Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Kitab Tapak Geni Bag. 3


__ADS_3

Pagi baru saja merayapi bumi. Sinar matahari mulai memancar menerangi belahan Timur bumi. Napas kehidupan kembali bangkit setelah semalaman bagai mati dicekam kegelapan sang dewi malam. Pagi yang cerah itu kini terusik oleh derap langkah kuda yang dipacu bagai kesetanan.


Kuda hitam tegap berlari kencang menerjang apa saja yang menghalangi. Debu bergulung-gulung di belakangnya. Penunggangnya berpakaian kotor dan lusuh mendera kuda yang seolah-olah masih kurang cepat. Padahal, kuda tunggangannya itu telah mendengus-dengus hampir mati kelelahan. Tampak dari wajahnya yang lecek dan penuh debu, sebuah guratan panjang di pipinya. Guratan itu menandakan kalau dia adalah Parang Kati.


"Hiya..., hiya...!"


Parang Kati terus mendera kudanya menuju kota praja Kerajaan Parakan. Semalaman dia berpacu tanpa henti, dan tak mempedulikan keadaan dirinya yang kotor dan berbau. Apalagi terhadap kudanya yang hampir mati kelelahan didera terus menerus sepanjang malam hingga pagi ini.


"Buka pintu, cepat...!" teriak Parang Kati ketika di depannya terbentang pintu kokoh yang dijaga dua orang prajurit bersenjata lengkap.


Mengenali siapa yang datang, dua orang prajurit itu bergegas membuka pintu. Namun ketika pintu baru terbuka setengah, Parang Kati telah menerobos tanpa mengendorkan lari kudanya. Dua penjaga itu menjadi bingung melihat Parang Kati memasuki benteng kerajaan tidak seperti biasanya.


Tali kekang kuda tiba-tiba ditariknya, ketika telah tiba di depan pendopo utama istana Parakan. Seketika kuda berhenti seraya meringkik dan mengangkat kaki depannya. Parang Kati mencelat dan berputar dua kali di udara sebelum kakinya mencapai tanah.


Tanpa mempedulikan kudanya yang langsung tertunduk dengan mulut menganga, Parang Kati melangkah lebar memasuki pendopo utama. Seluruh tubuhnya yang masih kotor dan berbau tidak dihiraukannya lagi. Beberapa penjaga pintu pendopo menatapnya penuh keheranan. Tidak biasanya Parang Kati memasuki pendopo dalam keadaan seperti itu.


"Parang Kati...!" tiba-tiba sebuah bentakan keras menghentikan langkah Parang Kati.


Parang Kati segera berbalik. Seketika itu juga dijatuhkan tubuhnya untuk berlutut. Di depannya kini berdiri seorang laki-laki tua dengan rambut seluruhnya berwarna putih. Kumisnya panjang dan putih pula.


Laki-laki bertubuh kurus tinggi dan berwajah dingin itu mengenakan baju biru dari bahan sutra halus. Matanya tajam tanpa ekspresi menatap wajah Parang Kati yang tertunduk berlutut di depannya. Raut wajahnya begitu pucat seperti tak pernah teralirkan darah kehidupan lagi.


"Bangun," kata laki-laki tua itu. Suaranya terdengar dingin.


"Maafkan hamba, Ki Sanggamayit. Hamba menghadap dalam keadaan kotor," kata Parang Kati setelah bangkit berdiri.


"Kenapa kau masuk pendopo dalam keadaan begini?" tanya laki-laki tua yang ternyata bernama Ki Sanggamayit. Suaranya masih dingin datar. Tak ada sedikit pun tekanan dan ekspresi sama sekali.


"Hamba terburu-buru, Ki Sanggamayit. Hamba semalaman berkuda dari Desa Ganggang," lapor Parang Kati. "Hm..., kau ditugaskan untuk menarik upeti dari desa itu, dan dikawal sembilan prajurit pilihan. Tapi sekarang kembali hanya seorang diri. Apa yang terjadi?"


"Ceritanya panjang, Ki," sahut Parang Kati. "Ceritakan."


Panjang lebar Parang Kati menceritakan kejadian di Desa Ganggang hingga tentang penghadangan yang dilakukan oleh Dewi Selaksa Mawar. Hanya dia sendiri yang mampu meloloskan diri.


