Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Rahasia Puri Merah Eps. 12 Bag. 1


__ADS_3

MALAM belum lagi beranjak larut. Angin berhembus kencang menyebarkan titik-titik embun, diiringi kabut tebal yang menyelimuti seluruh Bukit Arang Lawu. Sang dewi malam mengintip dari balik awan hitam pekat. Sinarnya begitu redup, seakan-akan tak kuasa menerangi mayapada ini.


Beberapa kali kilat menyambar, membelah angkasa, memekakkan telinga dan menyilaukan mata. Malam ini alam di sekitar Bukit Arang Lawu seakan-akan murka. Namun keadaan alam yang tak ramah, tidak membuat puluhan orang yang berada di lereng bukit itu menghentikan aksinya. Dua kelompok manusia sedang bertarung mempertaruhkan nyawa.


"Hajar, bunuh, seraaang...!"


Teriakan-teriakan keras membangkitkan semangat menggema memecah keheningan malam, berbaur menjadi satu dengan denting senjata beradu diselingi jeritan-jeritan melengking. Dan semuanya itu diiringi pula oleh tubuh-tubuh yang bergelimpangan bersimbah darah. Titik-titik air hujan pun mulai berjatuhan menambah suramnya suasana malam ini.


Keadaan di sekitar lereng Bukit Arang Lawu menjadi porak-poranda bagaikan diamuk ratusan raksasa. Pohon-pohon besar kecil bertumbangan. Batu-batuan hancur berantakan. Belum lagi mayat-mayat manusia dan kuda saling tumpang tindih tak tentu arah. Bau anyir darah menyebar menusuk hidung. Tapi keadaan itu tidak mengendorkan semangat dua kelompok yang sedang bertarung. Mereka tidak lagi menghiraukan hujan yang semakin deras tumpah dari langit.


"Mundur...!" tiba-tiba satu teriakan keras terdengar menggelegar.


Tampak satu kelompok yang mengenakan seragam bagai prajurit kerajaan bergerak mundur sambil terus bertahan. Sedangkan satu kelompok lagi yang kebanyakan mengenakan pakaian longgar warna merah, terus menyerang.


"Mundur.... Mundur...!"


Kelompok yang mengenakan pakaian seragam prajurit segera berlarian mundur menyelamatkan diri. Sementara hujan semakin deras datangnya, diikuti gelegar suara petir yang menyambar.


"Cukup!" sebuah suara keras tiba-tiba membentak.


Tampak salah seorang yang mengenakan jubah merah longgar, mengangkat tangan tinggi-tinggi ke atas. Tongkat berlekuk bagai ular tergenggam di tangan kanannya. Wajah orang itu tidak terlihat, karena terhalang jubah merah yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya.


"Ayo, kembali!" perintahnya.


Orang-orang yang sebagian berjubah merah dan sebagian lagi berpakaian biasa seperti layaknya orang persilatan, melangkah tergesa-gesa meninggalkan lereng Bukit Arang Lawu ini. Mereka menuju ke puncak bukit yang gelap terselimut kabut tebal menghitam.


Sementara itu kelompok lainnya yang semuanya mengenakan seragam bagai prajurit, menuruni lereng bukit. Mereka baru berhenti setelah tiba di suatu dataran yang cukup luas. Pada dataran itu, berdiri beberapa tenda berwarna putih. Satu tenda yang paling besar berdiri di antara tenda-tenda lain yang mengelilinginya.


Orang-orang yang selamat dari pertempuran itu segera masuk ke dalam tenda, berlindung dari curahan hujan yang semakin lebat. Tampak dua orang laki-laki gagah memasuki tenda yang paling besar. Di dalam tenda itu rupanya telah menunggu seorang laki-laki muda mengenakan pakaian indah dengan manik-manik dari emas dan perak murni.


Laki-laki muda itu berkulit kuning langsat. Wajahnya bersih dan tampan bagai tak berdosa. Sinar matanya bening dan lembut, namun memancarkan cahaya kewibawaan seorang pemimpin. Dua orang laki-laki bertubuh tegap yang basah kuyup itu, segera duduk bersila setelah memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak tangannya ke depan hidung.


