
Nyi Rongkot menggeram sambil berusaha bangun. Ular naga merah jelmaan tongkat sakti miliknya sudah kembali ke bentuk asalnya. Kibasan sayap burung rajawali raksasa membuat seluruh tubuhnya nyeri. Seluruh tulang-tulang tubuhnya bagaikan remuk Tertatih-tatih dihampiri tongkat saktinya yang menggeletak di tanah.
Mata perempuan tua itu memandang ke sekitar Lembah Bunga Bangkai. Kegelapan masih menyelimuti sekitarnya. Kabut tebal bergulung-gulung membuat udara bertambah dingin. Lagi-lagi dia menggeram begitu menyadari Ki Rangkuti dan kedua sahabatnya sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.
“Sial, dasar pengecut!” dengus Nyi Rongkot.
Merasa tidak ada gunanya lagi berlama-lama di lembah yang selalu menyebarkan bau busuk ini, perempuan tua itu mengayunkan kakinya pergi. Digunakannya ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah tidak tampak lagi tertelan kabut tebal.
Ular betina itu tidak tahu kalau Ki Rangkuti masih belum jauh dari tempat pertarungan tadi. Ki Rangkuti yang didampingi dua sahabatnya bersembunyi di balik batu besar agak jauh dari arena pertarungan ketika Nyi Rongkot mengeluarkan ilmu ‘Naga Merah'. Mereka tidak ingin mati konyol terkena keganasan ilmu 'Naga Merah’.
“Luar biasa...” gumam Dewa Pedang Emas menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dunia persilatan bakal hancur kalau tidak ada yang bisa menandingi ilmu Naga Merah,” sambung Bayangan Malaikat.
“Pedang Emasku juga belum tentu bisa menandinginya,” ujar Dewa Pedang Emas jujur.
“Ya, Sepuluh orang seperti kita pun belum tentu bisa menandingi kehebatan ilmu itu,” sambung Bayangan Malaikat.
Tiba-tiba kedua orang itu terdiam. Mata mereka langsung menatap Ki Rangkuti yang sejak tadi hanya terdiam dengan pandangan kosong ke depan. Merasa dirinya dipandangi Kepala Desa Jatiwangi itu menoleh sambil menarik napas panjang.
“Aku yakin, anak muda itu pasti Pendekar Rajawali Sakti,” pelan suara Ki Rangkuti terdengar.
“Apakah dia mati?” tanya Bayangan Malaikat yang sudah tahu siapa anak muda itu ketika telah mengeluarkan pedang berwarna biru berkilau
“Entahlah,” desah Ki Rangkuti.
“Aku juga telah mendengar sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti. Ternyata berita yang kudengar bukan isapan jempol belaka,” Dewa Pedang Emas bergumam.
“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini,” ajak Ki Rangkuti.
Tanpa banyak bicara lagi mereka segera melangkah meninggalkan Lembah Bunga Bangkai. Mereka berjalan biasa tanpa mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Tak ada yang bicara sampai tiba di luar batas lembah yang berbau busuk itu.
“Sebentar!” tiba-tiba Dewa Pedang Emas berhenti melangkah.
“Ada apa?” tanya Ki Rangkuti seraya berhenti melangkah.
“Apa tidak sebaiknya kita datangi saja manusia liar Buto Dungkul?” Dewa Pedang memberi usul.
“Jangan,” sergah Bayangan Malaikat. “Keselamatan Sekar Telasih lebih penting daripada manusia liar itu.”
“Benar. Apapun yang terjadi Sekar Telasih tidak boleh jatuh ke tangan Buto Dungkul. Apa lagi sampai ke Nyi Rongot meskipun ibu kandungnya sendiri,” Ki Rangkuti menyetujui kata-kata Bayangan Malaikat.
“Jangan-jangan Ular Betina langsung ke Desa Jatiwangi,” gumam Ki Rangkuti.
“Celaka! Kita harus cepat ke sana sebelum terlambat!” seru Bayangan Malaikat.
