
Matahari belum lagi condong ke Barat, ketika utusan Wira Perakin itu tiba. Rombongan itu terdiri dari delapan orang, dan dipimpin oleh Jaran Kedung. Wajah-wajah mereka tampak kasar dan bengis.
Ki Sukirah menyambut mereka dengan tergopoh gopoh. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk merendahkan dari. Sedang-kan Nyi Sukirah hanya memandangjnya dari ambang pintu. Wajah perempuan itu jelas memancarkan ketakutan yang teramat sangat. Kedatangan delapan orang berkuda itu menunjukkan Wira Perakin tidak main-main dengan niat-nya mengambil Wulan. Dan kedatangan mereka pastilah karena penguasa desa itu menginginkan ketetapan waktu pelaksanaannya.
"Oh, silakan. Silakan Tuan-tuan ke dalam," sambut Ki Sukirah membungkuk hormat.
"Hm...," Jaran Kedung mendengus sombong.
Laki-laki bertubuh tinggj kekar itu mdompat turun dari punggung kuda, dan ketujuh orang lainnya pun mengikuti-nya. Jaran Kedung melangkah tegap mengikuti Ki Sukirah yang berjalan mendahuluinya. Sementara Nyi Sukirah sudah menghilang dari ambang pintu.
Hanya dua orang yang mengikuti Jaran Kedung masuk ke dalam rumah. Ki Sukirah duduk bersila didampingi istrinya. Sementara kebga orang utusan Wira Perakin itu duduk di kursi. Berbeda dengan istrinya yang tampak begitu cemas, Ki Sukirah seolah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. Ucapan dan sikap Wulan telah menyadarkan dirinya untuk tidak menyerah begitu saja pada nasib yang akan menimpanya.
"Aku datang atas perintah Gusti Wira Perakin. Beliau menginginkan perkawinannya dengan putrimu dipercepat," kata Jaran Kedung membuka suaranya lebih dulu.
Ki Sukirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan istrinya semakin mengkeret ketakutan. Nyi Sukirah gelisah dan duduk dengan sikap yang serba salah. Tatapan matanya tak lepas dari lantai di seputar dia duduk, tak berani dia menatap tamu-tamu yang tidak diharapkan kedatangannya ini
"Kau harus memutuskan sekarang juga, kapan perkawinan itu akan dilaksanakan!" sambung Jaran Kedung.
"Maaf, Gusti Jaran Kedung. Bukannya aku tidak menghormati. Gusti Wira Perakin. Tapi aku gagal membujuk anakku," sahut Ki Sukirah pelahan.
"Ki Sukirah!" sentak Jaran Kedung keras. Urat-urat matanya berkerut dengan tatapan yang tajam.
"Sekali lagi, aku mohon maaf. Anakku telah punya calon piihannya sendiri, dan...."
"Phuih!" dengus Jaran Kedung memotong ucapan lelaki tua itu. Dia berdiri bertolak pinggang mendekati Ki Sukirah dan istrinya. "Aku tidak peduli anakmu mau atau tidak! Tujuh hari lagi kau harus menyerahkan anakmu! Aku yang akan menjemputnya!"
"Tapi, Gusti...."
"Tidak ada alasan! Gusti Wira Perakin telah menyiapkan pesta perkawinannya dengan anakmu, dan Gustiku telah mengundang kerabat kerabatnya'"
Jaran Kedung langsung melangkah keluar diikuti dua orang pengawalnya. Ki Sukirah tergopoh-gopoh beranjak ke luar membawa kotak kayu berisi perhiasan tanda pinangan Wira Perakin pada putrinya.
"Gusti...." panggil Ki Sukirah.
Langkah Jaran Kedung tertahan. Tubuhnya urung meloncat ke atas punggung kudanya. Dia membalikkan wajahnya memandang Ki Sukirah yang menghampirinya.
"Aku mengembalikan ini pada Gusti Wira Perakin," kata Ki Sukirah menyodorkan kotak kayu berukir itu.
Jarang Kedung mendelik geram. Dia membalikkan tubuhnya dan segera merampas kotak kayu itu dari tangan lelaki tua yang ada di hadapannya. Kemudian dia mengegoskan kepalanya sedikit sebelum naik ke punggung kudanya. Dua orang bertubuh kekar yang tadi mengikutinya langsung mendekati Ki Sukirah.
Sret!
Hampir bersamaan dua orang itu mencabut goloknya yang terselip di pinggang. Ki Sukirah terkejut, dia melangkah mundur dengan tubuh agak gemetar. Dua buah golok itu berkilatan tertimpa sinar matahari. Pelahan-lahan dua orang itu menghampiri Ki Sukirah yang terus melangkah mundur. Tubuh lelaki tua itu mulai basah oleh keringat.
