Pendekar Rajawali Sakti

Pendekar Rajawali Sakti
Pertarungan Bukit Setan Bag. 2


__ADS_3

Pendekar Rajawali Sakti menunggu Pandan Wangi bersemadi untuk memulihkan tenaganya kembali. Begitu selesai, lalu Rangga menyerahkan sebutir pil berwarna putih kekuning-kuningan. Ragu-ragu Pandan Wangi menerima pil itu. Tapi seteleh Rangga meyakinkan kalau pil itu untuk menghilangkan semua racun dalam darah, baru Pandan Wangi menerima dan menelannya.


Pandan Wangi merasakan tubuhnya menjadi segar kembali. Luka di bahu kanannya juga tidak lagi mengeluarkan darah. Dengan dibantu Rangga, Pandan Wangi membebat lukanya dengan sobekan bajunya sendiri.


"Kau telah menolongku dan menyelamatkan nyawaku. Aku tidak bisa berhutang budi pada siapa pun. Katakan, apa yang kau inginkan dariku?" tajam terdengar suara Pandan Wangi.


Rangga menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Hatinya benar-benar geli melihat sikap gadis ini yang tetap saja keras kepala. Meskipun nyawanya hampir melayang, masih juga bersikap ketus dan sinis.


"Aku tidak menyalahkanmu seandainya kau menyangka aku sudah berhasil mengambil kitab itu dari tangan Empat Setan Jagal," kata Pandan Wangi.


"Kitab? Aku tidak mengerti maksudmu?" Rangga jadi ingin tahu.


"Kau memang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu?" sinis suara Pandan Wangi.


"Aku jadi semakin tidak mengerti. Kau bentrok dengan Empat Setan Jagal, katanya tidak ada masalah apa-apa. Sekarang kau bilang mengambil kitab dari mereka. Kitab apa yang telah kau curi? Kenapa kau lakukan itu, Pandan?" tanya Rangga memberondong.


"Jadi.., kau benar-benar tidak tahu?" Pandan Wangi malah jadi bengong. Sungguh tidak diduga sama sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti ini tidak tahu-menahu dengan kitab yang sekarang sedang dihebohkan dan dicari-cari oleh tokoh-tokoh rimba persilatan.


Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang baru saja dibicarakan Pandan Wangi. Dia menolong gadis ini dari Empat Setan Jagal, karena tidak tega melihat seorang gadis dikeroyok empat orang. Sama sekali dia tidak tahu siapa gadis ini sebelumnya. Apalagi terhadap Empat Setan Jagal. Tapi nama Empat Setan Jagal pernah didengarnya. Dan baru kali inilah Rangga dapat bertemu dengan mereka, bahkan langsung bentrok. Semua yang dilakukannya hanya karena terdorong oleh jiwa kependekarannya saja.


"Aku tidak percaya kau tidak menginginkan kitab Itu," dengus Pandan Wangi.


"Sejak tadi kau sebut-sebut kitab. Kitab apa sih sebenarnya?" kesal juga Rangga jadinya.


"Kitab Naga Sewu!" tiba-tiba terdengar suara keras menyahuti pertanyaan Rangga.


Seketika Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi melompat berdiri. Suara itu terdengar jelas dan keras, menggema ke seluruh penjuru mata angin. Dari suara yang tanpa wujud sudah dapat dipastikan kalau dia tentu memiliki kepandaian yang cukup tinggi.


"Siapa kau? Tunjukkan dirirnu!" teriak Rangga disertai pengerahan tenaga dalam.


Suara Rangga terdengar keras, menyebar ke seluruh arah. Kipas Maut kaget mendengar suara Rangga. Telinganya jadi sakit seketika. Cepat-cepat dikerahkan ilmu pembeda gerak dan suara. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Ha ha ha...!" terdengar tawa menggelegar memekakkan telinga.


Pandan Wangi segera mencabut ilmu pembeda gerak dan pemecah suara. Segera dikerahkan tenaga dalam untuk mengimbangi suara tawa yang disertai pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi.


"Huh!" Rangga mendengus. Seketika kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti itu mendorong ke samping sambil membalikkan tubuhnya. Seleret sinar biru memancar dari telapak tangannya yang terbuka. Sinar itu cepat menghantam sebongkah batu besar. Suara ledakan keras terdengar bersamaan dengan hancurnya batu itu. Sebuah bayangan hitam berkelebat dari balik batu yang hancur berkeping-keping. Dan kini di depan mereka telah berdiri seorang laki-laki bertubuh tegap mengenakan pakaian serba hitam yang ketat. Laki-laki berwajah penuh berewok tebal, dengan mata merah bagai mata elang.