“Kalian berdua saja ke sana aku akan ke Hutan Gading,” kata Dewa Pedang Emas.
“Mau apa kau ke sana?” tanya Ki Rangkuti.
“Aku ingin coba kehebatan manusia liar itu,” sahut Dewa Pedang Emas.
“Gila! Apa kau sudah tidak pikir dua kali Dewa Pedang Emas?” ujar Bayangan Malaikat kaget.
“Aku belum pernah punya persoalan dengan Buto Dungkul. Kini, aku akan membuat persoalan dengannya. Hal ini untuk memecahkan perhatiannya terhadapmu Rangkuti,” kata Dewa Pedang Emas.
“Kau akan sia-sia Dewa Pedang Emas,” kata Ki Rangkuti terharu.
“Tidak ada yang sia-sia dalam hidup. Aku akan tersenyum puas meskipun hanya mencederai sedikit saja.”
Bayangan Malaikat akan membuka mulut hendak mencegah kenekatan Dewa Pedang Emas tapi cepat dikatupkan lagi mulutnya. Dewa Pedang Emas sudah memberi isyarat dengan menggoyang-goyangkan telapak tangannya.
“pergilah. Mudah-mudahan kalian bisa menyelamatkan Sekar Telasih,” kata Dewa Pedang Emas.
Setelah berkata demikian Dewa Pedang Emas segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Dalam sekejap mata saja ia sudah berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Cukup tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki sehingga dalam waktu yang singkat hanya terlihat titik punggungnya saja di kejauhan. Ki Rangkuti mendesah berat setelah bayangan tubuh Dewa Pedang Emas tidak terlihat lagi.
“Nekad! Aku tidak yakin dia mampu mengalahkan Buto Dungkul,” dengus Bayangan Malaikat setengah bergumam.
“Kita doakan semoga selamat,” sahut Ki Rangkuti.
“Ayo, kita harus cepat sebelum terlambat!”
“Mari.”
********************
Bagaimana dengan nasib Pendekar Rajawali Sakti yang dapat dikalahkan oleh Ular Betina? Burung Rajawali raksasa membawanya pergi, langsung menuju ke lembah Bangkai tempat Rangga yang kini bergelar Pendekar Rajawali Sakti digembleng selama dua puluh tahun.
Burung Rajawali Sakti itu memandangi tubuh Rangga yang tergolek pingsan di atas batu pipih di dalam goa lembah Bangkai. Di dadanya tergambar dua tapak tangan berwarna merah. burung raksasa itu menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar kemudian paruhnya ditotok ke beberapa bagian tubuh Rangga. Sedangkan pedang pusaka Rajawali Sakti tergeletak di sampingnya.
Kemudian dengan cakarnya digenggamnya tubuh Rangga. Suaranya terdengar lirih. Sayapnya terkepak tubuhnya yang besar terangkat naik. Burung rajawali raksasa itu membawa Rangga masuk lebih ke dalam goa besar yang pengap dan gelap.
Sampai pada satu relung yang luas, burung rajawali itu berhenti. Rangga diletakkan di atas tanah berpasir dan berbatu-batu kerikil. Di sebelahnya tampak sebuah kolam berisi air yang berwarna kebiru-biruan bergolak mendidih. Suaranya terdengar gemuruh disertai letupan-letupan kecil.
“Arggg,” burung rajawali raksasa mengeluarkan suara lirih.
Dengan paruhnya dia menggusur tubuh Rangga mendekati kolam mendidih. Air muncrat ke atas ketika tubuh Rangga tercebur ke dalam kolam. Rangga langsung tenggelam bersamaan dengan menggelegaknya air. Suaranya semakin terdengar bergemuruh keras. Seketika itu juga permukaan air menjadi berubah-ubah warnanya.
