
Keringat mengucur deras membasahi wajah dan tubuh Pantula. Namun pemuda itu terus saja menggali sebuah makam tanpa mengenal lelah. Sementara matahari bersinar terik, tepat di atas kepala. Tidak sedikit pun Pantula menghiraukan sengatan matahari yang amat terik itu. Dia terus menggali kuburan itu.
"Hey...!"
Pantula seketika berhenti menggali ketika mendengar satu bentakan keras. Dia mengangkat kepalanya yang basah oleh keringat. Tampak Sarman, Pandan Wangi dan Kajar berdiri tidak jauh darinya. Sarman membeliak lebar melihat kuburan yang amat dikenalinya sudah terbongkar hampir setengah.
"Pantula...! Apa yang kau lakukan di kuburan ibuku?" keras suara Sarman menahan amarah.
Pantula langsung melompat naik. Sebentar dia memandang Sarman, sebentar kemudian matanya berpindah menatap lubang kuburan yang sudah tergali cukup dalam. Hampir dia tidak bisa mempercayai pendengarannya. Matanya beralih menatap sebuah batu nisan bertuliskan sebaris nama. Tidak! Dia tidak salah memilih makam ini. Tapi....
"Bidab! Binatang kau, Pantula!" geram Sarman meluapkan amarahnya. "Heh...!"
Pantula tidak bisa lagi berbuat banyak. Sarman sudah melompat cepat dan langsung menyerangnya dengan sengit. Terpaksa pemuda itu berkelit berlompatan menghindari serangan-serangan Sarman yang beruntun dan dahsyat. Namun jelas sekali terlihat kalau Pantula ragu-ragu melayani Sarman yang hanyut terbawa amarah melihat kuburan ibunya diacak-acak.
"Berhenti!" terdengar suara bentakan tiba-tiba.
Sebuah bayangan biru berkelebat cepat ke tengah-tengah pertarungan itu.
Duk, duk...!
Pantula dan Sarman terpental beberapa langkah ke belakang. Tampak Pandan Wangi berdiri di tengah-tengah dengan tangan terentang lebar. Pantula dan Sarman meringis merasakan sesak pada dadanya, kena dupakan tangan pendekar wanita si Kipas Maut itu.
"Minggir, Pandan! Biar kuhabisi binatang kebarat ini!" geram Sarman gusar.
Pandan Wangi tidak mempedulikan peringatan Sarman. Dia berbalik menghadap pada Pantula. Sebentar gadis itu mengamati wajah dan tubuh yang kotor berkeringat kena tanah merah. Pantula juga membalas tatapan itu dengan tajam.
"Kenapa kau merusak pusara itu?" tanya Pandan Wangi.
"Aku hanya ingin membuktikan, apakah itu benar-benar makam atau bukan," sahut Pantula sambil melirik Sarman.
"Kau hanya mencari-cari alasan saja, Pantula. Sudah jelas itu makam ibuku!" sergah Sarman gusar.
Pantula memandang penuh arti dan segudang tanda tanya pada Sarman. Pandangannya kemudian berubah-ubah, dari makam yang sudah terbongkar kepada Sarman secara bergantian. Sepertinya dia ingin meyakinkan kalau itu benar-benar makam ibunya Sarman. Tapi.... Tidak mungkin, dia tidak salah dengar. Ayahnya bilang kalau ini makam ibunya yang telah meninggal ketika melahirkannya dulu.
"Pantula, kau tahu itu makam siapa?" tanya Pandan Wangi.
"Jelas aku tahu!" sahut Pantula.
"Kenapa kau membongkarnya?"
"Aku sudah katakan, kalau hanya ingin membuktikan kalau makam itu benar atau cuma seonggok tanah diberi batu nisan!" tegas jawaban Pantula.
Pandan Wangi jadi bekernyit juga keningnya. Dia sudah menduga ada yang tidak beres di antara Pantula dan Sarman, juga makam ini.
"Pantula, kenapa kau begitu yakin kalau makam ini hanya palsu belaka?" tanya Pandan Wangi berusaha menjadi penengah yang adil.
