
Sementara itu pertarungan antara Dimas yang dikerubuti oleh Wira Perakin, Arya Mahesa dan Antasuro terus berlangsung. Di sekitar mereka mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Bau anyir menyebar terbawa angin menusuk hidung. Tidak ada lagi pengikut Wira Perakin yang tersisa hidup. Mereka mati percuma oleh kekuatan yang jelas di atas mereka.
Dalam beberapa jurus, Dimas masih mampu melayani ketiga orang musuh yang selama ini dicarinya. Sedangkan Pandan Wangi yang sudah membereskan sisa-sisa pengikut Wira Perakin dihadang oleh Jaran Kedung saat dirinya hendak melompat menuju bagian depan bangunan itu. Terpaksa Pandan Wangi melayani Jaran Kedung yang memegang senjata berbentuk trisula di tangan kanan dan kirinya.
Lain halnya dengan Rangga, dia bertarung di atas atap melawan Cakala Pati. Jelas terlihat Pendekar Rajawali Sakti itu berada di atas angin. Beberapa kali pukulan dan tendangannya mendarat telak di tubuh Cakala Pati. Adik Wira Perakin itu sama sekali tak memiliki kesempatan untuk bertahan. apalagi menyerang. Dia berusaha mencari celah dan kesempatan untuk melarikan diri.
"Kau tidak bisa kabur, Cakala Pari. Kau harus ****** di sini!" Rangga menggeram seraya mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.
"Huh!" Cakala Pati mendengus sengit Kedua bola matanya jelalatan ke sana kemari berusaha mencari-cari celah untuk melarikan diri.
Cakala Pati melangkah mundur melihat kedua tangan Rangga yang sudah berubah merah membara. Keringat dingin bercucuran membasahi wajah dan lehernya Ketakutan akan kematian yang bakal menjemputnya ter-bayang jelas di wajahnya yang mulai memucat. Dia sudah menyadari benar kalau dirinya tidak akan mampu menghadapi pendekar muda yang kini ada di hadapannya.
"Celaka, mati aku!" gumam Cakala Pati bergetar.
"ampus kau, Iblis...!" bentak Rangga keras.
Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu melompat seraya mengerahkan pukulan mautnya. Cakala Pati segera melompat menghindari sebelum pukulan jarak jauh yang dilontarkan Rangga itu mengenai tubuhnya. Atap tempatnya berpijak hancur berantakan terkena sambaran pukulan Rangga yang teramat dahsyat.
"Hiyaaat...!" Rangga berteriak nyaring.
Seketika itu juga tubuhnya mencelat tinggi ke udara, menyusul Cakala Pari yang masih berada di angkasa saat menghindari pukulan maut Pendekar Rajawali Sakti itu. Kedua tangan Rangga menyentak dengan cepat ke depan. Seketika itu juga sinar merah meluruk deras ke arah Cakala Pati.
"Aaakh...!" Cakala Pati menjerit melengking.
Pukulan maut yang dilepaskan Rangga begitu telak menghantam dada. Tubuh laki-laki tua itu jatuh terjungkal menghantam atap. Secepat kilat Rangga memburu, dan menendang tubuh yang sedang bergulingan itu. Tubuh Cakala Pati meluruk deras kebawah, dan jatuh berdebum di tanah dengan keras. Seketika itu juga nyawanya langsung melayang.
Rangga berdiri tegak di atas atap. Matanya menatap lurus pada Dimas yang kelihatan mulai terdesak. Dugaannya tidak meleset, Dimas tidak akan mampu menandingj tiga orang lawannya yang rata-rata memiliki tingkat kepandaian di atasnya Rangga tidak bisa lagi berdiam diri melihat Dimas yang semakin terdesak saja keadaannya
Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya di udara, meluncur ke bawah, dan bersalto dua kali sebelum mendarat dengan manis di tanah. Sejenak dia terpaku melihat tubuh Dimas yang bercucuran darah.
"Ha... ha... ha...! ampus kau, Bocah Setan!" Wira Perakin tergelak melihat Dimas sudah tidak berdaya lagi.
"Dimas, mundur...!" seru Rangga. Dimas menarik napas panjang melihat Rangga tahu-tahu sudah berdiri di depannya. Semangat anak muda itu tumbuh kembali, lupa dengan rasa sakit dan perih yang menyerang seluruh tubuhnya.
"Bagus! Biar kubuat dendeng kalian semua!" dengus Wira Perakin.
