tubuh Kitri Boga yang berada di atasnya. Pemuda itu benar-benar lupa akan dirinya sendiri. Seluruh syarafnya telah dirasuki nafsu yang begitu cepat datangnya sehingga tanpa terkendalikan lagi.
"Oookh...!" Dewi Sri Tungga Buana mendesah panjang.
Pada saat itu pula tubuh Kitri Boga mengejang dengan mata membeliak lebar. Ketika persendiannya mulai lemas, tubuh Kitri Boga jatuh menggelimpang di samping Dewi Sri Tungga Buana dengan napas memburu kencang. Perlahan-lahan Kitri Boga memejamkan matanya. Dewi Sri Tungga Buana tersenyum penuh kepuasan. Tangannya menarik kain yang teronggok di bawah kakinya.
Kemudian ditutupi tubuhnya dan tubuh Kitri Boga. Dengan sikap manja, wanita cantik bertubuh menggairahkan itu meletakkan kepalanya di dada Kitri Boga yang bersimbah keringat.
"Kau hebat sekali, anak muda," desah Dewi Sri Tungga Buana berbisik.
********************
__ADS_1