Ki Sanggamayit masih diam tertegun meskipun Parang Kati telah selesai bercerita. Agak lama kesunyian menyelimuti mereka berdua. Terdengar desahan berat panjang dari hidung Ki Sanggamayit. Kembali matanya tajam tanpa ekspresi memandang Parang Kati. Yang dipandang hanya tertunduk, takut untuk membalasnya.


"Apa kau tidak salah lihat?" tanya Ki Sanggamayit memecah keheningan.


"Maksud Ki Sanggamayit?" Parang Kati malah balik bertanya.


"Bodoh! Siapa lagi kalau bukan perempuan edan itu?" bentak Ki Sanggamayit.


"Oh, tid..., tidak, Ki. Hamba tidak salah lihat. Bahkan Dewi Selaksa Mawar menyebut-nyebut nama Kalasewu," agak gugup Parang Kati menjawab.


"Monyet buntung!" Ki Sanggamayit terlonjak, sampai melompat ke belakang satu tindak ketika mendengar nama Kalasewu disebut-sebut.


Parang Kati semakin heran melihat atasannya yang begitu terkejut mendengar ceritanya. Hidung Ki Sanggamayit kembang kempis seperti menahan marah. Wajah semakin terlihat pucat. Dua bola matanya berputar-putar memandang Parang Kati. Dia seolah-olah tidak percaya dengan ucapan laki-laki codet yang ada di depannya ini.


"Sebaiknya kau pulang sekarang. Biar kusampaikan sendiri berita ini pada Gusti Prabu," kata Ki Sanggamayit setelah agak reda emosinya.


Parang Kati membungkukkan badannya sedikit, sambil mundur tiga langkah. Ketika membalik, segera kakinya diayun lebar-lebar. Ki Sanggamayit memandangi dengan tatapan dingin. Dia baru beranjak setelah Parang Kati tak terlihat lagi.


********************


Ki Sanggamayit duduk bertopang dagu di depan meja dari marmer putih mengkilat. Di hadapannya duduk dua orang yang sudah kelihatan tua. Mereka adalah Iblis Mata Satu, dan yang mengenakan pakaian serba hitam adalah Setan Jerangkong. Dinamakan Setan Jerangkong karena tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbalut kulit saja.


Mereka bertiga memang dikenal sebagai Tiga Setan dari Neraka. Sepak terjangnya yang kejam tak kenal perikemanusiaan, sudah menjadi buah bibir di seluruh dunia persilatan. Mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja yang berani berurusan.


"Sejak tadi kau kelihatan murung. Ada yang mengganggu pikiranmu, Sanggamayit?" Iblis Mata Satu memecahkan kesunyian.


Sanggamayit mengangkat kepalanya pelan-pelan. Matanya yang dingin terarah pada Iblis Mata Satu. Desah napasnya terdengar berat dan panjang.


"Aku tadi pagi lihat Parang Kati kembali seorang diri. Bukankah dia ditugaskan untuk menarik upeti ke Desa Ganggang? Lagi pula, aku tak melihat sembilan orang prajurit yang menyertainya. Adakah persoalan yang dibawanya sehingga kau jadi murung?" Setan Jerangkong kelihatan mendesak.


"Persoalan lama," desah Sanggamayit berat.


"Jelaskan. Persoalan apa?" desak Iblis Mata Satu.


Sanggamayit mendesah kembali, kemudian diceritakan semua yang didengarnya dari Parang Kati. Setan Jerangkong dan Iblis Mata Satu mendengarkannya dengan serius, tanpa sedikit pun menyelak. Kelihatan sekali wajah mereka menjadi berubah ketika Dewi Selaksa Mawar disebut-sebut mencari Kalasewu. Seketika itu juga mereka teringat dengan peristiwa yang terjadi sekitar dua puluh tahun lalu. Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong menatap tajam pada Sanggamayit. Lama juga kesepian menyelimuti ruangan luas ini. Tidak ada yang bersuara sedikit pun.


"Aku tidak menyangka, dia tahu kita semua ada di sini," gumam Iblis Mata Satu pelan.

__ADS_1


"Dia bukan mencari kita, tapi Kalasewu," sergah Sanggamayit.


"Apa bedanya?" Setan Jerangkong seperti bertanya pada dirinya sendiri.


"Jelas ada bedanya?" dingin tajam Sanggamayit menyahuti. "Kita dikenal sebagai Tiga Setan Neraka. Sedang yang dicari Dewi Selaksa Mawar adalah Kalasewu."


"Haha ha...!" mendadak saja Iblis Mata Satu tertawa terbahak-bahak.


"Tidak ada yang lucu!" bentak Setan Jerangkong.