"Tua bangka tidak tahu diri! Kau tidak layak hidup di dunia ini!" sungut Rangga dingin.
"Ha ha ha..!" Wira Perakin tertawa terbahak-bahak.
"Kalian benar-benar tidak bisa mengukur tingginya gunung. Masih bau kencur sudah berani menantang Kala Hitam!" Antasuro mengejek seraya menyemburkan ludahnya.
Rangga menyentakkan tangannya dengan cepat tiga kali ke arah mereka. Suara ledakan keras terjadi begitu cahaya merah yang meluncur dari tangan Rangga menghantam tanah. Tampak tiga lubang menganga begitu debu yang mengepul oleh hantaman itu mulai menipis.
"Kusiapkan kuburan untuk kalian, setan-setan tengik!" geram Rangga.
"He... he... he .... permainan usang!" ejek Wira Perakin.
"Salah-salah, kau sendiri yang menyiapkan lubang kubur!" sambung Arya Mahesa.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang lebih dulu masuk ke liang kubur!" tantang Rangga.
"Ha ha ha...!" tiga orang tua itu serempak tertawa terbahak-bahak.
Dimas menggeram menggeretakkan rahangnya. Dia sudah sangat muak melihat kesombongan tiga orang yang berjuluk Kala Hitam itu. Sementara Rangga melirik Pandan Wangi yang temyata pertarungannya sudah berpindah ke halaman depan.
Pertarungan antara Pandan Wangi dengan Jaran Kedung sudah berlangsung puluhan jurus. Dan tampaknya Jaran Kedung mulai terdesak dengan serangan-serangan Pandan Wangi yang sangat cepat dan berbahaya. Apalagi setelah gadis itu mengeluarkan pedang Naga Geni, pedang pusaka andalannya. Udara di sekitar tempat pertarungan itu menjadi panas oleh pedangnya yang mengeluarkan hawa panas yang semakin lama semakin membakar kulit.
Napas Jaran Kedung tampak mulai tersengal, tak bisa lagi menghirup udara segar untuk tubuhnya. Gerakan-gerakan jurusnya semakin kacau oleh serangan-serangan gencar Pandan Wangi yang sudah membaca keadaannya.
"Awas kaki...!" teriak Pandan Wangi tiba-tiba.
Secepat kilat gadis itu mengibaskan pedangnya ke arah kaki Jaran Kedung, buru-buru Jaran Kedung melompat menghindari tebasan pedang yang datang bagaikan kilat itu. Tapi tanpa diduga sama sekali. Pandan Wangi mengibaskan kipas mautnya yang berada di tangan kiri... Bret!
"Akh!" Jaran Kedung melenting sambil mendekap perutnya yang robek terkena sambaran kipas baja sakti.
Darah mengucur dari perut yang sobek cukup panjang. Jaran Kedung meringis merasakan sakit yang teramat sangat pada luka di perutnya. Dan belum lagi dia sempat menyadari posisi lawannya mendadak Pandan Wangi menusukkan pedangnya kearah dada.
__ADS_1
Tring!
Jaran Kedung beruntung, dia masih bisa menangkis tusukan itu dengan trisulanya. Tapi tak urung tangan Jaran Kedung bergetar hebat, dan senjata yang diandalkannya itu terlontar ke udara, dan belum lagi dia sempat memperbaiki posisinya, kipas Pandan Wangi bagaikan kilat menghantam dadanya dengan telak.
"Ugh!" Jaran Kedung mengeluh pendek.
Selagi tubuh laki-laki itu terjajar ke belakang, Pandan Wangi memekik seraya bersalto di udara. Tepat ketika berada di atas kepala Jaran Kedung, pedang yang memancarkan cahaya merah itu berkelebat cepat.
Jaran Kedung tidak bisa mengelak lagi, pedang pusaka lawannya itu menghantam kepalanya hingga terbelah jadi dua bagian. Jeritan panjang terdengar jelas sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
Pandan Wangi menarik napas panjang sambil memasukkan kembali pedang pusakanya itu ke dalam warangkanya di punggung. Dia berdiri tegak di samping mayat Jaran Kedung. Sebentar dia menatap lawannya yang sudah menjadi mayat, kemudian beralih memandang Rangga dan Dimas yang masih berdiri berhadap-hadapan dengan Wira Perakin, Antasuro dan Arya Mahesa.