"Orang tua bodoh! Mau dikasih enak, malah minta penyakit!" dengus salah seorang.
Ki Sukirah tersentak begitu salah seorang lainnya melompat sambil mengibaskan goloknya. Ki Sukirah berkelit sedikit. Ilmu olah kanuragan yang pernah sedikit dipelajarinya kini tidak percuma. Tebasan golok itu hanya menyambar angin. Bahkan tanpa diduga sama sekali, kaki kanan Ki Sukirah melayang cepat menghantam bagian perut penyerangnya.
"Hugh!" orang itu mengeluh pendek.
Orang bertubuh tinggi besar itu melangkah mundur dua tindak, bibirnya menyeringai dan matanya menatap tajam Ki Sukirah.
"Minggir...!" mendadak Jaran Kedung melompat cepat dan punggung kudanya.
Tangannya memutar mutar tambang di samping kanannya. Sepasang kakinya bergerak menyusur tanah mengitari Ki Sukirah, dan tujuh orang lainnya segera ber-lompatan mengurung tubuh lelaki tua itu.
Wuuut..!
Jaran Kedung mengebutkan tambangnya. Ki Sukirah segera berkelit menghindari ujung tambang. Namun tambang itu bagai bermata, ujungnya meliuk liuk mengikub ke mana lelaki tua itu berkelit menghindar.
Ki Sukirah memang bukan tandingan Jaran Kedung. Dalam beberapa gebrakan saja, tambang itu berhasil membelit pergelangan tangannya. Ki Sukirah kuat tenaga berusaha melepaskan belitan itu, namun ujung tambang satunya segera menyambar pergelangan tangan kinnya Jaran Kedung membetot keras, dan tubuh Ki Sukirah tersentak jatuh bergulingan di tanah.
"Hiyaaa...!" Jaran Kedung berteriak kencang.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, tubuhnya berlompatan mengitari tubuh Ki Sukirah yang bergulingan di tanah. Tambang di tangan Jarang Kedung membelit kedua ngan lelaki tua itu. Gerakan tubuh Jaran Kedung lalu terhenti. Dia berdiri tegak memegangi satu ujung tambang. Matanya tajam menatap Ki Sukirah yang telentang di tanah dengan kedua tangan terikat.
"Seret orang ini!" perintah Jaran Kedung. Dia melemparkan tambang yang dipegangnya pada salah seorang yang terdekat.
Orang yang menangkap tambang itu segera melompat ke punggung kuda. Ki Sukirah ikut tersentak ketika kuda digebah dengan kencang. Tapi tiba-tiba.
Tasss!
Tambang yang mengikat kedua tangan Ki Sukirah itu terputus. Dan bersamaan dengan itu pula sebuah bayangan putih berkelebat cepat menyambar Ki Sukirah, langsung dibawanya tubuh laki-laki itu ke beranda rumah. Beberapa saat Jaran Kedung dan orang-orangnya hanya bisa terperangah kaget.
Nyi Sukirah menghambur ke luar, menubruk tubuh suaminya. Di belakang perempuan itu, berdiri seorang gadis ayu berbaju biru muda dengan isak tangi tertahan.
"Ayah...," isak Wulan langsung berlutut.
Wulan mendongakkan kepalanya memandangi pemuda tampan berbaju rompi putih yang tengah berdiri di dekat ayahnya yang terbaring. Di punggungnya tersandang pedang bergagang kepala burung. Sinar matanya tajam tapi menyiratkan kearifan.
Pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu tak lama beradu pandang dengan anak gadis Ki Sukirah. Dia lalu membalikkan badannya dan menatap tajam Jaran Kedung dan orang-orangnya. Kedelapan orang itu sudah menghunus pedangnya masing-masing. Tampak Jarang Kedung menggeram menahan amarah.
"Siapa kau, berani mencampuri urusanku?!" Jaran Kedung menyentak.
"Kau tak perlu tahu siapa aku," sahut Rangga dingin.
"Gembel busuk! Buka matamu lebar lebar dengan siapa kini kau berhadapan?"
"Aku tahu, kau adalah orang yang tak pantas hidup di dunia."
"Setan belang! Bunuh gembel busuk itu!" teriak Jaran Kedung gusar.
Serentak tujuh orang anak buahnya berlompatan mengurung Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu tampak tenang menghadapi musuh musuhnya dia hanya melompat ringan menjauhi beranda. Kedua matanya tajam merayapi tujuh orang yang bergerak memutari sambil membuka jurus-jurusnya
"Seraaang...!" perintah Jaran Kedung keras.
Serentak ketujuh orang bersenjata pedang itu menerjang Rangga. Sinar keperakan dari pedang itu ber-kelebat cepat menyambar dan memburu tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu dari setiap sudut. Rangga dengan manis dan lincah menghindari setiap serangan yang datangnya beruntun.