Agak lama juga Rangga tenggelam di dalam kolam mendidih itu. Kemudian perlahan-lahan permukaan air kolam itu menjadi tenang. Setenang kolam biasa dan tidak lagi bergolak mendidih. Perlahan-lahan Rangga muncul terangkat ke permukaan. Tampak seluruh tubuhnya berkilau bagai tersiram cahaya. Aneh! Pakaiannya pun jadi lebih bersih dan terang warnanya.
Beberapa saat Rangga terapung-apung di permukaan kolam. Kemudian perlahan-lahan bergerak ke tepi. Kelopak mata pendekar muda itu masih terpejam rapat Sampai di tepi perlahan-lahan tubuhnya terangkat naik, lalu melayang ke luar dari kolam yang kini jadi tenang.
Begitu Rangga sudah berada di atas batu pipih di samping kolam air kolam kembali bergolak mendidih.
Dan warnanya yang semula jernih kini kembali jadi biru bercahaya. Burung rajawali raksasa berjalan menghampiri. Paruhnya kembali bergerak cepat menotok bagian-bagian tubuh Rangga.
“Oooh...!” Rangga menggerak-gerakkan kepalanya.
Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. Dia segera bangkit duduk ketika melihat burung rajawali raksasa ada di sampingnya. Sebentar Rangga mengedarkan pandangannya. Bibirnya tersenyum setelah mengenali tempat itu.
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku,” ucap Rangga berbisik.
Burung rajawali raksasa itu berkaokan gembira. Dia mendesak-desakkan kepalanya. Rangga memeluk, membelai-belai penuh kasih. Ingatannya kembali pada pertarungannya melawan Ular Betina. Setinggi-tingginya ilmu pasti masih ada yang lebih tinggi lagi. Batinnya berkata sendiri.
Rangga memandangi burung rajawali raksasa yang berjalan lambat mendekati dinding goa itu. Dengan paruh didorongnya sebuah batu yang menonjol. Batu itu terdorong masuk ke dalam. Tampak sebuah rongga yang cukup besar di dinding. Paruh burung rajawali raksasa itu masuk ke dalam sebentar ke luar kembali.
Kini di ujung paruhnya terjepit sebuah buku kumal berwarna merah. Rajawali raksasa itu kembali menghampiri Rangga dan menyerahkan buku di paruhnya.
Rangga membolak-balikkan buku itu. Dibukanya selembar demi selembar. Ternyata buku itu berisi dua macam ilmu yang belum pernah dipelajarinya. Yang pertama ilmu pedang Pemecah Sukma. Dan yang kedua ilmu kesaktian Cakra Buana Sukma.
__ADS_1
“Hm satu ilmu yang dipecah jadi dua bagian,” gumam Rangga. “Aku harus bisa menguasai dan menyatukan kembali.”
“Kraaagh... !”
“Ah, kau setuju aku menyatukan kedua ilmu itu?”
Rajawali itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Beri aku petunjuk Rajawali Sakti.”
“Argh!”
“Baiklah. Mungkin kau tidak mengerti ilmu ini. Aku akan mempelajarinya sendiri.”
Rajawali itu mengepak-ngepakkan sayapnya. Kedua bola matanya berbinar-binar sepertinya bisa mengerti apa yang diucapkan Rangga.
“Aku akan memulainya sekarang!”
********************
Sementara itu di Desa Jatiwangi, suasananya tampak tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat berjalan cepat menuju ke rumah Kepala Desa Jatiwangi itu. Suasana rumah yang tampak sunyi membuat jantung laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu jadi berdetak cepat. Tidak ada seorangpun yang kelihatan di sana.
Tapi kekhawatirannya yang sekejap itu hilang ketika melihat seorang gadis cantik muncul di depan pintu. Gadis itu melangkah ke luar menghampiri kedua laki-laki yang memang sedang menuju ke sana. Di pintu muncul lagi seorang pemuda tampan yang juga langsung ke luar. Satu lengannya terbalut kain putih yang rapi. Dialah Darmasaka putra kepala desa.