"Aku tidak percaya kalau ibuku meninggal karena melahirkanku. Ki Japalu yang kukenal selama ini sebagai ayahku mengatakan kalau di makam inilah ibuku beristirahat," sahut Pantula terus terang.
"Dusta!" sentak Sarman berang. "Kau mau coba-coba cari perkara denganku, heh!"
"Tenang, Sarman!" bentak Pandan Wangi kesal melihat sikap Sarman yang sukar mengendalikan diri.
"Huh!" Sarman mendengus kesal.
"Sejak aku lahir, aku memang tidak pernah mengenal wajah ibuku. Dan sejak usiaku lima tahun, Ayah mengirimku ke Padepokan Wulung. Belum berapa lama aku berada kembali di Desa Watu Ampar ini. Terus terang, sebenarnya aku tidak suka dengan sikap dan tindakan Ayah dan Paman Sampar Bayu, dan aku tidak percaya ketika mereka mengatakan ibuku meninggal dan dikuburkan di sini," Pantula menjelaskan panjang lebar.
"Kau belum pernah mengunjungi makam ibumu sejak kecil?" tanya Pandan Wangi semakin yakin adanya ketidakberesan.
"Tidak, dan aku memang tidak pernah menanyakan kenapa Ibu meninggal dan di mana makamnya? Ayah selalu mengelak kalau aku membicarakan tentang Ibu," Pantula mengakui.
"Jangan percaya kata-katanya, Pandan! Dia itu ular," sergah Sarman.
Pandan Wangi menatap Sarman tajam. Agak dongkol juga gadis itu dengan sikap Sarman yang cepat marah. Sangat jauh berbeda dengan watak ayahnya yang arif bijaksana dan sabar dalam menghadapi sesuatu perkara.
"Aku sudah berumur sekitar tiga belas tahun ketika Ibu dikuburkan di sini, jelas sekali aku melihat," sambung Sarman.
"Kau tidak melihat jenazah ibumu, kan?" selidik Pandan Wangi.
"Dari mana kau tahu...?" Sarman terkejut.
"Ayahmu sendiri," sahut Pandan Wangi. "Hampir semua penduduk Desa Watu Ampar juga tidak pernah tahu tentang meninggalnya ibumu. Kematian ibumu merupakan misteri yang tidak terpecahkan sampai sekarang. "
Sarman langsung bungkam. Kata-kata Pandan Wangi memang ada benarnya. Dia sendiri tidak tahu, bagaimana ibunya meninggal, dan dia juga tidak melihat jenazah ibunya lagi. Yang dia tahu, banyak orang mengantarkan sampai ke kuburan ini, dan sebentuk tubuh terbungkus kain putih dimasukkan ke dalam lubang, lalu ditimbuni dengan tanah. Hanya itu yang diketahui Sarman. Ayahnya tidak pernah berkata banyak tentang kematian ibunya.
Sejak itu Ki Dandung mengundurkan diri jadi Kepala Desa Watu Ampar, dan kedudukannya langsung digantikan oleh Ki Japalu yang mengangkat dirinya sendiri jadi kepala desa dengan persetujuan Ki Dandung. Dan sejak itu pula kehidupan di Desa Watu Ampar berubah drastis. Kesengsaraan dan malapetaka silih berganti tanpa henti. Lebih-lebih setelah kemunculan seorang tokoh tua sakti yang amat ditakuti membantu Ki Japalu dalam mengendalikan Desa Watu Ampar ini. Tokoh tua itulah Ki Sampar Bayu.
"Nah, Sarman. Apakah kau ingin tahu, yang dikubur di sini ibumu atau bukan?" Pandan Wangi menawarkan pilihan.
Sarman tidak segera menjawab. Kelihatan dari raut wajahnya kalau dia ragu-ragu untuk menentukan pilihan itu. Bola matanya berputar antara Pandan Wangi, Pantula dan kuburan yang sudah berlubang besar cukup dalam. Tinggal sedikit lagi, pasti sudah bisa kelihatan isi makam ini.
"Baik, kau boleh meneruskan pekerjaan, Pantula. Tapi kalau ternyata yang dikuburkan benar ibuku, kau harus mati di tanganku!" kata Sarman mengancam.