"Huh! Mereka tidak boleh dibiarkan keenakan menyerangku!" dengus Rangga dalam hati.
Dua orang itu langsung menggelepar dengan dada melesak ke dalam. Dari mulut dan hidungnya mengucur darah segar. Kelima orang lainnya, tak terkecuali Jaran Kedung, terperangah takjub menyaksikan pukulan itu. Belum hilang perhatian mereka dari kejadian itu, mendadak Rangga bergerak cepat seraya melontarkan beberapa pukulan.
Jeritan dan erangan panjang terdengar saling sahut menyahut Tubuh tubuh itu menggelepar tak berdaya lalu satu per satu nyawa mereka melayang dari badan. Jaran Kedung yang menyaksikannya melompat mundur beberapa langkah. Rangga berdiri tegak memandangi dengan sorot mata yang tajam bagai burung rajawali.
"Sekarang giliranmu, lblis!" geram Rangga.
"Phuih!" Jaran Kedung menyemburkan ludahnya.
Perlahan-lahan Rangga mendekati, kedua tangannya yang berwarna merah menyala terkepal erat.
"Hiyaaa...!" teriakan Rangga terdengar melengking tinggi.
Bersamaan dengan itu, kedua tangannya menghentak ke depan, sinar merah meluncur deras ke arah Jaran Kedung. Anak buah Wira Perakin itu menghindar dengan cepat, hingga sinar merah itu melesat mengenai sebuah pohon besar di belakang Jaran Kedung. Ledakan keras begitu jelas terdengar memekakkan telinga, lalu disusul robohnya pohon besar itu. Jaran Kedung terpana menyaksikan pohon besar itu hancur berkeping-keping, nyalinya pun mulai surut.
Belum lagi hilang rasa kagetnya, mendadak Rangga sudah melontarkan lagi pukulan jarak jauhnya. Jaran Kedung cepat menyadari keadaan, dia berlompatan meng-hindari pukulan yang mulai datang bertubi-tubi.
"Gila! Aku tak mungkin bisa menandingi orang ini," dengus Jaran Kedung dalam hati.
Tepat ketika Rangga melesat hendak menerjangnya, Jarang Kedung langsung melompat dan menggebah punggung kudanya. Rangga berdiri tegak memandangi kepergian Jarang Kedung yang sudah hilang keberaniannya itu, dan tidak berniat mengejarnya.
Pendekar Rajawali Sakti itu menoleh ketika mendengar suara langkah langkah kaki menghampiri dari belakang. Tampak Ki Sukirah bersama istri dan anaknya berlarian menghampiri. Mereka berhenti di depan pendekar muda itu. Sejenak Rangga memandang dua orang yang mem-bungkuk memberi hormat padanya, lalu tatapannya beralih pada seorang gadis ayu yang hanya berdiri tegak me-mandangnya dengan sinar mata yang aneh.
"Terima kasih, Tuan Pendekar," ucap Ki Sukirah.
"Tapi, sebaiknya kau cepat tinggalkan desa ini," sambung Wulan.
"Wulan...!" sentak Nyi Sukirah tertahan.
__ADS_1
"Tua bangka itu pasti marah. Lebih-lebih tujuh orangnya mati di sini," kata Wulan lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini! Maksudku, kenapa Bapak sampai disiksa mereka?" Rangga bertanya sopan. Bibirnya menyunggingkan senyuman ramah.
"Ini adalah persoalan pribadi, dan kau tidak perlu ikut campur. Terima kasih atas pertolonganmu!" Wulan yang menyahut, nada suaranya terdengar ketus dan tak senang.
Rangga mengernyitkan keningnya. Matanya agak menyipit memandang gadis manis di depannya. Sungguh baru kali ini dia menemui sikap seorang gadis yang seperti itu, sikap yang tak ramah bahkan menjurus kasar.
Rangga menarik napas panjang, wajahnya pun kembali menyiratkan keramahan "Baiklah, maafkan kalau aku telah mencampuri urusan kalian, aku permisi."
Rangga berbalik dan segera melangkah pergi. Dalam sekejap saja tubuh pendekar muda itu lenyap di balik pepohonan. Ki Sukirah dan istrinya memandangi ke arah mana tubuh anak muda yang telah menolongnya itu berlalu. Lalu hampir berbarengan keduanya menoleh ke arah Wulan. Sinar mata mereka menunjukkan kedongkolan karena merasa malu atas sikap anak gadisnya.
"Keterlaluan kau, Wulan!" bentak Ki Sukirah tertahan.
"Aku tidak percaya dia orang baik-baik. Ayah. Bisa saja dia pura-pura menolong, tapi menyimpan maksud tertentu yang kita tidak tahu," sahut Wulan mempertahankan sikapnya.
