
Rangga segera mendekati Pandan Wangi yang sudah berbalik. Sejenak mereka saling pandang, kemudian Pendekar Raj awali Sakti mendesah panjang. Sementara matanya mengamati tiga sosok tubuh yang sudah tak bernyawa lagi.
"Aku yakin, pasti Ki Karangseda yang menginginkan kepalamu, dan yang membayar mereka," kata Pandan Wangi menduga-duga.
"Jangan menuduh sembarangan, Pandan."
"Sudah terbukti, kok! Bahkan dia juga mendesak Jaka Wulung. Apa itu bukan bukti yang nyata?"
"Ada kemungkinan lain, Pandan."
"Apa?"
"Kemungkinannya, Ki Karangseda juga tergiur oleh seribu keping uang emas."
"Tapi, kenapa dia mendesak Jaka Wulung?"
"Itu yang harus kita ketahui."
Pandan Wangi diam. Kemudian hampir bersamaan, mereka menoleh ke arah Desa Kali Anget. Kini mereka tahu, kalau orang-orang rimba persilatan datang ke desa itu, sengaja menunggu Pendekar Rajawali Sakti dan memenggal kepalanya demi memperoleh seribu keping uang emas. Yang jadi masalahnya sekarang, siapa yang menginginkan kepala pendekar itu?
Rangga sendiri baru sekali menginjakkan kakinya di desa ini. Sebab itulah, dia tidak bisa menentukan, siapa dalang semua ini? Tapi sebagai pendekar pilih tanding, Rangga menyadari, tidak sedikit yang menginginkan kematiannya.
Perlahan-lahan Rangga melangkah, sementara Pandan Wangi mengikutinya tanpa banyak bicara lagi. Sejenak gadis itu mengerutkan kening, begitu menyadari kalau Rangga menuju ke Desa Kali Anget.
"Untuk apa kita ke sana lagi?" tanya Pandan Wangi.
"Mencari orang yang memiliki uang sebanyak itu," sahut Rangga santai.
"Huh! Sama saja masuk ke kandang macan!" dengus Pandan Wangi kesal.
"Itu lebih baik, daripada menjadi binatang buruan.
"Disana kan banyak orang mencarimu, Kakang. Dan sudah jelas, bahwa maksud mereka tidak baik. Apa kau ingin menyerahkan kepalamu?" Pandan Wangi makin tidak mengerti jalan pikiran Rangga.
"Tenang saja, tidak semua orang kenal padaku. Memang, mereka bisa saja tahu namaku, tapi kan tidak mengenal orangnya."
"lya, sih...."
"Nah! Kenapa mesti takut?"
"Siapa yang takut?" Pandan Wangi mendelik.
"Dengar, Pandan. Sejak semula aku sudah mengatakan padamu. Terlalu banyak resiko untuk mengikuti langkahku. Sebenarnya aku tidak keberatan kau ikut, tapi kalau kau sayang dengan nyawamu, lebih baik...."
"Kakang!" sentak Pandan Wangi memutus kata-kata Rangga.
Rangga hanya tersenyum melihat Pandan Wangi cemberut. Kemudian dia menghentikan langkahnya tepat dibatas desa. Dia tahu, kalau Pandan Wangi mengkhawatirkan dirinya, dan dia tahu, kalau Pandan Wangi.... Ah! Rangga cepat-cepat membuang segala macam pikiran mengenai gadis itu.
Mereka segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara langkah-langkah kaki mendekat. Tiba-tiba tampak empat orang yang tak lain adalah Suryadenta dan tiga adiknya. Menyadari hal itu, Pandan Wangi segera meraba kipas besinya yang terselip di pinggang. Sementara Rangga hanya berdiri tenang menunggu sampai empat bersaudara itu mendekat.
"Ah, kebetulan sekali bertemu di sini," kata Suryadenta lebih dulu.
"Hm, ada apa?" tanya Rangga bergumam.
"Apakah kalian lihat Jaka Wulung?" tanya Suryadenta.
"Tidak," Pandan Wangi menyahut.
"Sayang sekali," gumam Suryadenta pelan.