"Iblis Mata Elang...," desis Pandan Wangi.


"Hm...," Rangga hanya tersenyum kecil.


Pendekar Rajawali Sakti sudah mendengar kehebatan Iblis Mata Elang. Otaknya yang cerdas sudah bisa menerka maksud kemunculan tokoh hitam yang sakti ini. Sudah tentu ada hubungannya dengan Kitab Naga Sewu, dan pasti mencari Pandan Wangi.


"Kipas Maut! Serahkan Kitab Naga Sewu padaku!" kata Iblis Mata Elang. Suaranya keras menggelegar bagai guntur.


"Kitab itu tidak ada padaku!" sahut Pandan Wangi ketus.


"Bedebah! Kau jangan coba-coba membodohi aku, Kipas Maut!"


"Terserah, aku berkata yang sebenarnya. Kitab itu masih ada diBukit Setan."


"Semua orang sudah tahu kalau Kitab Naga Sewu sudah hilang dari Bukit Setan. Dan kau yang telah mengambilnya, Kipas Maut. Sekarang serahkan kitab itu padaku."


"Kalau pun ada, tidak mungkin aku berikan padamu."


"Setan alas! Kau pikir aku tidak bisa memaksamu, heh?"


"Kalau kau bisa, silakan!" tantang Pandan Wangi.


"Phuih! Abiyasa saja tidak bisa mengalahkanku, apalagi kau!"


"Jangan sebut-sebut nama guruku!" bentak Pandan Wangi geram.


Wajahnya segera memerah karena gurunya yang sudah lama meninggal, dihina begitu saja.


"Cepat serahkan kitab itu, jangan sampai aku mengirimmu keneraka menyusul gurumu!"


"Tidak!" sentak Pandan Wangi.

__ADS_1


"Huh! Rupanya kau sama seperti si tua bangka Abiyasa. Keras kepala!" rungut Iblis Mata Elang geram.


Selesai berucap, Iblis Mata Elang cepat melompat menerjang Kipas Maut. Dia tidak memandang sebelah mata pun pada Pendekar Rajawali Sakti yang berada di samping Kipas Maut. Perhatiannya tertumpah penuh pada gadis cantik yang membuat darahnya mendidih karena menahan geram.


"Hiyaaa...!" Wut!


Pandan Wangi langsung mencabut kipas baja saktinya dan mengebutkannya bagai kilat. Iblis Mata Elang bergegas menarik tangannya menghindari kibasan kipas yang ujung-ujungnya runcing tajam. Dengan cepat dimiringkan tubuhnya, dan kaki kanan melayang deras ke arah dada Kipas Maut. Kipas Maut melangkah mundur setindak dengan cepat, kemudian kipasnya dikebutkan ke arah kaki lawan.


Sungguh luar biasa gerakan Iblis Mata Elang ini. Tanpa menarik kakinya lagi, dia berputar cepat menyampok daerah pinggang. Pandan Wangi terkejut dengan gerakan kaki itu. Buru-buru dibaringkan dirinya ke tanah, dan segera melayangkan tendangan mautnya, membalas serangan dalam posisi masih tergeletak di tanah.


"Uts!" Iblis Mata Elang melompat mundur. Pandan Wangi cepat melompat bangun ketika serangan balasannya gagal. Dia bersiap-siap lagi dengan kipas terbuka di depan dada. Iblis Mata Elang mendengus karena serangannya gagal total. Sungguh tidak disangka serangan geledeknya bisa gagal. Kali ini dia tidak lagi memandang enteng pada Kipas Maut. Matanya sempat melirik Pendekar Rajawali Sakti yang hanya berdiri tenang memperhatikan dari jarak sekitar dua batang tombak.


"Kipas Maut, serahkan saja kitab itu padaku. Malas aku menjatuhkan tangan padamu," kata Iblis Mata Elang sambil melirik Rangga.


"Kau takut, Iblis Mata Elang?" ejek Pandan Wangi.


"He he he..., aku hanya tidak ingin kau mati di depan kekasihmu," Iblis Mata Elang terkekeh.