“Sekar Telasih...,” desah Ki Rangkuti begitu gadis cantik itu sudah berdiri di depannya.
“Ayah dari mana saja semalam?” tanya Sekar Telasih manja.
Ki Rangkuti tidak segera menjawab. Tangannya merangkul bahu gadis itu. Kemudian dia melangkah menuju ke beranda depan. Di belakangnya Darmasaka berjalan di samping Bayangan Malaikat.
Mereka berempat duduk melingkari meja marmer putih. Agak lama juga tidak ada yang bicara. Sedangkan mata Bayangan Malaikat tidak lepas menatap wajah Ki Rangkuti. Meskipun bibir Kepala Desa Jatiwangi itu tersenyum tapi Bayangan Malaikat bisa merasakan keperihan di dalam hatinya
“Kelihatannya Ayah baru saja bertarung?” Darmasaka menatap ayahnya dengan penuh selidik.
“Ya...,” desah Ki Rangkuti pelan.
“Dengan siapa?” tanya Sekar Telasih.
“Musuh,” sahut Ki Rangkuti berat.
Memang berat rasanya menceritakan semua dengan benar. Lebih-lebih saat matanya menatap wajah Sekar T elasih. Tidak mungkin dia sanggup untuk mengatakan kalau gadis itu bukan anak kandungnya sendiri. Beberapa kali Ki Rangkuti menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat Darmasaka dan Sekar Telasih yang mengetahui ayahnya punya persoalan berat hanya saling pandang. Mereka sama-sama mengangkat bahu dan menatap ayahnya. Mendapat pandangan penuh selidik dari kedua anaknya Ki Rangkuti semakin kelihatan gelisah. Matanya menatap Bayangan Malaikat seolah meminta dukungan.
“Sebaiknya kau ceritakan terus terang,” kata Bayangan Malaikat
“Ada apa sebenarnya, Paman?” tanya Darmasaka.
“Paman tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya Ayahmu sendiri yang tahu" sahut Bayangan Malaikat
“Ada apa Ayah? Kalau persoalannya sangat berat, mungkin bisa kami bantu," desak Sekar Telasih.
"Berat. Berat sekali," desah Ki Rangkuti. "Persoalannya menyangkut dirimu."
"Aku?" Sekar Telasih menatap Ki Rangkuti seolah-olah tidak percaya.
“Kuharap kau bisa menerima dengan tabah, anakku,” lirih suara Ki Rangkuti.
"Ada apa dengan diriku, Ayah? Katakan!" desak Sekar Telasih. Mendadak saja perasaannya jadi tidak enak.
Begitu kaki mereka menjejak tanah, berkelebat sinar-sinar merah mengarah pada Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat. Mereka berlompatan menghindari sinar-sinar merah yang membias dari beberapa batang anak panah kecil. Senjata-senjata rahasia itu datang bagaikan hujan deras mengancam jiwa dua laki-laki yang berjumpalitan menghindar.
Sementara Darmasaka sudah meloloskan pedangnya yang terbuat dari bahan perak murni. Sekar Telasih yang berdiri di sampingnya juga sudah bersiap-siap dengan kipas baja. Namun mereka masih berdiri di depan beranda rumah, tidak lepas memandangi dua laki-laki tua yang sibuk berjumpalitan menghindari serbuan itu.
Mendadak Bayangan Malaikat berteriak nyaring. Kemudian tubuhnya melambung tinggi ke udara. Tangan kanannya berputar cepat langsung mendorong ke satu arah. Suara ledakan terdengar keras, saat secercah sinar hijau meluncur deras dari tangan kanannya. Hampir bersamaan, berkelebat sebuah bayangan merah dari tempat terjadinya ledakan.
Hujan anak panah kecil merah seketika berhenti.
Kini di depan Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat yang sudah turun kembali berdiri seorang perempuan tua dengan tongkat berbentuk ular di tangan. Perempuan tua itu menatap tajam Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat bergantian. suara tawanya mengikik kecil begitu matanya memandang Sekar Telasih yang berdiri di samping Darmasaka.