Rangga sempat memberikan senyum pada Pandan Wangi yang dibalas dengan manis oleh gadis itu. Dengan langkah tegap, Pandan Wangi menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri berdampingan dengan Dimas. Pandan Wangi berdiri tegak di samping Rangga. Kini imbang jadinya, tiga lawan tiga.
********************
Wira Perakin mengegoskan kepalanya sedikit, memberi isyarat pada dua orang yang mendampinginya. Arya Mahesa dan Antasuro mengerti, mereka lalu menggeser-kan badannya ke samping, menjauhi Wira Perakin. Pandan Wangi dan Dimas juga bergeser mengikuti arah kedua laki-laki tua itu bergerak.
"Hup!"
Wira Perakin melompati tiga lubang berjajar yang dibuat Rangga. Kedua kakinya menjejak tanah dengan tenang hanya sekitar tiga langkah lagi di depan Pendekar Rajawali Sakti itu. Kini dua tokoh sakti itu sudah berhadapan dan saling bertatap muka dengan tajam, seakan tengah mengukur tingkat kepandaian masing-masing.
"Bersiaplah untuk mati, Bocah!" kata Wira Perakin dingin dan datar. Tatapan matanya juga tampak dingin membeku.
"Silakan, aku pun tidak akan sungkan-sungkan mengirimmu ke neraka," balas Rangga tenang.
"Hm..., nyalimu besar juga," suara Wira Perakin terdengar sinis.
Rangga hanya tersenyum.
"Aku beri kau sepuluh jurus. Ayo, serang aku!" bentak Wira Perakin.
"Aku rasa, yang tua sebaiknya lebih dulu menyerang. Biar aku yang muda tidak kelihatan kurang ajar," sambut Rangga tetap tenang, namun nadanya jelas mengejek.
"Berebah! Kau menghinaku, Bocah!"
"Terserah apa maumu!"
"Aku jamin, tiga jurus saja kau pasti roboh!"
"Monyet buduk! ******, kau! Hiyaaa...!"
"Eits!"
Wira Perakin tidak dapat lagi mengendalikan amarah-nya. Telinganya terasa panas mendengar ejekan dan tantangan Rangga. Baru kali ini dia ditantang anak muda yang lebih pantas menjadi anaknya. Wira Perakin langsung menyerang dengan jurus-jurus mautnya, namun sedikit pun dia tidak berhasil menyentuh tubuh lawannya. Jelas sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti itu masih ingin memancing emosi lawannya.
Sementara itu Pandan Wangi juga sudah bertarung dengan Antasuro, dan Dimas menghadapi Arya Mahesa. Pertarungan seru terjadi pada tempat yang tidak berjauhan. Sepertinya mereka tidak ingin jauh dari lubang yang dibuat Rangga untuk mereka yang kalah. Suatu pertarungan hidup dan mati!
Tidak ada lagi kata saling mengejek, tidak ada lagi kata saling menantang. Pertarungan untuk mengenyahkan kesewenang-wenangan, pertarungan untuk membalaskan dendam, dan pertarungan untuk mempertahankan kehormatan dan ambisi.
Meskipun dalam keadaan terluka. Dimas masih mampu menandingi Arya Mahesa, yang tingkat kepandai-annya masih di bawah Wira Perakin dan Antasuro. Semuanya memang, tanpa disadari oleh yang lainnya, sudah diatur oleh Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu memang sudah bisa memperhitungkan ketiga orang lawannya, dan memilihkan Arya Mahesa menjadi lawan Dimas.
Rangga selalu membagi perhatiannya pada Pandan Wangi dan Dimas, meskipun dirinya tengah bertarung hebat dengan Wira Perakin. Dia tidak ingin salah satu di antara mereka masuk lubang yang telah di buatnya sendiri, terutama Dimas, yang melawan Arya Mahesa dalam keadaan tubuhnya yang terluka.
Wira Perakin tidak menyadari kalau Rangga tengah mengeluarkan jurus 'Seribu Rajawali' tingkat pertama Gerakan-gerakannya tampak tidak beraturan seperti orang mabuk kebanyakan minum arak. Namun tetap saja gerakan-gerakannya tidak bisa dipatahkan oleh Wira Perakin, bahkan untuk menjangkaunya pun terasa sulit. Hingga lelaki tua itu merasa geram dibuatnya. Setiap kali Wira Perakin melontarkan pukulan dan tendangan, setiap kali itu pula Rangga bisa mengelakkannya dengan manis, hingga pukulan dan tendangan lawannya hanya menemui tempat kosong.