"Justru bagiku sangat lucu," sungut Iblis Mata Satu ketika berhenti tertawa. "Kalian mempersoalkan nama yang tidak pernah ada. Kalasewu atau Tiga Setan Neraka, atau apa lagi namanya, tidak pernah ada. Kalau toh ada, orangnya adalah kita-kita juga."


"Terus terang saja, kau menuduh orangnya," dingin suara Sanggamayit


"Aku tidak mengatakan bahwa kau adalah Kalasewu."


"Tapi, kenapa kau berkata begitu?"


"Dewi Selaksa Mawar mencari orang yang bernama Kalasewu. Sedangkan, yang diketahuinya adalah satu Kalasewu yaitu kau sendiri. Padahal, kita semua adalah Kalasewu!"


Sanggamayit terdiam. Kata-kata Iblis Mata Satu memang tidak salah. Dewi Selaksa Mawar hanya mengenal satu Kalasewu. Dan sekarang dia mencarinya untuk membalas dendam peristiwa dua puluh tahun yang lahi. Dendam yang telah dilupakan Sanggamayit.


"Sejak semula kau telah kuperingatkan. Masih juga buta untuk mendapatkannya. Dia memang cantik, tapi ular!" Iblis Mata Satu mengenang peristiwa dua puluh tahun yang lalu, saat mereka semua masih kelihatan muda dan gagah.


Sanggamayit belum bersuara. Memang, yang diperbuatnya waktu itu hanya dia sendiri yang tahu. Meskipun Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong tahu, tapi hanya bagian luarnya saja. Yang mereka ketahui hanya masalah asmara antara Sanggamayit dengan Dewi Selaksa Mawar. Anggapan mereka, Sanggamayit tertarik dengan Dewi Selaksa Mawar adalah karena kecantikan saja. Lain tidak.


Namun sesungguhnya, di balik asmara itu ada maksud-maksud dari Sanggamayit. Dan semua itu telah terlaksana dengan baik. Hanya saja, Sanggamayit tidak mengira kalau masalahnya menjadi panjang. Dua puluh tahun telah terlupakan, kini tiba-tiba muncul pada saat Tiga Setan Neraka berhasil mencapai tujuan, yakni menguasai Kerajaan Parakan dan menjadikan Prabu Salya sebagai raja boneka.


"Kurasa, sebaiknya kita tinggalkan istana Parakan ini. Aku khawatir kedok kita terbongkar dengan kemunculan Dewi Selaksa Mawar, si perempuan gila itu!" kata Sanggamayit.


"He he he..., kau ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah bertahun-tahun kita perjuangkan dengan darah dan keringat, Sanggamayit?" Iblis Mata Satu belum mengerti jalan pikiran Sanggamayit.


"Urusan ini lebih penting daripada kekuasaan," selak Sanggamayit dingin.


"Bagaimana, Setan Jerangkong?" Iblis Mata satu meminta pendapat.


Setan Jerangkong hanya mengangkat bahu saja.


"Aku berjanji, setelah urusan ini selesai, maka rencana semula harus dijalankan," ujar Sanggamayit.


"He he he..., itu urusanmu. Kaulah yang berambisi ingin jadi raja," Iblis Mata Satu terkekeh panjang.


Sanggamayit hanya mendengus saja. Sementara Setan Jerangkong tersenyum-senyum. Tak jelas arti senyum itu. Sanggamayit tidak peduli meskipun kedua saudara angkatnya ini seperti mengejek. Bisa jadi mengejek kebimbangan dan kegelisahannya dalam menghadapi kemunculan Dewi Selaksa Mawar yang tak pernah diduga dan diharapkannya sama sekali.


"Besok kita tinggalkan istana Parakan," ucap Sanggamayit.


"Lalu, bagaimana urusan dengan Prabu Salya?" tanya Setan Jerangkong.


"Aku rasa Parang Kati dapat dipercaya," jawab Sanggamayit.


"He he he..., bocah dungu begitu kau percaya," agak sinis suara Iblis Mata Satu


Sanggamayit menatap dingin dan tajam ke arah Iblis Mata Satu. Dia tidak mengerti mengapa saudara angkatnya ini tidak pernah menyukai Parang Kati. Apa mungkin karena Parang Kati itu bekas perampok jalanan yang hanya memiliki kepandaian jauh di bawah mereka bertiga? Atau ada sebab lain yang hanya diketahui Iblis Mata Satu saja?