"Rangkuti! Apakah dia anakku?" Nyi Rongkot menunjuk Sekar Telasih.
"Apa...?" Sekar Telasih terlongong.
"Hik hik hik.., tidak kusangka, kau cantik sekali," Nyi Rongkot terkikik sambil melangkah mendekati gadis itu.
"Nyi Rongkot!" bentak Ki Rangkuti.
"Kau tidak bisa mencegahku, Rangkuti. Aku akan mengambil anakku " kata Nyi Rongkot terus saja melangkah menghampiri Sekar Telasih.
Begitu Nyi Rongkot sudah dekat, Darmasaka melompat ke depan menghadang. Pedangnya melintang di depan dada. Dia mengenali betul perempuan tua yang datang tanpa diundang ketika pesta peresmian Padepokan Jatiwangi. Kini perempuan tua itu datang lagi dan hendak membawa adiknya. Bahkan mengakui Sekar Telasih sebagai anaknya. Tentu saja Darmasaka jadi muak.
"Minggir kau anak muda!" bentak Nyi Rongkot.
“Kau yang harus enyah dari sini!" balas Darmasaka ketus.
“Bedebah!"
Nyi Rongkot mengibaskan tongkat ular saktinya. Begitu cepatnya bergerak sehingga Darmasaka tidak bisa lagi berkelit. Dia segera mengangkat pedangnya untuk menangkis tongkat ular itu. Trak! Dua senjata beradu keras. Dan pedang Darmasaka terpental jatuh ke udara. Darmasaka sendiri terdorong mundur tiga tindak.
Anak muda itu meringis sambil menguru-urut pergelangan tangannya yang menjadi kesemutan. Belum juga disadari apa yang baru terjadi, tiba-tiba Nyi Rongkot sudah melompat bagai kilat sambil mengayunkan kakinya. Buk! Darmasaka yang memang masih jauh tingkat kepandaiannya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Kaki kanan Nyi Rongkot telak menghantam dadanya.
Darmasaka tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Tubuhnya meluncur deras menghantam tiang penyangga serambi rumah. Tiang sebesar paha manusia dewasa itu hancur berantakan kena terjangan tubuh Darmasaka Anak muda itu jatuh bergulingan dan tak bergerak lagi. Dari mulut dan lubang hidung mengalir darah kental kehitaman. Tampak dadanya hangus hitam melesak ke dalam.
"Iblis!" geram Ki Rangkuti begitu mengetahui putra tunggalnya tewas terkena jurus 'Sengatan Ular Sendok .
"Hik hik hik... " Nyi Rongkot terkikik.
Sekar Telasih membeliak melihat kekejaman perempuan tua yang mengaku ibunya ini. Mulutnya ternganga lebar memandangi mayat Darmasaka yang tergeletak di serambi depan rumah.
“Kubunuh kau, iblis!” geram Ki Rangkuti.
Laki-laki tua itu berteriak melengking sambil melompat menerjang.
Trak!
Dua senjata beradu keras, sehingga menimbulkan pijaran bunga api. Ki Rangkuti yang sudah dikuasai amarah tidak peduli lagi dengan tangannya yang seketika nyeri kesemutan. Dia segera mengirimkan tendangan geledek. Nyi Rongkot memiringkan tubuhnya sedikit dan tendangan geledek itu hanya lewat di samping pinggangnya. Pada saat yang bersamaan, tongkat ular sakti dikibaskan Nyi Rongkot.
"Akh!" Ki Rangkuti memekik tertahan.
Ujung tongkat ular itu menghantam pergelangan tangan kanannya yang menggenggam keris. Hantaman keras disertai pengerahan tenaga dalam itu membuat keris di tangan Ki Rangkuti terpental tinggi ke angkasa. Secepat kilat Bayangan Malaikat melompat mengejar keris yang mengeluarkan bau bangkai itu.