Pandan Wangi melirik Rangga. Hatinya memaki habis-habisan melihat Rangga hanya tersenyum-senyum saja.


"Phuih! Kau pikir aku senang jadi kekasihmu? Huh! Belum apa-apa sudah besar kepala!" dengus Pandan Wangi dalam hati.


"Mana kitab itu, Kipas Maut?"


"Sudah kukatakan, Kitab Naga Sewu tidak ada padaku!" dengus Pandan Wangi kesal.


"Keras kepala! Kau benar-benar cari mati!" dengus Iblis Mata Elang geram.


Cring!


Iblis Mata Elang mengeluarkan senjata berupa rantai panjang berujung tiga mata tombak yang cukup besar ukurannya. Langsung di putar-putar senjata itu di atas kepala. Angin menderu-deru keras bagai hendak terjadi badai topan.


Pandan Wangi menggeser kakinya kesamping, dan bersiap-siap menghadapi lawan yang sudah siap dengan senjata mautnya.


"Yeaaah!"


Iblis Mata Elang menyentakkan rantai bajanya. Seketika ujung rantai berujung tiga batang tombak mendesing, meluncur deras ke arah Kipas Maut. Tiga kepala tombak itu berpisah, masing-masing mengincar kepala, dada dan kaki.


Tring!


Satu ujung mata tombak berantai terpental kena sambar kipas baja. Namun yang Iainnya terus meluncur mengancam jiwa Kipas Maut. Mau tidak mau gadis itu membanting tubuhnya ke tanah. Dan bergulingan menghindari sambaran dua mata tombak berantai. Bergegas gadis itu melenting bangun.


Cring!


Iblis Mata Elang menggentak senjatanya. Seketika itu juga tiga mata rantai bersatu rapat. Sekali lagi disentak dan diputar-putar rantai baja itu. Rantai yang kini ujungnya menyatu, meliuk-liuk bagai ular meluncur deras menyerang Kipas Maut.


Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti yang memperhatikan sejak tadi telah dapat menduga dan mengukur kemampuan Pandan Wangi. Dalam keadaan baru sembuh dari luka, bukannya tidak mustahil gadis ini hanya dapat bertahan dalam lima jurus lagi. Kalau pun gadis itu tidak terluka, untuk mengalahkan Iblis Mata Elang juga sangat sulit.


"Akh!" tiba-tiba Pandan Wangi memekik tertahan.


Ujung rantai yang semula menyatu, tiba-tiba mengembang dan satu mata tombak menghantam kipas di tangan Pandan Wangi hingga terpental. Sedangkan yang satunya lagi membelit tangan gadis itu. Pandan Wangi hanya mampu menangkap satu mata tombak Iainnya yang mengarah ke dada.


"Ha ha ha...!" Iblis Mata Elang tertawa melihat lawannya berkutat mencoba membebaskan tangannya dari belitan rantai.


"Ikh!" Pandan Wangi mengerahkan seluruh tenaga dalamnya berusaha melepaskan belitan rantai di tongan kanannya.


Jari-jari tangan Iblis Mata Elang bergerak cepat, tiba-tiba saja satu rantai yang terpisah bergerak bagai ular membelit pinggang ramping Pandan Wangi.


"Akh!" Pandan Wangi menjerit keras. Belitan rantai pada tangan dan pinggang Pandan Wangi dirasakan makin kuat saja. Rasa sakit dan nyeri mulai merasuki pinggang dan tangan kanannya. Kalau hal ini terus berlangsung, tulang-tulangnya akan remuk. Pandan Wangi mulai bergetar tubuhnya. Dia menggeliat-geliat mencoba melepaskan diri sambil terus mengempos tenaga dalamnya. Rasa nyeri makin terasa.


"Hiyaaa!"


Tiba-tiba Rangga memekik keras. Mendadak saja tubuhnya melayang deras dengan tangan mengembang ke samping. Tangan kanannya bergerak cepat mengibas ke arah tangan Iblis Mata Elang. Serangan Pendekar Rajawali Sakti yang mendadak ini membuat Iblis Mata Elang terkejut.


"Ih!" Buru-buru dilepaskan pegangan pada rantainya. Kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti itu mengenai tempat kosong. Iblis Mata Elang menendang ujung rantai dan menangkapnya dengan cepat sekali. Langsung dibetotnya senjata itu. Belitan pada tubuh Pandan Wangi terlepas saat itu juga.