"Sebaiknya kau temui adikmu, dan tekan dengan ancaman agar dia tidak berbuat sesuatu yang merugikan," kata Iblis Mata Satu memberi saran.


Sanggamayit hanya tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri. Langkahnya ringan saat menuju ke pintu ruangan khusus ini. Hanya mereka bertiga saja yang boleh memasukinya. Iblis Mata Satu terkekeh-kekeh melihat Sanggamayit ke luar ruangan ini. Sementara Setan Jerangkong ikut bangkit berdiri setelah Sanggamayit tak terlihat lagi.


"Mau ke mana?" tanya Iblis Mata Satu.


"Jalan-jalan," jawab Setan Jerangkong seenaknya sambil terus berlalu.


Iblis Mata Satu mengangkat bahunya sedikit, lalu juga keluar dari ruangan itu. Dua orang penjaga membungkuk ketika Iblis Mata Satu melewati pintu. Laki-laki tua berpakaian serba putih itu terus melangkah pergi. Sementara malam telah semakin pekat membuai penghuni mayapada ini, untuk terus lelap dalam tidur bersama sapuan sang bayu.


********************


Ketika matahari baru saja mengintip dari ufuk Timur, tampak tiga ekor kuda dan penunggangnya keluar dari pintu gerbang istana Parakan. Mereka adalah Tiga Setan Neraka. Gerakan mereka kelihatan tidak tergesa-gesa, seolah-olah kepergian mereka tidak ingin diketahui oleh siapa pun!


Mereka memacu kudanya tidak terlalu terburu-buru. Seolah-olah kepergian mereka tidak ingin diketahui oleh orang lain. Ketika tiba di perbatasan kotapraja, segera mereka menggebah kuda dengan cepat. Kabut masih menyelimuti meskipun matahari telah mulai mengintip dengan sinar kemerahan yang memancar lembut dari balik pepohonan. Tiga ekor kuda terus dipacu ke arah matahari terbit.


"Bukankah ini jalan menuju Desa Ganggang?" Setan Jerangkong tiba-tiba memecah kebisuan mereka.

__ADS_1


"Benar. Tujuan kita memang ke desa itu," sahut Sanggamayit.


"Untuk apa ke sana?" tanya Setan Jerangkong.


"Hm, rupanya kau sekarang menjadi pelupa. Parang Kati melapor kalau desa ini mulai membangkang," Iblis Mata Satu menggumam.


"Kurasa tujuan kita bukan untuk mengurusi Desa Ganggang," Setan Jerangkong kurang sependapat.


"Dewi Selaksa Mawar mencegat di perbatasan desa. Barangkali saja masih ada di sana. Yaah, sekalian memberesi desa pembangkang itu," celetuk Sanggamayit.


"Huh! Buang-buang waktu saja!" dengus Setan Jerangkong.


"Tidak! Sama sekali tidak. Desa Ganggang diam-diam menyimpan dua pendekar tangguh. Dan ini berbahaya jika tidak cepat cepat diselesaikan," Sanggamayit menjelaskan.


"Ah, hanya pendekar ingusan. Aku rasa kita tak perlu turun tangan sendiri. Parang Kati saja yang ****** sampai dapat dipecundangi seperti itu!"


"Mungkin aku akan menganggap begitu terhadap Parang Kati jika dia tidak menyebutkan ciri-ciri pendekar muda yang merampas pedang dari tangan para prajurit hanya dengan sekali gebrak saja."


"Sekali gebrak?!" Setan Jerangkong nampak terkejut.


"Apa yang menarik dari pendekar itu?" tanya Iblis Mata Satu.


"Parang Kati menyebutkan kalau pendekar itu menyandang pedang di punggung yang bertangkai kepala burung. Bajunya rompi berwarna putih. Aku yakin kalian pasti mengenalinya," kata Sanggamayit.


"Pendekar Rajawali Sakti," gumam Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong hampir bersamaan.


"Tepat!" sahut Sanggamayit cepat.


Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong terdiam. Sementara kuda yang mereka tunggangi menjadi lambat jalannya. Pikiran seluruh Tiga Setan Neraka kini tercurah pada Pendekar Rajawali Sakti. Siapa yang tak kenal dengan nama itu? Satu nama yang sangat disegani dan ditakuti hampir seluruh tokoh rimba persilatan, baik yang beraliran putih maupun hitam.