__ADS_1
Pada saat yang kritis Nyi Rongkot menyambar tubuh Sekar Telasih. Cepat sekali dia menotok jalan darah gadis itu hingga pingsan lemas. Sekar Telasih yang belum berpengalaman dalam dunia persilatan, tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya kini sudah berada dalam gendongan Nyi Rongkot di pundak.
“Sekar... !” Ki Rangkuti berteriak nyaring.
Nyi Rongkot sudah lebih dulu mencelat bagai kilat. Dalam sekejap mata saja tubuhnya tidak terlihat lagi. Ki Rangkuti jatuh lemas terduduk di tanah. Kedua tangannya terkepal memukul-mukul tanah di depannya.
Bayangan Malaikat yang sudah turun membawa keris pusaka Ki Rangkuti, menghampiri Kepala Desa Jatiwangi itu. Dia langsung duduk berlutut di depannya. Tangannya terulur menyerahkan keris hitam yang memancarkan bau busuk tidak sedap. Bayangan Malaikat sendiri sudah hampir tidak tahan lagi. Dadanya seperti akan pecah menahan napas
"Aku akan mengejarnya,” dengus Ki Rangkuti menggeram sambil menyarungkan kerisnya kembali di pinggang.
"Bagaimana dengan Darmasaka?" Bayangan Malaikat mengingatkan.
"Oh!”
Ki Rangkuti langsung bangkit dan berlari menghampiri tubuh Darmasaka yang menggeletak tak bernyawa lagi. Dia memeluk mayat itu dan menangis.
Bayangan Malaikat hanya bisa menarik napas panjang, tidak tahu harus berbuat apa
“Tunggu pembalasanku, Rongkot... !" teriak Ki Rangkuti keras.
Nyi Rongkot berlari cepat bagaikan terbang saja layaknya. Di pundak kanannya terpondong tubuh ramping dengan rambut hitam panjang terurai melambai-lambai. Dilihat dari arah yang dituju, jelas kalau dia menuju ke Hutan Gading. Hutan tempat Buto Dungkul tinggal.
Begitu tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki perempuan tua yang bergelar Ular Betina itu, sehingga yang terlihat hanya bayang-bayang era saja berkelebatan di antara pepohonan. Ketika tiba di tepi Hutan Gading, mendadak terdengar suara bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam.
“Berhenti!”
Nyi Rongkot langsung berhenti. Matanya merah nyalang menatap seorang laki-laki yang berdiri menghadang di depan. Laki-laki yang berumur sekitar lima puluh tahun, namun masih kelihatan gagah dan tampan itu menghunus sebuah tombak bermata tiga. Pakaiannya berwarna biru dan ketat memetakan bentuk tubuhnya yang kekar atletis. .
"Singa Lodra...," desis Nyi Rongkot mengenali laki-laki yang menghadang di depannya.
“Tinggalkan Sekar Telasih di sini, Ular Betina!” dingin dan datar suara Singa Lodra
"Hik rupanya kau juga menginginkan gadis ini, Singa Lodra Dia sudah berada di tanganku, tidak seorang pun yang bisa menghalangi. Maksudku!” Nyi Rongkot membalas tidak kalah dinginnya.
"Kau benar-benar manusia iblis! Tega-teganya kau gunakan darah dagingmu sendiri hanya untuk memenuhi nafsu Iblismu!” dengus Singa Lodra.
“Minggirlah, Singa Lodra. Aku tidak ada urusan denganmu. Sekar Telasih anakku, aku bebas memperlakukan sekehendak hatiku sendiri tahu!"
"Sekar Telasih muridku, dan aku wajib membela nyawanya! "
"Hik hik hik..., rupanya kau sudah bosan hidup, Singa Lodra," Nyi Rongkot terkikik.
"Kau yang harus ******, iblis!"
Setelah berkata demikian, Singa Lodra segera memutar tongkat mata tiga. Begitu cepat gerakannya, sehingga tombak itu bagaikan baling-baling berputar memperdengarkan suara angin menggemuruh Makin lama angin di sekitar tempat itu makin keras.