"Edan!" Wira Perakin mengumpat, pukulan mautnya luput dari sasaran.
"Sudah dua puluh jurus, Setan Tua," kata Rangga mengingatkan, tapi jelas nadanya mengejek. Bibirnya menyunggingkan senyum mengecilkan lawannya.
"Phuih! Jangan besar kepala dulu, Bocah! Tahan aji 'Pukulan Karang'ku!" geram Wira Perakin.
Seketika itu juga Wira Perakin merubah gerakannya. Dan setiap pukulan yang dilepaskannya sungguh berakibat dahsyat. Tembok dan pepohonan di sekitar mereka tumbang dan hancur terkena sambaran dan hantaman pukulan Wira Perakin. Dan Rangga sendiri kerepotan, angin pukulan lawannya membuat tubuhnya sempoyongan.
"Aku harus segera mengakhiri pertarungan ini. Dimas sudah kelihatan terdesak." gumam Rangga dalam hati.
Pendekar Rajawali Sakti itu segera mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Kedua tangannya mulai diliputi cahaya biru berkilauan, lalu terulur ke depan. Wira Perakin yang sudah menerjang dengan aji 'Pukulan Karang'nya tidak bisa menarik tangannya kembali.
__ADS_1
Glarrr...!
Satu ledakan keras terjadi begitu dua pasang tangan bertemu dan beradu kekuatan Wira Perakin sangat terkejut merasakan tangannya seperti membentur perekat yang sangat kuat. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kedua tangannya dari telapak tangan Rangga.
"Uhk! Hiyaaa...!"
Wira Perakin mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melepaskan tangannya, namun semakin dia berusaha keras, semakin kuat saja tangannya menempel pada tangan lawannya, bahkan kini dia merasakan tenaganya mulai tersedot. Dan cahaya biru itu kini mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aaakh...!" Wira Perakin menjerit keras begitu tubuhnya terbungkus sinar biru yang memancar dari kedua telapak tangan Rangga.
"Hih! Hiyaaa...!" tiba-tiba Rangga berteriak keras.
Seketika itu juga dia menyentakkan tangannya dan tubuh Wira Perakin terjungkal ke belakang. Tanpa ampun lagi tubuh laki-laki tua itu terjatuh ke dalam lubang yang disiapkan Pendekar Rajawali Sakti. Darah kental kehitaman merembes keluar dari mulut dan hidungnya.
"Oh, akh!"
Pelan-pelan Wira Perakin berusaha bangkit, tapi Rangga cepat menekan dada lelaki itu dengan kaki kanannya. Kembali tubuh laki-laki tua itu telentang dalam lubang. Wajah Wira Perakin pucat pasi membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Kini dia benar-benar tak berdaya, tenaganya tersedot habis oleh aji 'Cakra Buana Sukma'.
Tepat pada saat itu, Pandan Wangi memekik keras sambil melenting tinggi ke udara. Pedang Naga Geni dia kibaskan dengan cepat, dan...
"Aaakh...!" Antasuro menjerit sambil mendekap dadanya yang hampir terbelah oleh pedang yang membabatnya.
Pandan Wangi melayangkan kakinya menghantam dada Antasuro, tubuh laki-laki itu mental dan ambruk ke tanah. Pandan Wangi cepat memburunya, dengan kaki kirinya dia menendang, hingga tubuh Antasuro terguling masuk ke dalam lubang. Sebentar tubuh orang tua itu menggelepar, lalu terdiam kaku. Pandan Wangi berdiri tegak di samping lubang yang sudah terisi. Bibirnya menyunggingkan senyum di antara pipi dan lehernya yang bersimbah keringat.
"Kenapa tidak kau bunuh saja dia, Kakang" tanya Pandan Wangi melihat Wira Perakin masih bernapas satusatu.
"Biar Dimas yang melakukannya," sahut Rangga tersenyum.
Pandan Wangi mengalihkan perhatiannya pada Dimas yang masih bertarung menghadapi Arya Mahesa. Agak cemas juga gadis itu melihat Dimas jatuh bangun terdesak terus. Tapi.. Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba saja keadaannya jadi terbalik.