Tanpa membuang waktu lagi, Pantula segera melompat masuk ke dalam lubang kuburan itu. Dia langsung saja menggali kuburan yang sudah sedikit lagi bisa terlihat isinya. Sementara Sarman menyaksikan dengan mata kosong dan dada bergemuruh.
Pantula menengok ke atas ketika paculnya membentur dinding kayu. Pandan Wangi menatap Sarman yang menengadahkan kepalanya ke atas. Perlahan-lahan Pantula mulai membuka papan-papan yang menutupi dasar kuburan ini. Satu persatu dia mengangkat papan itu. Tampak sebentuk tubuh terbungkus kain putih kotor tergolek di dasar makam.
__ADS_1
Suara desah dan pekikan terdengar ketika Pantula membuka kain yang menyelubungi bentuk tubuh itu. Sarman langsung memejamkan matanya dengan kepala tengadah ke atas. Sementara Pantula kembali melompat naik ke atas. Perlahan-lahan tubuh Sarman ambruk berlutut di pinggir kuburan yang berlubang itu.
"Oh..., tidaaak...!" rintih Sarman sambil memukul-mukul tanah merah bekas galian itu.
Pandan Wangi menarik napas panjang. Dia menatap Sarman dan Pantula bergantian. Kedua pemuda itu hanya menunduk saja dengan raut wajah sukar dilukiskan. Betapa tidak...? Bentuk tubuh yang terbungkus kain kafan itu ternyata hanya seonggok gedebok pisang. Tidak ada mayat di sana....
"Tidak, oh...! Ibu..." rintih Sarman seperti bocah ditinggalkan pergi ibunya.
Tak ada lagi yang bisa mengeluarkan suara. Sementara Pandan Wangi mengayunkan langkahnya mendekati Kajar yang hanya berdiri saja agak jauh di bawah pohon kamboja. Sementara dua pemuda tetap berlutut di pinggir kuburan itu. Suasana haru meliputi sekitar kuburan itu. Pada saat itu terdengar derap langkah kuda dari kejauhan.
"Kak! Itu dia yang meminjam kuda kita!" seru Kajar keras sambil menunjuk ke arah penunggang kuda hitam yang bergerak cepat melintas menuju ke arah Barat.
"Rangga...," desis Pandan Wangi begitu mengenali penunggang kuda hitam itu.
Secepat kilat Pandan Wangi melenting mengejar penunggang kuda hitam yang diyakininya adalah Rangga. "Kakang...!"
Sarman dan Pantula yang sedang dirundung kegalauan, terkejut melihat kejadian yang begitu cepat. Mereka langsung menoleh ke arah Pandan Wangi yang berlari cepat mengejar kuda hitam itu. Sementara Kajar berteriak-teriak memanggil sambil berlari.
Pandan Wangi mengerahkan ilmu lari cepat sekuat-kuatnya. Tapi bagaimanapun juga, kuda hitam yang dikendarai Pendekar Rajawali Sakti itu lebih cepat lagi. Kuda hitam itu berpacu bagaikan terbang saja layaknya, sulit untuk dikejar meskipun menggunakan ilmu lari cepat.
Pandan Wangi menghentikan larinya. Napasnya tersengal-sengal memandangi punggung penunggang kuda hitam yang semakin jauh meninggalkannya. Sekejap kemudian, bayangan kuda hitam itu sudah tidak kelihatan lagi. Lenyap ditelan lebatnya Hutan Ganda Mayit.
"Kak...! Kak Pandan...!" teriak Kajar memanggil dengan suara serak.
Pandan Wangi menoleh, tampak Kajar digendong Sarman yang berlari cepat. dibuntuti oleh Pantula. Sebentar saja mereka sudah di samping Pandan Wangi. Mereka semua sama-sama memandang ke arah Hutan Ganda Mayit sebelah Barat.
"Dia yang memberitahu aku kalau aku bukan anak Ki Japalu," kata Pantula bergumam.
Sarman memandang pada Pantula yang berdiri di sampingnya. Pandan Wangi tidak mempedulikan, dia tetap memandang ke arah Hutan Ganda Mayit sebelah Barat. Pikirannya masih dipenuhi dengan kemunculan Rangga. Kerinduannya pada pendekar muda itu sudah tidak dapat tertahan lagi.