"Tapi tidak seharusnya kau bersikap begitu, dia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk membela ayahmu," tandas Nyi Sukirah.
"Kalau hanya menghadapi begundal-begundal Itu, aku rasa Kakang Dimas juga bisa. Bahkan si Wira Perakin itu tak akan mampu menghadapi Kang Dimas!" ada nada kebanggaan pada suara Wulan.
"Ah! Sudahlah, Wulan. Kau terlalu berharap dia pulang. Dimas tidak akan kembali lagi ke sini, dia tengah pergi menuntut balas pada nasib kakaknya yang diperkosa dan dibunuh oleh orang-orang yang dia sendiri tidak tahu ke mana harus mencarinya," kata Ki Sukirah menenangkan gejolak hati anak gadisnya.
Wulan memberengut kesal, laki berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Ucapan ayahnya telah mematah-kan harapannya akan kedatangan Dimas, lelaki muda dan gagah tambatan hatinya. Ki Sukirah menggeleng-gelengkan kepalanya pelahan, dia menyadari benar kalau anak gadis-nya telah terpikat daya asmara, suatu daya yang membuat dia dan istrinya dalam keadaan sulit, yaitu ancaman dari Wira Perakin dan kaki tangannya.
Suami istri itu beberapa saat lamanya hanya diam terpaku. Sinar matahari yang panas menyengat seolah menyadarkan mereka, bahwa masih banyak yang harus mereka kerjakan, termasuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan di hadapan mereka.
********************
Brak!
Satu kepalan tangan menggebrak meja dengan keras. Bola mata Wira Perakin merah menatap Jaran Kedung yang berdiri tertunduk di depannya. Belum pemah ada orang yang berani menentangnya. Belum ada seorang gadis pun yang menolak pinangannya! Dan laporan Jaran Kedung akan penolakan anak gadis Ki Sukirah benar-benar membuatnya murka!
"Seharusnya kau tidak perlu kembali, Jaran Kedung. Aku lebih suka melihatmu mati bersama yang lain!" dingin dan datar suara Wira Perakin.
"Ampun, Gusti. Orang itu amat sakti, hamba tidak sanggup menandinginya," sahut Jaran Kedung bergetar.
"Siapa dia?"
"Orangnya masih muda, Gusti. Ada pedang bergagang kepala burung di punggungnya. Rambutnya panjang terikat, dan berbaju rompi putih. Rasanya hamba belum pernah bertemu dia sebelumnya, Gusti."
Wira Perakin memandang laki laki tua berbaju merah yang duduk di samping kanannya, seorang laki-laki tua dengan rambutnya yang memutih dan di tangan kanannya tergenggam tongkat hitam berkepala bundar. Tampak bulatan hijau bercahaya di kepala tongkat itu. Raut wajah orang itu menampakkan kekalutan dan juga kebengisan.
"Demung Pari, kau cari anak muda itu. Bawa kepalanya ke sini," perintah Wira Perakin.
"Hamba laksanakan, Gusti," jawab laki-laki berbaju merah yang dipanggil Demung Pari itu. Dia segera bangkit berdiri dan membungkuk hormat.
Demung Pari menatap Jaran Kedung yang tetap berdiri menundukkan kepala. Kemudian dia memandang dua orang lainnya yang berdiri di belakang Jaran Kedung.
"Kalian bertiga ikut aku!" kata Demung Pari.
Ketiga orang itu membungkuk memberi hormat, lalu bergegas mengikuti langkah Demung Pari. Wira Perakin menjatuhkan tubuhnya di kursi sepeninggal mereka. Matanya memandangi empat orang yang masih terduduk di kursi.
"Kebo Rimang," panggil Wira Perakin.
"Hamba Gusti," sahut laki-laki bertubuh tinggi besar.
Wajahnya penuh berewok kasar dengan sebelah matanya terdapat luka gores memanjang hingga ke pipi. Kakinya terbungkus celana hitam sebatas lutut Dadanya yang ter-buka lebar, memamerkan bulu-bulu kasar yang hitam pekat.
"Kau pergi ke rumah Ki Sukirah! Bawa orang tua itu ke sini. Ingat! Jangan sakiti dia dan bawa dengan cara baik-baik," perintah Wira Perakin lagi.
"Baik, Gusti," sahut Kebo Rimang seraya bangkit berdiri.
"Bawa beberapa orang, sediakan kuda untuk Ki Sukirah."
__ADS_1
Wira Perakin menarik napas panjang, kemudian bangkit berdiri. Kakinya terayun ringan mendekati pintu depan. Rasa cemas dan dongkol berbaur jadi satu di benaknya. Hal itu tersirat pada wajahnya yang berkerut tegang.
********************