"Dia lari dari rumah. Bahkan ayahnya juga menghilang entah kemana," Bayudenta menjelaskan. Dan tanpa diminta, dia segera menceritakan semua kejadian di rumah Kepala Desa Kali Anget.
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dia melirik Pandan Wangi yang berdiri di sampingnya. Gadis itu hanya membalasnya dengan senyum tipis di bibir. Pikirnya, tanpa mendengar cerita dari Bayudenta pun, mereka sudah mengetahui segala yang terjadi.
"Kalau kau benar-benar Pendekar Rajawali Sakti, aku mohon, agar segera meninggalkan desa ini. Karena orang-orang itu tidak akan ke sini, kalau kau juga tidak ada disini," kata Suryadenta setelah adiknya menyelesaikan ceritanya.
"Agar kalian tahu saja, aku datang ke sini cuma singgah sebentar. Lagipula, ketika aku datang, mereka kan sudah ada di sini," kata Rangga membela diri.
"Aku tahu itu," sahut Suryadenta tak menyalahkan.
"Tidak ada asap, kalau tidak ada obor. Dan sumber api itu ada di desa ini. Untuk itu, mungkin kami tidak akan meninggalkan desa ini sebelum mengetahui, siapa yang ada di belakang layar ini," tegas suara Pandan Wangi.
Empat bersaudara itu bisa mengerti kata-kata yang terucap melalui kiasan itu. Memang mereka tidak dapat menyalahkan Rangga dan Pandan Wangi, dan mereka juga tidak bisa mencegah, kalau kedua pendekar itu ingin mencari dalang dari semua kejadian ini. Bahkan katanya, orang itu ada di Desa Kali Anget. Tapi siapa?
"Percayalah, aku akan menghadapi mereka di luar desa ini. Tunggu saja, akan kupancing mereka semua keluar dari desa," janji Rangga.
"Oh, kalau begitu terima kasih," ucap Suryadenta lega.
"Untuk itu, aku juga mohon bantuan kalian," kata Rangga lagi.
"Dengan senang hati, kami selalu siap membantu bila diperlukan," sahut Suryadenta berseri-seri.
"Tolong sebarkan berita, kalau aku ada di batas Utara Desa Kali Anget," kata Rangga tegas.
"Batas Utara...!?" Suryadenta terkejut.
"Bukankah itu merupakan daerah yang berjurang?" Bayudenta tidak mengerti, kenapa Rangga memilih tempat yang berbahaya sekali.
"Lagipula, di sana juga tempat berkumpulnya ular-ular berbisa, dan tak seorang pun yang pernah bisa ke luar dengan selamat kalau sudah memasuki daerah itu," sambung Suryadenta bergidik ngeri.
__ADS_1
"Aku tahu, justru itulah aku memilih tempat itu," kata Rangga tersenyum penuh arti.
"Sebaiknya jangan!" cegah Mayadenta tegas.
"Maaf, keputusanku tidak akan dirubah. Kalau kalian ingin membantu katakan pada mereka, kalau aku ada disana!" tegas Rangga cepat-cepat.
"Ayo Pandan!"
"Hey...!"
Seruan Suryadenta terlambat, karena Rangga dan Pandan Wangi sudah lebih dulu melompat Dan dalam sekejap mata, kedua pendekar itu sudah lenyap dari pandangan. Empat bersaudara itu hanya saling pandang, kemudian mengangkat bahu hampir bersamaan.
"Sebaiknya kita berpisah jadi dua bagian. Untuk sementara, kita turuti saja kemauan pendekar itu," kata Suryadenta membuka suara lebih dulu.
"Caranya?" tanya Tirtadenta.
"Tiupkan kabar burung, tapi jangan sampai ada yang tahu kalau sumbernya dari kita," celetuk Mayadenta. Gadis itu memang lebih cerdas daripada ketiga kakaknya.
"Jelaskan rencanamu, Adik Maya," pinta Bayudenta.
Mayadenta tersenyum manis. Lalu dia segera membeberkan semua rencananya yang sudah terkumpul dikepala. Sementara ketiga kakaknya hanya mengangguk- anggukkan kepala. Karena apa yang menjadi rencana Mayadenta begitu mudah untuk dilaksanakan. Lagi pula tidak mengandung resiko tinggi, tapi hasilnya dapat diandalkan. Suryadenta tersenyum bangga pada adik bungsunya itu.