Daun-daun mulai berguguran dan pohon-pohon sudah ada yang tumbang. Batu-batu kerikil berlompatan diterjang badai yang terjadi akibat putaran tombak mata tiga itu. Sungguh dahsyat ilmu yang dimiliki laki-laki ini. Hutan Gading bagaikan diamuk badai yang amat hebat.
"Hik hik hik." ilmu 'Tongkat Mata Badai'mu tidak akan mampu menghalangi niatku Singa Lodra!" Nyi Rongkot malah tertawa lebar. Tidak sedikit pun bergeser dari tempatnya berdiri.
Mendadak Singa Lodra berteriak melengking tinggi. Bersamaan dengan itu, tubuhnya berkelebat cepat dengan ujung tongkat terhunus ke depan. Nyi Rongkot memiringkan tubuhnya sedikit. Dan tongkat mata tiga itu lewat di samping tubuhnya. Secepat kilat dihantamkan tongkat ular saktinya memapas tombak lawan.
Trak!
Benturan dua senjata terjadi amat keras sehingga menimbulkan percikan api. Nyi Rongkot mendengus merasakan tangannya yang kaku saat tongkat ular saktinya beradu. Begitu juga yang dialamai Singa Lodra. Dia sampai terdorong dan tombak mata tiganya hampir lepas dari pegangan.
Cepat sekali Singa Lodra memutar tombak mata tiga. Kali ini di kibaskan ke arah kaki lawan. Namun Nyi Rongkot hanya menaikkan satu kakinya sedikit dan menjejak batang tombak itu. Tubuhnya melenting ke udara, berputar dua kali. Tongkat ular sakti dikibaskan ke arah kepala Singa Lodra.
"Uts!"
Singa Lodra merunduk sedikit, tongkat ular sakti lewat menerpa angin di alas kepalanya. Cepat dibalasnya dengan menyodok tombak mata tiga ke perut Nyi Rongkot Kali ini ujung tombaknya juga hanya mengenai angin. Nyi Rongkot dengan manis mendarat di belakang Singa Lodra. Kakinya langsung terayun deras menghajar punggung.
Buk!
Singa Lodra yang terlambat berbalik, tidak bisa lagi menghindar. Punggung Singa Lodra kena hantam tendangan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam. Kalau bukan Singa Lodra mungkin sudah remuk tulang-tulang pungggungnya. Singa Lodra hanya terdorong dua tindak saja ke depan. Bergegas diputar tubuhnya sambil mengibaskan tombaknya.
Nyi Rongkot menyilangkan tongkat ular saktinya menangkis kibasan tombak itu. Kembali dua senjata beradu keras. Tombak mata tiga terpental ke samping. Secepat kilat Ular Betina itu menyodok tongkatnya ke arah dada Singa Lodra. Untung laki-laki itu masih bisa membuang diri dan bergulingan di tanah, sehingga sodokan maut tongkat ular sakti bisa dihindari.
Namun belum juga bisa bangkit, Nyi Rongkot sudah menyerang kembali. Singa Lodra terus bergulingan di tanah menghindari tusukan dan sabetan tongkat ular sakti yang mengincar tubuhnya. Pada satu kesempatan, Singa Lodra menangkis dengan tombak mata tiganya. Secepat kilat dia melenting bangun ketika tongkat ular sakti terangkat agak jauh dari tubuhnya. .
“Hup!”
Tangan kiri Singa Lodra berkelebat cepat. Seketika meluncur sinar -sinar biru dari tangan kirinya. Nyi Rongkot berlompatan jungkir balik seraya mengebutkan tongkatnya. Sinar -sinar biru berupa jarum beracun itu terus mencecar bagai hujan datangnya. Nyi Rongkot berjumpalitan di udara menghindari terjangan senjata rahasia Singa Lodra.
"Setan! ****** kau, hih!" geram Nyi Rongkot.