"Setan!" dengus Iblis Mata Elang geram.


"Dia bukan lawanmu, Iblis Mata Elang," tenang suara Rangga berkata.

__ADS_1


"Phuih!"


********************


Pandan Wangi terkulai lemas. Tulang-tulang pinggang dan tangan kanannya seperti terasa remuk. Sedikit-sedikit dia beringsut menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan Iblis Mata Elang. Apa yang dilakukan gadis itu tidak lepas dari perhatian Rangga. Dengan sudut ekor matanya, Pendekar Rajawali Sakti terus memperhatikan Pandan Wangi sampai ke tempat yang dirasa aman.


Rangga mengayunkan kakinya ke depan tiga langkah, kemudian berdiri tegak bertolak pinggang. Sikapnya sengaja menantang Iblis Mata Elang. Ekor matanya kembali melirik Pandan Wangi yang kini sedang memulihkan tenaganya.


"Minggir kau, anak muda. Aku tidak ada urusan denganmu!" bentak Iblis Mata Elang keras.


"Urusanmu dengan Pandan Wangi, juga jadi urusanku," tenang sekali Rangga menyahut.


"Monyet beledek! Kau juga sudah bosan hidup rupanya!"


"Kita lihat, siapa yang lebih dulu terbang ke neraka."


"Kurang asem, hiyaaa...!"


Iblis Mata Elang langsung menggentak rantai bajanya. Tiga ujung rantai yang berbentuk seperti mata tombak meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Manis sekali Rangga berkelit menghindari serangan cepat itu. Iblis Mata Elang terus menyerang dengan gesit. Mata rantainya kadang-kadang menyatu cepat, dan kadang-kadang pula berpencar ke tubuh lawan. Yang dihadapi Iblis Mata Elang sekarang, bukanlah Kipas Maut yang tingkat ilmunya jauh di bawahnya. Kini yang dihadapinya adalah Pendekar Rajawali Sakti. Tentu saja serangan-serangan maut yang dilancarkannya dapat dielakkan dengan mudah.


Hal ini membuat Iblis Mata Elang makin bernafsu untuk menyudahi pertarungan. Serangan-serangannya makin hebat dan tajam. Dalam waktu sebentar saja sepuluh jurus sudah berlalu. Namun sejauh itu Rangga masih berkelit, dan belum membalas serangan-serangan lawan. Hingga pada saat ujung mata rantai menyatu, meluruk ke arah dada, dengan cepat tangan Pendekar Rajawali Sakti menangkapnya.


"Hih!" Iblis Mata Hang mengerahkan tenaga dalam, dalam usahanya menarik rantainya kembali. Sedikit pun rantai itu tidak bergeming dari genggaman tangan Pendekar Rajawali Sakti. Adu tenaga dalam pun berlangsung. Tiba-tiba Rangga menghentakkan tangannya, lalu melenting ke udara. Secepat kilat dilepaskan rantai baja itu. Tubuh Rangga dengan ringan berlari diatas rantai yang membentang kaku.


"Akh!"


Iblis Mata Elang terkejut ketika tiba-tiba saja kaki Pendekar Rajawali Sakti melayang mengancam kepalanya. Buru-buru dibanting tubuhnya ke tanah. Belum juga hilang rasa terkejut Iblis Mata Elang, secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti meluruk turun. Kakinya bergerak berputar cepat mengarah lawan, Rangga mengeluarkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.


Iblis Mata Elang bergulingan menghindari serangan yang cepat bagai kilat itu. Rangga mendarat di tanah, dan kakinya menginjak rantai. Cepat sekali kaki-kakinya bergerak menyusur rantai mendekati Iblis Mata Elang yang sedang melenting bangun.


"Hiya...!" Rangga berteriak nyaring. Dengan gesit didorong tangannya ke depan, dengan menggunakan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Begitu cepatnya serangan itu, sehingga tidak ada lagi kesempatan bagi Iblis Mata Elang untuk berkelit. Terpaksa disambutnya serangan itu dengan mengadu tangan.


Plak!


"Aaahk!" Iblis Mata Elang menjerit keras. Tubuhnya langsung terpental jauh ke belakang. Keras sekali jatuh bergulingan di tanah. Iblis Mata Elang bukanlah tokoh kosong. Buktinya dengan cepat bisa menguasai diri kembali. Bergegas dia mempersiapkan diri menghadapi serangan yang berikutnya.