"Bagaimana?" tanya Mayadenta setelah mengemukakan semua rencananya.
"Setujuuu...!" serempak ketiga kakaknya menyahut.
"Kalau begitu, mari segera kita laksanakan!"
"Mudah-mudahan berhasil," gumam Suryadenta.
"Harus!" sergah Mayadenta begitu optimis.
********************
Sementara itu tidak jauh dari perbatasan Desa Kali Anget sebelah Timur, tampak sebuah pondok kecil yang letaknya sangat terpencil. Pondok itu terlindung oleh pepohonan maupun semak belukar dan dijaga ketat oleh dua orang bersenjata golok di pinggang.
Sejenak dua orang penjaga itu langsung berdiri, ketika dua orang laki-laki tua ke luar dari dalam pondok. Ternyata mereka adalah Ki Karangseda dan Ki Pungkur.
"Kita harus mengetahui, siapa yang menyebarkan berita itu," dengus Ki Karangseda setengah emosi.
"Padahal kabar itu sudah menyebar, Kakang," sahut Ki Pungkur.
"Bringsik! Bisa gagal semua rencanaku!" umpat Ki Karangseda.
"Bagaimana dengan Ki Jatirekso dan anaknya?" tanya Ki Pungkur.
"Tapi, Kakang. Perempuan lblis Pulau Karang...."
"Itu urusan pribadi mereka sendiri! yang penting jabatan Kepala Desa Kali Anget sekarang sudah kosong"
"Tapi kau belum bisa mengangkat dirimu jadi kepala desa, Kakang," kata Ki Pungkur.
"Apa maksudmu?"
"Masih terlalu menyolok, dan malah bisa membuat kecurigaan semua orang. Sementara, kabar bahwa Pendekar Rajawali Sakti menunggu di batas Utara desa, tidak bisa dibendung lagi. Sedang korban makin banyak yang jatuh, karena mereka makin bernafsu dengan hadiah seribu keping uang emas. Coba bayangkan, bagaimana kalau mereka sampai tahu bahwa...."
"Adi Pungkur...!" sentak Ki Karangseda memotong cepat.
Ki Pungkur terdiam seketika.
"Ingat! Tugasmu adalah hanya meyakinkan penduduk, agar mereka mengangkatku jadi kepala desa. D an hanya itu, titik!" tegas suara Ki Karangseda dengan emosi.
Ki Pungkur hanya diam, dan terus saja mengikuti langkah kakaknya. Mereka tidak menyadari, kalau dari tadi langkahnya diawasi sepasang mata bulat yang bening dan indah dari dalam pondok. Sepasang mata itu milik seorang wanita cantik, namun garis-garis ketuaan sudah membayang di wajahnya. Wanita itu mengenakan baju yang ketat, hingga membentuk tubuhnya yang ramping dan masih bisa membuat mata kaum lelaki tak berkedip memandangnya.
"Sanggabawung...," panggil wanita itu lembut.
"Ada apa, Nini?" sahut Sanggabawung yang sejak tadi berdiri di dekat pintu pondok, sambil melangkah menghampiri.
Sejenak Sanggabawung melirik adiknya yang masih tetap berdiri pada tempatnya. Dia bisa paham kalau Sangga Kelana juga melirik padanya. Panggilan lembut dari Perempuan Iblis Pulau Karang sudah dapat diterka maksudnya oleh Sanggabawung maupun Sangga Kelana.
"Selidiki ke Utara, apakah benar Pendekar Rajawali Sakti ada di sana?" perintah perempuan itu.
Sanggabawung menelan ludahnya, membasahi tenggorokan yang mendadak kering. Lalu dia melirik pada Sangga Kelana yang pura-pura tidak mendengar suara itu. Siapa orangnya yang tidak bergidik ngeri, mendengar daerah perbatasan Desa Kali Anget sebelah Utara? Daerah yang dinamakan Kawah Neraka itu sungguh membuat orang pingsan, hanya mendengar namanya.
"A.., apakah tidak ada tugas Iain, Nini?" Sangga bawung mencoba menawar.