"Ki Japalu tetap mengakuiku sebagai anaknya, meskipun aku terus bertahan minta dia berterus-terang," sambung Pantula.
"Dan dia menunjukkan kuburan itu sebagai kuburan ibumu?" tebak Sarman.
"Ya, dan aku tidak mau percaya begitu saja. Aku harus membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri."
"Perbuatan konyol! Kalau memang kuburan itu ada isinya, bagaimana?" dengus Sarman. Wajah Sarman langsung berubah begitu teringat kembali dengan kuburan yang berisi gedebok pisang itu. Sepuluh tahun lebih dia selalu percaya kalau ibunya sudah meninggal, dan itu adalah pusaranya. Tapi sekarang....
"Aku harus tanyakan ini pada Ayah! Harus...!" seru Sarman agak tertahan.
Sarman langsung melompat meninggalkan tempat itu, kembali menuju ke Desa Watu Ampar. Sementara Pandan Wangi masih tetap berdiri terpaku tidak peduli. Gadis itu baru tersadar saat tangannya ditarik Kajar.
"Oh...!"
"Mereka...? Mereka siapa?" tanya Pandan Wangi seperti bermimpi.
"Kakang Sarman dan Kakang Pantula."
"Ah...!"
Pandan Wangi baru tersadar penuh dengan apa yang baru terjadi. Tapi kebimbangan kembali melanda dirinya. Sesaat gadis itu menimbang-nimbang, lalu dengan cepat dia menarik tangan Kajar, dan membawanya kembali ke Desa Watu Ampar.
********************
"Ayah...!" seru Sarman begitu menerobos masuk ke dalam rumahnya di belakang kedai.
Ki Dandung yang sedang menyiapkan minuman untuk tamu di kedainya menoleh. Dia terkejut melihat Sarman dan Pantula datang bersama-sama. Di belakang mereka juga ada Pandan Wangi dan Kajar. Pandan Wangi menyuruh Kajar menggantikan tugas Ki Dandung, kemudian dia membawa laki-laki tua pemilik kedai itu duduk di kursi. Sarman dan Pantula berdiri saja membelakangi pintu.
"Aku sudah tahu apa yang akan kalian tuntut dariku. Memang semua ini harus terjadi, dan aku sudah lama memperkirakannya," kata Ki Dandung pelan.
"Di mana Ibu?" tanya Sarman langsung.
"Pantula, di mana ayahmu?" Ki Dandung tidak mempedulikan pertanyaan anaknya.
Pantula hanya menggeleng saja. Dia memang tidak tahu di mana ayahnya berada sekarang. Yang pasti tidak ada di rumahnya, karena Ki Japalu langsung pergi setelah menceritakan perihal ibunya. Dan cerita Ki Japalu juga masih membingungkan Pantula sampai sekarang, lebih-lebih setelah mengetahui kalau kuburan itu ternyata hanya berisi gedebok pisang.
"Sebaiknya kalian segera ke Gunung Kanjaran," kata Ki Dandung.
"Mau apa ke sana?" tanya Pantula tidak mengerti.
"Ibu kalian ada di sana." Sarman dan Pantula terlonjak kaget. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Tidakkah mereka salah dengar? Sementara Pandan Wangi memandangi wajah kedua pemuda tampan itu. Baru dia menyadari kalau wajah mereka memang mirip sekali.
"Aku..., aku tidak mengerti maksudmu, Ki?" kata Pantula tergagap.
"Ayah...," suara Sarman tersekat di tenggorokkan.
"Kalian sebenarnya saudara satu ibu...," kata Ki Dandung terputus.
Sesaat keheningan melanda ruangan itu. Semua menunggu dengan tidak sabar lanjutan kata-kata Ki Dandung. Sementara laki-laki tua itu seakan berat untuk mengeluarkan kata-katanya. Sepasang bola matanya berkaca-kaca.
"Ketika aku masih muda...," Ki Dandung memulai ceritanya. "Aku tinggal di sebuah padepokan. Salah satu saudara seperguruanku adalah Japalu. Diantara kami sering terjadi percekcokan, dan itu terus berlanjut semakin menegang saat kami sama-sama mencintai seorang wanita putri tunggal guru kami...."