"Hamba menghadap, Gusti Pangeran Kandara Jaya," ucap salah seorang seraya menyembah.


"Aku sudah tahu, Paman Lawawi Girang. Memang tidak mudah memerangi orang-orang yang sudah dirasuki iblis," pelan dan berwibawa suara Pangeran Kandara Jaya.


"Maafkan hamba, Gusti Pangeran," ujar Lawawi Girang.


"Sudahlah, masih ada waktu untuk memulai kembali. Hm..., ya. Bagaimana denganmu, Paman Karpatala? Berapa orang prajuritmu yang gugur?"


"Kepastiannya belum hamba peroleh, Gusti. Tapi hamba perkirakan sekitar lima belas orang. Sedangkan, prajurit yang dipimpin Adi Barong Geti seluruhnya tewas. Adi Barong Geti sendiri terluka parah. Hanya itu yang dapat hamba laporkan sekarang, Gusti Pangeran," kata Karpatala seraya menghaturkan sembah.


"Ahhh...," Pangeran Kandara Jaya mendesah panjang. Pandangannya kosong lurus ke depan.


Sudah tiga malam mereka berada di lereng Bukit Arang Lawu ini. Untuk malam pertama penyerangan ini, mereka menderita kekalahan cukup besar. Hampir lima puluh prajurit tewas. Belum lagi yang terluka parah maupun ringan, sedang sisanya kini dalam keadaan letih. Pangeran Kandara Jaya menarik napas beberapa kali.


Tugas yang diembannya kali ini memang cukup berat Tapi semuanya diterima dengan hati lapang. Dia tahu kalau yang akan dihadapi kali ini bukanlah orang-orang atau prajurit biasa kerajaan lain. Tapi orang-orang yang memiliki kesaktian cukup tinggi. Dan lagi rata-rata mereka mempunyai ilmu olah kanuragan yang tidak rendah. Untuk itulah Pangeran Kandara Jaya perlu membawa dua punggawa yang memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi pula.


"Sebaiknya Paman berdua istirahat. Aku akan meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa," kata Pangeran Kandara Jaya penuh wibawa.


"Hamba mohon diri, Gusti," kata Lawawi Girang seraya beringsut mundur.


"Hm, silakan," Pangeran Kandara Jaya mengangkat tangannya ke depan.


Dua orang punggawa itu keluar dari tenda besar yang ditempati oleh Pangeran Kandara Jaya. Pangeran yang baru berusia dua puluh lima tahun itu tetap duduk bersila di tempatnya, dengan telapak tangan berada di lutut. Kedua matanya terpejam.


Pangeran Kandara Jaya mencoba untuk berhubungan dengan Sang Pencipta, untuk minta petunjuk agar tugas yang berat ini dapat terlaksana seperti yang dikehendaki oleh Ayahanda Prabu Balaraga. Memang, beberapa tugas yang diberikan ayahandanya bisa dijalankan dengan baik dan memuaskan. Tapi tugas yang satu ini.... Pangeran Kandara Jaya merasakan akan mendapat rintangan yang sulit.


Dari beberapa mata-mata yang disebar, dilaporkan kalau gerombolan Puri Merah adalah kelompok manusia iblis yang selalu membuat kacau wilayah Kerajaan Mandaraka. Cara kerja mereka benar-benar bagaikan iblis saja. Datang dan pergi bagai bayangan, tapi selalu meninggalkan kerusuhan dan bencana bagi rakyat.


Kegiatan gerombolan iblis ini sampai menjadi bahan pembicaraan di kalangan istana. Prabu Balaraga pun memerintahkan untuk menumpas gerombolan yang meresahkan rakyat itu.


Itulah sebabnya mengapa Pangeran Kandara Jaya berada di lereng Bukit Arang Lawu ini. Memang menurut telik sandi yang disebar ke pelosok negeri' Gerombolan Puri Merah bersarang di puncak Bukit Arang Lawu.