Tring!


Iblis Mata Elang mengeluarkan dua senjata yang berbentuk trisula. Kakinya bergeak cepat menyusur tanah sambil mengibas-ngibaskan senjata kembarnya. Pertarungan kembali berlangsung sengit dan dalam jarak dekat Dua senjata trisula berkelebatan memancarkan sinar keperakan mengurung tubuh Pendekar Rajawali Sakti.


Mendapat serangan yang datang bertubi-tubi dan gencar, Pendekar Rajawali Sakti segera mengeluarkan jurus 'Seribu Rajawali'. Seketika itu juga dengan gerakan cepat berkelit ke sana kemari dan berlompatan ke segala arah. Tubuh Rangga seperti berjumlah seribu, mengurung Iblis Mata Elang.


"Setan!" umpat Iblis Mata Elang kebingungan. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Iblis Mata Elang selalu mengenai tempat yang kosong. Bahkan beberapa kali hampir kena sambaran tangan atau pun kaki Pendekar Rajawali Sakti. Mendadak Iblis Mata Hang mengadu senjatanya sendiri. Seketika itu juga direntangkan kedua tangannya. Lalu tubuhnya berputar dengan cepat bagai baling-baling. Tubuh Iblis Mata Elang lenyap dari pandangan mata. Yang terlihat hanya gumpalan warna perak dan hitam jadi satu, berputar cepat seperti gasing.


Rangga jadi mengerutkan keningnya. Sedikit pun dia tidak bisa masuk, bahkan harus hati-hati. Bisa-bisa ujung senjata Iblis Mata Elang merobek tubuhnya. Segera dia melompat keluar dari arena pertarungan.


'"Cakra Buana Sukma'...!" teriak Rangga keras. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti mencabut pedang pusakanya. Lalu tangan kirinya menggosok mata pedang itu dan berhenti tepat di tengah-tengah. Sinar biru yang memancar dari Pedang Rajawali Sakti, segera menggumpal dan meluruk ke arah Iblis Mata Elang yang terus berputar seperti gasing.


Cras..., Cras!


Sinar biru berkilau menggulung tubuh yang berlapis sinar keperakan. Dalam sekejap saja sinar keperakan hilang dari pandangan mata. Kini yang nampak hanya sosok tubuh berpakaian hitam terbalut sinar biru berkilau. Iblis Mata Elang menyatukan senjatanya di depan dada.


"Aaakh...!"


Belum sempat Iblis Mata Elang mengeluarkan ajiannya, mendadak tubuhnya bergetar dan menjerit-jerit keras, lalu ambruk ke tanah meregang nyawa bagai ayam disembelih. Dua senjata trisula telah terlepas dari pegangan tangannya. Rangga memasukkan kembali pedang ke dalam warangkanya setelah tubuh Iblis Mata Elang tidak bergerak lagi.


"Hhh..!" Rangga menarik napas panjang. Perlahan-lahan tubuh Iblis Mata Elang berubah jadi gumpalan tepung hitam. Dua senjata trisula yang terkena ilmu 'Cakra Buana Sukma' juga ikut hancur jadi abu.


Rangga menoleh ke arah Pandan Wangi setelah seluruh tubuh Iblis Mata Elang jadi tepung. Pandan Wangi melangkah menghampiri pendekar muda yang tampan itu.


"Kau tidak apa-apa, Pandan Wangi?" tanya Rangga setelah gadis itu berdiri di depannya.


"Tidak," sahut Pandan Wangi menggeleng.


"Masih tetap berkeras menghadapi sendiri?"


Pandan Wangi menatap Rangga sebentar, lalu kepalanya menggeleng pelan. Wajahnya tertunduk, seperti menyesali sikapnya yang tidak bersahabat pada pendekar muda ini.


"Mari kita tinggalkan tempat ini," ajak Rangga.

__ADS_1


Pandan Wangi tidak menjawab, juga tidak membantah. Diikuti saja langkah Pendekar Rajawali Sakti. Mereka berjalan ke arah matahari terbenam tanpa membuka suara sedikit pun. Gadis itu sesekali mencuri pandang pada wajah tampan di sampingnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Yang jelas, setiap kali melirik wajah tampan itu, mendadak dadanya jadi berdebar keras.


********************


__ADS_2