Secepat kilat diputarnya tongkat ular saktinya, lalu dilemparkan ke tanah. Dalam sekejap saja tongkat itu berubah menjadi seekor ular berwarna merah. Kedua tangan Nyi Rongkot pun menjadi merah. Dia melepaskan tubuh Sekar Telasih dari pondongannya. Tubuh ramping itu jatuh keras bergulingan di tanah.
“Naga Merah,” desis Singa Lodra terkejut.
Bergegas dia melompat sejauh dua batang tombak ke belakang. Matanya membelalak lebar melihat ular merah meliuk-liuk di tanah. Kepalanya terangkat ke atas menyemburkan ludah disertai asap berwarna merah. Asap yang mengandung racun sangat berbahaya dan mematikan. Bergidik juga Singa Lodra saat menyadari Ular Betina sudah mengeluarkan ilmu simpanannya yang sukar ditandingi itu. .
Singa Lodra tidak menduga kalau Nyi Rongkot bisa mengeluarkan ilmu 'Naga Merah' meskipun dalam keadaan terdesak. Dia tahu kalau Ular Betina memiliki satu ilmu simpanan yang sukar ditandingi karenanya dia tidak memberi kesempatan sedikit pun. Tapi kenyataannya lain. Nyi Rongkot masih bisa mengeluarkan ilmu andalannya meskipun dalam keadaan sulit sekali pun.
“Hik hik hik...! Aku akan mengampuni kelancanganmu, Singa Lodra. Asal kau cepat-cepat enyah dari sini!" dingin. menyeramkan suara Nyi Rongkot
"Phuih! Kau kira aku takut dengan ilmu setanmu!" dengus Singa Lodra.
“Sebut nama leluhurmu sebelum mati, Singa Lodra! "
Singa Lodra segera bersiap-siap ketika Nyi Rongkot mengangkat kedua tangannya. Dengan satu Jeritan melengking tinggi, Ular Betina itu melompat cepat. Dan ular merah di tanah pun juga melayang cepat bagai anak panah lepas dari busur.
Singa Lodra mengebutkan tombaknya ke arah ular merah, dan tangan kirinya mengibas tangan Ular Betina. Kibasan tongkat dapat dihindari ular merah. Di lain hal Nyj Rongkot membiarkan tangan kirinya beradu, tapi tangan kanannya langsung masuk ke dada.
Begitu cepatnya serangan yang dilakukan sehingga Singa Lodra tidak mampu lagi menghindar. Telak sekali dadanya kena hajar tangan kanan Nyi Rongkot yang memerah. Bersamaan dengan itu warna merah juga berhasil menggigit paha kanan Singa Lodra.
"Aaakh...,” Singa Lodra menjerit keras.
Tubuhnya terlontar deras ke belakang, dan jatuh keras di tanah. Darah segar mengucur dari paha kanan yang koyak. Ular merah membelit kaki kanannya. Buas sekali ular merah mematuk dan menggigit, mengoyak tubuh Singa Lodra.
"Hik hik hik...! Nyi Rongkot tertawa mengikik.
Singa Lodra kelojotan di tanah. Darah mengucur deras dari beberapa bagian tubuhnya yang koyak. Begitu kepala ular merah menembus dadanya, Singa Lodra menjerit melengking tinggi. Sebentar menggelepar, lalu diam tak bergerak-gerak lagi.
Nyi Rongkot mengulurkan tangannya ke depan, dan ular merah itu melayang menghampirinya. Begitu berada di tangan perempuan yang berjuluk Ular Betina itu ular merah berubah kembali menjadi tongkat berbentuk ular.
Lagi-lagi Ular Betina tertawa mengikik. Kakinya terayun menghampiri Sekar Telasih yang masih tergeletak lemas di tanah. Setelah meletakkan tubuh gadis itu di punggung, Nyj Rongkot langsung berlari menembus Hutan Gading dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup sempurna..
“Hik hik hik..!"
__ADS_1
********************