Kini Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong mengerti, kenapa Sanggamayit gelisah sedemikian rupa. Ternyata bukan hanya karena kemunculan Dewi Selaksa Mawar saja yang jadi beban pikirannya. Kemunculan Pendekar Rajawali Sakti yang membantu Desa Ganggang dalam pembangkangan dapat menjadi sumber malapetaka besar bagi mereka. Tiga tokoh hitam ini tahu benar tentang sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti yang tidak kenal kompromi terhadap tokoh-tokoh rimba persilatan beraliran hitam.


"Lalu siapa pendekar satu lagi?" tanya Setan Jerangkong.


"Putri Jagabaya, Kepala Desa Ganggang," jawab Sanggamayit.


"Sejak kapan si tua bangka Jagabaya punya anak?" gumam Setan Jerangkong seperti bertanya pada dirinya sendiri.


"Kita tak usah mempersoalkan dia anak siapa. Yang penting sekarang, lenyapkan siapa saja yang coba-coba menjadi penghalang!" dengus Iblis Mata Satu.


Bisu kembali menjalari mulut mereka di atas kuda tunggangan masing-masing. Kini mereka telah memasuki Hutan Dandaka. Dengan jalan seperti ini, sore nanti mereka baru mencapai perbatasan Desa Ganggang yang berada di tepi Hutan Dandaka. Hutan yang sering dilalui manusia ini sudah tidak begitu lebat lagi. Jalan yang mereka lalui sekarang, seperti sengaja dibuat untuk jalan pintas desa-desa sekitar Hutan Dandaka menuju Kerajaan Parakan.


Saat mereka tiba di tengah hutan, sekonyong-konyong Sanggamayit menghentikan kudanya. Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong yang berada di samping kanan dan kiri ikut berhenti. Tidak seperti biasanya, keadaan di tengah hutan ini sangat sepi dan sunyi. Bahkan sepertinya burung-burung enggan berkicau memamerkan suaranya yang merdu.


Tiga Setan Neraka memasang telinga lebih tajam. Menyadari suasana di tengah hutan tidak seperti biasanya, seketika itu juga mereka segera waspada. Tanpa ada suara sedikit pun, mereka melompat hampir berbarengan dari kuda masing-masing. Ringan sekali gerakan kaki-kaki mereka. Pertanda kalau ilmu meringankan tubuh mereka cukup tinggi, hampir mencapai kesempurnaan.


"Hi hi hi...!" tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik, menggema dari segala penjuru.


Belum lagi hilang suara tawa itu, mendadak sinar-sinar keperakan melesat cepat menyambar tiga orang itu. Begitu cepatnya, sehingga tiga orang itu terkejut setengah mati. Dalam sekejap saja mereka berlompatan menghindari sinar-sinar itu.


Tap!


Sanggamayit melenting seraya menangkap salah satu sinar keperakan yang mengancam dirinya. Bahkan Iblis Mata Satu dan Setan Jerangkong pun berhasil menangkap satu dari sekian banyak sinar yang berkilatan bagai hujan. Kilatan sinar-sinar keperakan kini berhenti. Tiga Setan Neraka menjejakkan kakinya di tanah dengan manis. Gerakan mereka benar-benar ringan dan sedap dipandang mata.


"Dewi Selaksa Mawar...," desis Sanggamayit ketika mengetahui sinar-sinar keperakan yang datang itu berbenruk bintang segi enam yang di tengah-tengahnya tergambar sekuntum bunga mawar.


"Hm..., rupanya dia sudah mengetahui kehadiran kita," gumam Setan Jerangkong.


"Hi hi hi..., tiga tikus got akhimya keluar juga dari sarang busuknya," terdengar suara mengikik bergema.


"Dewi Selaksa Mawar, keluar kau! Jangan main sembunyi-sembunyi seperti bocah ingusan!" teriak Iblis Mata Satu. Suaranya menggema ke sekitarnya karena disertai pengerahan tenaga dalam yang tinggi.


"Hi hi hi...!" kembali suara mengikik terdengar menggetarkan.


"Uh! Aku tidak suka main kucing-kucingan begini!" dengus Setan Jerangkong sengit.


Sanggamayit yang mengetahui kalau Dewi Selaksa Mawar hanya menginginkan dirinya seorang, hanya diam saja. Namun matanya tajam beredar ke sekeliling. Telinganya dipertajam dengan mengerahkan ilmu Pemecah Suara. Sedikit saja suara terdengar mencurigakan, matanya segera mengawasi ke arah suara itu.


"Awas...!"


********************

__ADS_1


__ADS_2