"Ada!" sahut perempuan itu ketus. "Tapi syaratnya, penggal dulu sebelah tanganmu!"
Lagi-Iagi Sanggabawung cuma bisa menelan ludahnya yang terasa pahit. Kata-kata lembut yang diucapkan perempuan itu ternyata membuat jantungnya mau copot. Sekali lagi diliriknya Sangga Kelana. Kesal juga dia, karena Sangga Kelana seperti mengejek. Sungguh mati, tadinya dia mengira, bahwa perempuan cantik yang sudah berumur itu mau mengajaknya bermain-main di ranjang.
Padahal, kalau saja Sanggabawung boleh memilih, lebih baik dia dihadapkan pada singa yang lapar, daripada harus ke Kawah Neraka seorang diri.
"Pergilah, aku menunggu kabarmu, besok!" kata perempuan itu lagi.
Kali ini Sanggabawung benar-benar tidak bisa membantah lagi. Semua orang tahu, walaupun kata-kata perempuan itu lembut tapi tidak main-main, Kalau dia sudah bilang penggal kepala, maka harus segera dilaksanakan tanpa ada istilah kompromi lagi. Kini, Sanggabawung merasakan seolah-olah nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Sejenak dia masih ragu dan berdiri saja di muka pintu pondok.
"Sangga Kelana...!" terdengar suara lembut memanggil dari dalam.
Tanpa menunggu panggilan dua kali, Sangga Kelana langsung melompat. Sejenak dia menatap kakaknya sebelum membuka pintu pondok. Terbersit rasa kasihan melihat mata yang redup dan tak bergairah itu.
__ADS_1
"Aku akan menyusulmu nanti, Kakang. Pergilah sampai ke batas desa Utara saja. Dan tunggu aku di sana," kata Sangga Kelana setengah berbisik.
"Terima kasih," hanya itu yang bisa diucapkan Sanggabawung.
"Sangga Kelana...!" terdengar lagi panggilan dari dalam.
Sangga Kelana buru-buru menepuk.pundak kakaknya dan melangkah ke dalam pondok. Sementara Sanggabawung masih berdiri saja di depan pintu yang terbuka sedikit.
"Tutup pintunya, anak bagus," terdengar lagi suara lembut dari dalam pondok.
Setelah pintu pondok tertutup rapat, terdengar suara kunci dari dalam. Sanggabawung menarik nafas dalam-dalam, kemudian kakinya terayun rneninggalkan pondok itu dengan lesu.
Sementara dari dalam pondok terdengar suara mengikik di sela-sela nafas memburu.
********************
Sudah cukup lama Sanggabawung menunggu diperbatasan Utara Desa Kali Anget. Tapi adiknya, Sangga Kelana, belum juga menampakkan diri. Kegelisahan mulai merambat di dadanya. Dia berjalan mondar-mandir seperti anak kecil kehilangan mainannya. Beberapa kali dia menatap kearah Timur, di mana Perempuan Iblis Pulau Karang tinggal.
Kegelisahan segera sirna begitu matanya melihat Sangga Kelana berjalan gontai menghampirinya. Wajah pemuda itu kelihatan cerah, bibirnya sedikit monyong menyiulkan irama Iagu yang tidak jelas.
"Lama sekali, kau!" sergah Sanggabawung dengan kesal begitu adiknya sudah dekat.
"Aku harus menunggu perempuan itu tidur dulu," sahut Sangga Kelana kalem.
"Huh! Hampir saja aku mati karena gelisah menunggumu di sini," rungut Sanggabawung.
"Seharusnya kau sabar sedikit, masa aku tidak boleh mencicipi juga," masih kalem dan sedikit bercanda suara Sangga Kelana.
"Dia sudah tua, Sangga Kelana!" sergah Sangga bawung sok menyadarkan.
"Tapi kan tidak kalah sama yang muda," tangkis Sangga Kelana.
Sanggabawung hanya menggerutu. Dia sendiri mengakui, bahwa yang dikatakan adiknya benar. Bahkan dia sendiri juga pernah bermain dengan perempuan itu di atas ranjang.
"Bagaimana, berangkat sekarang?" tanya Sangga Kelana.
"Tunggu!" sergah Sanggabawung. Telinganya yang tajam mendengar langkah-langkah kaki ringan.