********************


Pagi-pagi sekali Pangeran Kandara Jaya sudah keluar dari tenda. Dia berjalan pelan-pelan mengelilingi tenda-tenda yang memenuhi sekitar lereng Bukit Arang Lawu. Sisa-sisa air hujan semalam masih menggenang di beberapa tempat Rerumputan di sekitarnya juga belum kering. Kabut masih cukup tebal menyelimuti sekitarnya. Menghalangi sinar matahari yang mengintip dari balik bukit.


Dua orang prajurit bertombak mendampingi sejak pangeran muda itu keluar dari tenda. Pangeran Kandara Jaya berhenti melangkah ketika melihat seorang laki-laki berdiri tegak memandang ke arah puncak bukit yang terselimut kabut tebal.


Di pinggangnya tergantung sebilah pedang dengan gagang dihiasi lima butir batu merah, "Paman Lawawi Girang...," panggil Pangeran Kandara Jaya.


"Oh!" laki-laki yang ternyata memang Lawawi Girang, cepat berbalik dan merapatkan tangannya di depan dada.


"Apa yang kau kerjalan di sini, Paman?" tanya Pangeran Kandara Jaya seraya melangkah mendekati. Dia kembali berhenti setelah jaraknya tinggal tiga sepuluh langkah lagi di depan Lawawi Girang.


"Hamba sedang memikirkan cara untuk mencapai puncak bukit itu, Gusti," sahut Lawawi Girang.

__ADS_1


"Sudah kau temukan cara itu?"


"Belum."


"Yaaah, memang sulit mencapai tempat itu," desah Pangeran Kandara Jaya perlahan.


"Tapi hamba berniat akan pergi sendiri ke sana."


"Ah! Terlalu berbahaya, Paman Lawawi Girang. Dengan seratus prajurit pun kita belum mampu mencapai ke puncak! Apalagi hanya kau seorang diri? Tidak, Paman! Jangan tempuh bahaya itu sendiri!"


"Menurut hamba, hanya itu cara satu-satunya yang terbaik. Hamba akan menyelinap untuk menyelidiki kekuatan mereka. Hanya itu, Gusti. Memang tidak mungkin hamba sendirian yang akan membereskan mereka. Tapi kita tidak akan mampu menyelesaikan tugas ini, sementara kita masih buta akan kekuatan mereka," Lawawi Girang mengemukakan alasannya.


"Tapi kau jangan pergi sendirian, Paman," Pangeran Kandara Jaya bisa menerima alasan yang dikemu-kakan punggawanya ini.


"Kalau Gusti Pangeran tidak keberatan, hamba akan mengajak Gusti Adi Kitri Boga."


Pangeran Kandara Jaya tidak segera menjawab. Permintaan Lawawi Girang membuatnya berpikir dua kali. Kitri Boga adalah punggawa muda yang belum berpengalaman dalam pertempuran. Di samping itu, Kitri Boga adalah juga putra kedua Maha Patih Sangga Buana. Rasanya berat untuk mengijinkan Kitri Boga menempuh perjalanan maut itu.


Memang Kitri Boga sudah mendapat restu ayahnya untuk ikut serta dalam tugas berbahaya ini. Tapi Pangeran Kandara Jaya masih meragukan kemampuan pemuda yang baru berusia dua puluh tahun itu. Lagi pula, keselamatan Kitri Boga di tangannya Sedangkan dia sudah berjanji pada Maha Patih Sangga Buana untuk menjaga keselamatan putranya itu.


"Hamba tahu, Gusti tidak akan mengijinkan Gusti Adi Kitri Boga. Tapi hamba yakin kalau putra Maha Patih Sangga Buana itu punya kemampuan yang patut diperhitungkan," kata Lawawi Girang pelan suaranya.


"Paman Patih Sangga Buana memang seorang yang digdaya dan berilmu tinggi. Tapi itu bukan berarti putranya juga seperti ayahnya, Paman. Dia belum pernah memasuki medan pertempuran. Dan sebenarnya pula, aku berat menerimanya dalam tugas ini," sergah Pangeran Kandara Jaya.


"Hamba mengerti, Gusti."


"Apakah tidak ada orang lain yang bisa mendampingimu?" Pangeran Kandara Jaya memberikan pilihan lain.