"Teruskan, Ayah," pinta Sarman tidak sabar.
"Guru kami mengetahui hal itu, dan membuat keputusan yang sangat berat, tapi sangat disukai Japalu. Kami diharuskan bertanding, siapa yang menang, bisa mendapatkan putrinya dan tetap tinggal di padepokan. Sedangkan yang kalah harus segera meninggalkan padepokan," lanjut Ki Dandung.
__ADS_1
"Terus?"
"Aku terpaksa melayani Japalu dengan hati tertekan. Tapi rupanya dia bersungguh-sungguh, bahkan beberapa kali hampir membunuhku. Guru mengetahui hal itu dan memerintahkan aku untuk bersungguh-sungguh bertarung. Aku terpaksa menurut ketika perutku koyak oleh serangan curang Japalu. Aku tidak tahu lagi, bagaimana bisa mengalahkan Japalu yang pada saat itu tingkat kepandaiannya setaraf denganku."
Sebentar Ki Dandung berhenti mengambil napas. Dia meminum secangkir arak yang diambilkan Pandan Wangi.
"Rupanya dendam terus terbawa di hati Japalu. Dan itu dia laksanakan setelah berhasil menemukan adik kandungnya, Ki Sampar Bayu yang sudah pengalaman malang melintang dalam ganasnya rimba persilatan. Saat itu aku sudah menjadi Kepala Desa Watu Ampar ini atas permintaan seluruh penduduk, karena aku berhasil membinasakan pembunuh kepala desa yang lama dan membebaskan penduduk dari penderitaan gerombolan liar...," kembali Ki Dandung menghentikan ceritanya.
"Cukup, Ki. Jangan teruskan," cegah Pantula.
Sarman menatap Pantula tajam. "Aku bisa menebak kelanjutannya, Ki. Hanya satu pertanyaanku, siapa ayahku sebenarnya?" Pantula tidak mempedulikan tatapan tajam dari Sarman.
"Ki Japalu," sahut Ki Dandung.
"Tidak...," desis Pantula tidak percaya.
"Aku terpaksa menutupi aib dengan mengatakan istriku meninggal terjatuh di pancuran. Padahal sesungguhnya dia diculik Japalu dan disembunyikan di Gunung Kanjaran," kata Ki Dandung.
"Ayah tahu semua itu, kenapa diam saja?" Sarman menyesalkan.
"Aku sangat mencintai ibumu, Sarman. Apalagi aku tahunya setelah Japalu menodainya, dan dia tidak mau lagi menemuiku. Perbuatan Japalu yang menodainya hingga hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, membuatnya merasa tertekan dan malu untuk bertemu siapa saja. Ibumu wanita yang suci, anakku. Itulah sebabnya aku tidak ingin namanya tercemar buruk dan membuat makam palsu dengan nama ibumu agar semua penduduk desa tidak tahu persoalan yang sebenarnya."
"Jahanam Japalu...!" geram Sarman.
"Sarman...!" seru Ki Dandung ketika tiba-tiba Sarman berbalik dan berlari cepat ke luar.
Sementara Pantula tidak bisa berbuat apa-apa. Batinnya amat tersiksa dengan semua yang telah terjadi pada dirinya dan orang tuanya. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukan. Ada kebencian di hatinya dengan kelakuan ayahnya, tapi dia juga sangat mencintai orang tua itu yang telah merawat dan mendidiknya, meskipun sejak kecil dia tinggal di sebuah padepokan. Pantula bisa mengerti maksudnya, tentu agar dia jadi seorang pemuda yang tangguh dan berilmu tinggi.
"Kau harus cegah saudaramu, Pantula. Bagaimanapun juga dia ayahmu, dan Sarman tidak boleh membunuhnya!" kata Ki Dandung.
Pantula ragu-ragu sebentar, kemudian dia berbalik dan melangkah ke luar. Sementara Pandan Wangi masih terpaku berdiri tidak jauh di samping Ki Dandung. Gadis itu juga jadi bingung. Memang menurutnya, kesalahan ada di pihak Ki Japalu, tapi urusannya sangat pribadi, rasanya sungkan kalau dia sampai ikut campur di dalam urusan ini.