Sangga Kelana juga mendengarnya, maka tanpa dikomando lagi, kakak beradik itu langsung melompat kepohon yang tinggi. Sementara mata mereka menatap kesemak-semak yang bergoyang tak beraturan. Tiba-tiba dari dalam semak itu muncul dua orang, laki-laki bertubuh tegap dan bersenjata rantai baja yang terbelit di pinggang.
Sanggabawung dan Sangga Kelana tahu siapa mereka. Mereka adalah Jaladara dan Jalapati, dan dikenal dengan julukan Dua Rantai Pencabut Nyawa. Mereka termasuk tokoh hitam yang datang ke Desa Kali Anget karena tergiur oleh hadiah itu.
"Kita harus sampai lebih dulu sebelum yang lain, Kakang," kata Jaladara. Suaranya besar dan berat sekali terdengar.
"Tenang saja, Adik Jaladara. Seribu keping uang emas pasti jatuh ke tangan kita," sahut Jalapati terkekeh.
"Terus terang, aku sudah bosan menunggu," rungut Jaladara.
"Hari ini Pendekar Rajawali Sakti harus cuma tinggal nama saja. Dan seribu keping uang emas akan kita peroleh, he he he...!" Lagi-lagi Jalapati terkekeh.
"Aku dengar dia tidak sendirian di sana, Kakang," kata Jaladara.
"Ah, cuma seorang perempuan, Kalau dia cantik, malah bisa untuk selingan, kan?"
"Kau pernah dengar nama si Kipas Maut, Kakang?"
"Pernah, tapi sudah lama dia menghilang, setelah mendapatkan Kitab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni," sahut Jalapati.
"Sekarang dia bersama Pendekar Rajawali Sakti."
Jalapati tersentak kaget. Dia langsung berhenti melangkah, sementara matanya tajam menatap adiknya. Sepengetahuannya, sebelum Kipas Maut menguasai Kilab Naga Sewu dan Pedang Naga Geni, dia sudah bisa membuat nyali lawan jatuh. Apalagi setelah dia menguasai kedua benda tersebut! Sungguh tidak diduga sama sekali kalau si Kipas Maut kini bersama Pendekar Rajawali Sakti.
Kalau berita itu memang benar, sungguh berat yang akan mereka hadapi nanti. Untuk menghadapi Pendekar Rajawali Sakti saja, belum tentu mereka bisa menang. Apalagi harus ditambah si Kipas Maut?
"Aku tak peduli siapa pun yang membantu dia, yang jelas, kita harus bisa memenggal kepala pendekar itu!" dengus Jalapati menggeram.
"Aku malah sangsi, Kakang," ada nada pesimis pada suara Jaladara.
"He! Sejak kapan kau jadi penakut?"
"Sebaiknya kita urungkan saja niat kita, toh kita bisa memperoleh lebih banyak dari hadiah itu. Kita bisa menguras orang-orang kaya di desa ini, lalu kabur!" usul Jaladara.
"Tidak!" sentak Jalapati.
"Terserah Kakang lah," Jaladara mengangkat bahunya, mengalah.
Kemudian dua Rantai Pencabut Nyawa itu melanjutkan langkahnya. Mereka sama sekali tidak menyadari, kalau semua pembicaraannya ada yang mendengarkan dari atas pohon. Tak lama setelah Dua Rantai Pencabut Nyawa itu pergi, Sanggabawung dan Sangga Kelana kernbali turun.
"Mereka menuju ke Kawah Neraka," gumam Sanggabawung.
"Itu berarti Pendekar Rajawali Sakti memang ada di sana, Kakang," kata Sangga Kelana menyahuti.
"Aku tidak percaya sebelum melihat sendiri," sergah Sanggabawung.
"Kau berani ke sana?"
Sanggabawung menatap adiknya tajam. Pertanyaan itu benar-benar merupakan tantangan yang menimbulkan api semangat. Dan rasa penasaran setelah mendengar pembicaraan dua orang tadi, membuat rasa gentarnya hilang. Maka tanpa banyak bicara lagi, mereka segera mengayunkan langkahnya menuju ke Kawah Neraka.
********************
__ADS_1