Kibasan-kibasan pedang Dimas kini lebih terarah, dan selalu mengincar bagian-bagian tubuh lawannya yang lowong. Pandan Wangi jadi tersenyum geli begitu melihat bibir Rangga bergerak-gerak, dan gadis itu segera mengerahkan ilmu pendengaran jarak jauh. Mula-mula hanya samar-samar saja terdengar, tapi kemudian jadi jelas. Rangga mengirimkan petunjuk untuk melumpuhkan Arya Mahesa pada Dimas dengan ilmu 'Pemindah Suara' yang sungguh hebat sehingga orang yang tidak dituju tidak dapat mendengarnya.
Keadaan yang berbalik ini benar-benar membuat Arya Mahesa serba salah dan takut, apalagi melihat Wira Perakin dan Antasuro sudah terbujur di dalam lubang, juga melihat Rangga dan Pandan Wangi, yang mungkin akan menggilirnya setelah Dimas, dengan ilmu kesaktian tingkat tingginya. Arya Mahesa benar-benar goyah, kepercayaan dan keberaniannya musnah sudah.
"Kini giliranmu Setan! Yeaaah...!" teriak Dimas.
Tubuh Dimas melompat, lalu dengan cepat menukik ke bawah. Sambil menjatuhkan diri, Arya Mahesa menangkis pedang Dimas, namun tanpa diduga sama sekali, kaki Dimas menjejak keras dadanya.
"Aaahhh...!" Arya Mahesa merasa dadanya sesak sekali.
Dan Dimas tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia langsung menusukkan pedangnya ke leher Arya Mahesa, dan mengoyaknya hingga robek lebar. Darah langsung muncrat menyembur ke luar. Dengan gemas dan dendam yang meluap di dada, Dimas menendang tubuh Arya Mahesa yang sudah tidak bemyawa itu ke dalam lubang yang tersisa.
Mata anak muda itu mendelik ketika menghampiri Rangga dan melihat Wira Perakin masih hidup, menggeletak tak berdaya di dalam lubang.
"Kenapa kau masih biarkan dia hidup?" tanya Dimas.
"Kau mencari-cari orang ini, kan? Nah! Sekarang dia kuserahkan padamu dalam keadaan hidup," sahut Rangga tenang.
Dimas hanya bisa memandang Rangga sesaat lalu beralih pada Pandan Wangi.
"Terserah, apa yang akan kau lakukan padanya. Aku sudah menepati janjiku untuk menyerahkannya hidup-hidup padamu," kata Rangga lagi.
Dimas mendekati lubang yang diisi oleh tubuh Wira Perakin itu, lalu membungkukkan badannya. Dimas kemudian mengangkat dan menarik keluar tubuh orang itu. Wira Perakin sempoyongan dan jatuh terduduk.
"Hm..., hari ini akhir dari segala penderitaan dan dendam kesumatku, Perakin! Kematian terlalu mudah bagimu! Kau tidak pernah merasakan bagaimana hidup dengan penderitaan. Aku ingin semua orang di desa ini melihatmu tetap hidup! Dengan kesengsaraan dan penderitaan seperti mereka, bahkan lebih nista dan abadi seumur hidupmu!" Dimas melampiaskan gejolak di dadanya, "Berdiri kau, Wira Perakin! Berdiri...!"
Wajah Wira Perakin pucat dan tubuhnya gemetar. Dia tidak tahu hukuman apa yang diterimanya dari Dimas, hanya samar-samar dia mendengar... penderitaan seumur hidup! Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, dan....
Bug!
Cras!
"Aaakh...!" Wira Perakin mengerang tertahan, lalu ambruk pingsan. Tangannya menutupi bagian bawah pusarnya yang bersimbah darah. Satu tendangan keras di dadanya, dan sabetan pedang pada alat vitalnya membuktikan kenyataan seperti yang diucapkan Dimas... penderitaan seumur hidup yang tak terperikan!
********************
Rumah besar yang pemah ditempati Wira Perakin itu tampak meriah. Sepasang pengantin duduk ditikar..., irama kehidupan yang baru kini mulai membentang. Wajah Dimas dan Wulan tampak cerah dan berseri-seri. Secerah hati penduduk yang baru terbebas dari belenggu penderitaan, dan kesewenang-wenangan. Meski semua itu ditebus dengan bersimbahnya darah, darah keangkaramurkaan dan kesatriaan yang berbaur jadi satu.
__ADS_1
SELESAI
SELANJUTNYA JAGO-JAGO BAYARAN