"Rasanya tidak, Gusti," sahut Lawawi Girang setelah berpikir agak lama.


Pangeran Kandara Jaya terdiam beberapa saat. Hatinya masih terasa berat untuk mengijinkan Kitri Boga ikut serta bersama Lawawi Girang menerobos puncak Bukit Arang Lawu. Sebentar pangeran muda itu memandang puncak bukit yang berselimut kabut, lalu mendesah panjang dan berat. Pandangannya beralih kembali pada Lawawi Girang yang masih menunggu keputusan junjungannya ini.


"Perlu kau ketahui, Paman Lawawi Girang. Aku sudah berjanji pada Paman Maha Patih Sangga Buana untuk menjaga keselamatan Kitri Boga. Itulah sebabnya aku juga tidak mengijinkan ia ikut bertempur semalam. Tapi dia kuberikan tugas lain yang tidak mengundang bahaya besar," kata Pangeran Kandara Jaya pelan namun terdengar tegas penuh kewibawaan.


Lawawi Girang menundukkan kepala. Kelihatannya tengah berpikir keras, tapi entah apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Namun dari sorot matanya, masih mengharap agar junjungannya ini memberi ijin Kitri Boga untuk ikut serta ke puncak Bukit Arang Lawu.


"Aku akan mengijinkan Kitri Boga ikut bersamamu, asal kau berjanji menjaga keselamatan dengan nyawamu," lanjut Pangeran Kandara Jaya tegas.


"Hamba bersumpah, Gusti," sahut Lawawi Girang berseri-seri.


"Baiklah. Kapan kau akan berangkat?


"Ingat, Paman. Kau harus jaga keselamatan Kitri Boga. Dan aku hanya memberimu waktu tiga hari. Lebih dari itu, aku akan ke puncak Bukit Arang Lawu seorang diri!" tegas sekali kata-kata Pangeran Kandara Jaya.


"Hamba akan selalu ingat kata-kata Gusti," sahut Lawawi Girang.


"Pergilah, doaku bersamamu." "Hamba mohon diri, Gusti," pamit Lawawi Girang.


Setelah memberi hormat, Lawawi Girang melangkah menuju ke tenda. Pangeran Kandara Jaya menarik napas panjang. Dia telah mengambil keputusan yang sungguh berat. Keputusan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Pandangan pangeran muda ini tertuju ke puncak Bukit Arang Lawu. Dia baru menoleh ketika telinganya mendengar langkah-langkah kaki menghampiri.


Tampak Lawawi Girang bersama seorang pemuda tampan berkulit putih berjalan menghampiri Pangeran Kandara Jaya. Pemuda tampan itu menyandang pedang di punggungnya. Bajunya ketat berwarna putih, sehingga memetakan tubuhnya yang kekar dan tegap. Kedua orang itu langsung memberi hormat setelah sampai di depan Pangeran Kandara Jaya.


"Berangkatlah kalian mengemban tugas suci kerajaan. Dalam waktu tiga hari kalian tidak kembali, aku akan menyusul," kata Pangeran Kandara Jaya.


Lawawi Girang dan Kitri Boga kembali men.beri hormat, kemudian segera berlalu. Pangeran Kandara Jaya terus memandangi dua orang itu yang mulai mendaki lereng Bukit Arang Lawu. Dia baru membalikkan tubuhnya setelah punggung Lawawi Girang dan Kitri Boga lenyap dari pandangannya. Sebentar pangeran muda itu menarik napas panjang, kemudian kakinya terayun perlahan-lahan kembali menuju ke tendanya.


"Ah, kenapa hariku jadi tidak enak...?" bisik Pangeran Kandara Jaya dalam hati.


Kepala Pangeran Kandara Jaya menggeleng-geleng, mencoba membuang pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba menghantam benaknya. Belum pernah dirasakan hal seperti ini dalam tugas-tugas sebelumnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja hatinya jadi resah ridak menentu. Apakah ini suatu pertanda akan terjadi sesuatu?


Kembali Pangeran Kandara Jaya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang membuatnya jadi kecil hari dalam melaksanakan tugas yang dibebankan Prabu Balaraga. Dia harus bisa mengendalikan diri dan berpikiran tenang agar dapat bertindak tepat dengan perhitungan yang matang.