"Kenapa kau tidak ikut mereka?" tanya Ki Dandung melihat Pandan Wangi masih berada di sini.
"Untuk apa? Aku orang luar yang tidak berhak ikut campur masalah keluarga ini," sahut Pandan Wangi.
"Bukankah kau mencari kekasihmu?"
Pandan Wangi menatap lurus pada Ki Dandung. Dia memang sudah menceritakan semua yang dialaminya dan tujuannya untuk mencari Pendekar Rajawali Sakti, tapi tidak pernah mengakui kalau Rangga itu adalah kekasihnya.
"Aku bisa merasakan nada suaramu, dan sinar matamu yang penuh kerinduan. Pergilah bersama mereka, aku yakin Pendekar Rajawali Sakti ada di Gunung Kanjaran. Dia sudah berjanji akan membawa kembali istriku ke sini, meskipun aku tidak pernah mengharapkannya kembali lagi," kata Ki Dandung lagi.
"Jadi, selama ini ini ada di sini?" tanya Pandan Wangi ingin memastikan.
"Benar, tapi dia datang dan pergi bagai angin. Hanya sesekali saja menemuiku dengan singkat. Dia banyak tahu tentang masalah ini, dan ingin menyadarkan Ki Japalu kalau bisa."
"Kenapa Ki Dandung tidak mengatakan padaku?"
"Baru tadi aku tahu namanya."
"Tadi...?"
"Ya."
Pandan Wangi tertegun sesaat. Jadi yang dilihatnya di kuburan itu memang benar Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, kenapa dia menuju ke arah Barat Hutan Ganda Mayit? Apakah.... Pandan Wangi tersentak. Dari sebelah Barat Hutan Ganda Mayit memang bisa lebih cepat mencapai Gunung Kanjaran. Jalannya memang sulit, tapi tidak terlalu sulit bagi seorang pendekar seperti Rangga.
"Aku pergi dulu, Ki. Titip Kajar," kata Pandan Wangi. "Ya. Mudah-mudahan kalian bisa berkumpul kembali."
"Terima kasih, Ki."
"Jangan khawatir tentang Kajar. Dia pasti akan senang berada di sini."
Pandan Wangi tersenyum dan bergegas meninggalkan laki-laki tua bekas kepala desa pemilik kedai itu. Pandan Wangi sengaja memilih jalan belakang agar tidak kelihatan oleh Kajar yang berada di kedai depan rumah ini. Sementara Ki Dandung masih duduk di kursinya dengan wajah murung dan gelisah.
Mata tua itu menatap lurus pada sebilah pedang yang tergantung di dinding. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan melangkah menghampiri pedang itu. Tangannya terulur meraih pedang bersarung hitam dengan tangkai terbuat dari lapisan emas berbentuk bunga melati di ujungnya.
"Ki Sampar Bayu..., tidak ada yang bisa mengalahkan dia tanpa pedang emas ini," gumam Ki Dandung.
Ki Dandung memasang pedang itu di pinggangnya. Sebentar dia berdiri mematung memandang ke luar. Setelah memantapkan hati, kemudian kakinya terayun tegap ke luar dari ruangan itu. Ki Dandung berhenti melangkah ketika Kajar muncul. Bocah laki-laki itu memandangi dengan mata keheranan. Belum pernah dia melihat Ki Dandung menyandang pedang di pinggang.
"Kajar, tolong jaga kedaiku. Layani setiap tamu yang datang dengan baik," kata Ki Dandung.
"Aki mau ke mana?" tanya Kajar polos.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan. Sudah, aku pergi dulu."
Ki Dandung bergegas melangkah ke samping rumah. Sebentar kemudian dia sudah kembali menuntun seekor kuda. Kajar masih berdiri memandangi dengan kepala dipenuhi tanda tanya.
"Ki...!"
Namun Ki Dandung tidak lagi mendengarkan. Dia segera naik ke punggung kudanya, dan dengan cepat menggebah kuda itu agar berlari cepat. Debu mengepul tersapu derap langkah kaki kuda yang dipacu cepat. Kajar masih berdiri memandangi kepergian laki-laki tua itu.
"Ada apa sih...?" desahnya polos.
********************
__ADS_1