********************


Sementara itu perjalanan yang dilalui Lawawi Girang dan Kitri Boga semakin sulit. Mereka harus melewati jurang dan mendaki dinding batu terjal yang sewaktu-waktu dapat longsor. Belum lagi lebatnya hutan yang menghalangi perjalanan mereka. Namun kedua orang itu tidak menyerah begitu saja. Mereka terus berjalan tanpa mengenal lelah, kini keringat telah membasahi pakaian, meskipun udara di Bukit Arang Lawu sangat dingin dan berselimut kabut.


Perjalanan mereka terhenti ketika di depan membentang jurang yang lebar dan dalam. Begitu dalamnya sehingga dasar jurang itu tidak tampak. Hanya kabut tebal dan kegelapan yang terlihat di dalam jurang itu. Mereka berdiri tegak di bibir jurang. Sedangkan perjalanan yang mereka harus lalui masih panjang.


"Kita tidak mungkin melompati jurang ini, Paman," kata Kitri Boga.


Lawawi Girang hanya mendesah saja. Memang tidak mungkin mereka melompati jurang yang begitu lebar. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki tidak akan sanggup menyeberangi jurang itu hanya dengan sekali lompatan saja. Perlu satu penyangga untuk dapat melentingkan tubuh agar mencapai seberang. Sedangkan di tengah-tengah jurang itu kosong. Tidak ada satu tumbuhan pun yang bisa dijadikan pijakan.


"Kalau mereka bisa menyeberangi jurang ini, tentu ada sarana yang bisa digunakan," kata Kitri Boga setengah bergumam.


"Ah! Benar, benar!" Lawawi Girang tersentak bagai diingatkan "Pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk menyeberangi jurang ini."


"Mungkin mereka menggunakan tambang," kata Kitri Boga menduga-duga.

__ADS_1


"Mungkin juga," gumam Lawawi Girang.


"Atau sebuah tonggak yang terpancang di tengah-tengah."


"Kalau begitu, kita harus menyusuri bibir jurang ini, Paman."


"Bisa makan waktu lama, Gusti. Sedangkan waktu yang diberikan Gusti Kandara Jaya hanya tiga hari."


"Kita berpencar, dan bertemu lagi di sini," usul Kitri Boga.


"Jangan! Sebaiknya bersama-sama saja," bantah Lawawi Girang.


"Kenapa? Bukankah itu berarti membuang-buang waktu?"


Lawawi Girang tidak menjawab. Tidak mungkin ia membiarkan Kitri Boga seorang diri di daerah yang berbahaya ini. Dia sudah bersumpah untuk menjaga keselamatan pemuda ini dengan nyawanya. Lawawi Girang mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Otaknya berputar keras mencari jalan agar bisa menyeberangi jurang ini tanpa meninggalkan Kitri Boga setapak pun.


"Paman...."


"Sebentar, Gusti," potong Lawawi Girang cepat.


Lawawi Girang tiba-tiba melompat ke atas pohon. Tangannya menjambret beberapa sulur yang menjuntai dari pohon-pohon besar di sekitar tepi jurang ini. Dia kembali lagi membawa beberapa sulur yang cukup panjang dan kuat.


"Dengan sulur ini, kita bisa menyeberangi jurang," kata Lawawi Girang.


Kitri Boga mengerutkan keningnya. "Kurasa, dua puluh sulur cukup untuk mencapai seberang," lanjut Lawawi Girang seraya menyambung ujung-ujung sulur.


Kitri Boga hanya memperhatikan saja. Lawawi Girang menyambung lebih dari dua puluh sulur yang panjang-panjang. Sulur-sulur itu memang kelihatan kuat, dan cukup untuk sampai ke seberang sana.


Lawawi Girang mengikatkan satu ujung sulur pada sebatang pohon yang ada di tepi jurang. Kemudian ujung satunya lagi diikatkan pada pergelangan tangan kirinya. Lawawi Girang mengambil sepotong kulit kayu yang cukup besar ukurannya, lalu berdiri tegak di bibir jurang.


"Apa yang akan Paman lakukan?" tanya Kitri Boga.


"Aku akan melompati jurang ini," sahut Lawawi Girang.


"Gila! Jurang ini sangat lebar! Kau tidak akan mampu sampai ke seberang!" sentak Kitri Boga terkejut.


"Memang. Tapi dengan kulit kayu ini, aku bisa sampai ke seberang sana," tenang sekali Lawawi Gi rang menyahut.


"Jangan berbuat nekad, Paman. Bagaimana kalau dua lompatan tidak cukup?"


"Gusti bisa menyentakkan sulur ini kuat-kuat, sehingga aku bisa tertarik kembali ke sini dengan meminjam tenaga sentakan Gusti," sahut Lawawi Girang.


Kitri Boga mulai mengerti jalan pikiran Lawawi Girang. Kemudian diambilnya dua potong kulit kayu. Lawawi Girang memandanginya dengan kening agak berkerut.


"Untuk apa kulit-kulit kayu itu?" tanya Lawawi Girang.


"Untuk berjaga-jaga," jawab Kitri Boga. "Kalau gagal, daripada harus kembali, lebih baik kulemparkan kulit kayu ini ke bawah kakimu. Dan kulit kayu ini bisa kau jadikan tumpuan untuk menambah tenaga dorongan! Bagaimana?"


"Bagus!" puji Lawawi Girang tersenyum.


Sementara Lawawi Girang mengambil ancang-ancang, kemudian melompat tinggi berputaran di udara menyeberangi jurang besar yang menganga lebar. Belum lagi sampai di tengah-tengah, tubuh Lawawi Girang meluncur turun. Cepat-cepat dilepaskan kulit kayu yang ada di tangannya, dan dengan ujung kaki dijejaknya kulit kayu itu. Kembali tubuhnya melenting ke udara, berputaran beberapa kali.


Tepat dugaan Kitri Boga, Lawawi Girang kembali menukik turun sebelum mencapai tepi seberang jurang. Secepat kilat Kitri Boga melemparkan kulit kayu ke arah kaki Lawawi Girang. Dengan tangkas punggawa itu menotok kulit kayu yang berada di bawah kakinya. Kembali tubuhnya melenting ke udara, lalu hinggap tepat di bibir jurang.


Kitri Boga mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi. Kemudian dia melompat, dan berlarian di atas sulur yang sudah terentang dipegangi Lawawi Girang. Indah sekali Kitri Boga berlari di atas sulur yang membentang menyeberangi jurang itu. Pemuda itu lalu melenting indah menjejakkan kakinya di samping Lawawi Girang. Punggawa itu kemudian mengikatkan ujung sulur yang dipegangnya pada pohon. Sungguh dikaguminya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Kitri Boga.


"Ayo kita lanjutkan lagi, Paman," ajak Kitri Boga.


"Mari, Gusti," sahut Lawawi Girang.


"Ke arah mana kita sekarang?" tanya Kitri Boga.


"Puncak bukit ada di sebelah Timur.


Sebaiknya kita ke arah Timur," sahut Lawawi Girang.


"Ayo, sebentar lagi malam. Kita harus mencapai puncak itu sebelum gelap."


"Mustahil, Gusti. Paling tidak, besok pagi baru bisa mencapai puncak itu."


"Kita gunakan ilmu lari cepat, Paman. Aku rasa perjalanan ke arah Timur tidak terlalu sulit lagi."


"Tapi kita harus waspada. Aku yakin mereka memasang jebakan di sekitar puncak bukit ini."


"Baiklah, tapi kita harus cepat!"


"Mari, Gusti."

__ADS_1


Dua orang itu segera bergerak menuju ke puncak Bukit Arang Lawu. Lawawi Girang terpaksa mengimbangi Kitri Boga yang menggunakan ilmu lari cepat. Sebenarnya dia tidak setuju, tapi terpaksa harus diikutinya juga. Lawawi Girang selalu berada di samping pemuda ini. Sedikit pun dia tidak mau mendahului atau tertinggal. Keselamatan pemuda ini lebih penting dari nyawanya sendiri.


********************


__ADS_2